Arsip Kategori: Parenting

Ibu, Fondasi Peradaban Generasi

Kamu mungkin pernah mendengar ungkapan, “Wanita adalah tiang negara. Apabila baik kaum wanitanya maka baik pula negaranya. Sebaliknya, apabila rusak kaum wanita, maka rusak pula suatu negara…” Ungkapan ini seolah ingin menegaskan, betapa pentingnya keberadaan wanita sebagai fondasi peradaban generasi suatu bangsa.

Banyak di antara kita yang lupa, ketika memulai proses pertama sebagai orang tua, sesungguhnya saat itu juga kita telah menjadi guru sekaligus teladan bagi buah hati yang kita lahirkan. Ayah sebagai Kepala Sekolahnya, sementara Ibu sebagai guru pelaksana kebijakannya. Sebagai seorang guru, mau tidak mau kita harus selalu belajar dan memperbarui ilmu yang kita miliki. Meski tentu saja, teori tak semudah praktiknya.

Wanita zaman now memiliki tantangan dan godaan yang tidak sedikit. Nilai-nilai modernisasi seorang wanita tak dapat dilepaskan begitu saja dari kewajibannya sebagai seorang ibu. Menjadi update terhadap perkembangan zaman adalah suatu keharusan, tapi jangan lupa juga, menjaga nilai moral dan mentalitas anak tidak boleh kita lupakan. Contoh kecilnya, ibu mana sih yang tak ingin anaknya mendapat nilai baik di sekolah? Tapi ini bukan sekadar masalah kebanggaan saja. Prestasi yang baik juga harus diperoleh dengan cara yang baik. Jangan sampai keinginan dan niat yang baik diperoleh dengan cara yang tidak jujur dan menyalahi aturan. Dalam contoh kecil ini saja, secara tidak langsung kita telah mengajarkan arti sebuah proses dan nilai kejujuran kepada generasi saat ini.

Image: Pixabay.com

Berkaca dari pengalaman pribadi dan beberapa sumber yang saya pelajari, nilai-nilai penting berikut ini sebaiknya dimiliki seorang ibu agar dapat menjadi fondasi peradaban yang baik bagi generasi selanjutnya.

Menjaga Kebaikan Akhlak

Sebegitu berharganya seorang ibu, sehingga dalam suatu hadis, Abu Hurairah menyebutkan, ada seorang sahabat yang menghadap Rasulullah Saw dan bertanya,

“Ya Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”Jawabnya, “Ibumu…” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu” ~ (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Keutamaan seorang ibu disebutkan memiliki 3x hak yang lebih besar dari seorang ayah karena kerepotan yang mereka alami selama hamil, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya. Tanggung jawab ibu menjadi lebih besar, terutama dalam menjaga kebaikan akhlak pribadinya agar dapat menularkan karakter terbaik dan sifat-sifat positif kepada buah hatinya.

Menumbuhkan Sifat Penyayang, Pendidik dan Pengatur

Wanita adalah makhluk unik yang diciptakan dengan karunia hati yang lembut dan lebih perasa daripada pria. Ini bukan tanpa tujuan. Bukankah wanita kelak akan menjadi seorang ibu yang sangat membutuhkan sifat tersebut dalam menjalankan perannya? Meski dikaruniai hati yang lembut, kemampuan otak wanita yang mampu menyerap informasi 5x lebih banyak dari pria menjadikan mereka lebih cerdas. Dasar ini yang menjadikan wanita dapat menjadi seorang pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Kemampuan menangani banyak masalah dalam satu waktu juga membuktikan bahwa wanita sebenarnya memiliki jiwa pengatur ulung dibandingkan lawan jenisnya. Keren kan, Bu? 🙂

Memperbarui Ilmu

Imam Al Ghazali pernah berkata, “Menuntut ilmu adalah takwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad…”

Ibarat seorang guru bagi muridnya, ibu harus selalu melakukan upgrade diri dan update ilmu yang dimiliki agar dapat memberikan asupan nutrisi pengetahuan terbaik bagi buah hatinya. Bukan hal yang mudah pastinya, karena waktu 24 jam seolah tak cukup bagi ibu untuk menyelesaikan kewajiban yang harus diembannya. Tapi kembali lagi, anak adalah amanah dari Sang Pemilik yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepemilikannya. Ayo, Bu! Kamu pasti bisa. Yakin bisa. Dan harus bisa….

Menjadi bagian utama dari fondasi peradaban bagi generasi masa depan adalah kebanggaan tak terkira bagi seorang wanita. Jangan pernah engkau sia-siakan kesempatan berlipat pahala di akhirat ini. Karena kelak ketika kita telah tiada, hanyalah tersisa 3 hal yang tiada akan terputus, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh dan salihah. Insya Allah.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

Tak Perlu Menjadi Ibu yang Sempurna, Jadilah Ibu yang Bahagia

Sejak dulu sebelum menjadi seorang ibu, saya sering mendengar kalimat ini, “Ibu hamil dan menyusui harus hati-hati sekali menjaga pikiran. Kalau ibunya sedih dan gak tenang, bayinya juga pasti rewel dan gak bisa diam…”

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya sangat menyadari bahwa kalimat ini bukan hanya ditujukan untuk ibu hamil dan menyusui saja. Setiap wanita, khususnya yang telah memiliki buah hati, berapa pun usianya, seyogyanya memang harus menjaga pikiran dan hatinya agar dalam kondisi yang stabil dan bahagia.

Mudahkah? Ohh… tentu tidak, Ferguso!! Ini butuh perjuangan…. Apalagi metabolisme tubuh wanita juga dipengaruhi oleh berbagai hormon yang mau tak mau kerap membuat emosi menjadi labil dan bergejolak. Tapi di sinilah uniknya kaum kami. Saya percaya, Allah menciptakan wanita dengan segala keunikannya, pasti ada maksudnya 🙂

Image: Pexels.com

Dikutip dari laman Republika.co.id, Departemen Psikologi Universitas Cambridge di Inggris pernah melakukan penelitian terkait hubungan yang terjadi antara otak seorang ibu dengan otak bayinya. Hasilnya, ditemukan pola yang bervariasi tergantung pada tingkat emosional ibunya. Dalam keadaan emosi yang positif, ternyata ditemukan adanya hubungan yang lebih kuat antara otak ibu dengan bayinya. Hubungan yang kuat ini sangat baik untuk perkembangan otak si bayi dan kecerdasan emosi selanjutnya.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, perlu juga digarisbawahi bahwa ini bukan hanya berlangsung pada masa golden age alias usia keemasan anak di lima tahun pertama kehidupannya saja. Untuk masa seterusnya setelah usia 5 tahun, terutama di masa remaja, hubungan keselarasan antara orang tua (ibu) dan anak tetap harus dijaga. Permasalahan yang dihadapi tentunya akan lebih komplek pada usia remaja. Tetapi percayalah, ketika kita sudah memberikan dasar pendidikan karakter yang positif kepada anak sejak dini, insya Allah anak juga lebih mampu menangkal pengaruh negatif dari lingkungannya.

Hilangkan Impian Ingin Menjadi Ibu yang Sempurna

Dulu saya pun pernah memiliki keinginan seperti umumnya kaum ibu yang lain. Ingin menjadi sosok ibu yang sempurna dan memiliki buah hati yang juga sempurna dan berprestasi dalam segala hal. Hingga seiring berjalannya waktu, saya pun meyadari bahwa keinginan menjadi sosok yang sempurna justru membuat saya tidak dapat rileks dan menikmati peran sebagai seorang ibu.

Heiii… sadarlah, bu, kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun 🙂 Seorang ibu juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan, punya segala keterbatasan dan tak selalu bisa tersenyum, tersenyum dan tersenyum setiap waktu. Jadilah manusia sewajarnya. Meskipun teori parenting sudah saya lahap di luar kepala, tapi saya bukan tipe ibu yang saklek dan harus selalu berpedoman pada teori. Jika saatnya saya harus marah kepada anak yang telah melakukan kesalahan, maka saya akan tetap marah kepadanya. Hanya saja, setelah anak menyadari kesalahannya, saya sebagai ibu akan minta maaf kepadanya dan memberi pengertian bahwa marahnya saya adalah bentuk nasihat serta rasa sayang untuk dirinya.

Munculkan Rasa Bahagia

Lepas dari keinginan menjadi ibu yang sempurna, lambat laun saya semakin mengerti bahwa menjadi waras dan bahagia adalah kunci agar seorang ibu dapat memancarkan energi positif kepada buah hatinya. Mulailah saya belajar tentang bagaimana memunculkan dan memelihara rasa bahagia. Ternyata rasa bahagia memang tak perlu dicari. Ia ada di dasar hati 🙂 Tapi memang untuk sebagian orang, rasa bahagia itu mungkin ada yang masih tertimbun jauhhhh di dalam lubang gelap, sehingga untuk memunculkannya butuh waktu tak sebentar.

Yang paling mudah menurut saya adalah dengan bersyukur terlebih dahulu, apa pun keadaannya. Rasa syukur dapat membuka keikhlasan dan mencairkan kebekuan hati, untuk selanjutnya menemukan jalan keluar atas setiap permasalahan yang dihadapi.

Ibu Bahagia, Anak Pun Cerdas dan Bahagia

Sadar atau tidak, kamu harus tahu dan yakin bahwa ibu yang bahagia juga akan menularkan virus bahagia kepada keluarga dan putra-putrinya. Kecerdasan emosi anak berawal dari kecerdasan emosi orang tua, terutama ibunya. Stabilnya emosi anak juga dipengaruhi oleh stabilnya emosi ibu. Nah, stabilnya emosi ibu sangat dipengaruhi oleh stabilnya emosi bapak heheheeee…. 😀 *beneran mah ini, saya enggak bohong ^^ Makanya, hati-hati jadi suami, ya, pak! Baik-baik deh sama istri. Kalau istri bahagia, suasana rumah pasti jadi nyaman. Istri yang bahagia juga akan melahirkan generasi yang cerdas dan bahagia. Jadi rantai bahagianya insya Allah muterrrr terus, tidak terputus dan saling memengaruhi satu sama lain. Sebaliknya, kalau istri sedih dan tertekan, suasana rumah pasti jadi runyam. Akibatnya, buah hati pun bisa jadi kena sasaran 🙁

Cuaca boleh panas, sungai boleh mengering, daun pohon boleh berguguran, tapi hati seorang ibu tak boleh gersang. Yuk, mulailah menjadi poros bahagia bagi orang-orang terdekat kita, terutama untuk buah hati tercinta. Mungkin kita bukanlah ibu yang sempurna, tapi pastikan kita adalah ibu yang bahagia. Karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita….

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

Tes Sidik Jari dan Analisa Tulisan Tangan, 2 Cara Mudah Menemukan Potensi Dirimu

Ini lanjutan dari tulisan saya sebelumnya tentang tes sidik jari (fingerprint analysis). Kalau sebelumnya membahas tentang hasil tes Lubna, sekarang giliran membahas tentang ibu Lubna yang imut ini 😀 *mau bilang amit kok nggak tega

Baca tulisan sebelumnya tentang hasil tes sidik jari Lubna di sini

Mungkin sebagian teman-teman bertanya, kenapa dan apa pentingnya saya ikutan tes macam begini? Sudah lewat umur pula dan terasa nggak begitu penting lagi menganalisa diri sendiri. Nah, ini mungkin perbedaan kita qiqiiiiiqiii…

Saya sukaa banget sama hal-hal berbau kepribadian orang. Pernah belajar tentang ilmu analisa tulisan tangan (Grafologi), meskipun hanya secara basic. Dan tulisan tanganku pernah dianalisa oleh coach Mutya Dita, seorang Grafolog sekaligus Hipnoterapis, yang merupakan guru mindset-ku selama ini. Beliau sering membuka kelas online pemberdayaan diri dengan biaya yang tergolong murah meriah untuk para wanita dan emak rempong yang memiliki niat memperbaiki diri, terutama dari segi mental dan pemikiran (mindset).

Dari analisa tulisan tangan tahun 2017, diketahui salah satunya bahwa saya ada kecocokan di bidang pekerjaan yang membutuhkan koordinasi 3 hal : mata, tangan, dan jari.

Entah kenapa, setelah itu, aktivitas saya mulai mengerucut dengan sendirinya di bidang tulis-menulis, khususnya penulisan artikel. Padahal sebelumnya, saya fokus di bisnis online brand kosmetik Eropa yang setiap hari mengharuskan berkomunikasi dan memotivasi banyak manusia dengan aneka karakter. Meski 90%-nya dilakukan secara online dari rumah, saya belajar banyak hal dari bisnis ini. Tentang internet marketing, blogging, personal branding, teknik iklan berbayar, pengembangan diri, dll. Step by step, potensi dan kemampuan saya lambat laun mulai muncul.

Setelah jalan sebagai seorang penulis artikel terbuka dengan mudahnya, Alhamdulillah, saya memutuskan untuk fokus di salah satu bidang saja, karena jika menjalankan keduanya, bisnis online dan menulis, ternyata saya tidak sanggup 🙂 Rindu itu terlalu berattttt, Dilan *ehh apa sihh heheee…

Berkaca dari hasil analisa tulisan tangan, saya mulai fokus ke penulisan artikel. Menjadi kontributor di beberapa media online dan ghost writer alias penulis hantu 😀 (menulis untuk nama orang lain) perlahan saya jalani. Kemudian terbukalah kesempatan menulis buku bersama Geng Salihah Menulis, komunitas menulis yang beranggotakan 9 orang perempuan. Karena setiap hari bergaul secara online dengan mereka yang masih muda, fresh dan aktif secara ide dan pemikiran, akhirnya saya jadi lupa usia kwkwkwk *payah dong…

Setelah salah satu teman di GSM mendirikan media (platform) online sendiri bernama Estrilook.com, saya diminta bantuannya menyunting setiap artikel yang masuk untuk ditayangkan di Estrilook. Apakah semua aktivitas ini sudah sesuai dengan konsep 3 hal : mata, tangan, dan jari sesuai hasil analisa tulisan tangan? Silakan teman-teman nilai sendiri 🙂

Oke, kita balik lagi ke cerita di paragraf pertama tentang tes sidik jari (fingerprint analysis).

Setelah Lubna melakukan tes, beberapa hari kemudian saya ikut tes sidik jari juga. Sekadar ingin tahu dan membandingkan dengan hasil analisa tulisan tangan di tahun 2017. Meskipun secara prinsip berbeda, tes sidik jari adalah analisa secara fisik, sedangkan tulisan tangan mencakup analisa kondisi mental/psikis juga, tapi saya yakin, kalau memang keduanya 80% akurat, pasti ada kesamaan hasil antara keduanya. Kalau tidak ada kesamaan hasil, berarti ada salah satu yang meragukan.

Lalu hasilnya gimana? *nah, kita lanjutkan setelah jeda iklan berikut, yak… hahaayy… 😀

Sedang semuanya. Kurang cerdaskah daku? 🙂

Hasilnya, tarraaaa…. Kalau Lubna menonjol di hampir semua kecerdasan majemuk (logika matematika, bahasa, visual, dll) tidak demikian halnya dengan saya. Ibu Lubna ini justru sedang-sedang saja di semua bidang kecerdasan. Wow, apakah saya kurang cerdas? *tutup muka…

Hemmmm…. ternyata si mas yang ngetes menjelaskan, justru di situlah letak kekuatan saya. Sedang-sedang saja di semua bidang, artinya saya orang yang mudah beradaptasi dengan semua respon lingkungan. Macam bunglon dong ya… Orang yang ramah, sungkan alias nggak enakan sama orang 😀 Lembut, sederhana, jujur…. aaihhh GR banget deh saya pokoknya. Yang kenal saya secara pribadi silakan protes kalau merasa analisa di atas enggak sesuai dengan faktanya yess, kwkwkwk

Kekurangannya apa? Ada jugalah pasti. Salah satunya, saya tipikal menolak masa depan, alias enggak hobi bikin target. Kebalikan banget dengan Lubna, yang sejak lulus TK sudah punya visi memilih SD-nya sendiri. Lulus SD 3 tahun lagi insya Allah dia berencana lanjut ke ponpes Gontor (aamiin), dan 12 tahun lagi sudah berencana ingin menikah di tahun 2031. Masya Allah, detil sekali planning-nya… 😀

Sebaliknya bagi saya, membuat target dan rencana merupakan masalah terbesar sejak dulu. Sadarrrr banget. Dulu waktu ikut kelas online pemberdayaan diri saya pernah pusing berhari-hari waktu diminta bikin target 1 tahun dan 5 tahun ke depan. Sampai segitunya, ya. Coach saya saat itu sampai menegaskan, “Bagaimana Anda ingin mewujudkan cita-cita/keinginan kalau apa yang dituju saja tidak paham?” Jlebbbb…. Gara-gara dipaksa waktu itu barulah saya “bangun”.

Oiya, kira-kira apa potensi yang saya miliki dari hasil tes sidik jari? Ternyata, enggak jauh beda dengan hasil analisa tulisan tangan. Potensi saya ada di bidang yang melibatkan 3 hal : mata (visual), pendengaran (audio), dan sentuhan/gerak/praktik (kinestetik). Beberapa bidang yang cocok adalah yang berhubungan dengan orang banyak (sosial), semacam komunikasi (humas, iklan, pemasaran), perhotelan, kesehatan (fisioterapi).

Cukup nyambung ternyata, karena dulu saya memang diterima kuliah di jurusan Komunikasi dan Perhotelan. Tapi akhirnya mantap memilih jurusan Komunikasi sebagai bidang perkuliahan yang fokus untuk ditekuni.

Dari curhat saya tadi, mudah-mudahan bermanfaat untuk teman-teman yang membaca. Meskipun mungkin tidak semua orang setuju dan sepemahaman dengan saya mengenai berbagai tes analisa yang selama ini bertebaran, kita kembalikan kepada opini masing-masing, ya. Untuk saya sendiri, melakukan tes analisa terhadap diri sendiri enggak ada salahnya kita lakukan. Siapa lagi sih yang akan memotivasi diri kita kalau bukan kita sendiri. Ye, kan? 🙂

#SETIP_Day8
#SemingguTigaPostingan
#Estrilook

Tes Sidik Jari (Fingerprint Analysis), Akuratkah?

Wah, ternyata sudah lamaaaa banget enggak nulis tentang parenting di blog ini. Biasanya saya lebih suka cerita di media sosial untuk topik semacam ini, jarang banget pindahin curhatnya ke blog 🙂

Teman-teman tercinta, semua pasti sepakat bahwa buah hati adalah anugerah bagi orang tua, sekaligus amanah yang harus kita jaga.
Saking sayangnya dengan anak, kita bahkan terkadang lupa bahwa sebenarnya orang tua hanya dititipi, tapi tidak berhak memaksa mereka memilih apa yang kita mau.

Tugas orang tua adalah mengarahkan, membimbing, memberikan batasan-batasan sesuai norma agama dan masyarakat yang berlaku. Sisanya, terus berdoa dan berharap mereka selalu berada di jalan yang benar.

Sebegitu pentingnya peran kita sebagai orang tua dalam membimbing mereka, membuat saya selalu kepo dan bersemangat setiap kali mempelajari segala hal yang berhubungan dengan potensi dan bakat anak. Bukan apa-apa, saya hanya takut jika terlalu egois memaksa anak mengikuti arus yang saya mau. Menuntut Lubna untuk begini, begitu, dan begono, tanpa paham apa sebenarnya keinginannya dan seberapa besar kemampuannya. Apalagi lingkungan di sekitar kita saat ini cenderung memberi keleluasaan ke arah situ 🙂

Zaman sekarang, banyak orang yang bekerja hanya berdasarkan tujuan mencari penghasilan semata. Mengejar materi, tanpa mampu menikmati rutinitas yang mereka lakukan setiap hari. Akibatnya, banyak yang merasa bosan dan tidak puas dengan diri dan lingkungannya.  Benar, bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan mungkin tidak terlalu dibutuhkan yang namanya bakat. Yang penting ada kemauan dan usaha. Tapi lambat laun, jika pekerjaan itu dilakukan atas dasar rasa terpaksa, pasti akan menimbulkan kelelahan psikis dan fisik yang tidak terkira. Akibatnya, rawan terjadi stres, rasa tertekan, emosi yang terpendam, dsb.

Tentunya berbeda jika kita melakukan sesuatu atas dasar bakat dan minat yang disukai,  hasilnya lebih maksimal, karena ada rasa SUKA dan CINTA di dalamnya. Tidak ada rasa terpaksa.

Sama juga dengan bakat dan potensi pada anak. Jika bakat dan minat anak dapat kita temukan sedini mungkin, pastinya akan lebih baik. Kelak untuk ke depannya, orang tua tinggal menyelaraskan antara bakat yang sudah terdeteksi dengan minat dan keinginan yang buah hati kita sukai.

Tes bakat pertama yang dilakukan Lubna adalah tes sidik jari pada tahun 2016 lalu, saat menjelang lulus dari TKIT tempatnya belajar. Dilakukan kolektif di sekolah, tes ini belum terlalu lengkap. Hanya sekilas memberi gambaran bagian otak mana yang memiliki kecenderungan dalam diri seorang anak, kiri atau kanan. Plus sedikit informasi mengenai kecenderungannya belajar, apakah audio (pendengaran), kinestetik (bergerak, sentuhan), atau visual (gambar, penglihatan).

Hasil tes sidik jari saat TK

Sewaktu masih TK, bakatnya belum terlalu tampak. Suka mewarnai seperti pada umumnya anak seumurnya, tapi itu pun enggak rapi banget. Kemampuan membaca juga masih sedang, belum terlalu lancar. Saya sendiri tidak terpikir sama sekali untuk memasukkan dia ke tempat les atau penunjang bakat anak pada umumnya, karena sekolahnya sudah full day. Biarlah dia istirahat di rumah setelah seharian eksplorasi di sekolah.

Perkembangannya mulai mengerucut dan makin terlihat setelah duduk di bangku SD. Mulai suka menggambar, tapi sudah tidak hobi mewarnai lagi. Gambarnya cenderung animasi dan polos, tanpa warna.

Kelas 2 SD, seiring perjalanan ibunya yang mulai menekuni dunia menulis di akhir tahun 2017, minat bacanya pun mulai tumbuh. Tergila-gila pada komik dan semua majalah/buku bergambar. Dari yang tadinya suka bermain game di smartphone, Alhamdulillah mulai berkurang dan beralih ke buku bacaan dan corat-corat. Tak terhitung borosnya kertas, buku tulis, dan bolpoin yang sudah habis dia gunakan. Ibunya kadang tak habis pikir dan sempat ngomel berkali-kali melihat keajaiban pemborosan kertas, buku tulis dan bolpoin ini *maklummm emak-emak 😀

Aku tak bisa hidup tanpa menggambar, bu…” kata Lubna 🙂

Tak bisa hidup tanpa menggambar, begitulah motto Lubna.

Tapi sejujurnya, ada satu kebingungan saya saat itu. Dia hobi menggambar dan cenderung berimajinasi tinggi secara visual, suka menulis dan bikin cerita. Bukankah itu otak kanan? Lalu mengapa saat tes sidik jari waktu TK terdeteksinya justru cenderung otak kiri? Apakah ada kesalahan?

Nah, pertanyaan ini saya simpan dulu.

Selanjutnya di hari-hari berikutnya, saya mulai intens ikut kelas online tentang parenting, mindset dan self development, baik berbayar maupun free di tahun 2017. Saya bahkan tertarik mempelajari ilmu tentang analisa tulisan tangan (Grafologi) juga untuk menganalisa diri sendiri dan bakat anak, meskipun masih tahap basic banget. Dan akhirnya memutuskan enggak lanjut ke tahap berikutnya karena ilmu ini membutuhkan ketelitian dan ketekunan yang sangat luarrr byasakkkkkk 😀

Pernah suatu kali sehabis diminta mendeteksi tulisan beberapa orang teman, kepala saya langsung cenut-cenut karena memang butuh energi untuk memeriksanya. Rasanya lelahh banget menganalisa tulisan demi tulian. Mungkin karena saya belum terbiasa, ya, atau ilmunya belum tinggi hihihiii… Tapi memang benar bahwa metode analisa tulisan tangan alias Grafologi ini sangat akurat untuk mengetahui kondisi dan kepribadian seseorang. Bukan hanya dari segi fisik dan potensi yang terbaca. Bahkan dalam hal kondisi psikis, apakah sedang bahagia atau ada masalah kejiwaan yang membuat tertekan, dan penyakit apa yang sedang diderita, semua akan terlihat melalui tulisan tangan kita.

Balik lagi ya ke topik tes sidik jari….

Beberapa hari yang lalu, ada penawaran dari bimbingan belajar tempat Lubna les (by the way busway, akhirnya Lubna mau juga ikut les karena dia kurang paham dengan pelajaran matematika di sekolah. Kalau di tempat les katanya jadi paham karena mentor-nya enak kwkwkwk… makanya dia minta dileskan 😀 ).

Bimbel tersebut menawarkan tes sidik jari (fingerprint analysis) bagi siswa yang berminat mengetahui potensi, jurusan, dan bidang kerja yang setidaknya tepat dengan bakatnya. Duh, lagi-lagi,… saya mulai kepo dan ingin membandingkan hasil tes saat Lubna TK dulu dengan hasil tes setelah Lubna duduk di kelas 3 SD ini. Apakah sama, atau ada perbedaan? Ya udah, dengan mantap, Lubna tes sidik jari lagi untuk kedua kalinya dengan pemaparan yang lebih detil dari sebelumnya. Hasilnya?

Hasil tes kelas 3 SD

Alhamdulillah, terjawab sudah semuanya. Sejauh ini hasilnya 90% akurat dengan fakta yang tersirat *uhhuk

Yup, ternyata Lubna memang dominan di hampir semua kecerdasan majemuk. Bukan hanya logika matematika dan bahasanya yang menonjol, tapi dalam hal imajinasi dan visual juga ternyata sangat menonjol. Ada keseimbangan antara otak kanan dan kiri di situ. Saat TK dulu, yang terbaca otak kirinya. Dalam perkembangannya, otak kanan juga menonjol, saling bersinergis membentuk potensi yang cukup unik. Logika dan idealismenya yang tinggi membuatnya hobi ngeyel, kepo dan berdebat dengan orang tuanya. Dan ini sudah jadi makanan sehari-hari saya sebagai ibunya 🙂 Hemmm… jadi geli sendiri setelah membaca hasilnya. Keinginannya memang keukeuh, kuat dan sangat butuh dihormati *halahhh, ndukkk….

Saya ingat ketika dia lulus TK dan akan masuk SD, Lubna ngotot memilih sendiri ingin sekolah di SDIT pilihannya. Enggak mau ke sekolah lainnya 🙂 Akhirnya dituruti, dengan janji, dia harus semangat dan konsekuen dengan pilihannya. Entah dia paham atau tidak saat itu karena usianya baru 7 tahun, yang jelas, Alhamdulillah, hingga saat ini dia tetap ceria dan bahagia bersekolah. Masya Allah tabarakallah ya, nak…

Lanjutkan membaca Tes Sidik Jari (Fingerprint Analysis), Akuratkah?

Resep MPASI yang Kaya Gizi dan Nutrisi Ini Cocok Banget Lho, Dears, Untuk Bayi Usia 9 Bulan ke Atas

Halo Dears,

Memiliki bayi yang sehat dan tercukupi nutrisinya adalah idaman setiap ibu. Selain melalui pemberian ASI Eksklusif di 6 bulan pertama pertumbuhannya, nutrisi lanjutan dalam bentuk pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) setelahnya juga perlu diperhatikan.

Dikutip dari situs Hello Sehat, selain untuk fungsi memenuhi nutrisi bayi, MPASI juga berfungsi untuk melatih kemampuan otot oromotor (otot-otot di mulut) dan kemampuan motorik bayi.

Sejalan dengan perkembangan usianya, kamu dapat membuat sendiri aneka resep MPASI menggunakan bahan-bahan sederhana. Tidak perlu harus mahal, Dears. Yang utama adalah makanan tersebut dapat diterima baik oleh indra pengecap bayi.

Berikut ini adalah resep MPASI Macaroni Schotel untuk bayi mulai usia 9 bulan ke atas yang penulis ambil dari akun instagram @herleenda.

 

076a67caf1cee52e7e242da815163bf5
Sumber : instagram.com/herleenda

 

MACARONI SCHOTEL
.
Bahan :
✅ Karbohidrat : segenggam macaroni
✅ Protein hewani : 2 telur ayam, 50gr daging sapi
✅ Protein nabati : Tempe parut
✅ Sayuran: 1/2bh wortel parut
.
Bumbu untuk aroma :
✅ 2 siung Bawang putih
✅ Bawang bombay
✅ Keju parut
✅ Lada bubuk
✅ Seledri
✅ Minyak goreng
 ✅Margarin untuk olesan
.
Cara membuat :
↪️Rebus daging, sisihkan kaldunya. Daging bisa dicincang kasar/parut.
↪️Tumis bawang putih + bawang bombay dengan minyak. Masukkan daging, tempe, wortel beri, kaldu daging hingga berubah warna.
↪️Campurkan tumisan dengan macaroni, keju parut, kocokan telur, lada bubuk. Aduk hingga tercampur sempurna.
↪️Olesi cetakan aluminium foil dengan margarin. Tata adonan sampai habis, taburi seledri dan keju parut.
↪️Kukus kurang lebih 20-25 menit. Cek kematangan dengan tusukan.
.
Nyammm nyamm…. yummyyy…. simpel tapi sangat bergizi, bukan? 
 
Jangan lupa ya, Dears, ajarkan si kecil berdoa sebelum makan dan suapi buah hati dengan penuh cinta dan kasih sayang. Karena cinta adalah nutrisi terbesar yang juga ia butuhkan hingga dewasa nanti. 
 
Big hug ya buat kamu, ibu-ibu hebat 💕
 
💜💛💚
 
#TantanganMenulisEstrilook
#EstrilookCommunity
#ResepMPASI

Tips Mendampingi Anak Indigo

Faktakah.com

 

Semua orang tua di dunia ini pasti berharap memiliki buah hati yang lahir normal, sama seperti anak-anak pada umumnya. Tetapi ada kalanya Tuhan memberikan karunia yang luar biasa kepada beberapa orang tua untuk menjadi orang tua pilihan atas amanah yang diembannya.

Memiliki seorang anak yang dianugerahkan kelebihan indra setingkat lebih tinggi dari anak lainnya, atau kerap disebut sebagai anak indigo, bukanlah hal yang mudah dalam perjalanannya.

Berikut adalah beberapa tips parenting bagi orang tua dari anak indigo agar nyaman dan seiring sejalan dalam mengiringi proses tumbuh kembangnya :

1. Latih diri Anda untuk terbiasa dengan indra keenam mereka

Tahupedia.com

 

Seperti halnya orang lain yang memiliki rasa takut akan hal-hal bersifat ghaib, Anda pun sebagai orang tua normal wajar apabila memiliki perasaan takut ini. Namun usahakan untuk melawan rasa takut tersebut dan membiasakan diri berhadapan dengan hal seperti ini.

Jangan kaget jika suatu saat Anda sedang duduk di ruang tamu misalnya, tiba-tiba anak Anda mengatakan ada orang lain di tempat itu selain dia dan Anda. Peristiwa semacam ini akan sering Anda alami. Jadi beranikan diri Anda menghadapi situasi tak terduga semacam ini.

2. Tambahkan batas kesabaran Anda

Anak indigo memiliki energi yang sangat luar biasa. Dilansir dari mindopenerz.com, hal ini disebabkan karena dia mampu menyerap vibrasi energi di sekelilingnya. Tidak perlu heran jika setelah asyik bermain dan tertawa riang, mendadak si anak berubah drastis menjadi emosional hanya karena hal-hal kecil yang dianggapnya tidak sesuai dengan harapannya.

Bramardyanto.com

 

Dalam kondisi seperti ini, memarahi anak sepertinya tiada berguna. Yang dapat kita lakukan hanyalah menenangkannya, memeluknya, dan mengontrol emosi agar tidak terpancing oleh kemarahannya. Jika takut tidak dapat mengontrol emosi kita, tinggalkan ia sejenak seorang diri sampai si anak tenang kembali.

3. Tanamkan nilai agama sejak kecil

Anak indigo memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Pertanyaan yang dilontarkan terkadang jauh menembus batas anak seusianya.

Pxhere.com

 

“Seperti apakah bentuk Tuhan? Ada di langit bagian manakah Tuhan berada? Kenapa manusia ada yang jahat dan ada yang baik?” Adalah beberapa bentuk pertanyaan yang sering membuat orang tua kebingungan untuk menjawab. Maka mengenalkan prinsip keagamaan dan kekuasaan Tuhan sejak kecil sesuai keyakinan masing-masing akan sangat membantu si indigo untuk menemukan nilai-nilai positif tempatnya bersandar.

4. Posisikan diri Anda sebagai teman

Terlihat lebih tua dari pemikiran anak lain seusianya, itulah salah satu ciri anak indigo. Mereka tidak ingin dikalahkan oleh pemikiran-pemikiran orang yang lebih tua. Memposisikan diri kita sebagai sahabat daripada sebagai orang tuanya adalah jalan terbaik untuk menghindari adanya crash boom bang dalam kehidupan sehari-hari.

Nova.grid.id

 

5. Eksplor bakat anak sesuai potensinya

Sangat kreatif dan aktif, membuat beberapa anak indigo cenderung memberontak terhadap situasi yang tidak membuatnya nyaman. Misalnya : situasi sekolah, guru yang mengajar, teman-temannya. Ada baiknya orang tua lebih jeli melihat potensi unik yang ada pada diri anak, karena tipikal mereka adalah ekspresif dan kurang suka melakukan sesuatu yang monoton.

Nova.grid.id

 

Demikianlah beberapa tips untuk Anda yang memiliki anak istimewa ini. Bersyukurlah Tuhan mempercayai Anda menjadi orang tua mereka, meskipun sangat tidak mudah untuk menjalaninya.

Semoga bermanfaat ya..

Ditunggu komen dan sharingnya jika ada yang memiliki pengalaman serupa ☺

*)Tulisan ini pernah dimuat di platform berita UC News