Arsip Kategori: Travelling

Perjalanan Inspiratif ke Lombok bersama BTPN Syariah

Suasana pantai Senggigi dari halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Memori masa kecil tentang Lombok tak akan pernah hilang dari ingatan. Pulau ini adalah tanah kelahiran yang banyak merekam jejak historis masa kecil dan pra remaja seorang Hastin Pratiwi. Meski darah yang mengalir di tubuh saya adalah darah asli Ngayogyokarto Hadiningrat, tapi jangan heran jika beberapa bagian diri, termasuk indera pengecap dan aksen bicara masih sering bercampur baur dengan segala sesuatu yang berbau suku Sasak di Lombok 🙂 Makanan masih suka yang asin dan pedas, logat bicara pun sama sekali tak mencerminkan layaknya seorang putri Kraton yang lemah lembut dan gemulai 😀

By the way, pulau Lombok ini terakhir saya kunjungi sekitar 3 tahun yang lalu, pada pertengahan tahun 2016, saat gempa dahsyat belum sempat mengguncang. Maka ketika 4 hari yang lalu saya mendapat tugas mendadak dari BTPN Syariah untuk berkunjung ke pulau ini, speechless sekali rasanya. Ini seperti impian dan passion yang terwujud, bisa ke Lombok lagi untuk sesuatu yang inspiratif, setelah adanya musibah gempa tahun 2018 lalu. Terus, bagaimana kisah seru (atau syahdu?) perjalanan berharga yang hanya satu hari ini? Yukk… baca terus, deh… Insya Allah kamu enggak bakalan bosan, apalagi bete, karena banyak pembelajaran yang akan kita dapatkan.

Ada Apa dengan BTPN Syariah dan Gempa Lombok 2018?

Mungkin belum banyak teman-teman yang tahu tentang visi dan misi PT. Bank Tabungan Pensiunan Negara Syariah, Tbk alias BTPN Syariah. Saya pun awalnya mengira bank ini sama saja dengan bank lainnya, terutama dalam hal pembiayaan bagi nasabahnya. Tapi ternyata tidak demikian. Perjalanan inspiratif ini membuat saya tersadar, “Oooohh…. ada juga ya bank yang seperti ini…

Jadi, BTPN Syariah ini sejak tahun 2010 ternyata menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang fokus menggalang dana dari keluarga sejahtera untuk disalurkan kepada keluarga prasejahtera produktif, khususnya dengan tujuan pemberdayaan kaum perempuan.

Kenapa harus perempuan yang diberdayakan oleh BTPN Syariah? Iyappp… karena perempuan dianggap sebagai individu yang sangat berpengaruh dalam sebuah keluarga, terutama dalam hal pendidikan anak dan pengelolaan keuangan keluarga.

Nah, pentingnya pendidikan anak melalui pembangunan sekolah yang berbasis pendidikan akhlak dan karakter inilah yang dibidik oleh BTPN Syariah agar angka probabilitas kesejahteraan keluarga juga ikut meningkat. Salah satu perwujudannya adalah dengan melakukan renovasi gedung sekolah TK dan SD Aisyiah yang terletak di kota kecamatan Ampenan dan mengalami kerusakan parah akibat musibah gempa tahun lalu. Masya Allah, flashback banget jadinya, karena kota pelabuhan tua ini adalah kota kelahiran saya.

Menurut Kepala Sekolah SD Aisyiah 2 ibu Sri Rahmatiah, gedung SD Aisyiah ini sebelumnya kondisinya sangat memprihatinkan karena tak terjamah bantuan dari luar. Atapnya hanya ditutupi jerami dan sekat dindingnya hanya menggunakan triplek. Terkadang, bahkan ada ayam yang masuk ke dalam ruangan kelas untuk ikut “belajar” *hiksss…

Pihak BTPN Syariah kemudian memilih sekolah ini dari beberapa sekolah lainnya untuk dilakukan renovasi dan pembangunan aula baru dari hasil pengumpulan dana bantuan gempa para #BankirPemberdaya, yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 12 November 2019 ini.

Gedung sekolah baru SD Aisyiah 2 Ampenan, Kota Mataram

 

Gedung aula baru hasil donasi gempa karyawan BTPN Syariah

 

Ruang kelas baru di SD Aisyiah 2

Diungkapkan oleh Ainul Yaqin selaku Communication Head BTPN Syariah, untuk ke depannya BTPN Syariah akan terus mengembangkan visinya. Bukan hanya sekadar melakukan pembangunan infrastruktur saja, tetapi terdapat tujuan lain yang berkelanjutan dari renovasi gedung sekolah dan pembangunan aula ini. Bukan hanya para siswa yang bertumbuh, tapi juga guru serta masyarakat sekitarnya juga harus dapat berkembang. Salah satu caranya adalah memanfaatkan aula sekolah untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti penyuluhan kesehatan, tips pola hidup yang baik, pengasuhan anak, dan lain sebagainya. Intinya, ada niat baik yang ingin diwujudkan bagi kebaikan sesama.

Kunjungan ke Tempat Nasabah Inspiratif

Kunjungan saya ke pulau pedas ini memang cuma satu hari saja, tapi Alhamdulillah, banyak sekali ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan. 

Hari Kamis tanggal 7 November saya berangkat dari Yogyakarta dengan pesawat jam 06.00 pagi. Transit dahulu di Surabaya selama 2 jam, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke  Bandara Internasional Lombok yang waktu tempuhnya sekitar 1 jam dari Surabaya. Sekitar jam 12.00 siang pesawat landing di Bandara Lombok dan saya sudah dijemput oleh driver dari tim BTPN Syariah.  Kemudian kami langsung menuju lokasi sekolah bantuan gempa di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Sampai di sekolah tersebut saya bertemu dengan banyak teman-teman media lainnya, baik dari wilayah NTB maupun dari Jakarta. Sebagian besar mereka adalah wartawan khusus bidang Ekonomi yang ditugaskan mewakili medianya masing-masing.

Usai acara liputan di TK dan SD Aisyiah Ampenan, kami makan siang sejenak di sebuah resto dengan arsitektur rumah Belanda kuno. Namanya “Roemah Langko“. Ini kali kedua saya mengunjungi resto ini, karena 3 tahun yang lalu juga pernah datang ke sini. Jadi tugas ke Lombok ini benar-benar seperti flashback 3 tahun yang lalu… 🙂

Selesai acara makan siang, perjalanan liputan dilanjutkan ke Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Ada seorang nasabah BTPN Syariah yang sangat inspiratif di kecamatan ini, namanya ibu Rehani. Beliau adalah seorang pengepul rajungan yang berhasil menjadi perempuan pemberdaya di desanya.

Ibu Rehani, perempuan pengepul rajungan di Kec. Lembar, Lombok Barat

Berawal dari modal pinjaman ke BTPN Syariah sebesar Rp 3 juta saja, ibu Rehani yang telah ditinggal wafat suaminya dan hidup bersama 2 orang anaknya, dalam waktu 4 tahun terakhir berhasil memfasilitasi para nelayan di daerahnya dengan membelikan alat bubu (jaring) agar para nelayan dapat menangkap rajungan dan menyetorkan hasilnya kepada ibu Rehani. Bukan itu saja. Ibu Rehani juga berhasil memberdayakan para istri nelayan untuk bekerja membantu pengolahan daging rajungan di rumahnya.

Rajungan yang sudah dimasak dan diletakkan di dalam es agar tetap segar. Penyimpanan menggunakan es lebih awet daripada cooler.

 

Rajungan yang sudah diambil dagingnya

Setiap hari ia membeli 1 kuintal rajungan dan melakukan pengiriman rajungan ke beberapa pemasok besar di Surabaya, untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Siapa sangka, dengan wajah dan tutur kata beliau yang polos dan penuturan bahasa Indonesia yang agak tercampur dengan bahasa Sasak, beliau sudah sering berhubungan bisnis dengan para pemasok dan distributor besar. Dalam 1 bulan ibu Rehani biasa melakukan 6x pengiriman, di mana setiap 1x pengiriman rajungan keuntungannya sekitar Rp 3juta. Jadi silakan hitung saja sendiri ya, berapa omsetnya dalam 1 bulan. Luarrrr byasakkk, bukan? Lucunya, ibu Rehani ini aslinya buta huruf dan tidak dapat membaca, lo. Beliau justru menjadi paham tulis-menulis setelah menekuni bisnis rajungan ini. 

Bertemu dengan Community Officer Inspiratif

Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00 WITA saat kami ke luar dari rumah ibu Rehani. Rencananya perjalanan akan langsung dilanjutkan menuju “Menega“, sebuah tempat makan di pinggir pantai untuk menyaksikan indahnya view matahari terbenam di area pantai Senggigi. Ada 2 mobil yang terpisah saat itu. Saya bersama mas Sofyan (seorang teman wartawan dari Bima) dan bapak Ainul Yaqin, (Communication Head BTPN Syariah) di mobil yang lebih kecil. Sementara rombongan wartawan lain berada di mobil yang lebih besar. Mobil yang lebih kecil memutuskan check in ke hotel terlebih dahulu, sementara mobil satunya langsung menuju ke Menega. 

Halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Syukurlah, kesempatan singgah di hotel ini saya gunakan untuk memercikkan air ke badan dulu sejenak, berhubung badan sudah terasa lengket karena sejak berangkat dari Yogyakarta jam 4 pagi tadi belum bersih-bersih lagi. Kami semua diberi kehormatan oleh BTPN Syariah menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort, salah satu hotel berbentuk resort bintang 5 di kawasan Senggigi, Lombok Barat. Sebenarnya begitu masuk kamar dan melihat tempat tidur putih bersih rasanya sih pengen langsung ndlosoran kwkwkwk….. tapi apa daya acara berikutnya sudah menunggu. Saya hanya sempat mengambil dokumentasi video senja hari di halaman belakang hotel sejenak, kemudian mandi. Setelah itu berusaha menyemangati mata yang mulai berat… “Ayoooo…. kalau cuma mau tidur ngapain jauh-jauh ke Lombok?” heheheee….

Jam 19.30 WITA kami menuju Menega dan bertemu dengan teman-teman lain yang sudah menunggu di sana. Satu meja panjang di tepi pantai sudah digelar. Ada sekitar 10-12 orang saat itu. Di sekelilingnya banyak pedagang suvenir menggelar dagangan mereka, dari mulai aksesoris khas mutiara, kaos, kain, dan barang-barang tradisional lainnya.  Harganya pun ternyata lebih murah, lo, dibandingkan membeli di pusat kerajinannya langsung.  Sayangnya, saya lupa untuk mengabadikan momen indah di Menega ini. Entahlah apa yang merasukiku sehingga melupakanmu… *tsahhh

Nah, di Menega ini, kami diberikan kesempatan bertemu dengan seorang Community Officer (C.O) BTPN Syariah. CO ini bahasa bisnisnya kalau di dunia pemasaran adalah seorang Account Officer (marketer) yang merupakan lini terdepan bank untuk bertemu dengan para nasabah.  Uniknya, tim CO BTPN Syariah ini dinamakan Melati Putih Bangsa. Mereka adalah para lulusan SMA/SMK yang dididik untuk dapat memotivasi dan memberikan ilmu kepada nasabah prasejahtera, baik tentang kesehatan, manajemen keuangan, kedisipinan, dll.

Di sinilah letak perbedaan antara #BankirPemberdaya BTPN Syariah dengan bankir dari institusi perbankan yang lain. #BankirPemberdaya BTPNS diharapkan dapat menjadi teladan bagi para nasabah prasejahtera mereka dalam hal kedisiplinan, motivasi, percaya diri, dan berbagai hal positif lainnya. Bukan hanya saya yang salut dengan cara kerja bisnis pembiayaan dari BTPN Syariah ini, teman-teman wartawan lain pun merasa kagum dan baru kali ini menemui hal seperti ini. 

Tim CO inspiratif yang bertemu dengan kami malam itu adalah seorang gadis manis bernama Nining (Ni Wayan Suryaningsih). Gadis asli Bali yang telah 4 tahun menjadi CO ini menjelaskan perjuangannya menjalani profesi yang dicintainya. Meskipun bukan seorang muslimah, tidak menjadi penghalang baginya untuk bekerja di bank yang menggunakan sistem syariah. Bahkan ada beberapa nasabahnya yang juga bukan seorang muslim. Dan mereka juga tidak masalah dengan adanya sistem syariah yang digunakan oleh BTPNS.

Dari mbak Nining ini saya belajar banyak tentang BTPN Syariah. Betapa bank ini sangat memerhatikan karyawannya, mulai dari lini terbawah sekalipun. Para CO yang seluruhnya perempuan ini disediakan wisma khusus di daerah yang dekat dengan lokasi nasabah prasejahtera mereka. Kendaraan pun khusus kendaraan manual, tidak boleh menggunakan kendaraan matic, karena medan yang dihadapi cukup berat, harus masuk ke berbagai pelosok desa.

Community Officer bertemu dengan nasabah prasejahtera (Foto: BTPNSyariah.com)

Ketika ditanya, apa yang membuat para nasabah prasejahtera tertarik menabung dan melakukan pinjaman di BTPN Syariah? Dijawab oleh mbak Nining, karena para CO fokus kepada pelayanan terbaik bagi nasabah prasejahteranya. Bukan hanya menarik uang sja, tetapi lebih dari itu, para nasabah juga diberikan tips khusus, seperti tips cara mengatur keuangan, tips kesehatan, bahkan ada yang meminta diberitahu tips tentang rambut beruban 🙂 Intinya, para CO ini seperti tempat curhat dan menjadi seorang guru/leader bagi para nasabahnya.

Nining juga bercerita, dari 4 tahun menjalani profesi CO ini ia sudah berhasil mencicil rumah untuk kedua orang tuanya dan membiayai kuliah adiknya. Saat ini ia sedang dalam masa promosi untuk menjadi seorang SCO (Senior Community Officer), jabatan yang lebih tinggi lagi di atas CO. Kita doakan bersama ya, mbak Nining dapat terus berprestasi dalam profesinya ini.

Malam itu saya kembali ke hotel dengan membawa banyak memori berharga. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam saya sudah bertemu dengan aneka karakter manusia dan profesi mereka masing-masing. Dan semuanya sungguh inspiratif sekali. Dari mereka semua saya banyak belajar bahwa perjuangan hidup saya belumlah seberapa dan tak ada apa-apanya dibanding mereka.

Saya (no. 2 dari kiri) bersama teman media dan tim BTPN Syariah. Terima kasih BTPNS… (Foto; dok. Rony/Harian Nusa)

Terima kasih BTPN Syariah atas kesempatan yang diberikan. Saya belajar banyak hal tentang sisi lain perbankan syariah dari institusi ini. Bukan sekadar berfokus pada pembangunan yang bersifat materi saja, tapi jauh di balik itu ada tanggung jawab moral mengubah mental dan karakter para nasabah prasejahtera dan keluarganya menjadi lebih berdaya guna.  Luar biasa….

Baca Juga

Traveloka Xperience, Pesan Tiket Masuk ke Jogja Bay Waterpark Jadi Mudah dan Menyenangkan

Pertama kali mendengar “Traveloka Xperience” setelah diberitahu oleh seorang mata-mata bayaran yang bertugas mengamati segala hal kekinian yang sedang ngehits kwkwkwk…. Yup, siapa lagih kalau bukan si little princess Lubna 😀 *ehh jangan dipanggil little princess lagi, nanti dia protes karena sudah beranjak di usia 10 tahun, heheheee….

Lubna memberi tahu ibunya ini setelah melihat tayangan iklan Traveloka Xperience di televisi. Waktu itu saya enggak terpikir sama sekali untuk mengecek menu baru itu di Traveloka, karena memang sudah lama enggak jalan-jalan ke luar kota dan melakukan booking transportasi darat dan udara melalui platform OTA (online travel agent) satu ini.  Aplikasinya pun sudah saya parkirkan karena efek gadget yang mulai lelah menyimpan beraneka data dan belum di-manage ulang.

Jujur dan ngaku, tapi jangan disetrap yakk… 😀 selama ini saya hanya paham bahwa Traveloka adalah platform untuk booking hotel dan tiket aja, belum pernah mencoba reservasi berbagai macam kategori menu lain yang ada di situ. Jadilah ketika tahu ada menu baru Traveloka Xperience (yang ternyata adalah rebranding dari menu lama Aktivitas dan Hiburan dengan penambahan beberapa fasilitas dan jangkauan), saya kemudian kepo menelusurinya.

Apa Itu Traveloka Xperience? Baca Lanjutannya, yuk!

Bukan rahasia lagi jika Traveloka selama ini telah menjadi platform favorit untuk pemesanan tiket transportasi dan akomodasi, beserta paket penginapan dan segala hal yang terkoneksi bagi para traveler, dengan harga yang sangat bersaing dan terpercaya.

Kamu tahu enggak, sih, sekitar 100 maskapai domestik dan internasional telah bekerja sama dengan Traveloka untuk melayani lebih dari 200.000 rute penerbangan ke seluruh dunia, lo, sehingga tak heran jika perusahaan ini memiliki banyak inventori pemesanan akomodasi, mulai dari hotel, apartemen, vila, dan banyak lagi.  Tidak tanggung-tanggung, Guys, Traveloka juga didukung lebih dari 40 metode pembayaran untuk seluruh pelanggan di beberapa negara Asia Tenggara, serta fasilitas customer service yang siap melayanimu selama 24 jam nonstop. Ketje, bukan?…

Beberapa submenu yang berhubungan dengan sarana aktivitas dan  hiburan dapat kamu temukan di Traveloka Xperience, antara lain:

  • Atraksi
  • Bioskop
  • Spa dan kecantikan
  • Event
  • Hiburan
  • Olahraga
  • Makanan dan minuman,
  • Transportasi, dan banyak lagi lainnya
Tampilan menu Traveloka Xperience di smartphone

Salah satu yang menarik untuk saya sebagai kaum hawa yang pastinya selalu menyukai segala hal berbau diskon adalah adanya potongan harga apabila kamu melakukan pemesanan beberapa tiket hiburan dan rekreasi melalui Traveloka. Contohnya, dalam submenu Atraksi, saya menemukan fasilitas pemesanan tiket masuk ke wahana rekreasi Jogja Bay Waterpark di Yogyakarta.

Wahana Jogja Bay Waterpark ini lokasinya enggak begitu jauh dari tempat tinggal saya. Selama ini sudah beberapa kali ke sana, kadang bareng keluarga dan ada kalanya juga bareng rombongan sekolah Lubna.  Jika dilihat sekilas harga tiket masuknya, wahana rekreasi air satu ini memang lebih tinggi harga tiketnya dibandingkan arena permainan sejenis di Yogyakarta. Tapi sebenarnya worth it lah ya, karena fasilitas dan wahana permainan yang disediakan memang lengkap, dan satu lagi yang penting, aman untuk seluruh keluarga, meski untuk anak kecil sekalipun.

Untuk kamu yang selama ini masih suka membeli tiket langsung di loket pintu masuk Jogja Bay Waterpark, enggak ada salahnya mulai menggunakan kemudahan fasilitas dari Traveloka Xperience, lo! Selain lebih hemat karena ada diskon khusus sesuai promo yang sedang berlangsung, *wahhh…. akuhh banget inih 😀 …, kamu juga akan mendapatkan kemudahan akses masuk di loket khusus Traveloka Easy Access. Jadi enggak perlu antri lama lagi deh seperti pengunjung lainnya di pintu masuk. Duhhh… tjakep mah kalau gini. Secara dulu saya pernah antri lumayan luaaama pas peak season liburan karena begitu banyaknya pengunjung, terutama rombongan traveler dari luar kota.

Cara Melakukan Pemesanan Tiket Masuk

Kalau kamu belum punya akun di Traveloka, saya sarankan segera bikin saat ini juga, ya. Bukan apa-apa sih, manfaatnya itu lo, ternyata banyak banget, Guys!

Setelah bikin akun dan login, kamu bisa langsung klik menu Xperience. Nanti di sana ada banyak penawaran submenu yang bikin mupeng, lengkap dengan berbagai diskon menarik, sesuai kota yang kamu inginkan untuk dikunjungi.

Tampilan login atau pendaftaran akun Traveloka di smartphone

Untuk pemesanan tiket masuk Jogja Bay Waterpark sendiri, kamu dapat lakukan langkah-langkah berikut ini. Gampang banget, kok!

  1.  Login ke akun Traveloka-mu
  2. Pilih menu Xperience
  3.  Pilih submenu Atraksi, lalu pilih kota Yogyakarta
  4.  Cari destinasi Jogja Bay Waterpark
  5.  Klik tombol Cari Tiket
  6.  Periksa kategori tiket masuk yang kamu inginkan. Apakah ingin masuk ke wahana tersebut di hari kerja (Senin – Jumat), atau ingin di akhir minggu (Sabtu – Minggu), karena ada perbedaan harga di hari kerja dan akhir minggu.
  7.  Kalau kamu memilih harga di akhir minggu, ada potongan harga sekitar 10% dari harga normal Rp 100.000 menjadi hanya Rp 84.500 per orang (khusus dewasa).
  8.  Ada pula pilihan harga paket lainnya untuk akhir minggu, yaitu: Paket Fun Akhir Pekan (Rp 160.000), Paket Adventure Akhir Pekan (dari harga normal Rp 170.000 menjadi hanya Rp 164.900), dan Paket Premium Akhir Pekan (dari harga normal Rp 200.000 menjadi Rp. 194.000).
    Waduhhh…. lumayan banget kan diskonnya kalau pesan lewat Traveloka? 🙂
  9.  Untuk anak di bawah usia 2 tahun kamu enggak perlu khawatir ya, masuknya gratis alias free. Sedangkan anak-anak dengan tinggi badan < 110 cm mendapatkan harga tiket khusus sebesar Rp 63.000.
  10.  Setelah memilih tiket yang kamu inginkan, klik tulisan Ubah Tanggal untuk memasukkan tanggal berkunjung yang diinginkan.
  11.  Isi data dirimu dan lanjutkan ke proses pembayaran. Tak perlu khawatir karena Traveloka telah bekerja sama dengan begitu banyak partner pembayaran, termasuk beberapa toko retail seperti Alfamart, Alfamidi dan Indomaret. Sangat mudah dan terjangkau bukan?
  12.  Untuk penukaran e-voucher tiket masuk dari Traveloka, kamu cukup menunjukkan bukti e-voucher yang ada di smartphone-mu kepada petugas di loket khusus Traveloka Easy Access di wahana atau tempat yang ingin kamu kunjungi. Jadi enggak perlu lagi tuh ada bukti bayar atau pencetakan dalam bentuk kertas. Paperless banget kan, sesuai dengan kampanye penyelamatan lingkungan dan penghematan sumber daya alam yang sedang digalakkan belakangan ini. Sampai sebegini jauh ya pemikirannya, tjakeppp banget dah….

Gimana, sangat mudah bukan proses pemesanan tiket masuknya?

Setelah tahu caranya, saya jadi makin semangat nih pantengin berbagai promo yang ada di Traveloka. Next pengen banget bisa ajak Lubna ke Candi Borobudur dengan cara beli tiket masuknya lewat Traveloka Xperience aja. Kan ada diskon dan fasilitas easy access-nya biar enggak antri masuknya…

Pengen juga dapetin diskon aneka makanan dan minuman di outlet Jogja Scrummy-nya Dude Harlino atau Mamahke Jogja-nya Zaskia Mecca *halahhh…. sabarrrrrrr, satu per satu dong, ah! ^_^

Mungkin ada di antara kamu yang juga punya pengalaman dan cerita menarik setelah menggunakan fasilitas asyik dari Traveloka Xperience ini? Feel free to share di kolom komentar ya, Guys, biar kita semua bisa saling berbagai manfaat satu sama lain.

Yuk, nikmati berbagai #XperienceSeru hidupmu bersama kecepatan dan kepraktisan layanan Traveloka dalam berbagai metode pembayaran dan aneka bahasa. Tunggu apalagi, Guys?

Pertama Kali ke Luar Negeri? Ini 5 Tips saat Nyasar di Negeri Orang ala Saya

Ini adalah pengalaman nyasar alias salah jalan paling mendebarkan seumur hidup yang belum pernah saya ceritakan kepada siapa pun. Satu-satunya orang yang pernah saya ajak cerita adalah ibu saya. Itu pun setelah satu tahun peristiwa ini terjadi, dan seperti dugaan saya, beliau tetap saja merasa kaget, berkali-kali mengucap syukur karena anak perempuannya ini bisa kembali ke rumah dengan selamat dan tak lupa menahan gejolak jantungnya yang serasa mau copot saat mendengar kisah ini. Was-was dan khawatir itu pasti, meskipun sudah berlalu satu tahun yang lalu 😀

Peristiwa ini terjadi pada bulan April 2018 saat perjalanan dari Jakarta menuju Madinah via Istanbul. Waktu itu pesawat Turkish Air yang saya tumpangi transit di Bandara Ataturk, Istanbul selama 12 jam. Saat akan melanjutkan penerbangan ke Madinah itulah saya terpisah dari anggota rombongan lainnya.

Bandara Ataturk, Istanbul saat Subuh tiba. Masih lengang.

Kondisi badan saya saat itu memang sedang kurang fit, sedikit menggigil dan kedinginan. Mungkin karena lebih dari 24 jam terpapar AC terus-menerus, mulai penerbangan dari Yogya – Jakarta – Istanbul, lalu saat keliling kota seharian naik bis, ditambah kondisi temperatur musim semi di kota Istanbul yang sedang berada di kisaran 15 derajat celsius. Apalagi saya termasuk orang yang alergi dengan hawa dingin, terutama kalau terlalu lama berada di ruangan ber-AC.

Sebenarnya saya tidak terpisah sendiri. Ada 2 orang ibu-ibu anggota rombongan lainnya yang sudah sepuh (lanjut usia) juga berjalan bersama saya. Salah saya juga sebenarnya karena waktu itu minta tolong kepada Ibu Yanti (salah satu dari mereka) untuk memerhatikan anggota rombongan lainnya yang berada di depan, agar jangan sampai terpisah dari yang lainnya. Nah, qadarallah, ibu Yanti ini salah melihat jalan.

Ketika ada persimpangan di ruang tunggu bandara, ibu Yanti memilih tetap berjalan lurus, sementara anggota rombongan lainnya ternyata berbelok ke arah kanan. Karena saya hanya mengikuti instruksi ibu Yanti, akhirnya saya pun juga memilih jalan lurus bersamanya dan ada satu ibu lagi, sebut saja ibu Ana, yang juga sudah lanjut usia, sebaya dengan ibu Yanti.

Setelah berjalan menyusuri koridor ruang tunggu Bandara Ataturk hampir 10 menit dan tak menemukan satu pun anggota rombongan lainnya, sadarlah saya bahwa kami bertiga telah tersesat dan nyasar, alias salah jalan. Heeuuu… enggak usah dibayangin seperti apa rasanya. Kepala langsung cenut-cenut, jantung berdetak kencang seperti lagi balapan naik motor 100 km/jam, ketambahan badan juga lagi enggak karuan. Tapi saya enggak boleh begini terus. Pikiran sadar saya mulai bekerja.  Buru-buru cek nomor pintu keberangkatan di tiket yang saya bawa. Qadarallah, pintu keberangkatan belum tertulis di sana. Tambah lemaslah badan saya, huhuhuuu…. Mau telepon dan kirim kabar ke grup WA juga enggak bisa karena paket kartu provider saya hanya bisa digunakan di Saudi Arabia, bukan di Turki. Sebenarnya di bandara ada free wifi, tapi payahnya, pikiran saya sama sekali enggak mikir ke situ, sudah terlanjur panik duluan.

Opsi selanjutnya, akhirnya saya perhatikan layar monitor keberangkatan yang terpampang di ruang tunggu, di mana tertulis nama pesawat, negara tujuan, dan nomor pintu keberangkatan. Sayangnya, ada ratusan informasi penerbangan yang berubah begitu cepat. Mata saya tak sanggup mengikutinya. Paris-Milan-Amsterdam-Berlin-London-Moskow, dan beberapa nama kota di benua Eropa sebenarnya cukup membuat hati saya terpekik bahagia. “Allahhhhh….. aku sudah sampai di Eropaaaa…. terima kasihhh!!!!”  pekik girang dan lebay sebagian hati saya, sementara separuh hati saya yang lainnya sedang berguncang hebat dan gemetar karena sadar sedang dalam masalah besar.

Saya ingat, waktu itu sempat melirik arloji di tangan. Sudah hampir pukul 20.30 waktu Istanbul, padahal di tiket yang saya bawa tertulis, pesawat dijadwalkan take off ke Madinah pada pukul 21.00. Yaa Robb, bibir saya komat-kamit berdoa, “Hanya Engkau yang mampu menolong hamba. Kalau sampai tertinggal di sini hamba tak bisa pulang….” pinta hati saya pasrah.

Beberapa kali saya mencoba bertanya kepada petugas yang lalu lalang, tapi tak pernah digubris sama sekali karena mereka juga sedang sibuk. Yup, di Turki semua orang bergerak serba cepat. Jalan aja mereka gesit banget. Memang sih mereka cakep-cakep, enggak ada deh yang jelek, persis seperti terlihat di serial Turki televisi 😀 Tapi secara karakter, ternyata orang Turki itu keras dan kaku 🙁 Sempat melintas seorang petugas wanita di depan saya. Saya pun mencoba bertanya kepadanya dengan sopan. Sayangnya, ia membentak karena saat yang bersamaan telepon genggamnya juga berbunyi, “Heiiii kamu enggak lihat telepon saya sedang bunyi??!!” semburnya. Beuhhh…. jutek amat sikk, pekik saya dalam hati. Iya, cuma dalam hati, karena orang bingung kan itu dilarang ngeluh ya, apalagi ngedumel. Bolehnya cuma berdoa 😀

Setelah lelah menyusuri koridor ruang tunggu sampai keringat dingin keluar semua dan napas yang sudah tak karuan, saya lalu berhenti di depan layar monitor informasi keberangkatan. Kali ini saya coba tenangkan diri dan berdamai dengan diri sendiri. Satu demi satu tulisan yang bergerak cepat itu saya perhatikan. Setelah beberapa menit terpaku pasrah di depan layar monitor, Alhamdulillah, muncul juga informasi keberangkatan pesawat Turkish Air yang saya tumpangi beserta nomor pintu keberangkatannya. Benarlah bahwa pertolongan Allah datangnya justru pada saat kita sudah dalam kondisi pasrah, sepasrah-pasrahnya. Allah ternyata ingin melihat sejauh mana ikhtiar kita mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapi.

Setelah dapat nomor pintu keberangkatan, saya bergegas mengajak dua orang ibu-ibu yang hanya mampu mengikuti saya sedari tadi menuju pintu keberangkatan yang dimaksud. Apakah langsung ketemu? Enggak juga, kan pintu keberangkatannya juga ada puluhan (atau mungkin ratusan? Entahlah, mana sempet ngitung… ) Tapi untungnya, di pertengahan jalan kami bertemu dengan putra ibu Ana yang ternyata juga sedang mencari-cari ibunya. Nah, di sini saya jadi heran. Kok bisa sih anak ibu Ana membiarkan ibunya terpisah dari dirinya? Kalau saya bawa orang tua pergi, apalagi ke luar negeri, enggak bakalan deh saya jauh-jauh dari orang tua. Pokoknya orang tua harus selalu di dekat saya. Gitu kan ya seharusnya?

Dari kejadian di atas, saya simpulkan, ada beberapa tips ala saya yang sebaiknya dilakukan pada saat kita sedang dalam kondisi nyasar dan terpisah dari rombongan, sehingga tak tahu apa yang harus dilakukan.

1. Be Calm

Tenang. Kata ini mungkin enggak populer pada saat kita sedang panik. Tapi sebenarnya ini bisa jadi jalan keluar pertama agar akal kita bekerja pada jalur yang sebenarnya. Pada saat kita sedang panik atau kemrungsung (bahasa Turki ehh Jawa 🙂 ), saat itulah semua jalan seolah tertutup. Kepala panas, jantung berdebar kencang, di atas mata terasa cenut-cenut tak karuan. Kalau sudah begini, coba deh tarik napas panjang, tahan 7 hitungan, lalu hembuskan perlahan-lahan. Dulu saya belum tahu cara ini, asal menenangkan diri aja. Setelah beberapa kali kamu lakukan tarikan napas itu, mulailah berpikir dengan akal sehat apa solusi pertama yang harus dilakukan.

2. Berdoa

Apalah daya kita tanpa tuntunan dan kekuatan dari-Nya. Doa itu sesuatu yang rasanya abstrak, tak berbentuk. Tapi uniknya, keajaiban justru berasal dari situ.

3. Berpikir Positif

Mungkin ini terdengar sungguh klise, ya. Mana sempat sih lagi cemas dan ketakutan kok disuruh mikir positif. Tapi ini bener, lo! Panik itu boleh, enggak ada yang larang. Cuma enggak perlu lama-lama. Waktu itu saya sempat berpikir, bagaimana seandainya ketinggalan pesawat dan enggak bisa lanjut penerbangan ke Madinah? Artinya saya harus tinggal di Turki, padahal uang saku enggak cukup buat beli tiket pulang ke Indonesia. Tapi buru-buru pikiran buruk itu saya usir. Kalau kita kelamaan berandai-andai, kapan ketemu solusinya? Ye kan?

4. Lakukan Semua Solusi yang Ada di Pikiranmu, Tapi secara Step by Step

Apa pun solusi yang terbersit di pikiranmu, lakukan saja! Just do it! Kalau masih bisa menghubungi keluarga atau teman seperjalanan, segera hubungi secepatnya. Tapi pada kasus saya di atas, di mana tidak ada jaringan seluler, maka satu-satunya cara adalah bertanya pada orang yang ada di sekeliling kita. Jika satu orang tak memberi jawaban memuaskan, cari orang lainnya. Kalau perlu, hubungi polisi atau petugas resmi yang terpercaya. Apalagi untuk traveller baru seperti saya yang rawan terkena kasus penipuan, sebaiknya bertanya kepada orang yang dapat dipercaya. Lakukan saja semua solusi yang terbersit di pikiran saat itu, tapi satu per satu, step by step. Kita tak pernah tahu mana dari berbagai cara itu yang akan menghasilkan jalan keluar terbaik. Tapi, percayalah, pasti ada solusinya.

5. Mandiri

Satu kesalahan saya adalah, terlalu menggantungkan diri pada orang lain. Seharusnya dalam keadaan tak enak badan pun saya harus mandiri, tidak sekadar mengikuti orang lain yang juga sama tidak pahamnya tentang situasi dan kondisi yang ada seperti saya. Seandainya ingin minta bantuan, saya seharusnya meminta bantuan kepada koordinator rombongan. Sikap mandiri dalam melakukan perjalanan ini mutlak diperlukan, meskipun kita sedang bepergian bersama pasangan, keluarga, ataupun teman-teman, karena segala sesuatu bisa terjadi. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di dalam perjalanan nanti. Bisa saja terpisah, tertinggal, kehilangan jejak, miskomunikasi, dll.

Akhirnya… Alhamdulillah, bisa juga saya melanjutkan perjalanan ke Madinah malam itu dengan tubuh dan pikiran yang sudah luluh lantak tak karuan. Ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga buat saya. Tapi di satu sisi, peristiwa nyasar dan terpisah dari rombongan ini juga menumbuhkan keberanian untuk saya, bahwa yang namanya perjalanan pasti akan membawa banyak hal dan pengalaman berharga. Tak perlu ada yang ditakutkan di dunia ini selama ada Allah di hatimu. Jangan pernah takut atau trauma bepergian lagi, asal pastikan kamu selalu dalam kondisi yang aman.

Untuk kamu yang muslimah, sebenarnya ada larangan agar tidak bepergian tanpa didampingi oleh mahrom. Tetapi beberapa pendapat lagi membolehkan, asal bersama rombongan dan terjamin keamanannya, bukan pergi seorang diri.

Baca juga

#ODOP #EstrilookCommunity #Day1

5 Kuliner Khas Lombok Favorit Saya

Salah satu hal yang paling berkesan dan bikin betah kalau lagi di Lombok buat saya adalah makanan khasnya. Yup, mungkin karena saya lahir dan besar di sana, jadi lidah dan otot syaraf indera pengecap di dalam mulut sudah terlalu biasa dengan rasa pedas dari kuliner khas pulau ini.

Selain menggunakan terasi sebagai bumbu wajibnya, kuliner Lombok identik dengan sambal yang dibuat dari sebiye bideng (cabe merah keriting yang dijemur sampai kering dan kehitaman). Bahan khas ini yang bikin rasa pedasnya berbeda dengan daerah lain.

Kamu penasaran enggak apa saja kuliner khas Lombok yang menjadi favorit saya dan bikin pengen nambah terus meskipun makannya sambil kepedasan? 5 di antaranya ada di bawah ini, Guys! Eitsss… tapi bacanya jangan sambil nelen ludah, yak…. 😀

1. Pelecing Kangkung

Image : Senggigitour.com

Pelecing kangkung. Kuliner Lombok yang satu ini seolah menjadi ikon kuliner pulau seribu masjid ini. Bahan dasarnya adalah kangkung asli Lombok yang direbus dan disajikan dalam keadaan dingin. Untuk campurannya, ada sambal terasi, parutan bumbu kelapa yang dibakar, taoge, kacang goreng, dan kucuran jeruk limau yang menjadi ciri khas kuliner masyarakat Sasak, penduduk asli pulau Lombok.

Oiya, kangkung asli Lombok ini batangnya besar-besar dan segar, berbeda dengan kangkung dari daerah lain yang mudah layu saat direbus. Ini yang membuat sensasi kangkung Lombok lebih renyah saat digigit. Di beberapa daerah, seperti Yogyakarta tempat domisili saya sekarang, kangkung Lombok kadang dijual di supermarket atau swalayan besar. Tapi tentu saja harganya sedikit lebih tinggi daripada kangkung biasa.

 2. Ayam Taliwang

Image : Cookpad.com

Kuliner ayam taliwang ini biasanya disajikan bersama dengan pelecing kangkung. Ayam taliwang adalah ayam bakar khas Lombok, berbahan dasar ayam kampung yang masih muda. Sebelum dibakar, ayam taliwang dibumbui dulu dengan cabe merah kering yang dijemur (sebiye bideng), terasi, bawang putih, bawang merah, kencur, gula merah, santan, dan jeruk limau. Untuk kamu yang enggak suka pedas, tak perlu khawatir. Ada, kok, rumah makan ayam taliwang yang menyajikan ayam taliwang dengan menu ayam madu.


3. Sate Pusut

Image : Cookpad.com

Kalau kamu suka makan olahan sate, cobain, deh, sate yang satu ini. Bahan utamanya adalah kelapa parut yang dibumbui pedas dengan cabai, bawang merah, bawang putih, dan tentu saja terasi tak pernah ketinggalan. Setelah semua bahan tercampur, baru dibakar. Untuk variasi, kamu juga bisa menambahkan bahan daging atau ikan pada campuran kelapa parut. Rasa satenya akan lebih padat dan lebih tinggi protein.

4. Beberuq

Image : cookpad.com

Beberuq ini bikinnya simpel banget, karena merupakan olahan sambal yang berbahan dasar terong ungu bulat segar dan masih muda. Jika tak ada terong ungu, kamu bisa ganti dengan terong hijau. Tapi, di Lombok, terong yang dipakai umumnya memang terong ungu. Seperti biasa, bahan utama sambal di Lombok adalah terasi Lombok yang sangat khas, tomat, cabe merah, bawang merah, dan jeruk limau.Potong terong berbentuk dadu kecil-kecil, campur dengan sambal terasi, lalu kucuri dengan minyak panas. Hmm … aromanya dijamin bikin kamu ngiler dan langsung mengambil sepiring nasi hangat.

 5. Nasi Balap

Image : Senggigitour.com

Nah, kalau ini kuliner khusus buat kamu yang suka makan nasi sambil balapan. What?? Hehe …

Nasi balap terkenal juga dengan sebutan nasi puyung, karena berasal dari desa Puyung, sebuah desa di kawasan Lombok Tengah. Lauknya sebenarnya sangat sederhana, cuma irisan daging ayam berbumbu pedas khas Lombok (ayam pelalah), kering kentang, kedelai goreng, dan kadang disertai irisan telur dadar. Nyam … nyam … meskipun sederhana, tapi lezatnya jangan ditanya. Sensari gurih dan pedas dari nasi balap yang nendang bikin jantungmu berdetak lebih kencang karena kepedasan, dan kamu bakal ketagihan untuk nambah dan nambah lagi. Wah, tambah kurus dong saya.. ^^

Untungnya, di Yogyakarta sekarang banyak yang membuka usaha kuliner dengan menu khas Lombok ini. Ada yang memang pemiliknya orang Lombok asli, tapi ada juga yang pemiliknya warga Yogya dan dahulu pernah tinggal lama di pulau Lombok. Terutama untuk menu Nasi Balap, di beberapa bagian daerah kampus banyak tersebar penjual nasi ini dengan harga yang relatif terjangkau, sekitar Rp8.000,- sampai Rp10.000,- per bungkus.

Jadi, kamu pilih yang mana dari 5 makanan di atas? Kalau ngerasa takut berat badan nambah, sepertinya kamu lebih baik pilih aja pelecing kangkung, ya, jangan yang lain… *pissss 😀

Baca juga

#SETIP_Day12 #SemingguTigaPostingan #EstrilookCommunity

Grhatama Pustaka Yogyakarta, Sarana Melihat Jendela Dunia

Little princess Lubna, girl wanna be…

“Buku adalah jendela dunia…”

Ungkapan ini saya baca pertama kali sejak masih duduk di bangku SD. Melalui buku, kamu dapat berpetualang keliling dunia tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak dan memikirkan urusan transportasi, akomodasi, dan ittinerary, alias jadwal perjalanan plus anggarannya… 🙂

Saya masih ingat jelas, punya cita-cita dan impian pengen ke Jepang, setelah membaca sebuah buku tentang budaya dan kebiasaan masyarakat di negeri Sakura itu saat duduk di kelas 6 SD. Keinginan itu sempat muncul kembali setelah selesai kuliah, yang kemudian mendorong saya untuk belajar bahasa Jepang demi cita-cita bekerja di sana. Nah, loh… sampai segitunya, ya 😀

Sekarang sudah tercapaikah impian ke Jepangnya? Jawabannya, belommm… *ihhiksss…

Sekarang, impian ke Jepang sudah bergeser dan tertutup oleh keinginan berkunjung ke negeri asal muasal bunga Tulip, alias Turki, demiiiiii…. Demi apa coba? Demikian hehheee… Apalagi kalau bukan demi meihat indahnya sejarah Islam di Eropa, melalui kokohnya arsitektur Hagia Sophia dan syahdunya penampakan Blue Mosque tercinta. Lagi-lagi, keinginan kuat ke Turki ini juga muncul setelah melihat film dan membaca novel populer 99 Cahaya di Langit Eropa-nya Hanum Rais.

Tanpa saya sadari, kebiasaan masa kecil membaca buku tentang indahnya dunia, mulai menurun kepada Lubna, little princess yang mulai beranjak ABG. Hobi membacanya mulai muncul sejak satu tahun yang lalu, saat Lubna duduk di kelas 2 SD. Kesukaannya membaca ini mengalami perkembangan yang cukup dahsyat menurut ibunya, karena di kelas 3 SD ini dia sudah PD bilang bahwa membaca adalah “makanan” baginya. Dengan kata lain, kalau enggak baca artinya sama aja dengan enggak makan. Badan jadi lemes dan uring-uringan 😀

Alhamdulillah, sekarang Lubna sudah jarang banget ke mall. Setiap akhir minggu sudah ada tempat favorit dan asyik untuk dia refreshing, namanya Ghratama Pustaka. Dari namanya sudah bisa ditebak bahwa tempat ini berhubungan dengan buku, ye, kan?

Yup, enggak salah. Ghratama Pustaka ini dulu nama lainnya adalah Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Zaman saya masih kuliah, perpusda ini terletak di area dekat Malioboro. Sesekali dulu saya sempat juga meminjam buku di sana.

Sejak 21 Desember 2015, perpusda Yogyakarta menempati gedung baru yang megah dan berpindah lokasi ke Jalan Janti, Banguntapan, Bantul. Lokasinya bersebelahan persis dengan gedung ekspo terbesar di Yogya, yaitu JEC alias Jogja Expo Centre. Sri Sultan Hamengkubuwono X yang meresmikan perpusda ini kemudian memberi nama baru, Ghratama Pustaka. Ghratama berarti rumah, Pustaka berarti buku.

Gedung yang megah dengan 4 menara yang memiliki filosofi tersendiri.
(Image : twitter.com/infojogja)

Perpustakaan megah, nyaman, dan mirip arena bermain ini dibangun di atas lahan seluas 2,4 hektar. Fasilitas yang disediakan sangat lengkap, lho. Ada ruang bioskop 6D, ruang anak-anak, ruang musik, ruang bermain, berbagai akses untuk koleksi digital, dan pastinya free hotspot.

Kamu tahu pembangunan gedung baru ini menghabiskan biaya berapa? Enggak tanggung-tanggung, Guys, anggarannya mencapai Rp 72,5 miliar. Hemmmm….. pantesss nyaman banget 🙂

Kalau ke Ghratama, Lubna paling suka ke ruang baca anak dan nonton bioskop 6D. Oya, kalau mau pinjam buku, kamu harus membuat Kartu Anggota dulu ya. Biayanya berapa? Gratissss, kok, untuk semua usia. Syarat bikinnya cukup menunjukkan KTP (untuk umum) dan Kartu Pelajar atau Kartu Keluarga (untuk anak-anak). Setelah mengisi data diri, kamu akan dipersilakan ke ruang foto untuk langsung difoto seperti kalau kita membuat KTP.

Ruang Baca Anak

.

Interior ruang baca anak yang menarik, penuh warna

Ruang baca ini berada di lantai 1. Selain Ruang Baca Anak, ada juga beberapa ruang untuk anak di lantai ini, seperti Ruang Musik, Ruang Bermain, Ruang Mendongeng, dan Ruang Bioskop 6D. 

Interiornya nyaman, penuh warna, dan, disediakan kursi-kursi kecil warna-warni plus meja bundar besar untuk tempat anak-anak membaca. Terdapat beberapa sofa santai juga di dalam ruangan. Pokoknya cozy banget, deh. Apalagi buat orang tua, bisa istirahat sekaligus wifi-an di sini hihiii…

Senangnya melihat anak-anak kita mencintai buku sejak kecil

Koleksi buku anaknya cukup lengkap, mulai dari buku pengetahuan, novel, komik, sampai buku untuk anak-anak balita semua ada di Ruang Baca Anak ini. Recommended banget untuk sarana melatih anak cinta buku.

Ruang Biokop 6D

.

Tiket nonton sinema 6D-nya murah, kan? 🙂

Kalau kamu lelah membaca, jangan lupa melipir alias ngungsi ke Ruang Bioskop 6D ini ya. Cukup dengan tiket seharga Rp10.000 saja per orang, kita akan dimanjakan dengan keseruan melihat tayangan sinema 6 dimensi sambil berteriak-teriak histeris sepuasnya.

Banyak genre film yang bisa dipilih, mulai dari petualangan, sampai tema horor

Sensasinya bak naik roller coaster, karena kursi sinemanya bisa bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti alur pergerakan di film. Ada kacamata khusus yang harus kamu gunakan agar apa yang tampil di layar seolah nyata kita alami 🙂 Seru deh, pokoknya. Bukan cuma untuk anak, lho, ya. Yang dewasa juga boleh banget, karena tema filmya bermacam-macam.

Jadwal Buka Perpustakaan

Banyak yang mengira Grhatama Pustaka tutup.pada hari Minggu. Padahal sebenarnya tetap buka. Jadwalnya di bawah ini ya:

Senin s/d Jumat : pukul 08.00 – 22.00 WIB.
Sabtu & Minggu : pukul 08.00 – 16.00 WIB.

Fasilitas Lainnya

Gedung megah Grhatama Pustaka terdiri atas 3 lantai.
Kalau tadi di Lantai 1 khusus untuk koleksi anak, di Lantai 2 merupakan ruang layanan untuk Koleksi Umum, Koleksi Braille, Ruang Pameran, dan ada Auditorium. Kemudian di Lantai 3 ada ruang layanan Koleksi Digital, layanan Majalah dan Surat Kabar, layanan Skripsi, Peraturan Perundangan, dan ada pula Ruang Audio Visual.

Oya, di halaman depan Grhatama yang sejuk dan hijau ini juga ada pendopo luas untuk duduk-duduk atau diskusi bareng teman-temanmu. Bisa juga menjadi ajang foto karena rumputnya yang begitu asri dan tertata rapi. Ruang tunggu pengunjung di teras perpustakaan ini juga sangat nyaman dan bersih. Yang jelas, gedung ini bisa menjadi alternatif refreshing kamu dan keluarga, selain ke mall atau kebun binatang.

Jangan lupa mampir ke sini kalau pas liburan ke Yogya, ya! 🙂

#SETIP_Day7
#SemingguTigaPostingan
#Estrilook

Review Jogja Bay Waterpark, Destinasi Wisata Air Terbesar di Yogyakarta

Jangan bosan, ya, kalau saya banyak cerita tentang Yogyakarta, kota yang saat ini saya tinggali, di blog pribadi ini. Tak akan pernah habis kata untuk menceritakan segala sesuatu tentang kota ini, entah dari segi kulinernya, wisatanya, masyarakatnya, dan budayanya. Kali ini kita akan berpetualang ke dunia air, dengan mengeliling destinasi wisata air terbesar di Yogyakarta, yaitu Jogja Bay Waterpark.

Jogja Bay Pirates Adventure Waterpark pertamakali diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada bulan Desember 2015 dengan mengusung tema bajak laut. Desain bangunan pun disesuaikan dengan tema dunia bajak laut, lengkap dengan kapalnya. Destinasi ini sengaja diresmikan menjelang liburan akhir tahun, untuk memancing antusiasme masyarakat bermain air di lokasi wisata ini.

Jogja Bay merupakan wahana wisata air terbesar di Kota Gudeg dan merupakan salah satu wisata air terbesar di Asia Tenggara. Pembangunannya melibatkan banyak infrastruktur dan mayoritas SDM-nya merupakan penduduk yang tinggal di sekitar lokasi, yaitu di daerah Maguwarjo, Depok, Sleman. Kalau kamu adalah fans sepakbola yang sering nonton pertandingan bola di Stadion Maguwohajo, pasti sudah akrab banget dengan Jogja Bay karena lokasi ini berada di sebelah utara persis dari Stadion Maguwoharjo.

Harga Tiket Masuknya Berapa, sih?

Sebagai destinasi wisata air terbesar di Yogyakarta, jangan heran jika harga tiket masuk Jogja Bay di atas rata-rata wisata air lainnya di Daerah Istimewa Yoyakarta. Tapi kamu tetap harus bersyukur, jika dibandingkan dengan harga tiket masuk wisata lainnya di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, harga tiket Jogja Bay Waterpark masih dapat dikatakan normal. Wajar saja rasanya jika kebanyakan pengunjungnya berasal dari luar kota. Biasanya mereka datang berombongan, karena ada harga khusus jika kita datang bersama rombongan.

Ticket box Jogja Bay Waterpark

Memangnya berapa sih harga tiketnya?

Saat awal diresmikan, harga tiket Jogja Bay dipatok Rp90.000,- untuk dewasa dan Rp60.000,- untuk anak-anak. Tapi sejak bulan September 2018 kemarin, harga tiket regular diseragamkan menjadi Rp90.000,- baik untuk orang dewasa maupun anak. Harga tiket regular ini tidak berlaku untuk dewasa yang lanjut usia (manula), karena ada harga khusus yang diberikan. Demikian pula untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun, dapat masuk dengan harga tiket free alias gratis. Asyik, kan? Ayoo yang punya baduta (bayi di bawah dua tahun), buruan datang ke Yogya, ya, kwkwkwk….

By the way busway, itu harga tiket regular lho, ya. Masih ada lagi harga tiket paket yang sudah termasuk fasilitas snack dan makan besar. Oya, kalau masuk Jogja Bay kamu enggak boleh bawa makanan atau minuman. Harus beli di area wisata air dengan harga yang sudah pasti lumayan selisihnya dengan di luar. Yah, konsep bisnisnya memang hebring sih, ini hehehee… Karena itulah pihak Jogja Bay menyediakan harga tiket paketan sebesar Rp125.000,- per orang untuk mereka yang ingin mendapatkan fasilitas snack dan makan besar. Snacknya seharga Rp20.000,- sudah lumayan kok, bikin kenyang. Kemudian makan besarnya berupa voucher senilai Rp25.000,- yang dapat kamu gunakan untuk memilih menu sesuai selera di resto yang telah ditentukan.

Kalau kamu datang dengan rombongan lebih dari 20 orang, ada lagi potongan harga tiket paketannya menjadi hanya Rp90.000-an per orang, sudah termasuk snack dan makan besar. Makanya kalau ke Jogja Bay jangan sendirian, ya! Rugi! Ajakin keluarga, saudara, tetangga biar ramai dan seru liburannya 😁

Wahananya Apa Aja?

Mumpung sudah masuk Jogja Bay, jangan buru-buru pulang. Di sini ada lebih dari 10 wahana permainan air yang dapat memuaskan keinginanmu bermain air sepuasnya.

Kolam renang keluarga yang dilengkapi dengan Mini Bar di bagian tengah kolam untuk kamu yang ingin berenang sambil menikmati minuman.

Selain wahana kolam untuk berenang seperti umumnya kolam renang biasa, Jogja Bay terkenal dengan berbagai wahana airnya yang bikin jantungmu mau copot kalau enggak kuat nahan deg-degannya.

Wahana Memo Racer. Kamu bisa balapan berseluncur bersama teman lain di 8 papan luncur yang berdampingan.
“Meluncur di Memo Racer? Siapa takut?” kata Lubna (kanan) bersama sahabatnya, Khansa 😍

Ada wahana Memo Racer untuk balapan luncur bareng teman-temanmu, ada Brando Boomeranggo yang membuatmu meluncur dan terpental dari ketinggian 24 meter, ada juga South Beach yang membuatmu kaget dengan datangnya deburan ombak tsunaminya. Yang terbaru adalah wahana Museum Air dengan tiket masuk tersendiri seharga Rp25.000,-

Wahana Ziggy dengan arena luncur yang tidak terlalu tinggi. Cocok untuk anak-anak.
Wahana Brando Boomeranggo dengan ketinggian seluncur 24 meter. Ibu hamil dan penderita jantung dilarang naik ini, ya ☺
Image : dok. Jogjabay.com

Saya sendiri sudah coba yang mana? Hehheeehee… dasar nekat, Alhamdulillah, saya lulus uji kelayakan karena berhasil menaklukkan ketakutan diri dengan berseluncur di wahana Brando Boomeranggo setinggi 24 meter sambil teriak-teriak ketakutan, secara saya kan enggak bisa renang hadehhh. Tapiiii pada akhirnya suenennggg dan legaaa sekali masya Allah. Ternyata begini, ya, rasanya berhasil menaklukkan tantangan terhadap diri sendiri. Nagih deh, habis itu pengen ngulang lagi hehheeehee…

Fasilitasnya Lengkap Enggak?

Sebagai destinasi wisata air terbesar di Yogyakarta pasti dong fasilitasnya lengkap dan bersih. Ada musholla, toilet, ruang ganti bilas, aneka resto, mini bar dan coffee shop, gazebo, taman, Jogja Bay store yang menjual aneka suvenir, fasilitas wifi gratis, dan ada pula panggung teater untuk pertunjukan pada waktu-waktu tertentu.

Ada taman yang nyaman untuk duduk-duduk bersantai
Toko suvenir ada di pintu masuk, ada juga di pintu keluar.
The Harbour Theater, panggung pertunjukan yang dapat digunakan untuk berbagai acara. Saat itu digunakan untuk Lomba Angklung SD se-DIY.
Image : dok. Rini Hartati

Oya, jangan lupa ya, Jogja Bay hanya buka sampai jam 17.00 WIB. Jadi semua kegiatan akan dihentikan pada jam tersebut. Seluruh mesin yang dioperasikan pada ombak dan air akan dihentikan dan wahana seluncur ditutup. Tapi kamu masih boleh kok duduk-duduk dan foto-foto di taman sambil melihat matahari sore, menunggu petugas Jogja Bay mengusirmu dari situ qiqiqiii… Kalau saya mumpung sudah sepi langsung manfaatkan untuk memotret beberapa wahana yang ada. Secara pas lagi ramai agak syusyah mengambil angle foto yang bagus, kan, ya.

Nah… gimana cerita saya tentang Jogja Bay, udah lengkap belom??

Udah ah, buruan datang ke sini biar puas lihat sendiri. Sekalian aja habis dari Jogja Bay kamu masih bisa ke destinasi lainnya yang dekat dari situ, seperti Candi Prambanan, Hartono Mall, Ambarrukmo Plaza, Malioboro… Atau mau ke Hutan Pinus Imogiri? Lumayan jauh sih kalau ini, tapi recommended juga sihh. Makanya nginepnya yang lama, yak.. hehheee…. endorse Yogya banget saya mah… 😍

Baca juga 👉 4 Destinasi Bulan Madu di Yogyakarta, Kamu Wajib Baca!

💙💚💜

#SETIP_Day3
#Seminggu Tiga Postingan
#Estrilook


3 Alasan Kenapa Kamu Harus Tinggal di Yogyakarta

Kadang, saya suka bingung sendiri… 

Saya sudah tinggal di kota pelajar Yogyakarta ini kalau nggak salah ingat sejak pertengahan tahun 1993. Waww… udah lama juga, ya? Hampir 16 ehhh 26 tahun ternyataaa 😱 ckckckck… kenapa baru sadar sekarang Ya Allah… 🙈 

Sebelum tinggal di Yogya, saya tinggal nomaden alias berpindah-pindah tempat di beberapa kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat. Setiap 2 sampai 5 tahun sekali biasanya orang tua selalu mendapat surat tugas dari instansinya untuk pindah ke kabupaten lain, meskipun masih di seputaran NTB. Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Kotamadya Mataram, sampai ke pelosok Kabupaten Bima yang panas dan kering kerontang di Pulau Sumbawa pernah saya rasakan. Mungkinnn ini yang menyebabkan saya agak nggak PD kalau ngaku sebagai “wanita Jawa”. Padahal, sudah jelas dan terbukti bahwa Ibu dan Almarhum Bapak adalah orang Yogya tulen. Aselikkk… 😅

Kembali ke laptop..!!

Meskipun hampir 26 tahun tinggal di kota Gudeg ini, jangan harap mendengarkan saya bicara bahasa Jawa melipis dan alusss bak Puteri Kraton. Seringnya, orang Yogya yang ketemu saya pasti tanya, “ Mbak aslinya orang mana, sih?” Nah, ketauan kannn, kalau saya bukan penduduk asli Yogya. Dari logat dan cara bicaranya aja beda 😁 Saya bisanya cuma bahasa Jawa ngoko, alias bahasa sehari-hari macam “Piye kabare, mbakyu?” (Gimana kabarnya, kak?), “Jenengmu sopo?” (Namamu siapa?). Bahasa ngoko ini untuk teman/saudara yang seumuran. 

Ada lagi bahasa yang levelnya lebih tinggi, yaitu bahasa kromo alus (bahasa untuk orang yang lebih tua atau baru kenal), macam “Asmane panjenengan sinten?” (Nama Anda siapa?), “Pripun kabare panjenengan, sae tho?” (Bagaimana kabar Anda, baik kan?)

Nah, kalau bahasa kromo ini saya agak kesulitan menjawab. Apalagi kalau yang bertanya adalah orang yang umurnya lebih tua. Daripada salah jawab dan takut tercampur dengan bahasa sehari-hari (ngoko), lebih baik pakai bahasa Indonesia saja jawabnya. Itulah sebabnya, saya jadi malu ngaku-ngaku jadi orang Yogya, wong bahasa Jawanya aja belepotan macam es krim gitu.

Tapi, meski saya malu dan nggak PD ngaku sebagai orang Yogya, aslinya saya mah cintaaa banget sama kota ini. Iyaa, kota ini banyak mengajarkan saya tentang sopan santun dan etika bergaul terhadap sesama. Tahulah ya, namanya tinggal di luar Jawa sejak lahir dan sering pindah tempat, saya nggak terlalu paham budaya setempat. Mulai ngerti belajar tata krama yang sesungguhnya, ya, di Yogya ini. Sampai kebiasaan memanggil orang dengan sebutan “Mas dan Mbak” untuk menghormati mereka yang baru kita kenal dan belum tahu namanya, semua ada etikanya.

Nah, sekarang saya mau nularin kecintaan terhadap Yogyakarta ini untuk kamu yang baca tulisan ini. Ada 3 alasan yang bakal saya jabarkan, kenapa sebaiknya kamu harus tinggal di kota Gudeg ini. Doakan, yess,  tulisan ini nggak bikin saya diprotes sama orang sekota Gudeg karena ngerasa sebel kota mereka bakal lebih penuhhh dan macet kalau ketambahan penduduk baru lagi…. 🤣

Biaya Hidup Murah

Yuhuuu… udah bukan rahasia lagi, mah, ini! Yogya memiliki standar biaya hidup yang lebih murah daripada kota wisata lainnya di Indonesia. Es jeruk di sini masih ada yang Rp3.000 perak, Guys! Gorengan di pasar desa deket rumah masih ada yang Rp500, dhab! Kagak boleh ngiri deh ya yang nggak tinggal di sini, kalau mau ngirit, yuk, tinggal di Yogya aja! 😅

Sayur Rp3.000 udah bisa buat makan sehari, bukk! Dan ini yang bikin saya makin maless masak. Lhaa,… beli sayur segitu aja sehari belum tentu habis dimakan. Udah ngirit gas, irit bumbu, bawang putih, bawang merah, cabe. Kita tinggal goreng lauk tahu, tempe, telur, perkedel. Apalagi yang mau dipermasalahkan? Toh, makanan kalau udah lewat dari leher nggak kerasa lagi kan enaknya? Output-nya jadi sama aja #upsss 🙈 Maaff maaff… ini adalah salah satu isi ceramah dalam kajian seorang ustadz, bahwa makanan mahal itu sebenarnya tak berharga, karena setelah lewat dari leher dia akan menjadi sama bentuknya dengan makanan yang murah. Bener, kan?

Masyarakatnya Ramah dan Sederhana

Ini yang di awal tadi saya tulis, bahwa Yogya adalah kota yang memiliki peradaban, sopan santun dan etika. Terlepas saat ini semakin banyak percampuran budaya ada di kota ini, akibat banyaknya pendatang baru yang selalu meningkat setiap tahunnya, tapi sopan santun, terutama di pedesaan, masih cukup kuat. 

Di kota ini, jangan pernah melihat seseorang dari penampilannya. Mahasiswa naik sepeda, itu sudah biasa. Kepandaian dan kualitas seseorang di kota ini tak dapat kita nilai dari penampilannya. Di desa, mungkin kamu akan melihat sepertinya masyarakatnya hidup apa adanya, cuma dari bertanam padi atau cabe. Padahal kalau kita cari tahu lagi, ada di antara mereka yang dalam satu keluarga memiliki ternak sapi 3-4 ekor. Kalau 1 ekor sapi yang kecil saja laku dijual 17-20juta, berarti silakan total berapa sebenarnya kekayaan mereka. Belum lagi jika panen cabe sedang tepat masa naiknya, sekali panen bisa dapat 1 sepeda motor matic, lho! Tapi itulah, mereka tetap biasa saja. Punya tidak punya ya tetap humble, rendah hati, merasa bukan siapa-siapa. Inilah NILAI MAHAL yang saya pelajari dari mereka.

Banyak Tempat Wisata Cantik dan Kuliner Nusantara Lengkap

Ini juga bukan rahasia lagi. Saat ini makin banyak tempat wisata instagramable yang tentu saja cantik, kekinian, plus murah meriah untuk memuaskan naluri dan nafsu berfotomu *ampunn bahasanya 😆

Tempat kulineran juga nggak mau kalah. Sajian khas dari Sabang sampai Merauke ada di sini. Mi Aceh, pempek Palembang, soto Banjar, teh tarik Melayu, sate Padang, nasi goreng Medan, es pisang ijo, palu butung, coto Makassar, martabak Bandung, ketoprak Jakarta, nasi rawon Madiun.. hemmm… hati-hati, kolesterol naik kalau tinggal di sini 🤣

Nggak heran, ada beberapa teman wanita yang tetap tinggal di Yogya bersama anak-anaknya, sementara suami mereka bekerja di luar kota Gudeg ini. Ada yang hanya berbeda pulau saja, tapi banyak juga yang LDR-an berbeda negara alias si suami bekerja di luar negeri. Ada beberapa alasan kenapa mereka memilih LDR-an. Selain kondisi Yogyakarta yang dianggap lebih kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan pendidikan anak-anak mereka, hematnya biaya hidup di kota ini juga menjadi salah satu alasan lainnya.

Nah, udah cukup yak, 3 alasan tadi sudah sangat mewakili kenapa kamu harus tinggal di Yogyakarta. Tolong jangan lempari saya pakai bakpia Incess Syahrini, atau cake Jogja Scrummy-nya Dude Harlino, atau kue Mamah ke Jogja-nya Zaskia Mecca, dan juga cake Chussy Cheese-nya Ria Richis, plisss, karena telah mengompori para imigran untuk pindah ke kota ini 😁

Mungkin ada di antara kamu yang mau menambahkan alasan lagi, kenapa harus tinggal di Jogja Istimewa ini? 💕
.

💜💙💚

Yang Tersisa dari Kaki Rinjani sebagai Wonderful Indonesia Pasca Gempa Dahsyat 2018

Sumber : Wisatalombok.info

Hemmm…. rasanya tak akan pernah habis kata untuk bercerita tentang pulau kelahiran saya ini meski sudah tak tinggal di sana lagi. Sekumpulan memori masa kecil yang berkelebat dan tersimpan dengan rapi, membuat saya selalu ingin dan ingiiinnn terus kembali ke sini. 

Yup, wonderful Lombok! Begitu banyak sesuatu yang unik dari pulau ini. 

Saya ingat, ketika kecil, ibu saya yang orang Yogya asli dan pindah ke Lombok karena mengikuti tugas Almarhum bapak, pernah berkata, “Lombok itu unik, nak. Di Lombok kamu bisa melihat budaya Bali. Tapi di Bali kamu tak akan pernah bisa melihat budaya Lombok…”

Dan benarlah demikian adanya, karena hanya di Lombok kita dapat menyaksikan kerukunan beragama antara masyarakat muslim dan Hindu Bali, yang berdiri berdampingan satu dengan yang lain. Bahkan di Lombok kamu bisa menemukan kampung khusus masyarakat Bali yang disebut Kampung Bali.

Oya, bercerita tentang Lombok saat ini tak bisa lepas dari kisah tragis gempa dahsyat 6, 4 SR yang terjadi akhir Juli lalu. Pemerintah daerah setempat saat ini masih terus melakukan perbaikan dan mencari solusi agar pulau wisata ini dapat kembali normal seperti dulu. Meski saat ini pembangunan pusat niaga makin pesat dan menjamur di tengah kota, wisata alam dan kuliner di Lombok tetaplah juaranya. Penerbangan langsung selama liburan dengan rute Yogya – Lombok sepanjang pengamatan saya, selalu diisi dengan banyaknya wisatawan bule di pesawat.

Nggak mengherankan sih sebenarnya, karena di Lombok masih banyak objek wisata perawan, misalnya pantai, dengan deburan ombak dan warna laut eksotis biru kehijauan dan pasir putih sebesar biji merica, menunggu untuk kamu sentuh.

Tapi kali ini kita tak akan berbicara tentang pantai, Dears, karena ada satu lagi keindahan yang menyihir para wisatawan saat berkunjung ke sini. Apalagi kalau bukan panggilan dari sosok misterius dan cantik Dewi Anjani yang berdiri kokoh di wilayah kekuasaannya, yaitu Gunung Rinjani.

Sumber : Trekkingrinjani.com

Yup! Di kalangan para pendaki, Rinjani termasuk gunung yang memiliki jalur trekking sangat menantang. Dengan ketinggian sekitar 3726 mdpl, Rinjani menjadi gunung tertinggi nomor 3 di negara kita setelah Kerinci dan puncak Cartenz. Kamu boleh merasa lelah hayati saat mendakinya. Tapi setelah itu semua akan terbayar dengan daya tarik dan pesonanya.

Padang Savana, Air Terjun, Gua dan Danau Segara Anak

Sumber : Trekkingrinjani.com

Kalau kamu naik ke Rinjani dari desa Sembalun Lawang, kita akan menemukan padang savana nan cantik yang membuatmu merasa dunia ini begitu luas dan hanya milikmu seorang. Tapi jangan puas dulu, ya, karena ini baru permulaan pendakian. Di atas masih ada pesona air terjun, gua dengan lukisan bebatuan stalagtit dan stalagmit-nya, serta objek utama yang menjadi tujuan para pendaki ke sini, yaitu danau Segara Anak. 

Sumber : Trekkingrinjani.com
Sumber : Trekkingrinjani.com
Sumber : Astacala.com

Just info aja, danau Segara Anak berada di ketinggian 2.010 mdpl, dengan kedalaman sekitar 230 meter. Bentuk danaunya seperti bulan sabit dengan luas sekitar 1.100 hektar.

Gimana bukan surga dunia, coba? Air yang berwarna biru kehijauan, pohon yang rindang, pemandangan gunung yang menjulang, membuat banyak pendaki menggelar tenda untuk menikmati surga dunia ini.  Apalagi ada pesona Gunung Barujari di tengah danau yang mengeluarkan belerang dari kawahnya. 

Rinjani Pasca Gempa Lombok 2018

Sumber : Puspen TNI via Tirto.id

Sebaris kisah di atas rasanya tak perlu membuat kita menjadi baper. Apalagi jika mengingat musibah gempa adalah kondisi force majeur yang tak dapat diduga. Semua sudah ada yang mengatur.

Awalnya pemerintah daerah memutuskan menutup sementara jalur pendakian ke puncak Rinjani sampai tahun 2020. Wajar rasanya, karena saat gempa terjadi banyak sekali material longsoran dan batu yang jatuh. Kondisi tanah di puncak pun menjadi retak-retak. 

Informasi yang penulis kutip dari laman Mongabay.co.id, untuk ke depannya pihak pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) akan membuat beberapa kebijakan baru terkait pendakian. Misalnya, dengan memberlakukan sistem booking online untuk para pendaki, sehingga jumlah pendaki dalam satu hari juga dapat dibatasi. Ini sebagai bentuk pelajaran dari kondisi sebelumnya, dimana saat musim liburan tiba, sekitar bulan Juli dan Agustus, pengunjung Rinjani melimpah ruah. Akibatnya nih, suasana di puncak juga menjadi tidak nyaman karena terlalu banyak tenda yang didirikan.

Sumber : Trekkingrinjani.com
Sumber : Hipwee.com

Manajemen pengelolaan sampah juga menjadi masalah yang cukup serius, untuk menjaga keberadaan puncak gunung selalu dalam keadaan bersih dan bebas sampah (zero waste). Pengelola TNGR juga berencana mengkaji ulang pengaktifan kembali sistem monitoring pendaki lewat CCTV dan frekuensi radio, bekerja sama dengan pihak Universitas Mataram.

Nah… berita baiknya, Dears, sejak pertengahan November lalu jalur pendakian ke Rinjani sudah dibuka kembali, tapi melalui jalur desa Aikberik di Kabupaten Lombok Tengah. Untuk saat ini jalur tersebut dianggap cukup aman menggantikan pintu masuk sebelumnya di wilayah Sembalun dan Senaru di Kabupaten Lombok Timur, yang sampai saat ini kondisinya belum memungkinkan.

Bismillah, kita doakan bersama ya target ke depan ini berhasil terpenuhi dan Rinjani kembali menjadi salah satu bagian indah dari Wonderful Indonesia. Sedih kalau baca banyak masyarakat di daerah Sembalun, yang merupakan salah satu jalur masuk ke Rinjani kehilangan sumber pendapatannya. Pasca gempa lalu wilayah ini sempat mengalami kondisi seperti kota mati akibat tidak adanya aktivitas pendakian sama sekali. Padahal sumber pendapatan mereka yang utama justru berasal dari situ.

Sumber : Indonesia.travel


Sebaris coretan sederhana ini merupakan bentuk keprihatinan, sekaligus kecintaan yang tiada pernah pudar terhadap tanah kelahiran penulis. Tulisan ini juga diikutsertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh Wonderful Indonesia ,  yang ketentuannya dapat kamu baca di sini.

💜💛💚

Festival Kuliner Dunia 2018 di JEC Yogyakarta, Bukan Sekadar Ajang Berburu Kuliner, Dears

Pernah mendengar ungkapan, “Hidup untuk makan..” atau “Makan untuk hidup” ??
Kalau kamu pilih yang mana? 😊
.
Hidup untuk makan, artinya seluruh tujuan hidup hanya difokuskan untuk makan saja. Sementara ungkapan makan untuk hidup ingin menjelaskan bahwa makanlah sekadarnya saja, asal bisa hidup dan berenergi, itu sudah cukup. Kalau soal mau pilih yang mana dari kedua ungkapan itu mah terserah kamu, apakah tahun 2019 mau ganti Presiden apa enggak #eehh wkwkwk 🤣
.
Jadi begini teman-teman *mulai cerita nih ☺
Pada hari Minggu tanggal 18 November kemarin kan tanggal merah ya, udah pada tau belommmmm??
*yaeelahhh 🤣 hahhhaaahaa, anak TK juga tau mah kalau soal ini
.
Sedari pagi my little princess Lubna sudah bangun, sudah mandi. Padahal biasanya kalau hari Minggu mandinya harus disuruh-suruh, jaranggg banget mau mandi pagi. Nah, ini ternyata ada udang di balik batu. Udangnya apalagi kalau bukan pengen diajak jalan-jalan. Katanya di Jogja Expo Centre ada festival kuliner dunia.
.
Wahhh… ibunya aja heran, ini anak dapat info darimana ada acara begituan. Jawabnya, “Ya iyalah aku tau, kan anak gaul zaman now…” *ibunya tepok jidat.
.
Singkat cerita, kami berangkat ke sana, tapi sore hari biar nggak panas selama di perjalanan. Sampai di sana ternyata ada 2 acara , yaitu Pameran Komputer dan Festival Kuliner Dunia. Untuk festival kuliner dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- per orang. Selain mendapat tiket masuk, pengunjung juga diberi beberapa voucher diskon untuk pembelian aneka makanan dan minuman di booth festival.
.

20181118_164210
Dengan harga tiket 10.000 kita dapat kupon undian + aneka voucher diskon. Lumayan, kan?

.
.
Ada Lebih dari 100 Booth Kuliner
.
Begitu masuk ke dalam, kita disuguhi dengan beberapa booth untuk foto gratis para pengunjung. Ada yang bernuansa bunga sakura Jepang, ada pula balon udara Eropa. Puas foto-foto sebentar, kami lanjutkan masuk ke arena festival. Ternyata ada lebih dari 100 booth menjadi peserta di situ. Suasananya ramai, karena hiruk pikuk pengunjung bercampur dengan suara dentingan peralatan memasak dari stan kuliner yang ada.
.
Karena baru pertama kali mendatangi festival macam begini, kesempatan buat saya mengambil beberapa dokumentasi, terutama di stan kuliner bebakaran. Cara membakar yang unik dan disemprot cairan agar api membara banyak menarik perhatian para penikmat kuliner, terutama di booth yang menyajikan aneka varian sea food, macam cumi panggang, ikan bakar, dan semacamnya.
.

Exif_JPEG_420
Sate cumiii…. Siapa mauuu?

.
.

Exif_JPEG_420
Booth seafood. Cara membakarnya menarik perhatian pengunjung..

.
.
Selain stan bebakaran, yang juga tidak kalah banyak penikmatnya adalah street food dari Korea dan Jepang. Kalau Jepang sudah cukup paham deh saya kulinernya. Nah, kalau Korea memang belum pernah nyobain, cuma pernah baca ada makanan yang namanya Bulgogi. Tapi kemarin yang kami cobain namanya Tteokbokki.
.

Exif_JPEG_420
Tteokbokki, makanan Korea dari tepung beras

.
Tteokbokki ini semacam cemilan dari tepung beras yang dimasak dan disajikan dengan rasa pedas yang agak manis. Setelah matang di atasnya ditaburi potongan daun bawang dan wijen. Teksturnya kalau dikunyah agak kenyal, mirip cilok menurut saya. Lubna sih bilang enakkkk 😄 Kalau ibunya mending beli batagor atau siomay kali, yeee…
.
Oya, buat kamu yang nggak hobi makan aneh-aneh, di sini ada juga lho makanan asli Jawa macam gudeg, bakmi, oseng-oseng (tumis). Tapi memang nggak banyak sih. Ada satu stan kuliner Jawa yang lumayan lengkap, yang jualan sudah sepuh (lanjut usia). Mendadak suasana berasa seperti di pasar tradisional dekat rumah, di mana banyak penjual kuliner asli Yogya yang masih sangat murah harganya.
.
Menjelang pulang, nggak lupa Lubna narik ibunya ke stan dessert dari berbagai negara. Saya nggak tahu nama makanannya apa. Pokoknya Lubna langsung tunjuk aja 😁 Dengan harga Rp. 20.000, – kami dapat 3 macam kue dessert yang atasnya ditusuk bendera kecil sebagai pengenal asal dessert tersebut.
.
.
Ada Booth Foto, Panggung Hiburan, Stan Buku dan Mainan
.
Meskipun namanya festival kuliner, jangan dikira cuma makanan aja yang ada. Stan buku, mainan dan panggung hiburan tetap ada. Ada juga both foto yang saya ceritakan di awal tulisan tadi.
.

 

20181118_165413
Gak perlu jauh-jauh ke Jepang, di sini juga ada bunga sakura 😂😜

.

20181118_175952
Bayangin aja kamu lagi ada di Cappadocia Turki, yang banyak balon udaranya *ngarepdotcom 😍

.
.
Nampaknya ini memang dibuat untuk menarik para pengunjung yang membawa anak. Dannnn benar aja, Lubna langsung merengek-rengek beli komik. Haiyyyaaaa…. sejak kapan transaksi beli komik terjadi di acara kuliner macam begini, hemmm….
.
Setelah berkeliling kurang lebih 2 jam akhirnya kami pulang. Sepanjang jalan little princess senyum-senyum terus. Happy banget dia karena berhasil membawa satu komik baru dari hasil perjalanan hari ini qiqiqiiii. Pastinya dia dapat satu pengalaman berharga yang bisa menjadi bahan imajinasinya menggambar komik, sekaligus untuk diceritakan pada teman-temannya. Ternyata banyak manfaatnya juga ya, bukan sekadar mengejar nafsu berburu makanan… 😂 💕
.
.
💜💚💛

Tragedi Lion Air JT-610, Antara Cinta, Cita dan Keprihatinan

Satu minggu terakhir….
.
Pemberitaan media begitu sarat dengan tragedi kecelakaan si burung besi Lion Air JT 610 tujuan Jakarta – Pangkal Pinang, yang jatuh di perairan Karawang pada tanggal 29 Oktober 2018 lalu.
.
Pemberitaan ini bahkan mengalahkan berita utama di negeri ini, tentang musibah besar gempa dan tsunami Palu dan Donggala, yang lagi-lagi menjadi musibah ke sekian setelah peristiwa gempa Lombok sekitar 3 bulan yang lalu.
.
Ah, negeriku…
Ada apa dengan dirimu??
.
Bahkan seribu satu pro dan kontra di sosial media takkan mampu mencari tahu apa sebenarnya yang Dia rencanakan di balik semua kejadian ini.
.
.
20181105_011458_0001~01~01~01
.
Kembali pada tragedi jatuhnya pesawat Lion Air…
.
Ingatanku seolah melayang pada masa puluhan tahun silam…
Pada masa kecil dimana naik pesawat masih menjadi sesuatu yang eksklusif, dan beruntungnya, aku telah diberi kenikmatan untuk merasakannya.
.
Bouraq, Merpati, dan tentu saja sang pelopor penerbangan Garuda Indonesia,  adalah sederet nama maskapai yang sangat berjaya pada masa itu.
.
Tiga maskapai tersebut memberikan pelayanan yang istimewa dan sungguh memuaskan. Pilihan makanan dan minuman tersaji lengkap beserta kemasannya yang tampil ekslusif bak suvenir pernikahan. Ah, kenapa tak ada satu pun yang sempat aku dokumentasikan, ya? Betapa sesal kemudian serasa tak berguna.
.
Harga tiket pesawat pada era 80-90an itu mungkin tak ada yang diobral seperti zaman now. Tak ada istilah tiket promo, atau rebutan kursi promo.
.
Bahkan aku ingat, saat berusia 6 tahun, almarhum Bapak pernah mengatakan usiaku masih 5 tahun kepada petugas saat membeli tiket di loket. Tidak lain tidak bukan agar aku boleh duduk di pangkuan Bapak, tanpa harus membeli kursi sendiri. Lumayan bisa menghemat satu orang kan? ^^ Hemm…. ide yang cerdas…
.
Di masa itu jarang sekali ku dengar ada kecelakaan pesawat. Maka ketika tiket pesawat di masa kini semakin banyak diobral, seiring munculnya begitu banyak maskapai baru, dan impian naik pesawat telah menjadi kisah nyata milik semua orang, kenapa justru begitu banyak tragedi kecelakaan mengiringinya?
Bukankah seharusnya segalanya menjadi lebih baik?
.
Alat, sistem, fasilitas, kinerja, dan SDM seharusnya menjadi lebih rapi dan teratur seiring berkembangnya segala kemudahan yang ada.
.
Ahh…. teori dan asal bicara memang terlalu mudah diucapkan, ya Dears 😁
Siapa lah aku yang hanya seorang penumpang, yang saat ini hanya mampu menekan keypad di smartphone untuk sekadar menuliskan sepenggal opini berbasis masa lalu ini.
.
Kalau diizinkan bicara, aku hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya aku mencintai langit, pesawat, dan segala hal berbau angkasa.
.
Cita-citaku dulu ingin menjadi seorang Pramugari dan Astronot. Entah apakah aku cukup cantik atau tidak saat itu heehhee…. tapi terlalu sering melihat mbak-mbak cantik itu di pesawat membuatku ingin menjadi seperti mereka. Sedangkan pilihan menjadi Astonot terpatri di dalam hati, lantaran saat itu sedang booming pemberitaan tentang calon Astronot pertama Indonesia bernama Dr. Pratiwi Sudharmono.
.
Bukankah nama kami sama-sama Pratiwi? Siapa tahu keberuntungan juga memihakku? 😅
.
.
Namun, ketika akhirnya masa remaja tiba dan tinggi badan tak memadai dalam persyaratan menjadi seorang Pramugari, cita-citaku seketika berubah ingin menjadi seorang Diplomat dan Penyiar Televisi. *cukup pilih salah satu, Diplomat atau Penyiar ya, jangan kau duakan cintamu #eeaaa #upss
.
Selanjutnya, aku sudah cukup puas melihat mbak-mbak Pramugari cantik itu setiap kali naik pesawat dan memperhatikan seragam mereka. Sesungguhnya ada sebersit rasa syukur di dalam hati, karena salah satu persyaratan tes menjadi Pramugari yang pernah kubaca adalah harus mengenakan rok di atas lutut. Ah, bukan aku banget itu. Aku terlalu sopan dan pemalu melakukan itu ☺ Tampaknya Dia Yang Maha Mengetahui sudah sangat pas mengatur segalanya, dengan tidak mengizinkanku menjadi seorang cabin crew.
.
Kini ku tahu, tak selamanya sesuatu yang terlihat menyenangkan dan wah selalu indah seperti yang kubayangkan.
Apalagi setelah beberapa hari lalu menyaksikan tayangan di sebuah televisi swasta, tentang wawancara bersama seorang Pramugari yang menjadi salah satu korban dalam kecelakaan maskapai singa terbang ini beberapa tahun yang lalu. Ia bercerita harus menjalani berkali-kali operasi untuk memperbaiki anggota tubuh dan tekstur wajahnya akibat kecelakaan itu, tanpa ada bantuan dari pihak perusahaan. Ia pun menuturkan ketidakjelasan sistem kontrak yang diterapkan, karena ia dan rekan sejawatnya masih terlalu muda saat itu. Bisa diterima sebagai Pramugari dan berkeliling Indonesia dengan pesawat saja sudah merupakan suatu kebanggaan baginya dan teman-teman, tanpa terpikir hal lain terkait perjanjian kerja dan sejenisnya.
.
Miris memang, sekaligus prihatin mendengarnya.
Tapi sekali lagi…
Siapalah aku?
Yang hanya mampu menautkan beberapa rangkai kalimat dalam kenangan akan cita-cita masa lalu.
.
Tapi tak perlu khawatir, aku masih tetap penggemarmu yang dulu.
.
Masih tetap cinta langit, pesawat, dan segala hal yang berbau angkasa… 💕
💜💛💚