Arsip Kategori: Makanan

3 Cita Rasa Kuliner yang Berpadu Menjadi Satu di GH Corner Yogyakarta

Ada satu makanan khas Timur Tengah yang masih menimbulkan rasa penasaran di hati saya sejak Allah mengizinkan saya bertamu ke Rumah-Nya beberapa bulan yang lalu.

Saat di Mekkah, di sebelah hotel tempat menginap ada penjual aneka kuliner khas Arab, seperti Roti Maryam, Kebab, Nasi Briyani, dan makanan khas lainnya. Setiap lewat di depannya, aroma sedap rempah-rempah langsung tercium harum semerbak, bikin perut kami yang sedang berjalan kaki menuju Masjidil Haram mendadak berbunyi nyaring minta diperhatikan isinya hehhehee…

Saat itu, entah kenapa, yang menarik hati saya untuk dibeli hanyalah kuliner Kebab dengan berbagai variasinya. Saya belum tertarik untuk mencoba Nasi Briyani, meskipun mulai kepo dengan olahan nasi yang tekstur berasnya panjang-panjang dan besar, persis seperti tekstur nasi yang ada di Turki dan sempat saya cicipi sebelum menuju Madinah. Bedanya, saat makan di Turki selera makan saya hilang sama sekali, karena kulinernya terasa hambar dan kurang gurih. Serasa makan tanpa garam ๐Ÿ˜€ Tapi kalau makanan Arab, qodarulloh, lidahnya langsung nyambung, Guys! Tahu enggak, kenapa? Pastinya karena kita orang Indonesia ini terbiasa dengan segala masakan berbumbu dan kaya dengan rempah-rempah. Jadi begitu bertemu makanan yang cita rasanya senada, perut pun langsung mengamini ๐Ÿ™‚

Nah, kekepoan saya terhadap Nasi Briyani ternyata terbawa hingga Indonesia kwkwkwk… Entahlah, sampai 10 bulan setelahnya ternyata masih ada rasa kangen ingin sekali mencobanya.

GH Corner Yogyakarta, resto dengan 3 cita rasa kuliner yang unik

Bukan kebetulan pula rasanya, mungkin Allah sudah atur, ya. 2 hari lalu enggak sengaja lewat di sekitar daerah Babarsari, Yogyakarta, sepulang dari mengantar Lubna ke Grhatama Pustaka (Perpustakaan Daerah) untuk pinjam novel anak kesukaannya. Padahal lewat daerah Babarsari ini juga cukup sering, meskipun enggak sering banget. Tapi selama ini sama sekali enggak tahu kalau di daerah situ ternyata ada tempat makan yang menyediakan menu Timur Tengah. Awalnya agak ragu masuk ke dalamnya, karena di parkiran yang ada mobil semua, sementara saya kan jadi tukang ojek karena bawa motor hahhaaha ๐Ÿ˜€ Ini tempat makan jangan-jangan harganya ekslusif nih, pikir saya. Sayang duitnya kannn kalau makan ratusan ribu cuma buat perut *hadehhh pikiran emak-emak hemat ya begini ini. Tapi yo wes, ra popo, dicoba aja, enggak tiap hari ini. Akhirnya hati saya memenangkan pertarungan pikiran ini ๐Ÿ˜€

Saya pun memarkir motor di depan resto tersebut. Nama restonya catet ya, GH CORNER.

Begitu masuk ke dalamnya, wow, enggak salah kalau dibilang resto, secara tempatnya cozy dan nyaman banget. Yang makan ada, tapi enggak banyak, cuma ada sekitar 4-5 orang di salah satu sudut ruangan. Penataan meja juga cantik, karena ada vas bunganya. Jadi ingat suasana makan di rumah sendiri. Terdapat tulisan besar di salah satu sudutnya, “Ingat Makan, Ingat Tuhan”. Hemmm… saya pikir bagus juga ini tagline. Bukankah kita kalau lagi makan dan sudah menyangkut urusan perut biasanya suka lupa dengan Sang Maha Pemberi? ๐Ÿ™‚

Bersamaan dengan kami duduk di meja, datanglah seorang pria mengantarkan menu makanan kepada kami. Yang pertama saya lihat apa, sudah tahu, kannn? Yup, tentu saja harganya! Enggak usah gengsi. Kalau kamu mau makan kudu tahu pasti dong, ya, kisaran harga makanannya berapa. Middle atau high price. Standar atau termasuk resto eksklusif. Kamu penasaran harga makanannya berapaan? Nih, lihat di foto bawah ini, ya ๐Ÿ™‚

Aneka menu Timur Tengah
Aneka menu Melayu

Gimana, udah lihat harganya, kan? Mahal enggak? Hehheee… Alhamdulillah, Guys, ternyata harganya termasuk standar untuk resto sekelas GH Corner yang tempatnya nyaman ini. Setelah membolak balik daftar menu sejenak, ternyata pilihan saya tetap jatuh kepada Nasi Briyani. Ala makkk, saya belum bisa pindah ke lain hati ternyata *uhhuk ihhir. Kalau Lubna enggak di mana-mana makannya, tetepppp aja pilihannya Chicken Katsu. Ibunya jadi geli sendiri, ini anak cinta mati sama menu satu ini.

Oya, yang bikin saya agak surprise, ternyata GH Corner ini menyajikan 3 cita rasa kuliner dalam menu restonya. Selain kuliner Timur Tengah, ada juga kuliner Melayu dan Western. Jadi lengkap banget kalau kita makan bersama keluarga atau teman, dan ada salah satu yang enggak suka masakan Timur Tengah misalnya, mereka dapat memesan masakan dengan cita rasa berbeda. One stop eating place ya kalau mau diistilahkan dalam bahasa Jawanya qiqiqiii…

Aneka menu Western
Lengkap menu dessertnya

Enggak pakai lama, hidangan yang saya tunggu-tunggu selama 10 bulan ini – *setia banget sikk saya sama kamu, Nasi Briyani, – akhirnya muncul juga di depan saya. Aroma Nasi Briyani langsung semerbak, bikin Lubna jadi kepo.

“Kok aromanya enak, sih, Bu? Aku jadi pengen nyoba..”

“Ya udah, cobain aja,” jawab saya.

Nasi Briyani yang udah ditunggu 10 bulan lamanya hehhee…

Setelah dicoba, ternyata dia kurang doyan, karena ada aroma kunyit pada nasinya. Justru Lubna suka dengan bumbu karinya yang gurih dan cenderung asin. Jadi Nasi Briyani ini disajikan dengan taburan bawang goreng, bersama dengan bumbu kari dalam mangkuk kecil. Kemudian ada daging ayam yang sudah dibumbu kari juga. Aroma rempahnya kental, seperti masakan padang. Kalau kamu kurang suka dengan bau rempah mungkin akan sedikit terganggu saat memakannya. Saya sendiri karena memang sudah lama ngidam Nasi Briyani dan dalam kondisi lafarrr habis jadi tukang ojek oke-oke aja dengan rasanya. Mirip dengan nasi kuning sebenarnya, tapi ini ada tambahan bumbu rempah lainnya selain kunyit.

Chicken Katsu favorit Lubna

Bagaimana dengan Chicken Katsunya? Alhamdulillah, enak, kata Lubna sambil senyum-senyum. Dengan harga Rp25.000 untuk satu piring Chicken Katsu + free secangkir teh manis, recommended banget untuk harga para mahasiswa. Letak resto ini memang tak jauh dari komplek beberapa perguruan tinggi dan sekolah di sekitarnya. Universitas Atma Jaya, Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Universitas Proklamasi, STIE YKPN, SMAN 2 Babarsari, ada di daerah sekitar GH Corner ini. Dekat pula dengan Rumah Sakit Bersalin “Semar” dan instansi pemerintah. Strategis deh lokasinya.

Kalau kamu sedang menyantap hidangan dan terdengar suara adzan, jangan khawatir, di lantai 2 ada mushola. Kata Lubna ada area memanah juga di lantai 2, tapi saya enggak naik ke atas, cuma Lubna yang jalan-jalan ke lantai 2 ๐Ÿ™‚

Di meja depan kasir tersedia beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang. Ada roti beraneka rasa, ada botol kecil yang saya enggak baca apa isinya, tapi bentuknya seperti botol kecap, dan ada pula cemilan Cistick alias kue bawang. Dan itu semua kata mbak Kasirnya adalah produksi sendiri di bawah label Ikhwan Bakery. Mantap ya, pembeli tentu lebih terdorong untuk mencoba kalau itu adalah produksi sendiri karena sudah tahu kualitas makanannya. Lubna minta dibelikan Cistick yang dikemas cukup eksklusif dan dibandrol seharga Rp. 13.000 per bungkus.

Sampai di rumah, saya coba cicipin Cisticknya. Wah, ternyata enak juga kue bawangnya. Enggak terlalu gurih, kok, sedang aja asinnya. Tapi di gigitan terakhir sangat terasa kalau ada cita rasa menteganya. Unik jika dibandingkan dengan kue bawang lain yang biasa saya makan.

Ssttt… Lubna kelihatannya happy banget habis saya ajak ke sana. Di rumah cerita terus sama Eyangnya tentang resto ini ๐Ÿ™‚ Dia mah memang selalu antusias dan bahagia setiap diajak ke tempat baru yang belum pernah kita datangi sebelumnya. Next time jadi pengen ajak Eyangnya Lubna ke sini ah, dan ajak teman lain juga buat ngerumpi positif di tempat ini. Secara tempatnya nyaman banget. Kamu yang lagi liburan ke Yogya kalau cari kuliner Timur Tengah datang aja ke sini. Harganya standar, tempatnya nyaman, dan pastinya HALAL..

#SETIP_Day5 #SemingguTigaPostingan #Estrilook

3 Kuliner Yogyakarta Favorit Saya

Bicara tentang makanan, setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas kulinernya masing-masing. Yogyakarta sendiri sebagai Kota Budaya dan Pelajar memiliki banyak variasi kuliner, baik yang benar-benar asli khas Yogya, maupun sudah bercampur dengan kuliner khas daerah lain di sekitarnya, seperti Magelang, Klaten, atau Solo.

Tapi kali ini saya enggak akan menulis atau membahas topik tentang Gudeg, makanan khas Yogyakarta yang paling dicari-cari kalau wisatawan datang ke sini. Bukan pula membahas soal si manis gurih Bakpia, yang telah menjadi primadona. Saya hanya akan menulis tentang tiga macam kuliner ringan yang menjadi favorit saya di kota ini. Apa sajakah itu? Dan kenapa saya sukaaaa banget dengan mereka? Sepertinya teman-teman perlu tahu juga, lho, karena bukan enggak mungkin setelah membaca dan melihat fotonya kamu makin tertarik buat datang ke Yogyakarta. Yahh…. endorse lagi nih, ya, hehheheee….

Rujak Es Krim

Sensasi pedasnya cabai dan dingin serta lembutnya es krim cuma ada dalam Rujak Es Krim

Entahlah, apakah jenis kuliner ini merupakan asli Yogya atau bukan. Tapi yang jelas, perpaduan antara bumbu rujak yang pedas dan dinginnya es krim telah berhasil meluluhlantakkan hatiku.

Oya, sebelumnya kamu perlu tahu dulu bahwa ada perbedaan antara istilah RUJAK dan LOTIS di Yogyakarta. Rujak adalah sajian buah yang diparut atau dicacah kecil-kecil, kemudian dicampur/diaduk menggunakan bumbu rujak seperti biasanya. Sedangkan lotis adalah sajian buah yang dipotong besar-besar (bukan diparut), kemudian cara makannya dicocol dengan bumbu rujak. Sedikit berbeda mungkin, ya, dengan daerah lain. Jadi kalau kamu ke sini dan bilang pengen makan rujak, orang akan berpikir kamu ingin makan buah yang penyajian buahnya dengan cara diparut dan dicampur bumbu. Kalau ingin makan sajian buah yang dipotong dengan ukuran besar-besar, kamu harus bilang ingin makan “lotis”, bukan rujak. Mudah-mudahan paham dan enggak bingung, ya!

Nah, kalau kuliner Rujak es Krim ini, setelah buahnya diparut dan dicampur bumbu, kemudian atasnya dikasih topping es krim 1-2 scoop. Di sinilah letak seninya. Pada saat es krim mencair, dinginnya cairan es krim dan pedasnya cabai dari bumbu rujak akan memunculkan sensasi unik, suegeerrr tapi juga puedesssss, Guys! Enggak usah dibayangin, langsung aja kamu cobain. Deal?

Lotek

Selain uueenaaakk, sajian Lotek ini juga sehat karena bahan utamanya sayur semua.
Image : Travelingyuk.com

Enggak kalah sehat dari Rujak Es Krim, sajian kuliner satu ini yang mirip dengan pecel dijamin bikin pencernaanmu makin lancar. Campuran antara rebusan bayam, kacang panjang, irisan tipis kubis, potongan bakwan goreng atau tahu bacem, kemudian semuanya diublek alias dicampur di atas cobek dengan bumbu kacang Lotek yang mirip bumbu pecel, kemudian atasnya ditaburi bawang goreng. Hemmmm….. aromanya langsung tercium dan nafsu makan pun meningkat seketika.

Bumbu Lotek ini mirip bumbu pecel, tapi sedikit berbeda. Selain menggunakan kacang tanah, cabai, gula merah, garam, dan bawang putih, ada tambahan kencur dan daun jeruk sebagai aroma khasnya. Setiap ada pembeli, bumbu Lotek akan langsung diulek saat itu juga, kemudian dicampur dengan aneka sayuran tadi.

Sop Buah

Duuhhhh…. kalau lagi puasa jangan lihat yang beginian, ya hehheee…
Image : Travelingyuk.com

Nahh, ketemu lagi dengan yang segar-segar, nih! Apaan sih, kok ada Sop Buah? Bukannya sop itu biasanya sayuran, bukan buah? Iya, sebenarnya mirip kok dengan sop sayuran, bedanya, sayurannya diganti buah. Kuah supnya merupakan perpaduan antara air, sirup, dan susu kental manis, ditambah es. Nyesssssssssss…..!!

Sop Buah ini isinya lebih simpel dan sederhana daripada es campur. Potong-potong kecil seukuran dadu buah yang kamu sukai, boleh apel, stroberi, mangga, jeruk, buah naga, dll, lalu beri sirup dan air biasa, terakhir taburi susu kental manis dan es batu atau es serut. Wuihhh, enggak perlu pakai santan, rasanya udah suegerrrr banget, apalagi kalau pas lagi puasa, bayanginnya aja sudah bikin meleleh pengen segera berbuka qiqiqiiii….. jangan yakk, dosa, tauk!

Tiga kuliner sehat di atas rasanya enggak pernah bosan saya santap. Ternyata yang namanya kuliner favorit enggak harus selalu makanan yang berat-berat, kan? Makanan dan minuman ringan gini aja bisa bikin hati senang dan mood kembali muncul. Mungkin ini yang bikin saya enggak gemuk-gemuk, ya, karena makanannya kurang unsur lemaknya kwkwkwkkk….

Kalau bicara tentang keinginan, manusia memang enggak ada puasnya, ya! Yang penting selalu bersyukur aja man-teman, apapun yang ada pada dirimu, mau kurus atau gemuk, langsing atau berisi, tujuan utamanya adalah SEHAT, BAHAGIA dan BERLIMPAH REZEKI. Setuju, enggak?

#SETIP_Day4
#SemingguTigaPostingan
#Estrilook



Ayam Geprek Susu (Preksu) Yogyakarta, Bukan Sekadar Warung Makan Biasa

Warung makan Preksu tetap ramai sampai malam tiba

Kamu yang tinggal di Yogya atau yang pernah liburan ke kota Gudeg ini adakah yang sudah pernah kulineran di warung makan Ayam Geprek Susu alias Preksu? Jujur aja, meski sudah lama berdomisili di Yogyakarta, saya baru satu kali ini, lho, ke warung makan ini wkwkwkwk…

Terus, gimana ceritanya sampai saya menjadi tertarik mampir ke warung makan yang menunya sebenarnya biasa saja itu? Toh, masih banyak warung makan serupa di Yogya yang berbau ayam geprek, susu, dan keju?

Jadi gini, Dears, beberapa hari sebelumnya, sudah menjadi tugas rutin saya melakukan proses editing artikel para kontributor di platform wanita Estrilook.com. Salah satu artikel yang saya edit adalah tentang usaha rumah makan berbasis sedekah milik seorang pengusaha di Yogyakarta. Warung makan ini di beri nama Preksu alias Ayam Geprek Susu. Kalau penasaran dengan artikel di Estrilook tersebut silakan baca di sini, ya.

Nah, dari mengedit dan membaca artikel itu, entah kenapa saya menjadi salut dan kagum dengan konsep bisnis warung kuliner ini. Terutama tentang kewajiban melakukan salat di masjid bagi para karyawan pria apabila waktu salat telah tiba.

Lalu saya share artikel ini di sosial media dan beberapa grup WA yang saya ikuti. Ternyata, ada salah seorang teman umroh saya dulu, yang adalah seorang ustadz, mengatakan bahwa dia sering mengisi ceramah untuk para karyawan di warung makan Preksu ini. Berawal dari sinilah saya menjadi kepo ingin mencoba membuktikan, benarkah apa yang ada di artikel Estrilook tersebut?

Kewajiban Salat di Masjid bagi Karyawan Pria

Entah kebetulan atau tidak, saya memutuskan mampir ke warung makan ini pada sore hari, setelah mencari cabang terdekat dari rumah lewat bantuan Google Maps. Ada 5 cabang yang tertera di mbah Google. Dan saya memilih cabang Condong Catur yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah.

Sampai di lokasi Preksu Concat pas banget waktu salat maghrib tiba. Benarlah seperti apa yang saya baca, suasana agak sepi. Hanya ada seorang gadis dan pria muda yang melayani di meja kasir.

Pengunjung dipersilakan mengambil sendiri nasi, ayam dan lauk pauk lain yang diinginkan, seperti mendoan, telur dadar, terong dan jamur krispi, untuk kemudian diserahkan ke meja kasir dan ditanya lagi lebih detil apa menu tambahan lain yang diinginkan. Setelah selesai salat maghrib, sekitar 3 karyawan pria mulai berdatangan dari masjid untuk menggantikan 2 orang karyawan lainnya yang tadi berada di meja kasir. Terjawab sudah rasa penasaran saya. Ternyata benar seperti apa yang saya baca, bahwa para karyawan pria diwajibkan salat berjamaah di masjid. Masyaa Allah.

Menu yang Tersedia

Ayam geprek tabur keju
Jamur krispi

Selain menyediakan menu-menu di atas beserta topping yang diinginkan, seperti geprek tabur keju parut, geprek tabur bawang goreng, dan geprek saus keju, ternyata ada menu lain yang bisa kamu pesan di sini, lho.

Ada gurame geprek, ayam kremes geprek, dan ayam goreng biasa (tanpa tepung) yang biasanya disantap menggunakan tahu, tempe goreng, sambal, dan lalapan. Oya, ada menu capcay juga untuk pengunjung yang menginginkan variasi sayur selain lalapan. Wahh… lumayan lengkap juga, ya, menunya. Bahkan menu aneka sambal pun dapat kamu pilih, seperti sambal terasi, sambal bawang, sambal ijo, dan sambal tomat. Ada yang ngiler nggak, nih? qiqiqiii….

Tambah Minuman? Gratissss

Ini lemon tea jumbo, bukan ukuran normal
Susu segar stroberi

Ada satu hal yang membuat kaget.

Waktu itu saya memesan lemon tea hangat dan anak saya Lubna memesan susu segar rasa stroberi. Kagetnya adalah, ternyata lemon tea-nya gelasnya jumbo, bo’. Padahal harganya normal aja, cuma 4.500,- perak. Beuhh… murah bangett, kann??

Tapi masalahnya, porsi perut saya kecil, jadi lihat minuman segitu besarnya sudah ngerasa eneg duluan. Akhirnya saya bilang ke Lubna, “Lemon tea-nya kita minum berdua, ya. Susunya nanti dibawa pulang aja, jangan diminum di sini…” Dan Lubna pun setuju hehhheehee…

Nah, untuk kamu yang hobi minum, atau kepedasan, jangan khawatir, ya, Dears! Di sini bebas lho tambah minuman teh manis. Kamu bisa ambil sendiri di dispenser besar yang disediakan. Es batunya pun boleh kamu ambil sendiri sepuasnya. Gimana nggak puas ya, makan di sini… mantapppp bener!!

Makan Gratis di Hari Jumat

Makan minum gratis di hari Jumat setelah baca surat Al Kahfi

Mau makan gratis di hari Jumat? Tersedia 50 paket makan dan minum gratis mulai jam 13.00 – 15.00 WIB. Syaratnya ada nggak? Ada dong, tapi cukup sederhana, kok! Kamu harus sudah membaca surat Al Kahfi terlebih dahulu dan melakukan pendaftaran secara online. Baca suratnya nggak perlu di warung Preksu ya, yang penting adalah kejujuran bahwa kamu memang sudah baca surat itu.

Sekali lagi saya mengakui, apa yang saya baca di artikel tentang warung makan Ayam Geprek Susu alias Preksu ini ternyata benar adanya. Alhamdulillah, pantas saja tempat makan ini selalu ramai dikunjungi pembeli. Disamping karena harganya memang terjangkau, saya yakin, konsep sedekah dan ajaran agama yang dipegang teguh merupakan kunci barokahnya bisnis ini.

Semoga kita semua bisa meneladaninya, bahwa konsep sedekah justru tidak mengurangi harta, melainkan sebaliknya, menambah dan melimpahkan rezeki. Barakallah…

Festival Kuliner Dunia 2018 di JEC Yogyakarta, Bukan Sekadar Ajang Berburu Kuliner, Dears

Pernah mendengar ungkapan, “Hidup untuk makan..” atau “Makan untuk hidup” ??
Kalau kamu pilih yang mana? ๐Ÿ˜Š
.
Hidup untuk makan, artinya seluruh tujuan hidup hanya difokuskan untuk makan saja. Sementara ungkapan makan untuk hidup ingin menjelaskan bahwa makanlah sekadarnya saja, asal bisa hidup dan berenergi, itu sudah cukup. Kalau soal mau pilih yang mana dari kedua ungkapan itu mah terserah kamu, apakah tahun 2019 mau ganti Presiden apa enggak #eehh wkwkwk ๐Ÿคฃ
.
Jadi begini teman-teman *mulai cerita nih โ˜บ
Pada hari Minggu tanggal 18 November kemarin kan tanggal merah ya, udah pada tau belommmmm??
*yaeelahhh ๐Ÿคฃ hahhhaaahaa, anak TK juga tau mah kalau soal ini
.
Sedari pagi my little princess Lubna sudah bangun, sudah mandi. Padahal biasanya kalau hari Minggu mandinya harus disuruh-suruh, jaranggg banget mau mandi pagi. Nah, ini ternyata ada udang di balik batu. Udangnya apalagi kalau bukan pengen diajak jalan-jalan. Katanya di Jogja Expo Centre ada festival kuliner dunia.
.
Wahhh… ibunya aja heran, ini anak dapat info darimana ada acara begituan. Jawabnya, “Ya iyalah aku tau, kan anak gaul zaman now…” *ibunya tepok jidat.
.
Singkat cerita, kami berangkat ke sana, tapi sore hari biar nggak panas selama di perjalanan. Sampai di sana ternyata ada 2 acaraย , yaitu Pameran Komputer dan Festival Kuliner Dunia. Untuk festival kuliner dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- per orang. Selain mendapat tiket masuk, pengunjung juga diberi beberapa voucher diskon untuk pembelian aneka makanan dan minuman di booth festival.
.

20181118_164210
Dengan harga tiket 10.000 kita dapat kupon undian + aneka voucher diskon. Lumayan, kan?

.
.
Ada Lebih dari 100 Booth Kuliner
.
Begitu masuk ke dalam, kita disuguhi dengan beberapa booth untuk foto gratis para pengunjung. Ada yang bernuansa bunga sakura Jepang, ada pula balon udara Eropa. Puas foto-foto sebentar, kami lanjutkan masuk ke arena festival. Ternyata ada lebih dari 100 booth menjadi peserta di situ. Suasananya ramai, karena hiruk pikuk pengunjung bercampur dengan suara dentingan peralatan memasak dari stan kuliner yang ada.
.
Karena baru pertama kali mendatangi festival macam begini, kesempatan buat saya mengambil beberapa dokumentasi, terutama di stan kuliner bebakaran. Cara membakar yang unik dan disemprot cairan agar api membara banyak menarik perhatian para penikmat kuliner, terutama di booth yang menyajikan aneka varian sea food, macam cumi panggang, ikan bakar, dan semacamnya.
.

Exif_JPEG_420
Sate cumiii…. Siapa mauuu?

.
.

Exif_JPEG_420
Booth seafood. Cara membakarnya menarik perhatian pengunjung..

.
.
Selain stan bebakaran, yang juga tidak kalah banyak penikmatnya adalah street food dari Korea dan Jepang. Kalau Jepang sudah cukup paham deh saya kulinernya. Nah, kalau Korea memang belum pernah nyobain, cuma pernah baca ada makanan yang namanya Bulgogi. Tapi kemarin yang kami cobain namanya Tteokbokki.
.

Exif_JPEG_420
Tteokbokki, makanan Korea dari tepung beras

.
Tteokbokki ini semacam cemilan dari tepung beras yang dimasak dan disajikan dengan rasa pedas yang agak manis. Setelah matang di atasnya ditaburi potongan daun bawang dan wijen. Teksturnya kalau dikunyah agak kenyal, mirip cilok menurut saya. Lubna sih bilang enakkkk ๐Ÿ˜„ Kalau ibunya mending beli batagor atau siomay kali, yeee…
.
Oya, buat kamu yang nggak hobi makan aneh-aneh, di sini ada juga lho makanan asli Jawa macam gudeg, bakmi, oseng-oseng (tumis). Tapi memang nggak banyak sih. Ada satu stan kuliner Jawa yang lumayan lengkap, yang jualan sudah sepuh (lanjut usia). Mendadak suasana berasaย seperti di pasar tradisional dekat rumah, di mana banyak penjual kuliner asli Yogya yang masih sangat murah harganya.
.
Menjelang pulang, nggak lupa Lubna narik ibunya ke stan dessert dari berbagai negara. Saya nggak tahu nama makanannya apa. Pokoknya Lubna langsung tunjuk aja ๐Ÿ˜ Dengan harga Rp. 20.000, – kami dapat 3 macam kue dessert yang atasnya ditusuk bendera kecil sebagai pengenal asal dessert tersebut.
.
.
Ada Booth Foto, Panggung Hiburan, Stan Buku dan Mainan
.
Meskipun namanya festival kuliner, jangan dikira cuma makanan aja yang ada. Stan buku, mainan dan panggung hiburan tetap ada. Ada juga both foto yang saya ceritakan di awal tulisan tadi.
.

 

20181118_165413
Gak perlu jauh-jauh ke Jepang, di sini juga ada bunga sakura ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜œ

.

20181118_175952
Bayangin aja kamu lagi ada di Cappadocia Turki, yang banyak balon udaranya *ngarepdotcom ๐Ÿ˜

.
.
Nampaknya ini memang dibuat untuk menarik para pengunjung yang membawa anak. Dannnn benar aja, Lubna langsung merengek-rengek beli komik. Haiyyyaaaa…. sejak kapan transaksi beli komik terjadi di acara kuliner macam begini, hemmm….
.
Setelah berkeliling kurang lebih 2 jam akhirnya kami pulang. Sepanjang jalan little princess senyum-senyum terus. Happy banget dia karena berhasil membawa satu komik baru dari hasil perjalanan hari ini qiqiqiiii. Pastinya dia dapat satu pengalaman berharga yang bisa menjadi bahan imajinasinya menggambar komik, sekaligus untuk diceritakan pada teman-temannya. Ternyata banyak manfaatnya juga ya, bukan sekadar mengejar nafsu berburu makanan… ๐Ÿ˜‚ย ๐Ÿ’•
.
.
๐Ÿ’œ๐Ÿ’š๐Ÿ’›

Film Aruna dan Lidahnya, Perpaduan Ciamik Antara Rangga dan Cinta, Wisata Kuliner, dan Pro Kontra Persahabatan

Hai Dears,

Masih ingat film remaja yang booming di tahun 2000-an dan menjadi tonggak sejarah bangkitnya film Indonesia dengan tokohnya, Rangga dan Cinta? Yup, AAdC alias Ada Apa dengan Cinta jawabannya.

Buat kamu yang belum bisa move on dari akting Dian Sastrowardoyo bersama Nicholas Saputra dulu, kamu punya kesempatan kembali menikmati perpaduan akting mereka berdua meski dengan karakter yang sedikit agak berbeda dalam film baru Aruna dan Lidahnya.

 

images (15)
Sumber : jadwalnonton.com

 

Penasaran dengan filmnya? Berikut 3 fakta menarik tentang film Aruna dan Lidahnya :
.
.
๐ŸŒฎ Kental dengan aroma perjalanan kuliner dan isu-isu sosial

Film Aruna dan Lidahnya ini diadaptasi dari novel karya Laksmi Pamuntjak (2014). Berkisah tentang petualangan seorang perempuan berusia 30-an tahun dalam perjalanannya menyelidiki kasus flu burung di berbagai wilayah Nusantara. Aruna adalah seorang konsultan ahli wabah yang melakukan perjalanan keliling di beberapa daerah di Indonesia, sekaligus menjadi semacam wisata kuliner bagi Aruna yang ingin menjaga berat badan tapi nyatanya tak dapat menahan nafsu makannya.

Selain Aruna hadir pula sosok Farish, Nad, dan Bono, yang akan sama-sama melakukan perjalanan sambil mencicipi makanan nusantara dan berbagi cerita tentang kuliner, persahabatan, asmara, hingga isu terkini yang sedang hangat di Indonesia.
.

.
๐Ÿฐ Tayang pada 27 September mendatang

Dalam film yang direncanakan tayang mulai akhir September ini aktris cantik Dian Sastrowardoyo akan berperan sebagai Aruna, seorang ahli wabah penyakit yang memiliki hubungan erat dengan makanan. Sementara Nicholas Saputra akan berperan sebagai Bono, seorang koki sekaligus sahabat Aruna yang juga suka mencari kuliner baru untuk inspirasinya. Selain Dian dan Nicholas, film ini juga akan dibintangi oleh Oka Antara yang berperan sebagai Farish, mantan teman kantor Aruna yang biasa-biasa saja terhadap makanan. Hannah Al-Rasyid juga turut meramaikan dengan berperan sebagai Nad, kritikus kuliner yang memiliki opini kuat dan tajam.
.

.
๐Ÿ›Ž Disutradarai oleh sutradara film Posesif yang tahun lalu meraih Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik

Dears, film ini disutradarai oleh Edwin, seorang sutradara yang sudah berkecimpung di dunia film lebih dari 15 tahun lamanya. Awalnya, Edwin fokus memproduksi film-film indie. Namanya tercatat sebagai salah satu sutradara Indonesia yang berprestasi di berbagai festival film dunia.

Tahun lalu Edwin bahkan berhasil mendapatkan Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik dalam film komersil pertamanya “Posesif”.

Gimana, Dears, tertarik menonton film ini? Buat kamu yang hobi makan dan kangen dengan akting Rangga dan Cinta tak ada salahnya mengobati kerinduanmu melalui film bergenre drama komedi ini.

Selamat menonton ya, Dears!

๐Ÿ’œ๐Ÿ’›๐Ÿ’š

#TantanganMenulisEstrilook
#EstrilookCommunity
#ReviewFilmBaru

Resep MPASI yang Kaya Gizi dan Nutrisi Ini Cocok Banget Lho, Dears, Untuk Bayi Usia 9 Bulan ke Atas

Halo Dears,

Memiliki bayi yang sehat dan tercukupi nutrisinya adalah idaman setiap ibu. Selain melalui pemberian ASI Eksklusif di 6 bulan pertama pertumbuhannya, nutrisi lanjutan dalam bentuk pemberian MPASI (makanan pendamping ASI) setelahnya jugaย perlu diperhatikan.

Dikutip dari situs Hello Sehat,ย selain untuk fungsi memenuhi nutrisi bayi, MPASI juga berfungsi untuk melatih kemampuan otot oromotor (otot-otot di mulut) dan kemampuan motorik bayi.

Sejalan dengan perkembangan usianya, kamu dapat membuat sendiri aneka resep MPASI menggunakan bahan-bahan sederhana. Tidak perlu harus mahal, Dears. Yang utama adalah makanan tersebut dapat diterima baik oleh indra pengecap bayi.

Berikut ini adalah resep MPASI Macaroni Schotel untuk bayi mulai usia 9 bulan ke atas yang penulis ambil dari akun instagram @herleenda.

 

076a67caf1cee52e7e242da815163bf5
Sumber : instagram.com/herleenda

 

MACARONI SCHOTEL
.
Bahan :
โœ… Karbohidrat : segenggam macaroni
โœ… Protein hewani : 2 telur ayam, 50gr daging sapi
โœ… Protein nabati : Tempe parut
โœ… Sayuran: 1/2bh wortel parut
.
Bumbu untuk aroma :
โœ… 2 siung Bawang putih
โœ… Bawang bombay
โœ… Keju parut
โœ… Lada bubuk
โœ… Seledri
โœ… Minyak goreng
ย โœ…Margarin untuk olesan
.
Cara membuat :
โ†ช๏ธRebus daging, sisihkan kaldunya. Daging bisa dicincang kasar/parut.
โ†ช๏ธTumis bawang putih + bawang bombay dengan minyak. Masukkan daging, tempe, wortel beri, kaldu daging hingga berubah warna.
โ†ช๏ธCampurkan tumisan dengan macaroni, keju parut, kocokan telur, lada bubuk. Aduk hingga tercampur sempurna.
โ†ช๏ธOlesi cetakan aluminium foil dengan margarin. Tata adonan sampai habis, taburi seledri dan keju parut.
โ†ช๏ธKukus kurang lebih 20-25 menit. Cek kematangan dengan tusukan.
.
Nyammm nyamm…. yummyyy…. simpel tapi sangat bergizi, bukan?ย 
ย 
Jangan lupa ya, Dears, ajarkan si kecil berdoa sebelum makan dan suapi buah hati dengan penuh cinta dan kasih sayang. Karena cinta adalah nutrisi terbesar yang juga ia butuhkan hingga dewasa nanti.ย 
ย 
Big hug ya buat kamu, ibu-ibu hebat ๐Ÿ’•
ย 
๐Ÿ’œ๐Ÿ’›๐Ÿ’š
ย 
#TantanganMenulisEstrilook
#EstrilookCommunity
#ResepMPASI

Sopia Crispy

Apa yang Anda bayangkan kalau saya sebutkan nama YOGYAKARTA?
Pasti langsung ingat satu nama jalan yang khassss banget, yaitu jalan Malioboro.
Betulll? ๐Ÿ˜Š
Ada juga mungkin yang langsung terpikir Tugu Jogja sebagai pusat ikon kota Yogyakarta istimewa.
Yup… tidak salah.. !!
Semuanya benar ๐Ÿ˜

Mmmm… lalu bagaimana dengan oleh-olehnya? Kalau soal yang satu ini saya percaya hampir semua pasti tahu apa oleh-oleh khas dari kota ini. Kalau sampai tidak tahu namanya kebangetan hehheheee..

Oleh-oleh khas Yogyakarta amatlah banyak macam dan ragamnya.
Ada Batik, Gudeg, Wedhang Uwuh, Geplak, Yangko, dan yang amat sangat populer apalagi kalau bukan si bulat isi kacang hijau, yaitu Bakpia.
Betapa Bakpia seolah menemani Batik dan Gudeg menjadi oleh-oleh kebanggaan kota budaya ini.

Semakin merebaknya produsen Bakpia di kota Yogya, semakin memunculkan aneka kreatifitas varian dari Bakpia.
Ada Bakpia basah, ada juga Bakpia kering.
Dari mulai rasa kacang hijau sebagai pelopor variasi isinya, sekarang berkembang menjadi isi kacang hitam, kacang merah, coklat, keju, green tea, mocca, vanilla, dan banyak lagi.

Nah,.. yang akan saya tulis di blog kali ini adalah varian baru dari Bakpia kering, namanya Bakpia Crispy, atau sering disebut dengan Sopia Crispy.
Idihhh keren ya, mirip Sophia Latjuba qiqiqiqiii…

IMG_20170917_071157.jpg

Apa sih yang membedakan si Sopia Crispy ini dengan Bakpia kering biasa ?
Sebenarnya dari bahan pembuatannya hampir sama. Hanya saja yang paling terasa berbeda adalah dari KULIT-nya.
Kulit Sopia Crispy cenderung mudah terkelupas dan rawan hancur atau remuk menjadi remahan. Tampaknya remahan inilah yang menjadi ciri khas si Sophia, sesuai dengan jenisnya yang krispi.
Isinya juga kering dan enak dimakan karena renyah.
Ada 3 varian isi yang pernah saya coba : kacang hijau, coklat, dan keju. Dari segi bentuk, Sopia Crispy lebih besar diameternya, jadi mantap dalam genggaman jari jempol, telunjuk, tengah dan jari manis saat menyantapnya.

Setiap ada keluarga atau rekan dari luar kita yang berkunjung ke Yogya, mulai sering saya bawakan Sopia Crispy ini. Dan rata-rata sih pada nagih minta dikirimin lagi hehheeehe.. ๐Ÿ˜„ Alhamdulillah mereka yang bertamu happy, saya juga yang ketamuan happy karena oleh-olehnya banyak yang suka.

Jadi buat Anda nih yang mungkin sudah ada rencana untuk berkunjung dalam waktu dekat ke kota Yogya, jangan lupa berburu Sopia Crispy ya sebagai salah satu Oleh-oleh Indonesia.
Tapi seandainya tidak sempat datang langsung ke Yogya, atau kota-kota lain di nusantara, kamu bisa pesan oleh-oleh khas dari berbagai daerah secara online di Omiyago.

Satu pertanyaan terakhir, “Sudah pernah ke Yogya belum..?”
Kalau jawabannya BELUM, hayuukk direncanakan ๐Ÿ˜
Sebagai info, kamu juga bisa pesan tiket dan reservasi hotel via online diย Ladita Tour

Sebelum jalan-jalan ke luar negeri ada baiknya eksplore nusantara dan segala ciri khasnya dulu yuk, karena itu adalah salah satu tanda cinta kita pada negeri kita sendiri, Indonesia. ๐Ÿ’œ๐Ÿ’™๐Ÿ’›

Merdekaa..!! ๐Ÿ˜Š

Sopia Crispy

Apa yang Anda bayangkan kalau saya sebutkan nama YOGYAKARTA?
Pasti langsung ingat satu nama jalan yang khassss banget, yaitu jalan Malioboro.
Betulll? ๐Ÿ˜Š
Ada juga mungkin yang langsung terpikir Tugu Jogja sebagai pusat ikon kota Yogyakarta istimewa.
Yup… tidak salah.. !!
Semuanya benar ๐Ÿ˜

Mmmm… lalu bagaimana dengan oleh-olehnya? Kalau soal yang satu ini saya percaya hampir semua pasti tahu apa oleh-oleh khas dari kota ini. Kalau sampai tidak tahu namanya kebangetan hehheheee..

Oleh-oleh khas Yogyakarta amatlah banyak macam dan ragamnya.
Ada Batik, Gudeg, Wedhang Uwuh, Geplak, Yangko, dan yang amat sangat populer apalagi kalau bukan si bulat isi kacang hijau, yaitu Bakpia.
Betapa Bakpia seolah menemani Batik dan Gudeg menjadi oleh-oleh kebanggaan kota budaya ini.

Semakin merebaknya produsen Bakpia di kota Yogya, semakin memunculkan aneka kreatifitas varian dari Bakpia.
Ada Bakpia basah, ada juga Bakpia kering.
Dari mulai rasa kacang hijau sebagai pelopor variasi isinya, sekarang berkembang menjadi isi kacang hitam, kacang merah, coklat, keju, green tea, mocca, vanilla, dan banyak lagi.

Nah,.. yang akan saya tulis di blog kali ini adalah varian baru dari Bakpia kering, namanya Bakpia Crispy, atau sering disebut dengan Sopia Crispy.
Idihhh keren ya, mirip Sophia Latjuba qiqiqiqiii…

IMG_20170917_071157.jpg

Apa sih yang membedakan si Sopia Crispy ini dengan Bakpia kering biasa ?
Sebenarnya dari bahan pembuatannya hampir sama. Hanya saja yang paling terasa berbeda adalah dari KULIT-nya.
Kulit Sopia Crispy cenderung mudah terkelupas dan rawan hancur atau remuk menjadi remahan. Tampaknya remahan inilah yang menjadi ciri khas si Sophia, sesuai dengan jenisnya yang krispi.
Isinya juga kering dan enak dimakan karena renyah.
Ada 3 varian isi yang pernah saya coba : kacang hijau, coklat, dan keju. Dari segi bentuk, Sopia Crispy lebih besar diameternya, jadi mantap dalam genggaman jari jempol, telunjuk, tengah dan jari manis saat menyantapnya.

Setiap ada keluarga atau rekan dari luar kita yang berkunjung ke Yogya, mulai sering saya bawakan Sopia Crispy ini. Dan rata-rata sih pada nagih minta dikirimin lagi hehheeehe.. ๐Ÿ˜„ Alhamdulillah mereka yang bertamu happy, saya juga yang ketamuan happy karena oleh-olehnya banyak yang suka.

Jadi buat Anda nih yang mungkin sudah ada rencana untuk berkunjung dalam waktu dekat ke kota Yogya, jangan lupa berburu Sopia Crispy ya sebagai salah satu Oleh-oleh Indonesia.
Tapi seandainya tidak sempat datang langsung ke Yogya, atau kota-kota lain di nusantara, kamu bisa pesan oleh-oleh khas dari berbagai daerah secara online di Omiyago.

Satu pertanyaan terakhir, “Sudah pernah ke Yogya belum..?”
Kalau jawabannya BELUM, hayuukk direncanakan ๐Ÿ˜
Sebagai info, kamu juga bisa pesan tiket dan reservasi hotel via online diย Ladita Tour

Sebelum jalan-jalan ke luar negeri ada baiknya eksplore nusantara dan segala ciri khasnya dulu yuk, karena itu adalah salah satu tanda cinta kita pada negeri kita sendiri, Indonesia. ๐Ÿ’œ๐Ÿ’™๐Ÿ’›

Merdekaa..!! ๐Ÿ˜Š