Arsip Kategori: Travelling

5 Kuliner Khas Lombok Favorit Saya

Salah satu hal yang paling berkesan dan bikin betah kalau lagi di Lombok buat saya adalah makanan khasnya. Yup, mungkin karena saya lahir dan besar di sana, jadi lidah dan otot syaraf indera pengecap di dalam mulut sudah terlalu biasa dengan rasa pedas dari kuliner khas pulau ini.

Selain menggunakan terasi sebagai bumbu wajibnya, kuliner Lombok identik dengan sambal yang dibuat dari sebiye bideng (cabe merah keriting yang dijemur sampai kering dan kehitaman). Bahan khas ini yang bikin rasa pedasnya berbeda dengan daerah lain.

Kamu penasaran enggak apa saja kuliner khas Lombok yang menjadi favorit saya dan bikin pengen nambah terus meskipun makannya sambil kepedasan? 5 di antaranya ada di bawah ini, Guys! Eitsss… tapi bacanya jangan sambil nelen ludah, yak…. 😀

1. Pelecing Kangkung

Image : Senggigitour.com

Pelecing kangkung. Kuliner Lombok yang satu ini seolah menjadi ikon kuliner pulau seribu masjid ini. Bahan dasarnya adalah kangkung asli Lombok yang direbus dan disajikan dalam keadaan dingin. Untuk campurannya, ada sambal terasi, parutan bumbu kelapa yang dibakar, taoge, kacang goreng, dan kucuran jeruk limau yang menjadi ciri khas kuliner masyarakat Sasak, penduduk asli pulau Lombok.

Oiya, kangkung asli Lombok ini batangnya besar-besar dan segar, berbeda dengan kangkung dari daerah lain yang mudah layu saat direbus. Ini yang membuat sensasi kangkung Lombok lebih renyah saat digigit. Di beberapa daerah, seperti Yogyakarta tempat domisili saya sekarang, kangkung Lombok kadang dijual di supermarket atau swalayan besar. Tapi tentu saja harganya sedikit lebih tinggi daripada kangkung biasa.

 2. Ayam Taliwang

Image : Cookpad.com

Kuliner ayam taliwang ini biasanya disajikan bersama dengan pelecing kangkung. Ayam taliwang adalah ayam bakar khas Lombok, berbahan dasar ayam kampung yang masih muda. Sebelum dibakar, ayam taliwang dibumbui dulu dengan cabe merah kering yang dijemur (sebiye bideng), terasi, bawang putih, bawang merah, kencur, gula merah, santan, dan jeruk limau. Untuk kamu yang enggak suka pedas, tak perlu khawatir. Ada, kok, rumah makan ayam taliwang yang menyajikan ayam taliwang dengan menu ayam madu.


3. Sate Pusut

Image : Cookpad.com

Kalau kamu suka makan olahan sate, cobain, deh, sate yang satu ini. Bahan utamanya adalah kelapa parut yang dibumbui pedas dengan cabai, bawang merah, bawang putih, dan tentu saja terasi tak pernah ketinggalan. Setelah semua bahan tercampur, baru dibakar. Untuk variasi, kamu juga bisa menambahkan bahan daging atau ikan pada campuran kelapa parut. Rasa satenya akan lebih padat dan lebih tinggi protein.

4. Beberuq

Image : cookpad.com

Beberuq ini bikinnya simpel banget, karena merupakan olahan sambal yang berbahan dasar terong ungu bulat segar dan masih muda. Jika tak ada terong ungu, kamu bisa ganti dengan terong hijau. Tapi, di Lombok, terong yang dipakai umumnya memang terong ungu. Seperti biasa, bahan utama sambal di Lombok adalah terasi Lombok yang sangat khas, tomat, cabe merah, bawang merah, dan jeruk limau.Potong terong berbentuk dadu kecil-kecil, campur dengan sambal terasi, lalu kucuri dengan minyak panas. Hmm … aromanya dijamin bikin kamu ngiler dan langsung mengambil sepiring nasi hangat.

 5. Nasi Balap

Image : Senggigitour.com

Nah, kalau ini kuliner khusus buat kamu yang suka makan nasi sambil balapan. What?? Hehe …

Nasi balap terkenal juga dengan sebutan nasi puyung, karena berasal dari desa Puyung, sebuah desa di kawasan Lombok Tengah. Lauknya sebenarnya sangat sederhana, cuma irisan daging ayam berbumbu pedas khas Lombok (ayam pelalah), kering kentang, kedelai goreng, dan kadang disertai irisan telur dadar. Nyam … nyam … meskipun sederhana, tapi lezatnya jangan ditanya. Sensari gurih dan pedas dari nasi balap yang nendang bikin jantungmu berdetak lebih kencang karena kepedasan, dan kamu bakal ketagihan untuk nambah dan nambah lagi. Wah, tambah kurus dong saya.. ^^

Untungnya, di Yogyakarta sekarang banyak yang membuka usaha kuliner dengan menu khas Lombok ini. Ada yang memang pemiliknya orang Lombok asli, tapi ada juga yang pemiliknya warga Yogya dan dahulu pernah tinggal lama di pulau Lombok. Terutama untuk menu Nasi Balap, di beberapa bagian daerah kampus banyak tersebar penjual nasi ini dengan harga yang relatif terjangkau, sekitar Rp8.000,- sampai Rp10.000,- per bungkus.

Jadi, kamu pilih yang mana dari 5 makanan di atas? Kalau ngerasa takut berat badan nambah, sepertinya kamu lebih baik pilih aja pelecing kangkung, ya, jangan yang lain… *pissss 😀

Baca juga

#SETIP_Day12 #SemingguTigaPostingan #EstrilookCommunity

Ghratama Pustaka Yogyakarta, Sarana Melihat Jendela Dunia

Little princess Lubna, girl wanna be…

“Buku adalah jendela dunia…”

Ungkapan ini saya baca pertama kali sejak masih duduk di bangku SD. Melalui buku, kamu dapat berpetualang keliling dunia tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak dan memikirkan urusan transportasi, akomodasi, dan ittinerary, alias jadwal perjalanan plus anggarannya… 🙂

Saya masih ingat jelas, punya cita-cita dan impian pengen ke Jepang, setelah membaca sebuah buku tentang budaya dan kebiasaan masyarakat di negeri Sakura itu saat duduk di kelas 6 SD. Keinginan itu sempat muncul kembali setelah selesai kuliah, yang kemudian mendorong saya untuk belajar bahasa Jepang demi cita-cita bekerja di sana. Nah, loh… sampai segitunya, ya 😀

Sekarang sudah tercapaikah impian ke Jepangnya? Jawabannya, belommm… *ihhiksss…

Sekarang, impian ke Jepang sudah bergeser dan tertutup oleh keinginan berkunjung ke negeri asal muasal bunga Tulip, alias Turki, demiiiiii…. Demi apa coba? Demikian hehheee… Apalagi kalau bukan demi meihat indahnya sejarah Islam di Eropa, melalui kokohnya arsitektur Hagia Sophia dan syahdunya penampakan Blue Mosque tercinta. Lagi-lagi, keinginan kuat ke Turki ini juga muncul setelah melihat film dan membaca novel populer 99 Cahaya di Langit Eropa-nya Hanum Rais.

Tanpa saya sadari, kebiasaan masa kecil membaca buku tentang indahnya dunia, mulai menurun kepada Lubna, little princess yang mulai beranjak ABG. Hobi membacanya mulai muncul sejak satu tahun yang lalu, saat Lubna duduk di kelas 2 SD. Kesukaannya membaca ini mengalami perkembangan yang cukup dahsyat menurut ibunya, karena di kelas 3 SD ini dia sudah PD bilang bahwa membaca adalah “makanan” baginya. Dengan kata lain, kalau enggak baca artinya sama aja dengan enggak makan. Badan jadi lemes dan uring-uringan 😀

Alhamdulillah, sekarang Lubna sudah jarang banget ke mall. Setiap akhir minggu sudah ada tempat favorit dan asyik untuk dia refreshing, namanya Ghratama Pustaka. Dari namanya sudah bisa ditebak bahwa tempat ini berhubungan dengan buku, ye, kan?

Yup, enggak salah. Ghratama Pustaka ini dulu nama lainnya adalah Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Zaman saya masih kuliah, perpusda ini terletak di area dekat Malioboro. Sesekali dulu saya sempat juga meminjam buku di sana.

Sejak 21 Desember 2015, perpusda Yogyakarta menempati gedung baru yang megah dan berpindah lokasi ke Jalan Janti, Banguntapan, Bantul. Lokasinya bersebelahan persis dengan gedung ekspo terbesar di Yogya, yaitu JEC alias Jogja Expo Centre. Sri Sultan Hamengkubuwono X yang meresmikan perpusda ini kemudian memberi nama baru, Ghratama Pustaka. Ghratama berarti rumah, Pustaka berarti buku.

Gedung yang megah dengan 4 menara yang memiliki filosofi tersendiri.
(Image : twitter.com/infojogja)

Perpustakaan megah, nyaman, dan mirip arena bermain ini dibangun di atas lahan seluas 2,4 hektar. Fasilitas yang disediakan sangat lengkap, lho. Ada ruang bioskop 6D, ruang anak-anak, ruang musik, ruang bermain, berbagai akses untuk koleksi digital, dan pastinya free hotspot.

Kamu tahu pembangunan gedung baru ini menghabiskan biaya berapa? Enggak tanggung-tanggung, Guys, anggarannya mencapai Rp 72,5 miliar. Hemmmm….. pantesss nyaman banget 🙂

Kalau ke Ghratama, Lubna paling suka ke ruang baca anak dan nonton bioskop 6D. Oya, kalau mau pinjam buku, kamu harus membuat Kartu Anggota dulu ya. Biayanya berapa? Gratissss, kok, untuk semua usia. Syarat bikinnya cukup menunjukkan KTP (untuk umum) dan Kartu Pelajar atau Kartu Keluarga (untuk anak-anak). Setelah mengisi data diri, kamu akan dipersilakan ke ruang foto untuk langsung difoto seperti kalau kita membuat KTP.

Ruang Baca Anak

.

Interior ruang baca anak yang menarik, penuh warna

Ruang baca ini berada di lantai 1. Selain Ruang Baca Anak, ada juga beberapa ruang untuk anak di lantai ini, seperti Ruang Musik, Ruang Bermain, Ruang Mendongeng, dan Ruang Bioskop 6D. 

Interiornya nyaman, penuh warna, dan, disediakan kursi-kursi kecil warna-warni plus meja bundar besar untuk tempat anak-anak membaca. Terdapat beberapa sofa santai juga di dalam ruangan. Pokoknya cozy banget, deh. Apalagi buat orang tua, bisa istirahat sekaligus wifi-an di sini hihiii…

Senangnya melihat anak-anak kita mencintai buku sejak kecil

Koleksi buku anaknya cukup lengkap, mulai dari buku pengetahuan, novel, komik, sampai buku untuk anak-anak balita semua ada di Ruang Baca Anak ini. Recommended banget untuk sarana melatih anak cinta buku.

Ruang Biokop 6D

.

Tiket nonton sinema 6D-nya murah, kan? 🙂

Kalau kamu lelah membaca, jangan lupa melipir alias ngungsi ke Ruang Bioskop 6D ini ya. Cukup dengan tiket seharga Rp10.000 saja per orang, kita akan dimanjakan dengan keseruan melihat tayangan sinema 6 dimensi sambil berteriak-teriak histeris sepuasnya.

Banyak genre film yang bisa dipilih, mulai dari petualangan, sampai tema horor

Sensasinya bak naik roller coaster, karena kursi sinemanya bisa bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti alur pergerakan di film. Ada kacamata khusus yang harus kamu gunakan agar apa yang tampil di layar seolah nyata kita alami 🙂 Seru deh, pokoknya. Bukan cuma untuk anak, lho, ya. Yang dewasa juga boleh banget, karena tema filmya bermacam-macam.

Jadwal Buka Perpustakaan

Banyak yang mengira Ghratama Pustaka tutup.pada hari Minggu. Padahal sebenarnya tetap buka. Jadwalnya di bawah ini ya:

Senin s/d Jumat : pukul 08.00 – 22.00 WIB.
Sabtu & Minggu : pukul 08.00 – 16.00 WIB.

Fasilitas Lainnya

Gedung megah Ghratama Pustaka terdiri atas 3 lantai.
Kalau tadi di Lantai 1 khusus untuk koleksi anak, di Lantai 2 merupakan ruang layanan untuk Koleksi Umum, Koleksi Braille, Ruang Pameran, dan ada Auditorium. Kemudian di Lantai 3 ada ruang layanan Koleksi Digital, layanan Majalah dan Surat Kabar, layanan Skripsi, Peraturan Perundangan, dan ada pula Ruang Audio Visual.

Oya, di halaman depan Ghratama yang sejuk dan hijau ini juga ada pendopo luas untuk duduk-duduk atau diskusi bareng teman-temanmu. Bisa juga menjadi ajang foto karena rumputnya yang begitu asri dan tertata rapi. Ruang tunggu pengunjung di teras perpustakaan ini juga sangat nyaman dan bersih. Yang jelas, gedung ini bisa menjadi alternatif refreshing kamu dan keluarga, selain ke mall atau kebun binatang.

Jangan lupa mampir ke sini kalau pas liburan ke Yogya, ya! 🙂

#SETIP_Day7
#SemingguTigaPostingan
#Estrilook

Review Jogja Bay Waterpark, Destinasi Wisata Air Terbesar di Yogyakarta

Jangan bosan, ya, kalau saya banyak cerita tentang Yogyakarta, kota yang saat ini saya tinggali, di blog pribadi ini. Tak akan pernah habis kata untuk menceritakan segala sesuatu tentang kota ini, entah dari segi kulinernya, wisatanya, masyarakatnya, dan budayanya. Kali ini kita akan berpetualang ke dunia air, dengan mengeliling destinasi wisata air terbesar di Yogyakarta, yaitu Jogja Bay Waterpark.

Jogja Bay Pirates Adventure Waterpark pertamakali diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada bulan Desember 2015 dengan mengusung tema bajak laut. Desain bangunan pun disesuaikan dengan tema dunia bajak laut, lengkap dengan kapalnya. Destinasi ini sengaja diresmikan menjelang liburan akhir tahun, untuk memancing antusiasme masyarakat bermain air di lokasi wisata ini.

Jogja Bay merupakan wahana wisata air terbesar di Kota Gudeg dan merupakan salah satu wisata air terbesar di Asia Tenggara. Pembangunannya melibatkan banyak infrastruktur dan mayoritas SDM-nya merupakan penduduk yang tinggal di sekitar lokasi, yaitu di daerah Maguwarjo, Depok, Sleman. Kalau kamu adalah fans sepakbola yang sering nonton pertandingan bola di Stadion Maguwohajo, pasti sudah akrab banget dengan Jogja Bay karena lokasi ini berada di sebelah utara persis dari Stadion Maguwoharjo.

Harga Tiket Masuknya Berapa, sih?

Sebagai destinasi wisata air terbesar di Yogyakarta, jangan heran jika harga tiket masuk Jogja Bay di atas rata-rata wisata air lainnya di Daerah Istimewa Yoyakarta. Tapi kamu tetap harus bersyukur, jika dibandingkan dengan harga tiket masuk wisata lainnya di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, harga tiket Jogja Bay Waterpark masih dapat dikatakan normal. Wajar saja rasanya jika kebanyakan pengunjungnya berasal dari luar kota. Biasanya mereka datang berombongan, karena ada harga khusus jika kita datang bersama rombongan.

Ticket box Jogja Bay Waterpark

Memangnya berapa sih harga tiketnya?

Saat awal diresmikan, harga tiket Jogja Bay dipatok Rp90.000,- untuk dewasa dan Rp60.000,- untuk anak-anak. Tapi sejak bulan September 2018 kemarin, harga tiket regular diseragamkan menjadi Rp90.000,- baik untuk orang dewasa maupun anak. Harga tiket regular ini tidak berlaku untuk dewasa yang lanjut usia (manula), karena ada harga khusus yang diberikan. Demikian pula untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun, dapat masuk dengan harga tiket free alias gratis. Asyik, kan? Ayoo yang punya baduta (bayi di bawah dua tahun), buruan datang ke Yogya, ya, kwkwkwk….

By the way busway, itu harga tiket regular lho, ya. Masih ada lagi harga tiket paket yang sudah termasuk fasilitas snack dan makan besar. Oya, kalau masuk Jogja Bay kamu enggak boleh bawa makanan atau minuman. Harus beli di area wisata air dengan harga yang sudah pasti lumayan selisihnya dengan di luar. Yah, konsep bisnisnya memang hebring sih, ini hehehee… Karena itulah pihak Jogja Bay menyediakan harga tiket paketan sebesar Rp125.000,- per orang untuk mereka yang ingin mendapatkan fasilitas snack dan makan besar. Snacknya seharga Rp20.000,- sudah lumayan kok, bikin kenyang. Kemudian makan besarnya berupa voucher senilai Rp25.000,- yang dapat kamu gunakan untuk memilih menu sesuai selera di resto yang telah ditentukan.

Kalau kamu datang dengan rombongan lebih dari 20 orang, ada lagi potongan harga tiket paketannya menjadi hanya Rp90.000-an per orang, sudah termasuk snack dan makan besar. Makanya kalau ke Jogja Bay jangan sendirian, ya! Rugi! Ajakin keluarga, saudara, tetangga biar ramai dan seru liburannya 😁

Wahananya Apa Aja?

Mumpung sudah masuk Jogja Bay, jangan buru-buru pulang. Di sini ada lebih dari 10 wahana permainan air yang dapat memuaskan keinginanmu bermain air sepuasnya.

Kolam renang keluarga yang dilengkapi dengan Mini Bar di bagian tengah kolam untuk kamu yang ingin berenang sambil menikmati minuman.

Selain wahana kolam untuk berenang seperti umumnya kolam renang biasa, Jogja Bay terkenal dengan berbagai wahana airnya yang bikin jantungmu mau copot kalau enggak kuat nahan deg-degannya.

Wahana Memo Racer. Kamu bisa balapan berseluncur bersama teman lain di 8 papan luncur yang berdampingan.
“Meluncur di Memo Racer? Siapa takut?” kata Lubna (kanan) bersama sahabatnya, Khansa 😍

Ada wahana Memo Racer untuk balapan luncur bareng teman-temanmu, ada Brando Boomeranggo yang membuatmu meluncur dan terpental dari ketinggian 24 meter, ada juga South Beach yang membuatmu kaget dengan datangnya deburan ombak tsunaminya. Yang terbaru adalah wahana Museum Air dengan tiket masuk tersendiri seharga Rp25.000,-

Wahana Ziggy dengan arena luncur yang tidak terlalu tinggi. Cocok untuk anak-anak.
Wahana Brando Boomeranggo dengan ketinggian seluncur 24 meter. Ibu hamil dan penderita jantung dilarang naik ini, ya ☺
Image : dok. Jogjabay.com

Saya sendiri sudah coba yang mana? Hehheeehee… dasar nekat, Alhamdulillah, saya lulus uji kelayakan karena berhasil menaklukkan ketakutan diri dengan berseluncur di wahana Brando Boomeranggo setinggi 24 meter sambil teriak-teriak ketakutan, secara saya kan enggak bisa renang hadehhh. Tapiiii pada akhirnya suenennggg dan legaaa sekali masya Allah. Ternyata begini, ya, rasanya berhasil menaklukkan tantangan terhadap diri sendiri. Nagih deh, habis itu pengen ngulang lagi hehheeehee…

Fasilitasnya Lengkap Enggak?

Sebagai destinasi wisata air terbesar di Yogyakarta pasti dong fasilitasnya lengkap dan bersih. Ada musholla, toilet, ruang ganti bilas, aneka resto, mini bar dan coffee shop, gazebo, taman, Jogja Bay store yang menjual aneka suvenir, fasilitas wifi gratis, dan ada pula panggung teater untuk pertunjukan pada waktu-waktu tertentu.

Ada taman yang nyaman untuk duduk-duduk bersantai
Toko suvenir ada di pintu masuk, ada juga di pintu keluar.
The Harbour Theater, panggung pertunjukan yang dapat digunakan untuk berbagai acara. Saat itu digunakan untuk Lomba Angklung SD se-DIY.
Image : dok. Rini Hartati

Oya, jangan lupa ya, Jogja Bay hanya buka sampai jam 17.00 WIB. Jadi semua kegiatan akan dihentikan pada jam tersebut. Seluruh mesin yang dioperasikan pada ombak dan air akan dihentikan dan wahana seluncur ditutup. Tapi kamu masih boleh kok duduk-duduk dan foto-foto di taman sambil melihat matahari sore, menunggu petugas Jogja Bay mengusirmu dari situ qiqiqiii… Kalau saya mumpung sudah sepi langsung manfaatkan untuk memotret beberapa wahana yang ada. Secara pas lagi ramai agak syusyah mengambil angle foto yang bagus, kan, ya.

Nah… gimana cerita saya tentang Jogja Bay, udah lengkap belom??

Udah ah, buruan datang ke sini biar puas lihat sendiri. Sekalian aja habis dari Jogja Bay kamu masih bisa ke destinasi lainnya yang dekat dari situ, seperti Candi Prambanan, Hartono Mall, Ambarrukmo Plaza, Malioboro… Atau mau ke Hutan Pinus Imogiri? Lumayan jauh sih kalau ini, tapi recommended juga sihh. Makanya nginepnya yang lama, yak.. hehheee…. endorse Yogya banget saya mah… 😍

Baca juga 👉 4 Destinasi Bulan Madu di Yogyakarta, Kamu Wajib Baca!

💙💚💜

#SETIP_Day3
#Seminggu Tiga Postingan
#Estrilook


3 Alasan Kenapa Kamu Harus Tinggal di Yogyakarta

Kadang, saya suka bingung sendiri, pemirsah… 

Saya sudah tinggal di kota pelajar Yogyakarta ini kalau nggak salah ingat sejak pertengahan tahun 1993. Waww… udah lama juga, ya? Hampir 16 ehhh 26 tahun ternyataaa 😱 ckckckck… kenapa baru sadar sekarang Ya Allah… 🙈 

Sebelum tinggal di Yogya, saya tinggal nomaden alias berpindah-pindah tempat di beberapa kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat. Mulai dari lahir sampai SMP, setiap 2 sampai 5 tahun sekali biasanya orang tua selalu mendapat surat tugas dari instansinya untuk pindah ke kabupaten lain, meskipun masih di seputaran NTB. Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Kotamadya Mataram, sampai ke pelosok Kabupaten Bima yang panas dan kering kerontang di Pulau Sumbawa pernah saya rasakan. Mungkinnn ini yang menyebabkan saya agak nggak PD kalau ngaku sebagai “wanita Jawa”. Padahal, sudah jelas dan terbukti bahwa Ibu dan Almarhum Bapak adalah orang Yogya tulen. Aselikkk… 😅

Kembali ke laptop..!!

Meskipun hampir 26 tahun tinggal di kota Gudeg ini, jangan harap mendengarkan saya bicara bahasa Jawa melipis dan alusss bak Puteri Kraton. Seringnya, orang Yogya yang ketemu saya pasti tanya, “ Mbak aslinya orang mana, sih?” Nah, ketauan kannn, kalau saya bukan penduduk asli Yogya. Dari logat dan cara bicaranya aja beda 😁 Saya bisanya cuma bahasa Jawa ngoko, alias bahasa sehari-hari macam “Piye kabare, mbakyu?” (Gimana kabarnya, kak?), “Jenengmu sopo?” (Namamu siapa?). Bahasa ngoko ini untuk teman/saudara yang seumuran. 

Ada lagi bahasa yang levelnya lebih tinggi, yaitu bahasa kromo alus (bahasa untuk orang yang lebih tua atau baru kenal), macam “Asmane panjenengan sinten?” (Nama Anda siapa?), “Pripun kabare panjenengan, sae tho?” (Bagaimana kabar Anda, baik kan?)

Nah, kalau bahasa kromo ini saya agak kesulitan menjawab. Apalagi kalau yang bertanya adalah orang yang umurnya lebih tua. Daripada salah jawab dan takut tercampur dengan bahasa sehari-hari (ngoko), lebih baik pakai bahasa Indonesia aja jawabnya. Makanyaaa, saya jadi malu ngaku-ngaku jadi orang Yogya, wong bahasa Jawanya aja belepotan macam es krim gitu.

Tapi pemirsah, meski saya malu dan nggak PD ngaku sebagai orang Yogya, aslinya saya mah cintaaa banget sama kota ini. Iyaa, kota ini banyak mengajarkan saya tentang sopan santun dan etika bergaul terhadap sesama. Tahulah ya, namanya tinggal di luar Jawa sejak lahir dan sering pindah tempat, saya nggak terlalu paham budaya setempat. Mulai ngerti belajar tata krama yang sesungguhnya, ya, di Yogya ini. Sampai kebiasaan memanggil orang dengan sebutan “Mas dan Mbak” untuk menghormati mereka yang baru kita kenal dan belum tahu namanya, semua ada etikanya.

Nah, sekarang saya mau nularin kecintaan terhadap Yogyakarta ini untuk kamu yang baca tulisan ini. Ada 3 alasan yang bakal saya jabarkan, kenapa sebaiknya kamu harus tinggal di kota Gudeg ini. Doakan, yess,  tulisan ini nggak bikin saya diprotes sama orang sekota Gudeg karena ngerasa sebel kota mereka bakal lebih penuhhh dan macet kalau ketambahan penduduk baru lagi qiqiqiiii 🤣

Biaya Hidup Murah

Yuhuuu… udah bukan rahasia lagi, mah, ini! Yogya always cheaper than others in Indonesia. Es jeruk di sini masih ada yang Rp3.000 perak, Guys! Gorengan di pasar desa deket rumah masih ada yang goceng alias Rp500, dhab! Kagak boleh ngiri deh elu yang nggak tinggal di sini. Makanya kalau mau ngirit ke Yogya aja *apaan sikk ini kompor banget 😅

Sayur Rp3.000 udah bisa buat makan sehari, bukk! Dan ini yang bikin saya makin maless masak. Lhaa, beli sayur segitu aja sehari belum tentu habis dimakan. Udah ngirit gas, irit bumbu, bawang putih, bawang merah, cabe. Kita tinggal goreng lauk tahu, tempe, telur, perkedel. Apalagi yang mau dipermasalahkan? Toh, makanan kalau udah lewat dari leher nggak kerasa lagi kan enaknya? Keluarnya jadi sama aja #upsss 🙈 Maaff maaff… ini adalah salah satu isi ceramah seorang Ustadz, bahwa makanan mahal itu sebenarnya tak berharga, karena setelah lewat dari leher dia akan menjadi sama bentuknya dengan makanan yang murah. Bener, kan?

Masyarakatnya Ramah dan Sederhana

Ini yang di awal tadi saya tulis, bahwa Yogya adalah kota yang memiliki peradaban, sopan santun dan etika. Terlepas saat ini semakin banyak percampuran budaya ada di kota ini, akibat banyaknya pendatang baru yang selalu meningkat setiap tahunnya, tapi sopan santun, terutama di pedesaan, masih cukup kuat. 

Di kota ini, jangan pernah melihat seseorang dari penampilannya. Mahasiswa naik sepeda, itu sudah biasa. Kepandaian dan kualitas seseorang di kota ini tak dapat kita nilai dari penampilannya. Di desa, mungkin kamu akan melihat sepertinya masyarakatnya hidup apa adanya, cuma dari bertanam padi atau cabe. Padahal kalau kita cari tahu lagi, ada di antara mereka yang dalam satu keluarga memiliki ternak sapi 3-4 ekor. Kalau 1 ekor sapi yang kecil saja laku dijual 17-20juta, berarti silakan total berapa sebenarnya kekayaan mereka. Belum lagi jika panen cabe sedang tepat masa naiknya, sekali panen bisa dapat 1 sepeda motor matic, lho! Tapi itulah, mereka tetap biasa saja. Punya tidak punya ya tetap humble, rendah hati, merasa bukan siapa-siapa. Inilah NILAI MAHAL yang saya pelajari dari mereka.

Banyak Tempat Wisata Cantik dan Kuliner Nusantara Lengkap

Ini juga bukan rahasia lagi. Saat ini makin banyak tempat wisata instagramable yang tentu saja cantik, kekinian, plus murah meriah untuk memuaskan naluri dan nafsu berfotomu *ampunn bahasanya 😆

Tempat kulineran juga nggak mau kalah. Sajian khas dari Sabang sampai Merauke ada di sini. Mi Aceh, pempek Palembang, soto Banjar, teh tarik Melayu, sate Padang, nasi goreng Medan, es pisang ijo, palu butung, coto Makassar, martabak Bandung, ketoprak Jakarta, nasi rawon Madiun.. hemmm… hati-hati, kolesterol naik kalau tinggal di sini 🤣

Nggak heran, ada beberapa teman wanita yang tetap tinggal di Yogya bersama anak-anaknya, sementara suami mereka bekerja di luar kota Gudeg ini. Ada yang hanya berbeda pulau saja, tapi banyak juga yang LDR-an berbeda negara alias si suami bekerja di luar negeri. Ada beberapa alasan kenapa mereka memilih LDR-an. Selain kondisi Yogyakarta yang dianggap lebih kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan pendidikan anak-anak mereka, hematnya biaya hidup di kota ini juga menjadi salah satu alasan lainnya.

Nah, udah cukup yak, 3 alasan tadi sudah sangat mewakili kenapa kamu harus tinggal di Yogyakarta. Tolong jangan lempari saya pakai bakpia Incess Syahrini, atau cake Jogja Scrummy-nya Dude Harlino, atau kue Mamah ke Jogja-nya Zaskia Mecca, dan juga cake Chussy Cheese-nya Ria Richis, plisss, karena telah mengompori para imigran untuk pindah ke kota ini 😁

Mungkin ada di antara kamu yang mau menambahkan alasan lagi, kenapa harus tinggal di Jogja Istimewa ini? 💕
.

💜💙💚

Yang Tersisa dari Kaki Rinjani sebagai Wonderful Indonesia Pasca Gempa Dahsyat 2018

Sumber : Wisatalombok.info

Hemmm…. rasanya tak akan pernah habis kata untuk bercerita tentang pulau kelahiran saya ini meski sudah tak tinggal di sana lagi. Sekumpulan memori masa kecil yang berkelebat dan tersimpan dengan rapi, membuat saya selalu ingin dan ingiiinnn terus kembali ke sini. 

Yup, wonderful Lombok! Begitu banyak sesuatu yang unik dari pulau ini. 

Saya ingat, ketika kecil, ibu saya yang orang Yogya asli dan pindah ke Lombok karena mengikuti tugas Almarhum bapak, pernah berkata, “Lombok itu unik, nak. Di Lombok kamu bisa melihat budaya Bali. Tapi di Bali kamu tak akan pernah bisa melihat budaya Lombok…”

Dan benarlah demikian adanya, karena hanya di Lombok kita dapat menyaksikan kerukunan beragama antara masyarakat muslim dan Hindu Bali, yang berdiri berdampingan satu dengan yang lain. Bahkan di Lombok kamu bisa menemukan kampung khusus masyarakat Bali yang disebut Kampung Bali.

Oya, bercerita tentang Lombok saat ini tak bisa lepas dari kisah tragis gempa dahsyat 6, 4 SR yang terjadi akhir Juli lalu. Pemerintah daerah setempat saat ini masih terus melakukan perbaikan dan mencari solusi agar pulau wisata ini dapat kembali normal seperti dulu. Meski saat ini pembangunan pusat niaga makin pesat dan menjamur di tengah kota, wisata alam dan kuliner di Lombok tetaplah juaranya. Penerbangan langsung selama liburan dengan rute Yogya – Lombok sepanjang pengamatan saya, selalu diisi dengan banyaknya wisatawan bule di pesawat.

Nggak mengherankan sih sebenarnya, karena di Lombok masih banyak objek wisata perawan, misalnya pantai, dengan deburan ombak dan warna laut eksotis biru kehijauan dan pasir putih sebesar biji merica, menunggu untuk kamu sentuh.

Tapi kali ini kita tak akan berbicara tentang pantai, Dears, karena ada satu lagi keindahan yang menyihir para wisatawan saat berkunjung ke sini. Apalagi kalau bukan panggilan dari sosok misterius dan cantik Dewi Anjani yang berdiri kokoh di wilayah kekuasaannya, yaitu Gunung Rinjani.

Sumber : Trekkingrinjani.com

Yup! Di kalangan para pendaki, Rinjani termasuk gunung yang memiliki jalur trekking sangat menantang. Dengan ketinggian sekitar 3726 mdpl, Rinjani menjadi gunung tertinggi nomor 3 di negara kita setelah Kerinci dan puncak Cartenz. Kamu boleh merasa lelah hayati saat mendakinya. Tapi setelah itu semua akan terbayar dengan daya tarik dan pesonanya.

Padang Savana, Air Terjun, Gua dan Danau Segara Anak

Sumber : Trekkingrinjani.com

Kalau kamu naik ke Rinjani dari desa Sembalun Lawang, kita akan menemukan padang savana nan cantik yang membuatmu merasa dunia ini begitu luas dan hanya milikmu seorang. Tapi jangan puas dulu, ya, karena ini baru permulaan pendakian. Di atas masih ada pesona air terjun, gua dengan lukisan bebatuan stalagtit dan stalagmit-nya, serta objek utama yang menjadi tujuan para pendaki ke sini, yaitu danau Segara Anak. 

Sumber : Trekkingrinjani.com
Sumber : Trekkingrinjani.com
Sumber : Astacala.com

Just info aja, danau Segara Anak berada di ketinggian 2.010 mdpl, dengan kedalaman sekitar 230 meter. Bentuk danaunya seperti bulan sabit dengan luas sekitar 1.100 hektar.

Gimana bukan surga dunia, coba? Air yang berwarna biru kehijauan, pohon yang rindang, pemandangan gunung yang menjulang, membuat banyak pendaki menggelar tenda untuk menikmati surga dunia ini.  Apalagi ada pesona Gunung Barujari di tengah danau yang mengeluarkan belerang dari kawahnya. 

Rinjani Pasca Gempa Lombok 2018

Sumber : Puspen TNI via Tirto.id

Sebaris kisah di atas rasanya tak perlu membuat kita menjadi baper. Apalagi jika mengingat musibah gempa adalah kondisi force majeur yang tak dapat diduga. Semua sudah ada yang mengatur.

Awalnya pemerintah daerah memutuskan menutup sementara jalur pendakian ke puncak Rinjani sampai tahun 2020. Wajar rasanya, karena saat gempa terjadi banyak sekali material longsoran dan batu yang jatuh. Kondisi tanah di puncak pun menjadi retak-retak. 

Informasi yang penulis kutip dari laman Mongabay.co.id, untuk ke depannya pihak pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) akan membuat beberapa kebijakan baru terkait pendakian. Misalnya, dengan memberlakukan sistem booking online untuk para pendaki, sehingga jumlah pendaki dalam satu hari juga dapat dibatasi. Ini sebagai bentuk pelajaran dari kondisi sebelumnya, dimana saat musim liburan tiba, sekitar bulan Juli dan Agustus, pengunjung Rinjani melimpah ruah. Akibatnya nih, suasana di puncak juga menjadi tidak nyaman karena terlalu banyak tenda yang didirikan.

Sumber : Trekkingrinjani.com
Sumber : Hipwee.com

Manajemen pengelolaan sampah juga menjadi masalah yang cukup serius, untuk menjaga keberadaan puncak gunung selalu dalam keadaan bersih dan bebas sampah (zero waste). Pengelola TNGR juga berencana mengkaji ulang pengaktifan kembali sistem monitoring pendaki lewat CCTV dan frekuensi radio, bekerja sama dengan pihak Universitas Mataram.

Nah… berita baiknya, Dears, sejak pertengahan November lalu jalur pendakian ke Rinjani sudah dibuka kembali, tapi melalui jalur desa Aikberik di Kabupaten Lombok Tengah. Untuk saat ini jalur tersebut dianggap cukup aman menggantikan pintu masuk sebelumnya di wilayah Sembalun dan Senaru di Kabupaten Lombok Timur, yang sampai saat ini kondisinya belum memungkinkan.

Bismillah, kita doakan bersama ya target ke depan ini berhasil terpenuhi dan Rinjani kembali menjadi salah satu bagian indah dari Wonderful Indonesia. Sedih kalau baca banyak masyarakat di daerah Sembalun, yang merupakan salah satu jalur masuk ke Rinjani kehilangan sumber pendapatannya. Pasca gempa lalu wilayah ini sempat mengalami kondisi seperti kota mati akibat tidak adanya aktivitas pendakian sama sekali. Padahal sumber pendapatan mereka yang utama justru berasal dari situ.

Sumber : Indonesia.travel


Sebaris coretan sederhana ini merupakan bentuk keprihatinan, sekaligus kecintaan yang tiada pernah pudar terhadap tanah kelahiran penulis. Tulisan ini juga diikutsertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh Wonderful Indonesia ,  yang ketentuannya dapat kamu baca di sini.

💜💛💚

Festival Kuliner Dunia 2018 di JEC Yogyakarta, Bukan Sekadar Ajang Berburu Kuliner, Dears

Pernah mendengar ungkapan, “Hidup untuk makan..” atau “Makan untuk hidup” ??
Kalau kamu pilih yang mana? 😊
.
Hidup untuk makan, artinya seluruh tujuan hidup hanya difokuskan untuk makan saja. Sementara ungkapan makan untuk hidup ingin menjelaskan bahwa makanlah sekadarnya saja, asal bisa hidup dan berenergi, itu sudah cukup. Kalau soal mau pilih yang mana dari kedua ungkapan itu mah terserah kamu, apakah tahun 2019 mau ganti Presiden apa enggak #eehh wkwkwk 🤣
.
Jadi begini teman-teman *mulai cerita nih ☺
Pada hari Minggu tanggal 18 November kemarin kan tanggal merah ya, udah pada tau belommmmm??
*yaeelahhh 🤣 hahhhaaahaa, anak TK juga tau mah kalau soal ini
.
Sedari pagi my little princess Lubna sudah bangun, sudah mandi. Padahal biasanya kalau hari Minggu mandinya harus disuruh-suruh, jaranggg banget mau mandi pagi. Nah, ini ternyata ada udang di balik batu. Udangnya apalagi kalau bukan pengen diajak jalan-jalan. Katanya di Jogja Expo Centre ada festival kuliner dunia.
.
Wahhh… ibunya aja heran, ini anak dapat info darimana ada acara begituan. Jawabnya, “Ya iyalah aku tau, kan anak gaul zaman now…” *ibunya tepok jidat.
.
Singkat cerita, kami berangkat ke sana, tapi sore hari biar nggak panas selama di perjalanan. Sampai di sana ternyata ada 2 acara , yaitu Pameran Komputer dan Festival Kuliner Dunia. Untuk festival kuliner dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- per orang. Selain mendapat tiket masuk, pengunjung juga diberi beberapa voucher diskon untuk pembelian aneka makanan dan minuman di booth festival.
.

20181118_164210
Dengan harga tiket 10.000 kita dapat kupon undian + aneka voucher diskon. Lumayan, kan?

.
.
Ada Lebih dari 100 Booth Kuliner
.
Begitu masuk ke dalam, kita disuguhi dengan beberapa booth untuk foto gratis para pengunjung. Ada yang bernuansa bunga sakura Jepang, ada pula balon udara Eropa. Puas foto-foto sebentar, kami lanjutkan masuk ke arena festival. Ternyata ada lebih dari 100 booth menjadi peserta di situ. Suasananya ramai, karena hiruk pikuk pengunjung bercampur dengan suara dentingan peralatan memasak dari stan kuliner yang ada.
.
Karena baru pertama kali mendatangi festival macam begini, kesempatan buat saya mengambil beberapa dokumentasi, terutama di stan kuliner bebakaran. Cara membakar yang unik dan disemprot cairan agar api membara banyak menarik perhatian para penikmat kuliner, terutama di booth yang menyajikan aneka varian sea food, macam cumi panggang, ikan bakar, dan semacamnya.
.

Exif_JPEG_420
Sate cumiii…. Siapa mauuu?

.
.

Exif_JPEG_420
Booth seafood. Cara membakarnya menarik perhatian pengunjung..

.
.
Selain stan bebakaran, yang juga tidak kalah banyak penikmatnya adalah street food dari Korea dan Jepang. Kalau Jepang sudah cukup paham deh saya kulinernya. Nah, kalau Korea memang belum pernah nyobain, cuma pernah baca ada makanan yang namanya Bulgogi. Tapi kemarin yang kami cobain namanya Tteokbokki.
.

Exif_JPEG_420
Tteokbokki, makanan Korea dari tepung beras

.
Tteokbokki ini semacam cemilan dari tepung beras yang dimasak dan disajikan dengan rasa pedas yang agak manis. Setelah matang di atasnya ditaburi potongan daun bawang dan wijen. Teksturnya kalau dikunyah agak kenyal, mirip cilok menurut saya. Lubna sih bilang enakkkk 😄 Kalau ibunya mending beli batagor atau siomay kali, yeee…
.
Oya, buat kamu yang nggak hobi makan aneh-aneh, di sini ada juga lho makanan asli Jawa macam gudeg, bakmi, oseng-oseng (tumis). Tapi memang nggak banyak sih. Ada satu stan kuliner Jawa yang lumayan lengkap, yang jualan sudah sepuh (lanjut usia). Mendadak suasana berasa seperti di pasar tradisional dekat rumah, di mana banyak penjual kuliner asli Yogya yang masih sangat murah harganya.
.
Menjelang pulang, nggak lupa Lubna narik ibunya ke stan dessert dari berbagai negara. Saya nggak tahu nama makanannya apa. Pokoknya Lubna langsung tunjuk aja 😁 Dengan harga Rp. 20.000, – kami dapat 3 macam kue dessert yang atasnya ditusuk bendera kecil sebagai pengenal asal dessert tersebut.
.
.
Ada Booth Foto, Panggung Hiburan, Stan Buku dan Mainan
.
Meskipun namanya festival kuliner, jangan dikira cuma makanan aja yang ada. Stan buku, mainan dan panggung hiburan tetap ada. Ada juga both foto yang saya ceritakan di awal tulisan tadi.
.

 

20181118_165413
Gak perlu jauh-jauh ke Jepang, di sini juga ada bunga sakura 😂😜

.

20181118_175952
Bayangin aja kamu lagi ada di Cappadocia Turki, yang banyak balon udaranya *ngarepdotcom 😍

.
.
Nampaknya ini memang dibuat untuk menarik para pengunjung yang membawa anak. Dannnn benar aja, Lubna langsung merengek-rengek beli komik. Haiyyyaaaa…. sejak kapan transaksi beli komik terjadi di acara kuliner macam begini, hemmm….
.
Setelah berkeliling kurang lebih 2 jam akhirnya kami pulang. Sepanjang jalan little princess senyum-senyum terus. Happy banget dia karena berhasil membawa satu komik baru dari hasil perjalanan hari ini qiqiqiiii. Pastinya dia dapat satu pengalaman berharga yang bisa menjadi bahan imajinasinya menggambar komik, sekaligus untuk diceritakan pada teman-temannya. Ternyata banyak manfaatnya juga ya, bukan sekadar mengejar nafsu berburu makanan… 😂 💕
.
.
💜💚💛

Tragedi Lion Air JT-610, Antara Cinta, Cita dan Keprihatinan

Satu minggu terakhir….
.
Pemberitaan media begitu sarat dengan tragedi kecelakaan si burung besi Lion Air JT 610 tujuan Jakarta – Pangkal Pinang, yang jatuh di perairan Karawang pada tanggal 29 Oktober 2018 lalu.
.
Pemberitaan ini bahkan mengalahkan berita utama di negeri ini, tentang musibah besar gempa dan tsunami Palu dan Donggala, yang lagi-lagi menjadi musibah ke sekian setelah peristiwa gempa Lombok sekitar 3 bulan yang lalu.
.
Ah, negeriku…
Ada apa dengan dirimu??
.
Bahkan seribu satu pro dan kontra di sosial media takkan mampu mencari tahu apa sebenarnya yang Dia rencanakan di balik semua kejadian ini.
.
.
20181105_011458_0001~01~01~01
.
Kembali pada tragedi jatuhnya pesawat Lion Air…
.
Ingatanku seolah melayang pada masa puluhan tahun silam…
Pada masa kecil dimana naik pesawat masih menjadi sesuatu yang eksklusif, dan beruntungnya, aku telah diberi kenikmatan untuk merasakannya.
.
Bouraq, Merpati, dan tentu saja sang pelopor penerbangan Garuda Indonesia,  adalah sederet nama maskapai yang sangat berjaya pada masa itu.
.
Tiga maskapai tersebut memberikan pelayanan yang istimewa dan sungguh memuaskan. Pilihan makanan dan minuman tersaji lengkap beserta kemasannya yang tampil ekslusif bak suvenir pernikahan. Ah, kenapa tak ada satu pun yang sempat aku dokumentasikan, ya? Betapa sesal kemudian serasa tak berguna.
.
Harga tiket pesawat pada era 80-90an itu mungkin tak ada yang diobral seperti zaman now. Tak ada istilah tiket promo, atau rebutan kursi promo.
.
Bahkan aku ingat, saat berusia 6 tahun, almarhum Bapak pernah mengatakan usiaku masih 5 tahun kepada petugas saat membeli tiket di loket. Tidak lain tidak bukan agar aku boleh duduk di pangkuan Bapak, tanpa harus membeli kursi sendiri. Lumayan bisa menghemat satu orang kan? ^^ Hemm…. ide yang cerdas…
.
Di masa itu jarang sekali ku dengar ada kecelakaan pesawat. Maka ketika tiket pesawat di masa kini semakin banyak diobral, seiring munculnya begitu banyak maskapai baru, dan impian naik pesawat telah menjadi kisah nyata milik semua orang, kenapa justru begitu banyak tragedi kecelakaan mengiringinya?
Bukankah seharusnya segalanya menjadi lebih baik?
.
Alat, sistem, fasilitas, kinerja, dan SDM seharusnya menjadi lebih rapi dan teratur seiring berkembangnya segala kemudahan yang ada.
.
Ahh…. teori dan asal bicara memang terlalu mudah diucapkan, ya Dears 😁
Siapa lah aku yang hanya seorang penumpang, yang saat ini hanya mampu menekan keypad di smartphone untuk sekadar menuliskan sepenggal opini berbasis masa lalu ini.
.
Kalau diizinkan bicara, aku hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya aku mencintai langit, pesawat, dan segala hal berbau angkasa.
.
Cita-citaku dulu ingin menjadi seorang Pramugari dan Astronot. Entah apakah aku cukup cantik atau tidak saat itu heehhee…. tapi terlalu sering melihat mbak-mbak cantik itu di pesawat membuatku ingin menjadi seperti mereka. Sedangkan pilihan menjadi Astonot terpatri di dalam hati, lantaran saat itu sedang booming pemberitaan tentang calon Astronot pertama Indonesia bernama Dr. Pratiwi Sudharmono.
.
Bukankah nama kami sama-sama Pratiwi? Siapa tahu keberuntungan juga memihakku? 😅
.
.
Namun, ketika akhirnya masa remaja tiba dan tinggi badan tak memadai dalam persyaratan menjadi seorang Pramugari, cita-citaku seketika berubah ingin menjadi seorang Diplomat dan Penyiar Televisi. *cukup pilih salah satu, Diplomat atau Penyiar ya, jangan kau duakan cintamu #eeaaa #upss
.
Selanjutnya, aku sudah cukup puas melihat mbak-mbak Pramugari cantik itu setiap kali naik pesawat dan memperhatikan seragam mereka. Sesungguhnya ada sebersit rasa syukur di dalam hati, karena salah satu persyaratan tes menjadi Pramugari yang pernah kubaca adalah harus mengenakan rok di atas lutut. Ah, bukan aku banget itu. Aku terlalu sopan dan pemalu melakukan itu ☺ Tampaknya Dia Yang Maha Mengetahui sudah sangat pas mengatur segalanya, dengan tidak mengizinkanku menjadi seorang cabin crew.
.
Kini ku tahu, tak selamanya sesuatu yang terlihat menyenangkan dan wah selalu indah seperti yang kubayangkan.
Apalagi setelah beberapa hari lalu menyaksikan tayangan di sebuah televisi swasta, tentang wawancara bersama seorang Pramugari yang menjadi salah satu korban dalam kecelakaan maskapai singa terbang ini beberapa tahun yang lalu. Ia bercerita harus menjalani berkali-kali operasi untuk memperbaiki anggota tubuh dan tekstur wajahnya akibat kecelakaan itu, tanpa ada bantuan dari pihak perusahaan. Ia pun menuturkan ketidakjelasan sistem kontrak yang diterapkan, karena ia dan rekan sejawatnya masih terlalu muda saat itu. Bisa diterima sebagai Pramugari dan berkeliling Indonesia dengan pesawat saja sudah merupakan suatu kebanggaan baginya dan teman-teman, tanpa terpikir hal lain terkait perjanjian kerja dan sejenisnya.
.
Miris memang, sekaligus prihatin mendengarnya.
Tapi sekali lagi…
Siapalah aku?
Yang hanya mampu menautkan beberapa rangkai kalimat dalam kenangan akan cita-cita masa lalu.
.
Tapi tak perlu khawatir, aku masih tetap penggemarmu yang dulu.
.
Masih tetap cinta langit, pesawat, dan segala hal yang berbau angkasa… 💕
💜💛💚

4 Destinasi Bulan Madu “yang Tertunda” di Yogyakarta, Kamu Wajib Baca!

Halo, Dears
.
Kalau di tulisan sebelumnya saya tulis sedikit tentang tema Ta’aruf, di curhatan kali ini kita ngalor ngidul dikit, yuk, tentang hanimun yang dilakukan pasca ijab qabul 😄… Aishhh…
.
Mungkinnnn ada yang berpikir bahwa untuk honeymoon harus menyediakan anggaran yang lumayan besar. Jadi beberapa pasangan lebih suka menunda hal ini, karena saat pernikahan mereka telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengadakannya.
.
Ternyata, faktanya tidak selalu demikian lho…
.
Ada beberapa daerah tujuan wisata yang dapat kamu masukkan ke dalam daftar tujuan honeymoon-mu, dengan biaya perjalanan yang tidak terlalu besar dan terbilang murah. Salah satunya adalah merencanakan tujuan bulan madu ke kota budaya Yogyakarta.
.
Coba deh baca curhatan saya di bawah ini ya…
.
Hari minggu tanggal 14 Oktober 2018 kemarin saya dan teman-teman merencanakan penjelajahan ke 4 lokasi wisata di Yogyakarta. Untuk kamu yang hobi berfoto ria pasti sudah paham jika saat ini banyak lokasi di provinsi DIY yang sengaja dibuat untuk spot foto menarik, dengan biaya masuk ke lokasi yang relatif murah meriah. Mulai dari hutan pinus, pantai, sawah, sampai ke wisata jurang yang cukup instagramable spot-spotnya.
.

Karena membawa anak-anak dan takut lelah di perjalanan jika harus nyetir sendiri, teman saya mengusulkan untuk menyewa paket wisata ke beberapa tempat sekaligus dalam sehari. Untunglah ada seorang teman yang buka bisnis persewaan transportasi. Cukup dengan harga Rp500.000,- untuk sewa mobil selama 12 jam (sudah termasuk supir & BBM), kami sudah dapat menjelajahi 4 tempat wisata, plus boleh mengubah dadakan tujuan wisata yang diinginkan selama dalam perjalanan. Maklummm, supirnya kan teman sendiri, hehheee…

.
Yuk, kita ulas satu demi satu, ya, tempat yang kemarin saya datangi.
.
.

1. Hutan Pinus Pengger

.

Awalnya, saya mengira wisata hutan pinus yang terkenal di Yogya hanyalah hutan pinus Becici. Ternyata ada pula beberapa lokasi wisata hutan pinus yang tidak kalah menariknya dari segi tersedianya berbagai spot foto, salah satunya adalah hutan pinus Pengger, yang masih termasuk wilayah kabupaten Bantul.

.
.

IMG-20181015-WA0034
Naik… naik… ke puncak gunung…

.

IMG-20181015-WA0033
Siapa bilang partai emak rempong gak hobi travelling? wkwkwkwk… 😂 Eyangnya Lubna aja ikutan tuhh yang paling belakang 😘

.
.
Dengan tarif masuk ke lokasi yang cukup murah, hanya Rp2.500,- rupiah per orang,  kamu sudah boleh bebas berekspresi dan berlari-lari sesukamu di area ini. Apalagi dengan mengajak serta anak-anak, lengkap sudah kehebohan mereka menemanimu menikmati hutan ini.
.
Salah satu ciri khas hutan pinus Pengger adalah adanya spot foto menggunakan ayunan di pohon pinus yang dapat kamu sewa Rp10.000, – per ayunan per orang. Foto menggunakan ayunan ini bikin geli, terutama untuk anak-anak. Awalnya mereka antusias pengen foto di ayunan secara bertingkat. Ternyata setelah sampai di atas ayunan teriak-teriak minta turun qiqiqiiii…. hebohhh pokoknya… 😅
.

IMG-20181015-WA0024
Baru duduk 2 menit, Lubna udah teriak-teriak minta turun. Ini dipaksa ibunya suruh senyum karena difoto 😅

.
.
Oya, jika sudah bosan di hutan pinus Pengger, kamu dapat bergeser sedikit ke beberapa hutan pinus lain di sekitar hutan Pengger yang juga memiliki ciri khas spot masing-masing, termasuk hutan pinus Becici juga ada di sekitar lokasi itu.
.
.

2. Jurang Tembelan

.
Lokasi ini cukup sering saya baca di media sosial, dengan berbagai spot yang cukup menegangkan karena berada di pinggir area jurang. Jaraknya tidak terlalu jauh dari hutan pinus.
.
Selain menawarkan spot foto yang mengasah adrenalin, lokasi ini juga dilengkapi dengan taman cinta yang dilengkapi tulisan-tulisan lucu untuk background foto, seperti : kapan nikah?, jodohku otw, dll.
.
Untuk saran kedatangan, sebaiknya jangan di siang hari ya, karena lokasi ini cukup jarang ada pepohonan. Lebih baik pilih saat pagi atau sore hari agar waktu berfotomu menjadi lebih menyenangkan.
.
Siap menguji adrenalin di jurang ini? Kuyy… majuuuuu jalannnn…
.

IMG-20181015-WA0008
Ini ceritanya di atas perahu. Di bawah perahu itu ada jurang. Makanya gak berani gerak..

.
.

IMG-20181014-WA0032~01
Sepanjang mata memandang selalu ditemani oleh jurang.

.

3. Pantai Ngobaran

.
Selesai eksplor wisata alam di kabupaten Bantul, naiklah kami ke kabupaten Gunung Kidul yang kaya akan lokasi pantainya. Sambil berdiskusi di jalan, kami sepakat meneruskan petualangan ke pantai Ngobaran yang memiliki ciri khas pantai bertebing dan dijuluki “Tanah Lot-nya Jogja”.
.
Widihhhh…. kuper ini, saya baru tahu lho kalau ternyata ada kembaran Tanah Lot juga di Yogya.
.
Kenapa dibilang mirip Tanah Lot? Karena pantai Ngobaran memiliki tebing menjorok ke laut mirip Tanah Lot di Bali, dan terdapat pula area sembahyang umat Hindu berupa pura di lokasi pantai.
.
Lumayan asyik sih, suasananya jadi mirip di Bali. Diiringi suara gelegar dari deburan ombak yang kencang di tebing pantai, kamu dapat mulai mengeksplor pantai ini dengan berjalan-jalan di sekitar area pantai, selfie di beberapa spot foto yang disediakan, membeli oleh-oleh suvenir atau aneka ikan, udang dan hewan laut lainnya, asalkan jangan berenang di lautan. Di sini juga tersedia jasa fotografer & cetak foto yang cukup murah. Hanya dengan Rp10.000,- rupiah kamu sudah mendapatkan pelayanan foto diri dan cetak foto dengan hasil yang memuaskan.
.
.

IMG-20181014-WA0013
Tebing di belakang yang menjorok ke laut itu yang membuat pantai ini dijuluki “Tanah Lot-nya Jogja”

.

IMG-20181015-WA0054
Gapura dan patung di pantai Ngobaran ini membawa ingatan kita akan pulau Bali..

.
.

4. Pantai Sadranan

.
Pantai Sadranan juga terletak di Gunung Kidul, membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari arah pantai Ngobaran. Jika kamu hobi snorkeling dan mencari aneka biota laut, datanglah ke pantai Sadranan yang dilengkapi dengan fasilitas persewaan alat-alat snorkeling.
.
Ombak di bagian pinggir pantai ini cukup landai dan tenang, mirip aliran sungai. Deburan ombak yang cukup keras mulai terasa beberapa meter dari pinggir pantai, di bagian tengah. Pantai Sadranan cukup aman untuk anak-anak bermain dan menangkap ikan di bagian pinggir pantai, asalkan tetap dalam pengawasan orang dewasa.
.

IMG-20181015-WA0010
Menangkap.ikan, kepiting, dan bermain pasir…

.

FB_IMG_1539612983999
Sebelum menangkap ikan jangan lupa beli ember & jaring kecil dulu ya…

.
.
Alhamdulillah…. perjalanan hari itu serasa bulan madu yang tertunda bagi saya #uhhukkkkk 😂 Tapi gak perlu nunggu hanimun juga kalii kalau mau ke Yogya 😁
.
Bagi saya, perjalanan menikmati alam bukan sekadar untuk berfoto, karena jujur, saya pemalu dan gak fotogenik 🙄 Banyak hikmah yang dapat kita rasakan dari sebuah perjalanan. Pikiran dan mata lebih fresh, hati juga lebih bersyukur, karena melihat betapa indah dan dahsyat alam yang telah Dia ciptakan.
.
Belajar dan selalu melihat tanda-tanda dari alam, itu hal yang sangat penting buat saya. Jika kamu terus mengasah kepekaan diri untuk selalu bersinergi dengan alam, maka hatimu pun akan menjadi lebih tenang, damai, dan selalu dipenuhi dengan kalimat-kalimat tasbih… 💖
.
💜💛💚
.
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity

Malioboro, Jalan Kenangan yang Tak Terlupakan

 


 

940c626ae2dbad5f93197a71611485c3
Foto : malioboro_insta

Kalau ditanya obyek wisata apa yang menjadi ikon kota Yogyakarta, pasti sudah tahu kan ya bahwa jawabannya adalah jalan Malioboro? ☺
 
Yup, siapapun yang datang ke kota pelajar ini belum afdol kalau belum foto atau menginjakkan kaki di jalan penuh kenangan ini. Kenapa disebut sebagai jalan kenangan? Hemmmm… tidak lain dan tidak bukan karena jalan Malioboro adalah jalan bersejarah yang sudah ada sejak tahun 1750-an. 
 
Untuk kamu ketahui,  jalan Malioboro diambil dari nama sebuah jalan dalam kitab Ramayana, yaitu ‘Malyabhara” yang artinya jalan yang mengenakan bunga (jalan istimewa). Nah, karena pengaruh ucapan aksara Jawa A dibaca O, maka jadilah sebutannya adalah jalan Malioboro.
 
Di sepanjang jalan kenangan ini kamu tidak hanya bisa berbelanja atau berjalan-jalan sepuasnya. Ada beberapa obyek bersejarah masa lalu yang menunggu untuk kamu datangi, seperti Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, Gedung Agung, dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret. Agak selatan sedikit kamu dapat melihat dari dekat wilayah Kraton Yogyakarta di komplek Alun-alun Selatan (Alun-alun Kidul). Sementara di bagian utara terdapat Stasiun Kereta Api Tugu dan tidak lupa berdiri tegak di tengah perempatan lampu merah adalah Tugu Yogyakarta.
.

497e873466a17cb2246106e83689a0be
Foto : malioboro_insta

.
.
Menurut legenda dan kepercayaan masyarakat Yogya, antara Gunung Merapi, Tugu Yogya, Kraton, dan Pantai Parangtritis terdapat satu garis imajiner lurus yang menghubungkan tempat tersebut. Entah apa maksudnya, tapi legenda ini tetap menjadi misteri hingga saat ini, bahwa penguasa di Gunung Merapi memiliki hubungan erat dengan penguasa di Pantai Parangtritis.
.
Oke, kita tinggalkan yang berbau mistis yak. Lanjut fokus ke hal apa saja sih yang harus kamu perhatikan saat berkunjung ke Malioboro :
.
.
Selasa Wage
.
Dikutip dari situs Pikniekdotcom, setiap hari Selasa Wage adalah hari bersih-bersih bagi warga Malioboro. Jadi jangan heran apabila pada hari itu tidak terdapat pedagang yang berjualan, alias libur selama 24 jam.
.
.
Pegang Erat Tasmu
.

c414e9f4011c275dc8846c8db4fddd97
Foto : malioboro_insta

.
.
Bukan rahasia lagi jika di Malioboro banyak tangan-tangan jahil yang mencari kesempatan dalam kesempitan merogoh tas dan mengambil dompetmu. Selalu dekap erat barang bawaanmu dan taruh dibagian depan.
.
.
Tawar Barang 30% dari Harga Jual
.
Ingin dapat harga murah di Malioboro? Jangan malas menawar dan membandingkan harga dari satu penjual ke penjual lainnya yess! Lakukan penawaran dengan kalimat yang sopan sampai 30% dari harga yang ditawarkan penjual. Kalau belum boleh, tak ada salahnya kamu pergi dahulu ke penjual lainnya sekalian survei harga lain.
.
.
Lapar? Cari Lesehan yang Ramai dan Ada Daftar Menu dan Daftar Harganya
.
Semakin malam jalan Malioboro semakin ramai dan dipenuhi oleh para penjual makanan lesehan. Aneka lesehan gudeg, bebakaran, sea food, menanti untuk kamu santap dan nikmati. Tapi eitsss… tunggu dulu. Jangan terburu nafsu. Cari tempat lesehan yang banyak pengunjungnya dan jelas daftar harganya. Bukan rahasia lagi jika di beberapa tempat makan ada yang mematok harga tidak wajar, terutama untuk wisatawan dari luar Yogya.
.
.
Foto di Depan Tulisan “Malioboro”
.

2d493b910f3e49da673d668a62f9718e
Foto : malioboro_insta

.
.

Saat ini, kawasan jalan Malioboro mulai berbenah diri dan tampak lebih tertib dan bersih dari sebelumnya. Sepanjang trotoar yang dulu dipenuhi pedagang kaki lima dan dijadikan area parkir mulai dibangun taman-taman dan diberi kursi santai untuk tempat duduk-duduk mereka yang kelelahan, atau sekedar ingin berfoto selfie. Nah, bicara tentang foto, jangan lupa ya untuk selfir di depan plang tulisan “Malioboro” yang sangat ikonik itu. Plang berwarna hijau itu adalah pertanda bahwa kamu sudah berhasil menginjakkan kaki di jalan legendaris ini.

.

Okee… gimana? Kangen pengen ke Yogya lagi? Hayolahhh, siapa takuttt??!!

Yogya adalah kota ramah, murah meriah, dan penuh santun yang dijamin akan selalu ada di hatimu dan membawa kenangan indah saat kamu kembali ke daerah asalmu lagi… ☺❤

Ketika Impian Menjadi Nyata (2) : Madinah

Alhamdulillah, kita lanjut lagi ya cerita umrohnya 😊 Maafkannn kelamaan lanjutannya dari cerita sebelumnya…

Yang mau baca kisah sebelumnya ada disini

Jadi setelah 4 jam perjalanan Istanbul – Madinah, sampai juga di bandara Madinah sekitar pukul 00.30 dini hari. Waktu itu ada ratusan orang jamaah dari berbagai negara yang landing berbarengan rombongan kami. Jadi kebayang dong ya antrian imigrasinya seperti apa.
.
Nah, parahnyaaa…. petugas imigrasi di bandara Madinah santaiiiii banget kerjanya. Padahal semuanya pria. Dan rupanya mereka hobi ngobrol dan bicara dengan sesama rekan kerja. Duhhh itu antrian sampai lebih dari 2 jam.
.
Saya kasihan melihat beberapa jamaah yang sudah lanjut usia harus menunggu selama itu. Banyak diantara jamaah, termasuk saya, yang akhirnya duduk ngglesot alias ndelosor di bawah, karena sudah tidak tahan berdiri berjam-jam begitu lama. Bahkan sampai ada yang jatuh lho saking lamanya menunggu 😔
.
Hemmm.. bedaaa 360 derajat dengan petugas imigrasi di bandara Turki yang serba cepat, disiplin, dan tak banyak bicara.
.
Sekitar jam 03.00 pagi akhirnya selesai juga prosesnya. Kami telah dijemput oleh seorang Muthawwif (pembimbing umroh) yang ternyata telah menunggu kedatangan kami sejak jam 23.00. Mantap ya nunggu yang dijemput aja 4 jam lamanya di bandara. Kalau naik pesawat sudah sampai Istanbul itu 😁
.
.
Dari bandara kami diantar menggunakan bis menuju hotel di dekat Masjid Nabawi. Alhamdulillah hotelnya terletak di belakang pasar. Jadi setiap akan ke masjid kami harus melewati pasar yang menjual aneka oleh-oleh, suvenir, dan berbagai keperluan untuk jamaah. Harga-harganya pun relatif murah.
.
Untuk satu jilbab segi 4 yang bahannya lumayan halus, kita bisa beli seharga 5 SR (Saudi Riyal).
Kurs 1 Riyal sekitar Rp. 3.850, –
Untuk peci bentuk bulat, kamu bisa beli dengan harga bervariasi. Ada yang 5 SR, ada pula yang hanya 2 SR.
.
Oh ya, saya sempat beli tas traveling jinjing gede di pasar ini. Mau tahu harganya berapa? Only 15 SR aja, alias gak sampai Rp. 60ribu 😁 ck… ck… Padahal tasnya lumayan besar dan kuat loh.
Ehhh ini kenapa kita malah keterusan bahas tentang harga oleh-oleh ya hehhee..
Oke, saya lanjut lagi cerita tentang masjid Nabawi.
.
.

 

IMG_20180714_004824_327
Kubah hijau di belakang saya adalah makam Rasululullah Saw.

.
.
Masjid Nabawi ini merupakan masjid kedua yang dibangun Rasulullah Saw setelah masjid Quba. Saat itu beliau dalam masa hijrah dari Mekkah ke kota Madinah Al Munawwaroh yang jaraknya sekitar 340 km dari kota suci Mekkah. Ciri khas masjid Nabawi ini ada pada atap di pelataran masjidnya yang dapat membuka dan menutup seperti payung.
Setelah sholat Subuh atap-atapnya mulai dibuka, dan setelah sholat Ashar atapnya ditutup, sehingga kita sholat Maghrib dan Isya’ langsung beratapkan langit. Masyaa Allah.
.

Exif_JPEG_420
Atap di pelataran masjid siang hari

.

Exif_JPEG_420
Saat magrib tiba

.
Di dalam masjid Nabawi terdapat makam Rasulullah yang ditandai dengan kubah berwarna hijau. Untuk masuk kesana dibatasi waktunya dan butuh banget perjuangan, karena harus berebut dengan ratusan jamaah dari negara lain. Biasanya ustadz pembimbing atau Muthawwif akan membimbing jamaahnya menuju tempat mustajab berdoa yang disebut Raudhah (Taman Surga). Raudhah ini letaknya diantara bekas mimbar Rasulullah dan makam beliau di dalam masjid.
.
.
Oya, Madinah ini kotanya tenang, nyaman, terdapat banyak pohon kurma, dan tidak seramai Mekkah. Enak deh untuk kamu yang suka jalan dan lihat-lihat suasana kota.
.
Sayangnya rombongan kami hanya stay 3 hari disini. Belum puas sebenarnya karena belum sempat keliling banyak. Ziarah hanya diajak ke Jabal Uhud dan kebun kurma. Padahal pengen banget lihat onta, tapi belum kesampaian. Doakan ya next time bisa kesana lagi dalam rangka ibadah haji yang wajib buat umat muslim. Aamiin… ☺
.
.

Exif_JPEG_420
Jalan raya di pusat kota Madinah, sekitar Masjid Nabawi. Tenang & tidak terlalu ramai.

.
.
Rasulullah pernah berkata, bahwa sholat di Masjid Nabawi memiliki pahala 1000x lipat dibandingkan sholat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram. Dan sholat di Masjidil Haram memiliki keutamaan 100.000x lipat dibanding sholat di masjid lainnya.
Jadi kalau kamu punya rezeki, jangan tunda lagi untuk segera berkunjung ke rumah Allah dan Rasulnya, ya. Insya Allah Dia akan ganti seluruh biaya yang kamu keluarkan dalam bentuk rezeki yang lebih berlimpah dan barakah 💖
Next kita sambung lagi kisah di Mekkah Al Mukarromah ya…