Semua tulisan dari Hastin Pratiwi

Kontributor di media online & penulis buku antologi. Pembelajar sejati yang menulis untuk berbagi. Kontak saya via email di hastinpratiwi@gmail.com.

7 Syarat Penting sebagai Editor, Profesi Menyenangkan untuk Kamu yang Suka Bekerja di Belakang Layar

Holaa… enggak terasa ya, sudah berada di bulan April, dan ini adalah postingan pertama saya, setelah bulan Maret kemarin cuma sempat menulis satu postingan aja di blog. Kenapa pula judulnya jadi serius banget, ‘Syarat menjadi editor’, bukan ”Bagaimana cara menjaga rutinitas menulis yang konsisten’?

Jujur,,. mungkin saya tidak seperti perempuan lainnya yang memiliki kemampuan multitasking, alias bisa melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Saya adalah tipikal orang yang sering hilang fokus kalau mengerjakan banyak hal sekaligus. Jadi yang paling baik adalah memilih satu aktivitas yang paling mampu dan nyaman dikerjakan terlebih dahulu. Tentunya memutuskan untuk fokus pada satu hal ini butuh keikhlasan dan hati yang lapang *tsahhh hahahaaa.

Source: Pixabay.com

Bulan Maret ini, qadarullah, saya mendapat job sebagai editor di sebuah penerbit yang berlokasi di kota Bandung. Jauh amat, ya. Enggak salah, nih, saya ‘kan tinggal di Jogja? Alhamdulillah, sekarang ‘kan semuanya serba online sehingga bekerja jarak jauh pun tak ada masalah.

Meski sebelumnya pernah mencicipi profesi editor ini di platform wanita online, Estrilook.com, tapi menjadi editor di sebuah penerbitan buku tentunya merupakan hal baru bagi saya. Tugasnya secara umum memang sama, yaitu menyunting tulisan atau naskah yang masuk. Tetapi menjadi editor buku tentunya lebih rempong dan butuh waktu lebih lama, mulai dari proses menyunting naskah yang berlembar-lembar banyaknya, hingga mengecek layout buku (proofing), sebelum akhirnya berlanjut ke proses naik cetak. Btw… bulan ini saya sukses dikejar-kejar deadline menyunting 5 naskah buku, jadi pasti kamu maklum ‘kan kenapa blog ini enggak sempat saya isi? *hiksss

Beberapa pekerjaan lain di luar editing mau enggak mau harus saya tunda dulu. Naskah buku sendiri juga saya pending. Tawaran ngebuzzer juga off dulu. Intinya, saya harus memilih yang paling mampu dan nyaman saya lakukan. Itu kalau saya, ya, Gaesss! Mungkin kamu punya pilihan lain, enggak masalah karena setiap orang berhak menentukan pilihannya masing-masing,

Kenapa Tertarik Menjadi Editor?

Kata ‘editor’ sering saya baca dan dengar sejak zaman kuliah dulu, sewaktu masih magang sebagai jurnalis di sebuah stasiun televisi milik pemerintah di Jakarta. ‘Editor in Chief’ (EIC) di divisi pemberitaan adalah pimpinan yang bertugas menyeleksi dan meng-acc naskah berita yang dibuat oleh para reporter di stasiun teve tersebut, apakah layak ditayangkan atau tidak dalam suatu program berita. Jika naskah beritanya mengandung kontroversi atau berbau politik dan SARA, otomatis akan ditolak oleh EIC, dan si reporter diminta merombak ulang naskah beritanya. Secara umum, tugas EIC ini hampir sama dengan tugas editor pada umumnya, yang bertugas menyeleksi tulisan atau naskah yang ada, apakah layak ditayangkan/dibukukan atau tidak.

Selama ini saya tidak pernah berpikir sama sekali untuk menjadi seorang editor. Jangankan menjadi editor, menjadi penulis atau blogger pun sama sekali tidak tebersit dalam pikiran. Tetapi memang, sejak SMA, nilai pelajaran bahasa Indonesia saya cenderung sangat baik dibandingkan mata pelajaran lain, seperti Matematika atau Kimia. Enggak banget deh kalau yang ini, kwkwkwk….

Bahkan saya ingat, pernah mendapat nilai sempurna (100) ketika diminta menulis surat ucapan terima kasih kepada guru bahasa Indonesia sewaktu masih duduk di kelas 1 SMA. Guru bahasa Indonesia saya saat itu sampai menjelaskan di depan kelas poin-poin apa saja yang membuat beliau memberikan saya nilai sempurna itu kepada teman-teman sekelas. Sayangnya, saya kok enggak kepikiran ya waktu itu untuk menerima job jasa penulisan surat cinta *ehhhh, kacaw heheheee….

Selain alasan di atas, saya juga kerap merasa heran, kenapa setiap kali membaca tulisan atau cerita orang lain yang tata bahasanya kurang pas atau enggak teratur, hati ini sering tergelitik dan merasa kesal sendiri. Ingin rasanya mengubah atau memperbaiki tulisan yang saya baca itu biar lebih nyaman dan mudah dipahami. Nah, kalau kamu memiliki perasaan yang sama, bisa jadi kamu juga memiliki keinginan untuk menjadi seorang editor seperti saya.

Terus… Apa Aja, sih, Syarat Menjadi Seorang Editor?

Dari beberapa referensi yang saya baca, ada beberapa syarat dan poin penting yang bisa kamu latih sebagai dasar untuk menjadi seorang editor. Tidak perlu harus langsung menjadi expert, karena profesi ini sama dengan profesi lainnya yang butuh belajar dan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan ragam bahasa.

  • Memahami kaidah ejaan yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia

Pernah melihat tulisan yang mengalirrrrrr terus tanpa ada titik komanya atau tanda bacanya sama sekali? Nah, bisa jadi penulisnya belum paham ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Poin ini bisa banget kita pelajari, asal sering-sering mengulik tentang penggunaan berbagai tanda baca dan melihat bermacam-macam bentuk kalimat beserta tanda baca yang mengikutinya.

  • Mengerti perbedaan kata baku dan tidak baku

Di zaman teknologi informasi ini, penggunaan beberapa istilah yang biasa digunakan sehari-hari, seperti gadget, baper, kepo, mulai dimasukkan menjadi kata baku bahasa Indonesia. Sementara beberapa kata lain yang biasa kita sebut, seperti ‘antri’, ternyata memiliki kata baku antre. ‘Respon’ ternyata kata bakunya respons (ada penambahan huruf s di belakangnya). Hal semacam ini wajib dipelajari oleh seorang editor dengan sering-sering mengeceknya di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang sedang berlaku pada saat itu.

  • Memiliki wawasan luas

Syarat ini sebenarnya diperlukan bukan hanya untuk editor saja. Profesi lain, termasuk penulis, juga membutuhkan poin ini. Apa pun profesimu, kalau kamu punya wawasan luas, suka membaca, menonton berita, dan paham berita-berita dunia, ini poin penting yang membuat banyak orang akan nyaman bergaul dan berkomunikasi denganmu. Setuju?

  • Memiliki kepekaan bahasa

Kepekaan bahasa ini juga bisa dilatih. Contohnya, saya terkadang bisa mengerti bagaimana karakter seorang penulis hanya dari membaca kalimat-kalimat dan gaya bahasa yang ia gunakan dalam tulisan-tulisannya. Apakah ini berarti saya seorang peramal? kwkwkwk…. Tentu tidak, Esmeralda! Kepekaan ini bisa muncul dengan sendirinya kalau sering kamu latih step by step. Termasuk, kamu akan merasa tidak nyaman apabila menemukan tulisan yang berbau SARA, pornografi, kekerasan, dan tulisan sejenis yang menggelitik relung hati terdalam *ehmmm….

  • Sabar dan tidak emosian

Hahhhh??? Sampai segininya? πŸ˜€ Lahh… emang kamu pikir lihat naskah atau tulisan dengan kalimat acak-acakan itu menyenangkan? Enggak banget, Milea!! Apalagi kalau kamu sudah punya kepekaan terhadap tulisan, kalau enggak sabar-sabar, tensimu bisa langsung naik lihat tulisan dengan struktur kalimat yang susunannya terbalik-balik. Nah, dalam situasi seperti ini, kesabaran dan kestabilan emosi kita sangat diperlukan. Tarik napas panjang dan senyumin aja. Ini memang sudah tugasmu, ya, enggak usah ngeluh, deh πŸ™‚

  • Ikhlas kalau namamu enggak terkenal πŸ˜€

Kalau ini mah versi saya, hehehehee….

Tapi bener, loh! Tugas seorang editor itu bisa diibaratkan seperti seorang ART yang diserahin tugas membersihkan dan merapikan rumah dalam kondisi acak-acakan. Tugas ART ini sebenarnya penting banget, meskipun enggak terlihat dan cuma dari belakang layar. Nanti kalau rumahnya sudah rapi dan bersih, orang tahunya dan kenalnya sama yang punya rumah, bukan sama ART-nya.

Ini mirip dengan editor. Kalau sebuah buku atau tulisan disukai pembaca dan best seller, yang dikenal ‘kan penulisnya, bukan editornya. Di sini, kamu enggak boleh protes atau iri karena profesi editor itu memang di belakang layar, Tapi untuk para penulis, enggak ada salahnya juga sih kalau kamu mengucapkan terima kasih dan tidak melupakan jasa editor yang telah membantu memuluskan jalanmu dalam penerbitan buku atau artikel πŸ™‚

  • Memiliki kemampuan menulis yang baik

Meskipun tidak harus menghasilkan karya, tetapi ada baiknya jika seorang editor juga memiliki kemampuan menulis yang baik. Apalagi editor dalam penerbitan, adakalanya harus membuat blurb atau rangkuman tulisan di sampul belakang buku yang menarik dan menggugah minat pembaca agar membeli buku tersebut.

Sampai di sini, menurut kamu, apakah profesi editor ini cukup sulit untuk digeluti?

Secara umum mungkin enggak, ya. Tapi kalau dibilang mudah juga tidak, karena memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang enggak semua orang nyaman berkecimpung di dalamnya.

Yang jelas, syarat untuk menjadi seorang editor bisa banget dipelajari. Terutama untuk kamu yang enggak suka narsis atau muncul di permukaan dan sukanya kerja behind the scene, profesi ini pantas kamu perjuangkan. Setidaknya, profesi editor ini memaksa kita untuk banyak membaca, terutama untuk orang-orang yang suka malas baca buku seperti saya, karena mau enggak mau, suka enggak suka, saya tetap harus membaca naskah, bukan?

Kamu punya syarat lainnya berkaitan dengan editor ini? Yuk, ah… boleh banget kasih pendapat di kolom komentar, ya….

Baca Juga

Virus Corona Masuk ke Indonesia, Sudah Tahu Mitos dan Faktanya?

Image: Pexels.com

Kamu merasa enggak sih, beberapa bulan terakhir ini di negara kita banyak sekali ujian dan kejadian yang membuat masyarakat panik dan seolah tak mampu berkutik? Sejak kejadian banjir di awal tahun 2020 lalu, berbagai peristiwa memprihatinkan mulai muncul satu demi satu. Belum usai topik tentang datangnya banjir kembali di Jakarta dan sekitarnya (meskipun tak separah di awal Januari), beberapa hari lalu 2 orang perempuan Indonesia diketahui positif mengidap infeksi Covid-19 atau lebih dikenal dengan virus Corona.

Berita ini sungguh mengagetkan, sehingga begitu banyak masyarakat yang merasa dunia seakan nyaris kiamat. Menimbun masker dan hand sanitizer kemudian menjadi pelampiasannya. Tak ketinggalan, bahan kebutuhan pokok seperti beras dan mi instan pun menjadi ikut diborong karena warga masyarakat diimbau untuk tidak terlalu sering ke luar rumah dan menjauhi keramaian.

Benarkah sebegitu berbahayanya virus Corona ini bagi tubuh manusia? Bahkan negara Arab Saudi sampai mengeluarkan larangan masuk bagi jamaah umroh yang berasal dari beberapa negara, termasuk Indonesia, jauh-jauh hari sebelum negara kita diketahui positif terkena infeksinya. Pemerintah Italia pun resmi menunda pertandingan sepakbola Liga Italia demi keselamatan masyarakat dan para atletnya. Sungguh luar biasa dampak yang ditimbulkan virus yang telah menginfeksi 90.000 orang di berbagai belahan dunia ini.

Corona, Virus Baru

Dari berbagai sumber yang saya baca, virus Corona yang menyerang saluran pernapasan ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir tahun 2019. Sudah tahu ‘kan ya betapa wabah ini begitu cepat menyebar sehingga beberapa negara seperti Korea Selatan dan Singapura begitu sigap mengantisipasi penyebaran virus ini di negara mereka. Korea Selatan bahkan melakukan jemput bola pemeriksaan dari rumah ke rumah dan menyediakan fasilitas pemeriksaan drive-thru untuk mengantisipasi bertambahnya penderita.

Awalnya, virus ini ditemukan pada hewan dan menulari hewan lain, seperti kelelawar, kera, burung, hingga ular. Di kemudian hari ternyata infeksi Covid-19 mulai menular ke manusia dan dikatakan dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut hingga gagal ginjal. Beberapa gejala awal yang dirasakan mirip saat kita terserang flu, seperti:

  • tenggorokan kering
  • demam
  • lemah, letih, lesu
  • batuk-batuk

Jika saat ini kamu sedang mengalami salah satu gejala di atas dan tak kunjung sembuh selama beberapa hari, terutama dalam hal demam tinggi berkepanjangan, segera periksakan diri ke dokter, ya, agar penanganan terbaik secepatnya didapatkan.

Mitos dan Fakta Virus Corona

Di tengah situasi yang cukup memprihatinkan dan membuat was-was, kemudian muncul pertanyaan, apakah ada penderita infeksi Covid-19 yang dapat sembuh seperti sedia kala? Jawabannya ternyata, ADA!

Yup! Washington Post (2/3/2020) melansir, salah satu warga Korea Selatan bernama Kim Seung-hwan (47 tahun) telah dinyatakan sembuh total dari infeksi ini. Kim mendapat perawatan intensif di ruang isolasi rumah sakit selama 8 hari, sebelum akhirnya diperbolehkan pulang dan berkumpul bersama keluarga setelah kondisi paru-parunya normal kembali dan demamnya berangsur menurun.

Nah, sebelum kamu dan saya ikut-ikutan panik seperti warga +62 lainnya yang hobi menimbun masker dan aneka kebutuhan pokok πŸ™ , yuk, cari tahu dulu apa sebenarnya mitos dan fakta tentang virus Corona ini.

Mitos

  • Virus Corona ditularkan melalui udara terbuka
  • Buah impor dari negara epidemi menyebabkan penularan
  • Masker adalah penangkal utama agar dapat terhindar dari wabah ini
  • Hindari kiriman barang apa pun dari Cina dan negara epidemi lainnya
  • Virus dapat menular melalui sinyal telepon
  • Virus dapat menular lewat tatapan mata (*hemmm … virus cinta mah iya kalau ini πŸ˜€ )
  • Penderita infeksi Covid-19 dipastikan meninggal dunia

Fakta

  • Virus Corona menular melalui tetesan/percikan dahak, batuk atau bersin dari si penderita yang menempel pada permukaan tubuh atau barang-barang kita, bukan melalui udara terbuka
  • Hindari bepergian ke negara-negara yang mengalami epidemi Covid-19 ini
  • Hindari berdekatan dan melakukan kontak langsung dengan penderita
  • Mencuci tangan dengan sabun/hand sanitizer sesering mungkin adalah pencegahan utama yang paling mudah
  • Infeksi Covid-19 dapat menyerang semua umur, dari bayi hingga lanjut usia
  • Daya tahan tubuh yang baik dapat mencegah infeksi menyerang
  • Masaklah daging hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi
  • Penderita infeksi ini dapat sembuh secara total
  • Tidak semua penderita meninggal dunia. Hanya yang sudah lanjut usia dan memiliki komplikasi beberapa penyakit lain sebelumnya, seperti jantung, diabetes, yang mengalami kondisi ini (sekitar 2,3% dari mereka yang terinfeksi)

Setelah membaca sekilas tulisan di atas semoga kepanikan berjamaah kita dapat sedikit berkurang, ya, teman-teman. Minimal kita bisa membantu menenangkan keluarga sendiri dan orang-orang terdekat lebih dulu, sebelum kemudian menenangkan orang lain. Mengedukasi diri sendiri memang perlu agar kita tidak menjadi sasaran para penyebar hoaks yang akhirnya juga berdampak pada kekhawatiran berlebihan pada diri sendiri

Siapa sih yang ingin terinfeksi wabah penyakit menular? Pasti semua ingin sehat, kuat, bahagia dan bisa jalan-jalan ke mana-mana. Ternyata kuncinya memang ada pada diri sendiri. Senantiasa menjaga kebersihan — terutama area tangan — dan meningkatkan daya tahan tubuh melalui pola hidup serta pola makan yang baik dapat menjadi cara terbaik mencegah virus Corona ini mendekati kita. Kamu punya tips lainnya?

Baca Juga

Menulis Blog, Sekadar Menaikkan DA/PA-kah?

Image: Unsplash.com

Menulis blog sekadar untuk menaikkan DA/PA-kah? Pertanyaan ini sebenarnya ditujukan untuk saya sendiri, bukan untuk siapa-siapa πŸ™‚ Buat teman-teman pembaca yang belum tahu apa itu DA/PA, nanti kita bahas sedikit, ya.

Saya ingat, tahun 2013 adalah awal dan pertama kalinya saya belajar membuat blog . Saya yang gaptek dan enggak punya komputer ini rela menghabiskan waktu 6 jam di warnet demi membuat sebuah blog yang saat ini teman-teman baca. Apakah saat itu terpikir untuk menjadi seorang blogger dan mendapat penghasilan dari blog? Boro-boro!! Wong nulis di blog aja jarang, kok πŸ™

Menulis di blog secara serius mulai saya lakukan di tahun 2018 ketika sudah menekuni rutinitas menjadi penulis artikel di beberapa media online. Setelah tulisan saya muncul di media milik orang lain, barulah saya mulai percaya diri mengisi blog pribadi lagi dengan tulisan yang mulai terarah dan fokus, enggak lebay seperti awal menulis blog di tahun 2013-2017 kwkwkwk… Kalau enggak percaya, cek aja deh gimana lebaynya kalimat yang saya gunakan waktu masa-masa awal ngeblog itu πŸ˜€

Nah, seiring seriusnya saya mengisi blog, ternyata banyak sekali hal-hal teknis sebagai seorang blogger yang harus saya pelajari. Bisa bayangkan dong bagaimana saya yang tahun 2018 itu masih belum punya laptop ini harus belajar tentang hal teknis dan ngutak-atik blog hanya melalui smartphone aja.

Ngeluh? Heheheeee…. Alhamdulillah enggak. Jangankan cuma nulis di blog, nulis naskah buku untuk diterbitkan yang jumlahnya berlembar-lembar aja sanggup saya lakukan hanya dari smartphone. Intinya, terima saja dulu kondisi yang ada. Mereka yang saat ini berhasil di berbagai bidang yang ditekuni banyak yang memulainya dengan tetesan keringat kesedihan, kekurangan dan berbagai -an lainnya πŸ˜€ Justru itu yang semakin memacu kita untuk melaju, bukan? Kamu pasti setuju πŸ™‚

DA/PA Blog

Setelah mengikuti beberapa komunitas menulis (enggak banyak kok, saya cuma ngikutin 2-3 aja. Takut bingung soalnya heheheee…), saya banyak mendapatkan ilmu gratis. Salah satunya berkenalan dengan banyak blogger yang sering berdiskusi bersama tentang perkembangan blog mereka. Dari sinilah saya baru tahu bahwa menjadi seorang blogger itu ternyata enggak cuma nulissss dan nulissss aja πŸ˜€

Iya sih, menulis dan mengisi blog menjadi hal yang utama. Tapi, mau enggak mau kita juga harus belajar bagaimana caranya agar blog atau rumah yang kita miliki selalu bersih, terawat, sehingga dapat terbaca di mesin pencari Google. Kalau blog kita sudah terbaca oleh Google, otomatis banyak pengunjung yang membaca tulisan kita. Selain menaikkan nilai DA (Domain Authority) blog, banyaknya pembaca yang berkunjung ke blog juga dapat membawa keuntungan lain, misalnya, penawaran kerja sama dari perusahaan tertentu yang memasang link perusahaan mereka di blog kita, beserta artikel tentang bisnisnya. Tentu saja, dengan pembayaran kompensasi yang telah disepakati bersama.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority)?

Salah satu cara mengecek DA/PA (image: NezzSEO.com)

Domain Authority (DA) adalah tolok ukur kekuatan sebuah domain (nama blog/situs) di mesin pencari internet (Google, Yahoo atau Bing). Angka relevansinya mulai dari 1-100. Semakin tinggi angka DA, berarti nilai keseluruhan blog/situs tersebut semakin baik.

Sedangkan Page Authority (PA) adalah tolok ukur kekuatan satu halaman saja dari blog/situs kita yang sering muncul di mesin pencari.

Kalau diibaratkan, DA adalah rumahnya, sementara PA adalah kamarnya. Bisa jadi nilai DA rendah, tapi nilai PA tinggi. Biasanya yang dijadikan tolok ukur utama untuk mendapatkan penawaran kerjasama adalah DA, yang merupakan nilai keseluruhan blog/situs tersebut. Semakin tinggi nilai DA, maka nilai bayarannya pun menjadi semakin tinggi.

Cara Meningkatkan DA

Owww…. terus bagaimana cara meningkatkan nilai DA supaya bisa dapat bayaran tinggi? *ehhh qiqiqiiii…. Ini saya rangkum singkat aja ya, berdasarkan pengalaman dan informasi yang saya baca. Kalau teman-teman mau menambahkan di kolom komentar, silakan. Bisa jadi tambahan ilmu juga buat saya.

1.  Perbanyak tulisan di blog

Kalau ini memang sudah seharusnya dilakukan. Ibaratnya, kalau ingin naik level atau naik jabatan dalam suatu pekerjaan, ya mau enggak mau harus berusaha kerja yang bener kan, ya? Dalam hal ini dengan memperbanyak konten artikel di blog, terutama artikel organik, bukan hanya berbayar. Semakin banyak artikel bermanfaat yang kita tulis, semakin banyak pembaca yang mencarinya dan semakin sering artikel tersebut muncul di mesin pencari. Poin nomor 1 ini sekaligus merupakan keplakan bagi saya yang masih sesuka hati dan belum rutin menulis konten di blog sendiri *uhhuk πŸ˜€

2. Perbanyak baclink dan internal link berkualitas pada blog

Backlink adalah alamat situs (link/URL) dari situs luar yang diletakkan di blog kita. Backlink dari situs luar ini juga dapat menaikkan nilai DA blog, dengan catatan, link tersebut berasal dari situs web yang baik kredibilitasnya atau populer di mesin pencari Google.

Selain backlink, jangan lupa untuk menautkan internal link atau link artikel blog kita sendiri di dalam setiap tulisan yang kita terbitkan. Dengan cara ini, artikel sebelumnya yang mungkin belum terbaca oleh pengunjung blog mendapatkan kesempatan untuk dikunjungi.

3. Usia domain juga memengaruhi

Usia domain? Iya. Jadi seperti blog saya ini, domain berbayar dengan nama Hastinpratiwi.com baru saya beli pada bulan Desember 2018. Jadi jika dicek, usia domain berbayarnya sampai tulisan ini diketik baru 1 tahun 42 hari. Sebelumnya, blog saya masih menggunakan domain gratisan dengan nama Hastinpratiwi.wordpress.com (puanjangg, ya…).

Ketika saya mengganti domain dari gratisan menjadi berbayar, maka nilai DA blog saat masih gratisan sudah tidak dianggap lagi. Penghitungan DA-nya dimulai lagi dari angka 0 sejak saya membeli domain berbayar. Agak nyesek sih karena harus memulai DA dari awal lagi. Tapi begitulah yang namanya dunia, selalu harus ada usaha, bukan? Alhamdulillah, sekarang DA blog mulai naik secara perlahan, meskipun masih recehan πŸ˜€

Apa Tujuan Menulis Blog?

Pertanyaan ini sejatinya harus dikembalikan kepada diri masing-masing. Apa tujuan menulis blog tidak dapat disamaratakan satu dengan yang lain. Saya sendiri menulis blog belum terlalu konsisten. Selain untuk memberi informasi kepada pembaca, tak dapat dimungkiri, apabila ada penawaran kerja sama dari pihak luar dan mendapat bayaran, tentu saja hati menjadi senang. Ada tujuan komersialnya juga, meskipun itu bukanlah hal yang utama.

Beda lagi pastinya dengan para blogger profesional yang memang membuat blog dengan tujuan komersial. Mereka biasanya memiliki bisnis peternakan blog. Hahh?? Hihihiii…. iyaa… blognya banyak, bukan cuma satu saja. Dengan punya banyak blog yang aktif, mereka dapat mengumpulkan pundi-pundi penghasilan hingga jutaan rupiah setiap bulannya.

Kamu mau pilih yang mana? Sebagai peternak blog, atau sekadar mengisi blog sesekali seperti saya? Sekali lagi, itu semua adalah pilihan. Tidak ada yang salah. Yang salah adalah kalau kita ingin mendapat penghasilan, tapi enggak pernah ngapa-ngapain. Diemmm aja…. Bener enggak?

Mendapat Tawaran Menulis Naskah dari Penerbit

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat e-mail dari seorang editor penerbitan. Isinya, jujur, hampir bikin saya pingsan… hahahaaa…. Beliau mengaku telah membaca tulisan-tulisan saya di blog ini dan sangat tertarik mengajak bekerja sama dalam penulisan buku pengayaan untuk dibaca oleh anak usia sekolah.

Masya Allah… selama ini sama sekali tidak ada niat dalam hati saya untuk menulis naskah cerita atau buku yang ditujukan untuk segmen anak, meskipun banyak teman sesama penulis yang melakukan hal itu. Saya terlalu fokus pada segmen dewasa, terutama yang berhubungan dengan tema inspirasi, motivasi, gaya hidup, termasuk traveling.

Awalnya saya sempat bingung, terima atau tidak? Tetapi setelah melihat respon dari mas editor yang sangat terbuka dan bersedia membimbing apabila saya menemui kesulitan dalam penulisan naskah tersebut, luluhlah hati ini. Mungkin ini waktunya ke luar dari zona nyaman. Betapa saya harus bersyukur, di saat banyak penulis harus melamar ke penerbit agar naskahnya diterima, saya justru dilamar oleh penerbit begitu saja.

Pengalaman ini semakin menguatkan saya bahwa menulis blog itu bukan sekadar untuk mengejar kenaikan DA dan PA saja. Naiknya DA anggap saja sebagai bonus dari kekonsistenan kita. Tapi seandainya turun pun seperti kejadian massal penurunan DA beberapa waktu lalu yang membuat para blogger mendadak sesak napas :D, rasanya tak ada yang perlu disesali.

Teruslah menulis di blogmu. Bukan hanya untuk menaikkan angka DA/PA saja. Lebih dari itu, niatkan berbagi inspirasi, memotivasi, sekaligus memberi informasi. Percaya saja, jalan rezeki tak mungkin pergi….

Baca Juga

Sheraton Senggigi Beach Resort, Liburan dan Berbisnis di Lombok Jadi Nyaman dan Menyenangkan

Hai… ini tulisan pertama di tahun 2020. Alhamdulillah πŸ™‚ Bagaimana hari-harimu sepanjang tahun 2019 lalu? Menyenangkan, menyedihkan, ataukah membingungkan? heheheee…. Apa pun yang kamu rasakan, tak ada satu pun kehidupan yang isinya cuma ujiaannnn melulu. Atau sebaliknya, ketawaaaa terus. Nope! Setelah bahagia, pasti ada bapernya. After baper, pasti ada happy-nya. Percaya aja dan terus nikmati alurnya, agar kita bisa lebih tenang dan siap menghadapi risiko terberat sekalipun.

Tapi kali ini saya enggak sedang menulis tentang tema inspirasi. Lebih pengen rileks aja menulis hal yang berbau traveling. Karena masih di awal tahun dan suasana liburan masih terasa, saya pengen cerita tentang pengalaman 2 bulan lalu saat mendapat tugas liputan ke Lombok dari salah satu institusi perbankan syariah dan diberi kesempatan menginap di salah satu hotel bintang 5, yaitu Sheraton Senggigi Beach Resort.

Terletak di tepi Pantai Senggigi (image: Pegipegi.com)

Sheraton Senggigi Beach Resort bukan hotel baru di Lombok. Di antara banyaknya hotel di area Senggigi, penginapan berbentuk resor ini merupakan salah satu tempat menginap favorit para wisatawan, khususnya turis mancanegara. Saat diresmikan pada bulan Desember tahun 1991, Sheraton Senggigi Beach Resort menjadi hotel internasional bintang 5 pertama yang ada di pulau Lombok. Beberapa penghargaan pernah diraih hotel ini, salah satunya sebagai Hotel Bintang Lima Terfavorit pada tahun 2010 dari Indonesia Tourism Award.

Terletak di Jantung Pantai Senggigi

Waktu menunjukkan hampir pukul 18.00 WITA saat saya pertama kali check in di hotel ini. Sheraton Senggigi Beach Resort terletak di jantung pantai Senggigi, tepatnya di Jalan Raya Senggigi Km. 8, Lombok Barat.

Setelah memasuki lobi hotel, seorang staf pria menyambut dengan ramah sambil memberikan segelas welcome drink dingin. Begitu saya seruput, nyessss….. suegerrrrr banget karena ternyata isinya adalah air asam. Sejenak, pikiran dan tubuh yang sudah letih karena seharian harus melakukan liputan di beberapa lokasi di Lombok, seketika menjadi segar kembali.

Seorang petugas wanita di meja resepsionis kemudian memberikan kunci kamar kepada staf OB pria yang menawarkan diri untuk mengantar saya dan 2 rekan lainnya ke kamar kami masing-masing.

Saya berjalan beberapa belokan di antara asrinya hamparan taman dan harus menuruni beberapa anak tangga dari kayu sebelum akhirnya sampai ke dalam kamar. Begitu kamar dibuka, 2 tempat tidur dengan bed cover berwarna putih bersih seolah memanggil-manggil diri ini untuk segera merebahkan diri. Tapi sayang sekali, masih ada acara berikutnya sampai jam 21.00 malam nanti. Saya pun bergegas melihat-lihat situasi kamar dan membuka pintu kaca yang terhubung ke balkon dan teras taman. Suasana senja dan angin pantai berhembus sedikit kencang, diiringi syahdunya lampu taman yang temaram dan baru mulai dinyalakan. Duhhh, romansyaa… *ehh romantis gituhh. Bikin baper jadinyah…

Romantis enggak sih? hehehee….

Hembusan angin yang lumayan kencang di antara rimbunnya dedaunan taman yang berpadu dengan alunan suara deburan ombak di Pantai Senggigi ini membuat saya sempat lupa harus segera membersihkan diri dan bersiap mengikuti acara dinner.

Duhai alam, betapa hadirmu yang begitu memesona terkadang sering berbalut keajaiban yang berbalik 360 derajat….

Bayangan tentang gempa dan tsunami yang sempat terjadi pada bulan Agustus 2018 lalu di tanah kelahiran saya yang akrab dengan sebutan “Pulau Seribu Masjid” ini membuat hati sedikit bergetar. Entah,… bagaimana jadinya kondisi para tamu hotel di kawasan pantai ini saat kejadian gempa berlangsung. Ingatan menyedihkan ini akhirnya berhasil memaksa saya untuk kemudian kembali ke dalam kamar dan menutup pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan teras dan taman nan asri di tepian pantai.

Kamar dan Fasilitas yang Tersedia

Jenis kamar double twin dengan 2 tempat tidur (image: Pegipegi.com)

Sebelum menuju kamar mandi, saya mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. Tampak penyejuk ruangan di dinding bagian atas dekat pintu kamar. Sebuah televisi layar datar dan meja besar dengan cermin yang lumayan lebar berada di bagian tengah kamar. Di sudut meja lebar tersebut terdapat 2 botol air mineral, 2 gelas kosong, aneka sachet kecil minuman (teh, kopi, daun mint, krimer, dll), dan tidak lupa teko penghangat yang berada di dekat colokan listrik.

Di tepi ruangan terdapat lemari berisi 2 helai handuk kimono yang tergantung rapi dan sandal tipis sebagai alas kaki. Sebuah pesawat telepon diletakkan di meja kayu kecil, memisahkan 2 buah bed yang ada di dalam kamar. Sayangnya, saya enggak terpikir untuk memotret suasana kamar. Cuma sempat ambil beberapa foto di luar ruangan aja.

Rekan sekamar saya, seorang wartawan media cetak lokal yang baru saya kenal siang tadi, ternyata belum tiba di hotel. Jadilah saya menikmati kesendirian dahulu di kamar double twin itu. Oya, semua kamar di Sheraton Senggigi Beach Resort ini dilengkapi dengan teras/balkon yang langsung menghadap ke area taman atau kolam renang yang berada di tepian Pantai Senggigi. Kamu dapat memilih kamar dengan pemandangan terbaik yang diinginkan.

Cari Suvenir? Enggak Usah Jauh-Jauh ke Kota, di Sini juga Ada, kok!

Secara keseluruhan, hotel ini memiliki luas tanah sekitar 4 hektar dan terdiri dari 154 kamar. Nuansa interior dan desain bangunannya memang sengaja dibuat setradisional mungkin, didominasi oleh ornamen kayu berwarna coklat gelap. Di beberapa bagian halaman belakang yang berbatasan langsung dengan Pantai Senggigi, terdapat berugaq (gazebo) beratapkan rumbia khas Lombok untuk duduk-duduk sembari menikmati suasana pantai.

Dari gazebo ini kamu bisa bebas menikmati deburan ombak dan lalu lalang kapal nelayan yang lewat. Eksotis, bukan? (image: dok. pribadi)

Di sekitar gazebo dan taman nan asri ini terdapat beberapa kolam renang dan arena bermain anak. Kamu juga tak perlu jauh-jauh jika ingin membeli suvenir dan oleh-oleh khas Lombok, seperti kaos, perhiasan mutiara, kain tenun, dll karena di pinggir pantai terdapat beberapa penjual yang bisa kamu tawar harganya. Menurut saya sih harganya lebih murah di sini daripada di toko-toko suvenir di kota.

Saya sempat mengobrol sejenak dengan 2 orang pria penjual suvenir yang saya tawar. Yang satu masih muda, satunya lagi sudah lebih kebapakan tampaknya. Saya bilang, saya dulu lahir di Lombok tapi sekarang tinggal di Yogya, jadi kalau ngasih harga jangan mahal-mahal, kwkwkwk… To the point, yak! Alhamdulillah, langsung dikasih harga murah, Gaess. Malah ada teman di Jakarta yang mendadak titip mutiara karena tahu saya sedang berada di Lombok. Jadilah teman itu dapat harga murah juga, heheheee… Padahal si penjual cerita, kalau sama turis Jakarta atau manca, harganya biasa dia naikkan berkali lipat dari yang diberi ke saya. So far, para wisatawan juga enggak pernah komplain karena tahu bahwa kualitas barangnya memang beneran bagus.

Jadi cara ini bisa kamu jadikan tips juga, sih, sebenarnya agar dapat harga murah. Bilang aja punya keluarga di sana, atau bilang sering bolak-balik ke sana. Ajak ngobrol santai para penjualnya agar mereka juga nyaman sama kita. Kalau penjual sudah merasa nyaman dan percaya dengan pembeli, biasanya mereka akan kasih potongan harga lumayan. *berdasarkan pengalaman saya, nih… πŸ˜€

Mutiara Lombok ini terkenal bagus kualitasnya, lo…

Di hotel ini juga ada free wifi yang bisa bebas kamu akses sambil duduk di tepian pantai, selonjoran atau tiduran menikmati sunrise atau sunset. Ahh… surga dunia banget mah ini. Apalagi pantainya private beach banget, enggak banyak yang berenang dan jalan-jalan. Paling 1-2 orang aja. Para penjual suvenir tadi juga berkesempatan dapat akses wifi gratis, lo, sambil menunggu jualan mereka menggunakan meja panjang di tepian pantai. Konsep bisnis yang memberdayakan masyarakat sekitar seperti ini tampaknya mampu membuat bisnis apa pun menjadi bertahan di tengah kentalnya tradisi masyarakat lokal.

Devi, teman sekamar saya yang juga wartawan Radar Lombok sempat bercerita, dulu setelah kejadian gempa di bulan Agustus 2018, hotel ini nyaris tutup karena tak ada lagi tamu yang berani berkunjung dan menginap di sini. Banyak karyawan yang kemudian terpaksa di-PHK. Tapi untunglah pihak perusahaan segera merombak dan membenahi manajemen hotel, sehingga mulai 1 Desember 2018, Sheraton Senggigi Beach Resort kembali beroperasi dengan konsep yang lebih baru dan terus bertahan kembali hingga saat ini, menjadi salah satu hotel pilihan di pulau Lombok.

Lapar, Guys? Tenang, Ada 3 Pilihan Gerai Kuliner di Sini

Seluruh tamu yang menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort mendapat fasilitas sarapan pagi gratis all you can eat hingga pukul 10.00 pagi. Kamu dapat memilih aneka menu, mulai dari menu Indonesia, Eropa, sampai oriental. Ada omelet, aneka roti dan cake, nasi goreng, rawon, bakmi, dll, termasuk juga aneka dessert segerrrr yang bikin pengen nambah terus karena enggak bakalan bikin gemuk, hehheee… (yogurt, aneka jus, salad dan buah segar). Kalau kapasitas perutmu banyak, silakan saja menyantap semuanya dengan bahagia. Tapi sayangnya, kapasitas perut saya kecil saja. Jadi semangkuk soto dan segelas yogurt, plus secangkir lemon tea sudah cukup buat saya.

By the way busway, salah satu menu Indonesia yang tersedia adalah soto ayam, lengkap beserta lontongnya. Yup, kamu sebaiknya tahu kalau di Lombok itu makan soto atau bakso memang dicampur pakai lontong, ya, bukan pakai nasi πŸ˜€ Rasanya gimana makan soto atau bakso pakai lontong? Ya enaklah, justru enggak bikin eneg.

What is Indonesian Rice Cake? (dok. pribadi)

Waktu itu mata saya sekilas menangkap satu wadah makanan yang nama menunya tertulis Indonesian Rice Cake. Kepo dong ya pastinya? Ternyata oh ternyata, setelah dibuka tutup wadahnya, beberapa biji lontong khas Lombok sedang bobok manis di dalam wadah…. ^_^

Oalahhh…. tenyata lontong, Gaess! (dok. pribadi)

Sheraton Senggigi Beach Resort sendiri memiliki 3 gerai kuliner yang dapat kamu pilih sesuai waktu makan. Selain restoran Kebun Anggrek untuk tempat sarapan di pagi hari, ada juga restoran Bawang Putih yang terletak di tepian kolam dan siap menyajikan hidangan makan siang dan makan malam berupa aneka menu panggang (bebakaran) bagi para tamu hotel. Ada juga Senja Lounge & Dine yang menyajikan menu-menu ringan semacam cocktail, dll sambil menikmati senja dan indahnya matahari terbenam.

Menikmati indahnya senja di Sheraton Senggigi Beach Resort (image: Pegipegi.com)

Cuma itu saja fasilitas di sini? Enggak, dong! Masih banyak yang lain, termasuk sarana kebugaran dan kecantikan yang tentunya kamu butuhkan untuk membuat pikiran dan tubuhmu lebih segar dan sehat meskipun sedang dalam perjalanan ke luar kota. Sheraton Senggigi Beach Resort, sedang liburan atau berbisnis, semuanya sama-sama nyaman.

Sheraton Senggigi Beach Resort
Jl. Raya Senggigi Km. 8, Senggigi, Lombok Barat – NTB
Telepon: (0370) 693333

Baca Juga

Ibu, Fondasi Peradaban Generasi

Kamu mungkin pernah mendengar ungkapan, “Wanita adalah tiang negara. Apabila baik kaum wanitanya maka baik pula negaranya. Sebaliknya, apabila rusak kaum wanita, maka rusak pula suatu negara…” Ungkapan ini seolah ingin menegaskan, betapa pentingnya keberadaan wanita sebagai fondasi peradaban generasi suatu bangsa.

Banyak di antara kita yang lupa, ketika memulai proses pertama sebagai orang tua, sesungguhnya saat itu juga kita telah menjadi guru sekaligus teladan bagi buah hati yang kita lahirkan. Ayah sebagai Kepala Sekolahnya, sementara Ibu sebagai guru pelaksana kebijakannya. Sebagai seorang guru, mau tidak mau kita harus selalu belajar dan memperbarui ilmu yang kita miliki. Meski tentu saja, teori tak semudah praktiknya.

Wanita zaman now memiliki tantangan dan godaan yang tidak sedikit. Nilai-nilai modernisasi seorang wanita tak dapat dilepaskan begitu saja dari kewajibannya sebagai seorang ibu. Menjadi update terhadap perkembangan zaman adalah suatu keharusan, tapi jangan lupa juga, menjaga nilai moral dan mentalitas anak tidak boleh kita lupakan. Contoh kecilnya, ibu mana sih yang tak ingin anaknya mendapat nilai baik di sekolah? Tapi ini bukan sekadar masalah kebanggaan saja. Prestasi yang baik juga harus diperoleh dengan cara yang baik. Jangan sampai keinginan dan niat yang baik diperoleh dengan cara yang tidak jujur dan menyalahi aturan. Dalam contoh kecil ini saja, secara tidak langsung kita telah mengajarkan arti sebuah proses dan nilai kejujuran kepada generasi saat ini.

Image: Pixabay.com

Berkaca dari pengalaman pribadi dan beberapa sumber yang saya pelajari, nilai-nilai penting berikut ini sebaiknya dimiliki seorang ibu agar dapat menjadi fondasi peradaban yang baik bagi generasi selanjutnya.

Menjaga Kebaikan Akhlak

Sebegitu berharganya seorang ibu, sehingga dalam suatu hadis, Abu Hurairah menyebutkan, ada seorang sahabat yang menghadap Rasulullah Saw dan bertanya,

“Ya Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”Jawabnya, “Ibumu…” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu” ~ (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Keutamaan seorang ibu disebutkan memiliki 3x hak yang lebih besar dari seorang ayah karena kerepotan yang mereka alami selama hamil, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya. Tanggung jawab ibu menjadi lebih besar, terutama dalam menjaga kebaikan akhlak pribadinya agar dapat menularkan karakter terbaik dan sifat-sifat positif kepada buah hatinya.

Menumbuhkan Sifat Penyayang, Pendidik dan Pengatur

Wanita adalah makhluk unik yang diciptakan dengan karunia hati yang lembut dan lebih perasa daripada pria. Ini bukan tanpa tujuan. Bukankah wanita kelak akan menjadi seorang ibu yang sangat membutuhkan sifat tersebut dalam menjalankan perannya? Meski dikaruniai hati yang lembut, kemampuan otak wanita yang mampu menyerap informasi 5x lebih banyak dari pria menjadikan mereka lebih cerdas. Dasar ini yang menjadikan wanita dapat menjadi seorang pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Kemampuan menangani banyak masalah dalam satu waktu juga membuktikan bahwa wanita sebenarnya memiliki jiwa pengatur ulung dibandingkan lawan jenisnya. Keren kan, Bu? πŸ™‚

Memperbarui Ilmu

Imam Al Ghazali pernah berkata, “Menuntut ilmu adalah takwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad…”

Ibarat seorang guru bagi muridnya, ibu harus selalu melakukan upgrade diri dan update ilmu yang dimiliki agar dapat memberikan asupan nutrisi pengetahuan terbaik bagi buah hatinya. Bukan hal yang mudah pastinya, karena waktu 24 jam seolah tak cukup bagi ibu untuk menyelesaikan kewajiban yang harus diembannya. Tapi kembali lagi, anak adalah amanah dari Sang Pemilik yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepemilikannya. Ayo, Bu! Kamu pasti bisa. Yakin bisa. Dan harus bisa….

Menjadi bagian utama dari fondasi peradaban bagi generasi masa depan adalah kebanggaan tak terkira bagi seorang wanita. Jangan pernah engkau sia-siakan kesempatan berlipat pahala di akhirat ini. Karena kelak ketika kita telah tiada, hanyalah tersisa 3 hal yang tiada akan terputus, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh dan salihah. Insya Allah.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing β€˜Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

Tetap Cerdas dan Produktif dari Rumah, Wanita Harus Lakukan Ini

“…Jangan biarkan siapapun mengatakan tentang apa yang bisa kau lakukan dan apa yang tidak bisa kau lakukan. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan dan jadilah sosok yang kau inginkan…”

~ Emma Watson (Aktris) ~

Dari beberapa artikel yang saya baca, usia produktif bekerja bagi seorang wanita dikatakan terlalu singkat. Menikah dan memiliki anak sering dianggap sebagai kiamatnya produktivitas wanita. Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), usia produktif dimulai sejak seseorang memasuki usia 15 tahun hingga mencapai usia 64 tahun. Sungguh rentang waktu yang sangat lama untuk kita dapat terus berprestasi dan berkarya, bukan?

Seandainya kamu tahu, bahwa menikah dan memiliki anak sebenarnya bukanlah hal yang menakutkan dalam kaitannya dengan produktivitas wanita. Mungkin sebagian besar beranggapan, untuk menjadi produktif artinya harus selalu bekerja di luar rumah. Jika ini yang ada di dalam pikiranmu, sebaiknya kamu segera browsing dan mencari data sebanyak-banyaknya bahwa bekerja dan menghasilkan sesuatu saat ini bisa dilakukan dari mana saja.

Jika kamu adalah seorang wanita karier dan bisa tetap melanjutkan profesi di kantor setelah menikah dan memiliki anak, bersyukurlah. Tetapi untuk wanita lain yang karena satu dan lain hal harus resign demi kepentingan keluarga, tak perlu juga dijadikan sebagai masalah. Banyak profesi lain yang dapat kamu lakukan dari rumah di zaman serba online ini. Menjadi seorang pebisnis, baik sebagai produsen ataupun reseller, bisa menjadi salah satu pilihan. Menjadi penulis, blogger, ataupun influencer juga tak kalah asyiknya.

Apabila kamu sudah terbiasa bekerja di kantor dengan pekerjaan yang telah ditarget dengan rapi dan sedemikian rupa, mungkin sedikit butuh perjuangan untuk membiasakan diri bekerja dari rumah. Ingatan masa lalu saat masih bekerja, terutama pada saat jam kantor, pasti sesekali akan muncul di kepala. Tapi kamu tak boleh membiarkannya. Siapa bilang produktivitas hanya bisa dilakukan dari luar rumah? Yuk, segera lakukan 5 hal ini agar kamu tetap menjadi wanita cerdas dan produktif, meski hanya dari rumah!

Miliki Tujuan yang Jelas

Apa yang ingin kamu lakukan? Buatlah daftar keinginan yang muncul di benakmu dengan cara menulisnya di kertas. Tampung dahulu semua ide yang muncul di kepala. Setelah semuanya kamu tuliskan, mulai pilih dan beri prioritas pada beberapa aktivitas yang sesuai dengan passion-mu dan paling ingin kamu lakukan.

Kenali Potensimu

Pernah dengar ungkapan “The Right Man on The Right Place”? Ini adalah sebuah ungkapan untuk menunjukkan betapa pentingnya kita bekerja pada bidang yang tepat, sesuai dengan bakat dan potensi yang kita miliki. Penggalian potensi diri bisa kamu lakukan dengan cara seperti poin satu di atas, yaitu menuliskan semua yang kamu inginkan di kertas dan kemudian memilih mana yang paling kamu sukai untuk dilakukan. Bisa juga dengan cara lain yang lebih akurat, seperti tes sidik jari atau analisa tulisan tangan untuk pemaparan lebih detail.

Tapi jika saat ini kamu telah berhasil pada satu bidang tertentu yang sebenarnya tidak sesuai dengan bakatmu, tak masalah. Bukan berarti kamu harus banting setir menggantinya dengan bidang lain. Kamu cukup menambahkan aktivitas yang kamu sukai sebagai penyeimbang rutinitas harianmu. Mana tahu aktivitas atau hobi yang kamu sukai ini juga bisa berkembang seperti pekerjaan lain yang telah lebih dulu kamu geluti.

Membuat To Do List dan Target Aktivitas

Bekerja dari rumah memang lebih fleksibel dalam segi waktu dan pekerjaan yang dilakukan. Tapi ini bukan berarti kamu bisa seenaknya mengerjakan sesuatu tanpa membuat target atau to do list yang jelas. Jika kamu adalah seorang pebisnis misalnya, di mana kamu adalah bosnya dan tak ada atasan yang memerintah dan memeriksa hasil kerjamu seperti di kantor, membuat target yang ingin dicapai merupakan suatu keharusan jika ingin bisnismu terus berkembang.

Membaca Buku

Buku adalah jendela dunia. Raga mungkin boleh tertahan di rumah, tapi pikiran tak boleh demikian. Dengan membaca buku, baik buku fisik maupun bacaan digital yang saat ini tersedia dalam berbagai bentuk aplikasi, imajinasi kita akan terus berkembang dan menuntun diri pada suatu pencapaian. Salah satu kelemahan masyarakat Indonesia adalah lemahnya keinginan mereka dalam membaca, sehingga kemampuan memahami sesuatu menjadi hanya separuhnya saja. Ini berakibat seringnya terjadi kesalahpahaman dan perdebatan di berbagai media sosial apabila muncul topik yang sedang trending. Sungguh sangat disayangkan.

Berkumpul dengan Komunitas

Manusia adalah makhluk sosial yang ditakdirkan untuk saling membutuhkan satu sama lain. Bukan berarti menjadi saling ketergantungan. Bersosialisasi dengan orang lain, terutama dalam komunitas yang positif dan sesuai dengan visi dan misi hidup, dapat menjadi jalan rezeki dan motivasi agar kita selalu lebih baik dari sebelumnya. Dari berbagai komunitas positif, baik secara online atau offline inilah kita dapat menggali lebih banyak ilmu bisnis, agama, pengembangan diri, dan ilmu lain yang sesuai dengan passion masing-masing. Lambat laun, rasa percaya diri akan semakin meningkat dan kolaborasi dalam berbisnis pun dapat terbentuk dengan banyaknya relasi yang kita temui dalam komunitas yang diikuti.

Sampai di sini, apakah kamu masih ragu untuk memulai produktivitasmu dari rumah? πŸ™‚ Sesungguhnya, menjadi produktif itu bukan tentang seberapa besar materi yang dapat kamu hasilkan, melainkan seberapa jauh kamu dapat memengaruhi dan menjadi inspirasi untuk orang-orang di sekelilingmu.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

Tak Perlu Menjadi Ibu yang Sempurna, Jadilah Ibu yang Bahagia

Sejak dulu sebelum menjadi seorang ibu, saya sering mendengar kalimat ini, “Ibu hamil dan menyusui harus hati-hati sekali menjaga pikiran. Kalau ibunya sedih dan gak tenang, bayinya juga pasti rewel dan gak bisa diam…”

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya sangat menyadari bahwa kalimat ini bukan hanya ditujukan untuk ibu hamil dan menyusui saja. Setiap wanita, khususnya yang telah memiliki buah hati, berapa pun usianya, seyogyanya memang harus menjaga pikiran dan hatinya agar dalam kondisi yang stabil dan bahagia.

Mudahkah? Ohh… tentu tidak, Ferguso!! Ini butuh perjuangan…. Apalagi metabolisme tubuh wanita juga dipengaruhi oleh berbagai hormon yang mau tak mau kerap membuat emosi menjadi labil dan bergejolak. Tapi di sinilah uniknya kaum kami. Saya percaya, Allah menciptakan wanita dengan segala keunikannya, pasti ada maksudnya πŸ™‚

Image: Pexels.com

Dikutip dari laman Republika.co.id, Departemen Psikologi Universitas Cambridge di Inggris pernah melakukan penelitian terkait hubungan yang terjadi antara otak seorang ibu dengan otak bayinya. Hasilnya, ditemukan pola yang bervariasi tergantung pada tingkat emosional ibunya. Dalam keadaan emosi yang positif, ternyata ditemukan adanya hubungan yang lebih kuat antara otak ibu dengan bayinya. Hubungan yang kuat ini sangat baik untuk perkembangan otak si bayi dan kecerdasan emosi selanjutnya.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, perlu juga digarisbawahi bahwa ini bukan hanya berlangsung pada masa golden age alias usia keemasan anak di lima tahun pertama kehidupannya saja. Untuk masa seterusnya setelah usia 5 tahun, terutama di masa remaja, hubungan keselarasan antara orang tua (ibu) dan anak tetap harus dijaga. Permasalahan yang dihadapi tentunya akan lebih komplek pada usia remaja. Tetapi percayalah, ketika kita sudah memberikan dasar pendidikan karakter yang positif kepada anak sejak dini, insya Allah anak juga lebih mampu menangkal pengaruh negatif dari lingkungannya.

Hilangkan Impian Ingin Menjadi Ibu yang Sempurna

Dulu saya pun pernah memiliki keinginan seperti umumnya kaum ibu yang lain. Ingin menjadi sosok ibu yang sempurna dan memiliki buah hati yang juga sempurna dan berprestasi dalam segala hal. Hingga seiring berjalannya waktu, saya pun meyadari bahwa keinginan menjadi sosok yang sempurna justru membuat saya tidak dapat rileks dan menikmati peran sebagai seorang ibu.

Heiii… sadarlah, bu, kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun πŸ™‚ Seorang ibu juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan, punya segala keterbatasan dan tak selalu bisa tersenyum, tersenyum dan tersenyum setiap waktu. Jadilah manusia sewajarnya. Meskipun teori parenting sudah saya lahap di luar kepala, tapi saya bukan tipe ibu yang saklek dan harus selalu berpedoman pada teori. Jika saatnya saya harus marah kepada anak yang telah melakukan kesalahan, maka saya akan tetap marah kepadanya. Hanya saja, setelah anak menyadari kesalahannya, saya sebagai ibu akan minta maaf kepadanya dan memberi pengertian bahwa marahnya saya adalah bentuk nasihat serta rasa sayang untuk dirinya.

Munculkan Rasa Bahagia

Lepas dari keinginan menjadi ibu yang sempurna, lambat laun saya semakin mengerti bahwa menjadi waras dan bahagia adalah kunci agar seorang ibu dapat memancarkan energi positif kepada buah hatinya. Mulailah saya belajar tentang bagaimana memunculkan dan memelihara rasa bahagia. Ternyata rasa bahagia memang tak perlu dicari. Ia ada di dasar hati πŸ™‚ Tapi memang untuk sebagian orang, rasa bahagia itu mungkin ada yang masih tertimbun jauhhhh di dalam lubang gelap, sehingga untuk memunculkannya butuh waktu tak sebentar.

Yang paling mudah menurut saya adalah dengan bersyukur terlebih dahulu, apa pun keadaannya. Rasa syukur dapat membuka keikhlasan dan mencairkan kebekuan hati, untuk selanjutnya menemukan jalan keluar atas setiap permasalahan yang dihadapi.

Ibu Bahagia, Anak Pun Cerdas dan Bahagia

Sadar atau tidak, kamu harus tahu dan yakin bahwa ibu yang bahagia juga akan menularkan virus bahagia kepada keluarga dan putra-putrinya. Kecerdasan emosi anak berawal dari kecerdasan emosi orang tua, terutama ibunya. Stabilnya emosi anak juga dipengaruhi oleh stabilnya emosi ibu. Nah, stabilnya emosi ibu sangat dipengaruhi oleh stabilnya emosi bapak heheheeee…. πŸ˜€ *beneran mah ini, saya enggak bohong ^^ Makanya, hati-hati jadi suami, ya, pak! Baik-baik deh sama istri. Kalau istri bahagia, suasana rumah pasti jadi nyaman. Istri yang bahagia juga akan melahirkan generasi yang cerdas dan bahagia. Jadi rantai bahagianya insya Allah muterrrr terus, tidak terputus dan saling memengaruhi satu sama lain. Sebaliknya, kalau istri sedih dan tertekan, suasana rumah pasti jadi runyam. Akibatnya, buah hati pun bisa jadi kena sasaran πŸ™

Cuaca boleh panas, sungai boleh mengering, daun pohon boleh berguguran, tapi hati seorang ibu tak boleh gersang. Yuk, mulailah menjadi poros bahagia bagi orang-orang terdekat kita, terutama untuk buah hati tercinta. Mungkin kita bukanlah ibu yang sempurna, tapi pastikan kita adalah ibu yang bahagia. Karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita….

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

5 Manfaat Tidur, Me Time Mudah dan Murah Ala Saya

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah menulis tema ini dalam 9 Cara Me Time Mudah Ala Saya. Tak dapat dimungkiri bahwa aktivitas me time (memberikan waktu untuk diri sendiri melakukan sesuatu yang menyenangkan) merupakan salah satu hal penting untuk menjaga kewarasan hati dan pikiran. Apalagi untuk seorang ibu yang hari-harinya telah dipenuhi jadwal padat merayap sejak bangun pagi hingga tidur lagi, menyediakan waktu khusus untuk membahagiakan diri sendiri rasanya memang perlu dilakukan.

Image: Pexels.com

Dari beberapa aktivitas untuk menyenangkan diri sendiri yang saya pilih, mulai dari tidur, jalan-jalan, menikmati makanan kesukaan, olahraga, browsing, main game, atau pijat, aktivitas tidur merupakan me time yang paling mudah dan murah menurut saya. Meskipun sangat mudah dilakukan karena tak perlu mengeluarkan biaya, kegiatan istirahat ini ternyata memiliki banyak sekali manfaat berharga bagi tubuh dan pikiran kita. Terkadang kita kerap mengabaikan aktivitas satu ini dan menganggapnya hanya sebagai rutinitas istirahat biasa, bukan? Padahal, kamu perlu juga, lo, sesekali menyediakan waktu khusus agar dapat beristirahat dengan tenang lebih lama daripada biasanya.

Apa saja sih manfaat tidur sebenarnya?

Menjaga Kulit Tetap Awet Muda

Mana nih yang ngakunya pengen selalu awet muda? πŸ˜€ Tahukah kamu, pada saat kita tidur, produksi kolagen di dalam tubuh mengalami peningkatan. Kolagen adalah zat yang membantu mempertahankan elastisitas kulit . Kolagen ini dapat bekerja maksimal pada saat tubuh kita dalam keadaan rileks dan sangat santai. Elastisitas yang dihasilkan kolagen membuat kulit terasa lebih kenyal, lebih tebal dan tingkat kendur menjadi berkurang. Jadi kalau ada yang mengaku pengen awet muda tapi istirahatnya kurang, ada baiknya mulai memasukkan aktivitas tidur lebih lama dari biasanya sebagai salah satu pilihan me time.

Mengurangi Risiko Terserang Berbagai Penyakit

Jantung, stroke, diabetes, tekanan darah tinggi dan ginjal adalah beberapa penyakit berat yang rawan timbul apabila tubuh kita kurang beristirahat. Salah satu hormon yang mengalami peningkatan saat tubuh kurang tidur adalah hormon insulin. Hormon ini memproduksi gula darah yang kadarnya akan meningkat apabila tubuh kamu kurang istirahat. Nah, enggak mau kan terkena risiko penyakit diabetes? Meskipun ada keluarga nenek moyang yang sudah memiliki riwayat diabetes sebelumnya, bukan berarti kamu kemudian pasrah dan tak mau berusaha memperbaiki dirimu. Karena hidup adalah pilihan. Begitu juga dengan kesehatan.

Meningkatkan Mood

Merasa uring-uringan, cepat marah, kurang fokus dan konsentrasi bisa jadi diakibatkan tubuh yang kurang beristirahat. Coba deh perbaiki kualitas tidurmu. Jika kondisi kurang memungkinkan karena memiliki balita yang tidak dapat ditinggal istirahat lama, mintalah bantuan pasangan atau keluarga untuk menjaga buah hati sejenak agar kamu dapat tidur untuk memulihkan energi dan mood.

Mengurangi Berat Badan

Ahaa… ini pasti banyak yang suka heheheee…. Ternyata tidur yang cukup itu bermanfaat pada stabilnya hormon yang membuat kita lapar dan kenyang menjadi tetap seimbang. Kalau tidurmu kurang, hormon yang membuat lapar akan naik kadarnya, sementara hormon yang membuat kenyang menjadi turun, sehingga timbullah rasa lapar dan ingin makan πŸ™‚ Boleh dicoba, ya…

Menghindari Pikun

Duhh… Enggak nyangka ya cukup tidur ternyata membuat ingatan kita lebih tajam dan menghindari pikun. Berbagai peristiwa yang terjadi ternyata dapat lebih lama tersimpan di otak jika kita dalam keadaan tidur. Jika kurang tidur, memori yang ada tak sempat terekam lama dan akhirnya mudah hilang begitu saja. Kamu enggak mau kan masih muda usianya tapi sudah banyak lupa dan harus lelah mengingat-ingat sesuatu yang ingin kamu pikirkan kembali?

Dengan adanya 5 manfaat penting di atas rasanya tak berlebihan jika saya memasukkan aktivitas tidur sebagai salah atu me time mudah dan murah ala saya. Sederhana, tapi ternyata manfaatnya sungguh luar biasa.

Kalau kamu bagaimana? Apa me time favoritmu?

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing β€˜Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga


5 Tips Kala Baper Melanda Ala Saya

“Men are from Mars, Women are from Venus….”

Judul buku yang sangat populer karya John Gray, Ph.D ini mengungkap betapa jauhnya perbedaan antara sosok pria dan wanita. Wanita adalah makhluk multitalenta yang diibaratkan seperti gelombang. Baperan dan sangat mudah terbawa sisi emosionalnya. Kadang naik, kadang turun. Sangat fluktuatif. Sementara pria, diibaratkan laksana karet gelang yang lebih lentur dan elastis dalam mengontrol perasaannya.

Penelitian tentang perbedaan pola pikir antara pria dan wanita memang tak pernah ada habisnya. Ini berkaitan dengan banyak hal, terutama tentang bagaimana mengatur pola hubungan yang baik antar pasangan agar dapat menghindari pertengkaran di dalam sebuah hubungan.

Dikutip dari laman Hello Sehat, Tel Aviv University pada tahun 2015 pernah melakukan riset untuk membandingkan antara otak laki-laki dan perempuan. Dari penelitian ini ditemukan bahwa otak laki-laki ternyata 10% lebih besar daripada otak perempuan. Tapi hal ini bukan berarti seorang pria lebih pintar dari wanita, ya… πŸ˜€ Karena faktanya, otak perempuan ternyata lebih mampu menyerap informasi 5x lebih cepat dari laki-laki. Wow… kenapa bisa begitu, Esmeralda? Tak lain dan tak bukan karena kaum wanita lebih sering menggunakan otak kanan daripada otak kirinya. Kemampuan mereka melihat banyak hal dari berbagai sudut pandang ini, nih, yang membuat wanita menjadi lebih sensitif dan baperan daripada pria.

Nah… setelah memahami asal mula kebaperan yang kerap terjadi pada diri wanita, ada baiknya kita juga belajar bareng yuk, bagaimana tips untuk menghindari rasa baper yang berkelanjutan. Kamu pasti tahu kan, generasi zaman now paling suka sama yang namanya baper dan ambyar-ambyaran. Padahal, ini bukanlah sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk dipelihara, apalagi dikembangbiakkan πŸ™‚ Apalagi kalau kamu sudah menjadi seorang istri atau seorang ibu dengan tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Baper itu membawa keresahan, dan bisa jadi berujung pada penyesalan. Dan penyesalan (beranda-andai) itu menurut sebuah hadis dapat membuka jalan untuk tipu daya setan.

“Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: β€˜Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian’ namun katakanlah: β€˜Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan’ karena berandai-andai membuka tipuan setan...” (HR. Muslim 2664)

5 tips di bawah ini biasanya saya lakukan apabila kebaperan mendadak datang tanpa diduga. Mungkin kamu nanti juga bisa menambahkan tips lainnya, ya,…

1. Tarik napas panjang, tahan sejenak dan hembuskan perlahan

Percaya atau tidak, cara ini efektif bekerja apabila rasa baper mulai menyapa. Tidak hanya saat baper saja, menarik napas dan menahannya sejenak ini juga bisa kamu lakukan ketika sedang berada dalam posisi gugup, grogi, deg-degan, takut, dan berbagai perasaan tidak nyaman lainnya.

2. Berusaha berpikir positif dan menghindari prasangka

Tidak mudah memang. Pada saat baper menghadang, awalnya pasti berat menghilangkan segala pikiran negatif yang mendadak datang bertubi-tubi, membuat pandangan dan pikiran terasa gelap. Tapi, mau tak mau kita harus mengontrolnya, karena belum tentu apa yang menjadi prasangkamu benar-benar terjadi sesuai apa yang disangkakan. Jadi, daripada sibuk berpikir negatif, kenapa tidak kamu balik prasangkamu menjadi sesuatu yang positif? Ucapkan doa terbaik dan netralkan hatimu agar rasa baper tidak berlebihan menguasai diri.

3. Belajar lebih jujur dan mengakui apa adanya

Perasaan hati yang sensitif dan sering terbawa perasaan ada kalanya terjadi karena kita kurang jujur terhadap diri sendiri. Terlalu banyak memendam perasaan dan asyik bermain dengan pikiran sendiri bisa menjadi penyebab baper yang berkelanjutan. Coba deh, kamu tulis daftar keinginan yang kamu harapkan, alias pencapaian diri yang kamu inginkan, di kertas atau buku catatan secara detail dan terperinci. Ini dapat melegakan dan mengurangi beban perasaan yang ada di hatimu.

4. Sibukkan diri dengan banyak aktivitas

Ketika baper melanda, jangan biarkan diri makin terpuruk dan terluka dengan berdiam diri di dalam kamar sambil mendengarkan lagu-lagu ambyar. Percayalah, kamu akan semakin menderita dan merasa tak berharga. Sibukkan diri dan pikiranmu dengan berbagai aktivitas yang mampu mengisi ruang kosong di dalam hati agar pikiran terfokus pada kegiatan tertentu.

5. Cari teman dan komunitas yang memotivasi

Berkumpul dengan para sahabat dan komunitas yang positif dan membangun motivasi diri, baik secara online ataupun offline merupakan obat hati yang tak ternilai harganya. Tahukah kamu bahwa di dalam alam semesta ini banyak sekali frekuensi yang berseliweran, baik yang tinggi maupun yang rendah. Sama seperti antena televisi yang hanya dapat menangkap sinyal yang sesuai level frekuensinya, manusia pun juga demikian. Jika ingin mendapatkan frekueni (energi) yang baik, kamu pun harus berusaha mencari lingkungan dan teman-teman yang baik agar dapat terus memperbaiki diri.

Itu dia beberapa hal yang biasa saya lakukan apabila baper mulai melanda. Sebenarnya terbawa perasaan ini adalah sesuatu yang wajar, karena kita kan manusia, bukan robot. Cuma menjadi enggak wajar bila kemudian terus berkembang dan seolah dibesar-besarkan. Bukankah kita dikaruniai akal dan pikiran untuk meminimalisir segala hal yang negatif dan tak baik bagi tubuh kita?

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Waspada Baby Blues, Sindrom Usai melahirkan yang Menguras Pikiran dan Sisi Emosional Wanita

Image: Pixabay.com

Siapa pun tahu bahwa menjadi seorang ibu adalah impian setiap wanita. Tak mengherankan ketika gelar sebagai pengantin baru masih terasa, banyak pasangan yang langsung berencana memiliki momongan tanpa perlu ditunda lagi. Tapi tahukah kamu, untuk menjadi seorang ibu, banyak sekali hal yang harus dipersiapkan. Bukan sekadar kesiapan fisik selama masa kehamilan saja, kesiapan mental dan pengetahuan usai melahirkan ternyata lebih membutuhkan energi dan fokus bagi seorang wanita, termasuk pengetahuan tentang sindrom yang dikenal dengan istilah baby blues.

Hemmm…. ingatan saya langsung melayang pada kenangan masa kehamilan 10 tahun yang lalu. Tak dimungkiri, saya pun sempat merasakan sindrom ini setelah melahirkan Lubna. Waktu itu pengetahuan saya tentang berbagai hal usai melahirkan memang sangat kurang sekali.

Selama masa kehamilan, yang saya pelajari lebih banyak berkisar tentang persiapan kelahiran, bagaimana cara menyusui yang baik dan benar, tentang pengasuhan bayi, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan diri si bayi. Nah, saking fokusnya hanya pada bayi, saya pun melupakan perhatian pada diri sendiri, termasuk soal baby blues ini. Lalu, seperti apa, sih, sebenarnya gejala sindrom ini?

Gejala Baby Blues

Agar tak kaget saat mengalami hal ini, kamu dan pasangan harus mengenali beberapa gejala tak biasa yang muncul pascamelahirkan. Kenapa pasangan juga harus tahu? Yup, apalagi kalau bukan untuk membantu memulihkan kondisi kejiwaan sang istri saat sindrom ini menghampiri.

1.Β Mudah stres, letih dan lesu

Kebahagiaan usai melahirkan buah hati, terutama bagi ibu baru, bisa saja berubah menjadi perasaan lelah, bosan dan tak bergairah lagi menjalani rutinitas harian sebagai seorang ibu. Hal ini dapat disebabkan adanya faktor perubahan hormon, dari hormon kehamilan menjadi hormon menyusui. Tak hanya itu, faktor lingkungan juga ternyata sangat memengaruhi terjadinya baby blues ini. Berbagai komentar dari keluarga dan orang-orang terdekat tentang kondisi bayi yang baru saja lahir bisa saja mengakibatkan sensitivitas tertentu pada diri si ibu . Apabila tak segera disadari, perasaan baper ini dapat berkembang menjadi perasaan bosan, stres, mudah lelah, dan memunculkan penyakit baru, yaitu depresi yang berbahaya bagi kondisi kejiwaannya.

2. Ingin marah dan kerap emosi

Tidak hanya perasaan stres dan lelah yang akan menghampiri penderita baby blues. Emosi yang kadang tak terkontrol, mudah menangis, dan sebaliknya juga mudah marah, menjadi hal yang sangat membingungkan apabila orang-orang terdekat tidak memahaminya, terutama pasangan hidupnya. Dibutuhkan komunikasi yang baik antara pasangan suami isteri saat momen tak nyaman ini berlangsung. Apalagi jika masih tinggal satu rumah dengan orang tua atau mertua, peran serta keluarga besar sangat berarti untuk mengembalikan stabilnya kondisi emosi seorang ibu.

3. Merasa tertekan dan tak percaya diri

Perasaan ragu apakah dapat menjadi ibu yang baik bagi bayinya juga dapat menjadi pemicu munculnya perasaan tertekan dan tak percaya diri. Kondisi ini tak boleh dibiarkan karena berakibat si ibu tidak memiliki motivasi lagi untuk merawat bayi yang baru dilahirkan. Sering melamun, memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak begitu penting dan justru akan menambah beban pikiran sebisa mungkin harus dihindari. Suami dan orang-orang terdekat memiliki tanggung jawab untuk ikut menemani dan menghibur agar rasa percaya diri kembali muncul dan ibu makin bersemangat menjalani hari-harinya.

Cara Mengatasi Baby Blues

Tugas dan tanggung jawab seorang wanita memang semakin berlipat dan bertambah dengan kelahiran si buah hati. Ada kalanya kesibukan mengurus bayi dan rutinitas sehari-hari membuat seorang ibu begitu lelah dan lupa melakukan me time yang menyenangkan bagi dirinya sendiri. Baby blues perlu diwaspadai agar tak mengarah pada kondisi kejiwaan yang semakin berat, seperti depresi, misalnya.

Karena tumbuh kembang bayi sangat dipengaruhi oleh kondisi ibunya, menjadi tanggung jawab bersama bagi suami dan seluruh keluarga untuk selalu mendukung dan menciptakan suasana yang nyaman bagi ibu dan si bayi.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah saling menguatkan pola komunikasi antar pasangan, sehingga istri tak segan berterus terang kepada suami tentang hal terburuk sekalipun yang ia rasakan. Suami juga sebaiknya lebih aktif memperhatikan perasaan dan perubahan sikap istri. Jika ada yang terasa janggal, tanyakan secara baik-baik apa yang istri rasakan. Nyamankah ia?

Selain dukungan suami, jangan lupa bahwa dukungan keluarga lain seperti orang tua dan mertua juga sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan baby blues ini. Beri pengertian kepada keluarga bahwa seorang wanita yang baru saja melahirkan akan mengalami perubahan hormon yang mungkin dapat sedikit mengubah karakter atau sisi emosionalnya. Mohon pengertian dari orang-orang terdekatnya apabila ada yang tak seperti biasanya. Dengan semangat dan dorongan dari lingkungan sekitar, insya Allah ibu akan menjadi bahagia dan sedikit berkurang beban emosionalnya. Percayalah, ibu yang bahagia juga akan melahirkan generasi yang bahagia πŸ™‚

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’.

Baca Juga