Arsip Tag: Kuliner

5 Kuliner Khas Lombok Favorit Saya

Salah satu hal yang paling berkesan dan bikin betah kalau lagi di Lombok buat saya adalah makanan khasnya. Yup, mungkin karena saya lahir dan besar di sana, jadi lidah dan otot syaraf indera pengecap di dalam mulut sudah terlalu biasa dengan rasa pedas dari kuliner khas pulau ini.

Selain menggunakan terasi sebagai bumbu wajibnya, kuliner Lombok identik dengan sambal yang dibuat dari sebiye bideng (cabe merah keriting yang dijemur sampai kering dan kehitaman). Bahan khas ini yang bikin rasa pedasnya berbeda dengan daerah lain.

Kamu penasaran enggak apa saja kuliner khas Lombok yang menjadi favorit saya dan bikin pengen nambah terus meskipun makannya sambil kepedasan? 5 di antaranya ada di bawah ini, Guys! Eitsss… tapi bacanya jangan sambil nelen ludah, yak…. 😀

1. Pelecing Kangkung

Image : Senggigitour.com

Pelecing kangkung. Kuliner Lombok yang satu ini seolah menjadi ikon kuliner pulau seribu masjid ini. Bahan dasarnya adalah kangkung asli Lombok yang direbus dan disajikan dalam keadaan dingin. Untuk campurannya, ada sambal terasi, parutan bumbu kelapa yang dibakar, taoge, kacang goreng, dan kucuran jeruk limau yang menjadi ciri khas kuliner masyarakat Sasak, penduduk asli pulau Lombok.

Oiya, kangkung asli Lombok ini batangnya besar-besar dan segar, berbeda dengan kangkung dari daerah lain yang mudah layu saat direbus. Ini yang membuat sensasi kangkung Lombok lebih renyah saat digigit. Di beberapa daerah, seperti Yogyakarta tempat domisili saya sekarang, kangkung Lombok kadang dijual di supermarket atau swalayan besar. Tapi tentu saja harganya sedikit lebih tinggi daripada kangkung biasa.

 2. Ayam Taliwang

Image : Cookpad.com

Kuliner ayam taliwang ini biasanya disajikan bersama dengan pelecing kangkung. Ayam taliwang adalah ayam bakar khas Lombok, berbahan dasar ayam kampung yang masih muda. Sebelum dibakar, ayam taliwang dibumbui dulu dengan cabe merah kering yang dijemur (sebiye bideng), terasi, bawang putih, bawang merah, kencur, gula merah, santan, dan jeruk limau. Untuk kamu yang enggak suka pedas, tak perlu khawatir. Ada, kok, rumah makan ayam taliwang yang menyajikan ayam taliwang dengan menu ayam madu.


3. Sate Pusut

Image : Cookpad.com

Kalau kamu suka makan olahan sate, cobain, deh, sate yang satu ini. Bahan utamanya adalah kelapa parut yang dibumbui pedas dengan cabai, bawang merah, bawang putih, dan tentu saja terasi tak pernah ketinggalan. Setelah semua bahan tercampur, baru dibakar. Untuk variasi, kamu juga bisa menambahkan bahan daging atau ikan pada campuran kelapa parut. Rasa satenya akan lebih padat dan lebih tinggi protein.

4. Beberuq

Image : cookpad.com

Beberuq ini bikinnya simpel banget, karena merupakan olahan sambal yang berbahan dasar terong ungu bulat segar dan masih muda. Jika tak ada terong ungu, kamu bisa ganti dengan terong hijau. Tapi, di Lombok, terong yang dipakai umumnya memang terong ungu. Seperti biasa, bahan utama sambal di Lombok adalah terasi Lombok yang sangat khas, tomat, cabe merah, bawang merah, dan jeruk limau.Potong terong berbentuk dadu kecil-kecil, campur dengan sambal terasi, lalu kucuri dengan minyak panas. Hmm … aromanya dijamin bikin kamu ngiler dan langsung mengambil sepiring nasi hangat.

 5. Nasi Balap

Image : Senggigitour.com

Nah, kalau ini kuliner khusus buat kamu yang suka makan nasi sambil balapan. What?? Hehe …

Nasi balap terkenal juga dengan sebutan nasi puyung, karena berasal dari desa Puyung, sebuah desa di kawasan Lombok Tengah. Lauknya sebenarnya sangat sederhana, cuma irisan daging ayam berbumbu pedas khas Lombok (ayam pelalah), kering kentang, kedelai goreng, dan kadang disertai irisan telur dadar. Nyam … nyam … meskipun sederhana, tapi lezatnya jangan ditanya. Sensari gurih dan pedas dari nasi balap yang nendang bikin jantungmu berdetak lebih kencang karena kepedasan, dan kamu bakal ketagihan untuk nambah dan nambah lagi. Wah, tambah kurus dong saya.. ^^

Untungnya, di Yogyakarta sekarang banyak yang membuka usaha kuliner dengan menu khas Lombok ini. Ada yang memang pemiliknya orang Lombok asli, tapi ada juga yang pemiliknya warga Yogya dan dahulu pernah tinggal lama di pulau Lombok. Terutama untuk menu Nasi Balap, di beberapa bagian daerah kampus banyak tersebar penjual nasi ini dengan harga yang relatif terjangkau, sekitar Rp8.000,- sampai Rp10.000,- per bungkus.

Jadi, kamu pilih yang mana dari 5 makanan di atas? Kalau ngerasa takut berat badan nambah, sepertinya kamu lebih baik pilih aja pelecing kangkung, ya, jangan yang lain… *pissss 😀

Baca juga

#SETIP_Day12 #SemingguTigaPostingan #EstrilookCommunity

Bakso Tiga Roda Yogyakarta, Rajanya Bakso Urat untuk Kamu yang Hobi Mengerat

Bakso urat Tiga Roda

.

Siapa yang tidak kenal kuliner satu ini? Yup! Bakso, merupakan kuliner populer yang hampir dapat ditemui di setiap daerah di Indonesia. Gumpalan daging halus berbentuk bola yang dicampur dengan bumbu dan dikucuri kuah kaldu, disertai mi putih atau mi kuning, plus taburan daun bawang dan bawang goreng….. hemmm…. yummy…. sungguh menggugah selera.

Yogyakarta merupakan salah satu kota yang kuliner baksonya mengalami perkembangan sangat pesat. Di kota ini kamu dapat memilih aneka varian bakso dengan nama yang unik, seperti bakso bola tenis, bakso raksasa, bakso Jepang, bakso granat, bakso kerikil, dan masih banyak lagi. Harga semangkuk bakso di kota ini pun beragam, mulai dari Rp5.000 untuk bakso kerikil dengan 20-an biji bakso yang imut bak kelereng, sampai di harga Rp30.000-an untuk bakso raksasa yang dapat kamu santap beramai-ramai.

Banyaknya pedagang bakso, terutama di sekitar rumah, membuat saya dan keluarga termasuk salah satu orang yang kerap menikmati sajian satu ini. Apalagi menu bakso biasanya selalu bersanding dengan mi ayam. Enggak heran kalau little princess Lubna yang kurang suka makan daging itu lebih memilih makan mi ayam daripada bakso. Jadi, kami kalau makan bisa saling berbagi. Lubna makan mi-nya aja karena enggak suka daging, sementara saya makan dagingnya aja, karena mi-nya biasanya sudah dimakan Lubna qiqiqiqi….

Meski di sekitar rumah sudah banyak pedagang bakso, rupanya tidak menyurutkan keinginan pedagang bakso lainnya untuk juga membuka usaha bakso di sekitar kami. Mungkin karena lokasinya yang strategis, merupakan jalan raya penghubung berbagai kelurahan di Kecamatan Kalasan, sehingga berbagai usaha retail dan kuliner sangat berkembang di sepanjang jalan penghubung ini. Bakso Urat Tiga Roda merupakan salah satu usaha bakso yang membuka cabangnya di seberang rumah (tepatnya di depan rumah) sejak Desember 2018 lalu. Warung bakso ini adalah cabang dari warung bakso Tiga Roda di lokasi lain yang berjarak sekitar 5 kilometer dari sini dan sudah lebih dulu beroperasi, kurang lebih sekitar 5 tahun.

Awalnya saya berpikir, apa sih yang menarik dari bakso ini dibanding bakso lainnya? Adakah ciri khas yang membedakannya? Kamu juga penasaran, kan? Ayo, kita bedah bareng-bareng!

Abang Tukang Baksonya Berseragam

.

Owner bakso Tiga Roda (kiri) dan karyawannya

.

Nah, ini yang jarang saya lihat di Yogyakarta. Untuk warung bakso yang sudah besar dan berada di kota, melihat para pelayannya berseragam mungkin sudah biasa. Tetapi untuk warung bakso biasa yang berada di ruko kecil dan berlokasi di wilayah yang masih termasuk pedesaan juga (bukan kota), penampilan 2 orang pemuda yang mirip anak kuliahan ini cukup menarik perhatian. Meski berpakaian casual (tshirt dan celana jeans), namun penampilan mereka rapi dan warna kaosnya seragam. Enak aja dilihat. Kadang hijau, ungu, merah, hitam. Rata-rata pedagang bakso di sekitar rumah belum ada yang memerhatikan detil soal penampilan seperti ini. Padahal kalau kamu punya usaha kuliner, penampilan yang rapi dan bersih itu penting, lho, Guys! Pembeli akan nyaman dibuatnya.

Tempatnya Bersih dan Rapi

.

Tempatnya bersih dan rapi

.

Warung bakso Tiga Roda ini berlokasi di sebuah ruko yang tidak terlalu luas. Ada tempat salat dan kursi duduk untuk kamu yang suka duduk di atas, plus lesehan untuk kamu yang suka duduk di bawah. Pelayanannya dimulai pukul 10.00 pagi hingga pukul 20.00 malam, setiap hari. 

Baksonya Buatan Sendiri

Apa yang membedakan citarasa bakso Tiga Roda ini dengan bakso lainnya? Secara sekilas mungkin sama saja ya penampilannya, tidak ada yang beda jauh. Tapi setelah dicicipi, menurut saya, ada khasnya. Mi ayamnya enak, tidak membuat eneg. Kalau kuahnya dipisah dari mi-nya, kuahnya tampak bening dan tidak keruh. Bahkan teman-teman Lubna yang sering main ke rumah kalau disuguhi mi ayam Tiga Roda ini suka banget minum kuahnya. Kata mereka gurih seperti kuah sup 😀

Mi ayamnya gurih dan enggak eneg

.

Untuk pentol baksonya, dari hasil obrolan dengan si juragan bakso, dia bercerita bahwa Ayahnya sendiri yang meracik pentol bakso dan bumbunya. Ada 2 pilihan untuk menu bakso, yaitu bakso urat dan bakso halus. Untuk kamu yang hobi mengerat urat, tulang, dan segala yang teksturnya kasar, cocok banget makan bakso uratnya. Sementara kamu yang doyan daging halus seperti saya, pilihan terbaik adalah bakso halus.

Untuk harga, semangkuk bakso di sini bisa kamu santap dengan harga Rp10.000,- dan semangkuk mi ayam yang gurih dan lezat cukup kamu nikmati dengan merogok kocek Rp7.000,- saja. Sajian minuman teh dan jeruk harganya juga standar, sekitar Rp3.000,- an sudah dapat mengobati dahagamu.

Dari hasil perbincangan santai beberapa kali dengan si pemuda berusia sekitar 25 tahunan yang merupakan owner bakso Tiga Roda ini, dia banyak bercerita tentang proses usaha baksonya. Cabang bakso yang baru 4 bulan berjalan  ini dikelola olehnya dan seorang karyawan yang juga masih muda, sebaya dengannya. Sementara warung bakso Tiga Roda pusat yang dikelola Ayahnya sudah berjalan 5 tahun dan memiliki beberapa orang karyawan. 

Usaha bakso Tiga Roda ini merupakan usaha bakso keluarga yang berawal dari daerah Bekasi, Jawa Barat. Ada pamannya yang sejak tahun 2000 membuka warung bakso Tiga Roda di Bekasi dan saat ini telah memiliki 5 cabang di daerah Bekasi dan sekitarnya. Kemudian sejak 5 tahun lalu, Ayahnya pindah ke Yogyakarta dan membuka bakso Tiga Roda untuk wilayah Yogyakarta. Kemudian akhir tahun 2018 lalu diputuskan untuk membuka cabang baru yang berlokasi di depan rumah ini.

“Di keluarga kami enggak ada yang cari kerja. Semuanya wiraswasta dan buka usaha,” kata si owner.

 Oya, saya juga pernah bertanya, kenapa dia tidak menggunakan jasa Go Food dalam usaha baksonya? Padahal hampir semua usaha kuliner di sekitar rumah sudah memasang logo Go Food dalam usaha makanannya. Begini jawabannya,

“Saya enggak tega kalau harus menaikkan harga lagi. Kasihan para langganan. Kalau saya pakai Go Food, harga harus naik lagi sekitar Rp2.500,- dari harga normal…”

Saya pun manggut-manggut mendengar penjelasannya. Apa pun keputusannya, semua kembali kepada kebijakan masing-masing. Yang jelas, yang namanya berbisnis dan menjalankan usaha itu memang tidak bisa dilihat hasilnya hanya dalam 1-2 tahun. Butuh 5-10 tahun berjalan dulu baru terlihat efeknya.

Jadi gimana, nih? Kamu mau ikutan buka usaha juga? Atau mau datang ke Yogya dan ikutan makan bakso Tiga Roda? 😀

Baca juga

#SETIP_Day11
#SemingguTigaPostingan
#EstrilookCommunity

 

3 Cita Rasa Kuliner yang Berpadu Menjadi Satu di GH Corner Yogyakarta

Ada satu makanan khas Timur Tengah yang masih menimbulkan rasa penasaran di hati saya sejak Allah mengizinkan saya bertamu ke Rumah-Nya beberapa bulan yang lalu.

Saat di Mekkah, di sebelah hotel tempat menginap ada penjual aneka kuliner khas Arab, seperti Roti Maryam, Kebab, Nasi Briyani, dan makanan khas lainnya. Setiap lewat di depannya, aroma sedap rempah-rempah langsung tercium harum semerbak, bikin perut kami yang sedang berjalan kaki menuju Masjidil Haram mendadak berbunyi nyaring minta diperhatikan isinya hehhehee…

Saat itu, entah kenapa, yang menarik hati saya untuk dibeli hanyalah kuliner Kebab dengan berbagai variasinya. Saya belum tertarik untuk mencoba Nasi Briyani, meskipun mulai kepo dengan olahan nasi yang tekstur berasnya panjang-panjang dan besar, persis seperti tekstur nasi yang ada di Turki dan sempat saya cicipi sebelum menuju Madinah. Bedanya, saat makan di Turki selera makan saya hilang sama sekali, karena kulinernya terasa hambar dan kurang gurih. Serasa makan tanpa garam 😀 Tapi kalau makanan Arab, qodarulloh, lidahnya langsung nyambung, Guys! Tahu enggak, kenapa? Pastinya karena kita orang Indonesia ini terbiasa dengan segala masakan berbumbu dan kaya dengan rempah-rempah. Jadi begitu bertemu makanan yang cita rasanya senada, perut pun langsung mengamini 🙂

Nah, kekepoan saya terhadap Nasi Briyani ternyata terbawa hingga Indonesia kwkwkwk… Entahlah, sampai 10 bulan setelahnya ternyata masih ada rasa kangen ingin sekali mencobanya.

GH Corner Yogyakarta, resto dengan 3 cita rasa kuliner yang unik

Bukan kebetulan pula rasanya, mungkin Allah sudah atur, ya. 2 hari lalu enggak sengaja lewat di sekitar daerah Babarsari, Yogyakarta, sepulang dari mengantar Lubna ke Grhatama Pustaka (Perpustakaan Daerah) untuk pinjam novel anak kesukaannya. Padahal lewat daerah Babarsari ini juga cukup sering, meskipun enggak sering banget. Tapi selama ini sama sekali enggak tahu kalau di daerah situ ternyata ada tempat makan yang menyediakan menu Timur Tengah. Awalnya agak ragu masuk ke dalamnya, karena di parkiran yang ada mobil semua, sementara saya kan jadi tukang ojek karena bawa motor hahhaaha 😀 Ini tempat makan jangan-jangan harganya ekslusif nih, pikir saya. Sayang duitnya kannn kalau makan ratusan ribu cuma buat perut *hadehhh pikiran emak-emak hemat ya begini ini. Tapi yo wes, ra popo, dicoba aja, enggak tiap hari ini. Akhirnya hati saya memenangkan pertarungan pikiran ini 😀

Saya pun memarkir motor di depan resto tersebut. Nama restonya catet ya, GH CORNER.

Begitu masuk ke dalamnya, wow, enggak salah kalau dibilang resto, secara tempatnya cozy dan nyaman banget. Yang makan ada, tapi enggak banyak, cuma ada sekitar 4-5 orang di salah satu sudut ruangan. Penataan meja juga cantik, karena ada vas bunganya. Jadi ingat suasana makan di rumah sendiri. Terdapat tulisan besar di salah satu sudutnya, “Ingat Makan, Ingat Tuhan”. Hemmm… saya pikir bagus juga ini tagline. Bukankah kita kalau lagi makan dan sudah menyangkut urusan perut biasanya suka lupa dengan Sang Maha Pemberi? 🙂

Bersamaan dengan kami duduk di meja, datanglah seorang pria mengantarkan menu makanan kepada kami. Yang pertama saya lihat apa, sudah tahu, kannn? Yup, tentu saja harganya! Enggak usah gengsi. Kalau kamu mau makan kudu tahu pasti dong, ya, kisaran harga makanannya berapa. Middle atau high price. Standar atau termasuk resto eksklusif. Kamu penasaran harga makanannya berapaan? Nih, lihat di foto bawah ini, ya 🙂

Aneka menu Timur Tengah
Aneka menu Melayu

Gimana, udah lihat harganya, kan? Mahal enggak? Hehheee… Alhamdulillah, Guys, ternyata harganya termasuk standar untuk resto sekelas GH Corner yang tempatnya nyaman ini. Setelah membolak balik daftar menu sejenak, ternyata pilihan saya tetap jatuh kepada Nasi Briyani. Ala makkk, saya belum bisa pindah ke lain hati ternyata *uhhuk ihhir. Kalau Lubna enggak di mana-mana makannya, tetepppp aja pilihannya Chicken Katsu. Ibunya jadi geli sendiri, ini anak cinta mati sama menu satu ini.

Oya, yang bikin saya agak surprise, ternyata GH Corner ini menyajikan 3 cita rasa kuliner dalam menu restonya. Selain kuliner Timur Tengah, ada juga kuliner Melayu dan Western. Jadi lengkap banget kalau kita makan bersama keluarga atau teman, dan ada salah satu yang enggak suka masakan Timur Tengah misalnya, mereka dapat memesan masakan dengan cita rasa berbeda. One stop eating place ya kalau mau diistilahkan dalam bahasa Jawanya qiqiqiii…

Aneka menu Western
Lengkap menu dessertnya

Enggak pakai lama, hidangan yang saya tunggu-tunggu selama 10 bulan ini – *setia banget sikk saya sama kamu, Nasi Briyani, – akhirnya muncul juga di depan saya. Aroma Nasi Briyani langsung semerbak, bikin Lubna jadi kepo.

“Kok aromanya enak, sih, Bu? Aku jadi pengen nyoba..”

“Ya udah, cobain aja,” jawab saya.

Nasi Briyani yang udah ditunggu 10 bulan lamanya hehhee…

Setelah dicoba, ternyata dia kurang doyan, karena ada aroma kunyit pada nasinya. Justru Lubna suka dengan bumbu karinya yang gurih dan cenderung asin. Jadi Nasi Briyani ini disajikan dengan taburan bawang goreng, bersama dengan bumbu kari dalam mangkuk kecil. Kemudian ada daging ayam yang sudah dibumbu kari juga. Aroma rempahnya kental, seperti masakan padang. Kalau kamu kurang suka dengan bau rempah mungkin akan sedikit terganggu saat memakannya. Saya sendiri karena memang sudah lama ngidam Nasi Briyani dan dalam kondisi lafarrr habis jadi tukang ojek oke-oke aja dengan rasanya. Mirip dengan nasi kuning sebenarnya, tapi ini ada tambahan bumbu rempah lainnya selain kunyit.

Chicken Katsu favorit Lubna

Bagaimana dengan Chicken Katsunya? Alhamdulillah, enak, kata Lubna sambil senyum-senyum. Dengan harga Rp25.000 untuk satu piring Chicken Katsu + free secangkir teh manis, recommended banget untuk harga para mahasiswa. Letak resto ini memang tak jauh dari komplek beberapa perguruan tinggi dan sekolah di sekitarnya. Universitas Atma Jaya, Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Universitas Proklamasi, STIE YKPN, SMAN 2 Babarsari, ada di daerah sekitar GH Corner ini. Dekat pula dengan Rumah Sakit Bersalin “Semar” dan instansi pemerintah. Strategis deh lokasinya.

Kalau kamu sedang menyantap hidangan dan terdengar suara adzan, jangan khawatir, di lantai 2 ada mushola. Kata Lubna ada area memanah juga di lantai 2, tapi saya enggak naik ke atas, cuma Lubna yang jalan-jalan ke lantai 2 🙂

Di meja depan kasir tersedia beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang. Ada roti beraneka rasa, ada botol kecil yang saya enggak baca apa isinya, tapi bentuknya seperti botol kecap, dan ada pula cemilan Cistick alias kue bawang. Dan itu semua kata mbak Kasirnya adalah produksi sendiri di bawah label Ikhwan Bakery. Mantap ya, pembeli tentu lebih terdorong untuk mencoba kalau itu adalah produksi sendiri karena sudah tahu kualitas makanannya. Lubna minta dibelikan Cistick yang dikemas cukup eksklusif dan dibandrol seharga Rp. 13.000 per bungkus.

Sampai di rumah, saya coba cicipin Cisticknya. Wah, ternyata enak juga kue bawangnya. Enggak terlalu gurih, kok, sedang aja asinnya. Tapi di gigitan terakhir sangat terasa kalau ada cita rasa menteganya. Unik jika dibandingkan dengan kue bawang lain yang biasa saya makan.

Ssttt… Lubna kelihatannya happy banget habis saya ajak ke sana. Di rumah cerita terus sama Eyangnya tentang resto ini 🙂 Dia mah memang selalu antusias dan bahagia setiap diajak ke tempat baru yang belum pernah kita datangi sebelumnya. Next time jadi pengen ajak Eyangnya Lubna ke sini ah, dan ajak teman lain juga buat ngerumpi positif di tempat ini. Secara tempatnya nyaman banget. Kamu yang lagi liburan ke Yogya kalau cari kuliner Timur Tengah datang aja ke sini. Harganya standar, tempatnya nyaman, dan pastinya HALAL..

#SETIP_Day5 #SemingguTigaPostingan #Estrilook

3 Kuliner Yogyakarta Favorit Saya

Bicara tentang makanan, setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas kulinernya masing-masing. Yogyakarta sendiri sebagai Kota Budaya dan Pelajar memiliki banyak variasi kuliner, baik yang benar-benar asli khas Yogya, maupun sudah bercampur dengan kuliner khas daerah lain di sekitarnya, seperti Magelang, Klaten, atau Solo.

Tapi kali ini saya enggak akan menulis atau membahas topik tentang Gudeg, makanan khas Yogyakarta yang paling dicari-cari kalau wisatawan datang ke sini. Bukan pula membahas soal si manis gurih Bakpia, yang telah menjadi primadona. Saya hanya akan menulis tentang tiga macam kuliner ringan yang menjadi favorit saya di kota ini. Apa sajakah itu? Dan kenapa saya sukaaaa banget dengan mereka? Sepertinya teman-teman perlu tahu juga, lho, karena bukan enggak mungkin setelah membaca dan melihat fotonya kamu makin tertarik buat datang ke Yogyakarta. Yahh…. endorse lagi nih, ya, hehheheee….

Rujak Es Krim

Sensasi pedasnya cabai dan dingin serta lembutnya es krim cuma ada dalam Rujak Es Krim

Entahlah, apakah jenis kuliner ini merupakan asli Yogya atau bukan. Tapi yang jelas, perpaduan antara bumbu rujak yang pedas dan dinginnya es krim telah berhasil meluluhlantakkan hatiku.

Oya, sebelumnya kamu perlu tahu dulu bahwa ada perbedaan antara istilah RUJAK dan LOTIS di Yogyakarta. Rujak adalah sajian buah yang diparut atau dicacah kecil-kecil, kemudian dicampur/diaduk menggunakan bumbu rujak seperti biasanya. Sedangkan lotis adalah sajian buah yang dipotong besar-besar (bukan diparut), kemudian cara makannya dicocol dengan bumbu rujak. Sedikit berbeda mungkin, ya, dengan daerah lain. Jadi kalau kamu ke sini dan bilang pengen makan rujak, orang akan berpikir kamu ingin makan buah yang penyajian buahnya dengan cara diparut dan dicampur bumbu. Kalau ingin makan sajian buah yang dipotong dengan ukuran besar-besar, kamu harus bilang ingin makan “lotis”, bukan rujak. Mudah-mudahan paham dan enggak bingung, ya!

Nah, kalau kuliner Rujak es Krim ini, setelah buahnya diparut dan dicampur bumbu, kemudian atasnya dikasih topping es krim 1-2 scoop. Di sinilah letak seninya. Pada saat es krim mencair, dinginnya cairan es krim dan pedasnya cabai dari bumbu rujak akan memunculkan sensasi unik, suegeerrr tapi juga puedesssss, Guys! Enggak usah dibayangin, langsung aja kamu cobain. Deal?

Lotek

Selain uueenaaakk, sajian Lotek ini juga sehat karena bahan utamanya sayur semua.
Image : Travelingyuk.com

Enggak kalah sehat dari Rujak Es Krim, sajian kuliner satu ini yang mirip dengan pecel dijamin bikin pencernaanmu makin lancar. Campuran antara rebusan bayam, kacang panjang, irisan tipis kubis, potongan bakwan goreng atau tahu bacem, kemudian semuanya diublek alias dicampur di atas cobek dengan bumbu kacang Lotek yang mirip bumbu pecel, kemudian atasnya ditaburi bawang goreng. Hemmmm….. aromanya langsung tercium dan nafsu makan pun meningkat seketika.

Bumbu Lotek ini mirip bumbu pecel, tapi sedikit berbeda. Selain menggunakan kacang tanah, cabai, gula merah, garam, dan bawang putih, ada tambahan kencur dan daun jeruk sebagai aroma khasnya. Setiap ada pembeli, bumbu Lotek akan langsung diulek saat itu juga, kemudian dicampur dengan aneka sayuran tadi.

Sop Buah

Duuhhhh…. kalau lagi puasa jangan lihat yang beginian, ya hehheee…
Image : Travelingyuk.com

Nahh, ketemu lagi dengan yang segar-segar, nih! Apaan sih, kok ada Sop Buah? Bukannya sop itu biasanya sayuran, bukan buah? Iya, sebenarnya mirip kok dengan sop sayuran, bedanya, sayurannya diganti buah. Kuah supnya merupakan perpaduan antara air, sirup, dan susu kental manis, ditambah es. Nyesssssssssss…..!!

Sop Buah ini isinya lebih simpel dan sederhana daripada es campur. Potong-potong kecil seukuran dadu buah yang kamu sukai, boleh apel, stroberi, mangga, jeruk, buah naga, dll, lalu beri sirup dan air biasa, terakhir taburi susu kental manis dan es batu atau es serut. Wuihhh, enggak perlu pakai santan, rasanya udah suegerrrr banget, apalagi kalau pas lagi puasa, bayanginnya aja sudah bikin meleleh pengen segera berbuka qiqiqiiii….. jangan yakk, dosa, tauk!

Tiga kuliner sehat di atas rasanya enggak pernah bosan saya santap. Ternyata yang namanya kuliner favorit enggak harus selalu makanan yang berat-berat, kan? Makanan dan minuman ringan gini aja bisa bikin hati senang dan mood kembali muncul. Mungkin ini yang bikin saya enggak gemuk-gemuk, ya, karena makanannya kurang unsur lemaknya kwkwkwkkk….

Kalau bicara tentang keinginan, manusia memang enggak ada puasnya, ya! Yang penting selalu bersyukur aja man-teman, apapun yang ada pada dirimu, mau kurus atau gemuk, langsing atau berisi, tujuan utamanya adalah SEHAT, BAHAGIA dan BERLIMPAH REZEKI. Setuju, enggak?

#SETIP_Day4
#SemingguTigaPostingan
#Estrilook



3 Alasan Kenapa Kamu Harus Tinggal di Yogyakarta

Kadang, saya suka bingung sendiri, pemirsah… 

Saya sudah tinggal di kota pelajar Yogyakarta ini kalau nggak salah ingat sejak pertengahan tahun 1993. Waww… udah lama juga, ya? Hampir 16 ehhh 26 tahun ternyataaa 😱 ckckckck… kenapa baru sadar sekarang Ya Allah… 🙈 

Sebelum tinggal di Yogya, saya tinggal nomaden alias berpindah-pindah tempat di beberapa kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat. Mulai dari lahir sampai SMP, setiap 2 sampai 5 tahun sekali biasanya orang tua selalu mendapat surat tugas dari instansinya untuk pindah ke kabupaten lain, meskipun masih di seputaran NTB. Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Kotamadya Mataram, sampai ke pelosok Kabupaten Bima yang panas dan kering kerontang di Pulau Sumbawa pernah saya rasakan. Mungkinnn ini yang menyebabkan saya agak nggak PD kalau ngaku sebagai “wanita Jawa”. Padahal, sudah jelas dan terbukti bahwa Ibu dan Almarhum Bapak adalah orang Yogya tulen. Aselikkk… 😅

Kembali ke laptop..!!

Meskipun hampir 26 tahun tinggal di kota Gudeg ini, jangan harap mendengarkan saya bicara bahasa Jawa melipis dan alusss bak Puteri Kraton. Seringnya, orang Yogya yang ketemu saya pasti tanya, “ Mbak aslinya orang mana, sih?” Nah, ketauan kannn, kalau saya bukan penduduk asli Yogya. Dari logat dan cara bicaranya aja beda 😁 Saya bisanya cuma bahasa Jawa ngoko, alias bahasa sehari-hari macam “Piye kabare, mbakyu?” (Gimana kabarnya, kak?), “Jenengmu sopo?” (Namamu siapa?). Bahasa ngoko ini untuk teman/saudara yang seumuran. 

Ada lagi bahasa yang levelnya lebih tinggi, yaitu bahasa kromo alus (bahasa untuk orang yang lebih tua atau baru kenal), macam “Asmane panjenengan sinten?” (Nama Anda siapa?), “Pripun kabare panjenengan, sae tho?” (Bagaimana kabar Anda, baik kan?)

Nah, kalau bahasa kromo ini saya agak kesulitan menjawab. Apalagi kalau yang bertanya adalah orang yang umurnya lebih tua. Daripada salah jawab dan takut tercampur dengan bahasa sehari-hari (ngoko), lebih baik pakai bahasa Indonesia aja jawabnya. Makanyaaa, saya jadi malu ngaku-ngaku jadi orang Yogya, wong bahasa Jawanya aja belepotan macam es krim gitu.

Tapi pemirsah, meski saya malu dan nggak PD ngaku sebagai orang Yogya, aslinya saya mah cintaaa banget sama kota ini. Iyaa, kota ini banyak mengajarkan saya tentang sopan santun dan etika bergaul terhadap sesama. Tahulah ya, namanya tinggal di luar Jawa sejak lahir dan sering pindah tempat, saya nggak terlalu paham budaya setempat. Mulai ngerti belajar tata krama yang sesungguhnya, ya, di Yogya ini. Sampai kebiasaan memanggil orang dengan sebutan “Mas dan Mbak” untuk menghormati mereka yang baru kita kenal dan belum tahu namanya, semua ada etikanya.

Nah, sekarang saya mau nularin kecintaan terhadap Yogyakarta ini untuk kamu yang baca tulisan ini. Ada 3 alasan yang bakal saya jabarkan, kenapa sebaiknya kamu harus tinggal di kota Gudeg ini. Doakan, yess,  tulisan ini nggak bikin saya diprotes sama orang sekota Gudeg karena ngerasa sebel kota mereka bakal lebih penuhhh dan macet kalau ketambahan penduduk baru lagi qiqiqiiii 🤣

Biaya Hidup Murah

Yuhuuu… udah bukan rahasia lagi, mah, ini! Yogya always cheaper than others in Indonesia. Es jeruk di sini masih ada yang Rp3.000 perak, Guys! Gorengan di pasar desa deket rumah masih ada yang goceng alias Rp500, dhab! Kagak boleh ngiri deh elu yang nggak tinggal di sini. Makanya kalau mau ngirit ke Yogya aja *apaan sikk ini kompor banget 😅

Sayur Rp3.000 udah bisa buat makan sehari, bukk! Dan ini yang bikin saya makin maless masak. Lhaa, beli sayur segitu aja sehari belum tentu habis dimakan. Udah ngirit gas, irit bumbu, bawang putih, bawang merah, cabe. Kita tinggal goreng lauk tahu, tempe, telur, perkedel. Apalagi yang mau dipermasalahkan? Toh, makanan kalau udah lewat dari leher nggak kerasa lagi kan enaknya? Keluarnya jadi sama aja #upsss 🙈 Maaff maaff… ini adalah salah satu isi ceramah seorang Ustadz, bahwa makanan mahal itu sebenarnya tak berharga, karena setelah lewat dari leher dia akan menjadi sama bentuknya dengan makanan yang murah. Bener, kan?

Masyarakatnya Ramah dan Sederhana

Ini yang di awal tadi saya tulis, bahwa Yogya adalah kota yang memiliki peradaban, sopan santun dan etika. Terlepas saat ini semakin banyak percampuran budaya ada di kota ini, akibat banyaknya pendatang baru yang selalu meningkat setiap tahunnya, tapi sopan santun, terutama di pedesaan, masih cukup kuat. 

Di kota ini, jangan pernah melihat seseorang dari penampilannya. Mahasiswa naik sepeda, itu sudah biasa. Kepandaian dan kualitas seseorang di kota ini tak dapat kita nilai dari penampilannya. Di desa, mungkin kamu akan melihat sepertinya masyarakatnya hidup apa adanya, cuma dari bertanam padi atau cabe. Padahal kalau kita cari tahu lagi, ada di antara mereka yang dalam satu keluarga memiliki ternak sapi 3-4 ekor. Kalau 1 ekor sapi yang kecil saja laku dijual 17-20juta, berarti silakan total berapa sebenarnya kekayaan mereka. Belum lagi jika panen cabe sedang tepat masa naiknya, sekali panen bisa dapat 1 sepeda motor matic, lho! Tapi itulah, mereka tetap biasa saja. Punya tidak punya ya tetap humble, rendah hati, merasa bukan siapa-siapa. Inilah NILAI MAHAL yang saya pelajari dari mereka.

Banyak Tempat Wisata Cantik dan Kuliner Nusantara Lengkap

Ini juga bukan rahasia lagi. Saat ini makin banyak tempat wisata instagramable yang tentu saja cantik, kekinian, plus murah meriah untuk memuaskan naluri dan nafsu berfotomu *ampunn bahasanya 😆

Tempat kulineran juga nggak mau kalah. Sajian khas dari Sabang sampai Merauke ada di sini. Mi Aceh, pempek Palembang, soto Banjar, teh tarik Melayu, sate Padang, nasi goreng Medan, es pisang ijo, palu butung, coto Makassar, martabak Bandung, ketoprak Jakarta, nasi rawon Madiun.. hemmm… hati-hati, kolesterol naik kalau tinggal di sini 🤣

Nggak heran, ada beberapa teman wanita yang tetap tinggal di Yogya bersama anak-anaknya, sementara suami mereka bekerja di luar kota Gudeg ini. Ada yang hanya berbeda pulau saja, tapi banyak juga yang LDR-an berbeda negara alias si suami bekerja di luar negeri. Ada beberapa alasan kenapa mereka memilih LDR-an. Selain kondisi Yogyakarta yang dianggap lebih kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan pendidikan anak-anak mereka, hematnya biaya hidup di kota ini juga menjadi salah satu alasan lainnya.

Nah, udah cukup yak, 3 alasan tadi sudah sangat mewakili kenapa kamu harus tinggal di Yogyakarta. Tolong jangan lempari saya pakai bakpia Incess Syahrini, atau cake Jogja Scrummy-nya Dude Harlino, atau kue Mamah ke Jogja-nya Zaskia Mecca, dan juga cake Chussy Cheese-nya Ria Richis, plisss, karena telah mengompori para imigran untuk pindah ke kota ini 😁

Mungkin ada di antara kamu yang mau menambahkan alasan lagi, kenapa harus tinggal di Jogja Istimewa ini? 💕
.

💜💙💚

Ayam Geprek Susu (Preksu) Yogyakarta, Bukan Sekadar Warung Makan Biasa

Warung makan Preksu tetap ramai sampai malam tiba

Kamu yang tinggal di Yogya atau yang pernah liburan ke kota Gudeg ini adakah yang sudah pernah kulineran di warung makan Ayam Geprek Susu alias Preksu? Jujur aja, meski sudah lama berdomisili di Yogyakarta, saya baru satu kali ini, lho, ke warung makan ini wkwkwkwk…

Terus, gimana ceritanya sampai saya menjadi tertarik mampir ke warung makan yang menunya sebenarnya biasa saja itu? Toh, masih banyak warung makan serupa di Yogya yang berbau ayam geprek, susu, dan keju?

Jadi gini, Dears, beberapa hari sebelumnya, sudah menjadi tugas rutin saya melakukan proses editing artikel para kontributor di platform wanita Estrilook.com. Salah satu artikel yang saya edit adalah tentang usaha rumah makan berbasis sedekah milik seorang pengusaha di Yogyakarta. Warung makan ini di beri nama Preksu alias Ayam Geprek Susu. Kalau penasaran dengan artikel di Estrilook tersebut silakan baca di sini, ya.

Nah, dari mengedit dan membaca artikel itu, entah kenapa saya menjadi salut dan kagum dengan konsep bisnis warung kuliner ini. Terutama tentang kewajiban melakukan salat di masjid bagi para karyawan pria apabila waktu salat telah tiba.

Lalu saya share artikel ini di sosial media dan beberapa grup WA yang saya ikuti. Ternyata, ada salah seorang teman umroh saya dulu, yang adalah seorang ustadz, mengatakan bahwa dia sering mengisi ceramah untuk para karyawan di warung makan Preksu ini. Berawal dari sinilah saya menjadi kepo ingin mencoba membuktikan, benarkah apa yang ada di artikel Estrilook tersebut?

Kewajiban Salat di Masjid bagi Karyawan Pria

Entah kebetulan atau tidak, saya memutuskan mampir ke warung makan ini pada sore hari, setelah mencari cabang terdekat dari rumah lewat bantuan Google Maps. Ada 5 cabang yang tertera di mbah Google. Dan saya memilih cabang Condong Catur yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah.

Sampai di lokasi Preksu Concat pas banget waktu salat maghrib tiba. Benarlah seperti apa yang saya baca, suasana agak sepi. Hanya ada seorang gadis dan pria muda yang melayani di meja kasir.

Pengunjung dipersilakan mengambil sendiri nasi, ayam dan lauk pauk lain yang diinginkan, seperti mendoan, telur dadar, terong dan jamur krispi, untuk kemudian diserahkan ke meja kasir dan ditanya lagi lebih detil apa menu tambahan lain yang diinginkan. Setelah selesai salat maghrib, sekitar 3 karyawan pria mulai berdatangan dari masjid untuk menggantikan 2 orang karyawan lainnya yang tadi berada di meja kasir. Terjawab sudah rasa penasaran saya. Ternyata benar seperti apa yang saya baca, bahwa para karyawan pria diwajibkan salat berjamaah di masjid. Masyaa Allah.

Menu yang Tersedia

Ayam geprek tabur keju
Jamur krispi

Selain menyediakan menu-menu di atas beserta topping yang diinginkan, seperti geprek tabur keju parut, geprek tabur bawang goreng, dan geprek saus keju, ternyata ada menu lain yang bisa kamu pesan di sini, lho.

Ada gurame geprek, ayam kremes geprek, dan ayam goreng biasa (tanpa tepung) yang biasanya disantap menggunakan tahu, tempe goreng, sambal, dan lalapan. Oya, ada menu capcay juga untuk pengunjung yang menginginkan variasi sayur selain lalapan. Wahh… lumayan lengkap juga, ya, menunya. Bahkan menu aneka sambal pun dapat kamu pilih, seperti sambal terasi, sambal bawang, sambal ijo, dan sambal tomat. Ada yang ngiler nggak, nih? qiqiqiii….

Tambah Minuman? Gratissss

Ini lemon tea jumbo, bukan ukuran normal
Susu segar stroberi

Ada satu hal yang membuat kaget.

Waktu itu saya memesan lemon tea hangat dan anak saya Lubna memesan susu segar rasa stroberi. Kagetnya adalah, ternyata lemon tea-nya gelasnya jumbo, bo’. Padahal harganya normal aja, cuma 4.500,- perak. Beuhh… murah bangett, kann??

Tapi masalahnya, porsi perut saya kecil, jadi lihat minuman segitu besarnya sudah ngerasa eneg duluan. Akhirnya saya bilang ke Lubna, “Lemon tea-nya kita minum berdua, ya. Susunya nanti dibawa pulang aja, jangan diminum di sini…” Dan Lubna pun setuju hehhheehee…

Nah, untuk kamu yang hobi minum, atau kepedasan, jangan khawatir, ya, Dears! Di sini bebas lho tambah minuman teh manis. Kamu bisa ambil sendiri di dispenser besar yang disediakan. Es batunya pun boleh kamu ambil sendiri sepuasnya. Gimana nggak puas ya, makan di sini… mantapppp bener!!

Makan Gratis di Hari Jumat

Makan minum gratis di hari Jumat setelah baca surat Al Kahfi

Mau makan gratis di hari Jumat? Tersedia 50 paket makan dan minum gratis mulai jam 13.00 – 15.00 WIB. Syaratnya ada nggak? Ada dong, tapi cukup sederhana, kok! Kamu harus sudah membaca surat Al Kahfi terlebih dahulu dan melakukan pendaftaran secara online. Baca suratnya nggak perlu di warung Preksu ya, yang penting adalah kejujuran bahwa kamu memang sudah baca surat itu.

Sekali lagi saya mengakui, apa yang saya baca di artikel tentang warung makan Ayam Geprek Susu alias Preksu ini ternyata benar adanya. Alhamdulillah, pantas saja tempat makan ini selalu ramai dikunjungi pembeli. Disamping karena harganya memang terjangkau, saya yakin, konsep sedekah dan ajaran agama yang dipegang teguh merupakan kunci barokahnya bisnis ini.

Semoga kita semua bisa meneladaninya, bahwa konsep sedekah justru tidak mengurangi harta, melainkan sebaliknya, menambah dan melimpahkan rezeki. Barakallah…

Festival Kuliner Dunia 2018 di JEC Yogyakarta, Bukan Sekadar Ajang Berburu Kuliner, Dears

Pernah mendengar ungkapan, “Hidup untuk makan..” atau “Makan untuk hidup” ??
Kalau kamu pilih yang mana? 😊
.
Hidup untuk makan, artinya seluruh tujuan hidup hanya difokuskan untuk makan saja. Sementara ungkapan makan untuk hidup ingin menjelaskan bahwa makanlah sekadarnya saja, asal bisa hidup dan berenergi, itu sudah cukup. Kalau soal mau pilih yang mana dari kedua ungkapan itu mah terserah kamu, apakah tahun 2019 mau ganti Presiden apa enggak #eehh wkwkwk 🤣
.
Jadi begini teman-teman *mulai cerita nih ☺
Pada hari Minggu tanggal 18 November kemarin kan tanggal merah ya, udah pada tau belommmmm??
*yaeelahhh 🤣 hahhhaaahaa, anak TK juga tau mah kalau soal ini
.
Sedari pagi my little princess Lubna sudah bangun, sudah mandi. Padahal biasanya kalau hari Minggu mandinya harus disuruh-suruh, jaranggg banget mau mandi pagi. Nah, ini ternyata ada udang di balik batu. Udangnya apalagi kalau bukan pengen diajak jalan-jalan. Katanya di Jogja Expo Centre ada festival kuliner dunia.
.
Wahhh… ibunya aja heran, ini anak dapat info darimana ada acara begituan. Jawabnya, “Ya iyalah aku tau, kan anak gaul zaman now…” *ibunya tepok jidat.
.
Singkat cerita, kami berangkat ke sana, tapi sore hari biar nggak panas selama di perjalanan. Sampai di sana ternyata ada 2 acara , yaitu Pameran Komputer dan Festival Kuliner Dunia. Untuk festival kuliner dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- per orang. Selain mendapat tiket masuk, pengunjung juga diberi beberapa voucher diskon untuk pembelian aneka makanan dan minuman di booth festival.
.

20181118_164210
Dengan harga tiket 10.000 kita dapat kupon undian + aneka voucher diskon. Lumayan, kan?

.
.
Ada Lebih dari 100 Booth Kuliner
.
Begitu masuk ke dalam, kita disuguhi dengan beberapa booth untuk foto gratis para pengunjung. Ada yang bernuansa bunga sakura Jepang, ada pula balon udara Eropa. Puas foto-foto sebentar, kami lanjutkan masuk ke arena festival. Ternyata ada lebih dari 100 booth menjadi peserta di situ. Suasananya ramai, karena hiruk pikuk pengunjung bercampur dengan suara dentingan peralatan memasak dari stan kuliner yang ada.
.
Karena baru pertama kali mendatangi festival macam begini, kesempatan buat saya mengambil beberapa dokumentasi, terutama di stan kuliner bebakaran. Cara membakar yang unik dan disemprot cairan agar api membara banyak menarik perhatian para penikmat kuliner, terutama di booth yang menyajikan aneka varian sea food, macam cumi panggang, ikan bakar, dan semacamnya.
.

Exif_JPEG_420
Sate cumiii…. Siapa mauuu?

.
.

Exif_JPEG_420
Booth seafood. Cara membakarnya menarik perhatian pengunjung..

.
.
Selain stan bebakaran, yang juga tidak kalah banyak penikmatnya adalah street food dari Korea dan Jepang. Kalau Jepang sudah cukup paham deh saya kulinernya. Nah, kalau Korea memang belum pernah nyobain, cuma pernah baca ada makanan yang namanya Bulgogi. Tapi kemarin yang kami cobain namanya Tteokbokki.
.

Exif_JPEG_420
Tteokbokki, makanan Korea dari tepung beras

.
Tteokbokki ini semacam cemilan dari tepung beras yang dimasak dan disajikan dengan rasa pedas yang agak manis. Setelah matang di atasnya ditaburi potongan daun bawang dan wijen. Teksturnya kalau dikunyah agak kenyal, mirip cilok menurut saya. Lubna sih bilang enakkkk 😄 Kalau ibunya mending beli batagor atau siomay kali, yeee…
.
Oya, buat kamu yang nggak hobi makan aneh-aneh, di sini ada juga lho makanan asli Jawa macam gudeg, bakmi, oseng-oseng (tumis). Tapi memang nggak banyak sih. Ada satu stan kuliner Jawa yang lumayan lengkap, yang jualan sudah sepuh (lanjut usia). Mendadak suasana berasa seperti di pasar tradisional dekat rumah, di mana banyak penjual kuliner asli Yogya yang masih sangat murah harganya.
.
Menjelang pulang, nggak lupa Lubna narik ibunya ke stan dessert dari berbagai negara. Saya nggak tahu nama makanannya apa. Pokoknya Lubna langsung tunjuk aja 😁 Dengan harga Rp. 20.000, – kami dapat 3 macam kue dessert yang atasnya ditusuk bendera kecil sebagai pengenal asal dessert tersebut.
.
.
Ada Booth Foto, Panggung Hiburan, Stan Buku dan Mainan
.
Meskipun namanya festival kuliner, jangan dikira cuma makanan aja yang ada. Stan buku, mainan dan panggung hiburan tetap ada. Ada juga both foto yang saya ceritakan di awal tulisan tadi.
.

 

20181118_165413
Gak perlu jauh-jauh ke Jepang, di sini juga ada bunga sakura 😂😜

.

20181118_175952
Bayangin aja kamu lagi ada di Cappadocia Turki, yang banyak balon udaranya *ngarepdotcom 😍

.
.
Nampaknya ini memang dibuat untuk menarik para pengunjung yang membawa anak. Dannnn benar aja, Lubna langsung merengek-rengek beli komik. Haiyyyaaaa…. sejak kapan transaksi beli komik terjadi di acara kuliner macam begini, hemmm….
.
Setelah berkeliling kurang lebih 2 jam akhirnya kami pulang. Sepanjang jalan little princess senyum-senyum terus. Happy banget dia karena berhasil membawa satu komik baru dari hasil perjalanan hari ini qiqiqiiii. Pastinya dia dapat satu pengalaman berharga yang bisa menjadi bahan imajinasinya menggambar komik, sekaligus untuk diceritakan pada teman-temannya. Ternyata banyak manfaatnya juga ya, bukan sekadar mengejar nafsu berburu makanan… 😂 💕
.
.
💜💚💛

Film Aruna dan Lidahnya, Perpaduan Ciamik Antara Rangga dan Cinta, Wisata Kuliner, dan Pro Kontra Persahabatan

Hai Dears,

Masih ingat film remaja yang booming di tahun 2000-an dan menjadi tonggak sejarah bangkitnya film Indonesia dengan tokohnya, Rangga dan Cinta? Yup, AAdC alias Ada Apa dengan Cinta jawabannya.

Buat kamu yang belum bisa move on dari akting Dian Sastrowardoyo bersama Nicholas Saputra dulu, kamu punya kesempatan kembali menikmati perpaduan akting mereka berdua meski dengan karakter yang sedikit agak berbeda dalam film baru Aruna dan Lidahnya.

 

images (15)
Sumber : jadwalnonton.com

 

Penasaran dengan filmnya? Berikut 3 fakta menarik tentang film Aruna dan Lidahnya :
.
.
🌮 Kental dengan aroma perjalanan kuliner dan isu-isu sosial

Film Aruna dan Lidahnya ini diadaptasi dari novel karya Laksmi Pamuntjak (2014). Berkisah tentang petualangan seorang perempuan berusia 30-an tahun dalam perjalanannya menyelidiki kasus flu burung di berbagai wilayah Nusantara. Aruna adalah seorang konsultan ahli wabah yang melakukan perjalanan keliling di beberapa daerah di Indonesia, sekaligus menjadi semacam wisata kuliner bagi Aruna yang ingin menjaga berat badan tapi nyatanya tak dapat menahan nafsu makannya.

Selain Aruna hadir pula sosok Farish, Nad, dan Bono, yang akan sama-sama melakukan perjalanan sambil mencicipi makanan nusantara dan berbagi cerita tentang kuliner, persahabatan, asmara, hingga isu terkini yang sedang hangat di Indonesia.
.

.
🍰 Tayang pada 27 September mendatang

Dalam film yang direncanakan tayang mulai akhir September ini aktris cantik Dian Sastrowardoyo akan berperan sebagai Aruna, seorang ahli wabah penyakit yang memiliki hubungan erat dengan makanan. Sementara Nicholas Saputra akan berperan sebagai Bono, seorang koki sekaligus sahabat Aruna yang juga suka mencari kuliner baru untuk inspirasinya. Selain Dian dan Nicholas, film ini juga akan dibintangi oleh Oka Antara yang berperan sebagai Farish, mantan teman kantor Aruna yang biasa-biasa saja terhadap makanan. Hannah Al-Rasyid juga turut meramaikan dengan berperan sebagai Nad, kritikus kuliner yang memiliki opini kuat dan tajam.
.

.
🛎 Disutradarai oleh sutradara film Posesif yang tahun lalu meraih Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik

Dears, film ini disutradarai oleh Edwin, seorang sutradara yang sudah berkecimpung di dunia film lebih dari 15 tahun lamanya. Awalnya, Edwin fokus memproduksi film-film indie. Namanya tercatat sebagai salah satu sutradara Indonesia yang berprestasi di berbagai festival film dunia.

Tahun lalu Edwin bahkan berhasil mendapatkan Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik dalam film komersil pertamanya “Posesif”.

Gimana, Dears, tertarik menonton film ini? Buat kamu yang hobi makan dan kangen dengan akting Rangga dan Cinta tak ada salahnya mengobati kerinduanmu melalui film bergenre drama komedi ini.

Selamat menonton ya, Dears!

💜💛💚

#TantanganMenulisEstrilook
#EstrilookCommunity
#ReviewFilmBaru