Arsip Kategori: Inspirasi

Ibu, Fondasi Peradaban Generasi

Kamu mungkin pernah mendengar ungkapan, “Wanita adalah tiang negara. Apabila baik kaum wanitanya maka baik pula negaranya. Sebaliknya, apabila rusak kaum wanita, maka rusak pula suatu negara…” Ungkapan ini seolah ingin menegaskan, betapa pentingnya keberadaan wanita sebagai fondasi peradaban generasi suatu bangsa.

Banyak di antara kita yang lupa, ketika memulai proses pertama sebagai orang tua, sesungguhnya saat itu juga kita telah menjadi guru sekaligus teladan bagi buah hati yang kita lahirkan. Ayah sebagai Kepala Sekolahnya, sementara Ibu sebagai guru pelaksana kebijakannya. Sebagai seorang guru, mau tidak mau kita harus selalu belajar dan memperbarui ilmu yang kita miliki. Meski tentu saja, teori tak semudah praktiknya.

Wanita zaman now memiliki tantangan dan godaan yang tidak sedikit. Nilai-nilai modernisasi seorang wanita tak dapat dilepaskan begitu saja dari kewajibannya sebagai seorang ibu. Menjadi update terhadap perkembangan zaman adalah suatu keharusan, tapi jangan lupa juga, menjaga nilai moral dan mentalitas anak tidak boleh kita lupakan. Contoh kecilnya, ibu mana sih yang tak ingin anaknya mendapat nilai baik di sekolah? Tapi ini bukan sekadar masalah kebanggaan saja. Prestasi yang baik juga harus diperoleh dengan cara yang baik. Jangan sampai keinginan dan niat yang baik diperoleh dengan cara yang tidak jujur dan menyalahi aturan. Dalam contoh kecil ini saja, secara tidak langsung kita telah mengajarkan arti sebuah proses dan nilai kejujuran kepada generasi saat ini.

Image: Pixabay.com

Berkaca dari pengalaman pribadi dan beberapa sumber yang saya pelajari, nilai-nilai penting berikut ini sebaiknya dimiliki seorang ibu agar dapat menjadi fondasi peradaban yang baik bagi generasi selanjutnya.

Menjaga Kebaikan Akhlak

Sebegitu berharganya seorang ibu, sehingga dalam suatu hadis, Abu Hurairah menyebutkan, ada seorang sahabat yang menghadap Rasulullah Saw dan bertanya,

“Ya Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”Jawabnya, “Ibumu…” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu” ~ (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Keutamaan seorang ibu disebutkan memiliki 3x hak yang lebih besar dari seorang ayah karena kerepotan yang mereka alami selama hamil, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya. Tanggung jawab ibu menjadi lebih besar, terutama dalam menjaga kebaikan akhlak pribadinya agar dapat menularkan karakter terbaik dan sifat-sifat positif kepada buah hatinya.

Menumbuhkan Sifat Penyayang, Pendidik dan Pengatur

Wanita adalah makhluk unik yang diciptakan dengan karunia hati yang lembut dan lebih perasa daripada pria. Ini bukan tanpa tujuan. Bukankah wanita kelak akan menjadi seorang ibu yang sangat membutuhkan sifat tersebut dalam menjalankan perannya? Meski dikaruniai hati yang lembut, kemampuan otak wanita yang mampu menyerap informasi 5x lebih banyak dari pria menjadikan mereka lebih cerdas. Dasar ini yang menjadikan wanita dapat menjadi seorang pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Kemampuan menangani banyak masalah dalam satu waktu juga membuktikan bahwa wanita sebenarnya memiliki jiwa pengatur ulung dibandingkan lawan jenisnya. Keren kan, Bu? 🙂

Memperbarui Ilmu

Imam Al Ghazali pernah berkata, “Menuntut ilmu adalah takwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad…”

Ibarat seorang guru bagi muridnya, ibu harus selalu melakukan upgrade diri dan update ilmu yang dimiliki agar dapat memberikan asupan nutrisi pengetahuan terbaik bagi buah hatinya. Bukan hal yang mudah pastinya, karena waktu 24 jam seolah tak cukup bagi ibu untuk menyelesaikan kewajiban yang harus diembannya. Tapi kembali lagi, anak adalah amanah dari Sang Pemilik yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepemilikannya. Ayo, Bu! Kamu pasti bisa. Yakin bisa. Dan harus bisa….

Menjadi bagian utama dari fondasi peradaban bagi generasi masa depan adalah kebanggaan tak terkira bagi seorang wanita. Jangan pernah engkau sia-siakan kesempatan berlipat pahala di akhirat ini. Karena kelak ketika kita telah tiada, hanyalah tersisa 3 hal yang tiada akan terputus, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh dan salihah. Insya Allah.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

Tetap Cerdas dan Produktif dari Rumah, Wanita Harus Lakukan Ini

“…Jangan biarkan siapapun mengatakan tentang apa yang bisa kau lakukan dan apa yang tidak bisa kau lakukan. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan dan jadilah sosok yang kau inginkan…”

~ Emma Watson (Aktris) ~

Dari beberapa artikel yang saya baca, usia produktif bekerja bagi seorang wanita dikatakan terlalu singkat. Menikah dan memiliki anak sering dianggap sebagai kiamatnya produktivitas wanita. Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), usia produktif dimulai sejak seseorang memasuki usia 15 tahun hingga mencapai usia 64 tahun. Sungguh rentang waktu yang sangat lama untuk kita dapat terus berprestasi dan berkarya, bukan?

Seandainya kamu tahu, bahwa menikah dan memiliki anak sebenarnya bukanlah hal yang menakutkan dalam kaitannya dengan produktivitas wanita. Mungkin sebagian besar beranggapan, untuk menjadi produktif artinya harus selalu bekerja di luar rumah. Jika ini yang ada di dalam pikiranmu, sebaiknya kamu segera browsing dan mencari data sebanyak-banyaknya bahwa bekerja dan menghasilkan sesuatu saat ini bisa dilakukan dari mana saja.

Jika kamu adalah seorang wanita karier dan bisa tetap melanjutkan profesi di kantor setelah menikah dan memiliki anak, bersyukurlah. Tetapi untuk wanita lain yang karena satu dan lain hal harus resign demi kepentingan keluarga, tak perlu juga dijadikan sebagai masalah. Banyak profesi lain yang dapat kamu lakukan dari rumah di zaman serba online ini. Menjadi seorang pebisnis, baik sebagai produsen ataupun reseller, bisa menjadi salah satu pilihan. Menjadi penulis, blogger, ataupun influencer juga tak kalah asyiknya.

Apabila kamu sudah terbiasa bekerja di kantor dengan pekerjaan yang telah ditarget dengan rapi dan sedemikian rupa, mungkin sedikit butuh perjuangan untuk membiasakan diri bekerja dari rumah. Ingatan masa lalu saat masih bekerja, terutama pada saat jam kantor, pasti sesekali akan muncul di kepala. Tapi kamu tak boleh membiarkannya. Siapa bilang produktivitas hanya bisa dilakukan dari luar rumah? Yuk, segera lakukan 5 hal ini agar kamu tetap menjadi wanita cerdas dan produktif, meski hanya dari rumah!

Miliki Tujuan yang Jelas

Apa yang ingin kamu lakukan? Buatlah daftar keinginan yang muncul di benakmu dengan cara menulisnya di kertas. Tampung dahulu semua ide yang muncul di kepala. Setelah semuanya kamu tuliskan, mulai pilih dan beri prioritas pada beberapa aktivitas yang sesuai dengan passion-mu dan paling ingin kamu lakukan.

Kenali Potensimu

Pernah dengar ungkapan “The Right Man on The Right Place”? Ini adalah sebuah ungkapan untuk menunjukkan betapa pentingnya kita bekerja pada bidang yang tepat, sesuai dengan bakat dan potensi yang kita miliki. Penggalian potensi diri bisa kamu lakukan dengan cara seperti poin satu di atas, yaitu menuliskan semua yang kamu inginkan di kertas dan kemudian memilih mana yang paling kamu sukai untuk dilakukan. Bisa juga dengan cara lain yang lebih akurat, seperti tes sidik jari atau analisa tulisan tangan untuk pemaparan lebih detail.

Tapi jika saat ini kamu telah berhasil pada satu bidang tertentu yang sebenarnya tidak sesuai dengan bakatmu, tak masalah. Bukan berarti kamu harus banting setir menggantinya dengan bidang lain. Kamu cukup menambahkan aktivitas yang kamu sukai sebagai penyeimbang rutinitas harianmu. Mana tahu aktivitas atau hobi yang kamu sukai ini juga bisa berkembang seperti pekerjaan lain yang telah lebih dulu kamu geluti.

Membuat To Do List dan Target Aktivitas

Bekerja dari rumah memang lebih fleksibel dalam segi waktu dan pekerjaan yang dilakukan. Tapi ini bukan berarti kamu bisa seenaknya mengerjakan sesuatu tanpa membuat target atau to do list yang jelas. Jika kamu adalah seorang pebisnis misalnya, di mana kamu adalah bosnya dan tak ada atasan yang memerintah dan memeriksa hasil kerjamu seperti di kantor, membuat target yang ingin dicapai merupakan suatu keharusan jika ingin bisnismu terus berkembang.

Membaca Buku

Buku adalah jendela dunia. Raga mungkin boleh tertahan di rumah, tapi pikiran tak boleh demikian. Dengan membaca buku, baik buku fisik maupun bacaan digital yang saat ini tersedia dalam berbagai bentuk aplikasi, imajinasi kita akan terus berkembang dan menuntun diri pada suatu pencapaian. Salah satu kelemahan masyarakat Indonesia adalah lemahnya keinginan mereka dalam membaca, sehingga kemampuan memahami sesuatu menjadi hanya separuhnya saja. Ini berakibat seringnya terjadi kesalahpahaman dan perdebatan di berbagai media sosial apabila muncul topik yang sedang trending. Sungguh sangat disayangkan.

Berkumpul dengan Komunitas

Manusia adalah makhluk sosial yang ditakdirkan untuk saling membutuhkan satu sama lain. Bukan berarti menjadi saling ketergantungan. Bersosialisasi dengan orang lain, terutama dalam komunitas yang positif dan sesuai dengan visi dan misi hidup, dapat menjadi jalan rezeki dan motivasi agar kita selalu lebih baik dari sebelumnya. Dari berbagai komunitas positif, baik secara online atau offline inilah kita dapat menggali lebih banyak ilmu bisnis, agama, pengembangan diri, dan ilmu lain yang sesuai dengan passion masing-masing. Lambat laun, rasa percaya diri akan semakin meningkat dan kolaborasi dalam berbisnis pun dapat terbentuk dengan banyaknya relasi yang kita temui dalam komunitas yang diikuti.

Sampai di sini, apakah kamu masih ragu untuk memulai produktivitasmu dari rumah? 🙂 Sesungguhnya, menjadi produktif itu bukan tentang seberapa besar materi yang dapat kamu hasilkan, melainkan seberapa jauh kamu dapat memengaruhi dan menjadi inspirasi untuk orang-orang di sekelilingmu.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

5 Tips Kala Baper Melanda Ala Saya

“Men are from Mars, Women are from Venus….”

Judul buku yang sangat populer karya John Gray, Ph.D ini mengungkap betapa jauhnya perbedaan antara sosok pria dan wanita. Wanita adalah makhluk multitalenta yang diibaratkan seperti gelombang. Baperan dan sangat mudah terbawa sisi emosionalnya. Kadang naik, kadang turun. Sangat fluktuatif. Sementara pria, diibaratkan laksana karet gelang yang lebih lentur dan elastis dalam mengontrol perasaannya.

Penelitian tentang perbedaan pola pikir antara pria dan wanita memang tak pernah ada habisnya. Ini berkaitan dengan banyak hal, terutama tentang bagaimana mengatur pola hubungan yang baik antar pasangan agar dapat menghindari pertengkaran di dalam sebuah hubungan.

Dikutip dari laman Hello Sehat, Tel Aviv University pada tahun 2015 pernah melakukan riset untuk membandingkan antara otak laki-laki dan perempuan. Dari penelitian ini ditemukan bahwa otak laki-laki ternyata 10% lebih besar daripada otak perempuan. Tapi hal ini bukan berarti seorang pria lebih pintar dari wanita, ya… 😀 Karena faktanya, otak perempuan ternyata lebih mampu menyerap informasi 5x lebih cepat dari laki-laki. Wow… kenapa bisa begitu, Esmeralda? Tak lain dan tak bukan karena kaum wanita lebih sering menggunakan otak kanan daripada otak kirinya. Kemampuan mereka melihat banyak hal dari berbagai sudut pandang ini, nih, yang membuat wanita menjadi lebih sensitif dan baperan daripada pria.

Nah… setelah memahami asal mula kebaperan yang kerap terjadi pada diri wanita, ada baiknya kita juga belajar bareng yuk, bagaimana tips untuk menghindari rasa baper yang berkelanjutan. Kamu pasti tahu kan, generasi zaman now paling suka sama yang namanya baper dan ambyar-ambyaran. Padahal, ini bukanlah sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk dipelihara, apalagi dikembangbiakkan 🙂 Apalagi kalau kamu sudah menjadi seorang istri atau seorang ibu dengan tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Baper itu membawa keresahan, dan bisa jadi berujung pada penyesalan. Dan penyesalan (beranda-andai) itu menurut sebuah hadis dapat membuka jalan untuk tipu daya setan.

“Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: ‘Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian’ namun katakanlah: ‘Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan’ karena berandai-andai membuka tipuan setan...” (HR. Muslim 2664)

5 tips di bawah ini biasanya saya lakukan apabila kebaperan mendadak datang tanpa diduga. Mungkin kamu nanti juga bisa menambahkan tips lainnya, ya,…

1. Tarik napas panjang, tahan sejenak dan hembuskan perlahan

Percaya atau tidak, cara ini efektif bekerja apabila rasa baper mulai menyapa. Tidak hanya saat baper saja, menarik napas dan menahannya sejenak ini juga bisa kamu lakukan ketika sedang berada dalam posisi gugup, grogi, deg-degan, takut, dan berbagai perasaan tidak nyaman lainnya.

2. Berusaha berpikir positif dan menghindari prasangka

Tidak mudah memang. Pada saat baper menghadang, awalnya pasti berat menghilangkan segala pikiran negatif yang mendadak datang bertubi-tubi, membuat pandangan dan pikiran terasa gelap. Tapi, mau tak mau kita harus mengontrolnya, karena belum tentu apa yang menjadi prasangkamu benar-benar terjadi sesuai apa yang disangkakan. Jadi, daripada sibuk berpikir negatif, kenapa tidak kamu balik prasangkamu menjadi sesuatu yang positif? Ucapkan doa terbaik dan netralkan hatimu agar rasa baper tidak berlebihan menguasai diri.

3. Belajar lebih jujur dan mengakui apa adanya

Perasaan hati yang sensitif dan sering terbawa perasaan ada kalanya terjadi karena kita kurang jujur terhadap diri sendiri. Terlalu banyak memendam perasaan dan asyik bermain dengan pikiran sendiri bisa menjadi penyebab baper yang berkelanjutan. Coba deh, kamu tulis daftar keinginan yang kamu harapkan, alias pencapaian diri yang kamu inginkan, di kertas atau buku catatan secara detail dan terperinci. Ini dapat melegakan dan mengurangi beban perasaan yang ada di hatimu.

4. Sibukkan diri dengan banyak aktivitas

Ketika baper melanda, jangan biarkan diri makin terpuruk dan terluka dengan berdiam diri di dalam kamar sambil mendengarkan lagu-lagu ambyar. Percayalah, kamu akan semakin menderita dan merasa tak berharga. Sibukkan diri dan pikiranmu dengan berbagai aktivitas yang mampu mengisi ruang kosong di dalam hati agar pikiran terfokus pada kegiatan tertentu.

5. Cari teman dan komunitas yang memotivasi

Berkumpul dengan para sahabat dan komunitas yang positif dan membangun motivasi diri, baik secara online ataupun offline merupakan obat hati yang tak ternilai harganya. Tahukah kamu bahwa di dalam alam semesta ini banyak sekali frekuensi yang berseliweran, baik yang tinggi maupun yang rendah. Sama seperti antena televisi yang hanya dapat menangkap sinyal yang sesuai level frekuensinya, manusia pun juga demikian. Jika ingin mendapatkan frekueni (energi) yang baik, kamu pun harus berusaha mencari lingkungan dan teman-teman yang baik agar dapat terus memperbaiki diri.

Itu dia beberapa hal yang biasa saya lakukan apabila baper mulai melanda. Sebenarnya terbawa perasaan ini adalah sesuatu yang wajar, karena kita kan manusia, bukan robot. Cuma menjadi enggak wajar bila kemudian terus berkembang dan seolah dibesar-besarkan. Bukankah kita dikaruniai akal dan pikiran untuk meminimalisir segala hal yang negatif dan tak baik bagi tubuh kita?

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Perjalanan Inspiratif ke Lombok bersama BTPN Syariah

Suasana pantai Senggigi dari halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Memori masa kecil tentang Lombok tak akan pernah hilang dari ingatan. Pulau ini adalah tanah kelahiran yang banyak merekam jejak historis masa kecil dan pra remaja seorang Hastin Pratiwi. Meski darah yang mengalir di tubuh saya adalah darah asli Ngayogyokarto Hadiningrat, tapi jangan heran jika beberapa bagian diri, termasuk indera pengecap dan aksen bicara masih sering bercampur baur dengan segala sesuatu yang berbau suku Sasak di Lombok 🙂 Makanan masih suka yang asin dan pedas, logat bicara pun sama sekali tak mencerminkan layaknya seorang putri Kraton yang lemah lembut dan gemulai 😀

By the way, pulau Lombok ini terakhir saya kunjungi sekitar 3 tahun yang lalu, pada pertengahan tahun 2016, saat gempa dahsyat belum sempat mengguncang. Maka ketika 4 hari yang lalu saya mendapat tugas mendadak dari BTPN Syariah untuk berkunjung ke pulau ini, speechless sekali rasanya. Ini seperti impian dan passion yang terwujud, bisa ke Lombok lagi untuk sesuatu yang inspiratif, setelah adanya musibah gempa tahun 2018 lalu. Terus, bagaimana kisah seru (atau syahdu?) perjalanan berharga yang hanya satu hari ini? Yukk… baca terus, deh… Insya Allah kamu enggak bakalan bosan, apalagi bete, karena banyak pembelajaran yang akan kita dapatkan.

Ada Apa dengan BTPN Syariah dan Gempa Lombok 2018?

Mungkin belum banyak teman-teman yang tahu tentang visi dan misi PT. Bank Tabungan Pensiunan Negara Syariah, Tbk alias BTPN Syariah. Saya pun awalnya mengira bank ini sama saja dengan bank lainnya, terutama dalam hal pembiayaan bagi nasabahnya. Tapi ternyata tidak demikian. Perjalanan inspiratif ini membuat saya tersadar, “Oooohh…. ada juga ya bank yang seperti ini…

Jadi, BTPN Syariah ini sejak tahun 2010 ternyata menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang fokus menggalang dana dari keluarga sejahtera untuk disalurkan kepada keluarga prasejahtera produktif, khususnya dengan tujuan pemberdayaan kaum perempuan.

Kenapa harus perempuan yang diberdayakan oleh BTPN Syariah? Iyappp… karena perempuan dianggap sebagai individu yang sangat berpengaruh dalam sebuah keluarga, terutama dalam hal pendidikan anak dan pengelolaan keuangan keluarga.

Nah, pentingnya pendidikan anak melalui pembangunan sekolah yang berbasis pendidikan akhlak dan karakter inilah yang dibidik oleh BTPN Syariah agar angka probabilitas kesejahteraan keluarga juga ikut meningkat. Salah satu perwujudannya adalah dengan melakukan renovasi gedung sekolah TK dan SD Aisyiah yang terletak di kota kecamatan Ampenan dan mengalami kerusakan parah akibat musibah gempa tahun lalu. Masya Allah, flashback banget jadinya, karena kota pelabuhan tua ini adalah kota kelahiran saya.

Menurut Kepala Sekolah SD Aisyiah 2 ibu Sri Rahmatiah, gedung SD Aisyiah ini sebelumnya kondisinya sangat memprihatinkan karena tak terjamah bantuan dari luar. Atapnya hanya ditutupi jerami dan sekat dindingnya hanya menggunakan triplek. Terkadang, bahkan ada ayam yang masuk ke dalam ruangan kelas untuk ikut “belajar” *hiksss…

Pihak BTPN Syariah kemudian memilih sekolah ini dari beberapa sekolah lainnya untuk dilakukan renovasi dan pembangunan aula baru dari hasil pengumpulan dana bantuan gempa para #BankirPemberdaya, yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 12 November 2019 ini.

Gedung sekolah baru SD Aisyiah 2 Ampenan, Kota Mataram

 

Gedung aula baru hasil donasi gempa karyawan BTPN Syariah

 

Ruang kelas baru di SD Aisyiah 2

Diungkapkan oleh Ainul Yaqin selaku Communication Head BTPN Syariah, untuk ke depannya BTPN Syariah akan terus mengembangkan visinya. Bukan hanya sekadar melakukan pembangunan infrastruktur saja, tetapi terdapat tujuan lain yang berkelanjutan dari renovasi gedung sekolah dan pembangunan aula ini. Bukan hanya para siswa yang bertumbuh, tapi juga guru serta masyarakat sekitarnya juga harus dapat berkembang. Salah satu caranya adalah memanfaatkan aula sekolah untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti penyuluhan kesehatan, tips pola hidup yang baik, pengasuhan anak, dan lain sebagainya. Intinya, ada niat baik yang ingin diwujudkan bagi kebaikan sesama.

Kunjungan ke Tempat Nasabah Inspiratif

Kunjungan saya ke pulau pedas ini memang cuma satu hari saja, tapi Alhamdulillah, banyak sekali ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan. 

Hari Kamis tanggal 7 November saya berangkat dari Yogyakarta dengan pesawat jam 06.00 pagi. Transit dahulu di Surabaya selama 2 jam, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke  Bandara Internasional Lombok yang waktu tempuhnya sekitar 1 jam dari Surabaya. Sekitar jam 12.00 siang pesawat landing di Bandara Lombok dan saya sudah dijemput oleh driver dari tim BTPN Syariah.  Kemudian kami langsung menuju lokasi sekolah bantuan gempa di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Sampai di sekolah tersebut saya bertemu dengan banyak teman-teman media lainnya, baik dari wilayah NTB maupun dari Jakarta. Sebagian besar mereka adalah wartawan khusus bidang Ekonomi yang ditugaskan mewakili medianya masing-masing.

Usai acara liputan di TK dan SD Aisyiah Ampenan, kami makan siang sejenak di sebuah resto dengan arsitektur rumah Belanda kuno. Namanya “Roemah Langko“. Ini kali kedua saya mengunjungi resto ini, karena 3 tahun yang lalu juga pernah datang ke sini. Jadi tugas ke Lombok ini benar-benar seperti flashback 3 tahun yang lalu… 🙂

Selesai acara makan siang, perjalanan liputan dilanjutkan ke Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Ada seorang nasabah BTPN Syariah yang sangat inspiratif di kecamatan ini, namanya ibu Rehani. Beliau adalah seorang pengepul rajungan yang berhasil menjadi perempuan pemberdaya di desanya.

Ibu Rehani, perempuan pengepul rajungan di Kec. Lembar, Lombok Barat

Berawal dari modal pinjaman ke BTPN Syariah sebesar Rp 3 juta saja, ibu Rehani yang telah ditinggal wafat suaminya dan hidup bersama 2 orang anaknya, dalam waktu 4 tahun terakhir berhasil memfasilitasi para nelayan di daerahnya dengan membelikan alat bubu (jaring) agar para nelayan dapat menangkap rajungan dan menyetorkan hasilnya kepada ibu Rehani. Bukan itu saja. Ibu Rehani juga berhasil memberdayakan para istri nelayan untuk bekerja membantu pengolahan daging rajungan di rumahnya.

Rajungan yang sudah dimasak dan diletakkan di dalam es agar tetap segar. Penyimpanan menggunakan es lebih awet daripada cooler.

 

Rajungan yang sudah diambil dagingnya

Setiap hari ia membeli 1 kuintal rajungan dan melakukan pengiriman rajungan ke beberapa pemasok besar di Surabaya, untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Siapa sangka, dengan wajah dan tutur kata beliau yang polos dan penuturan bahasa Indonesia yang agak tercampur dengan bahasa Sasak, beliau sudah sering berhubungan bisnis dengan para pemasok dan distributor besar. Dalam 1 bulan ibu Rehani biasa melakukan 6x pengiriman, di mana setiap 1x pengiriman rajungan keuntungannya sekitar Rp 3juta. Jadi silakan hitung saja sendiri ya, berapa omsetnya dalam 1 bulan. Luarrrr byasakkk, bukan? Lucunya, ibu Rehani ini aslinya buta huruf dan tidak dapat membaca, lo. Beliau justru menjadi paham tulis-menulis setelah menekuni bisnis rajungan ini. 

Bertemu dengan Community Officer Inspiratif

Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00 WITA saat kami ke luar dari rumah ibu Rehani. Rencananya perjalanan akan langsung dilanjutkan menuju “Menega“, sebuah tempat makan di pinggir pantai untuk menyaksikan indahnya view matahari terbenam di area pantai Senggigi. Ada 2 mobil yang terpisah saat itu. Saya bersama mas Sofyan (seorang teman wartawan dari Bima) dan bapak Ainul Yaqin, (Communication Head BTPN Syariah) di mobil yang lebih kecil. Sementara rombongan wartawan lain berada di mobil yang lebih besar. Mobil yang lebih kecil memutuskan check in ke hotel terlebih dahulu, sementara mobil satunya langsung menuju ke Menega. 

Halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Syukurlah, kesempatan singgah di hotel ini saya gunakan untuk memercikkan air ke badan dulu sejenak, berhubung badan sudah terasa lengket karena sejak berangkat dari Yogyakarta jam 4 pagi tadi belum bersih-bersih lagi. Kami semua diberi kehormatan oleh BTPN Syariah menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort, salah satu hotel berbentuk resort bintang 5 di kawasan Senggigi, Lombok Barat. Sebenarnya begitu masuk kamar dan melihat tempat tidur putih bersih rasanya sih pengen langsung ndlosoran kwkwkwk….. tapi apa daya acara berikutnya sudah menunggu. Saya hanya sempat mengambil dokumentasi video senja hari di halaman belakang hotel sejenak, kemudian mandi. Setelah itu berusaha menyemangati mata yang mulai berat… “Ayoooo…. kalau cuma mau tidur ngapain jauh-jauh ke Lombok?” heheheee….

Jam 19.30 WITA kami menuju Menega dan bertemu dengan teman-teman lain yang sudah menunggu di sana. Satu meja panjang di tepi pantai sudah digelar. Ada sekitar 10-12 orang saat itu. Di sekelilingnya banyak pedagang suvenir menggelar dagangan mereka, dari mulai aksesoris khas mutiara, kaos, kain, dan barang-barang tradisional lainnya.  Harganya pun ternyata lebih murah, lo, dibandingkan membeli di pusat kerajinannya langsung.  Sayangnya, saya lupa untuk mengabadikan momen indah di Menega ini. Entahlah apa yang merasukiku sehingga melupakanmu… *tsahhh

Nah, di Menega ini, kami diberikan kesempatan bertemu dengan seorang Community Officer (C.O) BTPN Syariah. CO ini bahasa bisnisnya kalau di dunia pemasaran adalah seorang Account Officer (marketer) yang merupakan lini terdepan bank untuk bertemu dengan para nasabah.  Uniknya, tim CO BTPN Syariah ini dinamakan Melati Putih Bangsa. Mereka adalah para lulusan SMA/SMK yang dididik untuk dapat memotivasi dan memberikan ilmu kepada nasabah prasejahtera, baik tentang kesehatan, manajemen keuangan, kedisipinan, dll.

Di sinilah letak perbedaan antara #BankirPemberdaya BTPN Syariah dengan bankir dari institusi perbankan yang lain. #BankirPemberdaya BTPNS diharapkan dapat menjadi teladan bagi para nasabah prasejahtera mereka dalam hal kedisiplinan, motivasi, percaya diri, dan berbagai hal positif lainnya. Bukan hanya saya yang salut dengan cara kerja bisnis pembiayaan dari BTPN Syariah ini, teman-teman wartawan lain pun merasa kagum dan baru kali ini menemui hal seperti ini. 

Tim CO inspiratif yang bertemu dengan kami malam itu adalah seorang gadis manis bernama Nining (Ni Wayan Suryaningsih). Gadis asli Bali yang telah 4 tahun menjadi CO ini menjelaskan perjuangannya menjalani profesi yang dicintainya. Meskipun bukan seorang muslimah, tidak menjadi penghalang baginya untuk bekerja di bank yang menggunakan sistem syariah. Bahkan ada beberapa nasabahnya yang juga bukan seorang muslim. Dan mereka juga tidak masalah dengan adanya sistem syariah yang digunakan oleh BTPNS.

Dari mbak Nining ini saya belajar banyak tentang BTPN Syariah. Betapa bank ini sangat memerhatikan karyawannya, mulai dari lini terbawah sekalipun. Para CO yang seluruhnya perempuan ini disediakan wisma khusus di daerah yang dekat dengan lokasi nasabah prasejahtera mereka. Kendaraan pun khusus kendaraan manual, tidak boleh menggunakan kendaraan matic, karena medan yang dihadapi cukup berat, harus masuk ke berbagai pelosok desa.

Community Officer bertemu dengan nasabah prasejahtera (Foto: BTPNSyariah.com)

Ketika ditanya, apa yang membuat para nasabah prasejahtera tertarik menabung dan melakukan pinjaman di BTPN Syariah? Dijawab oleh mbak Nining, karena para CO fokus kepada pelayanan terbaik bagi nasabah prasejahteranya. Bukan hanya menarik uang sja, tetapi lebih dari itu, para nasabah juga diberikan tips khusus, seperti tips cara mengatur keuangan, tips kesehatan, bahkan ada yang meminta diberitahu tips tentang rambut beruban 🙂 Intinya, para CO ini seperti tempat curhat dan menjadi seorang guru/leader bagi para nasabahnya.

Nining juga bercerita, dari 4 tahun menjalani profesi CO ini ia sudah berhasil mencicil rumah untuk kedua orang tuanya dan membiayai kuliah adiknya. Saat ini ia sedang dalam masa promosi untuk menjadi seorang SCO (Senior Community Officer), jabatan yang lebih tinggi lagi di atas CO. Kita doakan bersama ya, mbak Nining dapat terus berprestasi dalam profesinya ini.

Malam itu saya kembali ke hotel dengan membawa banyak memori berharga. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam saya sudah bertemu dengan aneka karakter manusia dan profesi mereka masing-masing. Dan semuanya sungguh inspiratif sekali. Dari mereka semua saya banyak belajar bahwa perjuangan hidup saya belumlah seberapa dan tak ada apa-apanya dibanding mereka.

Saya (no. 2 dari kiri) bersama teman media dan tim BTPN Syariah. Terima kasih BTPNS… (Foto; dok. Rony/Harian Nusa)

Terima kasih BTPN Syariah atas kesempatan yang diberikan. Saya belajar banyak hal tentang sisi lain perbankan syariah dari institusi ini. Bukan sekadar berfokus pada pembangunan yang bersifat materi saja, tapi jauh di balik itu ada tanggung jawab moral mengubah mental dan karakter para nasabah prasejahtera dan keluarganya menjadi lebih berdaya guna.  Luar biasa….

Baca Juga

Review Buku Hijrah Journey, Kala Cahaya Hijrah Menyapa

Buku Hijrah Journey, kerjasama antara IIDN, Indscript Writing dan penerbit Najmu Books

Entah sudah berapa lama saya bergabung dalam grup Facebook “Ibu-Ibu Doyan Nulis” alias IIDN. Mungkin sejak tahun 2016 kalau tidak salah. Atau 2015? Entahlah….

Yang pasti, saya hanyalah sebagai seorang silent reader saja di grup itu, tanpa pernah ada keberanian mengirimkan tulisan atau kisah apa pun. Padahal, banyak anggota grup lainnya yang tentunya lebih senior, sering membagikan karya mereka di situ.

Saya mulai bangun dari “tidur” yang lama, ketika kemudian ada informasi lowongan penulis artikel untuk sebuah platform online (UC News) yang diumumkan di grup Facebook IIDN. Merasa punya basic menulis naskah berita, akhirnya saya pun mendaftar, dimasukkan ke dalam grup WA khusus, kemudian akhirnya berlanjut menulis di platform UC News sejak November 2017.

Berawal dari situ, Allah mempertemukan dengan banyak jalan rezeki baru yang seolah menahan saya untuk tetap berada di jalur ini, enggak lagi menoleh ke mana-mana, hahhaaahaa…. Yup, passion lama yang terpendam sejak zaman SD mungkin, kemudian terasah saat kuliah di jurusan Komunikasi, akhirnya sekarang muncul lagi. Lebih tepatnya “dimunculkan” oleh Allah Swt. Masya Allah…. 🙂

Setelah menjadi penulis artikel di media online, Allah memberikan jalan yang lebih lebar lagi melalui ajakan seorang teman penulis di UC News untuk berkolaborasi membuat buku. Kami yang berjumlah sembilan orang kemudian memutuskan membuat komunitas kecil dengan nama GSM (Geng Salihah Menulis). Berawal dari beberapa kali melahirkan buku antologi bersama GSM inilah saya mulai berani mengirimkan tulisan ke grup IIDN yang saat itu sedang mencari naskah untuk penerbitan buku tentang kisah perjalanan hijrah.

Seingat saya, waktu itu di bulan Februari 2019 dan saya baru menulis naskah sekitar 2 jam sebelum deadline ditutup. Ada drama koneksi internet hilang pula karena hujan deras heheheee… Tapi qadarallah, tepat jam 21.00 saya pun berhasil mengirimkan email ke admin penerbit yang bekerjasama dengan IIDN. Setelah menunggu beberapa minggu, Alhamdulillah, tulisan saya termasuk dalam daftar naskah yang akan dibuat menjadi buku antologi tentang hijrah.

Sekitar bulan Mei, saat bulan Ramadan, buku berjudul Hijrah Journey ini mulai memasuki masa PO (pre order) cetakan pertamanya. Seperti 3 buku sebelumnya yang juga terbit lewat penerbit indie, saya sebagai penulis memang harus mau mempromosikan buku sendiri agar pembaca tahu bahwa ada buku bagus yang harus mereka baca *eeeaaa….

Alhamdulillah, sambutan cukup baik banyak didapat dari teman-teman di dunia maya. Beberapa pembeli dari luar Jawa, seperti Palembang dan Lombok ikut memesan buku ini, termasuk juga teman-teman yang ada di Yogya dan Jawa Tengah. Pengiriman buku dari penerbit Najmu Books di Bandung pun sangat fast respon dan diterima tepat waktu oleh para pembeli.

Kamu pasti kepo kan, apa sih isi buku Hijrah Journey ini? Kenapa pembeli dari luar Jawa sampai memesan bukunya, padahal ongkos kirimnya kan lumayan, tuh 🙂

Cover Hijrah Journey

Sumber: Facebook.com/LaleSriMulya

Pertama kali lihat desain cover-nya, woww… saya dan 25 penulis lain dalam buku ini langsung jatuh cinta. Sosok wanita berhijab yang terkesan sedang merenung dalam jingganya temaram senja. Fix, kami semua mengakui betapa syahdunya cover buku berwarna cokelat ini, cocok dengan temanya.

Isi Hijrah Journey

Buku inspirasi ini memiliki tebal 183 halaman. Ada 26 kisah nyata tentang hijrah yang ditulis oleh 26 orang perempuan yang tergabung dalam Komunitas IIDN. Berbagai macam gaya cerita dan kepenulisan sesuai ciri khas masing-masing penulisnya dapat kamu baca dalam buku ini. Betapa momentum hijrah adalah goresan sejarah yang tidak akan pernah terlupa dalam perjalanan hidup kita. Bila cahaya hidayah menyapa, seseorang seolah terlahir kembali dari rahim ibundanya.

Benarkah Allah itu ada? Benarkah Tuhan yang layak disembah dan satu-satunya itu Allah?

Pikiranku melayang jauh dengan banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepala. Entah siapa yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu hingga mampu memuaskan akalku…

Aku pernah bertanya pada mereka yang aku anggap lebih layak menjawab ini. Lalu apa jawabnya?

“Keyakinan itu untuk diyakini, bukan untuk dipertanyakan…..”

(Lelly Fitriana, “Perjalanan Mencari Kebenaran”)

Bahasa yang mengalir, lembut, dan sesekali cukup menghunjam kesadaran diri, membuat siapa pun yang membaca berbagai kisah hijrah dalam buku ini menjadi merenung dan introspeksi diri kembali apa yang menjadi tujuan kita sebenarnya di dunia ini.

Testimoni dari seorang pembaca di Palembang, mbak SE. Winarni
Testimoni dari pembaca di Lombok

Testimoni dari beberapa pembaca yang membeli buku Hijrah Journey juga sangat melegakan, membuat saya khususnya, semakin termotivasi untuk terus menuliskan kisah-kisah inspirasi yang menggugah motivasi.

Cetakan Kedua Hijrah Journey

Cover belakang Hijrah Journey

Setelah sukses dengan banyaknya pesanan buku ini pada cetakan pertama di bulan Juni lalu, bulan September ini pihak IIDN dan Najmu Books kembali membuka sesi PO cetakan kedua, mulai tanggal 4 sampai 25 September 2019. Alhamdulillah, sudah ada beberapa sahabat yang memesan pada cetakan kedua ini.

Kalau kamu juga ingin memesan buku Hijrah Journey ini, ada promo diskon lo dari harga normal Rp75.000,- menjadi HANYA Rp60.000,- selama PO berlangsung. Harganya memang tak seberapa, tapi insya Allah banyak kisah dalam buku ini yang akan menggugah kegersangan jiwa kita. Silakan hubungi saya jika ingin melakukan pemesanan bukunya, ya!

Semoga Allah memberkahi dan menuntun kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya. Karena istiqomah itu butuh pengingat, dan buku ini dapat menjadi salah satu reminder-nya… Insya Allah…

Baca juga


#ODOP #EstrilookCommunity #Day7

9 Cara Me Time Mudah Ala Saya

Image: Unsplash.com

Tak banyak dari kita yang menyadari, betapa pentingnya waktu untuk menyendiri dan sekali-sekali terbebas dari rutinitas sehari-hari. Bukan hanya aktivitas menjemput rezeki saja, tapi sederet kegiatan lain yang kerap kita lakukan bersama keluarga atau sahabat dengan alasan “pekerjaan”, ada kalanya perlu rehat sejenak dan digantikan dengan aktivitas menyenangkan untuk membahagiakan diri sendiri.

Pasti banyak yang enggak sadar ‘kan bahwa me time merupakan momen terbaik untuk memberi kesempatan bagi tubuh dan pikiran kita memenuhi haknya bersenang-senang dan beristirahat sejenak.

Kalau kamu rajin memerhatikan, sebenarnya ada, lo, sinyal dari tubuh pada saat dia minta istirahat dulu dari lelahnya aktivitas yang setiap hari kita bebankan kepadanya. Hanya saja, kita sering menunda-nunda memenuhinya, termasuk saya salah satunya. Padahal, me time enggak selalu membutuhkan waktu dan biaya yang banyak.

Apa saja deretan kegiatan me time yang biasanya saya pilih demi membahagiakan tubuh dan pikiran ini?

1. Tidur Lebih Lama dari Biasanya

Tidur mungkin menjadi kebutuhan biasa yang memang harus kita lakukan untuk mengistirahatkan diri. Tapi pada saat-saat tertentu kala tubuh sudah benar-benar lelah, tidur dengan waktu yang lebih lama dari biasanya dapat menjadi salah satu pilihan terbaik. Tapi kalau kamu sudah memiliki keluarga dan tanggung jawab yang harus dijalankan di rumah, jangan lupa untuk meminta izin terlebih dahulu kepada orang serumah bahwa kamu butuh istirahat lebih lama dari biasanya. Minta tolonglah kepada mereka untuk tidak mengganggu sementara waktu agar tidur kita dapat lebih maksimal dan bisa bangun dalam keadaan yang lebih segar.

2. Matikan Handphone

Ini kerap saya lakukan apabila sudah terlalu lelah melihat layar HP dan di pikiran sedang menumpuk banyak PR internal yang harus diselesaikan heheeee….. Menenangkan diri itu penting, dan salah satu caranya adalah dengan menghindari aneka panggilan telepon dan chat yang terkadang menambah tumpukan file baru di pikiran.

3. Menyantap Makanan atau Minuman Favorit

Enggak perlu mahal, makan es krim saja sungguh sudah bisa membuat hati saya merasa lumer dan bahagia *eeaaaa 😀 Hilangkan deh pikiran “Duhhh…. kayak anak kecil aja, sih!” Justru saat me time itulah kita dapat kembali menjadi diri kita apa adanya seperti masa kecil dulu, tanpa harus berubah menjadi sosok yang baru karena ada beban pikiran terhadap profesi atau pekerjaan.

4. Bermain Game atau Kuis Kepribadian

Qiqiqiiii….. jangan diketawain, ya! Tapi ini bisa jadi me time yang murah meriah untuk saya. Dengan bermain game atau kuis sejenak, ada rasa seru, bahagia, deg-degan dan rasa lainnya yang sangat membantu mengurangi perasaan was-was, sehingga pikiran menjadi lebih rileks.

5. Mengaji dan Introspeksi Diri

Kalau beban dan isi kepala sudah terlalu banyak, mengaji dan mentadaburi arti/tafsir yang terkandung di dalam setiap ayat Alquran merupakan cara me time yang sangat baik dan tentunya dianjurkan. Hati menjadi lebih tenang, dan kalau pun saat itu sedang gusar, Allah pasti akan mengirimkan keikhlasan dan ketenangan sesudahnya.

6. Pijat

Memanggil mbak tukang pijat tuna netra ke rumah juga menjadi cara me time paling mudah untuk saya. Jika tubuh sedang lelah, kamu pasti memerlukan tukang servis untuk mereparasi badanmu agar fungsinya dapat kembali seperti semula. Ibarat kendaran, anggota tubuh juga membutuhkan servis dan perbaikan berkala, bukan? 🙂

7. Browsing

Berselancar membuka mbah Google (bukan membuka media sosial, ya, karena justru bikin tambah pusing) untuk sekadar mencari tahu informasi yang saya inginkan, baik tentang kehidupan artis, informasi travelling, kesehatan, makanan, dan aneka informasi ringan lainnya bisa juga menjadi alternatif me time paling mudah. Tapi sebaiknya dibatasi durasinya, karena paparan radiasi yang terlalu lama mengenai kepala dan mata berisiko membuat tubuh kembali lelah.

8. Olahraga

Ini me time yang mengasyikkan, karena sehatnya dapat, refreshing-nya juga dapat. Kamu bisa memilih olahraga yang sesuai dengan minatmu. Yoga, berenang, jogging, senam, fitness, dan masih banyak lagi sederet olahraga lain yang dapat kamu pilih. Kalau saya sukanya jalan kaki dan bersepeda. Sayang, sepedanya masih di toko, belum dibawa pulang kwkwkwk…. Jadi untuk saat ini, berolahraga jalan kaki, terutama melalui hamparan sawah, menjadi sarana me time yang sangat menyenangkan untuk saya.

9. Jalan-Jalan

Kalau ini mah saya enggak pernah nolak hehehee…. Ke pantai atau gunung, hayoo aja, suka semuanya. Zaman masih muda dulu *ketauan deh sekarang sudah tua, jalan-jalan ke luar kota menggunakan sepeda motor melewati hamparan sawah dan pedesaan merupakan salah satu cara me time saya. Apalagi kalau melewati hamparan sawah dan jalanannya sepi, di situlah serasa dunia milik sendiri, yang lainnya anggap aja ngontrak 😀

Itu dia 9 cara me time mudah ala saya yang mungkin juga teman-teman lakukan, meski tidak sama persis semuanya.

Atau mungkin kamu punya cara me time lainnya yang lebih unik dari 9 hal di atas? Boleh banget kalau mau berbagi di kolom komentar, ya 🙂

Baca juga

#ODOP #EstrilookCommunity #Day5

3 Cara Menghindari Fitnah sebagai Seorang Wanita, Sudah Siapkah Kamu?

Image: Google.com

.
Siapa pun tahu bahwa saat ini peran dan aktivitas wanita begitu besar di tengah masyarakat. Hampir semua tugas pria yang tadinya begitu mustahil dilakukan wanita, saat ini menjadi mungkin dikerjakan oleh kaum hawa. Arsitek, petugas keamanan, supir, sampai kepada pekerja bangunan, wanita tetap bisa ambil bagian. Seolah tak ada pekerjaan yang tak mampu kami kerjakan.
.
Namun di balik itu, jangan lupa, bahwa ada kehati-hatian yang harus tetap kita jaga sebagai seorang wanita, terutama bila kita adalah seorang muslimah. Baik sebagai muslimah yang singlelillah, maupun yang telah memiliki pasangan. Akan ada banyak fitnah dan kerusakan yang timbul apabila seorang wanita tidak dapat menjaga diri dan adab dirinya, termasuk rasa malunya.
.
Hal ini telah dikatakan oleh Rasulullah Saw sejak dahulu kala, bahwa di antara fitnah harta, dunia, dan anak-anak, fitnah wanitalah yang paling berbahaya bagi kaum pria.
.
“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740)
.
Berikut beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir adanya fitnah terhadap diri pribadi seorang wanita, khususnya bagi para muslimah. Ini sekaligus sebagai pengingat juga untuk saya, karena sungguh, godaan bagi wanita di akhir zaman ini sangat berat dan tipis sekali batasannya antara yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Apalagi jika kita tidak mau mempelajari lebih dalam lagi.
.
Perbaiki Adab dan Akhlakmu
.
Bukan rahasia lagi bahwa seorang wanita adalah calon ibu dari anak-anaknya. Sekolah pertama bagi buah hatinya. Dan perhiasan terindah bagi suaminya. Maka mutlak diperlukan keindahan akhlak dan adab untuk diwariskan, terutama bagi generasi penerusnya kelak. Tentunya semua butuh waktu dan proses, tidak bisa langsung instan mengubah diri secara sempurna. Maka, belajar dan terus menimba ilmu rasanya menjadi sebuah kewajiban bagi seorang ibu. Bukankah saat ini belajar dapat dilakukan dari mana saja? Kuliah WA, ceramah di FB, kajian live di IG? Masya Allah, semuanya Allah permudah tanpa kita harus keluar rumah.
.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah wanita shalihah…”
(HR. Muslim no 1467)
.
Tutuplah Auratmu
.
Seorang muslimah diwajibkan menutup auratnya agar ia lebih terjaga dari gangguan dan sebagai identitas untuk dirinya. Batasan aurat bagi wanita telah disebutkan di dalam hadis dan beberapa ayat Alquran, yaitu seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan wanita.
.
“Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah baligh (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (Rasulullah berkata seraya menunjuk muka dan telapak tangannya…” (HR. Abu Dawud)
 .
Dalam suatu kajian pernah disebutkan bahwa seorang pria jika diibaratkan adalah seperti kucing yang selalu merindukan ikan asin 🙁
Apabila ia mencium bau ikan asin dari kejauhan, ia akan terus mencari dan mendekati ikan asin itu. Apabila ikan asin dibiarkan terbuka dan sama sekali tidak terjaga, tentunya kucing tersebut akan mudah menemukan dan menyantap ikan tadi. Namun, apabila ikan asinnya dalam keadaan tertutup dalam wadah yang rapat dan terlindungi, kucing tak akan mampu menemukan dan mengoyaknya begitu saja.
.
Begitu pula analogi antara pria sebagai kucing, dan wanita sebagai ikan asin. Sederhana, tetapi cukup masuk di akal. Bahwa hijab kita sebagai penutup aurat setidaknya akan mampu membendung syahwat dari para lawan jenis.
.
“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang….” [QS. Al Ahzab : 59].
.
Di sini jelas disebutkan, “Mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka…” Berarti jilbab yang disyariatkan memang sudah tertulis secara detail ya, man-teman 🙂 Harus panjang dan menutupi seluruh tubuh. Hanya saja kita, *termasuk saya pastinya yang masih jauhhh dari sempurna, kadang sering tergoda menggunakan beragam gaya 🙁 Padahal jilbab yang baik adalah yang sederhana dan tak mengundang banyak lirikan mata.
.
Jagalah Hatimu dan Miliki Rasa Malu
.
Hati adalah cerminan seluruh tubuh. Kebaikan hatimu akan tercermin dalam pikiranmu. Pikiranmu akan muncul dalam lisanmu. Lisanmu akan menampilkan karakter dirimu. Maka pandai-pandailah kita menjaga hati dan mengontrol diri.
.

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati…” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Satu lagi yang mulai terkikis di zaman ini adalah mulai hilangnya perasaan malu. Padahal sesungguhnya, Allah Maha Pemalu, seperti sabda yang Rasulullah Saw ucapkan,

“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Penutup aib, dan mencintai rasa malu dan sikap suka menutup aib…” (HR Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani).

Bahkan yang bikin hati sedikit miris, sempat baca sebaris nasihat di media sosial, bahwa wanita di akhir zaman ini lebih mementingkan kecantikan dan permasalahan jodohnya, daripada menyibukkan diri untuk memperbaiki ilmu agamanya.

Tulisan ini merupakan selfreminder juga buat saya. Semoga kita sebagai muslimah senantiasa Allah jaga dari fitnah dan segala keburukan dunia yang mengakibatkan kehormatan diri menjadi tak berarti lagi.
.
Na’udzubillahimindzalik.
.
#ODOP #EstrilookCommunity #Day2

BTPN Syariah, Fokus pada Pemberdayaan Keluarga Prasejahtera dan Kaum Perempuan Melalui #BankirPemberdaya

 
Kondisi ini menjadi salah satu dasar dari PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah, Tbk atau lebih dikenal dengan sebutan BTPN Syariah untuk kemudian seratus persen memfokuskan diri melayani keluarga prasejahtera produktif dan pemberdayaan kaum perempuan di Indonesia.
Untuk teman-teman  ketahui, BTPN Syariah resmi dibentuk pada 14 Juli 2014. Tapi beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada bulan Maret 2008, BTPN Syariah telah memiliki kantor cabang syariah pertamanya di Bandung dengan 49 orang karyawan. Peresmian kantor cabang pertama di tahun 2008 itu dilakukan setelah membentuk beberapa Unit Usaha Syariah yang bertujuan memenuhi kebutuhan perbankan syariah, mendanai UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) dan menyediakan fasilitas gadai bagi nasabahnya.

Bagi BTPN Syariah, melayani segmen keluarga prasejahtera produktif yang sering disebut dengan istilah “unbankable”  tentunya bukan hal yang mudah. Ini merupakan tantangan, tapi sekaligus juga peluang. Karenanya, BTPN Syariah berusaha menciptakan produk dan memberi layanan yang paling tepat sesuai kebutuhan mereka.

Salah satu lini terdepan yang berperan penting dalam pemberian motivasi kepada para nasabah yang mayoritas adalah kaum perempuan dari keluarga prasejahtera produktif, adalah tim Community Officer BTPN Syariah. CO BTPN Syariah yang terdiri dari para lulusan SMA dan disebut dengan Melati Putih Bangsa ini menjadi role model bagi para nasabah BTPN Syariah agar memiliki sikap Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras dan Saling Bantu (BDKS).

By the way, BTPN Syariah saat ini memiliki 25 cabang di seluruh Indonesia dan 41 Kantor fungsional operasional. Ada sekitar 12.000 Community Officer yang siap mendatangi langsung ke sentra-sentra nasabah di hampir 70% total kecamatan di Indonesia. Tentunya nasabah yang berada di pedesaan sangat terbantu, ya, dengan adanya sistem jemput bola seperti ini.

Dan satu lagi, sebagai bank yang juga menghimpun dana, saat ini ada sekitar 20.000 orang nasabah sejahtera yang menempatkan dana mereka di BTPN Syariah. Nah, hampir 100% dana yang berasal dari nasabah sejahtera tersebut kemudian disalurkan lagi kepada keluarga prasejahtera produktif yang saat ini jumlahnya mencapai 3,6 juta orang nasabah aktif.

Tidak mengherankan jika pada semester pertama tahun 2019 ini BTPN Syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan pembiayaan yang sehat sebesar 24%, yaitu dari Rp 6,87 triliun menjadi Rp 8,54 triliun pada periode yang sama di tahun 2018.

Pertumbuhan yang sehat serta berkelanjutan ini tentunya merupakan buah dari konsistensi perusahaan untuk terus memfokuskan diri melayani keluarga prasejahtera produktif sejak tahun 2010.

Saya bersama Ainul Yaqin, Communication Head BTPN Syariah (tengah) dan drg. Decky (kanan). “Do Good Do Well” membuat seluruh insan di BTPN Syariah memiliki satu identitas yang sama, yaitu #bankirpemberdaya.

Seperti disampaikan oleh Ainul Yaqin, Corporate Communication Head BTPN Syariah, prinsip kemanfaatan dan pemberdayaan benar-benar dikedepankan oleh BTPN Syariah, sesuai visi dan misi untuk bersama-sama menciptakan kesempatan tumbuh dan hidup yang lebih berarti, sekaligus menjadi bank syariah terbaik untuk membantu mengubah hidup jutaan rakyat Indonesia.

Keyakinan untuk ‘Do Good Do Well’ (berkinerja baik sekaligus memiliki dampak sosial yang nyata) inilah, yang membuat seluruh insan di BTPN Syariah memiliki satu identitas yang sama, yaitu #bankirpemberdaya.

Ayo… kamu juga bisa lo, berpartisipasi dalam pemberdayaan perempuan dengan segenap potensi dan passion yang kamu miliki! Dengan mengikuti berbagai komunitas yang sesuai dengan passion-mu, baik online maupun offline, dan melakukan banyak hal bermanfaat, insya Allah kita semua bisa benkontribusi demi perbaikan kehidupan yang lebih baik lagi. Setuju?

Momentum #AyoHijrah bersama Bank Muamalat, Ketika Komitmen Menjauhi Riba Allah Buktikan dengan Nyata

.
Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata “Hijrah”?

Kata ini sering sekali kita dengar dan baca akhir-akhir ini. Alhamdulillah, begitu banyak mereka yang mulai sadar dan perlahan mendekatkan dirinya kepada Sang Khalik, meninggalkan hiruk pikuk kehidupan dunia yang semakin lama makin tak jelas dan abu-abu batasnya.

Dilihat dari arti katanya, hijrah berarti melakukan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Meninggalkan kondisi sebelumnya yang kurang nyaman dan dikhawatirkan dapat memengaruhi keadaan menjadi lebih buruk. Pada zaman Rasulullah Saw dahulu kala, makna hijrah ditandai saat Rasulullah memutuskan meninggalkan kota Mekkah menuju Madinah untuk menghindari tekanan dari kaum kafir Quraisy.

Untuk saya pribadi, makna kata hijrah mulai terasa selama kurun waktu 3 tahun terakhir. Alhamdulillah, begitu banyak momentum hijrah yang Allah ajarkan kepada saya.

Dahulu, saya sering tidak percaya setiap mendengar cerita dan  nasihat seorang ustaz di televisi yang terkenal dengan metode sedekah dan shalawat-nya untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Ketidakyakinan yang dipicu oleh kurangnya ilmu agama dan masih tertutupnya diri ini dari hidayah-Nya.

Saat mendengar testimoni dari sang ustaz mengenai terkabulnya banyak hajat (keinginan) dalam hidupnya, termasuk keinginan putri beliau untuk memiliki laptop dengan perantaraan shalawat dan sedekah, hati kecil saya masih bertanya-tanya, “Apa iya bisa begitu caranya?”

Hemmm… sungguh, terasa di luar logika. Saya bahkan lupa bahwa tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berketetapan akan terjadinya sesuatu.

Keyakinan saya akan kekuatan sedekah mulai berangsur menjadi 100% setelah membaca banyak testimoni, salah satunya di grup Facebook milik Saptuari Sugiharto, seorang pengusaha muslim asal Yogyakarta dan Dewa Eka Prayoga, pengusaha muda asal Bandung.

Allah kemudian membuka mata saya lebih lebar lagi lewat seorang teman yang meminjamkan sebuah buku motivasi berjudul “Moslem Millionaire”, karya motivator nasional Ippho Santosa.  Tak berapa lama setelah itu, keajaiban pun mulai terjadi. Allah izinkan saya bertemu dengan Ippho Santosa dengan mudahnya, lewat salah satu seminar beliau yang diadakan di Yogyakarta. Seminar singkat itu sungguh membawa banyak perubahan dalam cara pandang saya tentang arti sedekah dan cara mewujudkan impian.

Seminar “100 Juta Pertama” Ippho Santosa, bulan Maret 2017 di Jogja Expo Centre

.
Seiring perjalanan saya mencari ilmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik,  ternyata bukan hanya ilmu tentang sedekah saja yang saya dapat.  Allah menunjukkan saya ilmu lainnya yang tak kalah pentingnya, yaitu tentang anjuran menghindari riba.  Masya Allah.

Riba, secara kaidah bahasa dapat diartikan sebagai “tumbuh dan membesar”. Secara umum, dalam hal jual beli dan utang piutang, riba adalah keharusan untuk memberi kelebihan pengembalian saat kita membayar pinjaman kepada si pemberi utang. Adapun apabila kelebihan itu kita berikan atas keinginan kita sendiri, tanpa paksaan dari si peminjam, maka itu bukan riba, dan diperbolehkan.

Misalnya, saya meminjam uang sebesar Rp900.000,- dari seorang sahabat. Kemudian saat pengembalian, saya melebihkan uangnya menjadi Rp1.000.000,- dengan alasan, sisa Rp100.000,- nya biarlah digunakan untuk membeli boneka bagi anak sahabat saya tadi. Maka ini bukan riba dan hukumnya diperbolehkan.

Yang dilarang adalah, apabila sahabat saya berkata saat saya meminjam uangnya, “Besok saat pengembalian pinjaman, kamu harus mengembalikan uangnya menjadi Rp1.000.000,- ya, bukan hanya Rp900.000,-” Ini dalam agama Islam termasuk riba, dan tentu saja hukumnya haram.

Imam Muslim rahimahullah pernah meriwayatkan suatu hadis Rasulullah dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba, yang memberi riba, penulisnya, dan dua saksinya,” dan beliau bersabda, “mereka semua sama.”

Dalam praktiknya, jujur saja, jangankan menerapkan praktik riba dalam kehidupan sehari-hari. Untuk masalah utang piutang, saya termasuk orang yang sangat takut mencicil barang atau meminjam uang kepada orang lain. 

Kalau membeli barang yang saya inginkan harus dengan mencicil atau berutang, sebisa mungkin saya hindari hal itu dan jauhi keinginan hati untuk memiliki barang tersebut 🙂 Intinya, saya takut dan tak cukup bernyali besar dengan masalah cicilan dan pinjam-meminjam ini. 

Ada satu kisah yang ingin saya bagikan ke teman-teman. Kisah nyata ini sudah pernah saya ceritakan ke beberapa orang teman, tapi belum pernah saya tulis di blog. Bukan sebagai ajang untuk eksis, tapi insya Allah bisa digunakan sebagai motivasi dan bukti  bahwa kecintaan serta ke-istiqomah-an kita di jalan Allah suatu saat pasti akan berbuah manis pada akhirnya.

Pada bulan Januari 2017, saya ingat, waktu itu ibu saya ingin membeli sebuah sepeda motor baru dengan cara mencicil. Saat itu kondisi sepeda motor yang biasa kami gunakan memang sedang butuh banyak perbaikan. Maklum, itu adalah kendaraan lama, keluaran tahun 1997. Meskipun mesinnya masih halus dan enak dipakai, sepeda motor itu mulai sering macet, apalagi dalam kondisi hujan lebat.

Ibu merencanakan membeli lewat salah satu dealer motor yang sering menyebarkan flyer promosinya di halaman rumah kami.

 Apa yang ada di benak saya saat itu?

Mendadak saya ingat satu hadis yang pernah saya baca, yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dan Al Baihaqi:

“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya…”

Na’udzubilahiminzalik…. 

Buru-buru saya melarang ibu meneruskan niatnya. Saya yakinkan beliau, jika kita tidak sanggup membeli secara tunai dan harus mencicil secara kredit yang ada tambahan bunga dalam pembayarannya, lebih baik tinggalkan. Tetap bertahanlah dengan sepeda motor yang lama, sambil terus berdoa dan giat sedekah, terutama membagikan nasi bungkus pada hari Jumat dengan motor lama tersebut, meskipun mungkin penampilan kami tak sekeren pengguna jalan lainnya.  Dan akhirnya, ibu pun pasrah dan menurut pada anjuran saya.

Teman-teman tahu apa yang kemudian terjadi? Masya Allah, Allahu Akbar!!
.

Sepeda motor gratis, Masya Allah!

.
Tak perlu menunggu waktu lama. Di bulan Mei 2017, Allah buktikan semuanya. 

Saat itu instansi tempat almarhum bapak dulu bekerja menyelenggarakan perayaan ulang tahunnya. Seperti biasa, seluruh pensiunan instansi tersebut dan keluarga/ahli waris yang masih hidup diundang untuk menghadiri dan meramaikan perayaan tersebut. Dan seperti biasanya pula, banyak doorprize disediakan saat acara berlangsung. Salah satu hadiah utama saat itu berupa sepeda motor matic terbaru keluaran sebuah brand ternama. 

Qadarallah, seperti sudah tertulis dalam skenario-Nya, nomor doorprize milik ibu menjadi pemenang hadiah utama itu. Saya yang tak ikut hadir dalam acara tersebut hanya mampu termangu tak percaya saat ibu bercerita di rumah, betapa ia gemetarrrr mendengar nomornya dipanggil sebagai penerima hadiah sepeda motor itu.

Begitulah, Allah Swt sungguh menunjukkan kuasa-Nya. Sepeda motor yang kami impikan dan inginkan beberapa bulan terakhir ternyata hadir dengan sendirinya, tanpa kami harus mengeluarkan biaya sepeser pun, Masya Allah. Hingga saat ini, setiap kali mengingat hal itu, kami semakin yakin dan percaya bahwa janji Allah itu PASTI.

Hingga saat ini, sepeda motor hadiah tersebut masih tetap kami gunakan untuk membagikan sedekah nasi bungkus setiap hari Jumat, menggantikan motor lama yang masih terawat baik di rumah. Bahkan, lambat laun, banyak teman-teman lain yang juga ikut menitipkan rezekinya untuk kami salurkan kepada para tukang becak dan pemulung yang ada di Yogyakarta dalam bentuk sedekah nasi bungkus ini . Masya Allah. Terima kasih teman-teman semua.
.

Alhamdulillah, ibu yang berusia 70 tahun tetap bugar & selalu diberi kesehatan mendampingi saya membagikan nasi bungkus Jumat 🙂

 

Terima kasih ya titipan rezekinya, teman-teman. Semoga Allah balas dengan rezeki berlimpah dan barokah. Aamiin.

.
Mudah-mudahan sedikit cerita di atas dapat meyakinkan diri kita untuk terus istiqomah di jalan-Nya. Tidak penting orang percaya atau tidak akan pengalaman dan keajaiban hidup yang kamu alami, yang penting kamu sendiri harus bertambah yakin dan percaya bahwa ada kekuatan besar yang mengatur kehidupanmu di dunia ini. 

Mencari jalan kebaikan menuju perubahan itu memang tak semulus kulit wajah yang kinclong bersinar hasil menggunakan krim instan, sehingga lalat pun terpeleset dibuatnya 🙂 Mencari jalan hijrah itu butuh keberanian dan selalu diawali dengan banyaknya kerikil tajam, serta jalanan yang berliku, penuh tebing curam dan menakutkan. Tapi ketika kamu berhasil mencapai puncak dan menaklukkannya, kamu dapat tersenyum sesudahnya.

Momentum #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia

Teman-teman, kisah nyata perbaikan diri yang penuh kekurangan ini menuju kehidupan yang lebih baik dan berkah ternyata senada dengan program #AyoHijrah yang diluncurkan oleh Bank Muamalat Indonesia.

Sebagai bank syariah pertama yang ada di Indonesia sejak 1 November 1991, PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk mendapat dukungan penuh dari pemerintah karena digagas oleh para pengusaha muslim, termasuk MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

Berbagai inovasi produk telah diluncurkan sejak tanggal 1 Mei 1992, seperti:
– Asuransi Syariah (Asuransi Takaful)
– Dana Pensiun Lembaga Keuangan Muamalat (DPLK Muamalat)
–  Multifinance syariah (Al-Ijarah Indonesia Finance) yang seluruhnya menjadi terobosan di Indonesia. 

Bahkan produk Shar-e Gold Debit Visa yang diluncurkan pada tahun 2011 berhasil mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “Kartu Debit Syariah dengan teknologi chip pertama di Indonesia”. Alhamdulillah, mantap nian perjalanan Bank Muamalat Indonesia ini, ya.

Nah, sejak bulan Oktober 2018 lalu, Bank Muamalat Indonesia kian gencar mengajak masyarakat untuk berhijrah, khususnya dalam hal layanan perbankan. 

Peluncuran program #AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia (Foto: Bankmuamalat.co.id)

.
Chief Executive Officer
(CEO) Bank Muamalat Indonesia, Achmad K. Permana mengatakan, konsep berhijrah sendiri meliputi 3 hal penting, yakni:
– memulai
– melengkapi, dan
– menyempurnakan (kaffah)

Ketiganya sebenarnya  dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, lho. Tidak hanya berhijrah untuk tujuan ibadah saja, melainkan juga dalam penggunaan layanan keuangan yang sesuai dengan syariat Islam.

Untuk mendukung program #AyoHijrah ini, Bank Muamalat Indonesia juga telah menyelenggarakan serangkaian kegiatan, antara lain:
– Seminar / edukasi tentang perbankan syariah 
– Pembukaan booth/stand di pusat kegiatan masyarakat
– Kajian Islami dengan narasumber dari kalangan ulama
– Pemberdayaan masjid sebagai salah satu agen perbankan syariah

Produk tabungan Bank Muamalat Indonesia pun turut diberikan nama baru dengan kata “Hijrah”, sebagai bentuk ikhtiar agar layanan kepada nasabah semakin berkah, seperti: 

  • Tabungan iB Hijrah
  • Tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah, dan masih banyak lagi produk unggulan lainnya

Kenapa Kamu Harus Memilih Bank Muamalat Indonesia?

Selain karena adanya program #AyoHijrah tadi, ada banyak alasan kenapa kamu sebaiknya menjadikan Bank Muamalat sebagai sarana yang barokah dan terpercaya dalam layanan finansialmu.

  • Bank Muamalat adalah bank pertama murni syariah di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1992.
  • Bank Muamalat tidak menginduk dari bank lain, sehingga terjaga kemurnian syariahnya.
  • Pengelolaan dana di Bank Muamalat didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi syariah yang dikawal dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.
  • Bank Muamalat memilki produk dan layanan keuangan lengkap yang ditunjang dengan berbagai fasilitas, seperti Mobile Banking, Internet Banking, jaringan ATM, serta Kantor Cabang hingga ke luar negeri.

Nah, dengan strategi bisnis yang terarah ini, Bank Muamalat Indonesia diharapkan akan terus melaju mewujudkan visinya menjadi The Best Islamic Bank and Top 10 Bank in Indonesia with Strong Regional Presence” (Bank syariah terbaik dan termasuk dalam 10 besar bank di Indonesia dengan eksistensi yang diakui di tingkat regional).

Kamu sendiri, kapan momentum hijrah terbesar dalam hidupmu? Yuk, segerakan momen #AyoHijrah-mu bersama Bank Muamalat Indonesia, ya!

Segera datangi Kantor Cabang Bank Muamalat terdekat di kotamu, atau ikuti akun media sosialnya di bawah ini:

Facebook : Bank Muamalat
Instagram : @BankMuamalat
Twitter : @BankMuamalat
Website : www.bankmuamalat.co.id

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Bank Muamalat Indonesia bertema “#AyoHijrah Berani Lebih Baik”.

5 Tips Jitu Mencapai Impian, Praktikkan, yuk!

Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), Istanbul

20 April 2018, satu tahun yang lalu, adalah tanggal keramat dalam kehidupan saya. Wewww… apaan sih pakai keramat-keramatan segala 😀 Hehhee… maksudnya, tanggal yang enggak bakalan terlupa seumur hidup, insya Allah.

Hari itu adalah momen di saat Allah mengabulkan impian dan cita-cita yang terpendam sejak SD dulu. Apaan tuh? He em, saya pengennn banget bisa menginjak tanah lain selain tanah air tercinta Indonesia. Sebegitu pengennya, dulu waktu SMA sempat pengen daftar pertukaran pelajar dan beasiswa ke luar negeri, tapi qadarallah selalu ketinggalan info, jadi enggak pernah terwujud terus hingga dewasa *hiksss…

Setelah bekerja, keinginan ke luar negeri mulai beralih bukan sekadar untuk jalan-jalan semata, tapi mulai terfokus ingin sekali bisa melihat Ka’bah dan mengunjungi Rumah-Nya. Entah bagaimana caranya, saya enggak tahu. Kalau dihitung-hitung, duit enggak pernah bisa terkumpul sejumlah biaya yang dibutuhkan. Sedih, ya 🙁 Pernah dapat kiriman surat undian berhadiah 60 juta juga. Waktu itu udah ngerasa seneng dan happy aja, rencana buat naik haji. Eeehhh… ternyata penipuan. Hiksss….

Terus, apakah saya ngambek dan enggak pengen ke luar negeri lagi? Alhamdulillah Guys, saya bukan tipe ngambekan gitu. Sebaliknya, saya sangat baik hati dan tidak sombong kwkwk… *nggak nyambung

Selain pengen ke Baitullah, keinginan ke luar negeri berlanjut pengen ke Jepang. Waktu itu sampai bela-belain kursus bahasa Jepang segala demiiii cita-cita yang sudah ada sejak SD ini.

Setelah cita-cita ke Jepang belum terwujud juga, mendadak ada kesempatan nonton bareng film “99 Cahaya di Langit Eropa” bersama penulis novelnya, Hanum Rais. Nah, dari situ deh fokus saya mulai mengembara ke Eropa, terutama Turki dan Spanyol, negara tempat sejarah peradaban Islam banyak terukir. Coba kamu perhatikan, betapa saya begitu banyak maunya, ya 🙂 Jadi ingat lagu Doraemon, “Aku ingn begini, aku ingin begitu….”

Bersamaan dengan keinginan ke Eropa, di televisi mulai sering ditayangkan serial Turki. Pemain-pemainnya tahu sendirilah ya, cakep-cakep semua, terlihat begitu sempurna. Saat melihat aliran sungai-sungai di kota Istanbul dalam serial televisi itulah, keinginan ke sana muncul kembali lebih kuat, meskipun saya enggak tahu gimana caranya.

Pemahaman tentang cara mewujudkan mimpi mulai saya dapatkan setelah mengikuti seminar motivasi dari si mas motivator Ippho Santosa pada bulan Maret 2017 dan mengikuti kelas online dari seorang coach bernama Mutya Dita di bulan Juli 2017. Waktu itu saya ikuti saja semua yang diajarkan, tanpa banyak komentar. Soal terwujud atau tidak, wallahu a’lam, kita hanya manusia biasa. Ada Allah Yang Maha Pengatur di atas segalanya.

Kamu penasaran bagaimana metode dan caranya? Sebenarnya sederhana aja kok, saya yakin, teman-teman juga sudah melakukan beberapa hal di bawah ini, bukan?

1. Berdoa

Aktivitas satu ini merupakan kewajiban kita setiap hari. Ada ataupun tak ada impian yang ingin diwujudkan, berdoa dan beribadah adalah bentuk rasa syukur kita terhadap kuasa-Nya yang masih memberikan nafas untuk hidup sampai hari ini. Bahkan Allah pun pernah berkata di dalam Alquran,

“Berdoalah, niscaya akan Aku kabulkan….”

Dari kalimat ini saja sebenarnya kita harus YAKIN dengan janji Allah. Kalau pengen sesuatu, bilang ke Dia, mohon dan menangislah seperti seorang bayi yang menangis merengek-rengek minta makanan kepada orang tuanya.

2. Tulis Impianmu Secara Berulang (Repetisi)

Dari dulu saya sering baca cara satu ini, tapi enggak pernah percaya 😀 jadi ya gitu deh, enggak pernah dilakukan. Mulai nurut dipraktikkan setelah ikut kelas online.

Ternyata, menulis apa yang kita inginkan erat sekali hubungannya dengan penyimpanan memori di pikiran bawah sadar. Tapi menulisnya harus di kertas lho, ya, secara manual, bukan di hp atau laptop, karena setiap coretan tangan kita merupakan guratan dari otak dan isi pikiran kita. Itu sebabnya kenapa ada ilmu Grafologi (membaca karakter seseorang dari tulisan tangannya) 🙂

Di kertas, kamu boleh sepuasnya menulis impianmu secara detil mumpung enggak ada yang baca. Lebih baik lagi kalau nulisnya saat pikiran terasa rileks, misalnya menjelang tidur malam, atau sesaat setelah bangun tidur.

Lakukan penulisan impian ini berulang-ulang setiap hari. Untuk kamu yang baru pertama kali melakukan, sebaiknya menulislah minimal 21 hari tanpa terputus. Terus, kalau belum 21 hari udah terputus gimana? Lupa enggak nulis sehari misalnya. Ya terpaksa hitungannya diulang lagi dari hari ke-1 lagi sampai hari ke-21 tanpa terputus 😀

Ampunnn, ribet amat ya, mungkin kamu akan berpikir begitu hihii.. Udah deh, just do it, ya, enggak pakai protes kwkwk…

3. Feel It

Feel your dreams… aliasss rasakan impianmu. Dapetin feel-nya.

Kamu pengen ke Baitullah? Bayangin kamu lagi berdoa sambil sesenggukan di depan Ka’bah. Atau bikin paspor dulu, seolah-olah kamu sudah siap berangkat ke sana.

Kamu pengen beli mobil Honda BRV? Tempel gambarnya. Kalau perlu datangi tempat persewaan mobil. Sewa mobil itu beberapa jam biar kamu bisa tahu kayak apa duduk di dalamnya, seperti apa joknya, dashboard-nya, rem, dan gasnya.

Eitss…. tapi ini enggak berlaku kalau kamu cari pasangan halal ya. Jangan sampai deh ada sewa-menyewa begitu sebelum waktunya *hikss… Kalau belum halal jangan dekat-dekat, apalagi disentuh 🙂 Cukup kamu kagumi aja dari jauh. Datangi rumahnya hanya jika kamu sudah mantap ingin meminangnya 😀

4. Memantaskan Diri

Kata-kata ini sering ditulis Ippho Santosa dalam tulisan-tulisannya. Kalau ingin impianmu tercapai, pantaskan diri kita terlebih dahulu. Ingin menjadi seorang ibu, sudah siapkah diri kita menerima amanah berupa seorang anak? Ingin menjadi seorang suami, sudah siapkah kita menjadi seorang imam dan ayah yang baik? Hampir mirip dengan poin nomor 3 tadi ya, rasakan energinya dan tanyakan apakah kamu pantas untuk menerima impian itu.

5. Bersedekah

Sedekah adalah penolak bala dan penarik rezeki. Untuk bersedekah tak perlu menunggu kaya dan banyak duit. Justru setelah kita bersedekah, Allah akan menambah dan memperbanyak rezeki kita.

Bolehlah kamu tak percaya, karena saya pun dulu pernah berada di posisi tak percaya tentang keajaiban sedekah. Ternyata ketidakpercayaan itu Allah balas dengan berbagai bukti nyata yang membuat saya merasa malu dan insyaf. Semoga enggak ada lagi di antara teman-teman yang mengalami ketidakpercayaan dahsyatnya sedekah seperti saya ini, ya…. 🙁

Satu ilmu yang saya dapat dari Ippho Santosa adalah, jika kamu punya IMPIAN BESAR, sedekahnya juga harus BESAR, di luar kebiasaan. Beliau mengibaratkan, jika ada seorang pria ingin dapat jodoh wanita yang cantik, putih, dan salihah, tak cukup hanya sedekah 10ribu saja. Boneka Barbie di toko aja harganya ratusan ribu, apalagi pengen dapetin manusia asli, sedekahnya jangan main-main, begitu…. 😀

Memang, tak semua orang suka bermimpi. Bahkan ada saja yang menertawakan impian kita. Tapi tak mengapa, karena sebenarnya kita hanya butuh Dia untuk mendampingi, bukan siapa-siapa.

Petinju legendaris Muhammad Ali pernah berkata,

“…The men who has no imagination has no wings…”

Orang yang tidak memiliki imajinasi ibarat orang yang tidak memiliki sayap. Mereka tak bisa terbang ke mana-mana. Padahal sejatinya, manusia sering diibaratkan sebagai seorang musafir, alias orang yang terus melakukan perjalanan tiada henti.

Artinya, hidup haruslah terus kita isi dengan pembelajaran baru yang hanya akan berakhir saat kita telah menutup mata, kembali kepada-Nya.

Barakallahu fiikum…

Baca juga

#SETIP_Day13
#SemingguTigaPostingan
#EstrilookCommunity