Arsip Tag: Perempuan

Liebster Award dan 7 Fakta tentang Saya

Alhamdulillah, enggak terasa sudah masuk bulan Syawal, ya. Mohon maaf lahir dan batin sebelumnya untuk semua teman-teman yang membaca tulisan ini. Di sela hari-hari pasca-Lebaran, saya jadi ingat, ada satu janji hati yang belum terpenuhi *tsahhh, hahahaaa …. Jadi giniceritanya, beberapa waktu lalu ada seorang sahabat yang memberikan penghargaan Liebster Award kepada saya sebagai bentuk rasa sayang sebagai sesama blogger.

Sahabat yang sering saya panggil dengan nama Mbak Inna atau Kak Inna ini adalah teman lama yang sudah saya anggap sebagai sahabat sekaligus ‘guru’ alias mentor, terutama dalam hal dunia internet marketing dan segala hal yang berhubungan dengan teknologi informasi. Kami bertemu sewaktu bersama-sama menjalankan bisnis online Oriflame di tahun 2013.

Setelah terpisah sekian lama, akhirnya secara tak sengaja kami bertemu lagi di dunia online, tetapi saat ini sebagai sesama blogger. Selain sebagai blogger, sahabat saya ini adalah seorang content creator, dubber, mantan penyiar radio, dan sekarang suara renyahnya semakin eksis terdengar sebagai seorang podcaster. Tulisan-tulisan menarik tentang dirinya yang sejak dulu memang hobi narsis dan eksis bisa kamu baca di blognya, www.innaistantina.com.

By the way busway, untuk kamu ketahui, Liebster Award ini konon kabarnya berasal dari bahasa Jerman, yang artinya ‘tersayang’. Jadi penghargaan ini diberikan sebagai bentuk rangkaian silaturahmi antar-blogger secara berantai. Tapiiii … enggak cukup begitu aja, karena ada tantangan yang dikasih oleh si pemberi penghargaan ini, yaitu menjawab pertanyaan yang dia berikan. Nah, pertanyaannya apa? Suka-suka yang memberi aja, kita enggak boleh protes, hehehee ….

Sebelum mulai, saya share aturan mainnya, ya! Mana tahu ‘kan, kamu juga berniat memberikan penghargaan ini untuk teman blogger tersayang? Eits, tapi sebelumnya kamu harus tanya dulu ya kepada yang bersangkutan, apakah dia siap diberi tantangan berupa pertanyaan dan bersedia menerima Liebster Award ini. Yuk, ah, cekidot!

1. Memasang logo Liebster Award di blog.
2. Mengucapkan terima kasih kepada si pemberi award.
3. Menyematkan link blog dari si pemberi award.
4. Menuliskan 7 tantangan (fakta) tentang diri sendiri.
5. Menjawab 7 pertanyaan dari pemberi award.
6. Menuliskan nama blogger selanjutnya yang ingin diberikan Liebster Award.
7. Menyematkan link blog si penerima award berikutnya.
8. Memberi 7 pertanyaan sebagai tantangan kepada penerima award berikutnya.
9. Menuliskan aturan main Liebster Award.

7 Fakta tentang Saya

1. Introver

Kehabisan energi kalau terlalu lama di keramaian, itulah saya. Mereka yang introver membutuhkan waktu untuk menyendiri agar energinya pulih kembali. Ada kalanya saya bisa menjadi orang yang cerewet atau ramai, tapi bukan di lingkungan yang terlalu banyak orang. Di lingkungan yang besar, bisa jadi orang melihat kami, si introver, sebagai sosok yang pendiam dan tidak terlalu menonjol.

2. Jujur

Saya percaya, karakter jujur ini dapat mengantarkan kita pada kebahagiaan dan keberuntungan, meski kadang kejujuran itu begitu pahit akibatnya *tsahhh 😀 Jika keberuntungan belum datang saat ini tak mengapa, tapi kamu harus tetap percaya bahwa dengan menjadi jujur di masa kini berarti kita telah mencicil kebahagiaan untuk anak-cucu di masa depan kelak.

3. Terlihat Kalem, tapi ….

Hihiiiiiiyess, wajah saya termasuk kalemmmm. Tapiii … kamu pasti tak percaya kalau saya ini agak tomboi, kwkwk . Dulu, saya jarangggg sekali, bahkan enggak pernah pakai rok, apalagi daster, enggak banget 😀 Setelah menjadi seorang ibu dan banyak membaca dan melihat kajian online tentang pakaian muslimah yang benar, barulah mulai ikhlas menggunakan gamis dan rok kalau ke luar rumah. Kalau ke luar rumah artinya di dalam rumah masih jarang pakai rok, ya 🙂 Terus, saya juga enggak suka dandan seperti kebanyakan perempuan pada umumnya. Tapi, enggak suka dandan bukan berarti enggak ngerti tentang skin care dan produk perawatan kulit, secara saya juga pernah menekuni bidang konsultan kecantikan ini dan menjadi ‘tukang’ makeup sebelum akhirnya fokus di dunia penulisan.

4. Keras Kepala

Enggak tahu ini penyakit keturunan apa bukan, hahaaahaa …. Iya, saya termasuk ngeyel alias suka membantah orang tua. Tapi setelah dewasa, kata Bapak-Ibu, opini saya memang masuk akal, bukan sekadar membantah. Hal ini akhirnya membuat orang tua, terutama Ibu, menjadi luluh dan sering meminta pendapat saya sebelum memutuskan sesuatu.

5. Perfeksionis

Sifat serba ingin sempurna ini bak dua sisi mata uang. Di satu sisi baik, tapi di sisi lain juga bisa bikin repot dan melelahkan diri sendiri, terutama dalam hal pekerjaan. Pada akhirnya saya belajar untuk bisa menerima semua kekurangan diri dan orang lain sehingga menjadi orang yang lebih fleksibel.

6. Bosenan

Dari hasil analisis tulisan tangan dan sidik jari, saya termasuk orang yang bisa melakukan pekerjaan rutin yang terjadwal dengan baik, tapi harus ada variasi, alias bosenanheheheee…. Enggak suka selalu duduk di belakang meja, tapi juga bosan kalau harus terus-menerus di lapangan. Itu sudah terbukti nyata selama ini dan bukan hoaks 😀

7. Enggak Tegaan

Ini juga sudah terbukti. Saya suka enggak tegaan sama orang dan mudah luluh. Kadang niatnya menolong dan memberi nasihat, tapi sering tidak sadar kalau justru dimanfaatkan. Tapi saya tetap yakin, kok, selalu ada pahala untuk orang yang ikhlas, Hanya saja, seiring bertambahnya pengalaman dan untuk menjaga kewarasan diri serta pikiran, saya mulai dapat mengontrol dan lebih waspada memilah serta memilih siapa yang harus saya tegain dan siapa yang harus dibaikin. Wallahu a’lam, namanya juga usaha perbaikan diri 🙂

Nah, itu tadi 7 fakta tentang saya. Masih merasa kurang? Lah, kepo amat sihhh kamu, kwkwkwk…. Bercanda, euy 😀 Tanya langsung ke saya aja, ya, gimana karakter lainnya.

7 Jawaban Pertanyaan dari si Pemberi Award

Ini adalah jawaban dari 7 pertanyaan yang diberikan Mbak Inna kepada saya. Gampang-gampang susah, ya, pertanyaannya.

1. Apa definisi rasa syukur?

 Bagi saya, syukur adalah rasa yang muncul manakala kita mampu menerima suatu keadaan dengan ikhlas dan bahagia, apa pun dan bagaimanapun kondisinya. Bukan pada banyak sedikitnya materi atau sehatnya jasmani, karena dalam kondisi sakit dan kekurangan pun sejatinya rasa syukur tetap dapat dimunculkan.

2. Hal apa yang terjadi dalam hidup dan patut disyukuri?

Banyak sekali peristiwa dalam hidup saya yang naik turun secara drastis bak angka grafik yang cenderung fluktuatif. Gelombang kehidupan ini baru saya alami ketika usia mulai memasuki 20 tahun, atau saat masa-masa kuliah. Sebelumnya, kehidupan saya cenderung flat, rapi dan teratur. Mungkin, Allah melihat saya cukup kuat untuk menghadapi ujian dari-Nya ketika memasuki usia kepala 2. Dari banyaknya ujian tersebut, ada beberapa hal yang patut disyukuri, antara lain, saya yang tadinya pemalu, kuper dan selalu menutup diri, tumbuh menjadi sosok perempuan yang mandiri, tegar dan mulai percaya diri. Di antara banyaknya momen yang terjadi, terwujudnya impian ke Baitullah adalah momen terbaik yang tak pernah lupa saya syukuri hingga saat ini. 

3. Siapa yang paling berjasa dalam hidupmu?

Kalau ini sudah pasti, jawabannya adalah orang tua. Bapak rahimahullah dan Ibu adalah sosok orang-orang kuat yang ada di belakang saya. Sebenarnya saya lebih dekat dengan Bapak, namun setelah Bapak meninggal saat usia saya menjelang 27 tahun, Ibu adalah orang terdekat yang merasa sangat membutuhkan saya di sisinya. Karena itulah, kami akhirnya sering saling menguatkan satu sama lain dalam menghadapi banyak ujian yang Allah beri sepeninggal Bapak. Alhamdulillah, kami mampu melampaui ujian demi ujian itu. Masya Allah.

4. Hal apa yang ingin kau berikan pada orang yang sudah berjasa dalam hidupmu, tapi hingga saat ini belum kesampaian?

Waduww … ini pertanyaan paling sulit deh kayaknya, hiksss …. Apa ya, yang belum saya berikan untuk orang tua, terutama Ibu? Banyak sekali pastinya hal yang belum bisa dan tak akan terbalas oleh apa pun juga, meski saya tahu, beliau sudah tidak membutuhkan balasan apa pun, apalagi yang bersifat materi. Tapi saya jadi ingat, ada satu doa dari Ibu yang sampai saat ini belum kesampaian saya wujudkan. Anggap aja lagi otw nih, jadi saya keep dulu deh, enggak usah ditulis di sini ya, kwkwk …. Yang ngasih pertanyaan ini udah tahu jawabannya kok 😀

5. Apa cita-cita terbesarmu saat ini?

Hemmmmm ... cita-cita atau impian terbesar saat ini banyak sekali, sih, sebetulnya, karena saya ini adalah seorang pemimpi 🙂 Tapi yang utama saat ini, pengen banget bisa jadi ibu yang baik untuk Lubna, anak perempuan saya, sekaligus menginspirasi dan berbagi lewat apa yang saya tekuni sekarang. Insya Allah, tujuannya semata-mata untuk mencari bekal di akhirat kelak. Kalau pun ada rezeki yang Allah beri dari sini, ini saya yakini sebagai amanah yang harus dijaga dan digunakan di jalan-Nya. Doakan saya istikamah, ya, manteman 🙂

6. Pernahkah orang lain meremehkanmu? Apa yang kamu lakukan untuk menghadapi hal tersebut?

Pastinya, saya juga pernah diremehkan. Dalam hal apa? Salah satunya dalam hal berbisnis dan berinteraksi dengan orang lain. Tahu sendiri ‘kan bahwa saya ini cenderung pendiam dan introver. Lebih banyak menikmati suasana sendiri daripada kumpul dengan orang banyak, sementara bisnis yang saya jalankan waktu itu harus banyak berinteraksi dengan bermacam karakter, meskipun dijalankan secara online. Karena dikerjakan dari rumah, anggapan orang, kita tidak punya penghasilan karena tidak bekerja kantoran dan hanya diam di rumah. Nah, ketika masa pandemi COVID-19 ini mulai diberlakukan work from home dan hampir semuanya dikerjakan secara online, Alhamdulillah, saya sudah terbiasa dan enggak kaget lagi menjalaninya karena memang sudah bekerja dari rumah sejak tahun 2013.

Btw, apa yang saya lakukan untuk menghadapi orang yang meremehkan saya? Buktikan aja dengan hasil dan prestasi, tidak perlu banyak bicara dan basa-basi 😉

7. Bagaimana caramu mengendalikan semangat yang turun?

Lagi bosan dan enggak bersemangat? Off dulu dari rutinitas, carilah me time yang kamu sukai. Saya biasanya memilih tidur dan mematikan gadget untuk recharge energi. Kadang main game, atau nyobain resep kudapan yang simpel dan enggak ribet. Tidak lupa, membiasakan diri untuk selalu bersyukur setiap hari. Tujuannya, agar saya enggak banyak mengeluh karena masih banyak orang lain yang lebih menderita daripada saya.

Penerima Liebster Award Berikutnya

Okeee… tiba waktunya saya memilih seseorang untuk diberikan Liebster Award berikutnya. Siapakah diaaaa??!!

Jeng… jenggggg….

And… the Liebster Award goes to…. my mentor and my dear friend, Muyassaroh. Kamu yang suka menulis dan membaca buku pasti sudah enggak asing dengan namanya. Beliau yang masih muda tapi sudah punya segudang pengalaman, terutama dalam dunia literasi ini adalah salah satu ‘guru’ terbaik saya yang membimbing dalam dunia kepenulisan. Mbak Muyassaroh bisa dibilang merupakan orang yang Allah kirim untuk melancarkan perjalanan saya di dunia tulis-menulis dan editing. Semoga Allah membalas semua kebaikannya. Oya, kamu bisa baca tulisan-tulisan renyahnya di blog Muyass.com, ya! Banyak tips dan resep menarik di situ. Cewek banget, deh, blognya 🙂

Lalu, apa 7 pertanyaan dari saya untuk Mbak Muyas? Ini dia!

  1. Apa arti kesuksesan untukmu?
  2. Apakah kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang? Kalau iya, apa yang membuatmu bahagia? Kalau tidak, mengapa?
  3. Hal terbesar apa yang memotivasimu untuk selalu menjadi lebih baik?
  4. Apa tujuan hidupmu?
  5. Kata-kata motivasi apa yang menjadi prinsip hidupmu?
  6. Adakah hal yang kamu sesali dalam hidup ini? Jika ada, apakah itu?
  7. Apa keinginan yang belum tercapai?

Gampang, kannnnn? Hihiiii…..

Alhamdulillah, kelar juga nulisnya. Perasaan enggak habis-habis deh nulis ini. Panjanggggg karena semuanya serba angka 7 😀

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkenan membaca. Boleh kasih komen juga, ya, yang merasa tahu fakta lain tentang saya. 🙂

Matur nuwun…. Arigato gozaimasu….

Ibu, Fondasi Peradaban Generasi

Kamu mungkin pernah mendengar ungkapan, “Wanita adalah tiang negara. Apabila baik kaum wanitanya maka baik pula negaranya. Sebaliknya, apabila rusak kaum wanita, maka rusak pula suatu negara…” Ungkapan ini seolah ingin menegaskan, betapa pentingnya keberadaan wanita sebagai fondasi peradaban generasi suatu bangsa.

Banyak di antara kita yang lupa, ketika memulai proses pertama sebagai orang tua, sesungguhnya saat itu juga kita telah menjadi guru sekaligus teladan bagi buah hati yang kita lahirkan. Ayah sebagai Kepala Sekolahnya, sementara Ibu sebagai guru pelaksana kebijakannya. Sebagai seorang guru, mau tidak mau kita harus selalu belajar dan memperbarui ilmu yang kita miliki. Meski tentu saja, teori tak semudah praktiknya.

Wanita zaman now memiliki tantangan dan godaan yang tidak sedikit. Nilai-nilai modernisasi seorang wanita tak dapat dilepaskan begitu saja dari kewajibannya sebagai seorang ibu. Menjadi update terhadap perkembangan zaman adalah suatu keharusan, tapi jangan lupa juga, menjaga nilai moral dan mentalitas anak tidak boleh kita lupakan. Contoh kecilnya, ibu mana sih yang tak ingin anaknya mendapat nilai baik di sekolah? Tapi ini bukan sekadar masalah kebanggaan saja. Prestasi yang baik juga harus diperoleh dengan cara yang baik. Jangan sampai keinginan dan niat yang baik diperoleh dengan cara yang tidak jujur dan menyalahi aturan. Dalam contoh kecil ini saja, secara tidak langsung kita telah mengajarkan arti sebuah proses dan nilai kejujuran kepada generasi saat ini.

Image: Pixabay.com

Berkaca dari pengalaman pribadi dan beberapa sumber yang saya pelajari, nilai-nilai penting berikut ini sebaiknya dimiliki seorang ibu agar dapat menjadi fondasi peradaban yang baik bagi generasi selanjutnya.

Menjaga Kebaikan Akhlak

Sebegitu berharganya seorang ibu, sehingga dalam suatu hadis, Abu Hurairah menyebutkan, ada seorang sahabat yang menghadap Rasulullah Saw dan bertanya,

“Ya Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”Jawabnya, “Ibumu…” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu” ~ (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Keutamaan seorang ibu disebutkan memiliki 3x hak yang lebih besar dari seorang ayah karena kerepotan yang mereka alami selama hamil, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya. Tanggung jawab ibu menjadi lebih besar, terutama dalam menjaga kebaikan akhlak pribadinya agar dapat menularkan karakter terbaik dan sifat-sifat positif kepada buah hatinya.

Menumbuhkan Sifat Penyayang, Pendidik dan Pengatur

Wanita adalah makhluk unik yang diciptakan dengan karunia hati yang lembut dan lebih perasa daripada pria. Ini bukan tanpa tujuan. Bukankah wanita kelak akan menjadi seorang ibu yang sangat membutuhkan sifat tersebut dalam menjalankan perannya? Meski dikaruniai hati yang lembut, kemampuan otak wanita yang mampu menyerap informasi 5x lebih banyak dari pria menjadikan mereka lebih cerdas. Dasar ini yang menjadikan wanita dapat menjadi seorang pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Kemampuan menangani banyak masalah dalam satu waktu juga membuktikan bahwa wanita sebenarnya memiliki jiwa pengatur ulung dibandingkan lawan jenisnya. Keren kan, Bu? 🙂

Memperbarui Ilmu

Imam Al Ghazali pernah berkata, “Menuntut ilmu adalah takwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad…”

Ibarat seorang guru bagi muridnya, ibu harus selalu melakukan upgrade diri dan update ilmu yang dimiliki agar dapat memberikan asupan nutrisi pengetahuan terbaik bagi buah hatinya. Bukan hal yang mudah pastinya, karena waktu 24 jam seolah tak cukup bagi ibu untuk menyelesaikan kewajiban yang harus diembannya. Tapi kembali lagi, anak adalah amanah dari Sang Pemilik yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepemilikannya. Ayo, Bu! Kamu pasti bisa. Yakin bisa. Dan harus bisa….

Menjadi bagian utama dari fondasi peradaban bagi generasi masa depan adalah kebanggaan tak terkira bagi seorang wanita. Jangan pernah engkau sia-siakan kesempatan berlipat pahala di akhirat ini. Karena kelak ketika kita telah tiada, hanyalah tersisa 3 hal yang tiada akan terputus, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh dan salihah. Insya Allah.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

Tetap Cerdas dan Produktif dari Rumah, Wanita Harus Lakukan Ini

“…Jangan biarkan siapapun mengatakan tentang apa yang bisa kau lakukan dan apa yang tidak bisa kau lakukan. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan dan jadilah sosok yang kau inginkan…”

~ Emma Watson (Aktris) ~

Dari beberapa artikel yang saya baca, usia produktif bekerja bagi seorang wanita dikatakan terlalu singkat. Menikah dan memiliki anak sering dianggap sebagai kiamatnya produktivitas wanita. Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), usia produktif dimulai sejak seseorang memasuki usia 15 tahun hingga mencapai usia 64 tahun. Sungguh rentang waktu yang sangat lama untuk kita dapat terus berprestasi dan berkarya, bukan?

Seandainya kamu tahu, bahwa menikah dan memiliki anak sebenarnya bukanlah hal yang menakutkan dalam kaitannya dengan produktivitas wanita. Mungkin sebagian besar beranggapan, untuk menjadi produktif artinya harus selalu bekerja di luar rumah. Jika ini yang ada di dalam pikiranmu, sebaiknya kamu segera browsing dan mencari data sebanyak-banyaknya bahwa bekerja dan menghasilkan sesuatu saat ini bisa dilakukan dari mana saja.

Jika kamu adalah seorang wanita karier dan bisa tetap melanjutkan profesi di kantor setelah menikah dan memiliki anak, bersyukurlah. Tetapi untuk wanita lain yang karena satu dan lain hal harus resign demi kepentingan keluarga, tak perlu juga dijadikan sebagai masalah. Banyak profesi lain yang dapat kamu lakukan dari rumah di zaman serba online ini. Menjadi seorang pebisnis, baik sebagai produsen ataupun reseller, bisa menjadi salah satu pilihan. Menjadi penulis, blogger, ataupun influencer juga tak kalah asyiknya.

Apabila kamu sudah terbiasa bekerja di kantor dengan pekerjaan yang telah ditarget dengan rapi dan sedemikian rupa, mungkin sedikit butuh perjuangan untuk membiasakan diri bekerja dari rumah. Ingatan masa lalu saat masih bekerja, terutama pada saat jam kantor, pasti sesekali akan muncul di kepala. Tapi kamu tak boleh membiarkannya. Siapa bilang produktivitas hanya bisa dilakukan dari luar rumah? Yuk, segera lakukan 5 hal ini agar kamu tetap menjadi wanita cerdas dan produktif, meski hanya dari rumah!

Miliki Tujuan yang Jelas

Apa yang ingin kamu lakukan? Buatlah daftar keinginan yang muncul di benakmu dengan cara menulisnya di kertas. Tampung dahulu semua ide yang muncul di kepala. Setelah semuanya kamu tuliskan, mulai pilih dan beri prioritas pada beberapa aktivitas yang sesuai dengan passion-mu dan paling ingin kamu lakukan.

Kenali Potensimu

Pernah dengar ungkapan “The Right Man on The Right Place”? Ini adalah sebuah ungkapan untuk menunjukkan betapa pentingnya kita bekerja pada bidang yang tepat, sesuai dengan bakat dan potensi yang kita miliki. Penggalian potensi diri bisa kamu lakukan dengan cara seperti poin satu di atas, yaitu menuliskan semua yang kamu inginkan di kertas dan kemudian memilih mana yang paling kamu sukai untuk dilakukan. Bisa juga dengan cara lain yang lebih akurat, seperti tes sidik jari atau analisa tulisan tangan untuk pemaparan lebih detail.

Tapi jika saat ini kamu telah berhasil pada satu bidang tertentu yang sebenarnya tidak sesuai dengan bakatmu, tak masalah. Bukan berarti kamu harus banting setir menggantinya dengan bidang lain. Kamu cukup menambahkan aktivitas yang kamu sukai sebagai penyeimbang rutinitas harianmu. Mana tahu aktivitas atau hobi yang kamu sukai ini juga bisa berkembang seperti pekerjaan lain yang telah lebih dulu kamu geluti.

Membuat To Do List dan Target Aktivitas

Bekerja dari rumah memang lebih fleksibel dalam segi waktu dan pekerjaan yang dilakukan. Tapi ini bukan berarti kamu bisa seenaknya mengerjakan sesuatu tanpa membuat target atau to do list yang jelas. Jika kamu adalah seorang pebisnis misalnya, di mana kamu adalah bosnya dan tak ada atasan yang memerintah dan memeriksa hasil kerjamu seperti di kantor, membuat target yang ingin dicapai merupakan suatu keharusan jika ingin bisnismu terus berkembang.

Membaca Buku

Buku adalah jendela dunia. Raga mungkin boleh tertahan di rumah, tapi pikiran tak boleh demikian. Dengan membaca buku, baik buku fisik maupun bacaan digital yang saat ini tersedia dalam berbagai bentuk aplikasi, imajinasi kita akan terus berkembang dan menuntun diri pada suatu pencapaian. Salah satu kelemahan masyarakat Indonesia adalah lemahnya keinginan mereka dalam membaca, sehingga kemampuan memahami sesuatu menjadi hanya separuhnya saja. Ini berakibat seringnya terjadi kesalahpahaman dan perdebatan di berbagai media sosial apabila muncul topik yang sedang trending. Sungguh sangat disayangkan.

Berkumpul dengan Komunitas

Manusia adalah makhluk sosial yang ditakdirkan untuk saling membutuhkan satu sama lain. Bukan berarti menjadi saling ketergantungan. Bersosialisasi dengan orang lain, terutama dalam komunitas yang positif dan sesuai dengan visi dan misi hidup, dapat menjadi jalan rezeki dan motivasi agar kita selalu lebih baik dari sebelumnya. Dari berbagai komunitas positif, baik secara online atau offline inilah kita dapat menggali lebih banyak ilmu bisnis, agama, pengembangan diri, dan ilmu lain yang sesuai dengan passion masing-masing. Lambat laun, rasa percaya diri akan semakin meningkat dan kolaborasi dalam berbisnis pun dapat terbentuk dengan banyaknya relasi yang kita temui dalam komunitas yang diikuti.

Sampai di sini, apakah kamu masih ragu untuk memulai produktivitasmu dari rumah? 🙂 Sesungguhnya, menjadi produktif itu bukan tentang seberapa besar materi yang dapat kamu hasilkan, melainkan seberapa jauh kamu dapat memengaruhi dan menjadi inspirasi untuk orang-orang di sekelilingmu.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

Tak Perlu Menjadi Ibu yang Sempurna, Jadilah Ibu yang Bahagia

Sejak dulu sebelum menjadi seorang ibu, saya sering mendengar kalimat ini, “Ibu hamil dan menyusui harus hati-hati sekali menjaga pikiran. Kalau ibunya sedih dan gak tenang, bayinya juga pasti rewel dan gak bisa diam…”

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya sangat menyadari bahwa kalimat ini bukan hanya ditujukan untuk ibu hamil dan menyusui saja. Setiap wanita, khususnya yang telah memiliki buah hati, berapa pun usianya, seyogyanya memang harus menjaga pikiran dan hatinya agar dalam kondisi yang stabil dan bahagia.

Mudahkah? Ohh… tentu tidak, Ferguso!! Ini butuh perjuangan…. Apalagi metabolisme tubuh wanita juga dipengaruhi oleh berbagai hormon yang mau tak mau kerap membuat emosi menjadi labil dan bergejolak. Tapi di sinilah uniknya kaum kami. Saya percaya, Allah menciptakan wanita dengan segala keunikannya, pasti ada maksudnya 🙂

Image: Pexels.com

Dikutip dari laman Republika.co.id, Departemen Psikologi Universitas Cambridge di Inggris pernah melakukan penelitian terkait hubungan yang terjadi antara otak seorang ibu dengan otak bayinya. Hasilnya, ditemukan pola yang bervariasi tergantung pada tingkat emosional ibunya. Dalam keadaan emosi yang positif, ternyata ditemukan adanya hubungan yang lebih kuat antara otak ibu dengan bayinya. Hubungan yang kuat ini sangat baik untuk perkembangan otak si bayi dan kecerdasan emosi selanjutnya.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, perlu juga digarisbawahi bahwa ini bukan hanya berlangsung pada masa golden age alias usia keemasan anak di lima tahun pertama kehidupannya saja. Untuk masa seterusnya setelah usia 5 tahun, terutama di masa remaja, hubungan keselarasan antara orang tua (ibu) dan anak tetap harus dijaga. Permasalahan yang dihadapi tentunya akan lebih komplek pada usia remaja. Tetapi percayalah, ketika kita sudah memberikan dasar pendidikan karakter yang positif kepada anak sejak dini, insya Allah anak juga lebih mampu menangkal pengaruh negatif dari lingkungannya.

Hilangkan Impian Ingin Menjadi Ibu yang Sempurna

Dulu saya pun pernah memiliki keinginan seperti umumnya kaum ibu yang lain. Ingin menjadi sosok ibu yang sempurna dan memiliki buah hati yang juga sempurna dan berprestasi dalam segala hal. Hingga seiring berjalannya waktu, saya pun meyadari bahwa keinginan menjadi sosok yang sempurna justru membuat saya tidak dapat rileks dan menikmati peran sebagai seorang ibu.

Heiii… sadarlah, bu, kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun 🙂 Seorang ibu juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan, punya segala keterbatasan dan tak selalu bisa tersenyum, tersenyum dan tersenyum setiap waktu. Jadilah manusia sewajarnya. Meskipun teori parenting sudah saya lahap di luar kepala, tapi saya bukan tipe ibu yang saklek dan harus selalu berpedoman pada teori. Jika saatnya saya harus marah kepada anak yang telah melakukan kesalahan, maka saya akan tetap marah kepadanya. Hanya saja, setelah anak menyadari kesalahannya, saya sebagai ibu akan minta maaf kepadanya dan memberi pengertian bahwa marahnya saya adalah bentuk nasihat serta rasa sayang untuk dirinya.

Munculkan Rasa Bahagia

Lepas dari keinginan menjadi ibu yang sempurna, lambat laun saya semakin mengerti bahwa menjadi waras dan bahagia adalah kunci agar seorang ibu dapat memancarkan energi positif kepada buah hatinya. Mulailah saya belajar tentang bagaimana memunculkan dan memelihara rasa bahagia. Ternyata rasa bahagia memang tak perlu dicari. Ia ada di dasar hati 🙂 Tapi memang untuk sebagian orang, rasa bahagia itu mungkin ada yang masih tertimbun jauhhhh di dalam lubang gelap, sehingga untuk memunculkannya butuh waktu tak sebentar.

Yang paling mudah menurut saya adalah dengan bersyukur terlebih dahulu, apa pun keadaannya. Rasa syukur dapat membuka keikhlasan dan mencairkan kebekuan hati, untuk selanjutnya menemukan jalan keluar atas setiap permasalahan yang dihadapi.

Ibu Bahagia, Anak Pun Cerdas dan Bahagia

Sadar atau tidak, kamu harus tahu dan yakin bahwa ibu yang bahagia juga akan menularkan virus bahagia kepada keluarga dan putra-putrinya. Kecerdasan emosi anak berawal dari kecerdasan emosi orang tua, terutama ibunya. Stabilnya emosi anak juga dipengaruhi oleh stabilnya emosi ibu. Nah, stabilnya emosi ibu sangat dipengaruhi oleh stabilnya emosi bapak heheheeee…. 😀 *beneran mah ini, saya enggak bohong ^^ Makanya, hati-hati jadi suami, ya, pak! Baik-baik deh sama istri. Kalau istri bahagia, suasana rumah pasti jadi nyaman. Istri yang bahagia juga akan melahirkan generasi yang cerdas dan bahagia. Jadi rantai bahagianya insya Allah muterrrr terus, tidak terputus dan saling memengaruhi satu sama lain. Sebaliknya, kalau istri sedih dan tertekan, suasana rumah pasti jadi runyam. Akibatnya, buah hati pun bisa jadi kena sasaran 🙁

Cuaca boleh panas, sungai boleh mengering, daun pohon boleh berguguran, tapi hati seorang ibu tak boleh gersang. Yuk, mulailah menjadi poros bahagia bagi orang-orang terdekat kita, terutama untuk buah hati tercinta. Mungkin kita bukanlah ibu yang sempurna, tapi pastikan kita adalah ibu yang bahagia. Karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita….

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

5 Manfaat Tidur, Me Time Mudah dan Murah Ala Saya

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah menulis tema ini dalam 9 Cara Me Time Mudah Ala Saya. Tak dapat dimungkiri bahwa aktivitas me time (memberikan waktu untuk diri sendiri melakukan sesuatu yang menyenangkan) merupakan salah satu hal penting untuk menjaga kewarasan hati dan pikiran. Apalagi untuk seorang ibu yang hari-harinya telah dipenuhi jadwal padat merayap sejak bangun pagi hingga tidur lagi, menyediakan waktu khusus untuk membahagiakan diri sendiri rasanya memang perlu dilakukan.

Image: Pexels.com

Dari beberapa aktivitas untuk menyenangkan diri sendiri yang saya pilih, mulai dari tidur, jalan-jalan, menikmati makanan kesukaan, olahraga, browsing, main game, atau pijat, aktivitas tidur merupakan me time yang paling mudah dan murah menurut saya. Meskipun sangat mudah dilakukan karena tak perlu mengeluarkan biaya, kegiatan istirahat ini ternyata memiliki banyak sekali manfaat berharga bagi tubuh dan pikiran kita. Terkadang kita kerap mengabaikan aktivitas satu ini dan menganggapnya hanya sebagai rutinitas istirahat biasa, bukan? Padahal, kamu perlu juga, lo, sesekali menyediakan waktu khusus agar dapat beristirahat dengan tenang lebih lama daripada biasanya.

Apa saja sih manfaat tidur sebenarnya?

Menjaga Kulit Tetap Awet Muda

Mana nih yang ngakunya pengen selalu awet muda? 😀 Tahukah kamu, pada saat kita tidur, produksi kolagen di dalam tubuh mengalami peningkatan. Kolagen adalah zat yang membantu mempertahankan elastisitas kulit . Kolagen ini dapat bekerja maksimal pada saat tubuh kita dalam keadaan rileks dan sangat santai. Elastisitas yang dihasilkan kolagen membuat kulit terasa lebih kenyal, lebih tebal dan tingkat kendur menjadi berkurang. Jadi kalau ada yang mengaku pengen awet muda tapi istirahatnya kurang, ada baiknya mulai memasukkan aktivitas tidur lebih lama dari biasanya sebagai salah satu pilihan me time.

Mengurangi Risiko Terserang Berbagai Penyakit

Jantung, stroke, diabetes, tekanan darah tinggi dan ginjal adalah beberapa penyakit berat yang rawan timbul apabila tubuh kita kurang beristirahat. Salah satu hormon yang mengalami peningkatan saat tubuh kurang tidur adalah hormon insulin. Hormon ini memproduksi gula darah yang kadarnya akan meningkat apabila tubuh kamu kurang istirahat. Nah, enggak mau kan terkena risiko penyakit diabetes? Meskipun ada keluarga nenek moyang yang sudah memiliki riwayat diabetes sebelumnya, bukan berarti kamu kemudian pasrah dan tak mau berusaha memperbaiki dirimu. Karena hidup adalah pilihan. Begitu juga dengan kesehatan.

Meningkatkan Mood

Merasa uring-uringan, cepat marah, kurang fokus dan konsentrasi bisa jadi diakibatkan tubuh yang kurang beristirahat. Coba deh perbaiki kualitas tidurmu. Jika kondisi kurang memungkinkan karena memiliki balita yang tidak dapat ditinggal istirahat lama, mintalah bantuan pasangan atau keluarga untuk menjaga buah hati sejenak agar kamu dapat tidur untuk memulihkan energi dan mood.

Mengurangi Berat Badan

Ahaa… ini pasti banyak yang suka heheheee…. Ternyata tidur yang cukup itu bermanfaat pada stabilnya hormon yang membuat kita lapar dan kenyang menjadi tetap seimbang. Kalau tidurmu kurang, hormon yang membuat lapar akan naik kadarnya, sementara hormon yang membuat kenyang menjadi turun, sehingga timbullah rasa lapar dan ingin makan 🙂 Boleh dicoba, ya…

Menghindari Pikun

Duhh… Enggak nyangka ya cukup tidur ternyata membuat ingatan kita lebih tajam dan menghindari pikun. Berbagai peristiwa yang terjadi ternyata dapat lebih lama tersimpan di otak jika kita dalam keadaan tidur. Jika kurang tidur, memori yang ada tak sempat terekam lama dan akhirnya mudah hilang begitu saja. Kamu enggak mau kan masih muda usianya tapi sudah banyak lupa dan harus lelah mengingat-ingat sesuatu yang ingin kamu pikirkan kembali?

Dengan adanya 5 manfaat penting di atas rasanya tak berlebihan jika saya memasukkan aktivitas tidur sebagai salah atu me time mudah dan murah ala saya. Sederhana, tapi ternyata manfaatnya sungguh luar biasa.

Kalau kamu bagaimana? Apa me time favoritmu?

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga


5 Tips Kala Baper Melanda Ala Saya

“Men are from Mars, Women are from Venus….”

Judul buku yang sangat populer karya John Gray, Ph.D ini mengungkap betapa jauhnya perbedaan antara sosok pria dan wanita. Wanita adalah makhluk multitalenta yang diibaratkan seperti gelombang. Baperan dan sangat mudah terbawa sisi emosionalnya. Kadang naik, kadang turun. Sangat fluktuatif. Sementara pria, diibaratkan laksana karet gelang yang lebih lentur dan elastis dalam mengontrol perasaannya.

Penelitian tentang perbedaan pola pikir antara pria dan wanita memang tak pernah ada habisnya. Ini berkaitan dengan banyak hal, terutama tentang bagaimana mengatur pola hubungan yang baik antar pasangan agar dapat menghindari pertengkaran di dalam sebuah hubungan.

Dikutip dari laman Hello Sehat, Tel Aviv University pada tahun 2015 pernah melakukan riset untuk membandingkan antara otak laki-laki dan perempuan. Dari penelitian ini ditemukan bahwa otak laki-laki ternyata 10% lebih besar daripada otak perempuan. Tapi hal ini bukan berarti seorang pria lebih pintar dari wanita, ya… 😀 Karena faktanya, otak perempuan ternyata lebih mampu menyerap informasi 5x lebih cepat dari laki-laki. Wow… kenapa bisa begitu, Esmeralda? Tak lain dan tak bukan karena kaum wanita lebih sering menggunakan otak kanan daripada otak kirinya. Kemampuan mereka melihat banyak hal dari berbagai sudut pandang ini, nih, yang membuat wanita menjadi lebih sensitif dan baperan daripada pria.

Nah… setelah memahami asal mula kebaperan yang kerap terjadi pada diri wanita, ada baiknya kita juga belajar bareng yuk, bagaimana tips untuk menghindari rasa baper yang berkelanjutan. Kamu pasti tahu kan, generasi zaman now paling suka sama yang namanya baper dan ambyar-ambyaran. Padahal, ini bukanlah sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk dipelihara, apalagi dikembangbiakkan 🙂 Apalagi kalau kamu sudah menjadi seorang istri atau seorang ibu dengan tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Baper itu membawa keresahan, dan bisa jadi berujung pada penyesalan. Dan penyesalan (beranda-andai) itu menurut sebuah hadis dapat membuka jalan untuk tipu daya setan.

“Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: ‘Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian’ namun katakanlah: ‘Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan’ karena berandai-andai membuka tipuan setan...” (HR. Muslim 2664)

5 tips di bawah ini biasanya saya lakukan apabila kebaperan mendadak datang tanpa diduga. Mungkin kamu nanti juga bisa menambahkan tips lainnya, ya,…

1. Tarik napas panjang, tahan sejenak dan hembuskan perlahan

Percaya atau tidak, cara ini efektif bekerja apabila rasa baper mulai menyapa. Tidak hanya saat baper saja, menarik napas dan menahannya sejenak ini juga bisa kamu lakukan ketika sedang berada dalam posisi gugup, grogi, deg-degan, takut, dan berbagai perasaan tidak nyaman lainnya.

2. Berusaha berpikir positif dan menghindari prasangka

Tidak mudah memang. Pada saat baper menghadang, awalnya pasti berat menghilangkan segala pikiran negatif yang mendadak datang bertubi-tubi, membuat pandangan dan pikiran terasa gelap. Tapi, mau tak mau kita harus mengontrolnya, karena belum tentu apa yang menjadi prasangkamu benar-benar terjadi sesuai apa yang disangkakan. Jadi, daripada sibuk berpikir negatif, kenapa tidak kamu balik prasangkamu menjadi sesuatu yang positif? Ucapkan doa terbaik dan netralkan hatimu agar rasa baper tidak berlebihan menguasai diri.

3. Belajar lebih jujur dan mengakui apa adanya

Perasaan hati yang sensitif dan sering terbawa perasaan ada kalanya terjadi karena kita kurang jujur terhadap diri sendiri. Terlalu banyak memendam perasaan dan asyik bermain dengan pikiran sendiri bisa menjadi penyebab baper yang berkelanjutan. Coba deh, kamu tulis daftar keinginan yang kamu harapkan, alias pencapaian diri yang kamu inginkan, di kertas atau buku catatan secara detail dan terperinci. Ini dapat melegakan dan mengurangi beban perasaan yang ada di hatimu.

4. Sibukkan diri dengan banyak aktivitas

Ketika baper melanda, jangan biarkan diri makin terpuruk dan terluka dengan berdiam diri di dalam kamar sambil mendengarkan lagu-lagu ambyar. Percayalah, kamu akan semakin menderita dan merasa tak berharga. Sibukkan diri dan pikiranmu dengan berbagai aktivitas yang mampu mengisi ruang kosong di dalam hati agar pikiran terfokus pada kegiatan tertentu.

5. Cari teman dan komunitas yang memotivasi

Berkumpul dengan para sahabat dan komunitas yang positif dan membangun motivasi diri, baik secara online ataupun offline merupakan obat hati yang tak ternilai harganya. Tahukah kamu bahwa di dalam alam semesta ini banyak sekali frekuensi yang berseliweran, baik yang tinggi maupun yang rendah. Sama seperti antena televisi yang hanya dapat menangkap sinyal yang sesuai level frekuensinya, manusia pun juga demikian. Jika ingin mendapatkan frekueni (energi) yang baik, kamu pun harus berusaha mencari lingkungan dan teman-teman yang baik agar dapat terus memperbaiki diri.

Itu dia beberapa hal yang biasa saya lakukan apabila baper mulai melanda. Sebenarnya terbawa perasaan ini adalah sesuatu yang wajar, karena kita kan manusia, bukan robot. Cuma menjadi enggak wajar bila kemudian terus berkembang dan seolah dibesar-besarkan. Bukankah kita dikaruniai akal dan pikiran untuk meminimalisir segala hal yang negatif dan tak baik bagi tubuh kita?

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Waspada Baby Blues, Sindrom Usai melahirkan yang Menguras Pikiran dan Sisi Emosional Wanita

Image: Pixabay.com

Siapa pun tahu bahwa menjadi seorang ibu adalah impian setiap wanita. Tak mengherankan ketika gelar sebagai pengantin baru masih terasa, banyak pasangan yang langsung berencana memiliki momongan tanpa perlu ditunda lagi. Tapi tahukah kamu, untuk menjadi seorang ibu, banyak sekali hal yang harus dipersiapkan. Bukan sekadar kesiapan fisik selama masa kehamilan saja, kesiapan mental dan pengetahuan usai melahirkan ternyata lebih membutuhkan energi dan fokus bagi seorang wanita, termasuk pengetahuan tentang sindrom yang dikenal dengan istilah baby blues.

Hemmm…. ingatan saya langsung melayang pada kenangan masa kehamilan 10 tahun yang lalu. Tak dimungkiri, saya pun sempat merasakan sindrom ini setelah melahirkan Lubna. Waktu itu pengetahuan saya tentang berbagai hal usai melahirkan memang sangat kurang sekali.

Selama masa kehamilan, yang saya pelajari lebih banyak berkisar tentang persiapan kelahiran, bagaimana cara menyusui yang baik dan benar, tentang pengasuhan bayi, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan diri si bayi. Nah, saking fokusnya hanya pada bayi, saya pun melupakan perhatian pada diri sendiri, termasuk soal baby blues ini. Lalu, seperti apa, sih, sebenarnya gejala sindrom ini?

Gejala Baby Blues

Agar tak kaget saat mengalami hal ini, kamu dan pasangan harus mengenali beberapa gejala tak biasa yang muncul pascamelahirkan. Kenapa pasangan juga harus tahu? Yup, apalagi kalau bukan untuk membantu memulihkan kondisi kejiwaan sang istri saat sindrom ini menghampiri.

1. Mudah stres, letih dan lesu

Kebahagiaan usai melahirkan buah hati, terutama bagi ibu baru, bisa saja berubah menjadi perasaan lelah, bosan dan tak bergairah lagi menjalani rutinitas harian sebagai seorang ibu. Hal ini dapat disebabkan adanya faktor perubahan hormon, dari hormon kehamilan menjadi hormon menyusui. Tak hanya itu, faktor lingkungan juga ternyata sangat memengaruhi terjadinya baby blues ini. Berbagai komentar dari keluarga dan orang-orang terdekat tentang kondisi bayi yang baru saja lahir bisa saja mengakibatkan sensitivitas tertentu pada diri si ibu . Apabila tak segera disadari, perasaan baper ini dapat berkembang menjadi perasaan bosan, stres, mudah lelah, dan memunculkan penyakit baru, yaitu depresi yang berbahaya bagi kondisi kejiwaannya.

2. Ingin marah dan kerap emosi

Tidak hanya perasaan stres dan lelah yang akan menghampiri penderita baby blues. Emosi yang kadang tak terkontrol, mudah menangis, dan sebaliknya juga mudah marah, menjadi hal yang sangat membingungkan apabila orang-orang terdekat tidak memahaminya, terutama pasangan hidupnya. Dibutuhkan komunikasi yang baik antara pasangan suami isteri saat momen tak nyaman ini berlangsung. Apalagi jika masih tinggal satu rumah dengan orang tua atau mertua, peran serta keluarga besar sangat berarti untuk mengembalikan stabilnya kondisi emosi seorang ibu.

3. Merasa tertekan dan tak percaya diri

Perasaan ragu apakah dapat menjadi ibu yang baik bagi bayinya juga dapat menjadi pemicu munculnya perasaan tertekan dan tak percaya diri. Kondisi ini tak boleh dibiarkan karena berakibat si ibu tidak memiliki motivasi lagi untuk merawat bayi yang baru dilahirkan. Sering melamun, memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak begitu penting dan justru akan menambah beban pikiran sebisa mungkin harus dihindari. Suami dan orang-orang terdekat memiliki tanggung jawab untuk ikut menemani dan menghibur agar rasa percaya diri kembali muncul dan ibu makin bersemangat menjalani hari-harinya.

Cara Mengatasi Baby Blues

Tugas dan tanggung jawab seorang wanita memang semakin berlipat dan bertambah dengan kelahiran si buah hati. Ada kalanya kesibukan mengurus bayi dan rutinitas sehari-hari membuat seorang ibu begitu lelah dan lupa melakukan me time yang menyenangkan bagi dirinya sendiri. Baby blues perlu diwaspadai agar tak mengarah pada kondisi kejiwaan yang semakin berat, seperti depresi, misalnya.

Karena tumbuh kembang bayi sangat dipengaruhi oleh kondisi ibunya, menjadi tanggung jawab bersama bagi suami dan seluruh keluarga untuk selalu mendukung dan menciptakan suasana yang nyaman bagi ibu dan si bayi.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah saling menguatkan pola komunikasi antar pasangan, sehingga istri tak segan berterus terang kepada suami tentang hal terburuk sekalipun yang ia rasakan. Suami juga sebaiknya lebih aktif memperhatikan perasaan dan perubahan sikap istri. Jika ada yang terasa janggal, tanyakan secara baik-baik apa yang istri rasakan. Nyamankah ia?

Selain dukungan suami, jangan lupa bahwa dukungan keluarga lain seperti orang tua dan mertua juga sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan baby blues ini. Beri pengertian kepada keluarga bahwa seorang wanita yang baru saja melahirkan akan mengalami perubahan hormon yang mungkin dapat sedikit mengubah karakter atau sisi emosionalnya. Mohon pengertian dari orang-orang terdekatnya apabila ada yang tak seperti biasanya. Dengan semangat dan dorongan dari lingkungan sekitar, insya Allah ibu akan menjadi bahagia dan sedikit berkurang beban emosionalnya. Percayalah, ibu yang bahagia juga akan melahirkan generasi yang bahagia 🙂

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’.

Baca Juga

Perjalanan Inspiratif ke Lombok bersama BTPN Syariah

Suasana pantai Senggigi dari halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Memori masa kecil tentang Lombok tak akan pernah hilang dari ingatan. Pulau ini adalah tanah kelahiran yang banyak merekam jejak historis masa kecil dan pra remaja seorang Hastin Pratiwi. Meski darah yang mengalir di tubuh saya adalah darah asli Ngayogyokarto Hadiningrat, tapi jangan heran jika beberapa bagian diri, termasuk indera pengecap dan aksen bicara masih sering bercampur baur dengan segala sesuatu yang berbau suku Sasak di Lombok 🙂 Makanan masih suka yang asin dan pedas, logat bicara pun sama sekali tak mencerminkan layaknya seorang putri Kraton yang lemah lembut dan gemulai 😀

By the way, pulau Lombok ini terakhir saya kunjungi sekitar 3 tahun yang lalu, pada pertengahan tahun 2016, saat gempa dahsyat belum sempat mengguncang. Maka ketika 4 hari yang lalu saya mendapat tugas mendadak dari BTPN Syariah untuk berkunjung ke pulau ini, speechless sekali rasanya. Ini seperti impian dan passion yang terwujud, bisa ke Lombok lagi untuk sesuatu yang inspiratif, setelah adanya musibah gempa tahun 2018 lalu. Terus, bagaimana kisah seru (atau syahdu?) perjalanan berharga yang hanya satu hari ini? Yukk… baca terus, deh… Insya Allah kamu enggak bakalan bosan, apalagi bete, karena banyak pembelajaran yang akan kita dapatkan.

Ada Apa dengan BTPN Syariah dan Gempa Lombok 2018?

Mungkin belum banyak teman-teman yang tahu tentang visi dan misi PT. Bank Tabungan Pensiunan Negara Syariah, Tbk alias BTPN Syariah. Saya pun awalnya mengira bank ini sama saja dengan bank lainnya, terutama dalam hal pembiayaan bagi nasabahnya. Tapi ternyata tidak demikian. Perjalanan inspiratif ini membuat saya tersadar, “Oooohh…. ada juga ya bank yang seperti ini…

Jadi, BTPN Syariah ini sejak tahun 2010 ternyata menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang fokus menggalang dana dari keluarga sejahtera untuk disalurkan kepada keluarga prasejahtera produktif, khususnya dengan tujuan pemberdayaan kaum perempuan.

Kenapa harus perempuan yang diberdayakan oleh BTPN Syariah? Iyappp… karena perempuan dianggap sebagai individu yang sangat berpengaruh dalam sebuah keluarga, terutama dalam hal pendidikan anak dan pengelolaan keuangan keluarga.

Nah, pentingnya pendidikan anak melalui pembangunan sekolah yang berbasis pendidikan akhlak dan karakter inilah yang dibidik oleh BTPN Syariah agar angka probabilitas kesejahteraan keluarga juga ikut meningkat. Salah satu perwujudannya adalah dengan melakukan renovasi gedung sekolah TK dan SD Aisyiah yang terletak di kota kecamatan Ampenan dan mengalami kerusakan parah akibat musibah gempa tahun lalu. Masya Allah, flashback banget jadinya, karena kota pelabuhan tua ini adalah kota kelahiran saya.

Menurut Kepala Sekolah SD Aisyiah 2 ibu Sri Rahmatiah, gedung SD Aisyiah ini sebelumnya kondisinya sangat memprihatinkan karena tak terjamah bantuan dari luar. Atapnya hanya ditutupi jerami dan sekat dindingnya hanya menggunakan triplek. Terkadang, bahkan ada ayam yang masuk ke dalam ruangan kelas untuk ikut “belajar” *hiksss…

Pihak BTPN Syariah kemudian memilih sekolah ini dari beberapa sekolah lainnya untuk dilakukan renovasi dan pembangunan aula baru dari hasil pengumpulan dana bantuan gempa para #BankirPemberdaya, yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 12 November 2019 ini.

Gedung sekolah baru SD Aisyiah 2 Ampenan, Kota Mataram

 

Gedung aula baru hasil donasi gempa karyawan BTPN Syariah

 

Ruang kelas baru di SD Aisyiah 2

Diungkapkan oleh Ainul Yaqin selaku Communication Head BTPN Syariah, untuk ke depannya BTPN Syariah akan terus mengembangkan visinya. Bukan hanya sekadar melakukan pembangunan infrastruktur saja, tetapi terdapat tujuan lain yang berkelanjutan dari renovasi gedung sekolah dan pembangunan aula ini. Bukan hanya para siswa yang bertumbuh, tapi juga guru serta masyarakat sekitarnya juga harus dapat berkembang. Salah satu caranya adalah memanfaatkan aula sekolah untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti penyuluhan kesehatan, tips pola hidup yang baik, pengasuhan anak, dan lain sebagainya. Intinya, ada niat baik yang ingin diwujudkan bagi kebaikan sesama.

Kunjungan ke Tempat Nasabah Inspiratif

Kunjungan saya ke pulau pedas ini memang cuma satu hari saja, tapi Alhamdulillah, banyak sekali ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan. 

Hari Kamis tanggal 7 November saya berangkat dari Yogyakarta dengan pesawat jam 06.00 pagi. Transit dahulu di Surabaya selama 2 jam, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke  Bandara Internasional Lombok yang waktu tempuhnya sekitar 1 jam dari Surabaya. Sekitar jam 12.00 siang pesawat landing di Bandara Lombok dan saya sudah dijemput oleh driver dari tim BTPN Syariah.  Kemudian kami langsung menuju lokasi sekolah bantuan gempa di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Sampai di sekolah tersebut saya bertemu dengan banyak teman-teman media lainnya, baik dari wilayah NTB maupun dari Jakarta. Sebagian besar mereka adalah wartawan khusus bidang Ekonomi yang ditugaskan mewakili medianya masing-masing.

Usai acara liputan di TK dan SD Aisyiah Ampenan, kami makan siang sejenak di sebuah resto dengan arsitektur rumah Belanda kuno. Namanya “Roemah Langko“. Ini kali kedua saya mengunjungi resto ini, karena 3 tahun yang lalu juga pernah datang ke sini. Jadi tugas ke Lombok ini benar-benar seperti flashback 3 tahun yang lalu… 🙂

Selesai acara makan siang, perjalanan liputan dilanjutkan ke Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Ada seorang nasabah BTPN Syariah yang sangat inspiratif di kecamatan ini, namanya ibu Rehani. Beliau adalah seorang pengepul rajungan yang berhasil menjadi perempuan pemberdaya di desanya.

Ibu Rehani, perempuan pengepul rajungan di Kec. Lembar, Lombok Barat

Berawal dari modal pinjaman ke BTPN Syariah sebesar Rp 3 juta saja, ibu Rehani yang telah ditinggal wafat suaminya dan hidup bersama 2 orang anaknya, dalam waktu 4 tahun terakhir berhasil memfasilitasi para nelayan di daerahnya dengan membelikan alat bubu (jaring) agar para nelayan dapat menangkap rajungan dan menyetorkan hasilnya kepada ibu Rehani. Bukan itu saja. Ibu Rehani juga berhasil memberdayakan para istri nelayan untuk bekerja membantu pengolahan daging rajungan di rumahnya.

Rajungan yang sudah dimasak dan diletakkan di dalam es agar tetap segar. Penyimpanan menggunakan es lebih awet daripada cooler.

 

Rajungan yang sudah diambil dagingnya

Setiap hari ia membeli 1 kuintal rajungan dan melakukan pengiriman rajungan ke beberapa pemasok besar di Surabaya, untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Siapa sangka, dengan wajah dan tutur kata beliau yang polos dan penuturan bahasa Indonesia yang agak tercampur dengan bahasa Sasak, beliau sudah sering berhubungan bisnis dengan para pemasok dan distributor besar. Dalam 1 bulan ibu Rehani biasa melakukan 6x pengiriman, di mana setiap 1x pengiriman rajungan keuntungannya sekitar Rp 3juta. Jadi silakan hitung saja sendiri ya, berapa omsetnya dalam 1 bulan. Luarrrr byasakkk, bukan? Lucunya, ibu Rehani ini aslinya buta huruf dan tidak dapat membaca, lo. Beliau justru menjadi paham tulis-menulis setelah menekuni bisnis rajungan ini. 

Bertemu dengan Community Officer Inspiratif

Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00 WITA saat kami ke luar dari rumah ibu Rehani. Rencananya perjalanan akan langsung dilanjutkan menuju “Menega“, sebuah tempat makan di pinggir pantai untuk menyaksikan indahnya view matahari terbenam di area pantai Senggigi. Ada 2 mobil yang terpisah saat itu. Saya bersama mas Sofyan (seorang teman wartawan dari Bima) dan bapak Ainul Yaqin, (Communication Head BTPN Syariah) di mobil yang lebih kecil. Sementara rombongan wartawan lain berada di mobil yang lebih besar. Mobil yang lebih kecil memutuskan check in ke hotel terlebih dahulu, sementara mobil satunya langsung menuju ke Menega. 

Halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Syukurlah, kesempatan singgah di hotel ini saya gunakan untuk memercikkan air ke badan dulu sejenak, berhubung badan sudah terasa lengket karena sejak berangkat dari Yogyakarta jam 4 pagi tadi belum bersih-bersih lagi. Kami semua diberi kehormatan oleh BTPN Syariah menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort, salah satu hotel berbentuk resort bintang 5 di kawasan Senggigi, Lombok Barat. Sebenarnya begitu masuk kamar dan melihat tempat tidur putih bersih rasanya sih pengen langsung ndlosoran kwkwkwk….. tapi apa daya acara berikutnya sudah menunggu. Saya hanya sempat mengambil dokumentasi video senja hari di halaman belakang hotel sejenak, kemudian mandi. Setelah itu berusaha menyemangati mata yang mulai berat… “Ayoooo…. kalau cuma mau tidur ngapain jauh-jauh ke Lombok?” heheheee….

Jam 19.30 WITA kami menuju Menega dan bertemu dengan teman-teman lain yang sudah menunggu di sana. Satu meja panjang di tepi pantai sudah digelar. Ada sekitar 10-12 orang saat itu. Di sekelilingnya banyak pedagang suvenir menggelar dagangan mereka, dari mulai aksesoris khas mutiara, kaos, kain, dan barang-barang tradisional lainnya.  Harganya pun ternyata lebih murah, lo, dibandingkan membeli di pusat kerajinannya langsung.  Sayangnya, saya lupa untuk mengabadikan momen indah di Menega ini. Entahlah apa yang merasukiku sehingga melupakanmu… *tsahhh

Nah, di Menega ini, kami diberikan kesempatan bertemu dengan seorang Community Officer (C.O) BTPN Syariah. CO ini bahasa bisnisnya kalau di dunia pemasaran adalah seorang Account Officer (marketer) yang merupakan lini terdepan bank untuk bertemu dengan para nasabah.  Uniknya, tim CO BTPN Syariah ini dinamakan Melati Putih Bangsa. Mereka adalah para lulusan SMA/SMK yang dididik untuk dapat memotivasi dan memberikan ilmu kepada nasabah prasejahtera, baik tentang kesehatan, manajemen keuangan, kedisipinan, dll.

Di sinilah letak perbedaan antara #BankirPemberdaya BTPN Syariah dengan bankir dari institusi perbankan yang lain. #BankirPemberdaya BTPNS diharapkan dapat menjadi teladan bagi para nasabah prasejahtera mereka dalam hal kedisiplinan, motivasi, percaya diri, dan berbagai hal positif lainnya. Bukan hanya saya yang salut dengan cara kerja bisnis pembiayaan dari BTPN Syariah ini, teman-teman wartawan lain pun merasa kagum dan baru kali ini menemui hal seperti ini. 

Tim CO inspiratif yang bertemu dengan kami malam itu adalah seorang gadis manis bernama Nining (Ni Wayan Suryaningsih). Gadis asli Bali yang telah 4 tahun menjadi CO ini menjelaskan perjuangannya menjalani profesi yang dicintainya. Meskipun bukan seorang muslimah, tidak menjadi penghalang baginya untuk bekerja di bank yang menggunakan sistem syariah. Bahkan ada beberapa nasabahnya yang juga bukan seorang muslim. Dan mereka juga tidak masalah dengan adanya sistem syariah yang digunakan oleh BTPNS.

Dari mbak Nining ini saya belajar banyak tentang BTPN Syariah. Betapa bank ini sangat memerhatikan karyawannya, mulai dari lini terbawah sekalipun. Para CO yang seluruhnya perempuan ini disediakan wisma khusus di daerah yang dekat dengan lokasi nasabah prasejahtera mereka. Kendaraan pun khusus kendaraan manual, tidak boleh menggunakan kendaraan matic, karena medan yang dihadapi cukup berat, harus masuk ke berbagai pelosok desa.

Community Officer bertemu dengan nasabah prasejahtera (Foto: BTPNSyariah.com)

Ketika ditanya, apa yang membuat para nasabah prasejahtera tertarik menabung dan melakukan pinjaman di BTPN Syariah? Dijawab oleh mbak Nining, karena para CO fokus kepada pelayanan terbaik bagi nasabah prasejahteranya. Bukan hanya menarik uang sja, tetapi lebih dari itu, para nasabah juga diberikan tips khusus, seperti tips cara mengatur keuangan, tips kesehatan, bahkan ada yang meminta diberitahu tips tentang rambut beruban 🙂 Intinya, para CO ini seperti tempat curhat dan menjadi seorang guru/leader bagi para nasabahnya.

Nining juga bercerita, dari 4 tahun menjalani profesi CO ini ia sudah berhasil mencicil rumah untuk kedua orang tuanya dan membiayai kuliah adiknya. Saat ini ia sedang dalam masa promosi untuk menjadi seorang SCO (Senior Community Officer), jabatan yang lebih tinggi lagi di atas CO. Kita doakan bersama ya, mbak Nining dapat terus berprestasi dalam profesinya ini.

Malam itu saya kembali ke hotel dengan membawa banyak memori berharga. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam saya sudah bertemu dengan aneka karakter manusia dan profesi mereka masing-masing. Dan semuanya sungguh inspiratif sekali. Dari mereka semua saya banyak belajar bahwa perjuangan hidup saya belumlah seberapa dan tak ada apa-apanya dibanding mereka.

Saya (no. 2 dari kiri) bersama teman media dan tim BTPN Syariah. Terima kasih BTPNS… (Foto; dok. Rony/Harian Nusa)

Terima kasih BTPN Syariah atas kesempatan yang diberikan. Saya belajar banyak hal tentang sisi lain perbankan syariah dari institusi ini. Bukan sekadar berfokus pada pembangunan yang bersifat materi saja, tapi jauh di balik itu ada tanggung jawab moral mengubah mental dan karakter para nasabah prasejahtera dan keluarganya menjadi lebih berdaya guna.  Luar biasa….

Baca Juga

3 Cara Menghindari Fitnah sebagai Seorang Wanita, Sudah Siapkah Kamu?

Image: Google.com

.
Siapa pun tahu bahwa saat ini peran dan aktivitas wanita begitu besar di tengah masyarakat. Hampir semua tugas pria yang tadinya begitu mustahil dilakukan wanita, saat ini menjadi mungkin dikerjakan oleh kaum hawa. Arsitek, petugas keamanan, supir, sampai kepada pekerja bangunan, wanita tetap bisa ambil bagian. Seolah tak ada pekerjaan yang tak mampu kami kerjakan.
.
Namun di balik itu, jangan lupa, bahwa ada kehati-hatian yang harus tetap kita jaga sebagai seorang wanita, terutama bila kita adalah seorang muslimah. Baik sebagai muslimah yang singlelillah, maupun yang telah memiliki pasangan. Akan ada banyak fitnah dan kerusakan yang timbul apabila seorang wanita tidak dapat menjaga diri dan adab dirinya, termasuk rasa malunya.
.
Hal ini telah dikatakan oleh Rasulullah Saw sejak dahulu kala, bahwa di antara fitnah harta, dunia, dan anak-anak, fitnah wanitalah yang paling berbahaya bagi kaum pria.
.
“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740)
.
Berikut beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir adanya fitnah terhadap diri pribadi seorang wanita, khususnya bagi para muslimah. Ini sekaligus sebagai pengingat juga untuk saya, karena sungguh, godaan bagi wanita di akhir zaman ini sangat berat dan tipis sekali batasannya antara yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Apalagi jika kita tidak mau mempelajari lebih dalam lagi.
.
Perbaiki Adab dan Akhlakmu
.
Bukan rahasia lagi bahwa seorang wanita adalah calon ibu dari anak-anaknya. Sekolah pertama bagi buah hatinya. Dan perhiasan terindah bagi suaminya. Maka mutlak diperlukan keindahan akhlak dan adab untuk diwariskan, terutama bagi generasi penerusnya kelak. Tentunya semua butuh waktu dan proses, tidak bisa langsung instan mengubah diri secara sempurna. Maka, belajar dan terus menimba ilmu rasanya menjadi sebuah kewajiban bagi seorang ibu. Bukankah saat ini belajar dapat dilakukan dari mana saja? Kuliah WA, ceramah di FB, kajian live di IG? Masya Allah, semuanya Allah permudah tanpa kita harus keluar rumah.
.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah wanita shalihah…”
(HR. Muslim no 1467)
.
Tutuplah Auratmu
.
Seorang muslimah diwajibkan menutup auratnya agar ia lebih terjaga dari gangguan dan sebagai identitas untuk dirinya. Batasan aurat bagi wanita telah disebutkan di dalam hadis dan beberapa ayat Alquran, yaitu seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan wanita.
.
“Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah baligh (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (Rasulullah berkata seraya menunjuk muka dan telapak tangannya…” (HR. Abu Dawud)
 .
Dalam suatu kajian pernah disebutkan bahwa seorang pria jika diibaratkan adalah seperti kucing yang selalu merindukan ikan asin 🙁
Apabila ia mencium bau ikan asin dari kejauhan, ia akan terus mencari dan mendekati ikan asin itu. Apabila ikan asin dibiarkan terbuka dan sama sekali tidak terjaga, tentunya kucing tersebut akan mudah menemukan dan menyantap ikan tadi. Namun, apabila ikan asinnya dalam keadaan tertutup dalam wadah yang rapat dan terlindungi, kucing tak akan mampu menemukan dan mengoyaknya begitu saja.
.
Begitu pula analogi antara pria sebagai kucing, dan wanita sebagai ikan asin. Sederhana, tetapi cukup masuk di akal. Bahwa hijab kita sebagai penutup aurat setidaknya akan mampu membendung syahwat dari para lawan jenis.
.
“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang….” [QS. Al Ahzab : 59].
.
Di sini jelas disebutkan, “Mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka…” Berarti jilbab yang disyariatkan memang sudah tertulis secara detail ya, man-teman 🙂 Harus panjang dan menutupi seluruh tubuh. Hanya saja kita, *termasuk saya pastinya yang masih jauhhh dari sempurna, kadang sering tergoda menggunakan beragam gaya 🙁 Padahal jilbab yang baik adalah yang sederhana dan tak mengundang banyak lirikan mata.
.
Jagalah Hatimu dan Miliki Rasa Malu
.
Hati adalah cerminan seluruh tubuh. Kebaikan hatimu akan tercermin dalam pikiranmu. Pikiranmu akan muncul dalam lisanmu. Lisanmu akan menampilkan karakter dirimu. Maka pandai-pandailah kita menjaga hati dan mengontrol diri.
.

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati…” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Satu lagi yang mulai terkikis di zaman ini adalah mulai hilangnya perasaan malu. Padahal sesungguhnya, Allah Maha Pemalu, seperti sabda yang Rasulullah Saw ucapkan,

“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Penutup aib, dan mencintai rasa malu dan sikap suka menutup aib…” (HR Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani).

Bahkan yang bikin hati sedikit miris, sempat baca sebaris nasihat di media sosial, bahwa wanita di akhir zaman ini lebih mementingkan kecantikan dan permasalahan jodohnya, daripada menyibukkan diri untuk memperbaiki ilmu agamanya.

Tulisan ini merupakan selfreminder juga buat saya. Semoga kita sebagai muslimah senantiasa Allah jaga dari fitnah dan segala keburukan dunia yang mengakibatkan kehormatan diri menjadi tak berarti lagi.
.
Na’udzubillahimindzalik.
.
#ODOP #EstrilookCommunity #Day2

BTPN Syariah, Fokus pada Pemberdayaan Keluarga Prasejahtera dan Kaum Perempuan Melalui #BankirPemberdaya

 
Kondisi ini menjadi salah satu dasar dari PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah, Tbk atau lebih dikenal dengan sebutan BTPN Syariah untuk kemudian seratus persen memfokuskan diri melayani keluarga prasejahtera produktif dan pemberdayaan kaum perempuan di Indonesia.
Untuk teman-teman  ketahui, BTPN Syariah resmi dibentuk pada 14 Juli 2014. Tapi beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada bulan Maret 2008, BTPN Syariah telah memiliki kantor cabang syariah pertamanya di Bandung dengan 49 orang karyawan. Peresmian kantor cabang pertama di tahun 2008 itu dilakukan setelah membentuk beberapa Unit Usaha Syariah yang bertujuan memenuhi kebutuhan perbankan syariah, mendanai UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) dan menyediakan fasilitas gadai bagi nasabahnya.

Bagi BTPN Syariah, melayani segmen keluarga prasejahtera produktif yang sering disebut dengan istilah “unbankable”  tentunya bukan hal yang mudah. Ini merupakan tantangan, tapi sekaligus juga peluang. Karenanya, BTPN Syariah berusaha menciptakan produk dan memberi layanan yang paling tepat sesuai kebutuhan mereka.

Salah satu lini terdepan yang berperan penting dalam pemberian motivasi kepada para nasabah yang mayoritas adalah kaum perempuan dari keluarga prasejahtera produktif, adalah tim Community Officer BTPN Syariah. CO BTPN Syariah yang terdiri dari para lulusan SMA dan disebut dengan Melati Putih Bangsa ini menjadi role model bagi para nasabah BTPN Syariah agar memiliki sikap Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras dan Saling Bantu (BDKS).

By the way, BTPN Syariah saat ini memiliki 25 cabang di seluruh Indonesia dan 41 Kantor fungsional operasional. Ada sekitar 12.000 Community Officer yang siap mendatangi langsung ke sentra-sentra nasabah di hampir 70% total kecamatan di Indonesia. Tentunya nasabah yang berada di pedesaan sangat terbantu, ya, dengan adanya sistem jemput bola seperti ini.

Dan satu lagi, sebagai bank yang juga menghimpun dana, saat ini ada sekitar 20.000 orang nasabah sejahtera yang menempatkan dana mereka di BTPN Syariah. Nah, hampir 100% dana yang berasal dari nasabah sejahtera tersebut kemudian disalurkan lagi kepada keluarga prasejahtera produktif yang saat ini jumlahnya mencapai 3,6 juta orang nasabah aktif.

Tidak mengherankan jika pada semester pertama tahun 2019 ini BTPN Syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan pembiayaan yang sehat sebesar 24%, yaitu dari Rp 6,87 triliun menjadi Rp 8,54 triliun pada periode yang sama di tahun 2018.

Pertumbuhan yang sehat serta berkelanjutan ini tentunya merupakan buah dari konsistensi perusahaan untuk terus memfokuskan diri melayani keluarga prasejahtera produktif sejak tahun 2010.

Saya bersama Ainul Yaqin, Communication Head BTPN Syariah (tengah) dan drg. Decky (kanan). “Do Good Do Well” membuat seluruh insan di BTPN Syariah memiliki satu identitas yang sama, yaitu #bankirpemberdaya.

Seperti disampaikan oleh Ainul Yaqin, Corporate Communication Head BTPN Syariah, prinsip kemanfaatan dan pemberdayaan benar-benar dikedepankan oleh BTPN Syariah, sesuai visi dan misi untuk bersama-sama menciptakan kesempatan tumbuh dan hidup yang lebih berarti, sekaligus menjadi bank syariah terbaik untuk membantu mengubah hidup jutaan rakyat Indonesia.

Keyakinan untuk ‘Do Good Do Well’ (berkinerja baik sekaligus memiliki dampak sosial yang nyata) inilah, yang membuat seluruh insan di BTPN Syariah memiliki satu identitas yang sama, yaitu #bankirpemberdaya.

Ayo… kamu juga bisa lo, berpartisipasi dalam pemberdayaan perempuan dengan segenap potensi dan passion yang kamu miliki! Dengan mengikuti berbagai komunitas yang sesuai dengan passion-mu, baik online maupun offline, dan melakukan banyak hal bermanfaat, insya Allah kita semua bisa benkontribusi demi perbaikan kehidupan yang lebih baik lagi. Setuju?