Arsip Kategori: Sharing & Motivasi

Tips Single Parent Bahagia ala Saya. Layangan Putus? Lewat!

Sekitar 1-2 bulan terakhir ini, setiap membuka media sosial, saya selalu menemukan tulisan mengenai serial web series Layangan Putus yang diadaptasi dari tulisan seorang single parent yang merasa dikhianati oleh pasangan hidupnya.

Meski belum pernah melihat serial ini, dan hanya sekilas membaca curahan hati sesedokter yang merasa menjadi korban , saya insya Allah tidak tertarik melihat kisah “perang dunia ketiga” ini. Bukan karena saya seorang single parent, tetapi jujurly, saya bukan tipe perempuan yang suka menonton serial drama, termasuk sinetron Ikatan Cinta misalnya, meski banyak yang bilang bahwa ceritanya bagus 😀

cara menjadi single parent bahagia

Bhaiq … kita tidak akan membahas serial Layangan Putus. Menonton atau tidak, saya yakin, setiap orang memiliki hak dan pilihan sendiri menikmati hiburan yang bisa membuatnya bahagia. Yang perlu diingat, kalau teman-teman sudah pernah belajar tentang ilmu pikiran, terutama pikiran bawah sadar, pasti tahu bahwa informasi apa pun yang kita lihat, kita baca, dan terima setiap hari–terlepas baik atau tidak–berpotensi masuk, mengendap di pikiran, dan bisa saja terjadi dalam kehidupan nyata kalau kita tidak mampu menyaringnya.

“Iiiihh … kok ngeri, sih? Kamu doain aku jadi single parent kayak gitu, ya?”

Hihihii … enggak, Mileaaaa! Saya hanya menyampaikan pesan para trainer dan coach yang sering banget memberi wanti-wanti, “Kalau pengen hidupmu berubah dan lebih berkualitas, ya perbaiki dulu dirimu, termasuk memperbaiki apa yang kamu lihat, tonton, baca, dan lakukan setiap hari.”

Kekuatan pikiran bawah sadar sudah banyak saya tulis di blog ini, salah satunya di tulisan mengenai Workshop ALT. Kamu bisa belajar mengoptimalkan pikiran bawah sadar dan menarik banyak keberlimpahan hanya dengan memberdayakan pikiran, asal tahu caranya. Jadi, kalau saat ini masih banyak ibu-ibu dan perempuan bersuami menonton serial film atau membaca buku-buku yang isinya mengenai perselingkuhan, pengkhianatan, dan semacamnya, saya suka heran sendiri.

Tidakkah mereka takut semua data yang dilihat di film atau buku itu mengendap di kepala dan menjadi kenyataan?

Tidakkah lebih baik kembali seperti zaman saya kecil dahulu, mengajak keluarga dan anak-anak kita menonton film-film semacam Oshin, Little House on the Prairie, Rumah Masa Depan, Keluarga Cemara, dan kisah-kisah keluarga yang menanamkan nilai-nilai kebaikan lainnya?

Hemm … tapi ‘kan itu tidak menantang? Enggak seru! Enggak bikin penasaran! Dahlah .. sak karepmu! *ehhhh, hehehee

Menjadi Single Parent, Mudahkah?

Saya yakin, di relung hati terdalam, tak ada satu pun perempuan yang bahagia menjadi single parent, apalagi bagi mereka yang akhirnya harus sendiri karena pasangannya telah wafat.  Meskipun saya menjadi single parent karena berpisah dalam keadaan hidup, tetaplah itu bukan suatu cita-cita. Siapa sih yang mau menikah untuk berpisah? Enggak ada, ‘kan?

Namun, kembali lagi. Seperti halnya bakat dan karakter, hidup setiap orang itu UNIK. Allah memberi peristiwa hidup yang berbeda kepada masing-masing individu untuk mengetahui sejauh mana kondisi keimanan yang kita miliki.

Kembali ke sub-judul di atas. Mudahkah menjadi single parent? Oohh … tentu tidack! Ada banyak drama di awal perjalanan. Beruntungnya, saya berhasil memberi batas dan tenggat waktu kepada diri sendiri saat itu, bahwa saya hanya akan bersedih 2-3 bulan saja. Setelah itu, saya harus “hidup lagi”.

Demi siapa? Ya demi orang-orang di sekeliling yang masih banyak membutuhkan keberadaan saya, terutama buah hati terkasih dan Ibu tersayang.

Berhasil, enggak? Alhamdulillah, berhasil!

Kalau bukan kamu sendiri yang memberi tenggat waktu kepada dirimu, siapa lagi yang bisa melakukannya? Inilah sebenarnya kunci dari SELF LOVE, alias mencintai diri sendiri. Sebelum kamu mencintai orang lain, cintai dulu dirimu habis-habisan. Kalau kamu sudah bahagia, mudah saja bagimu mengalirkan kebahagiaan kepada orang lain.

Satu hal lagi. Kalau kamu punya keinginan dan fokus pada keinginan itu, pikiranmu sebenarnya akan memberi jalan dengan sendirinya untuk mencapai apa yang diinginkan. Semacam ada GPS-nya gitu, deh. Jadi, kamu tinggal ikuti aja GPS itu pelan-pelan.

Contohnya, setelah masa 2-3 bulan bersedih dan baper, Allah memberi jalan pada saya melalui banyak komunitas dan kelas-kelas online yang saya temukan melalui internet. Di situ saya belajar banyak hal, mulai dari internet marketing, channel-channel kajian, kelas-kelas pemberdayaan diri, kelas parenting, kelas sedekah, dan banyak lagi.

Lucunya, saya justru menghindari berkumpul dengan komunitas single parent yang disarankan beberapa teman. Lo, kenapa? Entahlah. Yang jelas, saya tidak ingin terlalu fokus pada masalah status karena masih banyak kewajiban dan perbaikan diri yang harus saya lakukan.

Alhamdulillah, healing saya terletak pada mencari ilmu. Dengan menyibukkan diri menjaring ilmu sebanyak-banyaknya, pikiran selalu terisi sehingga tak ada waktu lagi untuk menjadi baper, sensi, marah, atau menyesali masa lalu. Bahkan, saya sering lupa, lo, bahwa saya ini sebenarnya single parent. 😀 Mungkin karena sejak belum menikah, saya terbiasa mandiri, ya? Biasa pasang gas sendiri, ganti bola lampu yang mati, mengurus surat-surat kendaraan sendiri, dan semuanya sendiri. Ketika akhirnya harus menjadi seorang single parent, semuanya tak berlalu berasa lagi. Seperti kembali ke masa gadis dulu, hehehee ….

Banyak teman-teman yang heran, kenapa saya bisa seperti itu? Tidak mengumpat di media sosial, tidak curhat masalah rumah tangga sembarangan. Kelihatannya mah saya ini single parent yang adem-ayem-tentrem, meski sebenarnya ya sama aja, sih, hati juga sering kebat-kebit tak karuan kalau di akhir bulan saldo rekening sudah terlihat berhamburan, wkwkwk ….

Nah … ada beberapa tips yang akhirnya saya putuskan untuk ditulis di sini. Siapa tahu ada yang menemukan tulisan ini di Google, atau ada di antara teman-teman yang punya keluarga atau sahabat yang juga single parent, yang saat ini mungkin masih belum bisa menerima kondisinya dengan ikhlas. Yuk, kita belajar pelan-pelan untuk menjadi bahagia lewat tulisan ini.

Tips Menjadi Single Parent Bahagia

Berikan Waktu untuk Marah dan Bersedih

Marah dan bersedih itu normal karena kita ini manusia, bukan robot. Namun, jangan berlebihan, apalagi sampai berlarut-larut seperti gula pasir yang melebur di dalam segelas teh. Tetapkan waktu, kapan kamu akan bangkit lagi. Boleh sebulan lagi, 3 bulan kemudian, atau justru cukup hanya 2 minggu, setiap orang berhak memilih kapan akan “bangun” lagi.

Berikan Waktu untuk Masa Penolakan

Selama kurun waktu kamu bersedih, pasti akan terjadi peralihan dari fase penolakan—penerimaan—penolakan—penerimaan, dan begitu seterusnya secara berulang-ulang. Tidak mengapa, nikmati saja. Untuk orang-orang introver seperti saya, bicara kepada orang lain justru akan membuat saya lebih bingung karena banyaknya saran. Waktu itu, saya memutuskan untuk menulis kisah saya dalam beberapa buku antologi, seperti Hijrah Journey, Senandung Sakinah, dan Kisah Inspiratif Shahabiyah.

Jangan salah! Kisahnya bukan untuk menjelek-jelekkan mantan pasangan, lo, ya. BIG NO! Yang saya tulis adalah perjalanan hidup secara umum dengan mengedepankan nilai-nilai inspirasi. Intinya, hidup kita sudah digariskan. Asalkan kamu sudah berupaya sebaik mungkin, tidak perlu ada penyesalan, apalagi  kemarahan. Tidak semua orang berjodoh hingga maut memisahkan. Banyak yang jodohnya hanya sampai di tengah jalan, dan saya adalah salah satunya. Alhamdulillah.

Selamat Datang, Wahai Level Penerimaan

Oke … setelah mengalami rasa kaget, sedih, marah, penolakan, dan rentetan skala emosi yang naik turun tidak stabil, yakinlah bahwa kamu akan sampai juga ke tahap PENERIMAAN. Tentunya, kamu juga harus berupaya mendekati level ini, ya, bukan sekadar menunggu tanpa usaha apa pun.

Berdasarkan buku Pikiran Adalah Kunci dari Meuthia Z. Rizki yang pernah saya baca, pikiran kita ini bukan seperti komputer yang memiliki tombol delete. Enak dong kalau pikiran seperti komputer, semua masa lalu yang enggak enak bisa kita hapus. Sayangnya, pikiran tidak seperti itu. Memori masa lalu tidak bisa kita hapus, tetapi bisa kita NETRALISIR.

Contoh, ya. Kalau kamu mendadak ketemu mantan pacar secara tak sengaja, pasti semua memori masa lalu bersamanya langsung hadir di kepala. Yang ada kemudian adalah salah tingkah, malu, atau pada kondisi tertentu kalau hubungan kalian dulu putus dengan cara enggak bagus, pasti kamu akan langsung menghindar. Nah, ini bukti bahwa ingatan masa lalu enggak bisa dihapus. Namun, kamu bisa membuat rasanya menjadi NETRAL dan BIASA SAJA dengan cara berlatih memaafkan, menerima, dan mengakui bahwa semua itu hanya masa lalu, tidak perlu terulang kembali.

Jadi, kalau kamu bertemu kembali dengan mantan, ya enggak apa-apa. Toh, semuanya sudah berlalu. Anggap saja dia seperti teman lain pada umumnya. Kecuali memang kalian masih sama-sama single dan ingin bersama lagi, why not? Buruan deh dihalalkan. 😀

Cintai Dirimu Sebelum Mencintai Orang Lain

Setelah mampu menerima dan ikhlas menjalani masa kesendirianmu sebagai single parent, biasanya keluarga dan sahabat mulai berusaha mencarikan jodoh selanjutnya untuk dirimu. Setiap orang memiliki hak untuk bahagia dengan pasangan barunya, tetapi kamu tetap tidak boleh terburu-buru. Sebelum memberikan cintamu kpada orang lain, pastikan dulu kalau kamu benar-benar mencintai diri sendiri.

Saya banyak menemukan kisah single parent yang memutuskan mengakhiri masa lajang mereka hanya sebagai pelampiasan karena merasa bosan sendiri, tidak memiliki teman bercerita, butuh bahu untuk bersandar, dan alasan klise lainnya.

Tidak salah, sih, tetapi menurut saya itu terlalu berlebihan. Bukankah manusia kelak akan sendiri juga pada akhirnya, meski saat ini ia memiliki pasangan dan keluarga yang menyenangkan? Jangan pernah bergantung kepada manusia. Bergantunglah hanya kepada-Nya, seperti janji Allah di dalam QS. Ath Thalaq ayat 3:

“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”

Cari Tahu Apa Kebutuhanmu

Maksudnya apa, nih? Gini, setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Kalau saya, kebutuhan terbesar saya adalah ingin selalu memberikan sesuatu yang berarti bagi orang lain. Jadi, ketika saya merasa sedang enggak mood, malas, bosan, atau pikiran lagi sensi enggak jelas di dunia halusinasi, saya meyakinkan diri bahwa masih banyak orang lain yang membutuhkan saya.

Nanti kalau saya sakit, anak saya gimana, dong? Siapa yang antar-jemput dia sekolah?

Kalau saya enggak semangat, kasihan ibu saya dong, enggak ada orang lain yang bisa diajak curhat setiap malam sampai jam 1 atau 2 pagi.

Kalau blog enggak diisi karena lagi baper, sayang duitnya, dong, sudah dipakai bayar hosting tahunan yang biayanya enggak murah. *eehhh, curhat mah kalau ini wkwkwk.

Intinya, kamu harus tahu dulu apa kebutuhan terbesarmu agar tetap semangat menjalani hidup ini.

Keberlimpahan Setelah Menjadi Single Parent

Alhamdulillah, percaya tidak percaya, banyak keberlimpahan yang saya dapatkan justru setelah menjadi single parent. Impian saya ke Baitullah dan Turki terkabul, padahal saya ini ‘kan cuma freelancer yang 100% kerjanya dari rumah, bukan pekerja kantoran yang tiap bulan dapat penghasilan. Impian punya laptop juga terkabul karena ada teman yang meminta saya membayar laptopnya dengan harga suka-suka saya. Masya Allah.

Begitu pula. impian punya motor matic juga gampang banget terwujud karena Allah memberi secara gratis melalui doorprize dari instansi tempat almarhum Bapak dulu bekerja. Alhamdulillah. Lalu, impian membangun rumah sederhana pun Allah mudahkan, meski harus ganti tukang sampai tiga kali karena tukangnya pada enggak jujur, berhubung saya perempuan dan enggak paham soal bangunan. *maafff, curhat lagi qiqiiii ….

Begitu banyak keberlimpahan, mulai dari hal kecil hingga sangat besar yang justru saya dapatkan setelah menjadi seorang single parent. Kalau sudah begini, alangkah malunya jika saya harus mengeluh kepada Allah karena faktanya, masih banyak orang lain yang jauhhhh lebih menderita daripada saya.

Ah, semoga siapa pun yang memiliki status single parent seperti saya, baik karena berpisah dengan pasangan yang disebabkan oleh kematian, maupun berpisah dengan pasangan dalam keadaan hidup, selalu diberi kemudahan dan kekuatan oleh Allah Swt. Percayalah bahwa Allah selalu mendampingi kita dalam setiap langkah dan suasana. Kuncinya, dekati Allah saja.

Kalau butuh media untuk curhat sehubungan bebanmu sebagai single parent, tulis saja di buku khusus atau kertas , bukan dengan nyampah di media sosial, yang justru akan membawa kerugian, meninggalkan jejak digital, dan melemahkan energi positif di dalam dirimu.

Baca Juga

tips single parent