Arsip Tag: Lombok

Sheraton Senggigi Beach Resort, Liburan dan Berbisnis di Lombok Jadi Nyaman dan Menyenangkan

Hai… ini tulisan pertama di tahun 2020. Alhamdulillah πŸ™‚ Bagaimana hari-harimu sepanjang tahun 2019 lalu? Menyenangkan, menyedihkan, ataukah membingungkan? heheheee…. Apa pun yang kamu rasakan, tak ada satu pun kehidupan yang isinya cuma ujiaannnn melulu. Atau sebaliknya, ketawaaaa terus. Nope! Setelah bahagia, pasti ada bapernya. After baper, pasti ada happy-nya. Percaya aja dan terus nikmati alurnya, agar kita bisa lebih tenang dan siap menghadapi risiko terberat sekalipun.

Tapi kali ini saya enggak sedang menulis tentang tema inspirasi. Lebih pengen rileks aja menulis hal yang berbau traveling. Karena masih di awal tahun dan suasana liburan masih terasa, saya pengen cerita tentang pengalaman 2 bulan lalu saat mendapat tugas liputan ke Lombok dari salah satu institusi perbankan syariah dan diberi kesempatan menginap di salah satu hotel bintang 5, yaitu Sheraton Senggigi Beach Resort.

Terletak di tepi Pantai Senggigi (image: Pegipegi.com)

Sheraton Senggigi Beach Resort bukan hotel baru di Lombok. Di antara banyaknya hotel di area Senggigi, penginapan berbentuk resor ini merupakan salah satu tempat menginap favorit para wisatawan, khususnya turis mancanegara. Saat diresmikan pada bulan Desember tahun 1991, Sheraton Senggigi Beach Resort menjadi hotel internasional bintang 5 pertama yang ada di pulau Lombok. Beberapa penghargaan pernah diraih hotel ini, salah satunya sebagai Hotel Bintang Lima Terfavorit pada tahun 2010 dari Indonesia Tourism Award.

Terletak di Jantung Pantai Senggigi

Waktu menunjukkan hampir pukul 18.00 WITA saat saya pertama kali check in di hotel ini. Sheraton Senggigi Beach Resort terletak di jantung pantai Senggigi, tepatnya di Jalan Raya Senggigi Km. 8, Lombok Barat.

Setelah memasuki lobi hotel, seorang staf pria menyambut dengan ramah sambil memberikan segelas welcome drink dingin. Begitu saya seruput, nyessss….. suegerrrrr banget karena ternyata isinya adalah air asam. Sejenak, pikiran dan tubuh yang sudah letih karena seharian harus melakukan liputan di beberapa lokasi di Lombok, seketika menjadi segar kembali.

Seorang petugas wanita di meja resepsionis kemudian memberikan kunci kamar kepada staf OB pria yang menawarkan diri untuk mengantar saya dan 2 rekan lainnya ke kamar kami masing-masing.

Saya berjalan beberapa belokan di antara asrinya hamparan taman dan harus menuruni beberapa anak tangga dari kayu sebelum akhirnya sampai ke dalam kamar. Begitu kamar dibuka, 2 tempat tidur dengan bed cover berwarna putih bersih seolah memanggil-manggil diri ini untuk segera merebahkan diri. Tapi sayang sekali, masih ada acara berikutnya sampai jam 21.00 malam nanti. Saya pun bergegas melihat-lihat situasi kamar dan membuka pintu kaca yang terhubung ke balkon dan teras taman. Suasana senja dan angin pantai berhembus sedikit kencang, diiringi syahdunya lampu taman yang temaram dan baru mulai dinyalakan. Duhhh, romansyaa… *ehh romantis gituhh. Bikin baper jadinyah…

Romantis enggak sih? hehehee….

Hembusan angin yang lumayan kencang di antara rimbunnya dedaunan taman yang berpadu dengan alunan suara deburan ombak di Pantai Senggigi ini membuat saya sempat lupa harus segera membersihkan diri dan bersiap mengikuti acara dinner.

Duhai alam, betapa hadirmu yang begitu memesona terkadang sering berbalut keajaiban yang berbalik 360 derajat….

Bayangan tentang gempa dan tsunami yang sempat terjadi pada bulan Agustus 2018 lalu di tanah kelahiran saya yang akrab dengan sebutan “Pulau Seribu Masjid” ini membuat hati sedikit bergetar. Entah,… bagaimana jadinya kondisi para tamu hotel di kawasan pantai ini saat kejadian gempa berlangsung. Ingatan menyedihkan ini akhirnya berhasil memaksa saya untuk kemudian kembali ke dalam kamar dan menutup pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan teras dan taman nan asri di tepian pantai.

Kamar dan Fasilitas yang Tersedia

Jenis kamar double twin dengan 2 tempat tidur (image: Pegipegi.com)

Sebelum menuju kamar mandi, saya mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. Tampak penyejuk ruangan di dinding bagian atas dekat pintu kamar. Sebuah televisi layar datar dan meja besar dengan cermin yang lumayan lebar berada di bagian tengah kamar. Di sudut meja lebar tersebut terdapat 2 botol air mineral, 2 gelas kosong, aneka sachet kecil minuman (teh, kopi, daun mint, krimer, dll), dan tidak lupa teko penghangat yang berada di dekat colokan listrik.

Di tepi ruangan terdapat lemari berisi 2 helai handuk kimono yang tergantung rapi dan sandal tipis sebagai alas kaki. Sebuah pesawat telepon diletakkan di meja kayu kecil, memisahkan 2 buah bed yang ada di dalam kamar. Sayangnya, saya enggak terpikir untuk memotret suasana kamar. Cuma sempat ambil beberapa foto di luar ruangan aja.

Rekan sekamar saya, seorang wartawan media cetak lokal yang baru saya kenal siang tadi, ternyata belum tiba di hotel. Jadilah saya menikmati kesendirian dahulu di kamar double twin itu. Oya, semua kamar di Sheraton Senggigi Beach Resort ini dilengkapi dengan teras/balkon yang langsung menghadap ke area taman atau kolam renang yang berada di tepian Pantai Senggigi. Kamu dapat memilih kamar dengan pemandangan terbaik yang diinginkan.

Cari Suvenir? Enggak Usah Jauh-Jauh ke Kota, di Sini juga Ada, kok!

Secara keseluruhan, hotel ini memiliki luas tanah sekitar 4 hektar dan terdiri dari 154 kamar. Nuansa interior dan desain bangunannya memang sengaja dibuat setradisional mungkin, didominasi oleh ornamen kayu berwarna coklat gelap. Di beberapa bagian halaman belakang yang berbatasan langsung dengan Pantai Senggigi, terdapat berugaq (gazebo) beratapkan rumbia khas Lombok untuk duduk-duduk sembari menikmati suasana pantai.

Dari gazebo ini kamu bisa bebas menikmati deburan ombak dan lalu lalang kapal nelayan yang lewat. Eksotis, bukan? (image: dok. pribadi)

Di sekitar gazebo dan taman nan asri ini terdapat beberapa kolam renang dan arena bermain anak. Kamu juga tak perlu jauh-jauh jika ingin membeli suvenir dan oleh-oleh khas Lombok, seperti kaos, perhiasan mutiara, kain tenun, dll karena di pinggir pantai terdapat beberapa penjual yang bisa kamu tawar harganya. Menurut saya sih harganya lebih murah di sini daripada di toko-toko suvenir di kota.

Saya sempat mengobrol sejenak dengan 2 orang pria penjual suvenir yang saya tawar. Yang satu masih muda, satunya lagi sudah lebih kebapakan tampaknya. Saya bilang, saya dulu lahir di Lombok tapi sekarang tinggal di Yogya, jadi kalau ngasih harga jangan mahal-mahal, kwkwkwk… To the point, yak! Alhamdulillah, langsung dikasih harga murah, Gaess. Malah ada teman di Jakarta yang mendadak titip mutiara karena tahu saya sedang berada di Lombok. Jadilah teman itu dapat harga murah juga, heheheee… Padahal si penjual cerita, kalau sama turis Jakarta atau manca, harganya biasa dia naikkan berkali lipat dari yang diberi ke saya. So far, para wisatawan juga enggak pernah komplain karena tahu bahwa kualitas barangnya memang beneran bagus.

Jadi cara ini bisa kamu jadikan tips juga, sih, sebenarnya agar dapat harga murah. Bilang aja punya keluarga di sana, atau bilang sering bolak-balik ke sana. Ajak ngobrol santai para penjualnya agar mereka juga nyaman sama kita. Kalau penjual sudah merasa nyaman dan percaya dengan pembeli, biasanya mereka akan kasih potongan harga lumayan. *berdasarkan pengalaman saya, nih… πŸ˜€

Mutiara Lombok ini terkenal bagus kualitasnya, lo…

Di hotel ini juga ada free wifi yang bisa bebas kamu akses sambil duduk di tepian pantai, selonjoran atau tiduran menikmati sunrise atau sunset. Ahh… surga dunia banget mah ini. Apalagi pantainya private beach banget, enggak banyak yang berenang dan jalan-jalan. Paling 1-2 orang aja. Para penjual suvenir tadi juga berkesempatan dapat akses wifi gratis, lo, sambil menunggu jualan mereka menggunakan meja panjang di tepian pantai. Konsep bisnis yang memberdayakan masyarakat sekitar seperti ini tampaknya mampu membuat bisnis apa pun menjadi bertahan di tengah kentalnya tradisi masyarakat lokal.

Devi, teman sekamar saya yang juga wartawan Radar Lombok sempat bercerita, dulu setelah kejadian gempa di bulan Agustus 2018, hotel ini nyaris tutup karena tak ada lagi tamu yang berani berkunjung dan menginap di sini. Banyak karyawan yang kemudian terpaksa di-PHK. Tapi untunglah pihak perusahaan segera merombak dan membenahi manajemen hotel, sehingga mulai 1 Desember 2018, Sheraton Senggigi Beach Resort kembali beroperasi dengan konsep yang lebih baru dan terus bertahan kembali hingga saat ini, menjadi salah satu hotel pilihan di pulau Lombok.

Lapar, Guys? Tenang, Ada 3 Pilihan Gerai Kuliner di Sini

Seluruh tamu yang menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort mendapat fasilitas sarapan pagi gratis all you can eat hingga pukul 10.00 pagi. Kamu dapat memilih aneka menu, mulai dari menu Indonesia, Eropa, sampai oriental. Ada omelet, aneka roti dan cake, nasi goreng, rawon, bakmi, dll, termasuk juga aneka dessert segerrrr yang bikin pengen nambah terus karena enggak bakalan bikin gemuk, hehheee… (yogurt, aneka jus, salad dan buah segar). Kalau kapasitas perutmu banyak, silakan saja menyantap semuanya dengan bahagia. Tapi sayangnya, kapasitas perut saya kecil saja. Jadi semangkuk soto dan segelas yogurt, plus secangkir lemon tea sudah cukup buat saya.

By the way busway, salah satu menu Indonesia yang tersedia adalah soto ayam, lengkap beserta lontongnya. Yup, kamu sebaiknya tahu kalau di Lombok itu makan soto atau bakso memang dicampur pakai lontong, ya, bukan pakai nasi πŸ˜€ Rasanya gimana makan soto atau bakso pakai lontong? Ya enaklah, justru enggak bikin eneg.

What is Indonesian Rice Cake? (dok. pribadi)

Waktu itu mata saya sekilas menangkap satu wadah makanan yang nama menunya tertulis Indonesian Rice Cake. Kepo dong ya pastinya? Ternyata oh ternyata, setelah dibuka tutup wadahnya, beberapa biji lontong khas Lombok sedang bobok manis di dalam wadah…. ^_^

Oalahhh…. tenyata lontong, Gaess! (dok. pribadi)

Sheraton Senggigi Beach Resort sendiri memiliki 3 gerai kuliner yang dapat kamu pilih sesuai waktu makan. Selain restoran Kebun Anggrek untuk tempat sarapan di pagi hari, ada juga restoran Bawang Putih yang terletak di tepian kolam dan siap menyajikan hidangan makan siang dan makan malam berupa aneka menu panggang (bebakaran) bagi para tamu hotel. Ada juga Senja Lounge & Dine yang menyajikan menu-menu ringan semacam cocktail, dll sambil menikmati senja dan indahnya matahari terbenam.

Menikmati indahnya senja di Sheraton Senggigi Beach Resort (image: Pegipegi.com)

Cuma itu saja fasilitas di sini? Enggak, dong! Masih banyak yang lain, termasuk sarana kebugaran dan kecantikan yang tentunya kamu butuhkan untuk membuat pikiran dan tubuhmu lebih segar dan sehat meskipun sedang dalam perjalanan ke luar kota. Sheraton Senggigi Beach Resort, sedang liburan atau berbisnis, semuanya sama-sama nyaman.

Sheraton Senggigi Beach Resort
Jl. Raya Senggigi Km. 8, Senggigi, Lombok Barat – NTB
Telepon: (0370) 693333

Baca Juga

5 Kuliner Khas Lombok Favorit Saya

Salah satu hal yang paling berkesan dan bikin betah kalau lagi di Lombok buat saya adalah makanan khasnya. Yup, mungkin karena saya lahir dan besar di sana, jadi lidah dan otot syaraf indera pengecap di dalam mulut sudah terlalu biasa dengan rasa pedas dari kuliner khas pulau ini.

Selain menggunakan terasi sebagai bumbu wajibnya, kuliner Lombok identik dengan sambal yang dibuat dari sebiye bideng (cabe merah keriting yang dijemur sampai kering dan kehitaman). Bahan khas ini yang bikin rasa pedasnya berbeda dengan daerah lain.

Kamu penasaran enggak apa saja kuliner khas Lombok yang menjadi favorit saya dan bikin pengen nambah terus meskipun makannya sambil kepedasan? 5 di antaranya ada di bawah ini, Guys! Eitsss… tapi bacanya jangan sambil nelen ludah, yak…. πŸ˜€

1. Pelecing Kangkung

Image : Senggigitour.com

Pelecing kangkung. Kuliner Lombok yang satu ini seolah menjadi ikon kuliner pulau seribu masjid ini. Bahan dasarnya adalah kangkung asli Lombok yang direbus dan disajikan dalam keadaan dingin. Untuk campurannya, ada sambal terasi, parutan bumbu kelapa yang dibakar, taoge, kacang goreng, dan kucuran jeruk limau yang menjadi ciri khas kuliner masyarakat Sasak, penduduk asli pulau Lombok.

Oiya, kangkung asli Lombok ini batangnya besar-besar dan segar, berbeda dengan kangkung dari daerah lain yang mudah layu saat direbus. Ini yang membuat sensasi kangkung Lombok lebih renyah saat digigit. Di beberapa daerah, seperti Yogyakarta tempat domisili saya sekarang, kangkung Lombok kadang dijual di supermarket atau swalayan besar. Tapi tentu saja harganya sedikit lebih tinggi daripada kangkung biasa.

 2. Ayam Taliwang

Image : Cookpad.com

Kuliner ayam taliwang ini biasanya disajikan bersama dengan pelecing kangkung. Ayam taliwang adalah ayam bakar khas Lombok, berbahan dasar ayam kampung yang masih muda. Sebelum dibakar, ayam taliwang dibumbui dulu dengan cabe merah kering yang dijemur (sebiye bideng), terasi, bawang putih, bawang merah, kencur, gula merah, santan, dan jeruk limau. Untuk kamu yang enggak suka pedas, tak perlu khawatir. Ada, kok, rumah makan ayam taliwang yang menyajikan ayam taliwang dengan menu ayam madu.


3. Sate Pusut

Image : Cookpad.com

Kalau kamu suka makan olahan sate, cobain, deh, sate yang satu ini. Bahan utamanya adalah kelapa parut yang dibumbui pedas dengan cabai, bawang merah, bawang putih, dan tentu saja terasi tak pernah ketinggalan. Setelah semua bahan tercampur, baru dibakar. Untuk variasi, kamu juga bisa menambahkan bahan daging atau ikan pada campuran kelapa parut. Rasa satenya akan lebih padat dan lebih tinggi protein.

4. Beberuq

Image : cookpad.com

Beberuq ini bikinnya simpel banget, karena merupakan olahan sambal yang berbahan dasar terong ungu bulat segar dan masih muda. Jika tak ada terong ungu, kamu bisa ganti dengan terong hijau. Tapi, di Lombok, terong yang dipakai umumnya memang terong ungu. Seperti biasa, bahan utama sambal di Lombok adalah terasi Lombok yang sangat khas, tomat, cabe merah, bawang merah, dan jeruk limau.Potong terong berbentuk dadu kecil-kecil, campur dengan sambal terasi, lalu kucuri dengan minyak panas. Hmm … aromanya dijamin bikin kamu ngiler dan langsung mengambil sepiring nasi hangat.

 5. Nasi Balap

Image : Senggigitour.com

Nah, kalau ini kuliner khusus buat kamu yang suka makan nasi sambil balapan.Β What??Β Hehe …

Nasi balap terkenal juga dengan sebutan nasi puyung, karena berasal dari desa Puyung, sebuah desa di kawasan Lombok Tengah. Lauknya sebenarnya sangat sederhana, cuma irisan daging ayam berbumbu pedas khas Lombok (ayam pelalah), kering kentang, kedelai goreng, dan kadang disertai irisan telur dadar. Nyam … nyam … meskipun sederhana, tapi lezatnya jangan ditanya. Sensari gurih dan pedas dari nasi balap yang nendang bikin jantungmu berdetak lebih kencang karena kepedasan, dan kamu bakal ketagihan untuk nambah dan nambah lagi. Wah, tambah kurus dong saya.. ^^

Untungnya, di Yogyakarta sekarang banyak yang membuka usaha kuliner dengan menu khas Lombok ini. Ada yang memang pemiliknya orang Lombok asli, tapi ada juga yang pemiliknya warga Yogya dan dahulu pernah tinggal lama di pulau Lombok. Terutama untuk menu Nasi Balap, di beberapa bagian daerah kampus banyak tersebar penjual nasi ini dengan harga yang relatif terjangkau, sekitar Rp8.000,- sampai Rp10.000,- per bungkus.

Jadi, kamu pilih yang mana dari 5 makanan di atas? Kalau ngerasa takut berat badan nambah, sepertinya kamu lebih baik pilih aja pelecing kangkung, ya, jangan yang lain… *pissss πŸ˜€

Baca juga

#SETIP_Day12 #SemingguTigaPostingan #EstrilookCommunity

Yang Tersisa dari Kaki Rinjani sebagai Wonderful Indonesia Pasca Gempa Dahsyat 2018

Sumber : Wisatalombok.info

Hemmm…. rasanya tak akan pernah habis kata untuk bercerita tentang pulau kelahiran saya ini meski sudah tak tinggal di sana lagi. Sekumpulan memori masa kecil yang berkelebat dan tersimpan dengan rapi, membuat saya selalu ingin dan ingiiinnn terus kembali ke sini. 

Yup, wonderful Lombok! Begitu banyak sesuatu yang unik dari pulau ini. 

Saya ingat, ketika kecil, ibu saya yang orang Yogya asli dan pindah ke Lombok karena mengikuti tugas Almarhum bapak, pernah berkata, “Lombok itu unik, nak. Di Lombok kamu bisa melihat budaya Bali. Tapi di Bali kamu tak akan pernah bisa melihat budaya Lombok…”

Dan benarlah demikian adanya, karena hanya di Lombok kita dapat menyaksikan kerukunan beragama antara masyarakat muslim dan Hindu Bali, yang berdiri berdampingan satu dengan yang lain. Bahkan di Lombok kamu bisa menemukan kampung khusus masyarakat Bali yang disebut Kampung Bali.

Oya, bercerita tentang Lombok saat ini tak bisa lepas dari kisah tragis gempa dahsyat 6, 4 SR yang terjadi akhir Juli lalu. Pemerintah daerah setempat saat ini masih terus melakukan perbaikan dan mencari solusi agar pulau wisata ini dapat kembali normal seperti dulu. Meski saat ini pembangunan pusat niaga makin pesat dan menjamur di tengah kota, wisata alam dan kuliner di Lombok tetaplah juaranya. Penerbangan langsung selama liburan dengan rute Yogya – Lombok sepanjang pengamatan saya, selalu diisi dengan banyaknya wisatawan bule di pesawat.

Nggak mengherankan sih sebenarnya, karena di Lombok masih banyak objek wisata perawan, misalnya pantai, dengan deburan ombak dan warna laut eksotis biru kehijauan dan pasir putih sebesar biji merica, menunggu untuk kamu sentuh.

Tapi kali ini kita tak akan berbicara tentang pantai, Dears, karena ada satu lagi keindahan yang menyihir para wisatawan saat berkunjung ke sini. Apalagi kalau bukan panggilan dari sosok misterius dan cantik Dewi Anjani yang berdiri kokoh di wilayah kekuasaannya, yaitu Gunung Rinjani.

Sumber : Trekkingrinjani.com

Yup! Di kalangan para pendaki, Rinjani termasuk gunung yang memiliki jalur trekking sangat menantang. Dengan ketinggian sekitar 3726 mdpl, Rinjani menjadi gunung tertinggi nomor 3 di negara kita setelah Kerinci dan puncak Cartenz. Kamu boleh merasa lelah hayati saat mendakinya. Tapi setelah itu semua akan terbayar dengan daya tarik dan pesonanya.

Padang Savana, Air Terjun, Gua dan Danau Segara Anak

Sumber : Trekkingrinjani.com

Kalau kamu naik ke Rinjani dari desa Sembalun Lawang, kita akan menemukan padang savana nan cantik yang membuatmu merasa dunia ini begitu luas dan hanya milikmu seorang. Tapi jangan puas dulu, ya, karena ini baru permulaan pendakian. Di atas masih ada pesona air terjun, gua dengan lukisan bebatuan stalagtit dan stalagmit-nya, serta objek utama yang menjadi tujuan para pendaki ke sini, yaitu danau Segara Anak. 

Sumber : Trekkingrinjani.com
Sumber : Trekkingrinjani.com
Sumber : Astacala.com

Just info aja, danau Segara Anak berada di ketinggian 2.010 mdpl, dengan kedalaman sekitar 230 meter. Bentuk danaunya seperti bulan sabit dengan luas sekitar 1.100 hektar.

Gimana bukan surga dunia, coba? Air yang berwarna biru kehijauan, pohon yang rindang, pemandangan gunung yang menjulang, membuat banyak pendaki menggelar tenda untuk menikmati surga dunia ini.  Apalagi ada pesona Gunung Barujari di tengah danau yang mengeluarkan belerang dari kawahnya. 

Rinjani Pasca Gempa Lombok 2018

Sumber : Puspen TNI via Tirto.id

Sebaris kisah di atas rasanya tak perlu membuat kita menjadi baper. Apalagi jika mengingat musibah gempa adalah kondisi force majeur yang tak dapat diduga. Semua sudah ada yang mengatur.

Awalnya pemerintah daerah memutuskan menutup sementara jalur pendakian ke puncak Rinjani sampai tahun 2020. Wajar rasanya, karena saat gempa terjadi banyak sekali material longsoran dan batu yang jatuh. Kondisi tanah di puncak pun menjadi retak-retak. 

Informasi yang penulis kutip dari laman Mongabay.co.id, untuk ke depannya pihak pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) akan membuat beberapa kebijakan baru terkait pendakian. Misalnya, dengan memberlakukan sistem booking online untuk para pendaki, sehingga jumlah pendaki dalam satu hari juga dapat dibatasi. Ini sebagai bentuk pelajaran dari kondisi sebelumnya, dimana saat musim liburan tiba, sekitar bulan Juli dan Agustus, pengunjung Rinjani melimpah ruah. Akibatnya nih, suasana di puncak juga menjadi tidak nyaman karena terlalu banyak tenda yang didirikan.

Sumber : Trekkingrinjani.com
Sumber : Hipwee.com

Manajemen pengelolaan sampah juga menjadi masalah yang cukup serius, untuk menjaga keberadaan puncak gunung selalu dalam keadaan bersih dan bebas sampah (zero waste). Pengelola TNGR juga berencana mengkaji ulang pengaktifan kembali sistem monitoring pendaki lewat CCTV dan frekuensi radio, bekerja sama dengan pihak Universitas Mataram.

Nah… berita baiknya, Dears, sejak pertengahan November lalu jalur pendakian ke Rinjani sudah dibuka kembali, tapi melalui jalur desa Aikberik di Kabupaten Lombok Tengah. Untuk saat ini jalur tersebut dianggap cukup aman menggantikan pintu masuk sebelumnya di wilayah Sembalun dan Senaru di Kabupaten Lombok Timur, yang sampai saat ini kondisinya belum memungkinkan.

Bismillah, kita doakan bersama ya target ke depan ini berhasil terpenuhi dan Rinjani kembali menjadi salah satu bagian indah dari Wonderful Indonesia. Sedih kalau baca banyak masyarakat di daerah Sembalun, yang merupakan salah satu jalur masuk ke Rinjani kehilangan sumber pendapatannya. Pasca gempa lalu wilayah ini sempat mengalami kondisi seperti kota mati akibat tidak adanya aktivitas pendakian sama sekali. Padahal sumber pendapatan mereka yang utama justru berasal dari situ.

Sumber : Indonesia.travel


Sebaris coretan sederhana ini merupakan bentuk keprihatinan, sekaligus kecintaan yang tiada pernah pudar terhadap tanah kelahiran penulis. Tulisan ini juga diikutsertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh Wonderful Indonesia ,  yang ketentuannya dapat kamu baca di sini.

πŸ’œπŸ’›πŸ’š

Belajar dari Laut di Pulau Lombok

Siapapun tahu, tanah kelahiran sampai kapanpun tak akan mungkin dapat terlupakan.
Bahkan saat kita sudah tidak lagi tinggal disana, memori akan masa kecil masih tertanam jelas dalam ingatan.

Adalah Lombok, pulau dibagian timur Indonesia yang mengiringi langkah masa kecilku.
Meski hidupku telah berpindah secara fisik ke kota budaya nan sederhana, Yogyakarta tercinta, namun pulau Lombok dan segala “kepedasannya” masih menempel erat dalam rasa yang ada.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa di Lombok kita dapat melihat 2 kebudayaan : budaya Bali, dan sekaligus budaya Lombok.
Kedua budaya ini hidup berdampingan dan saling menghormati dengan adat istiadatnya masing-masing.
Jika kamu ingin hemat waktu dan biaya, rasa-rasanya kamu cukup datang ke Lombok untuk mendapatkan dua suasana itu, Bali dan Lombok sekaligus 😊.

Apa yang menarik dari pulau yang terletak antara selat Lombok & selat Alas ini??

Setiap orang memiliki ketertarikan berbeda saat melakukan perjalanan ke suatu daerah tertentu.
Ada yang suka pantainya, gunungnya, kulinernya, budayanya, dll.
Bersyukurlah karena di pulau pedas ini kita akan disuguhi beraneka ragam obyek wisata yang tidak akan terasa membosankan.
Dalam daftar wisata kuliner saja ada bermacam kudapan yang akan memanjakan lidah para traveller.
Mulai dari Sate Bulayak, Sate Pusut, Ayam Taliwang, Plecing Kangkung, Dendeng, Abon, Beberuq (lalap terong mentah), ikan laut bakar dan banyak lagi yang akan membuatmu segera membayangkan sepiring nasi hangat dan ulekan sambal terasi.
Widihh, perutku seakan ikut bicara saat menuliskan fakta dan realita ini πŸ˜…

Meski aku, yang langsing dan makannya biasa-biasa saja ini selalu bersemangat apabila sudah bicara tentang makanan khas Lombok, tapi ada satu obyek yang sebenarnya selalu membuat penulis merasa baper.
Apakah itu?
Hemmm… Lauttt..!!
Entahlah, penulis yang sebenarnya dahulu tidak begitu suka laut karena tidak bisa berenang, beberapa tahun terakhir ini mulai menyadari betapa laut menyimpan banyak arti.

Dan Lombok, adalah surganya pantai dan lautan.

Pantai Senggigi, Pantai Kuta, Selong Blanak, Pantai Mawun, dan Pantai Pink adalah beberapa nama pantai yang populer di pulau ini.
Jika pantai Senggigi sudah sangat dikenal sebagai salah satu ikon pantai di Lombok, maka Pantai Mawun dan Pantai Pink adalah pantai yang masih sangat asli dan sangat indah. Kamu akan merasa pantai ini sebagai pantai pribadimu karena tidak begitu banyak pengunjung yang sampai disini.

Terlebih jika kita mau meluangkan waktu untuk menyeberang sejenak ke pulau-pulau kecil yang namanya berawalan dengan nama Gili. Ada Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Sundak, dll.

Screenshot_2017-10-02-13-54-14-476
Sekotong

 

dsc00255
Senggigi

 

Lalu apa yang sebenarnya kupikirkan tentang Laut? Mengapa lautan begitu bermakna untuk aku yang tidak bisa berenang? hehheheee…

Saat aku duduk di garis pantai, memandang bergulungnya deburan ombak dalam suasana yang masih sepi, hanya satu yang terpikirkan : rasa SYUKUR.
Adakah yang pernah merasakan hal ini?
Apakah untuk sekedar bersyukur kita harus datang ke pantai, atau ke laut?

Heemmm…
Pertanyaan ini sama saja dengan : “Apakah untuk sekedar minum kopi harus datang ke kedai kopi ? ” 😁
Tentu saja tidak…
Tapi, adakalanya kita membutuhkan suasana kedai kopi itu agar rasa yang ditimbulkan menjadi lebih nikmat.
Sama seperti laut atau pantai yang adakalanya aku butuh datangi untuk sekedar mengkhidmatkan rasa syukurku atas Kuasa-Nya menciptakan alam semesta.

Aku sering mengajak anakku untuk sekedar melakukan perjalanan.
Tak perlu terlalu jauh jika belum memungkinkan, cukuplah antar kota dalam satu propinsi sudah sangat mewakili.

Lihatlah,
Sekolah formal tak akan pernah mampu memberi gadis kecilku pengalaman berkesan seperti ini : makan mi diatas kapal boat πŸ˜‰ Makan mi sambil bersyukur melihat betapa luas Tuhan menciptakan alam dan seisinya. Tiada kekuatan yang mampu untuk menandinginya.

Screenshot_2017-10-02-13-54-45-423

 

Travelling dan bepergian akan membuat jiwa kita menjadi terbuka.
Menyadari, ada banyak penciptaan yang terbentuk dan mengelilingi kita. Sehingga harmonisasi antara alam dan diri kita adalah keharusan yang tak dapat ditawar-tawar lagi.

Terlebih di era kini, kala travelling bukan lagi menjadi sesuatu yang sulit untuk dilakukan.
Banyak cara untuk mendapatkan harga tiket pesawatΒ murah. Kita dapat mencari dan membandingkan kapan saat harga tiket menjadi lebih rendah. Lalu kita tinggal menyesuaikan keberangkatan dengan harga dan waktu termurah yang kita pilih.
Sederhana bukan?

Sesederhana aku, saat menjadikan laut sebagai hamparan rasa syukur yang tak berkesudahan…