Arsip Tag: Inspirasi

Pengalaman Ruqyah di BRH Centre, Yogyakarta

pengalaman ruqyah BRH Centre Yogyakarta

Beberapa tahun yang lalu, saya ingat sekali, metode penyembuhan dengan cara ruqyah atau di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut dengan rukiah, menjadi metode penyembuhan yang cukup populer. 

Begitu populernya metode ini sehingga stasiun televisi swasta banyak yang menayangkan proses penyembuhan lewat terapi ruqyah sebagai program rutin mingguan yang peminatnya terus meningkat. Biasanya, ruqyah untuk tayangan program televisi ini dilakukan secara masal di dalam satu ruangan dengan banyak orang sekaligus. Terdapat beberapa ustaz dan ustazah yang membantu mengawasi jalannya ruqyah, sekaligus menenangkan para pasien yang di-ruqyah.

Lalu, kesan pertama apa yang nyantol di kepala saya saat itu?

Yup … kesan pertama adalah, ruqyah hanya diperuntukkan bagi penyakit-penyakit nonmedis saja, seperti gangguan jin, guna-guna, dan gangguan tak kasat mata lainnya yang berhubungan dengan sesuatu yang gaib.

Kedua, proses penyembuhan yang terjadi saat pasien di-ruqyah cukup bikin saya gemetar dan merinding. Kalau enggak teriak-teriak, guling-guling, mual, muntah, sampai kepada proses yang menurut saya cukup ekstrem, yaitu tak sadarkan diri.

Sampai di sini, itu dua kesan pertama yang saya rasakan gara-gara dulu sering melihat program ruqyah di televisi. Benarkah faktanya memang demikian? Apakah proses penyembuhan pasien ruqyah harus selalu ekstrem seperti itu? Yuk, baca cerita saya selanjutnya!

Manfaat Ayat Al-Qur’an

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian. ”

(QS. Al-Isra’: 82)

Sekitar tahun 2012, saya pernah mengantar Ibu ke salah satu klinik pengobatan thibbun nabawi atau metode pengobatan Islam yang disunahkan Rasulullah saw., yaitu melalui ruqyah dan bekam (al hijamah). Jika ruqyah adalah pengobatan hati dan psikis melalui pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, bekam adalah metode pengobatan secara fisik dengan cara menyedot darah kotor dari dalam tubuh agar penyumbatan darah tidak terjadi. Istilah kerennya, bekam adalah proses detoksifikasi yang sangat baik untuk mencegah berbagai penyakit dalam tubuh kita.

Saat itu, ibu saya mengalami batuk berkelanjutan yang akhirnya membuat napas beliau menjadi sesak dan cepat lelah. Efek lainnya, batuknya sudah mulai bercampur darah. Ini cukup mengkhawatirkan. Selain melakukan pengobatan ke dokter, atas saran keluarga, Ibu juga berobat ke salah satu klinik ruqyah dan bekam sebagai pengobatan alternatif selain pengobatan medis. Inilah pertama kalinya saya punya pengalaman mengantar Ibu melakukan penyembuhan dengan cara ruqyah.

Metodenya sama dengan yang saya saksikan di program tayangan televisi beberapa tahun sebelumnya, dengan cara pembacaan ayat Al-Qur’an oleh Ustaz yang menerapi Ibu. Bedanya, ruqyah dilakukan di dalam ruangan tersendiri, seperti ruang klinik di rumah sakit modern.

Saya yang ikut masuk ke dalam ruangan klinik mendadak terdiam dan menunggu dengan deg-degan saat Ustaz yang menerapi melantunkan ayat suci dengan bacaan yang sangat indah. Apakah Ibu juga akan mengalami mual, muntah, atau efek lain seperti yang saya lihat di televisi? Alhamdulillah, ternyata tidak, Gaesss …. Ibu terlihat khusyuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an sampai selesai. Setelahnya, Ustaz bertanya, apa yang Ibu rasakan? Kata Ibu, dia merasakan aliran hangat di bagian punggung atas.

Terapi ruqyah terhadap Ibu ini dilakukan beberapa kali dalam waktu 2 atau 3 bulan bersamaan dengan terapi bekam sekaligus, sampai akhirnya kondisi Ibu membaik dan pernapasannya kembali lega. Masya Allah.

Dari pengalaman ini, kesan saya bahwa terapi ruqyah hanya diperuntukkan bagi mereka yang terkena penyakit nonmedis menjadi sirna seketika. Ternyata kekuatan ayat Al-Qur’an memang luar biasa sebagai penyembuh bagi segala macam penyakit.

Oya, teman-teman pernah membaca artikel tentang hasil penelitian ilmuwan Jepang, Dr. Masaru Emoto belum? Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Masaru Emoto melakukan penelitian adanya hubungan antara kekuatan doa dan perubahan bentuk molekul air. Molekul air yang dibacakan kalimat doa memiliki bentuk yang indah dan teratur, sementara air yang diberi kata hujatan atau kebencian memiliki bentuk molekul tak teratur, pecah, dan berantakan.

terapi penyembuhan ruqyah
Foto molekul air sesuai kalimat yang diucapkan. (Image: Pinterest.com/beforeitsnews)

Kalau air yang benda mati saja mampu berubah strukturnya menjadi lebih baik setelah dibacakan doa, apalagi kita yang dikaruniai miliaran sel otak sebagai makhluk hidup terbaik ciptaan-Nya.

Dari hasil penelitian ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa air yang telah dibacakan ayat Al-Qur’an dapat digunakan sebagai sarana terapi bagi siapa pun yang sedang sakit. Bukankah 75℅ tubuh kita terdiri atas cairan?

Ini bukanlah hal yang berbau syirik atau terlarang, asal tidak dicampur dengan metode lainnya, seperti mantra, pengobatan menggunakan hewan, memindahkan penyakit ke makhluk hidup lain, dan perbuatan sejenis yang dilarang agama.

Pengalaman kedua berhubungan dengan ruqyah kembali saya alami saat mengantar anak saya yang saat itu berusia 3 tahun untuk melakukan ruqyah. Wah, kok dari dulu tugas saya cuma mengantar aja, ya? Kapan nyobain ruqyah sekalian? Ya mau gimana lagi, wong yang sakit bukan saya, kok. Alhamdulillah, saya merasa sehat-sehat aja secara lahir dan batin. Malah saya baru tahu saat itu bahwa anak saya ternyata memang agak “sensitif” dengan hal-hal yang enggak kelihatan. Jadilah, salah satu terapi yang harus dilakukan adalah dengan cara ruqyah.

Pengalaman Pertama Ruqyah secara Syar’i

Siapa sangka … tahun 2021 ini ternyata Allah mengizinkan saya untuk melakukan ruqyah, meski di klinik yang berbeda dengan klinik terdahulu. Sebenarnya keinginan ruqyah ini sudah tebersit sejak tahun 2018 lalu. Entah kenapa, rasanya pengen aja membersihkan diri. Namun, keinginan ini tidak pernah terwujud. Saya selalu merasa ragu-ragu. Apa boleh kalau orang yang enggak sakit minta di-ruqyah? Berdosa enggak? Berbagai macam pikiran berkecamuk di benak saya.

Saya pernah membaca status di media sosial tentang pengalaman seorang pebisnis perempuan dan internet marketer yang melakukan terapi ruqyah karena ingin mencoba sekaligus membersihkan dirinya. Saat di-ruqyah, dia merasa tenang dan khusyuk mendengar ayat-ayat yang dibacakan. Tidak ada masalah apa pun dalam dirinya. Namun tetap saja, setelah membaca postingan tersebut, saya masih tetap ragu, apakah diperbolehkan melakukan ruqyah tanpa ada penyakit apa pun?

Sebenarnya tahun 2018 lalu, ada seorang sahabat yang bilang ke saya, “Mbak, kok aku merasa antara aku dan kamu tuh kayak dipisahkan ‘tembok’, ya? Aku enggak bisa merasakan apa yang kamu pikirkan.” Waktu itu, saya dan dia memang sedang duduk bersisian. Saya cuma bengong. Apa maksudnya? Teman saya juga cuma diam. Tampaknya, dia masih menerka perasaannya.

Saya enggak kaget dengan sahabat satu ini. Dia memang punya indra yang “sensitif”. Dia ingin sekali menghilangkan indranya ini dengan berbagai cara karena sering merasa tersiksa–katanya. Namun, qadarallah, kemampuannya ini belum hilang juga, malah tambah peka seiring usia.

Saya sebagai sahabatnya kadang kasihan juga, tetapi hanya bisa mendoakan, semoga Allah Swt. selalu memberikan kesabaran dan perlindungan terbaik kepadanya. Saya bilang, kalau memang sudah sering ruqyah, tetapi kemampuannya belum hilang juga, terima saja. Yang penting tidak merembet menjadi hal yang dilarang sebagai seorang muslim, seperti jadi peramal kayak Roy Kiyoshi, misalnya. 😀

Singkat cerita, teman saya bilang, dia seperti melihat ada “tembok” yang memisahkan antara dia dan saya. Waktu saya tanya lebih detail, dia enggak tahu itu tembok apaan. Baiklah, saya pun akhirnya mengabaikannya. Sebenarnya sudah ada dorongan untuk ruqyah, tetapi saya ragu karena teman saya juga tidak menyarankan apa-apa.

Setelah 3 tahun berlalu, qadarallah, Allah memberi jalan dan solusi lewat seorang tetangga yang bertamu ke rumah saya. Tetangga ini berkunjung sambil membawa cucunya yang masih kelas 5 SD. Sepulang dari rumah kami, esoknya si Nenek bercerita bahwa cucunya yang punya indra sensitif itu ternyata melihat ada pagar tak kasat mata yang mengelilingi saya. Yaa Robb … kok bisa sama ya dengan apa yang dilihat sahabat saya tahun 2018 lalu? Saya yang enggak paham soal aneh-aneh begini cuma bisa istigfar, sekaligus bersyukur.

Alhamdulillah, ada banyak sekali orang baik yang ditunjuk Allah untuk selalu membantu dan menyayangi saya. Ya, meskipun yang enggak suka juga pasti ada, tetapi tidak perlulah kita fokus ke hal tersebut, ya. Bukankah tugas kita sebagai manusia adalah berbuat kebaikan semaksimal mungkin dan selalu memohon tetap istikamah di jalan-Nya? Menjadi sempurna tentulah tak mungkin. Pasti sesekali ada khilaf yang kita lakukan sebagai manusia.

Akhirnya, saya disarankan ruqyah oleh si anak kecil yang masih kelas 5 SD itu untuk membersihkan halangan-halangan yang tak terlihat. Jadilah, saya kemudian googling tempat ruqyah di Yogyakarta. Dari banyak klinik ruqyah yang ada di Yogyakarta, akhirnya pilihan jatuh pada Baitul Ruqyah wal Hijamah (BRH) Centre yang ada di Jl. Nyi Pembayun No. 14, Kotagede, Yogyakarta. Jaraknya sekitar 14 kilometer dari rumah. Lumayan jauh, sih, tetapi saya mantap memilih klinik itu.

klinik bekam ruqyah BRH Centre Yogyakarta
Klinik Ruqyah BRH Centre, Yogyakarta. (dok. pribadi)

Saat saya tiba di BRH Centre, klinik dengan bangunan sederhana ini tampak sepi, tidak ada antrean seperti testimoni yang saya baca di Google Maps. Mungkin karena masih masa pandemi juga, ya. Saya bersyukur langsung dilayani oleh seorang Ukhti di bagian pendaftaran dan disuruh menunggu sebentar karena ustaznya sedang keluar. Saat saya mengantre, datang lagi pasien baru hendak mendaftar. Seorang ibu muda yang tampak enerjik ingin mendaftarkan anaknya yang autis untuk di-ruqyah. Masya Allah, terbukti, ternyata ayat-ayat Allah memang penyembuh dari berbagai macam penyakit, batin saya.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, Pak Ustaz akhirnya datang. Saya diminta berwudu terlebih dahulu oleh Ukhti yang melayani pendaftaran, kemudian mengenakan mukena, dan diminta masuk ke ruangan kecil untuk ruqyah. Ruangan ini terbuka dan bisa dilihat dari luar. Pak Ustaz meminta saya duduk menghadap kiblat. Entah kenapa, hati saya mulai dag dig dug duerrrrr …. Haduh, apa yang akan terjadi dengan saya selanjutnya? Bagaimana kalau nanti saya mual, jatuh, atau pingsan? Lebay deh pokoknya kalau ingat waktu itu.

Saat Ustaz mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, bibir saya juga komat-kamit mengikuti bacaan tersebut tanpa bersuara. Meski bibir ikut mengaji, tetapi tak dapat dibohongi, hati saya masih deg-degan. Saya berusaha menenangkan diri dan meyakinkan bahwa saya sadar secara penuh dan baik-baik saja.

Pandangan saya mulai fokus pada satu kotak tisu dan ember kecil yang diberi kantung plastik bersih di depan saya. Kalau seumpama mual, berarti saya harus langsung mengambil ember itu, pikir saya. Tentu saja, masih dengan pikiran yang tidak karuan.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya saya mulai tenang dan enggak mikir aneh-aneh lagi. Kenapa sih saya harus takut dengan prosesnya? Bukankah ini untuk kebaikan? Mual, muntah, dan sejenisnya yang saya lihat di televisi mungkin tergantung kekuatan tubuh masing-masing orang. Ibu dan anak saya saja dulu waktu di-ruqyah baik-baik saja, enggak sampai ekstrem seperti itu. Lagian, bukankah efek itu menandakan adanya proses detoksifikasi dan pembersihan tubuh? Saya berusaha meyakinkan diri sendiri.

Sekitar 20 menit mungkin proses ruqyah dilakukan. Sampai akhir ayat dibacakan, saya masih duduk diam dan dalam keadaan sadar, tanpa ada ketakutan seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya ingat, Ustaz sempat memegang ubun-ubun dan menepuk-nepuk punggung saya ketika membaca ayat Al-Qur’an tadi. Hati saya pun menjadi lega. Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah, saya sudah berhasil melawan ketakutan saya sendiri.

Oiya, saat memegang kepala dan menepuk punggung saya, Ustaz menggunakan sarung tangan berbahan kulit tebal sehingga kita tak perlu merasa khawatir bersentuhan dengan yang bukan mahram. Prosesnya syar’i, insya Allah.

Setelah selesai, saya diberi minum segelas ramuan herbal seperti jamu. Beliau kemudian menanyakan, apa yang saya rasakan, dan sudah berapa lama merasa badan enggak beres. Saya pun menceritakan semua yang saya alami dengan penuh kepolosan. Iya, saya polos banget kalau soal yang aneh-aneh begini. 🙂

Beliau bilang, memang ada sedikit gangguan, tetapi tidak perlu dibahas gangguan itu asalnya dari mana. Ustaz juga bertanya, apakah saya sering mimpi buruk? Karena adanya gangguan juga bisa ditandai dari mimpi buruk.

Pokoknya, kalau ada rasa enggak nyaman di tubuh kita, segera cari obat dan solusinya, itu lebih baik, pesan beliau. Tidak perlu memikirkan masalahnya dari mana, yang penting fokus ke solusinya. Masya Allah, adem sekali hati saya mendengar nasihat Ustaz yang sudah paruh baya dengan jenggot putih di bawah dagu.

Sepulang dari sana, Ustaz membawakan sebotol air putih yang sudah dibacakan doa. Beliau juga berpesan agar kita sering melakukan ruqyah mandiri di rumah dengan segelas atau sebotol air yang dibacakan ayat Kursi, surah An Naas, dan Al Ikhlas sehabis salat Magrib.

Apa yang Dirasakan Setelah Ruqyah?

Sesampai di rumah, saya kembali googling tentang Klinik Ruqyah BRH Centre. Kalau besok ada saudara atau teman di Yogyakarta yang sakit, pasti saya akan merekomendasikan klinik ruqyah ini karena penyembuhannya sesuai dengan syariat. Memangnya ada, ya, ruqyah yang tidak syar’i? Berdasarkan referensi yang saya baca, kalau metode penyembuhan ruqyah-nya dicampur dengan metode lain yang tidak ada panduannya, seperti tenaga dalam, atau menggunakan penerawangan, dan semacamnya, dianggap tidak sejalan dengan syariat. (Hidayatullah.com, 16/4/2014)

Saya juga baru tahu kalau BRH Centre merupakan klinik ruqyah pertama yang ada di Yogyakarta sejak tahun 2009. Pemiliknya Ustaz Fadhlan Adham Hasyim, Lc. , yang merupakan perintis sekaligus Ketua ARSYI (Asosiasi Ruqyah Syar’iyyah Indonesia). Masya Allah, bersyukurnya saya bisa diterapi oleh beliau.

Lalu, apa yang saya rasakan setelah di-ruqyah?

Yang pertama, lega. Alhamdulillah.

Yang kedua, seperti merasa lahir kembali. Bingung enggak, lahir kembali itu rasanya kayak apa? 😀 Hmmm … gimana jelasinnya, ya?

Yang ketiga, sampai satu minggu setelah selesai ruqyah, badan terasa ringan, melayang-layang. Ini seperti kalau kamu habis pijat, badannya jadi enak dan lemas.

Yang keempat ini agak susah kalau kamu lagi banyak kerjaan. 😀 Iya, karena badan terasa enak, jadinya malah ngantuk terus. Akhirnya saya menggunakan kesempatan itu untuk lebih banyak beristirahat. Kerja online tetap, tetapi saya kurangi porsinya. Lebih mengikuti maunya tubuh aja gimana.

Jika ingat pengalaman ruqyah beberapa minggu lalu, tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah Swt. Betapa Dia Yang Mahakuasa sudah begitu baik kepada saya yang fakir ilmu dan banyak dosa ini. 🥺 Tak terhitung lagi betapa banyak limpahan rahmat dan karunia-Nya. Hikss … jadi terharu ….

Teman-teman yang membaca tulisan ini, apakah ada yang pernah punya pengalaman ruqyah juga? Kalau iya, apa yang teman-teman rasakan setelahnya? 🙂

Baca Juga

pengalaman ruqyah yogyakarta

Perempuan, Ghosting, dan Pengembangan Diri secara Online

kursus gratis online

“Kecerdasan intelektual seorang anak diwarisi dari gen ibunya.” Beberapa tahun lalu, saya pernah membaca artikel ini di salah satu grup parenting dan pengembangan diri online yang saya ikuti. Percaya tidak percaya, ternyata faktanya memang demikian.

Teman-teman harus tahu, University of Washington pernah melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa perempuan memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki hanya memiliki satu kromosom X.

Ini berarti, perempuan memiliki kesempatan dua kali lebih besar mewariskan kecerdasan genetiknya daripada laki-laki. Bahkan, seorang anak yang sejak lahir memiliki hubungan sangat baik serta sering diberikan motivasi oleh sang ibu, memiliki bagian otak hipokampus yang lebih besar daripada anak lain yang kurang dimotivasi dan diperhatikan oleh ibunya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hipokampus adalah area otak tempat memproses informasi dari luar, termasuk emosi dan memori.

Wow … menurut saya, ini luar biasa! Meskipun kecerdasan secara keseluruhan bukan mutlak berasal dari faktor genetik semata, melainkan dipengaruhi juga oleh lingkungan, pendidikan, dan banyak hal lainnya, artikel tersebut membuat saya kian semangat untuk belajar.

Yup … sebagai ibu, saya jadi merasa punya tanggung jawab besar untuk meningkatkan kecerdasan anak, apalagi punya anak perempuan yang baru memasuki usia ABG. Banyak hal baru yang tentunya dia ingin tahu, bukan melulu membahas pelajaran di sekolah saja.

Bersyukurnya, sejak tahun 2017, saya banyak mengikuti berbagai kelas belajar online gratis, baik melalui grup di media sosial maupun lewat berbagai platform belajar online. Mulai dari ilmu internet marketing, parenting, motivasi, pengembangan diri, dll. Bukan hanya ikut kelas belajar online gratis saja, saya juga mulai ikut kelas berbayar. Di luar dugaan, saya yang tipikal introver ini merasa nyaman melakukannya.

Apa Kabar dengan Ghosting?

Nah, sejak merebaknya masa pandemi COVID-19 dan muncul aneka kebijakan baru–termasuk bekerja dan belajar–harus dilakukan dari rumah secara online , saya sudah tidak kaget lagi. Aneka platform belajar online mulai bermunculan. Bukan hanya bagi pelajar dan mahasiswa, melainkan juga untuk para profesional, termasuk kaum perempuan dan ibu rumah tangga. Kursus gratis online pun tak melulu hanya lewat platform dan aplikasi belajar online, banyak yang mengadakan pembelajaran hanya lewat grup di media sosial atau channel di aplikasi chat.

Mengutip pernyataan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia terus mengalami peningkatan 13% setiap tahunnya, di mana jumlah pengguna internet perempuan memiliki persentase yang hampir seimbang dengan laki-laki, yaitu sekitar 48,57% dari jumlah total pengguna internet. Bisa dibayangkan, betapa perempuan adalah sasaran empuk sekaligus komoditi yang menjanjikan bagi industri di dunia maya.

Berbagai informasi dan berita bisa menjadi viral di internet, salah satunya berasal dari para perempuan yang ikut mengomentari, menyebarkan, atau membagikan (share) informasi yang mereka anggap penting. Berita yang berkaitan dengan figur publik, terutama topik yang menyentuh sisi psikologis mereka sebagai perempuan, bisa banget membuat informasi tersebut terdongkrak ke jajaran trending topic terkini. Sebut saja, topik ghosting salah satunya. 🙂

“Perempuan bukanlah pakaian yang bisa kamu pakai dan kamu lepas semaumu. Mereka terhormat dan memiliki haknya.”

(Umar bin Khattab)

Saya baru paham bahwa istilah ghosting ternyata memiliki dua arti yang berbeda. Secara harfiah, ghosting memiliki arti berbayang, sementara secara istilah di dalam suatu hubungan/relasi, ia dapat diartikan sebagai menggantung. Maksudnya, ghosting adalah tindakan menghilang secara tiba-tiba dari hubungan percintaan atau pertemanan, tanpa ada alasan ataupun pemberitahuan sebelumnya. Orang yang melakukan ghosting sering disebut dengan istilah ghoster, sementara orang yang ditinggalkan alias sasaran objek penderita disebut ghostee.

Sejenak … saya sempat tercenung melihat banyaknya komentar warganet di media sosial terkait ghosting. Maklummmm … saya juga punya anak perempuan. Naluri keibuan membuat saya tergerak mencari referensi topik ini. Apalagi tanggal 8 Maret 2021 lalu diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional (Hari Perempuan Sedunia) di mana saya juga terlibat dalam sebuah kampanye secara online tentang kekerasan dan pelecehan yang kerap kali dialami kaum perempuan. 🙁

platform belajar online Indonesia
Platform belajar online QuBisa. Aku bisa, Kamu bisa. (Image: QuBisa.com)

Pencarian saya berhenti di salah satu platform belajar online Indonesia. Platform kursus online bernama QuBisa ini menurut saya memiliki desain web yang menarik dengan warna dan tampilan eye catching. Setelah berselancar beberapa menit, ternyata banyak sekali kategori pembelajaran di platform kursus online ini. Ada kategori Business, Finance & Accounting, IT Software, Human Resource, IT Development, Lifestyle & Health, Personal Development, Sales & Marketing, dan Teaching & Academics.

Di antara banyak kategori aplikasi belajar online QuBisa, saya menemukan video tentang ghosting di fitur kursus online gratis Personal Development. Ada tujuh video pendek berdurasi 1 sampai 3 menit yang disampaikan dengan sangat menarik dalam bentuk tanya jawab antara host dengan salah seorang instruktur QuBisa, Selfi Nanda Surya Ning Tyas.

Pertama kali melihat video pembelajaran dalam bentuk microlearning ini sungguh membuat saya terkesan sambil senyum-senyum sendiri. Ada, ya, instruktur kayak gini? Cara bicara dan pembawaan Selfi Nanda sebagai pembicara yang ceplas-ceplos, riang,
medok aksen Jawa Timur-nya, tetapi tegas, bikin peserta kursus online gratis yang nonton videonya dijamin enggak bosan belajar di kelasnya.

Pas banget, Selfi punya pengalaman pernah jadi ghostee alias objek ghosting. Jadilah, dia banyak memberikan solusi yang simpel dan efektif melalui cerita dirinya sendiri saat mengalami ghosting. Satu kesimpulan penting yang saya ambil dari video kursus online gratis Personal Development ini adalah, untuk kamu atau siapa pun yang pernah kecipratan lumpur ghosting, jangan pernah menjadikan alasan ini untuk membalas dendam di kemudian hari dan mengubah dirimu yang baik hati menjadi seorang ghoster. Enggak banget, ya!

Mencintai diri sendiri dan terus memperbaiki diri adalah jalan terbaik agar kamu bertemu dengan orang yang selevel dengan dirimu, dibanding sibuk memikirkan si ghoster yang telah menghilang entah ke mana. Memangnya yang suka sama kamu cuma dia aja? *ehhh jadi ikutan ngamuk 😀 Bukankah jodoh merupakan cerminan dari diri kita? 🙂

kursus online gratis personal development
Video kursus gratis online kategori Personal Development. (Image: QuBisa.com)

Topik pengembangan diri seperti ini menurut saya penting banget disampaikan kepada anak perempuan kita sejak dini agar tak ikut-ikutan arus kebucinan yang kerap digaungkan menjadi trending topic.

Kamu adalah apa yang kamu baca, kamu dengar, dan kamu makan sehari-hari. Bukankah mindset di dalam pikiran bawah sadar terbentuk karena kebiasaan kita sendiri? Pikiran kita ibarat gadget yang bisa diisi data apa pun juga. Jadi, kamu yang harus memutuskan, mau diisi data yang baik-baik, atau data yang bikin nyesek.

Setuju?

Belajar Pengembangan Diri secara Online

Lanjut, ya ….

Sebagai platform belajar online Indonesia, QuBisa hadir untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa, para profesional, atau siapa pun yang ingin belajar dengan menggunakan metode microlearning (cepat, ringkas, dan efektif). QuBisa merupakan “jembatan” bagi pemberi materi (instruktur) dan penerima materi (siswa/siswi) untuk saling berkomunikasi dan bertukar informasi dengan pola yang cepat.

Selain melalui video, QuBisa juga menawarkan pembelajaran lewat beragam artikel menarik sesuai kategori yang bisa kamu pilih berdasarkan minat. Saya sendiri tertarik dengan artikel-artikel bertema psikologi yang membahas berbagai karakter manusia dalam kaitannya dengan cara berkomunikasi yang baik dalam dunia bisnis.

Oya … kalau kamu malas membaca dan lebih suka belajar secara visual, jangan khawatir, QuBisa juga menyediakan pembelajaran lewat sesi webinar, baik dalam bentuk webinar gratis Indonesia maupun webinar Indonesia berbayar.

Nah, di bulan Maret ini, ada 16 jadwal webinar Indonesia yang dapat kamu ikuti:

  • 22 Maret 2021 (16.00 WIB) => Webinar “Komunikasi Penjualan yang Tepat untuk Sukses dalam Negosiasi”.
  • 22 Maret 2021 (19.30 WIB) => Webinar “Thinking Skill and Creativity: How to Improve It”.
  • 23 Maret 2021 (16.00 WIB) => Webinar “Toxic Trilogy 2: Moms Shamming”.
  • 23 Maret 2021 (19.30 WIB) => Webinar “Awas, Jangan Asal Diet!”
  • 25 Maret 2021 (10.00 WIB) => Webinar “All England 2021, Kami Kecewa!”
  • 25 Maret 2021 (16.00 WIB) => Webinar “Game-Bassed Assesment Simulation”.
  • 25 Maret 2021 (19.30 WIB) => Webinar “Make a Wish: Instagrammer & Content Creator di 1 Tahun Corona”.
  • 26 Maret 2021 (16.00 WIB) => Webinar “Cara Menulis Press Release yang Menarik di Mata Media”.
  • 26 Maret 2021 (19.30 WIB) => Webinar “Final Trilogy: Toxic Relationships”.
  • 28 Maret 2021 (10.00 WIB) => Webinar “Apa Kabar Pariwisata? Kapan ke Banyuwangi (lagi)
  • 29 Maret 2021 (16.00 WIB) => Webinar “Mystery Shopping”.
  • 29 Maret 2021 (19.30 WIB) => Webinar “Road Safety: Pesepeda vs Kendaraan Bermotor, Salah Siapa?”
  • 30 Maret 2021 (16.00 WIB) => Webinar “The Art of Financial Success”.
  • 30 Maret 2021 (19.30 WIB) => Webinar “Tugas Istimewa: Menjaga Perdamaian di Tanah Konflik”.
  • 31 Maret 2021 (16.00 WIB) => Webinar “Scale Up Your Business!”
  • 31 Maret 2021 (19.30 WIB) => Webinar “Revolusi Guru 4.0”.

Bagaimana menurutmu? Topik webinar-nya menarik, bukan?

By the way busway … di antara jadwal tersebut, ada beberapa tema yang merupakan webinar gratis Indonesia, sementara tema lainnya ada juga yang berbayar, meski tidak banyak.

Terus, ada jadwal webinar di bulan selanjutnya enggak? Ada, dong …. Langsung aja ke platform belajar online QuBisa, ya, untuk cari tahu webinar gratis Indonesia selanjutnya.

Keunggulan dan Manfaatnya Apa, sih?

Pasti pada tanya, apa bedanya dengan belajar di platform atau aplikasi belajar online lainnya? Memangnya ada manfaatnya?

Nih, beberapa keunggulan belajar di QuBisa berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan:

aplikasi belajar online
  1. Metode pembelajaran yang digunakan adalah microlearning alias pembelajaran yang bersifat mikro atau jangka pendek. Maksudnya, materi yang disampaikan ringkas, singkat, dan tidak berbelit-belit.
  2. Instrukturnya interaktif, tetapi tetap profesional. Teman-teman boleh cek sendiri, deh, ke webnya. Bahasa yang digunakan santai dan bikin kita enggak terasa kalau sedang belajar.
  3. Materi yang dipelajari dapat diulang, bahkan bisa banget dijadikan sebagai bahan referensi atau rujukan kalau kamu ingin menulis artikel, atau bahkan buku.
  4. Alih-alih membosankan, belajar di platform kursus online ini justru bikin ketagihan. Bagaimana tidak? Setelah menyimak video untuk satu topik, ternyata kepo lagi lihat video untuk topik lainnya. Gemas ‘kan?
  5. Kategori pembelajarannya banyak sekali. Mulai dari emak-emak biasa seperti saya, sampai ke pekerja kantoran, pebisnis, mahasiswa, atau siapa pun kamu yang hobi belajar, bebas memilih aneka topik yang ingin dipelajari melalui platform kursus online QuBisa ini. Recommended!

Balik lagi ke topik awal bahwa kecerdasan anak sangat dipengaruhi oleh kecerdasan genetik yang dimiliki ibunya. Ini sebenarnya menjadi alasan, kenapa perempuan harus selalu belajar meningkatkan konsep keilmuan yang dimiliki, tak peduli sudah menikah, memiliki anak, atau bahkan menimang cucu. Apa pun caranya, meski secara non-formal lewat aplikasi belajar online, ilmu pengembangan diri yang dihasilkan tetap bermanfaat sebagai fondasi peradaban generasi.

Baca Juga

bahasa indonesia

Tetap Cerdas dan Produktif dari Rumah, Wanita Harus Lakukan Ini

“…Jangan biarkan siapapun mengatakan tentang apa yang bisa kau lakukan dan apa yang tidak bisa kau lakukan. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan dan jadilah sosok yang kau inginkan…”

~ Emma Watson (Aktris) ~

Dari beberapa artikel yang saya baca, usia produktif bekerja bagi seorang wanita dikatakan terlalu singkat. Menikah dan memiliki anak sering dianggap sebagai kiamatnya produktivitas wanita. Padahal, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), usia produktif dimulai sejak seseorang memasuki usia 15 tahun hingga mencapai usia 64 tahun. Sungguh rentang waktu yang sangat lama untuk kita dapat terus berprestasi dan berkarya, bukan?

Seandainya kamu tahu, bahwa menikah dan memiliki anak sebenarnya bukanlah hal yang menakutkan dalam kaitannya dengan produktivitas wanita. Mungkin sebagian besar beranggapan, untuk menjadi produktif artinya harus selalu bekerja di luar rumah. Jika ini yang ada di dalam pikiranmu, sebaiknya kamu segera browsing dan mencari data sebanyak-banyaknya bahwa bekerja dan menghasilkan sesuatu saat ini bisa dilakukan dari mana saja.

Jika kamu adalah seorang wanita karier dan bisa tetap melanjutkan profesi di kantor setelah menikah dan memiliki anak, bersyukurlah. Tetapi untuk wanita lain yang karena satu dan lain hal harus resign demi kepentingan keluarga, tak perlu juga dijadikan sebagai masalah. Banyak profesi lain yang dapat kamu lakukan dari rumah di zaman serba online ini. Menjadi seorang pebisnis, baik sebagai produsen ataupun reseller, bisa menjadi salah satu pilihan. Menjadi penulis, blogger, ataupun influencer juga tak kalah asyiknya.

Apabila kamu sudah terbiasa bekerja di kantor dengan pekerjaan yang telah ditarget dengan rapi dan sedemikian rupa, mungkin sedikit butuh perjuangan untuk membiasakan diri bekerja dari rumah. Ingatan masa lalu saat masih bekerja, terutama pada saat jam kantor, pasti sesekali akan muncul di kepala. Tapi kamu tak boleh membiarkannya. Siapa bilang produktivitas hanya bisa dilakukan dari luar rumah? Yuk, segera lakukan 5 hal ini agar kamu tetap menjadi wanita cerdas dan produktif, meski hanya dari rumah!

Miliki Tujuan yang Jelas

Apa yang ingin kamu lakukan? Buatlah daftar keinginan yang muncul di benakmu dengan cara menulisnya di kertas. Tampung dahulu semua ide yang muncul di kepala. Setelah semuanya kamu tuliskan, mulai pilih dan beri prioritas pada beberapa aktivitas yang sesuai dengan passion-mu dan paling ingin kamu lakukan.

Kenali Potensimu

Pernah dengar ungkapan “The Right Man on The Right Place”? Ini adalah sebuah ungkapan untuk menunjukkan betapa pentingnya kita bekerja pada bidang yang tepat, sesuai dengan bakat dan potensi yang kita miliki. Penggalian potensi diri bisa kamu lakukan dengan cara seperti poin satu di atas, yaitu menuliskan semua yang kamu inginkan di kertas dan kemudian memilih mana yang paling kamu sukai untuk dilakukan. Bisa juga dengan cara lain yang lebih akurat, seperti tes sidik jari atau analisa tulisan tangan untuk pemaparan lebih detail.

Tapi jika saat ini kamu telah berhasil pada satu bidang tertentu yang sebenarnya tidak sesuai dengan bakatmu, tak masalah. Bukan berarti kamu harus banting setir menggantinya dengan bidang lain. Kamu cukup menambahkan aktivitas yang kamu sukai sebagai penyeimbang rutinitas harianmu. Mana tahu aktivitas atau hobi yang kamu sukai ini juga bisa berkembang seperti pekerjaan lain yang telah lebih dulu kamu geluti.

Membuat To Do List dan Target Aktivitas

Bekerja dari rumah memang lebih fleksibel dalam segi waktu dan pekerjaan yang dilakukan. Tapi ini bukan berarti kamu bisa seenaknya mengerjakan sesuatu tanpa membuat target atau to do list yang jelas. Jika kamu adalah seorang pebisnis misalnya, di mana kamu adalah bosnya dan tak ada atasan yang memerintah dan memeriksa hasil kerjamu seperti di kantor, membuat target yang ingin dicapai merupakan suatu keharusan jika ingin bisnismu terus berkembang.

Membaca Buku

Buku adalah jendela dunia. Raga mungkin boleh tertahan di rumah, tapi pikiran tak boleh demikian. Dengan membaca buku, baik buku fisik maupun bacaan digital yang saat ini tersedia dalam berbagai bentuk aplikasi, imajinasi kita akan terus berkembang dan menuntun diri pada suatu pencapaian. Salah satu kelemahan masyarakat Indonesia adalah lemahnya keinginan mereka dalam membaca, sehingga kemampuan memahami sesuatu menjadi hanya separuhnya saja. Ini berakibat seringnya terjadi kesalahpahaman dan perdebatan di berbagai media sosial apabila muncul topik yang sedang trending. Sungguh sangat disayangkan.

Berkumpul dengan Komunitas

Manusia adalah makhluk sosial yang ditakdirkan untuk saling membutuhkan satu sama lain. Bukan berarti menjadi saling ketergantungan. Bersosialisasi dengan orang lain, terutama dalam komunitas yang positif dan sesuai dengan visi dan misi hidup, dapat menjadi jalan rezeki dan motivasi agar kita selalu lebih baik dari sebelumnya. Dari berbagai komunitas positif, baik secara online atau offline inilah kita dapat menggali lebih banyak ilmu bisnis, agama, pengembangan diri, dan ilmu lain yang sesuai dengan passion masing-masing. Lambat laun, rasa percaya diri akan semakin meningkat dan kolaborasi dalam berbisnis pun dapat terbentuk dengan banyaknya relasi yang kita temui dalam komunitas yang diikuti.

Sampai di sini, apakah kamu masih ragu untuk memulai produktivitasmu dari rumah? 🙂 Sesungguhnya, menjadi produktif itu bukan tentang seberapa besar materi yang dapat kamu hasilkan, melainkan seberapa jauh kamu dapat memengaruhi dan menjadi inspirasi untuk orang-orang di sekelilingmu.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

5 Tips Kala Baper Melanda Ala Saya

“Men are from Mars, Women are from Venus….”

Judul buku yang sangat populer karya John Gray, Ph.D ini mengungkap betapa jauhnya perbedaan antara sosok pria dan wanita. Wanita adalah makhluk multitalenta yang diibaratkan seperti gelombang. Baperan dan sangat mudah terbawa sisi emosionalnya. Kadang naik, kadang turun. Sangat fluktuatif. Sementara pria, diibaratkan laksana karet gelang yang lebih lentur dan elastis dalam mengontrol perasaannya.

Penelitian tentang perbedaan pola pikir antara pria dan wanita memang tak pernah ada habisnya. Ini berkaitan dengan banyak hal, terutama tentang bagaimana mengatur pola hubungan yang baik antar pasangan agar dapat menghindari pertengkaran di dalam sebuah hubungan.

Dikutip dari laman Hello Sehat, Tel Aviv University pada tahun 2015 pernah melakukan riset untuk membandingkan antara otak laki-laki dan perempuan. Dari penelitian ini ditemukan bahwa otak laki-laki ternyata 10% lebih besar daripada otak perempuan. Tapi hal ini bukan berarti seorang pria lebih pintar dari wanita, ya… 😀 Karena faktanya, otak perempuan ternyata lebih mampu menyerap informasi 5x lebih cepat dari laki-laki. Wow… kenapa bisa begitu, Esmeralda? Tak lain dan tak bukan karena kaum wanita lebih sering menggunakan otak kanan daripada otak kirinya. Kemampuan mereka melihat banyak hal dari berbagai sudut pandang ini, nih, yang membuat wanita menjadi lebih sensitif dan baperan daripada pria.

Nah… setelah memahami asal mula kebaperan yang kerap terjadi pada diri wanita, ada baiknya kita juga belajar bareng yuk, bagaimana tips untuk menghindari rasa baper yang berkelanjutan. Kamu pasti tahu kan, generasi zaman now paling suka sama yang namanya baper dan ambyar-ambyaran. Padahal, ini bukanlah sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk dipelihara, apalagi dikembangbiakkan 🙂 Apalagi kalau kamu sudah menjadi seorang istri atau seorang ibu dengan tanggung jawab yang lebih besar dari sebelumnya. Baper itu membawa keresahan, dan bisa jadi berujung pada penyesalan. Dan penyesalan (beranda-andai) itu menurut sebuah hadis dapat membuka jalan untuk tipu daya setan.

“Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: ‘Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian’ namun katakanlah: ‘Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan’ karena berandai-andai membuka tipuan setan...” (HR. Muslim 2664)

5 tips di bawah ini biasanya saya lakukan apabila kebaperan mendadak datang tanpa diduga. Mungkin kamu nanti juga bisa menambahkan tips lainnya, ya,…

1. Tarik napas panjang, tahan sejenak dan hembuskan perlahan

Percaya atau tidak, cara ini efektif bekerja apabila rasa baper mulai menyapa. Tidak hanya saat baper saja, menarik napas dan menahannya sejenak ini juga bisa kamu lakukan ketika sedang berada dalam posisi gugup, grogi, deg-degan, takut, dan berbagai perasaan tidak nyaman lainnya.

2. Berusaha berpikir positif dan menghindari prasangka

Tidak mudah memang. Pada saat baper menghadang, awalnya pasti berat menghilangkan segala pikiran negatif yang mendadak datang bertubi-tubi, membuat pandangan dan pikiran terasa gelap. Tapi, mau tak mau kita harus mengontrolnya, karena belum tentu apa yang menjadi prasangkamu benar-benar terjadi sesuai apa yang disangkakan. Jadi, daripada sibuk berpikir negatif, kenapa tidak kamu balik prasangkamu menjadi sesuatu yang positif? Ucapkan doa terbaik dan netralkan hatimu agar rasa baper tidak berlebihan menguasai diri.

3. Belajar lebih jujur dan mengakui apa adanya

Perasaan hati yang sensitif dan sering terbawa perasaan ada kalanya terjadi karena kita kurang jujur terhadap diri sendiri. Terlalu banyak memendam perasaan dan asyik bermain dengan pikiran sendiri bisa menjadi penyebab baper yang berkelanjutan. Coba deh, kamu tulis daftar keinginan yang kamu harapkan, alias pencapaian diri yang kamu inginkan, di kertas atau buku catatan secara detail dan terperinci. Ini dapat melegakan dan mengurangi beban perasaan yang ada di hatimu.

4. Sibukkan diri dengan banyak aktivitas

Ketika baper melanda, jangan biarkan diri makin terpuruk dan terluka dengan berdiam diri di dalam kamar sambil mendengarkan lagu-lagu ambyar. Percayalah, kamu akan semakin menderita dan merasa tak berharga. Sibukkan diri dan pikiranmu dengan berbagai aktivitas yang mampu mengisi ruang kosong di dalam hati agar pikiran terfokus pada kegiatan tertentu.

5. Cari teman dan komunitas yang memotivasi

Berkumpul dengan para sahabat dan komunitas yang positif dan membangun motivasi diri, baik secara online ataupun offline merupakan obat hati yang tak ternilai harganya. Tahukah kamu bahwa di dalam alam semesta ini banyak sekali frekuensi yang berseliweran, baik yang tinggi maupun yang rendah. Sama seperti antena televisi yang hanya dapat menangkap sinyal yang sesuai level frekuensinya, manusia pun juga demikian. Jika ingin mendapatkan frekueni (energi) yang baik, kamu pun harus berusaha mencari lingkungan dan teman-teman yang baik agar dapat terus memperbaiki diri.

Itu dia beberapa hal yang biasa saya lakukan apabila baper mulai melanda. Sebenarnya terbawa perasaan ini adalah sesuatu yang wajar, karena kita kan manusia, bukan robot. Cuma menjadi enggak wajar bila kemudian terus berkembang dan seolah dibesar-besarkan. Bukankah kita dikaruniai akal dan pikiran untuk meminimalisir segala hal yang negatif dan tak baik bagi tubuh kita?

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Perjalanan Inspiratif ke Lombok bersama BTPN Syariah

Suasana pantai Senggigi dari halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Memori masa kecil tentang Lombok tak akan pernah hilang dari ingatan. Pulau ini adalah tanah kelahiran yang banyak merekam jejak historis masa kecil dan pra remaja seorang Hastin Pratiwi. Meski darah yang mengalir di tubuh saya adalah darah asli Ngayogyokarto Hadiningrat, tapi jangan heran jika beberapa bagian diri, termasuk indera pengecap dan aksen bicara masih sering bercampur baur dengan segala sesuatu yang berbau suku Sasak di Lombok 🙂 Makanan masih suka yang asin dan pedas, logat bicara pun sama sekali tak mencerminkan layaknya seorang putri Kraton yang lemah lembut dan gemulai 😀

By the way, pulau Lombok ini terakhir saya kunjungi sekitar 3 tahun yang lalu, pada pertengahan tahun 2016, saat gempa dahsyat belum sempat mengguncang. Maka ketika 4 hari yang lalu saya mendapat tugas mendadak dari BTPN Syariah untuk berkunjung ke pulau ini, speechless sekali rasanya. Ini seperti impian dan passion yang terwujud, bisa ke Lombok lagi untuk sesuatu yang inspiratif, setelah adanya musibah gempa tahun 2018 lalu. Terus, bagaimana kisah seru perjalanan berharga selama 2 hari ini? Yukk… baca terus, deh… Insya Allah kamu enggak bakalan bosan, apalagi bete, karena banyak pembelajaran yang akan kita dapatkan.

Ada Apa dengan BTPN Syariah dan Gempa Lombok 2018?

Mungkin belum banyak teman-teman yang tahu tentang visi dan misi PT Bank Tabungan Pensiunan Negara Syariah, Tbk alias BTPN Syariah. Saya pun awalnya mengira bank ini sama saja dengan bank lainnya, terutama dalam hal pembiayaan bagi nasabahnya. Tapi ternyata tidak demikian. Perjalanan inspiratif ini membuat saya tersadar, “Oooohh…. ada juga ya bank yang seperti ini…

Jadi, BTPN Syariah ini sejak tahun 2010 ternyata menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang fokus menggalang dana dari keluarga sejahtera untuk disalurkan kepada keluarga prasejahtera produktif, khususnya dengan tujuan pemberdayaan kaum perempuan.

Kenapa harus perempuan yang diberdayakan oleh BTPN Syariah? Iyappp… karena perempuan dianggap sebagai individu yang sangat berpengaruh dalam sebuah keluarga, terutama dalam hal pendidikan anak dan pengelolaan keuangan keluarga.

Nah, pentingnya pendidikan anak melalui pembangunan sekolah yang berbasis pendidikan akhlak dan karakter inilah yang dibidik oleh BTPN Syariah agar angka probabilitas kesejahteraan keluarga juga ikut meningkat. Salah satu perwujudannya adalah dengan melakukan renovasi gedung sekolah TK dan SD Aisyiah yang terletak di kota kecamatan Ampenan dan mengalami kerusakan parah akibat musibah gempa tahun lalu. Masya Allah, flashback banget jadinya, karena kota pelabuhan tua ini adalah kota kelahiran saya.

Menurut Kepala Sekolah SD Aisyiah 2 ibu Sri Rahmatiah, gedung SD Aisyiah ini sebelumnya kondisinya sangat memprihatinkan karena tak terjamah bantuan dari luar. Atapnya hanya ditutupi jerami dan sekat dindingnya hanya menggunakan triplek. Terkadang, bahkan ada ayam yang masuk ke dalam ruangan kelas untuk ikut “belajar” *hiksss…

Pihak BTPN Syariah kemudian memilih sekolah ini dari beberapa sekolah lainnya untuk dilakukan renovasi dan pembangunan aula baru dari hasil pengumpulan dana bantuan gempa para #BankirPemberdaya, yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 12 November 2019 ini.

Gedung sekolah baru SD Aisyiah 2 Ampenan, Kota Mataram

 

Gedung aula baru hasil donasi gempa karyawan BTPN Syariah

 

Ruang kelas baru di SD Aisyiah 2

Diungkapkan oleh Ainul Yaqin selaku Communication Head BTPN Syariah, untuk ke depannya BTPN Syariah akan terus mengembangkan visinya. Bukan hanya sekadar melakukan pembangunan infrastruktur saja, tetapi terdapat tujuan lain yang berkelanjutan dari renovasi gedung sekolah dan pembangunan aula ini. Bukan hanya para siswa yang bertumbuh, tapi juga guru serta masyarakat sekitarnya juga harus dapat berkembang. Salah satu caranya adalah memanfaatkan aula sekolah untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti penyuluhan kesehatan, tips pola hidup yang baik, pengasuhan anak, dan lain sebagainya. Intinya, ada niat baik yang ingin diwujudkan bagi kebaikan sesama.

Kunjungan ke Tempat Nasabah Inspiratif

Kunjungan saya ke pulau pedas ini memang cuma satu hari saja, tapi Alhamdulillah, banyak sekali ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan. 

Hari Kamis tanggal 7 November saya berangkat dari Yogyakarta dengan pesawat jam 06.00 pagi. Transit dahulu di Surabaya selama 2 jam, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke  Bandara Internasional Lombok yang waktu tempuhnya sekitar 1 jam dari Surabaya. Sekitar jam 12.00 siang pesawat landing di Bandara Lombok dan saya sudah dijemput oleh driver dari tim BTPN Syariah.  Kemudian kami langsung menuju lokasi sekolah bantuan gempa di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Sampai di sekolah tersebut saya bertemu dengan banyak teman-teman media lainnya, baik dari wilayah NTB maupun dari Jakarta. Sebagian besar mereka adalah wartawan khusus bidang Ekonomi yang ditugaskan mewakili medianya masing-masing.

Usai acara liputan di TK dan SD Aisyiah Ampenan, kami makan siang sejenak di sebuah resto dengan arsitektur rumah Belanda kuno. Namanya “Roemah Langko“. Ini kali kedua saya mengunjungi resto ini, karena 3 tahun yang lalu juga pernah datang ke sini. Jadi tugas ke Lombok ini benar-benar seperti flashback 3 tahun yang lalu… 🙂

Selesai acara makan siang, perjalanan liputan dilanjutkan ke Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Ada seorang nasabah BTPN Syariah yang sangat inspiratif di kecamatan ini, namanya ibu Rehani. Beliau adalah seorang pengepul rajungan yang berhasil menjadi perempuan pemberdaya di desanya.

Ibu Rehani, perempuan pengepul rajungan di Kec. Lembar, Lombok Barat

Berawal dari modal pinjaman ke BTPN Syariah sebesar Rp 3 juta saja, ibu Rehani yang telah ditinggal wafat suaminya dan hidup bersama 2 orang anaknya, dalam waktu 4 tahun terakhir berhasil memfasilitasi para nelayan di daerahnya dengan membelikan alat bubu (jaring) agar para nelayan dapat menangkap rajungan dan menyetorkan hasilnya kepada ibu Rehani. Bukan itu saja. Ibu Rehani juga berhasil memberdayakan para istri nelayan untuk bekerja membantu pengolahan daging rajungan di rumahnya.

Rajungan yang sudah dimasak dan diletakkan di dalam es agar tetap segar. Penyimpanan menggunakan es lebih awet daripada cooler.

 

Rajungan yang sudah diambil dagingnya

Setiap hari ia membeli 1 kuintal rajungan dan melakukan pengiriman rajungan ke beberapa pemasok besar di Surabaya, untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Siapa sangka, dengan wajah dan tutur kata beliau yang polos dan penuturan bahasa Indonesia yang agak tercampur dengan bahasa Sasak, beliau sudah sering berhubungan bisnis dengan para pemasok dan distributor besar. Dalam 1 bulan ibu Rehani biasa melakukan 6x pengiriman, di mana setiap 1x pengiriman rajungan keuntungannya sekitar Rp 3juta. Jadi silakan hitung saja sendiri ya, berapa omsetnya dalam 1 bulan. Luarrrr byasakkk, bukan? Lucunya, ibu Rehani ini aslinya buta huruf dan tidak dapat membaca, lo. Beliau justru menjadi paham tulis-menulis setelah menekuni bisnis rajungan ini. 

Bertemu dengan Community Officer Inspiratif

Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00 WITA saat kami ke luar dari rumah ibu Rehani. Rencananya perjalanan akan langsung dilanjutkan menuju “Menega“, sebuah tempat makan di pinggir pantai untuk menyaksikan indahnya view matahari terbenam di area pantai Senggigi. Ada 2 mobil yang terpisah saat itu. Saya bersama Mas Sofyan (seorang teman wartawan dari Kabupaten Bima) dan Bapak Ainul Yaqin, (Communication Head BTPN Syariah) di mobil yang lebih kecil. Sementara rombongan wartawan lain berada di mobil yang lebih besar. Mobil yang lebih kecil memutuskan check in ke hotel terlebih dahulu, sementara mobil satunya langsung menuju ke Menega. 

Halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Syukurlah, kesempatan singgah di hotel ini saya gunakan untuk memercikkan air ke badan dulu sejenak, berhubung badan sudah terasa lengket karena sejak berangkat dari Yogyakarta jam 4 pagi belum bersih-bersih lagi. Kami semua diberi kehormatan oleh BTPN Syariah menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort, salah satu hotel berbentuk resort bintang 5 di kawasan Senggigi, Lombok Barat. Sebenarnya, begitu masuk kamar dan melihat tempat tidur putih bersih rasanya sih pengen langsung ndlosoran kwkwkwk….. tapi apa daya, acara berikutnya sudah menunggu. Saya hanya sempat mengambil dokumentasi video senja hari di halaman belakang hotel sejenak, kemudian mandi. Setelah itu berusaha menyemangati mata yang mulai berat… “Ayoooo…. kalau cuma mau tidur ngapain jauh-jauh ke Lombok?” heheheee….

Jam 19.30 WITA kami menuju Menega dan bertemu dengan teman-teman lain yang sudah menunggu di sana. Satu meja panjang di tepi pantai sudah digelar. Ada sekitar 10-12 orang saat itu. Di sekelilingnya banyak pedagang suvenir menggelar dagangan mereka, dari mulai aksesoris khas mutiara, kaos, kain, dan barang-barang tradisional lainnya.  Harganya pun ternyata lebih murah, lo, dibandingkan membeli di pusat kerajinannya langsung.  Sayangnya, saya lupa untuk mengabadikan momen indah di Menega ini. 

Nah, di Menega ini, kami diberikan kesempatan bertemu dengan seorang Community Officer (C.O) BTPN Syariah. CO ini bahasa bisnisnya kalau di dunia pemasaran adalah seorang Account Officer (marketer) yang merupakan lini terdepan bank untuk bertemu dengan para nasabah.  Uniknya, tim CO BTPN Syariah ini dinamakan Melati Putih Bangsa. Mereka adalah para lulusan SMA/SMK yang dididik untuk dapat memotivasi dan memberikan ilmu kepada nasabah prasejahtera, baik tentang kesehatan, manajemen keuangan, kedisipinan, dll.

Di sinilah letak perbedaan antara #BankirPemberdaya BTPN Syariah dengan bankir dari institusi perbankan yang lain. #BankirPemberdaya BTPNS diharapkan dapat menjadi teladan bagi para nasabah prasejahtera mereka dalam hal kedisiplinan, motivasi, percaya diri, dan berbagai hal positif lainnya. Bukan hanya saya yang salut dengan cara kerja bisnis pembiayaan dari BTPN Syariah ini, teman-teman wartawan lain pun merasa kagum dan baru kali ini menemui hal seperti ini. 

Tim CO inspiratif yang bertemu dengan kami malam itu adalah seorang gadis manis bernama Nining (Ni Wayan Suryaningsih). Gadis asli Bali yang telah 4 tahun menjadi CO ini menjelaskan perjuangannya menjalani profesi yang dicintainya. Meskipun bukan seorang muslimah, tidak menjadi penghalang baginya untuk bekerja di bank yang menggunakan sistem syariah. Bahkan ada beberapa nasabahnya yang juga bukan seorang muslim. Dan mereka juga tidak masalah dengan adanya sistem syariah yang digunakan oleh BTPNS.

Dari mbak Nining ini saya belajar banyak tentang BTPN Syariah. Betapa bank ini sangat memerhatikan karyawannya, mulai dari lini terbawah sekalipun. Para CO yang seluruhnya perempuan ini disediakan wisma khusus di daerah yang dekat dengan lokasi nasabah prasejahtera mereka. Kendaraan pun khusus kendaraan manual, tidak boleh menggunakan kendaraan matic, karena medan yang dihadapi cukup berat, harus masuk ke berbagai pelosok desa.

Community Officer bertemu dengan nasabah prasejahtera (Foto: BTPNSyariah.com)

Ketika ditanya, apa yang membuat para nasabah prasejahtera tertarik menabung dan melakukan pinjaman di BTPN Syariah? Dijawab oleh mbak Nining, karena para CO fokus kepada pelayanan terbaik bagi nasabah prasejahteranya. Bukan hanya menarik uang sja, tetapi lebih dari itu, para nasabah juga diberikan tips khusus, seperti tips cara mengatur keuangan, tips kesehatan, bahkan ada yang meminta diberitahu tips tentang rambut beruban 🙂 Intinya, para CO ini seperti tempat curhat dan menjadi seorang guru/leader bagi para nasabahnya.

Nining juga bercerita, dari 4 tahun menjalani profesi CO ini ia sudah berhasil mencicil rumah untuk kedua orang tuanya dan membiayai kuliah adiknya. Saat ini ia sedang dalam masa promosi untuk menjadi seorang SCO (Senior Community Officer), jabatan yang lebih tinggi lagi di atas CO. Kita doakan bersama ya, mbak Nining dapat terus berprestasi dalam profesinya ini.

Malam itu saya kembali ke hotel dengan membawa banyak memori berharga. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam saya sudah bertemu dengan aneka karakter manusia dan profesi mereka masing-masing. Dan semuanya sungguh inspiratif sekali. Dari mereka semua saya banyak belajar bahwa perjuangan hidup saya belumlah seberapa dan tak ada apa-apanya dibanding mereka.

Saya (no. 2 dari kiri) bersama teman media dan tim BTPN Syariah. Terima kasih BTPNS… (Foto; dok. Rony/Harian Nusa)

Terima kasih BTPN Syariah atas kesempatan yang diberikan. Saya belajar banyak hal tentang sisi lain perbankan syariah dari institusi ini. Bukan sekadar berfokus pada pembangunan yang bersifat materi saja, tapi jauh di balik itu ada tanggung jawab moral mengubah mental dan karakter para nasabah prasejahtera dan keluarganya menjadi lebih berdaya guna.  Luar biasa….

Baca Juga

Review Buku Hijrah Journey, Kala Cahaya Hijrah Menyapa

Buku Hijrah Journey, kerjasama antara IIDN, Indscript Writing dan penerbit Najmu Books

Entah sudah berapa lama saya bergabung dalam grup Facebook “Ibu-Ibu Doyan Nulis” alias IIDN. Mungkin sejak tahun 2016 kalau tidak salah. Atau 2015? Entahlah….

Yang pasti, saya hanyalah sebagai seorang silent reader saja di grup itu, tanpa pernah ada keberanian mengirimkan tulisan atau kisah apa pun. Padahal, banyak anggota grup lainnya yang tentunya lebih senior, sering membagikan karya mereka di situ.

Saya mulai bangun dari “tidur” yang lama, ketika kemudian ada informasi lowongan penulis artikel untuk sebuah platform online (UC News) yang diumumkan di grup Facebook IIDN. Merasa punya basic menulis naskah berita, akhirnya saya pun mendaftar, dimasukkan ke dalam grup WA khusus, kemudian akhirnya berlanjut menulis di platform UC News sejak November 2017.

Berawal dari situ, Allah mempertemukan dengan banyak jalan rezeki baru yang seolah menahan saya untuk tetap berada di jalur ini, enggak lagi menoleh ke mana-mana, hahhaaahaa…. Yup, passion lama yang terpendam sejak zaman SD mungkin, kemudian terasah saat kuliah di jurusan Komunikasi, akhirnya sekarang muncul lagi. Lebih tepatnya “dimunculkan” oleh Allah Swt. Masya Allah…. 🙂

Setelah menjadi penulis artikel di media online, Allah memberikan jalan yang lebih lebar lagi melalui ajakan seorang teman penulis di UC News untuk berkolaborasi membuat buku. Kami yang berjumlah sembilan orang kemudian memutuskan membuat komunitas kecil dengan nama GSM (Geng Salihah Menulis). Berawal dari beberapa kali melahirkan buku antologi bersama GSM inilah saya mulai berani mengirimkan tulisan ke grup IIDN yang saat itu sedang mencari naskah untuk penerbitan buku tentang kisah perjalanan hijrah.

Seingat saya, waktu itu di bulan Februari 2019 dan saya baru menulis naskah sekitar 2 jam sebelum deadline ditutup. Ada drama koneksi internet hilang pula karena hujan deras heheheee… Tapi qadarallah, tepat jam 21.00 saya pun berhasil mengirimkan email ke admin penerbit yang bekerjasama dengan IIDN. Setelah menunggu beberapa minggu, Alhamdulillah, tulisan saya termasuk dalam daftar naskah yang akan dibuat menjadi buku antologi tentang hijrah.

Sekitar bulan Mei, saat bulan Ramadan, buku berjudul Hijrah Journey ini mulai memasuki masa PO (pre order) cetakan pertamanya. Seperti 3 buku sebelumnya yang juga terbit lewat penerbit indie, saya sebagai penulis memang harus mau mempromosikan buku sendiri agar pembaca tahu bahwa ada buku bagus yang harus mereka baca *eeeaaa….

Alhamdulillah, sambutan cukup baik banyak didapat dari teman-teman di dunia maya. Beberapa pembeli dari luar Jawa, seperti Palembang dan Lombok ikut memesan buku ini, termasuk juga teman-teman yang ada di Yogya dan Jawa Tengah. Pengiriman buku dari penerbit Najmu Books di Bandung pun sangat fast respon dan diterima tepat waktu oleh para pembeli.

Kamu pasti kepo kan, apa sih isi buku Hijrah Journey ini? Kenapa pembeli dari luar Jawa sampai memesan bukunya, padahal ongkos kirimnya kan lumayan, tuh 🙂

Cover Hijrah Journey

Sumber: Facebook.com/LaleSriMulya

Pertama kali lihat desain cover-nya, woww… saya dan 25 penulis lain dalam buku ini langsung jatuh cinta. Sosok wanita berhijab yang terkesan sedang merenung dalam jingganya temaram senja. Fix, kami semua mengakui betapa syahdunya cover buku berwarna cokelat ini, cocok dengan temanya.

Isi Hijrah Journey

Buku inspirasi ini memiliki tebal 183 halaman. Ada 26 kisah nyata tentang hijrah yang ditulis oleh 26 orang perempuan yang tergabung dalam Komunitas IIDN. Berbagai macam gaya cerita dan kepenulisan sesuai ciri khas masing-masing penulisnya dapat kamu baca dalam buku ini. Betapa momentum hijrah adalah goresan sejarah yang tidak akan pernah terlupa dalam perjalanan hidup kita. Bila cahaya hidayah menyapa, seseorang seolah terlahir kembali dari rahim ibundanya.

Benarkah Allah itu ada? Benarkah Tuhan yang layak disembah dan satu-satunya itu Allah?

Pikiranku melayang jauh dengan banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepala. Entah siapa yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu hingga mampu memuaskan akalku…

Aku pernah bertanya pada mereka yang aku anggap lebih layak menjawab ini. Lalu apa jawabnya?

“Keyakinan itu untuk diyakini, bukan untuk dipertanyakan…..”

(Lelly Fitriana, “Perjalanan Mencari Kebenaran”)

Bahasa yang mengalir, lembut, dan sesekali cukup menghunjam kesadaran diri, membuat siapa pun yang membaca berbagai kisah hijrah dalam buku ini menjadi merenung dan introspeksi diri kembali apa yang menjadi tujuan kita sebenarnya di dunia ini.

Testimoni dari seorang pembaca di Palembang, mbak SE. Winarni
Testimoni dari pembaca di Lombok

Testimoni dari beberapa pembaca yang membeli buku Hijrah Journey juga sangat melegakan, membuat saya khususnya, semakin termotivasi untuk terus menuliskan kisah-kisah inspirasi yang menggugah motivasi.

Cetakan Kedua Hijrah Journey

Cover belakang Hijrah Journey

Setelah sukses dengan banyaknya pesanan buku ini pada cetakan pertama di bulan Juni lalu, bulan September ini pihak IIDN dan Najmu Books kembali membuka sesi PO cetakan kedua, mulai tanggal 4 sampai 25 September 2019. Alhamdulillah, sudah ada beberapa sahabat yang memesan pada cetakan kedua ini.

Kalau kamu juga ingin memesan buku Hijrah Journey ini, ada promo diskon lo dari harga normal Rp75.000,- menjadi HANYA Rp60.000,- selama PO berlangsung. Harganya memang tak seberapa, tapi insya Allah banyak kisah dalam buku ini yang akan menggugah kegersangan jiwa kita. Silakan hubungi saya jika ingin melakukan pemesanan bukunya, ya!

Semoga Allah memberkahi dan menuntun kita untuk tetap istiqomah di jalan-Nya. Karena istiqomah itu butuh pengingat, dan buku ini dapat menjadi salah satu reminder-nya… Insya Allah…

Baca juga


#ODOP #EstrilookCommunity #Day7

3 Cara Menghindari Fitnah sebagai Seorang Wanita, Sudah Siapkah Kamu?

Image: Google.com

.
Siapa pun tahu bahwa saat ini peran dan aktivitas wanita begitu besar di tengah masyarakat. Hampir semua tugas pria yang tadinya begitu mustahil dilakukan wanita, saat ini menjadi mungkin dikerjakan oleh kaum hawa. Arsitek, petugas keamanan, supir, sampai kepada pekerja bangunan, wanita tetap bisa ambil bagian. Seolah tak ada pekerjaan yang tak mampu kami kerjakan.
.
Namun di balik itu, jangan lupa, bahwa ada kehati-hatian yang harus tetap kita jaga sebagai seorang wanita, terutama bila kita adalah seorang muslimah. Baik sebagai muslimah yang singlelillah, maupun yang telah memiliki pasangan. Akan ada banyak fitnah dan kerusakan yang timbul apabila seorang wanita tidak dapat menjaga diri dan adab dirinya, termasuk rasa malunya.
.
Hal ini telah dikatakan oleh Rasulullah Saw sejak dahulu kala, bahwa di antara fitnah harta, dunia, dan anak-anak, fitnah wanitalah yang paling berbahaya bagi kaum pria.
.
“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740)
.
Berikut beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir adanya fitnah terhadap diri pribadi seorang wanita, khususnya bagi para muslimah. Ini sekaligus sebagai pengingat juga untuk saya, karena sungguh, godaan bagi wanita di akhir zaman ini sangat berat dan tipis sekali batasannya antara yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Apalagi jika kita tidak mau mempelajari lebih dalam lagi.
.
Perbaiki Adab dan Akhlakmu
.
Bukan rahasia lagi bahwa seorang wanita adalah calon ibu dari anak-anaknya. Sekolah pertama bagi buah hatinya. Dan perhiasan terindah bagi suaminya. Maka mutlak diperlukan keindahan akhlak dan adab untuk diwariskan, terutama bagi generasi penerusnya kelak. Tentunya semua butuh waktu dan proses, tidak bisa langsung instan mengubah diri secara sempurna. Maka, belajar dan terus menimba ilmu rasanya menjadi sebuah kewajiban bagi seorang ibu. Bukankah saat ini belajar dapat dilakukan dari mana saja? Kuliah WA, ceramah di FB, kajian live di IG? Masya Allah, semuanya Allah permudah tanpa kita harus keluar rumah.
.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah wanita shalihah…”
(HR. Muslim no 1467)
.
Tutuplah Auratmu
.
Seorang muslimah diwajibkan menutup auratnya agar ia lebih terjaga dari gangguan dan sebagai identitas untuk dirinya. Batasan aurat bagi wanita telah disebutkan di dalam hadis dan beberapa ayat Alquran, yaitu seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan wanita.
.
“Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita, apabila telah baligh (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (Rasulullah berkata seraya menunjuk muka dan telapak tangannya…” (HR. Abu Dawud)
 .
Dalam suatu kajian pernah disebutkan bahwa seorang pria jika diibaratkan adalah seperti kucing yang selalu merindukan ikan asin 🙁
Apabila ia mencium bau ikan asin dari kejauhan, ia akan terus mencari dan mendekati ikan asin itu. Apabila ikan asin dibiarkan terbuka dan sama sekali tidak terjaga, tentunya kucing tersebut akan mudah menemukan dan menyantap ikan tadi. Namun, apabila ikan asinnya dalam keadaan tertutup dalam wadah yang rapat dan terlindungi, kucing tak akan mampu menemukan dan mengoyaknya begitu saja.
.
Begitu pula analogi antara pria sebagai kucing, dan wanita sebagai ikan asin. Sederhana, tetapi cukup masuk di akal. Bahwa hijab kita sebagai penutup aurat setidaknya akan mampu membendung syahwat dari para lawan jenis.
.
“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang….” [QS. Al Ahzab : 59].
.
Di sini jelas disebutkan, “Mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka…” Berarti jilbab yang disyariatkan memang sudah tertulis secara detail ya, man-teman 🙂 Harus panjang dan menutupi seluruh tubuh. Hanya saja kita, *termasuk saya pastinya yang masih jauhhh dari sempurna, kadang sering tergoda menggunakan beragam gaya 🙁 Padahal jilbab yang baik adalah yang sederhana dan tak mengundang banyak lirikan mata.
.
Jagalah Hatimu dan Miliki Rasa Malu
.
Hati adalah cerminan seluruh tubuh. Kebaikan hatimu akan tercermin dalam pikiranmu. Pikiranmu akan muncul dalam lisanmu. Lisanmu akan menampilkan karakter dirimu. Maka pandai-pandailah kita menjaga hati dan mengontrol diri.
.

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati…” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Satu lagi yang mulai terkikis di zaman ini adalah mulai hilangnya perasaan malu. Padahal sesungguhnya, Allah Maha Pemalu, seperti sabda yang Rasulullah Saw ucapkan,

“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Penutup aib, dan mencintai rasa malu dan sikap suka menutup aib…” (HR Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani).

Bahkan yang bikin hati sedikit miris, sempat baca sebaris nasihat di media sosial, bahwa wanita di akhir zaman ini lebih mementingkan kecantikan dan permasalahan jodohnya, daripada menyibukkan diri untuk memperbaiki ilmu agamanya.

Tulisan ini merupakan selfreminder juga buat saya. Semoga kita sebagai muslimah senantiasa Allah jaga dari fitnah dan segala keburukan dunia yang mengakibatkan kehormatan diri menjadi tak berarti lagi.
.
Na’udzubillahimindzalik.
.
#ODOP #EstrilookCommunity #Day2

BTPN Syariah, Fokus pada Pemberdayaan Keluarga Prasejahtera dan Kaum Perempuan Melalui #BankirPemberdaya

 
Kondisi ini menjadi salah satu dasar dari PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah, Tbk atau lebih dikenal dengan sebutan BTPN Syariah untuk kemudian seratus persen memfokuskan diri melayani keluarga prasejahtera produktif dan pemberdayaan kaum perempuan di Indonesia.
Untuk teman-teman  ketahui, BTPN Syariah resmi dibentuk pada 14 Juli 2014. Tapi beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada bulan Maret 2008, BTPN Syariah telah memiliki kantor cabang syariah pertamanya di Bandung dengan 49 orang karyawan. Peresmian kantor cabang pertama di tahun 2008 itu dilakukan setelah membentuk beberapa Unit Usaha Syariah yang bertujuan memenuhi kebutuhan perbankan syariah, mendanai UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) dan menyediakan fasilitas gadai bagi nasabahnya.

Bagi BTPN Syariah, melayani segmen keluarga prasejahtera produktif yang sering disebut dengan istilah “unbankable”  tentunya bukan hal yang mudah. Ini merupakan tantangan, tapi sekaligus juga peluang. Karenanya, BTPN Syariah berusaha menciptakan produk dan memberi layanan yang paling tepat sesuai kebutuhan mereka.

Salah satu lini terdepan yang berperan penting dalam pemberian motivasi kepada para nasabah yang mayoritas adalah kaum perempuan dari keluarga prasejahtera produktif, adalah tim Community Officer BTPN Syariah. CO BTPN Syariah yang terdiri dari para lulusan SMA dan disebut dengan Melati Putih Bangsa ini menjadi role model bagi para nasabah BTPN Syariah agar memiliki sikap Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras dan Saling Bantu (BDKS).

By the way, BTPN Syariah saat ini memiliki 25 cabang di seluruh Indonesia dan 41 Kantor fungsional operasional. Ada sekitar 12.000 Community Officer yang siap mendatangi langsung ke sentra-sentra nasabah di hampir 70% total kecamatan di Indonesia. Tentunya nasabah yang berada di pedesaan sangat terbantu, ya, dengan adanya sistem jemput bola seperti ini.

Dan satu lagi, sebagai bank yang juga menghimpun dana, saat ini ada sekitar 20.000 orang nasabah sejahtera yang menempatkan dana mereka di BTPN Syariah. Nah, hampir 100% dana yang berasal dari nasabah sejahtera tersebut kemudian disalurkan lagi kepada keluarga prasejahtera produktif yang saat ini jumlahnya mencapai 3,6 juta orang nasabah aktif.

Tidak mengherankan jika pada semester pertama tahun 2019 ini BTPN Syariah berhasil mencatatkan pertumbuhan pembiayaan yang sehat sebesar 24%, yaitu dari Rp 6,87 triliun menjadi Rp 8,54 triliun pada periode yang sama di tahun 2018.

Pertumbuhan yang sehat serta berkelanjutan ini tentunya merupakan buah dari konsistensi perusahaan untuk terus memfokuskan diri melayani keluarga prasejahtera produktif sejak tahun 2010.

Saya bersama Ainul Yaqin, Communication Head BTPN Syariah (tengah) dan drg. Decky (kanan). “Do Good Do Well” membuat seluruh insan di BTPN Syariah memiliki satu identitas yang sama, yaitu #bankirpemberdaya.

Seperti disampaikan oleh Ainul Yaqin, Corporate Communication Head BTPN Syariah, prinsip kemanfaatan dan pemberdayaan benar-benar dikedepankan oleh BTPN Syariah, sesuai visi dan misi untuk bersama-sama menciptakan kesempatan tumbuh dan hidup yang lebih berarti, sekaligus menjadi bank syariah terbaik untuk membantu mengubah hidup jutaan rakyat Indonesia.

Keyakinan untuk ‘Do Good Do Well’ (berkinerja baik sekaligus memiliki dampak sosial yang nyata) inilah, yang membuat seluruh insan di BTPN Syariah memiliki satu identitas yang sama, yaitu #bankirpemberdaya.

Ayo… kamu juga bisa lo, berpartisipasi dalam pemberdayaan perempuan dengan segenap potensi dan passion yang kamu miliki! Dengan mengikuti berbagai komunitas yang sesuai dengan passion-mu, baik online maupun offline, dan melakukan banyak hal bermanfaat, insya Allah kita semua bisa benkontribusi demi perbaikan kehidupan yang lebih baik lagi. Setuju?

Perbaiki Hidupmu dengan Cara Memperbaiki Pikiranmu

Sumber : brainwave.co.id

“Berhati-hatilah dengan pikiranmu..”

Pernah mendengar atau membaca kalimat ini?

Ya, tahukah engkau bahwa pikiran kita dapat menjadi SAHABAT atau sebaliknya, menjadi MUSUH bagi kita. Pikiran mungkin terlihat begitu sederhana, tak tampak dan terdefinisi oleh mata, namun ia dapat meluluhlantakkan kehidupan apabila engkau tak kuasa mengontrolnya.

Dikutip dari buku Unleash Your Inner Power with Zen : 50 Kisah Zen untuk Memaksimalkan Potensi Diri, tertulis kalimat berikut

“Berhati-hatilah dengan pikiranmu, karena ia akan menjadi ucapanmu; Berhati-hatilah dengan ucapanmu karena ia akan menjadi tindakanmu; Berhati-hatilah dengan tindakanmu karena ia akan menjadi kebiasaanmu; Berhati-hatilah dengan kebiasaanmu karena ia akan menjadi karaktermu dan; Berhati-hatilah dengan karaktermu karena ia akan menjadi takdirmu..”

Jelaslah bahwa berawal dari pikiran dapat menjelma menjadi sebuah keniscayaan. Menjadi ucapan, tindakan, kebiasaan, karakter, dan akhirnya menjadi sebuah takdir. Sungguh luar biasa, bukan?

Sayangnya, banyak yang belum menyadari bahwa begitu penting untuk membangun sebuah kesadaran dan kekuatan diri yang berasal dari pikiran. Begitu banyak orang yang mengejar sesuatu di luar yang tampak sebagai sebuah materi riil dan dapat digenggam, namun mereka melupakan pembentukan kekuatan yang justru berasal dari dalam diri masing-masing.

Membiasakan diri untuk berpikir BISA, MAMPU, NYAMAN, BERLIMPAH, dan aneka pikiran positif lainnya memang tidak mudah. Perlu proses dan waktu tak sebentar untuk membentuknya. Ibarat seorang bayi, sejak lahir tidak dapat berjalan, sampai akhirnya ia dapat merangkak, berdiri dan kemudian berlari. Apakah engkau pernah lihat si bayi bosan untuk belajar berjalan? Tidak.

Mungkin ia akan menangis sebentar saat terjatuh. Tapi lihatlah, ia akan bangkit kembali dan mengulangi targetnya agar dapat segera berjalan dan berlari. Karena dengan kemampuan berjalan dan berlari ia dapat mandiri menjalani hari-hari bermainnya sendiri. Tanpa tergantung pada orang tua. Tanpa tergantung pada tuntunan orang lain, karena hidup ini sepenuhnya miliknya dan milik Sang Pencipta tentu saja.

Jadi, masihkah enggan memperbaharui pola pikir kita? Masihkah enggan mengisi energi batin kita? Padahal kenyamanan batinmu akan memancarkan seberkas sinar bagi orang-orang di sekelilingmu. Mari bantu dan biarkan mereka tertular oleh virus bahagiamu… 💕

💜💛💚

Tragedi Lion Air JT-610, Antara Cinta, Cita dan Keprihatinan

Satu minggu terakhir….
.
Pemberitaan media begitu sarat dengan tragedi kecelakaan si burung besi Lion Air JT 610 tujuan Jakarta – Pangkal Pinang, yang jatuh di perairan Karawang pada tanggal 29 Oktober 2018 lalu.
.
Pemberitaan ini bahkan mengalahkan berita utama di negeri ini, tentang musibah besar gempa dan tsunami Palu dan Donggala, yang lagi-lagi menjadi musibah ke sekian setelah peristiwa gempa Lombok sekitar 3 bulan yang lalu.
.
Ah, negeriku…
Ada apa dengan dirimu??
.
Bahkan seribu satu pro dan kontra di sosial media takkan mampu mencari tahu apa sebenarnya yang Dia rencanakan di balik semua kejadian ini.
.
.
20181105_011458_0001~01~01~01
.
Kembali pada tragedi jatuhnya pesawat Lion Air…
.
Ingatanku seolah melayang pada masa puluhan tahun silam…
Pada masa kecil dimana naik pesawat masih menjadi sesuatu yang eksklusif, dan beruntungnya, aku telah diberi kenikmatan untuk merasakannya.
.
Bouraq, Merpati, dan tentu saja sang pelopor penerbangan Garuda Indonesia,  adalah sederet nama maskapai yang sangat berjaya pada masa itu.
.
Tiga maskapai tersebut memberikan pelayanan yang istimewa dan sungguh memuaskan. Pilihan makanan dan minuman tersaji lengkap beserta kemasannya yang tampil ekslusif bak suvenir pernikahan. Ah, kenapa tak ada satu pun yang sempat aku dokumentasikan, ya? Betapa sesal kemudian serasa tak berguna.
.
Harga tiket pesawat pada era 80-90an itu mungkin tak ada yang diobral seperti zaman now. Tak ada istilah tiket promo, atau rebutan kursi promo.
.
Bahkan aku ingat, saat berusia 6 tahun, almarhum Bapak pernah mengatakan usiaku masih 5 tahun kepada petugas saat membeli tiket di loket. Tidak lain tidak bukan agar aku boleh duduk di pangkuan Bapak, tanpa harus membeli kursi sendiri. Lumayan bisa menghemat satu orang kan? ^^ Hemm…. ide yang cerdas…
.
Di masa itu jarang sekali ku dengar ada kecelakaan pesawat. Maka ketika tiket pesawat di masa kini semakin banyak diobral, seiring munculnya begitu banyak maskapai baru, dan impian naik pesawat telah menjadi kisah nyata milik semua orang, kenapa justru begitu banyak tragedi kecelakaan mengiringinya?
Bukankah seharusnya segalanya menjadi lebih baik?
.
Alat, sistem, fasilitas, kinerja, dan SDM seharusnya menjadi lebih rapi dan teratur seiring berkembangnya segala kemudahan yang ada.
.
Ahh…. teori dan asal bicara memang terlalu mudah diucapkan, ya Dears 😁
Siapa lah aku yang hanya seorang penumpang, yang saat ini hanya mampu menekan keypad di smartphone untuk sekadar menuliskan sepenggal opini berbasis masa lalu ini.
.
Kalau diizinkan bicara, aku hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya aku mencintai langit, pesawat, dan segala hal berbau angkasa.
.
Cita-citaku dulu ingin menjadi seorang Pramugari dan Astronot. Entah apakah aku cukup cantik atau tidak saat itu heehhee…. tapi terlalu sering melihat mbak-mbak cantik itu di pesawat membuatku ingin menjadi seperti mereka. Sedangkan pilihan menjadi Astonot terpatri di dalam hati, lantaran saat itu sedang booming pemberitaan tentang calon Astronot pertama Indonesia bernama Dr. Pratiwi Sudharmono.
.
Bukankah nama kami sama-sama Pratiwi? Siapa tahu keberuntungan juga memihakku? 😅
.
.
Namun, ketika akhirnya masa remaja tiba dan tinggi badan tak memadai dalam persyaratan menjadi seorang Pramugari, cita-citaku seketika berubah ingin menjadi seorang Diplomat dan Penyiar Televisi. *cukup pilih salah satu, Diplomat atau Penyiar ya, jangan kau duakan cintamu #eeaaa #upss
.
Selanjutnya, aku sudah cukup puas melihat mbak-mbak Pramugari cantik itu setiap kali naik pesawat dan memperhatikan seragam mereka. Sesungguhnya ada sebersit rasa syukur di dalam hati, karena salah satu persyaratan tes menjadi Pramugari yang pernah kubaca adalah harus mengenakan rok di atas lutut. Ah, bukan aku banget itu. Aku terlalu sopan dan pemalu melakukan itu ☺ Tampaknya Dia Yang Maha Mengetahui sudah sangat pas mengatur segalanya, dengan tidak mengizinkanku menjadi seorang cabin crew.
.
Kini ku tahu, tak selamanya sesuatu yang terlihat menyenangkan dan wah selalu indah seperti yang kubayangkan.
Apalagi setelah beberapa hari lalu menyaksikan tayangan di sebuah televisi swasta, tentang wawancara bersama seorang Pramugari yang menjadi salah satu korban dalam kecelakaan maskapai singa terbang ini beberapa tahun yang lalu. Ia bercerita harus menjalani berkali-kali operasi untuk memperbaiki anggota tubuh dan tekstur wajahnya akibat kecelakaan itu, tanpa ada bantuan dari pihak perusahaan. Ia pun menuturkan ketidakjelasan sistem kontrak yang diterapkan, karena ia dan rekan sejawatnya masih terlalu muda saat itu. Bisa diterima sebagai Pramugari dan berkeliling Indonesia dengan pesawat saja sudah merupakan suatu kebanggaan baginya dan teman-teman, tanpa terpikir hal lain terkait perjanjian kerja dan sejenisnya.
.
Miris memang, sekaligus prihatin mendengarnya.
Tapi sekali lagi…
Siapalah aku?
Yang hanya mampu menautkan beberapa rangkai kalimat dalam kenangan akan cita-cita masa lalu.
.
Tapi tak perlu khawatir, aku masih tetap penggemarmu yang dulu.
.
Masih tetap cinta langit, pesawat, dan segala hal yang berbau angkasa… 💕
💜💛💚