Arsip Kategori: Travelling

5+ Destinasi Wisata di Malioboro Yogyakarta

Sebagai salah satu ikon Kota Yogyakarta selain Tugu Yogya dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Malioboro selalu menjadi destinasi wisata favorit wisatawan yang datang ke kota ini. 

Jika dahulu Malioboro terlihat sumpek dan rawan kemacetan, lambat laun pemerintah daerah mulai melakukan perbaikan dan penataan agar Malioboro makin nyaman, terutama untuk para pejalan kaki.

Ah … bicara tentang Jalan Malioboro memang takkan pernah ada habisnya, sampai-sampai ada yang bertanya, “Apa yang istimewa dari Malioboro, sih? Benarkah se-legendaris itu?”

Saya sendiri sebenarnya jarang ke kawasan ini karena butuh waktu sekitar 30 sampai 35 menit dari rumah untuk sampai ke Malioboro. Namun, beberapa waktu lalu, saya sengaja menyempatkan diri ke kawasan wisata Malioboro menggunakan transportasi bus Trans Jogja, sekaligus olahraga jalan kaki menyusuri jalanan sepanjang Malioboro.

Penasaran di Jalan Malioboro ada apa saja? Yuk, kita bedah satu-satu, ya!   

Slasar Malioboro

Slasar Malioboro
Sepanjang Slasar Malioboro berjajar toko, kafe, dan angkringan.

Kalau kamu datang ke Yogyakarta naik kereta api dan turun di Stasiun Tugu, Slasar Malioboro adalah kawasan yang akan kamu temui sebelum memasuki wilayah Malioboro.

Sebenarnya, di Slasar Malioboro ada apa aja, sih?

Jadi, Slasar Malioboro ini merupakan pengembangan dari area Stasiun Tugu dan sengaja dibangun oleh PT KAI sebagai tempat beristirahat sekaligus ikon wisata kuliner para wisatawan yang baru datang ke Yogyakarta.

Ada beberapa kafe, angkringan, serta toko yang menjual makanan di sepanjang Slasar Malioboro, salah satunya Kopi Joss dan Loko Café. Kamu juga bisa istirahat sejenak di kawasan ini, sambil makan, ngopi, dan bebersih diri sebelum melanjutkan petualangan ke Jalan Malioboro.

Gimana? Sudah siap masuk ke Malioboro? Yuk, kita come on!

Plang Jalan Malioboro

Jalan Malioboro
Mau foto di bawah plang Malioboro ini aja harus antre, Bestie ….

Nah … sebelum masuk ke kawasan Malioboro, tepatnya di paling utara jalan ini, kamu akan menemukan plang bertuliskan “Jalan Malioboro”. Plang ini sangat ikonik, lo karena sering digunakan sebagai objek foto para wisatawan yang datang ke kawasan Malioboro.

Waktu saya berkunjung ke sana, tampak antrean wisatawan mengular ingin segera berfoto di bawah plang ini, meski cuaca sedang panas dan terik-teriknya. Heuuu ….   

Teras Malioboro

Teras Malioboro
Teras Malioboro, one stop shopping area untuk kamu yang pengen cari oleh-oleh.

Dahulu, kawasan Malioboro terkesan cukup ruwet karena banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar dan sepanjang teras toko yang ada. Syukurlah, mulai Januari 2022, pemerintah daerah menertibkan kawasan ini dengan mengumpulkan para pedagang di satu lokasi khusus sehingga trotoar menjadi lapang dan berfungsi seperti semula.

Apa saja yang dijual di Teras Malioboro? Hemmm … apa saja ada, Bestie! Makanan seperti bakpia, pakaian, mainan, pernak-pernik, dan suvenir khas Yogyakarta bisa kamu dapatkan di sini.

Jadi, kalau enggak punya waktu banyak keliling Yogya, di Teras Malioboro sebenarnya sudah tersedia semuanya, ya. Akan tetapi, kalau belum puas, kamu bisa berjalan kaki sedikit lagi menuju Mal Malioboro dan Pasar Beringharjo.

Mal Malioboro

Mal Malioboro
Mal Malioboro, mal tertua dan pertama di Yogya.

Apakah di Malioboro ada mal, Bestie? Ohh … jangan khawatir! Untuk kamu yang hobi traveling ke mal *ehhh … kwkwkwk … di Malioboro ada pusat perbelanjaan yang merupakan mal pertama di Yogyakarta.

Yup! Mal Malioboro dibangun pertama kali pada tahun 1993. Ingat banget, dulu kalau pulang sekolah zaman SMA, beberapa kali sempat main ke Mal Malioboro ini. *yahh … ketahuan dong umurnya berapa, hahaa …

By the way busway … sekadar informasi aj, sejak bulan Oktober 2022, Mal Malioboro resmi berganti nama menjadi Plaza Malioboro karena pengelolaannya diambil alih oleh Pemerintah Daerah Yogyakarta. Kabarnya, Plaza Malioboro akan lebih mengusung kearifan lokal dan disesuaikan dengan konsep wisata di sekelilingnya. Penasaran? Ya udah, ke sini aja, yuk!

Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo, saksi sejarah pasar tradisional yang masih tegak berdiri.

Pasar Beringharjo adalah salah satu pasar tradisional yang ada di Yogyakarta. Berdasarkan referensi yang saya baca, pasar ini berdiri pada tahun 1758 dan diberi nama Beringharjo sejak Sri Sultan Hamengkubuwono VIII bertahta, tepatnya pada 24 Maret 1925. Benar-benar peninggalan sejarah yang masih abadi, bukan?

Lalu, tahukah kamu apa makna dari kata Beringharjo?

Beringharjo berasal dari kata bering yang artinya “pohon beringin”, dan harjo yang artinya “kesejahteraan”. Harapannya, pasar ini dapat menjadi pusat kesejahteraan masyarakat karena dibangun di bekas area hutan beringin. Filosofis banget ternyata, ya, semua yang ada di Yogyakarta ini?

Terus, apa saja yang dijual di Pasar Beringharjo?

Seperti pasar pada umumnya, kamu dapat mencari aneka kebutuhan sehari-hari di sini, mulai dari bahan dan bumbu dapur, aneka bahan rempah dan jamu, makanan, aneka pakaian dan kain batik, perlengkapan rumah tangga seperti seprai, gorden, dan sebagainya.

Benteng Vredeburg

Benteng Vredeburg
Benteng Vredeburg, peninggalan zaman kolonial Belanda yang saat ini dijadikan museum.

Lanjutttt ….

Di sebelah selatan Pasar Beringharjo, wisatawan akan menemukan banyak gedung bersejarah peninggalan zaman kolonial Belanda, salah satunya Benteng Vredeburg yang dibangun sejak tahun 1760 dan sekarang sudah dijadikan sebagai museum.

Museum Benteng Vredeburg dikelilingi oleh bangunan bersejarah lain di sekitarnya, seperti Gedung Agung (Istana Kepresidenan) yang terletak di seberang Benteng Vredeburg, kemudian ada gedung BNI 1946, Kantor Pos Besar, Bank Indonesia, dan Monumen Serangan Umum 1 Maret yang juga dikenal sebagai Titik Nol Kilometer Yogyakarta.  

Di Museum Benteng Vredeburg, kamu bisa melihat aneka diorama tentang perjuangan bangsa Indonesia merebut sekaligus mempertahankan kemerdekaan dari bangsa Belanda dan juga Jepang. Yup … meski Benteng Vredeburg dibangun pada masa penjajahan Belanda, benteng ini sempat pula direbut oleh tentara Jepang pada masa setelah Proklamasi Kemerdekaan. Luar biasa ya, nilai historisnya!

Masih banyak sebenarnya destinasi wisata lainnya di sekitar kawasan Malioboro, seperti Kraton Yogyakarta, Taman Pintar, Taman Sari, dan beberapa lainnya. Hanya saja, letaknya di luar Jalan Malioboro, jadi tidak saya tulis di sini, ya.

Kamu bisa banget, tuh, naik becak atau andong menuju tempat wisata lainnya, atau kalau mau jalan-jalan, sekalian aja deh naik bus Trans Jogja. Cuma dengan membayar 3500 rupiah, kamu sudah bisa keliling ke penjuru Yogya. Murah banget, kan?

Jadi, kapan kamu bakal nostalgia lagi ke Yogya, khususnya ke kawasan Malioboro? Buruan, ya! 😀

Baca Juga