Arsip Tag: Inspirasi

Perjalanan Inspiratif ke Lombok bersama BTPN Syariah

Suasana pantai Senggigi dari halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Memori masa kecil tentang Lombok tak akan pernah hilang dari ingatan. Pulau ini adalah tanah kelahiran yang banyak merekam jejak historis masa kecil dan pra remaja seorang Hastin Pratiwi. Meski darah yang mengalir di tubuh saya adalah darah asli Ngayogyokarto Hadiningrat, tapi jangan heran jika beberapa bagian diri, termasuk indera pengecap dan aksen bicara masih sering bercampur baur dengan segala sesuatu yang berbau suku Sasak di Lombok 🙂 Makanan masih suka yang asin dan pedas, logat bicara pun sama sekali tak mencerminkan layaknya seorang putri Kraton yang lemah lembut dan gemulai 😀

By the way, pulau Lombok ini terakhir saya kunjungi sekitar 3 tahun yang lalu, pada pertengahan tahun 2016, saat gempa dahsyat belum sempat mengguncang. Maka ketika 4 hari yang lalu saya mendapat tugas mendadak dari BTPN Syariah untuk berkunjung ke pulau ini, speechless sekali rasanya. Ini seperti impian dan passion yang terwujud, bisa ke Lombok lagi untuk sesuatu yang inspiratif, setelah adanya musibah gempa tahun 2018 lalu. Terus, bagaimana kisah seru (atau syahdu?) perjalanan berharga yang hanya satu hari ini? Yukk… baca terus, deh… Insya Allah kamu enggak bakalan bosan, apalagi bete, karena banyak pembelajaran yang akan kita dapatkan.

Ada Apa dengan BTPN Syariah dan Gempa Lombok 2018?

Mungkin belum banyak teman-teman yang tahu tentang visi dan misi PT. Bank Tabungan Pensiunan Negara Syariah, Tbk alias BTPN Syariah. Saya pun awalnya mengira bank ini sama saja dengan bank lainnya, terutama dalam hal pembiayaan bagi nasabahnya. Tapi ternyata tidak demikian. Perjalanan inspiratif ini membuat saya tersadar, “Oooohh…. ada juga ya bank yang seperti ini…

Jadi, BTPN Syariah ini sejak tahun 2010 ternyata menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang fokus menggalang dana dari keluarga sejahtera untuk disalurkan kepada keluarga prasejahtera produktif, khususnya dengan tujuan pemberdayaan kaum perempuan.

Kenapa harus perempuan yang diberdayakan oleh BTPN Syariah? Iyappp… karena perempuan dianggap sebagai individu yang sangat berpengaruh dalam sebuah keluarga, terutama dalam hal pendidikan anak dan pengelolaan keuangan keluarga.

Nah, pentingnya pendidikan anak melalui pembangunan sekolah yang berbasis pendidikan akhlak dan karakter inilah yang dibidik oleh BTPN Syariah agar angka probabilitas kesejahteraan keluarga juga ikut meningkat. Salah satu perwujudannya adalah dengan melakukan renovasi gedung sekolah TK dan SD Aisyiah yang terletak di kota kecamatan Ampenan dan mengalami kerusakan parah akibat musibah gempa tahun lalu. Masya Allah, flashback banget jadinya, karena kota pelabuhan tua ini adalah kota kelahiran saya.

Menurut Kepala Sekolah SD Aisyiah 2 ibu Sri Rahmatiah, gedung SD Aisyiah ini sebelumnya kondisinya sangat memprihatinkan karena tak terjamah bantuan dari luar. Atapnya hanya ditutupi jerami dan sekat dindingnya hanya menggunakan triplek. Terkadang, bahkan ada ayam yang masuk ke dalam ruangan kelas untuk ikut “belajar” *hiksss…

Pihak BTPN Syariah kemudian memilih sekolah ini dari beberapa sekolah lainnya untuk dilakukan renovasi dan pembangunan aula baru dari hasil pengumpulan dana bantuan gempa para #BankirPemberdaya, yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 12 November 2019 ini.

Gedung sekolah baru SD Aisyiah 2 Ampenan, Kota Mataram

 

Gedung aula baru hasil donasi gempa karyawan BTPN Syariah

 

Ruang kelas baru di SD Aisyiah 2

Diungkapkan oleh Ainul Yaqin selaku Communication Head BTPN Syariah, untuk ke depannya BTPN Syariah akan terus mengembangkan visinya. Bukan hanya sekadar melakukan pembangunan infrastruktur saja, tetapi terdapat tujuan lain yang berkelanjutan dari renovasi gedung sekolah dan pembangunan aula ini. Bukan hanya para siswa yang bertumbuh, tapi juga guru serta masyarakat sekitarnya juga harus dapat berkembang. Salah satu caranya adalah memanfaatkan aula sekolah untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti penyuluhan kesehatan, tips pola hidup yang baik, pengasuhan anak, dan lain sebagainya. Intinya, ada niat baik yang ingin diwujudkan bagi kebaikan sesama.

Kunjungan ke Tempat Nasabah Inspiratif

Kunjungan saya ke pulau pedas ini memang cuma satu hari saja, tapi Alhamdulillah, banyak sekali ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan. 

Hari Kamis tanggal 7 November saya berangkat dari Yogyakarta dengan pesawat jam 06.00 pagi. Transit dahulu di Surabaya selama 2 jam, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke  Bandara Internasional Lombok yang waktu tempuhnya sekitar 1 jam dari Surabaya. Sekitar jam 12.00 siang pesawat landing di Bandara Lombok dan saya sudah dijemput oleh driver dari tim BTPN Syariah.  Kemudian kami langsung menuju lokasi sekolah bantuan gempa di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Sampai di sekolah tersebut saya bertemu dengan banyak teman-teman media lainnya, baik dari wilayah NTB maupun dari Jakarta. Sebagian besar mereka adalah wartawan khusus bidang Ekonomi yang ditugaskan mewakili medianya masing-masing.

Usai acara liputan di TK dan SD Aisyiah Ampenan, kami makan siang sejenak di sebuah resto dengan arsitektur rumah Belanda kuno. Namanya “Roemah Langko“. Ini kali kedua saya mengunjungi resto ini, karena 3 tahun yang lalu juga pernah datang ke sini. Jadi tugas ke Lombok ini benar-benar seperti flashback 3 tahun yang lalu… 🙂

Selesai acara makan siang, perjalanan liputan dilanjutkan ke Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Ada seorang nasabah BTPN Syariah yang sangat inspiratif di kecamatan ini, namanya ibu Rehani. Beliau adalah seorang pengepul rajungan yang berhasil menjadi perempuan pemberdaya di desanya.

Ibu Rehani, perempuan pengepul rajungan di Kec. Lembar, Lombok Barat

Berawal dari modal pinjaman ke BTPN Syariah sebesar Rp 3 juta saja, ibu Rehani yang telah ditinggal wafat suaminya dan hidup bersama 2 orang anaknya, dalam waktu 4 tahun terakhir berhasil memfasilitasi para nelayan di daerahnya dengan membelikan alat bubu (jaring) agar para nelayan dapat menangkap rajungan dan menyetorkan hasilnya kepada ibu Rehani. Bukan itu saja. Ibu Rehani juga berhasil memberdayakan para istri nelayan untuk bekerja membantu pengolahan daging rajungan di rumahnya.

Rajungan yang sudah dimasak dan diletakkan di dalam es agar tetap segar. Penyimpanan menggunakan es lebih awet daripada cooler.

 

Rajungan yang sudah diambil dagingnya

Setiap hari ia membeli 1 kuintal rajungan dan melakukan pengiriman rajungan ke beberapa pemasok besar di Surabaya, untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Siapa sangka, dengan wajah dan tutur kata beliau yang polos dan penuturan bahasa Indonesia yang agak tercampur dengan bahasa Sasak, beliau sudah sering berhubungan bisnis dengan para pemasok dan distributor besar. Dalam 1 bulan ibu Rehani biasa melakukan 6x pengiriman, di mana setiap 1x pengiriman rajungan keuntungannya sekitar Rp 3juta. Jadi silakan hitung saja sendiri ya, berapa omsetnya dalam 1 bulan. Luarrrr byasakkk, bukan? Lucunya, ibu Rehani ini aslinya buta huruf dan tidak dapat membaca, lo. Beliau justru menjadi paham tulis-menulis setelah menekuni bisnis rajungan ini. 

Bertemu dengan Community Officer Inspiratif

Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00 WITA saat kami ke luar dari rumah ibu Rehani. Rencananya perjalanan akan langsung dilanjutkan menuju “Menega“, sebuah tempat makan di pinggir pantai untuk menyaksikan indahnya view matahari terbenam di area pantai Senggigi. Ada 2 mobil yang terpisah saat itu. Saya bersama mas Sofyan (seorang teman wartawan dari Bima) dan bapak Ainul Yaqin, (Communication Head BTPN Syariah) di mobil yang lebih kecil. Sementara rombongan wartawan lain berada di mobil yang lebih besar. Mobil yang lebih kecil memutuskan check in ke hotel terlebih dahulu, sementara mobil satunya langsung menuju ke Menega. 

Halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Syukurlah, kesempatan singgah di hotel ini saya gunakan untuk memercikkan air ke badan dulu sejenak, berhubung badan sudah terasa lengket karena sejak berangkat dari Yogyakarta jam 4 pagi tadi belum bersih-bersih lagi. Kami semua diberi kehormatan oleh BTPN Syariah menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort, salah satu hotel berbentuk resort bintang 5 di kawasan Senggigi, Lombok Barat. Sebenarnya begitu masuk kamar dan melihat tempat tidur putih bersih rasanya sih pengen langsung ndlosoran kwkwkwk….. tapi apa daya acara berikutnya sudah menunggu. Saya hanya sempat mengambil dokumentasi video senja hari di halaman belakang hotel sejenak, kemudian mandi. Setelah itu berusaha menyemangati mata yang mulai berat… “Ayoooo…. kalau cuma mau tidur ngapain jauh-jauh ke Lombok?” heheheee….

Jam 19.30 WITA kami menuju Menega dan bertemu dengan teman-teman lain yang sudah menunggu di sana. Satu meja panjang di tepi pantai sudah digelar. Ada sekitar 10-12 orang saat itu. Di sekelilingnya banyak pedagang suvenir menggelar dagangan mereka, dari mulai aksesoris khas mutiara, kaos, kain, dan barang-barang tradisional lainnya.  Harganya pun ternyata lebih murah, lo, dibandingkan membeli di pusat kerajinannya langsung.  Sayangnya, saya lupa untuk mengabadikan momen indah di Menega ini. Entahlah apa yang merasukiku sehingga melupakanmu… *tsahhh

Nah, di Menega ini, kami diberikan kesempatan bertemu dengan seorang Community Officer (C.O) BTPN Syariah. CO ini bahasa bisnisnya kalau di dunia pemasaran adalah seorang Account Officer (marketer) yang merupakan lini terdepan bank untuk bertemu dengan para nasabah.  Uniknya, tim CO BTPN Syariah ini dinamakan Melati Putih Bangsa. Mereka adalah para lulusan SMA/SMK yang dididik untuk dapat memotivasi dan memberikan ilmu kepada nasabah prasejahtera, baik tentang kesehatan, manajemen keuangan, kedisipinan, dll.

Di sinilah letak perbedaan antara #BankirPemberdaya BTPN Syariah dengan bankir dari institusi perbankan yang lain. #BankirPemberdaya BTPNS diharapkan dapat menjadi teladan bagi para nasabah prasejahtera mereka dalam hal kedisiplinan, motivasi, percaya diri, dan berbagai hal positif lainnya. Bukan hanya saya yang salut dengan cara kerja bisnis pembiayaan dari BTPN Syariah ini, teman-teman wartawan lain pun merasa kagum dan baru kali ini menemui hal seperti ini. 

Tim CO inspiratif yang bertemu dengan kami malam itu adalah seorang gadis manis bernama Nining (Ni Wayan Suryaningsih). Gadis asli Bali yang telah 4 tahun menjadi CO ini menjelaskan perjuangannya menjalani profesi yang dicintainya. Meskipun bukan seorang muslimah, tidak menjadi penghalang baginya untuk bekerja di bank yang menggunakan sistem syariah. Bahkan ada beberapa nasabahnya yang juga bukan seorang muslim. Dan mereka juga tidak masalah dengan adanya sistem syariah yang digunakan oleh BTPNS.

Dari mbak Nining ini saya belajar banyak tentang BTPN Syariah. Betapa bank ini sangat memerhatikan karyawannya, mulai dari lini terbawah sekalipun. Para CO yang seluruhnya perempuan ini disediakan wisma khusus di daerah yang dekat dengan lokasi nasabah prasejahtera mereka. Kendaraan pun khusus kendaraan manual, tidak boleh menggunakan kendaraan matic, karena medan yang dihadapi cukup berat, harus masuk ke berbagai pelosok desa.

Community Officer bertemu dengan nasabah prasejahtera (Foto: BTPNSyariah.com)

Ketika ditanya, apa yang membuat para nasabah prasejahtera tertarik menabung dan melakukan pinjaman di BTPN Syariah? Dijawab oleh mbak Nining, karena para CO fokus kepada pelayanan terbaik bagi nasabah prasejahteranya. Bukan hanya menarik uang sja, tetapi lebih dari itu, para nasabah juga diberikan tips khusus, seperti tips cara mengatur keuangan, tips kesehatan, bahkan ada yang meminta diberitahu tips tentang rambut beruban 🙂 Intinya, para CO ini seperti tempat curhat dan menjadi seorang guru/leader bagi para nasabahnya.

Nining juga bercerita, dari 4 tahun menjalani profesi CO ini ia sudah berhasil mencicil rumah untuk kedua orang tuanya dan membiayai kuliah adiknya. Saat ini ia sedang dalam masa promosi untuk menjadi seorang SCO (Senior Community Officer), jabatan yang lebih tinggi lagi di atas CO. Kita doakan bersama ya, mbak Nining dapat terus berprestasi dalam profesinya ini.

Malam itu saya kembali ke hotel dengan membawa banyak memori berharga. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam saya sudah bertemu dengan aneka karakter manusia dan profesi mereka masing-masing. Dan semuanya sungguh inspiratif sekali. Dari mereka semua saya banyak belajar bahwa perjuangan hidup saya belumlah seberapa dan tak ada apa-apanya dibanding mereka.

Saya (no. 2 dari kiri) bersama teman media dan tim BTPN Syariah. Terima kasih BTPNS… (Foto; dok. Rony/Harian Nusa)

Terima kasih BTPN Syariah atas kesempatan yang diberikan. Saya belajar banyak hal tentang sisi lain perbankan syariah dari institusi ini. Bukan sekadar berfokus pada pembangunan yang bersifat materi saja, tapi jauh di balik itu ada tanggung jawab moral mengubah mental dan karakter para nasabah prasejahtera dan keluarganya menjadi lebih berdaya guna.  Luar biasa….

Baca Juga

Review Buku Hijrah Journey, Kala Cahaya Hijrah Menyapa

Buku Hijrah Journey, kerjasama antara IIDN, Indscript Writing dan penerbit Najmu Books

Entah sudah berapa lama saya bergabung dalam grup Facebook “Ibu-Ibu Doyan Nulis” alias IIDN. Mungkin sejak tahun 2016 kalau tidak salah. Atau 2015? Entahlah….

Yang pasti, saya hanyalah sebagai seorang silent reader saja di grup itu, tanpa pernah ada keberanian mengirimkan tulisan atau kisah apa pun. Padahal, banyak anggota grup lainnya yang tentunya lebih senior, sering membagikan karya mereka di situ.

Saya mulai bangun dari “tidur” yang lama, ketika kemudian ada informasi lowongan penulis artikel untuk sebuah platform online (UC News) yang diumumkan di grup Facebook IIDN. Merasa punya basic menulis naskah berita, akhirnya saya pun mendaftar, dimasukkan ke dalam grup WA khusus, kemudian akhirnya berlanjut menulis di platform UC News sejak November 2017.

Berawal dari situ, Allah mempertemukan dengan banyak jalan rezeki baru yang seolah menahan saya untuk tetap berada di jalur ini, enggak lagi menoleh ke mana-mana, hahhaaahaa…. Yup, passion lama yang terpendam sejak zaman SD mungkin, kemudian terasah saat kuliah di jurusan Komunikasi, akhirnya sekarang muncul lagi. Lebih tepatnya “dimunculkan” oleh Allah Swt. Masya Allah…. 🙂

Setelah menjadi penulis artikel di media online, Allah memberikan jalan yang lebih lebar lagi melalui ajakan seorang teman penulis di UC News untuk berkolaborasi membuat buku. Kami yang berjumlah sembilan orang kemudian memutuskan membuat komunitas kecil dengan nama GSM (Geng Salihah Menulis). Berawal dari beberapa kali melahirkan buku antologi bersama GSM inilah saya mulai berani mengirimkan tulisan ke grup IIDN yang saat itu sedang mencari naskah untuk penerbitan buku tentang kisah perjalanan hijrah.

Seingat saya, waktu itu di bulan Februari 2019 dan saya baru menulis naskah sekitar 2 jam sebelum deadline ditutup. Ada drama koneksi internet hilang pula karena hujan deras heheheee… Tapi qadarallah, tepat jam 21.00 saya pun berhasil mengirimkan email ke admin penerbit yang bekerjasama dengan IIDN. Setelah menunggu beberapa minggu, Alhamdulillah, tulisan saya termasuk dalam daftar naskah yang akan dibuat menjadi buku antologi tentang hijrah.

Sekitar bulan Mei, saat bulan Ramadan, buku berjudul Hijrah Journey ini mulai memasuki masa PO (pre order) cetakan pertamanya. Seperti 3 buku sebelumnya yang juga terbit lewat penerbit indie, saya sebagai penulis memang harus mau mempromosikan buku sendiri agar pembaca tahu bahwa ada buku bagus yang harus mereka baca *eeeaaa….

Alhamdulillah, sambutan cukup baik banyak didapat dari teman-teman di dunia maya. Beberapa pembeli dari luar Jawa, seperti Palembang dan Lombok ikut memesan buku ini, termasuk juga teman-teman yang ada di Yogya dan Jawa Tengah. Pengiriman buku dari penerbit Najmu Books di Bandung pun sangat fast respon dan diterima tepat waktu oleh para pembeli.

Kamu pasti kepo kan, apa sih isi buku Hijrah Journey ini? Kenapa pembeli dari luar Jawa sampai memesan bukunya, padahal ongkos kirimnya kan lumayan, tuh 🙂

Cover Hijrah Journey

Sumber: Facebook.com/LaleSriMulya

Pertama kali lihat desain cover-nya, woww… saya dan 25 penulis lain dalam buku ini langsung jatuh cinta. Sosok wanita berhijab yang terkesan sedang merenung dalam jingganya temaram senja. Fix, kami semua mengakui betapa syahdunya cover buku berwarna cokelat ini, cocok dengan temanya.

Isi Hijrah Journey

Buku inspirasi ini memiliki tebal 183 halaman. Ada 26 kisah nyata tentang hijrah yang ditulis oleh 26 orang perempuan yang tergabung dalam Komunitas IIDN. Berbagai macam gaya cerita dan kepenulisan sesuai ciri khas masing-masing penulisnya dapat kamu baca dalam buku ini. Betapa momentum hijrah adalah goresan sejarah yang tidak akan pernah terlupa dalam perjalanan hidup kita. Bila cahaya hidayah menyapa, seseorang seolah terlahir kembali dari rahim ibundanya.

Benarkah Allah itu ada? Benarkah Tuhan yang layak disembah dan satu-satunya itu Allah?

Pikiranku melayang jauh dengan banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepala. Entah siapa yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu hingga mampu memuaskan akalku…

Aku pernah bertanya pada mereka yang aku anggap lebih layak menjawab ini. Lalu apa jawabnya?

“Keyakinan itu untuk diyakini, bukan untuk dipertanyakan…..”

(Lelly Fitriana, “Perjalanan Mencari Kebenaran”)

Bahasa yang mengalir, lembut, dan sesekali cukup menghunjam kesadaran diri, membuat siapa pun yang membaca berbagai kisah hijrah dalam buku ini menjadi merenung dan introspeksi diri kembali apa yang menjadi tujuan kita sebenarnya di dunia ini.

Testimoni dari seorang pembaca di Palembang, mbak SE. Winarni
Testimoni dari pembaca di Lombok

Testimoni dari beberapa pembaca yang membeli buku Hijrah Journey juga sangat melegakan, membuat saya khususnya, semakin termotivasi untuk terus menuliskan kisah-kisah inspirasi yang menggugah motivasi.

Cetakan Kedua Hijrah Journey

Cover belakang Hijrah Journey

Setelah sukses dengan banyaknya pesanan buku ini pada cetakan pertama di bulan Juni lalu, bulan September ini pihak IIDN dan Najmu Books kembali membuka sesi PO cetakan kedua, mulai tanggal 4 sampai 25 September 2019. Alhamdulillah, sudah ada beberapa sahabat yang memesan pada cetakan kedua ini.

Kalau kamu juga ingin memesan buku Hijrah Journey ini, ada promo diskon lo dari harga normal Rp75.000,- menjadi HANYA Rp60.000,- selama PO berlangsung. Harganya memang tak seberapa, tapi insya Allah banyak kisah dalam buku ini yang akan menggugah kegersangan jiwa kita. Silakan hubungi saya jika ingin melakukan pemesanan bukunya, ya!

Semoga Allah memberkahi dan menuntun kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya. Karena istiqomah itu butuh pengingat, dan buku ini dapat menjadi salah satu reminder-nya… Insya Allah…

Baca juga


#ODOP #EstrilookCommunity #Day7

3 Cara Menghindari Fitnah sebagai Seorang Wanita, Sudah Siapkah Kamu?

Image: Google.com

.
Siapa pun tahu bahwa saat ini peran dan aktivitas wanita begitu besar di tengah masyarakat. Hampir semua tugas pria yang tadinya begitu mustahil dilakukan wanita, saat ini menjadi mungkin dikerjakan oleh kaum hawa. Arsitek, petugas keamanan, supir, sampai kepada pekerja bangunan, wanita tetap bisa ambil bagian. Seolah tak ada pekerjaan yang tak mampu kami kerjakan.
.
Namun di balik itu, jangan lupa, bahwa ada kehati-hatian yang harus tetap kita jaga sebagai seorang wanita, terutama bila kita adalah seorang muslimah. Baik sebagai muslimah yang singlelillah, maupun yang telah memiliki pasangan. Akan ada banyak fitnah dan kerusakan yang timbul apabila seorang wanita tidak dapat menjaga diri dan adab dirinya, termasuk rasa malunya.
.
Hal ini telah dikatakan oleh Rasulullah Saw sejak dahulu kala, bahwa di antara fitnah harta, dunia, dan anak-anak, fitnah wanitalah yang paling berbahaya bagi kaum pria.
.
“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740)
.
Berikut beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir adanya fitnah terhadap diri pribadi seorang wanita, khususnya bagi para muslimah. Ini sekaligus sebagai pengingat juga untuk saya, karena sungguh, godaan bagi wanita di akhir zaman ini sangat berat dan tipis sekali batasannya antara yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Apalagi jika kita tidak mau mempelajari lebih dalam lagi.
.
Perbaiki Adab dan Akhlakmu
.
Bukan rahasia lagi bahwa seorang wanita adalah calon ibu dari anak-anaknya. Sekolah pertama bagi buah hatinya. Dan perhiasan terindah bagi suaminya. Maka mutlak diperlukan keindahan akhlak dan adab untuk diwariskan, terutama bagi generasi penerusnya kelak. Tentunya semua butuh waktu dan proses, tidak bisa langsung instan mengubah diri secara sempurna. Maka, belajar dan terus menimba ilmu rasanya menjadi sebuah kewajiban bagi seorang ibu. Bukankah saat ini belajar dapat dilakukan dari mana saja? Kuliah WA, ceramah di FB, kajian live di IG? Masya Allah, semuanya Allah permudah tanpa kita harus keluar rumah.
.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah wanita shalihah…”
(HR. Muslim no 1467)
.
Tutuplah Auratmu
.
Seorang muslimah diwajibkan menutup auratnya agar ia lebih terjaga dari gangguan dan sebagai identitas untuk dirinya. Batasan aurat bagi wanita telah disebutkan di dalam hadis dan beberapa ayat Alquran, yaitu seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan wanita.
.
“Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah baligh (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (Rasulullah berkata seraya menunjuk muka dan telapak tangannya…” (HR. Abu Dawud)
 .
Dalam suatu kajian pernah disebutkan bahwa seorang pria jika diibaratkan adalah seperti kucing yang selalu merindukan ikan asin 🙁
Apabila ia mencium bau ikan asin dari kejauhan, ia akan terus mencari dan mendekati ikan asin itu. Apabila ikan asin dibiarkan terbuka dan sama sekali tidak terjaga, tentunya kucing tersebut akan mudah menemukan dan menyantap ikan tadi. Namun, apabila ikan asinnya dalam keadaan tertutup dalam wadah yang rapat dan terlindungi, kucing tak akan mampu menemukan dan mengoyaknya begitu saja.
.
Begitu pula analogi antara pria sebagai kucing, dan wanita sebagai ikan asin. Sederhana, tetapi cukup masuk di akal. Bahwa hijab kita sebagai penutup aurat setidaknya akan mampu membendung syahwat dari para lawan jenis.
.
“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang….” [QS. Al Ahzab : 59].
.
Di sini jelas disebutkan, “Mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka…” Berarti jilbab yang disyariatkan memang sudah tertulis secara detail ya, man-teman 🙂 Harus panjang dan menutupi seluruh tubuh. Hanya saja kita, *termasuk saya pastinya yang masih jauhhh dari sempurna, kadang sering tergoda menggunakan beragam gaya 🙁 Padahal jilbab yang baik adalah yang sederhana dan tak mengundang banyak lirikan mata.
.
Jagalah Hatimu dan Miliki Rasa Malu
.
Hati adalah cerminan seluruh tubuh. Kebaikan hatimu akan tercermin dalam pikiranmu. Pikiranmu akan muncul dalam lisanmu. Lisanmu akan menampilkan karakter dirimu. Maka pandai-pandailah kita menjaga hati dan mengontrol diri.
.

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati…” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Satu lagi yang mulai terkikis di zaman ini adalah mulai hilangnya perasaan malu. Padahal sesungguhnya, Allah Maha Pemalu, seperti sabda yang Rasulullah Saw ucapkan,

“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Penutup aib, dan mencintai rasa malu dan sikap suka menutup aib…” (HR Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani).

Bahkan yang bikin hati sedikit miris, sempat baca sebaris nasihat di media sosial, bahwa wanita di akhir zaman ini lebih mementingkan kecantikan dan permasalahan jodohnya, daripada menyibukkan diri untuk memperbaiki ilmu agamanya.

Tulisan ini merupakan selfreminder juga buat saya. Semoga kita sebagai muslimah senantiasa Allah jaga dari fitnah dan segala keburukan dunia yang mengakibatkan kehormatan diri menjadi tak berarti lagi.
.
Na’udzubillahimindzalik.
.
#ODOP #EstrilookCommunity #Day2

BTPN Syariah, Fokus pada Pemberdayaan Keluarga Prasejahtera dan Kaum Perempuan Melalui #BankirPemberdaya

 
Kondisi ini menjadi salah satu dasar dari PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah, Tbk atau lebih dikenal dengan sebutan BTPN Syariah untuk kemudian seratus persen memfokuskan diri melayani keluarga prasejahtera produktif dan pemberdayaan kaum perempuan di Indonesia.
Untuk teman-teman  ketahui, BTPN Syariah resmi dibentuk pada 14 Juli 2014. Tapi beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada bulan Maret 2008, BTPN Syariah telah memiliki kantor cabang syariah pertamanya di Bandung dengan 49 orang karyawan. Peresmian kantor cabang pertama di tahun 2008 itu dilakukan setelah membentuk beberapa Unit Usaha Syariah yang bertujuan memenuhi kebutuhan perbankan syariah, mendanai UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) dan menyediakan fasilitas gadai bagi nasabahnya.

Bagi BTPN Syariah, melayani segmen keluarga prasejahtera produktif yang sering disebut dengan istilah “unbankable”  tentunya bukan hal yang mudah. Ini merupakan tantangan, tapi sekaligus juga peluang. Karenanya, BTPN Syariah berusaha menciptakan produk dan memberi layanan yang paling tepat sesuai kebutuhan mereka.

Salah satu lini terdepan yang berperan penting dalam pemberian motivasi kepada para nasabah yang mayoritas adalah kaum perempuan dari keluarga prasejahtera produktif, adalah tim Community Officer BTPN Syariah. CO BTPN Syariah yang terdiri dari para lulusan SMA dan disebut dengan Melati Putih Bangsa ini menjadi role model bagi para nasabah BTPN Syariah agar memiliki sikap Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras dan Saling Bantu (BDKS).

By the way, BTPN Syariah saat ini memiliki 25 cabang di seluruh Indonesia dan 41 Kantor fungsional operasional. Ada sekitar 12.000 Community Officer yang siap mendatangi langsung ke sentra-sentra nasabah di hampir 70% total kecamatan di Indonesia. Tentunya nasabah yang berada di pedesaan sangat terbantu, ya, dengan adanya sistem jemput bola seperti ini.

Dan satu lagi, sebagai bank yang juga menghimpun dana, saat ini ada sekitar 20.000 orang nasabah sejahtera yang menempatkan dana mereka di BTPN Syariah. Nah, hampir 100% dana yang berasal dari nasabah sejahtera tersebut kemudian disalurkan lagi kepada keluarga prasejahtera produktif yang saat ini jumlahnya mencapai 3,6 juta orang nasabah aktif.

Tidak mengherankan jika pada semester pertama tahun 2019 ini BTPN Syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan pembiayaan yang sehat sebesar 24%, yaitu dari Rp 6,87 triliun menjadi Rp 8,54 triliun pada periode yang sama di tahun 2018.

Pertumbuhan yang sehat serta berkelanjutan ini tentunya merupakan buah dari konsistensi perusahaan untuk terus memfokuskan diri melayani keluarga prasejahtera produktif sejak tahun 2010.

Saya bersama Ainul Yaqin, Communication Head BTPN Syariah (tengah) dan drg. Decky (kanan). “Do Good Do Well” membuat seluruh insan di BTPN Syariah memiliki satu identitas yang sama, yaitu #bankirpemberdaya.

Seperti disampaikan oleh Ainul Yaqin, Corporate Communication Head BTPN Syariah, prinsip kemanfaatan dan pemberdayaan benar-benar dikedepankan oleh BTPN Syariah, sesuai visi dan misi untuk bersama-sama menciptakan kesempatan tumbuh dan hidup yang lebih berarti, sekaligus menjadi bank syariah terbaik untuk membantu mengubah hidup jutaan rakyat Indonesia.

Keyakinan untuk ‘Do Good Do Well’ (berkinerja baik sekaligus memiliki dampak sosial yang nyata) inilah, yang membuat seluruh insan di BTPN Syariah memiliki satu identitas yang sama, yaitu #bankirpemberdaya.

Ayo… kamu juga bisa lo, berpartisipasi dalam pemberdayaan perempuan dengan segenap potensi dan passion yang kamu miliki! Dengan mengikuti berbagai komunitas yang sesuai dengan passion-mu, baik online maupun offline, dan melakukan banyak hal bermanfaat, insya Allah kita semua bisa benkontribusi demi perbaikan kehidupan yang lebih baik lagi. Setuju?

Perbaiki Hidupmu dengan Cara Memperbaiki Pikiranmu

Sumber : brainwave.co.id

“Berhati-hatilah dengan pikiranmu..”

Pernah mendengar atau membaca kalimat ini?

Ya, tahukah engkau bahwa pikiran kita dapat menjadi SAHABAT atau sebaliknya, menjadi MUSUH bagi kita. Pikiran mungkin terlihat begitu sederhana, tak tampak dan terdefinisi oleh mata, namun ia dapat meluluhlantakkan kehidupan apabila engkau tak kuasa mengontrolnya.

Dikutip dari buku Unleash Your Inner Power with Zen : 50 Kisah Zen untuk Memaksimalkan Potensi Diri, tertulis kalimat berikut

“Berhati-hatilah dengan pikiranmu, karena ia akan menjadi ucapanmu; Berhati-hatilah dengan ucapanmu karena ia akan menjadi tindakanmu; Berhati-hatilah dengan tindakanmu karena ia akan menjadi kebiasaanmu; Berhati-hatilah dengan kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu dan; Berhati-hatilah dengan karaktermu karena ia akan menjadi takdirmu..”

Jelaslah bahwa berawal dari pikiran dapat menjelma menjadi sebuah keniscayaan. Menjadi ucapan, tindakan, kebiasaan, karakter, dan akhirnya menjadi sebuah takdir. Sungguh luar biasa, bukan?

Sayangnya, banyak yang belum menyadari bahwa begitu penting untuk membangun sebuah kesadaran dan kekuatan diri yang berasal dari pikiran. Begitu banyak orang yang mengejar sesuatu di luar yang tampak sebagai sebuah materi riil dan dapat digenggam, namun mereka melupakan pembentukan kekuatan yang justru berasal dari dalam diri masing-masing.

Membiasakan diri untuk berpikir BISA, MAMPU, NYAMAN, BERLIMPAH, dan aneka pikiran positif lainnya memang tidak mudah. Perlu proses dan waktu tak sebentar untuk membentuknya. Ibarat seorang bayi, sejak lahir tidak dapat berjalan, sampai akhirnya ia dapat merangkak, berdiri dan kemudian berlari. Apakah engkau pernah lihat si bayi bosan untuk belajar berjalan? Tidak.

Mungkin ia akan menangis sebentar saat terjatuh. Tapi lihatlah, ia akan bangkit kembali dan mengulangi targetnya agar dapat segera berjalan dan berlari. Karena dengan kemampuan berjalan dan berlari ia dapat mandiri menjalani hari-hari bermainnya sendiri. Tanpa tergantung pada orang tua. Tanpa tergantung pada tuntunan orang lain, karena hidup ini sepenuhnya miliknya dan milik Sang Pencipta tentu saja.

Jadi, masihkah enggan memperbaharui pola pikir kita? Masihkah enggan mengisi energi batin kita? Padahal kenyamanan batinmu akan memancarkan seberkas sinar bagi orang-orang di sekelilingmu. Mari bantu dan biarkan mereka tertular oleh virus bahagiamu… 💕

💜💛💚

Tragedi Lion Air JT-610, Antara Cinta, Cita dan Keprihatinan

Satu minggu terakhir….
.
Pemberitaan media begitu sarat dengan tragedi kecelakaan si burung besi Lion Air JT 610 tujuan Jakarta – Pangkal Pinang, yang jatuh di perairan Karawang pada tanggal 29 Oktober 2018 lalu.
.
Pemberitaan ini bahkan mengalahkan berita utama di negeri ini, tentang musibah besar gempa dan tsunami Palu dan Donggala, yang lagi-lagi menjadi musibah ke sekian setelah peristiwa gempa Lombok sekitar 3 bulan yang lalu.
.
Ah, negeriku…
Ada apa dengan dirimu??
.
Bahkan seribu satu pro dan kontra di sosial media takkan mampu mencari tahu apa sebenarnya yang Dia rencanakan di balik semua kejadian ini.
.
.
20181105_011458_0001~01~01~01
.
Kembali pada tragedi jatuhnya pesawat Lion Air…
.
Ingatanku seolah melayang pada masa puluhan tahun silam…
Pada masa kecil dimana naik pesawat masih menjadi sesuatu yang eksklusif, dan beruntungnya, aku telah diberi kenikmatan untuk merasakannya.
.
Bouraq, Merpati, dan tentu saja sang pelopor penerbangan Garuda Indonesia,  adalah sederet nama maskapai yang sangat berjaya pada masa itu.
.
Tiga maskapai tersebut memberikan pelayanan yang istimewa dan sungguh memuaskan. Pilihan makanan dan minuman tersaji lengkap beserta kemasannya yang tampil ekslusif bak suvenir pernikahan. Ah, kenapa tak ada satu pun yang sempat aku dokumentasikan, ya? Betapa sesal kemudian serasa tak berguna.
.
Harga tiket pesawat pada era 80-90an itu mungkin tak ada yang diobral seperti zaman now. Tak ada istilah tiket promo, atau rebutan kursi promo.
.
Bahkan aku ingat, saat berusia 6 tahun, almarhum Bapak pernah mengatakan usiaku masih 5 tahun kepada petugas saat membeli tiket di loket. Tidak lain tidak bukan agar aku boleh duduk di pangkuan Bapak, tanpa harus membeli kursi sendiri. Lumayan bisa menghemat satu orang kan? ^^ Hemm…. ide yang cerdas…
.
Di masa itu jarang sekali ku dengar ada kecelakaan pesawat. Maka ketika tiket pesawat di masa kini semakin banyak diobral, seiring munculnya begitu banyak maskapai baru, dan impian naik pesawat telah menjadi kisah nyata milik semua orang, kenapa justru begitu banyak tragedi kecelakaan mengiringinya?
Bukankah seharusnya segalanya menjadi lebih baik?
.
Alat, sistem, fasilitas, kinerja, dan SDM seharusnya menjadi lebih rapi dan teratur seiring berkembangnya segala kemudahan yang ada.
.
Ahh…. teori dan asal bicara memang terlalu mudah diucapkan, ya Dears 😁
Siapa lah aku yang hanya seorang penumpang, yang saat ini hanya mampu menekan keypad di smartphone untuk sekadar menuliskan sepenggal opini berbasis masa lalu ini.
.
Kalau diizinkan bicara, aku hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya aku mencintai langit, pesawat, dan segala hal berbau angkasa.
.
Cita-citaku dulu ingin menjadi seorang Pramugari dan Astronot. Entah apakah aku cukup cantik atau tidak saat itu heehhee…. tapi terlalu sering melihat mbak-mbak cantik itu di pesawat membuatku ingin menjadi seperti mereka. Sedangkan pilihan menjadi Astonot terpatri di dalam hati, lantaran saat itu sedang booming pemberitaan tentang calon Astronot pertama Indonesia bernama Dr. Pratiwi Sudharmono.
.
Bukankah nama kami sama-sama Pratiwi? Siapa tahu keberuntungan juga memihakku? 😅
.
.
Namun, ketika akhirnya masa remaja tiba dan tinggi badan tak memadai dalam persyaratan menjadi seorang Pramugari, cita-citaku seketika berubah ingin menjadi seorang Diplomat dan Penyiar Televisi. *cukup pilih salah satu, Diplomat atau Penyiar ya, jangan kau duakan cintamu #eeaaa #upss
.
Selanjutnya, aku sudah cukup puas melihat mbak-mbak Pramugari cantik itu setiap kali naik pesawat dan memperhatikan seragam mereka. Sesungguhnya ada sebersit rasa syukur di dalam hati, karena salah satu persyaratan tes menjadi Pramugari yang pernah kubaca adalah harus mengenakan rok di atas lutut. Ah, bukan aku banget itu. Aku terlalu sopan dan pemalu melakukan itu ☺ Tampaknya Dia Yang Maha Mengetahui sudah sangat pas mengatur segalanya, dengan tidak mengizinkanku menjadi seorang cabin crew.
.
Kini ku tahu, tak selamanya sesuatu yang terlihat menyenangkan dan wah selalu indah seperti yang kubayangkan.
Apalagi setelah beberapa hari lalu menyaksikan tayangan di sebuah televisi swasta, tentang wawancara bersama seorang Pramugari yang menjadi salah satu korban dalam kecelakaan maskapai singa terbang ini beberapa tahun yang lalu. Ia bercerita harus menjalani berkali-kali operasi untuk memperbaiki anggota tubuh dan tekstur wajahnya akibat kecelakaan itu, tanpa ada bantuan dari pihak perusahaan. Ia pun menuturkan ketidakjelasan sistem kontrak yang diterapkan, karena ia dan rekan sejawatnya masih terlalu muda saat itu. Bisa diterima sebagai Pramugari dan berkeliling Indonesia dengan pesawat saja sudah merupakan suatu kebanggaan baginya dan teman-teman, tanpa terpikir hal lain terkait perjanjian kerja dan sejenisnya.
.
Miris memang, sekaligus prihatin mendengarnya.
Tapi sekali lagi…
Siapalah aku?
Yang hanya mampu menautkan beberapa rangkai kalimat dalam kenangan akan cita-cita masa lalu.
.
Tapi tak perlu khawatir, aku masih tetap penggemarmu yang dulu.
.
Masih tetap cinta langit, pesawat, dan segala hal yang berbau angkasa… 💕
💜💛💚

Cinta Tidak Harus Memiliki, Yakinnn??

“Cinta tidak harus memiliki…”
.
Ungkapan ini begitu familiar saat masa remaja dulu. Menghiasi hari-hari penuh warna warni di usia yang terbilang menengah, alias masa transisi. Anak kecil bukan, terlalu dewasa pun belum.
.
Kini, ketika diri telah memasuki gerbang yang bahkan sudah “terlalu” dewasa *tapi masih teteupp imoet, kok 🙈🤡, ungkapan itu terkesan sangat lebay.
.
.
20181025_114527_0001
.
.
Ketahuilah, wahai engkau yang sedang jatuh cinta…
.
Rasa cinta yang sejati bisa tumbuh manakala kita telah terbiasa berdekatan dan berusaha untuk memahami seseorang. Sedikit berbeda dengan cinta lahiriah, yang biasanya terjadi pada pandangan pertama (love at the first sight).
.
Cinta pada pandangan pertama biasanya akan berakhir manakala kita tak mampu menerima dan memahami karakter seseorang yang awalnya kita kagumi tadi. Tapi bukan berarti mereka yang jatuh cinta pada pandangan pertama tak akan mampu menjadi cinta sejati lho, ya. Banyak juga cinta sejati yang berawal at the first sight, asallll ya itu tadi, mampu menerima dan setia seutuhnya pada dia yang dikagumi sejak awal bertemu.
.
.
Nah, dari gambaran diatas ketemu deh titik terangnya. Bahwa mampu memahami dan menerima kekurangan menjadi KEKUATAN untuk melanjutkan sebuah hubungan. Kalau tak ada kesamaan pemahaman untuk saling menerima kekurangan pasangan jangan harap, deh, hubungan akan berlanjut.
.
Hubungan yang berjalan dalam satu frekuensi saja hambatannya banyak, apalagi jika kamu jelas-jelas memiliki frekuensi yang berbeda. Bakalan sulit ketemunya… 😎
.
Lalu sampai disini, balik lagi, adakah untungnya menyetujui ungkapan “Cinta tak harus memiliki..?”
Duhh, nelangsa banget dong, ya, rasanya…
.
Dears, pahamilah, bahwa cinta itu harus memiliki.
.
Jika tidak dimiliki, artinya dia bukanlah orang yang pantas untukmu. Karena jika dia PANTAS bagimu, dia pun akan memperjuangkanmu #eeaaa 😅
Jika hanya kamu yang berjuang mendekatinya, sementara dia melarikan diri menjauh darimu, oh nooo!!! masih ada pangeran Turki, kok, yang siap menunggumu 😍
.
So… pantaskan dirimu menjadi yang terbaik di hadapan-Nya. Di hadapan-Nya, lho ya, bukan di hadapannya (manusia).
.
Jika kamu memantaskan diri hanya demi manusia, maka sia-sia belaka seluruhnya, andai dia tak sedikit pun menoleh padamu. Tapi ketika engkau memantaskan diri hanya untuk-Nya Sang Penguasa Alam Semesta, Dia yang akan mendatangkan orang terbaik bagi dirimu. Orang yang patut kau kagumi, cintai, dan tentu saja, kau miliki 💕
.
Yup, karena cinta sejati itu memang HARUS kau MILIKI..
Jika tak bisa kamu miliki, TINGGALKAN!!!
Lebih baik mencari cinta sejati milik-Nya, agar Ia kirimkan yang lebih baik bagi dirimu.
.
No galaw anymore buat kamu di sana dan siapa pun yang sedang mengalami kegalauan akan hal ini… 💖
.
.
💜💛💚

5 Tips Menulis Artikel Inspirasi, Bacanya Jangan Sambil Nangis, please

Dears, adakah disini yang hobi membaca kisah atau tulisan bertema inspirasi?
.
Berdasarkan pengalaman, tulisan inspirasi adalah tulisan yang isinya mampu menyentuh relung hati terdalam pembacanya. Sentuhannya bermacam-macam. Bisa terkesan sangat halus dan bikin melow, atau sebaliknya, justru menimbulkan semangat membara untuk bangkit memotivasi diri.
.
.
20181016_224854_0001
.
.
Apabila kamu terbiasa menulis artikel di luar tema inspirasi, kadang tidak mudah untuk membedakan antara tema inspirasi dengan tema gaya hidup (lifestyle).
Misalnya, ketika kamu menulis tentang topik relationship (pernikahan, jodoh, dll), topik itu bisa masuk ke dalam tema lifestyle, dan bisa juga masuk menjadi tema inspirasi.
.
Terus apa dong yang membedakan keduanya? Dan tips apa pula yang perlu dilakukan sebelum menulis kisah bertema inspirasi? Yuk, lanjutin membaca, ya, jangan tinggalkan saya, pliss.… *lebay 😁
.
.
Bersifat Naratif
.
Ciri tulisan inspirasi yag utama adalah sifatnya yang naratif (bercerita). Cerita akan terasa mengalir menghanyutkan pada saat dibaca. Ini yang membedakan dengan tulisan tema lifestyle (gaya hidup), dimana fokusnya lebih pada poin atau tips-tips.
.
Contoh judul lifestyle :
“Ternyata Begini 5 Tips Sehat Ala Rasulullah, Kamu Suka yang Mana?”
.
Contoh judul inspirasi :
“Tulisan Motivasi Ini Untukmu yang Ingin Sehat dan Awet Muda Ala Rasululullah”
.
Contoh artikel inspirasi bisa kamu baca di sini.
.
.
Sumber Tulisan
.
Sumber tulisan kisah inspirasi lebih bebas dibandingkan tema lain. Bisa berasal dari opini si penulis sendiri, kisah nyata orang lain, maupun pengalaman hidup diri sendiri. Jika kamu ingin tulisan lebih berisi, ambillah sumber dari beberapa situs yang terkait dengan isi tulisan, sehingga tulisanmu lebih terkesan ilmiah dan bukan sekadar karangan bebas saja.
.
.
Penggunaan Kalimat dalam Tulisan
.
Yang juga perlu kamu perhatikan adalah penggunaan kalimat demi kalimat dalam tulisan. Karena tujuan dari tulisan inspirasi adalah menyentuh hati pembacanya, maka sebisa mungkin gunakan kata-kata yang halus dan tidak menghakimi pembaca.
.
.
Kata Sapaan
.
Lalu, bagaimana dengan kata sapaan bagi para pembaca? Khusus untuk tulisan inspirasi, saya lebih suka menggunakan kata ganti “Engkau, kau, kita, Anda” daripada “kamu”.
.
.
Waktu Menulis
.
Bagi saya, menulis tema inspirasi sangat dipengaruhi oleh waktu dan situasi kondisi ketika menulis. Saya sendiri merasa lebih bisa fokus dan “masuk” ke dalam topik tulisan saat waktu menunjukkan tengah malam dan tak ada satu pun gangguan yang menerpa. Tapi kembali lagi, hal itu terpulang pada diri kita masing-masing. Yang penting teruslah menulis, ya, Dears, kapan pun kamu ada waktu dan kesempatan, karena menulis itu dapat menjadi semacam terapi jiwa dan penyaluran bagi energi yang terpendam.
.
.
Nah, itu tadi sedikit tips untuk kamu, sahabat bloggers tercinta, yang mungkin baru ingin mulai menulis tema inspirasi. Semoga bermanfaat ya, dan selamat menulis… 💖
.
💜💛💚
.
.
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity