Arsip Tag: Cita cita

Perjalanan Inspiratif ke Lombok bersama BTPN Syariah

Suasana pantai Senggigi dari halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Memori masa kecil tentang Lombok tak akan pernah hilang dari ingatan. Pulau ini adalah tanah kelahiran yang banyak merekam jejak historis masa kecil dan pra remaja seorang Hastin Pratiwi. Meski darah yang mengalir di tubuh saya adalah darah asli Ngayogyokarto Hadiningrat, tapi jangan heran jika beberapa bagian diri, termasuk indera pengecap dan aksen bicara masih sering bercampur baur dengan segala sesuatu yang berbau suku Sasak di Lombok ๐Ÿ™‚ Makanan masih suka yang asin dan pedas, logat bicara pun sama sekali tak mencerminkan layaknya seorang putri Kraton yang lemah lembut dan gemulai ๐Ÿ˜€

By the way, pulau Lombok ini terakhir saya kunjungi sekitar 3 tahun yang lalu, pada pertengahan tahun 2016, saat gempa dahsyat belum sempat mengguncang. Maka ketika 4 hari yang lalu saya mendapat tugas mendadak dari BTPN Syariah untuk berkunjung ke pulau ini, speechlessย sekali rasanya. Ini seperti impian dan passion yang terwujud, bisa ke Lombok lagi untuk sesuatu yang inspiratif, setelah adanya musibah gempa tahun 2018 lalu. Terus, bagaimana kisah seru (atau syahdu?) perjalanan berharga yang hanya satu hari ini? Yukkโ€ฆ baca terus, deh… Insya Allah kamu enggak bakalan bosan, apalagi bete, karena banyak pembelajaran yang akan kita dapatkan.

Ada Apa dengan BTPN Syariah dan Gempa Lombok 2018?

Mungkin belum banyak teman-teman yang tahu tentang visi dan misi PT. Bank Tabungan Pensiunan Negara Syariah, Tbk alias BTPN Syariah. Saya pun awalnya mengira bank ini sama saja dengan bank lainnya, terutama dalam hal pembiayaan bagi nasabahnya. Tapi ternyata tidak demikian. Perjalanan inspiratif ini membuat saya tersadar, โ€œOooohhโ€ฆ. ada juga ya bank yang seperti iniโ€ฆโ€

Jadi, BTPN Syariah ini sejak tahun 2010 ternyata menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang fokus menggalang dana dari keluarga sejahtera untuk disalurkan kepada keluarga prasejahtera produktif, khususnya dengan tujuan pemberdayaan kaum perempuan.

Kenapa harus perempuan yang diberdayakan oleh BTPN Syariah? Iyapppโ€ฆ karena perempuan dianggap sebagai individu yang sangat berpengaruh dalam sebuah keluarga, terutama dalam hal pendidikan anak dan pengelolaan keuangan keluarga.

Nah, pentingnya pendidikan anak melalui pembangunan sekolah yang berbasis pendidikan akhlak dan karakter inilah yang dibidik oleh BTPN Syariah agar angka probabilitas kesejahteraan keluarga juga ikut meningkat. Salah satu perwujudannya adalah dengan melakukan renovasi gedung sekolah TK dan SD Aisyiah yang terletak di kota kecamatan Ampenan dan mengalami kerusakan parah akibat musibah gempa tahun lalu. Masya Allah, flashback banget jadinya, karena kota pelabuhan tua ini adalah kota kelahiran saya.

Menurut Kepala Sekolah SD Aisyiah 2 ibu Sri Rahmatiah, gedung SD Aisyiah ini sebelumnya kondisinya sangat memprihatinkan karena tak terjamah bantuan dari luar. Atapnya hanya ditutupi jerami dan sekat dindingnya hanya menggunakan triplek. Terkadang, bahkan ada ayam yang masuk ke dalam ruangan kelas untuk ikut “belajar” *hiksss…

Pihak BTPN Syariah kemudian memilih sekolah ini dari beberapa sekolah lainnya untuk dilakukan renovasi dan pembangunan aula baru dari hasil pengumpulan dana bantuan gempa para #BankirPemberdaya, yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 12 November 2019 ini.

Gedung sekolah baru SD Aisyiah 2 Ampenan, Kota Mataram

ย 

Gedung aula baru hasil donasi gempa karyawan BTPN Syariah

ย 

Ruang kelas baru di SD Aisyiah 2

Diungkapkan oleh Ainul Yaqin selaku Communication Head BTPN Syariah, untuk ke depannya BTPN Syariah akan terus mengembangkan visinya. Bukan hanya sekadar melakukan pembangunan infrastruktur saja, tetapi terdapat tujuan lain yang berkelanjutan dari renovasi gedung sekolah dan pembangunan aula ini. Bukan hanya para siswa yang bertumbuh, tapi juga guru serta masyarakat sekitarnya juga harus dapat berkembang. Salah satu caranya adalah memanfaatkan aula sekolah untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti penyuluhan kesehatan, tips pola hidup yang baik, pengasuhan anak, dan lain sebagainya. Intinya, ada niat baik yang ingin diwujudkan bagi kebaikan sesama.

Kunjungan ke Tempat Nasabah Inspiratif

Kunjungan saya ke pulau pedas ini memang cuma satu hari saja, tapi Alhamdulillah, banyak sekali ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan.ย 

Hari Kamis tanggal 7 November saya berangkat dari Yogyakarta dengan pesawat jam 06.00 pagi. Transit dahulu di Surabaya selama 2 jam, baru kemudian melanjutkan perjalanan keย  Bandara Internasional Lombok yang waktu tempuhnya sekitar 1 jam dari Surabaya. Sekitar jam 12.00 siang pesawat landing di Bandara Lombok dan saya sudah dijemput oleh driver dari tim BTPN Syariah.ย  Kemudian kami langsung menuju lokasi sekolah bantuan gempa di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Sampai di sekolah tersebut saya bertemu dengan banyak teman-teman media lainnya, baik dari wilayah NTB maupun dari Jakarta. Sebagian besar mereka adalah wartawan khusus bidang Ekonomi yang ditugaskan mewakili medianya masing-masing.

Usai acara liputan di TK dan SD Aisyiah Ampenan, kami makan siang sejenak di sebuah resto dengan arsitektur rumah Belanda kuno. Namanya “Roemah Langko“. Ini kali kedua saya mengunjungi resto ini, karena 3 tahun yang lalu juga pernah datang ke sini. Jadi tugas ke Lombok ini benar-benar seperti flashbackย 3 tahun yang lalu… ๐Ÿ™‚

Selesai acara makan siang, perjalanan liputan dilanjutkan ke Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Ada seorang nasabah BTPN Syariah yang sangat inspiratif di kecamatan ini, namanya ibu Rehani. Beliau adalah seorang pengepul rajungan yang berhasil menjadi perempuan pemberdaya di desanya.

Ibu Rehani, perempuan pengepul rajungan di Kec. Lembar, Lombok Barat

Berawal dari modal pinjaman ke BTPN Syariah sebesar Rp 3 juta saja, ibu Rehani yang telah ditinggal wafat suaminya dan hidup bersama 2 orang anaknya, dalam waktu 4 tahun terakhir berhasil memfasilitasi para nelayan di daerahnya dengan membelikan alat bubu (jaring) agar para nelayan dapat menangkap rajungan dan menyetorkan hasilnya kepada ibu Rehani. Bukan itu saja. Ibu Rehani juga berhasil memberdayakan para istri nelayan untuk bekerja membantu pengolahan daging rajungan di rumahnya.

Rajungan yang sudah dimasak dan diletakkan di dalam es agar tetap segar. Penyimpanan menggunakan es lebih awet daripada cooler.

ย 

Rajungan yang sudah diambil dagingnya

Setiap hari ia membeli 1 kuintal rajungan dan melakukan pengiriman rajungan ke beberapa pemasok besar di Surabaya, untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Siapa sangka, dengan wajah dan tutur kata beliau yang polos dan penuturan bahasa Indonesia yang agak tercampur dengan bahasa Sasak, beliau sudah sering berhubungan bisnis dengan para pemasok dan distributor besar. Dalam 1 bulan ibu Rehani biasa melakukan 6x pengiriman, di mana setiap 1x pengiriman rajungan keuntungannya sekitar Rp 3juta. Jadi silakan hitung saja sendiri ya, berapa omsetnya dalam 1 bulan. Luarrrr byasakkk, bukan? Lucunya, ibu Rehani ini aslinya buta huruf dan tidak dapat membaca, lo. Beliau justru menjadi paham tulis-menulis setelah menekuni bisnis rajungan ini.ย 

Bertemu dengan Community Officer Inspiratif

Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00 WITA saat kami ke luar dari rumah ibu Rehani. Rencananya perjalanan akan langsung dilanjutkan menuju “Menega“, sebuah tempat makan di pinggir pantai untuk menyaksikan indahnya view matahari terbenam di area pantai Senggigi. Ada 2 mobil yang terpisah saat itu. Saya bersama mas Sofyan (seorang teman wartawan dari Bima) dan bapak Ainul Yaqin, (Communication Head BTPN Syariah) di mobil yang lebih kecil. Sementara rombongan wartawan lain berada di mobil yang lebih besar. Mobil yang lebih kecil memutuskan check in ke hotel terlebih dahulu, sementara mobil satunya langsung menuju ke Menega.ย 

Halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Syukurlah, kesempatan singgah di hotel ini saya gunakan untuk memercikkan air ke badan dulu sejenak, berhubung badan sudah terasa lengket karena sejak berangkat dari Yogyakarta jam 4 pagi tadi belum bersih-bersih lagi. Kami semua diberi kehormatan oleh BTPN Syariah menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort, salah satu hotel berbentuk resort bintang 5 di kawasan Senggigi, Lombok Barat. Sebenarnya begitu masuk kamar dan melihat tempat tidur putih bersih rasanya sih pengen langsung ndlosoran kwkwkwk….. tapi apa daya acara berikutnya sudah menunggu. Saya hanya sempat mengambil dokumentasi video senja hari di halaman belakang hotel sejenak, kemudian mandi. Setelah itu berusaha menyemangati mata yang mulai berat… “Ayoooo…. kalau cuma mau tidur ngapain jauh-jauh ke Lombok?” heheheee….

Jam 19.30 WITA kami menuju Menega dan bertemu dengan teman-teman lain yang sudah menunggu di sana. Satu meja panjang di tepi pantai sudah digelar. Ada sekitar 10-12 orang saat itu. Di sekelilingnya banyak pedagang suvenir menggelar dagangan mereka, dari mulai aksesoris khas mutiara, kaos, kain, dan barang-barang tradisional lainnya.ย  Harganya pun ternyata lebih murah, lo, dibandingkan membeli di pusat kerajinannya langsung.ย  Sayangnya, saya lupa untuk mengabadikan momen indah di Menega ini. Entahlah apa yang merasukiku sehingga melupakanmu… *tsahhh

Nah, di Menega ini, kami diberikan kesempatan bertemu dengan seorang Community Officer (C.O) BTPN Syariah. CO ini bahasa bisnisnya kalau di dunia pemasaran adalah seorang Account Officer (marketer) yang merupakan lini terdepan bank untuk bertemu dengan para nasabah.ย  Uniknya, tim CO BTPN Syariah ini dinamakan Melati Putih Bangsa. Mereka adalah para lulusan SMA/SMK yang dididik untuk dapat memotivasi dan memberikan ilmu kepada nasabah prasejahtera, baik tentang kesehatan, manajemen keuangan, kedisipinan, dll.

Di sinilah letak perbedaan antara #BankirPemberdaya BTPN Syariah dengan bankir dari institusi perbankan yang lain. #BankirPemberdaya BTPNS diharapkan dapat menjadi teladan bagi para nasabah prasejahtera mereka dalam hal kedisiplinan, motivasi, percaya diri, dan berbagai hal positif lainnya. Bukan hanya saya yang salut dengan cara kerja bisnis pembiayaan dari BTPN Syariah ini, teman-teman wartawan lain pun merasa kagum dan baru kali ini menemui hal seperti ini.ย 

Tim CO inspiratif yang bertemu dengan kami malam itu adalah seorang gadis manis bernama Nining (Ni Wayan Suryaningsih). Gadis asli Bali yang telah 4 tahun menjadi CO ini menjelaskan perjuangannya menjalani profesi yang dicintainya. Meskipun bukan seorang muslimah, tidak menjadi penghalang baginya untuk bekerja di bank yang menggunakan sistem syariah. Bahkan ada beberapa nasabahnya yang juga bukan seorang muslim. Dan mereka juga tidak masalah dengan adanya sistem syariah yang digunakan oleh BTPNS.

Dari mbak Nining ini saya belajar banyak tentang BTPN Syariah. Betapa bank ini sangat memerhatikan karyawannya, mulai dari lini terbawah sekalipun. Para CO yang seluruhnya perempuan ini disediakan wisma khusus di daerah yang dekat dengan lokasi nasabah prasejahtera mereka. Kendaraan pun khusus kendaraan manual, tidak boleh menggunakan kendaraan matic, karena medan yang dihadapi cukup berat, harus masuk ke berbagai pelosok desa.

Community Officer bertemu dengan nasabah prasejahtera (Foto: BTPNSyariah.com)

Ketika ditanya, apa yang membuat para nasabah prasejahtera tertarik menabung dan melakukan pinjaman di BTPN Syariah? Dijawab oleh mbak Nining, karena para CO fokus kepada pelayanan terbaik bagi nasabah prasejahteranya. Bukan hanya menarik uang sja, tetapi lebih dari itu, para nasabah juga diberikan tips khusus, seperti tips cara mengatur keuangan, tips kesehatan, bahkan ada yang meminta diberitahu tips tentang rambut beruban ๐Ÿ™‚ Intinya, para CO ini seperti tempat curhat dan menjadi seorang guru/leader bagi para nasabahnya.

Nining juga bercerita, dari 4 tahun menjalani profesi CO ini ia sudah berhasil mencicil rumah untuk kedua orang tuanya dan membiayai kuliah adiknya. Saat ini ia sedang dalam masa promosi untuk menjadi seorang SCO (Senior Community Officer), jabatan yang lebih tinggi lagi di atas CO. Kita doakan bersama ya, mbak Nining dapat terus berprestasi dalam profesinya ini.

Malam itu saya kembali ke hotel dengan membawa banyak memori berharga. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam saya sudah bertemu dengan aneka karakter manusia dan profesi mereka masing-masing. Dan semuanya sungguh inspiratif sekali. Dari mereka semua saya banyak belajar bahwa perjuangan hidup saya belumlah seberapa dan tak ada apa-apanya dibanding mereka.

Saya (no. 2 dari kiri) bersama teman media dan tim BTPN Syariah. Terima kasih BTPNS… (Foto; dok. Rony/Harian Nusa)

Terima kasih BTPN Syariah atas kesempatan yang diberikan. Saya belajar banyak hal tentang sisi lain perbankan syariah dari institusi ini. Bukan sekadar berfokus pada pembangunan yang bersifat materi saja, tapi jauh di balik itu ada tanggung jawab moral mengubah mental dan karakter para nasabah prasejahtera dan keluarganya menjadi lebih berdaya guna.ย  Luar biasa….

Baca Juga

Workshop ALT (Alpha Life Transformation): Pikiran adalah Kunci Kehidupan

Suasana workshop ALT by Meuthia Z Rizki

Serasa masih merinding nulis ini ๐Ÿ™‚

Yup, lagi-lagi, ini impian besar ke sekian yang Allah kabulkan dalam kurun 2 tahun terakhir sejak saya mulai sedikit demi sedikit belajar tentang ilmu mindset dan pemberdayaan diri.

Sahabat dan teman-teman FB yang sering baca postingan di medsos pasti sudah baca beberapa keajaiban yang saya alami sejak tahun 2017. Mulai dari dapat doorprize sepeda motor, bisa pergi umroh + ketemu bunga tulip di negara impian Turki. Habis itu akhirnya kesampaian beli laptop. terus enggak nyangka 9 bulan terakhir ini akhirnya bisa bikin rumah. Dan di bulan Juli ini, 2 hari setelah tanggal kelahiran saya, terwujud deh impian pengen ikut workshop Alpha Life Transformation (ALT) pada tanggal 27 Juli 2019.

Kenapa cuma ikutan workshop begini aja jadi impian sih? Apa pentingnya? heheee…..

Jadi gini, ini berkaitan dengan pengalaman dan pelajaran hidup yang belasan tahun terakhir Allah kasih ke saya. Mungkin dari luar orang melihat saya fine-fine aja. Banyak senyum, jarang ngeluh, status di medsos baik-baik saja ๐Ÿ™‚ Alhamdulillah, mungkin itu karena tipikal saya memang introvert, lebih suka menyimpan sendiri kalau ada masalah dan curhatnya terbatas hanya kepada Allah saja. Kalau pun harus curhat ke orang lain, saya sangat hati-hati memilih orang yang diajak curhat. Bukan apa-apa, sebenarnya ini untuk menghindari adanya kebingungan ketika harus mengambil keputusan. Semakin banyak opini dan nasihat kalau buat saya justru semakin membuat bingung. Makanya lebih aman dan nyaman curhatnya cuma ke Allah aja ๐Ÿ™‚ Lahh…. maafkeun, kenapa ini malah jadi curhat di blog, ya, hehehee

Begitulah, banyak ujian hidup yang Allah berikan sejak lulus kuliah sampai belasan tahun kemudian. Alhamdulillah, saya bisa tetap istiqomah dan tak pernah sedikit pun berburuk sangka kepada-Nya. Entah kenapa, yakinnn aja, ada sesuatu yang “besar” di balik semua ujian itu.

Qadarullah, Allah mulai banyak memberi ilmu dan keajaiban di tahun 2017. Berawal dari menemukan grup dan komunitas online tentang sedekah, pemberdayaan diri, bisnis online, parenting, hingga akhirnya merembet sering ikut kelas online tentang mindset dan pikiran.

Kenapa tertariknya ke masalah mindset? Karena saya enggak mau berbagai masalah dan ujian di masa lalu membuat saya menjadi stres dan depresi. Kalau sampai itu terjadi, yang kasihan dan terkena imbasnya siapa lagi kalau bukan si buah hati?

Jangan lupa bahwa kita ini adalah seorang ibu. Jika ingin memiliki anak yang bahagia, kita sebagai ibu adalah orang pertama yang harus setting pikiran dulu supaya bahagia. Berawal dari bahagia itulah kita bisa menyusun apa langkah-langkah selanjutnya yang ingin dicapai dalam hidup.

Kebayang kan, apa jadinya kalau seorang anak punya ibu yang tiap hari bawaannya baper dan nangis mulu? Nah, saya ingin memperbaiki itu semua agar hidup bisa lebih nyaman, mendidik anak lebih baik, mendampingi ibu saya di masa tuanya dengan lebih sabar, bisa berbagi ilmu kepada orang lain, dan masih banyak lagi manfaat yang ingin saya capai melalui perubahan diri. Dan salah satu jalannya adalah dengan cara mempelajari segala hal yang berhubungan dengan pikiran, karena dia adalah kunci kehidupan. Kita mau baper, mau melow, atau sebaliknya, mau tertawa bahagia dan selalu berkecukupan, itu adalah pilihan kita masing-masing. Pikiran adalah salah satu kunci mewujudkan ketenangan hati yang kita inginkan.

Pikiran Bawah Sadar

Sebenarnya apa yang membedakan diri kita dengan hewan atau binatang? Bukankah sama-sama punya otak juga? Iya, bener. Kita dan hewan sama-sama punya otak, tapi hewan kan enggak punya akal dan pikiran? Padahal Allah Swt menjadikan manusia sebagai makhluk paling tinggi karena dikaruniai akal dan pikiran ini untuk terus berkembang dan memperbaiki diri. Bukan rahasia lagi kan kalau di zaman now orang semakin lupa diri. Berantem di medsos, jelek-jelekin orang lain, disenggol dikit langsung bacok, hiiihhh seremmmm ๐Ÿ™ Kalau kita enggak mampu memfilter pikiran dari hal-hal seperti itu yang sering dilihat setiap hari, bahayaa, gaesss…. Diam-diam bisa masuk ke dalam pikiran bawah sadar kita.

Pikiran itu kalau dianalogikan seperti segelas air putih. Kalau kita beri gula, rasanya akan manis, sebaliknya, kalau dimasukkan kopi rasanya jadi pahit. Jadi sebenarnya kita ini adalah MAJIKAN atau BOS untuk jalan pikiran kita. Tapi lucunya, yang terjadi justu sebaliknya kan? Kita yang sering dikendalikan oleh pikiran ๐Ÿ˜€ Bener apa bener?

By the way busway, menurut bapak psikologi analisis Sigmund Freud, pada dasarnya pikiran terbagi menjadi 3, yaitu pikiran sadar, pikiran prasadar, dan pikiran bawah sadar. Jika digambarkan, bentuknya seperti gunung es, yang bagian bawahnya terendam ke dalam air, sementara ujung atasnya hanya tampak sedikit di atas air. Bagian bawah gunung es yang terendam dalam air inilah yang diibaratkan seperti pikiran bawah sadar dan menguasai hampir 88% isi memori kita.

  1. Pikiran sadar –>> sifat ingatannya hanya sementara (jangka pendek). Ingatan yang muncul sudah disaring oleh sistem stimulus, sehingga sifatnya ringan dan mengalir (tidak menimbulkan sensitivitas mendalam).
  2. Pikiran prasadar –>> batas antara pikiran sadar dan bawah sadar. Peristiwa yang terjadi di sini merupakan gabungan antara keduanya. Bisa muncul dalam bentuk mimpi ketika tidur, atau salah ucap ketika bicara.
  3. Pikiran bawah sadar –>> semua pengalaman sejak lahir hingga dewasa, mulai dari pola pengasuhan orang tua, lingkungan sekitar kita, hingga efek mendengar lagu dan membaca buku, bisa masuk secara tidak sadar ke dalam pikiran ini. Memori inilah yang memengaruhi hampir sebagian besar cara pandang kita terhadap nilai-nilai kehidupan.

Sifat Pikiran Bawah Sadar

  • Bekerja 24 jam nonstop
  • Sangat penurut jika diperintah
  • Bekerja dalam keadaan kita sedang yakin ataupun tidak. Jadi, memang benar bahwa kita harus hati-hati ketika berbicara, karena bisa jadi, apa yang kita ucapkan dan dianggap guyonan ternyata betul-betul terjadi. Ini karena sifat PBS memang demikian, tidak dapat memfilter data yang masuk. Kita sendiri yang harus memastikan data yang masuk hanya yang baik-baik saja.
  • Jika dianalogikan, seperti layaknya handphone. Selama batreinya belum low bat dan ada manusia yang mengendalikannya, dia akan tetap on terus
  • Tidak dapat menghapus data masa lalu (makanya, kamu bisa aja suatu saat inget mantan karena memorinya memang enggak bisa dihapus ๐Ÿ™‚ Tapi, kita bisa kok membuat rasanya menjadi biasa saja dengan cara menetralisir rasa itu). Coba ngakuuu, siapa yang kesulitan move on dari mantan? Boleh konsultasi sama saya, ya, cara biar cepet move on dari masa lalu ๐Ÿ˜€
  • Tidak mengenal kata negatif (tidak, jangan), akan, semoga, mudah-mudahan, karena PBS bersifat pasti

Cara Kerja Pikiran Bawah Sadar

1. Bekerja saat kita sedang rileks

Dulu, waktu belum paham cara PBS bekerja, setiap kali anak saya Lubna main game atau nonton televisi, saya sering memarahi dan memintanya untuk belajar. Apa yang salah dari peristiwa di atas? Bukankah memang seharusnya dia belajar, bukannya sekadar main dan lihat TV? Iyaaa…. sepintas tak ada yang salah dengan omelan saya. Tapi, cara saya memintanya belajar itu yang salah ๐Ÿ™ Kalau saya omelin dia saat sedang asyik melakukan sesuatu, berarti yang masuk ke PBS-nya adalah omelan saya, bukan perintah belajar.

Ternyata, PBS bekerja pada saat seseorang sedang rileks atau menikmati sesuatu. Itu sebabnya kenapa kalau kita nonton film di bioskop kita tetap ingat jalan ceritanya meskipun sudah lewat bertahun-tahun lamanya, sementara pelajaran SMP atau SMA kita bahkan sudah lupa dan tak ingat lagi. Bisa jadi, kita jadi lupa pelajaran sekolah karena saat itu sedang dalam keadaan sadar, tegang dan tidak menikmati sama sekali.

Nah, setelah paham cara PBS bekerja, ketika menasihati Lubna, saya memilih melakukannya sambil bercerita, bukan lagi dengan omelan ๐Ÿ˜€ Entah saat dia sedang asyik menggambar, saat kami sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, atau saat dia sedang membaca buku, nonton televisi, dan kegiatan santai lainnya.

Saya sendiri sejak akhir tahun 2017 mulai menuliskan semua impian yang diinginkan di sebuah buku tulis, setiap malam menjelang tidur. Saat kondisi rileks dan setengah mengantuk itu juga merupakan salah satu waktu yang tepat gelombang PBS (alfa dan teta) mulai bekerja. Dan ajaibnya, Masya Allah, ketika tahun 2019 ini saya baca ulang, satu per satu impian itu sudah Allah kabulkan, termasuk impian ikut workshop ALT yang baru bisa terwujud tahun ini karena dulu tahun 2017 belum ada rezeki terkumpul untuk mengikutinya.

Ada satu cerita unik lagi, yaitu tentang ketidaksukaan saya terhadap pakaian dan barang-barang berwarna merah ๐Ÿ™‚

Sejak lahir hingga dewasa, di rumah saya memang jarang ada anggota keluarga yang menggunakan pakaian berwarna merah. Jadi wajar jika saya tak pernah suka dengan warna ini, karena tidak ada datanya di memori saya. Tapi lucunya, sejak 3 tahun terakhir, saya berusaha menyukai warna merah setelah ada seorang teman yang berkata, “Coba deh sesekali pakai baju warna merah biar kelihatan fresh dan percaya diri..” Oke, saya coba menghilangkan kebencian terhadap si merah. Hasilnya? Hemm… ternyata berhasil dan jadi keterusan pakai warna merah ๐Ÿ˜€ Asalkan kita pakainya tahu tempat dan waktu, ya, untuk acara-acara yang memang pantas menggunakan warna merah, bukan saat mengunjungi teman yang sedang sedih atau kesusahan.

Meskipun bukan orang yang sangat percaya diri, tapi kalau pakai warna merah memang jadinya terlihat lebih PD aja…
2. Lakukan repetisi (pengulangan)

Selain bekerja dalam keadaan rileks, kita juga harus rajin melakukan repetisi (pengulangan) terhadap si PBS agar apa yang ingin ditanamkan semakin menetap ke dalam PBS. Terapi PBS ini bermanfaat sekali digunakan dalam berbagai hal, seperti parenting yang saya contohkan tadi. Bisa juga untuk program kesehatan (mengurangi berat badan, tambah berat badan), kecantikan, kepercayaan diri, finansial, bisnis dan masih banyak lagi. Kalau kata trainer-nya, Meuthia Z Rizki, gini,

“Udah deh, enggak usah nyari-nyari dukun atau ilmu macem-macem lagi untuk bisa memperbaiki hidup, karena Allah Swt sudah memberikan kita kekuatan dari dalam diri sendiri yang bisa dioptimalkan….” ๐Ÿ™‚

Mba Meuthia Z Rizki (kanan) bersama asistennya (ngareppp) wkwkwk :p
3. Gunakan kalimat yang jelas dan tegas,ย hindariย kataย negatif

Saat membuat kalimat perintah untuk pemrograman PBS, gunakan kalimat yang jelas, tegas dan to the point. Misalnya, “Mulai hari ini dan seterusnya, saya adalah wanita yang sehat, kuat dan bahagia…”

Tuliskan kalimat perintah di kertas/buku dan baca berulang-ulang setiap hari. Setelah 21 hari, tingkatkan lagi menjadi 90 hari sampai kita merasa kalimat tersebut bener-bener nyantol di pikiran. Hindari menggunakan kata negatif seperti: jangan, tidak. Hindari pula kata akan, atau, mudah-mudahan, semoga. Semakin detail apa yang kamu tulis, maka semakin baik agar PBS menangkap jelas apa yang menjadi perintah kita.

4. Visualisasikan

Gambarkan, bayangkan dan rasakan apa yang kita inginkan seolah-olah sudah terjadi. Contoh: saya dulu setiap selesai salat selalu membayangkan sedang ada di depan Ka’bah, menangis sesenggukan sambil khusyuk berdoa. Alhamdulillah, terwujud atas izin Allah seperti apa yang saya bayangkan. Begitu juga waktu pengen ke Turki, dalam bayangan, saya sedang menikmati indahnya Hagia Sophia, Blue Mosque dan ada di tengah kota Istanbul menikmati pemandangan aliran air seperti yang ada di serial Turki di televisi ๐Ÿ˜€ Terkesan lebay mungkin ya, tapi yang terpenting kan tercapai ๐Ÿ™‚

5. Setelah melakukan program di PBS, lupakan dan lepaskan

Ini yang kadang tidak mudah. Setelah melakukan perintah dan pemrograman kepada PBS berulangkali, lupakan dan sibukkan diri kita agar perintah itu terlupakan sejenak. Kalau dianalogikan, ibarat kita melepaskan busur anak panah ke sasarannya. Jika anak panah kita tarik terus-menerus tanpa dilepas, anak panah tersebut tak akan mampu melesat ke sasaran yang diinginkan.

6. Ikuti saja jalannya, meski mungkin terkesan di luar logika

PBS punya cara sendiri untuk menuruti apa yang kita perintahkan. Entah bagaimana caranya, terima saja.

Saya ingat dulu saat punya keinginan membeli laptop. Enggak tahu kenapa, rezeki belum juga bisa terkumpul sejumlah harga laptop ๐Ÿ™‚ Lha… kalau laptop aja enggak kebeli, apalagi mau umroh, gimana caranya? Nah, ternyata Allah memberi jalannya justru terbalik. Allah justru dahulukan impian umroh terwujud daripada membeli laptop. 8 bulan setelah saya umroh, barulah ada seorang sahabat yang tiba-tiba menawarkan laptopnya untuk saya beli, karena dia sayang kalau laptop itu jatuh ke tangan orang lain. Sahabat saya bilang, “Udah mba Tiwi, bawa aja dulu laptop ini. Bayarnya boleh dicicil sesukanya, kok. Harganya searching aja di Google, terserah mba Tiwi…”

Wow, takjub, kan? Terkesan di luar logika, tapi begitulah kalau Allah sudah berkehendak, semuanya mudahhhh aja, termasuk saat impian ikut workshop ALT ini terwujud.

Terus, kalau sudah ikhtiar dan usaha semampunya tapi keinginan kita belum terwujud juga bagaimana? Tidak apa-apa, di situlah Allah meminta kita untuk tawakal dan rida akan ketetapan-Nya. Yang penting kita sudah berusaha maksimal.

Dan Rabbmu berfirman: โ€œBerdoโ€™alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu…”ย (Alย Mu’minย 40 : 60)

Hati-Hati dengan Kata-Kata

Saat workshop kemarin, mba Meuthia Rizki berkata kepada para peserta, “Coba tuliskan apa arti HIDUP di kertas yang ada di hadapan Anda. Saya beri waktu 15 detik!”

Spontan, saya menulis, HIDUP adalah “Bahagia, berlimpah, dan bermanfaat..” Setelah selesai dan dilakukan pembahasan kepada para peserta satu demi satu, ternyata ada yang kurang tepat dari pemahaman saya tentang hidup tadi ๐Ÿ™‚ Mau tahu di mana? Yup, ternyata kata BERMANFAAT yang kurang tepat.

Anda mau selamanya dimanfaatkan?” tanya beliau. Dan ingatan saya pun menyisir perlahan menembus jalan kehidupan beberapa tahun terakhir. Ahhh iyaa…. pantes aja, ada yang kurang tepat dengan program yang nyantol dan terdoktrin di pikiran saya selama beberapa tahun ini. Dan akibatnya juga tak main-main, saya yang akhirnya kelimpungan sendiri.

Ada banyak peserta workshop lain yang definisi kehidupannya mirip seperti saya juga. Ada yang bilang, hidup adalah pengabdian. Hidup adalah perjuangan. Hidup adalah pengorbanan. Ya jangan salahkan jika akhirnya yang terjadi adalah seperti apa yang kita programkan kepada pikiran ๐Ÿ™ Jadi memang harus hati-hati sekali dengan setiap perkataan atau pemahaman yang tertanam di memori kita. Bisa jadi bahasanya terlihat positif dan tinggi, tapi maknanya negatif. Parahnya, diyakini atau tidak, jika kata-kata dan pemahaman negatif itu sudah nyantol di PBS, bisa saja langsung terwujud dan kita tak pernah menyadarinya.

Gitu ya, man-teman, sedikit rangkuman yang saya dapat dari workshop tanggal 27 Juli lalu. Kalau mau ditulis semua bakalan panjanngggg banget, jadi saya ringkas poin-poinnya aja, yang penting kita sudah paham caranya.

Oya, memerintah pikiran sama sekali bukan sulap, apalagi sihir. Sama seperti aktivitas lainnya, semua butuh latihan dan pembiasaan. Coba aja dulu lakukan perintah dari hal-hal yang kecil, baru bertambah kepada keinginan-keinginan yang besar.

Selamat belajar, ya dan teruslah mencoba karena setiap manusia punya kekuatan dari dalam diri yang Allah karuniakan kepada kita. Tak perlu mencari kekuatan dari luar dan percayalah pada diri sendiri. Yuk, ah, praktikkan!

Baca juga:

5 Tips Jitu Mencapai Impian, Praktikkan, yuk!

Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), Istanbul

20 April 2018, satu tahun yang lalu, adalah tanggal keramat dalam kehidupan saya. Wewww… apaan sih pakai keramat-keramatan segala ๐Ÿ˜€ Hehhee… maksudnya, tanggal yang enggak bakalan terlupa seumur hidup, insya Allah.

Hari itu adalah momen di saat Allah mengabulkan impian dan cita-cita yang terpendam sejak SD dulu. Apaan tuh? He em, saya pengennn banget bisa menginjak tanah lain selain tanah air tercinta Indonesia. Sebegitu pengennya, dulu waktu SMA sempat pengen daftar pertukaran pelajar dan beasiswa ke luar negeri, tapi qadarallah selalu ketinggalan info, jadi enggak pernah terwujud terus hingga dewasa *hiksss…

Setelah bekerja, keinginan ke luar negeri mulai beralih bukan sekadar untuk jalan-jalan semata, tapi mulai terfokus ingin sekali bisa melihat Ka’bah dan mengunjungi Rumah-Nya. Entah bagaimana caranya, saya enggak tahu. Kalau dihitung-hitung, duit enggak pernah bisa terkumpul sejumlah biaya yang dibutuhkan. Sedih, ya ๐Ÿ™ Pernah dapat kiriman surat undian berhadiah 60 juta juga. Waktu itu udah ngerasa seneng dan happy aja, rencana buat naik haji. Eeehhh… ternyata penipuan. Hiksss….

Terus, apakah saya ngambek dan enggak pengen ke luar negeri lagi? Alhamdulillah Guys, saya bukan tipe ngambekan gitu. Sebaliknya, saya sangat baik hati dan tidak sombong kwkwk… *nggak nyambung

Selain pengen ke Baitullah, keinginan ke luar negeri berlanjut pengen ke Jepang. Waktu itu sampai bela-belain kursus bahasa Jepang segala demiiii cita-cita yang sudah ada sejak SD ini.

Setelah cita-cita ke Jepang belum terwujud juga, mendadak ada kesempatan nonton bareng film “99 Cahaya di Langit Eropa” bersama penulis novelnya, Hanum Rais. Nah, dari situ deh fokus saya mulai mengembara ke Eropa, terutama Turki dan Spanyol, negara tempat sejarah peradaban Islam banyak terukir. Coba kamu perhatikan, betapa saya begitu banyak maunya, ya ๐Ÿ™‚ Jadi ingat lagu Doraemon, “Aku ingn begini, aku ingin begitu….”

Bersamaan dengan keinginan ke Eropa, di televisi mulai sering ditayangkan serial Turki. Pemain-pemainnya tahu sendirilah ya, cakep-cakep semua, terlihat begitu sempurna. Saat melihat aliran sungai-sungai di kota Istanbul dalam serial televisi itulah, keinginan ke sana muncul kembali lebih kuat, meskipun saya enggak tahu gimana caranya.

Pemahaman tentang cara mewujudkan mimpi mulai saya dapatkan setelah mengikuti seminar motivasi dari si mas motivator Ippho Santosa pada bulan Maret 2017 dan mengikuti kelas online dari seorang coach bernama Mutya Dita di bulan Juli 2017. Waktu itu saya ikuti saja semua yang diajarkan, tanpa banyak komentar. Soal terwujud atau tidak, wallahu a’lam, kita hanya manusia biasa. Ada Allah Yang Maha Pengatur di atas segalanya.

Kamu penasaran bagaimana metode dan caranya? Sebenarnya sederhana aja kok, saya yakin, teman-teman juga sudah melakukan beberapa hal di bawah ini, bukan?

1. Berdoa

Aktivitas satu ini merupakan kewajiban kita setiap hari. Ada ataupun tak ada impian yang ingin diwujudkan, berdoa dan beribadah adalah bentuk rasa syukur kita terhadap kuasa-Nya yang masih memberikan nafas untuk hidup sampai hari ini. Bahkan Allah pun pernah berkata di dalam Alquran,

“Berdoalah, niscaya akan Aku kabulkan….”

Dari kalimat ini saja sebenarnya kita harus YAKIN dengan janji Allah. Kalau pengen sesuatu, bilang ke Dia, mohon dan menangislah seperti seorang bayi yang menangis merengek-rengek minta makanan kepada orang tuanya.

2. Tulis Impianmu Secara Berulang (Repetisi)

Dari dulu saya sering baca cara satu ini, tapi enggak pernah percaya ๐Ÿ˜€ jadi ya gitu deh, enggak pernah dilakukan. Mulai nurut dipraktikkan setelah ikut kelas online.

Ternyata, menulis apa yang kita inginkan erat sekali hubungannya dengan penyimpanan memori di pikiran bawah sadar. Tapi menulisnya harus di kertas lho, ya, secara manual, bukan di hp atau laptop, karena setiap coretan tangan kita merupakan guratan dari otak dan isi pikiran kita. Itu sebabnya kenapa ada ilmu Grafologi (membaca karakter seseorang dari tulisan tangannya) ๐Ÿ™‚

Di kertas, kamu boleh sepuasnya menulis impianmu secara detil mumpung enggak ada yang baca. Lebih baik lagi kalau nulisnya saat pikiran terasa rileks, misalnya menjelang tidur malam, atau sesaat setelah bangun tidur.

Lakukan penulisan impian ini berulang-ulang setiap hari. Untuk kamu yang baru pertama kali melakukan, sebaiknya menulislah minimal 21 hari tanpa terputus. Terus, kalau belum 21 hari udah terputus gimana? Lupa enggak nulis sehari misalnya. Ya terpaksa hitungannya diulang lagi dari hari ke-1 lagi sampai hari ke-21 tanpa terputus ๐Ÿ˜€

Ampunnn, ribet amat ya, mungkin kamu akan berpikir begitu hihii.. Udah deh, just do it, ya, enggak pakai protes kwkwk…

3. Feel It

Feel your dreams… aliasss rasakan impianmu. Dapetin feel-nya.

Kamu pengen ke Baitullah? Bayangin kamu lagi berdoa sambil sesenggukan di depan Ka’bah. Atau bikin paspor dulu, seolah-olah kamu sudah siap berangkat ke sana.

Kamu pengen beli mobil Honda BRV? Tempel gambarnya. Kalau perlu datangi tempat persewaan mobil. Sewa mobil itu beberapa jam biar kamu bisa tahu kayak apa duduk di dalamnya, seperti apa joknya, dashboard-nya, rem, dan gasnya.

Eitss…. tapi ini enggak berlaku kalau kamu cari pasangan halal ya. Jangan sampai deh ada sewa-menyewa begitu sebelum waktunya *hikss… Kalau belum halal jangan dekat-dekat, apalagi disentuh ๐Ÿ™‚ Cukup kamu kagumi aja dari jauh. Datangi rumahnya hanya jika kamu sudah mantap ingin meminangnya ๐Ÿ˜€

4. Memantaskan Diri

Kata-kata ini sering ditulis Ippho Santosa dalam tulisan-tulisannya. Kalau ingin impianmu tercapai, pantaskan diri kita terlebih dahulu. Ingin menjadi seorang ibu, sudah siapkah diri kita menerima amanah berupa seorang anak? Ingin menjadi seorang suami, sudah siapkah kita menjadi seorang imam dan ayah yang baik? Hampir mirip dengan poin nomor 3 tadi ya, rasakan energinya dan tanyakan apakah kamu pantas untuk menerima impian itu.

5. Bersedekah

Sedekah adalah penolak bala dan penarik rezeki. Untuk bersedekah tak perlu menunggu kaya dan banyak duit. Justru setelah kita bersedekah, Allah akan menambah dan memperbanyak rezeki kita.

Bolehlah kamu tak percaya, karena saya pun dulu pernah berada di posisi tak percaya tentang keajaiban sedekah. Ternyata ketidakpercayaan itu Allah balas dengan berbagai bukti nyata yang membuat saya merasa malu dan insyaf. Semoga enggak ada lagi di antara teman-teman yang mengalami ketidakpercayaan dahsyatnya sedekah seperti saya ini, ya…. ๐Ÿ™

Satu ilmu yang saya dapat dari Ippho Santosa adalah, jika kamu punya IMPIAN BESAR, sedekahnya juga harus BESAR, di luar kebiasaan. Beliau mengibaratkan, jika ada seorang pria ingin dapat jodoh wanita yang cantik, putih, dan salihah, tak cukup hanya sedekah 10ribu saja. Boneka Barbie di toko aja harganya ratusan ribu, apalagi pengen dapetin manusia asli, sedekahnya jangan main-main, begitu…. ๐Ÿ˜€

Memang, tak semua orang suka bermimpi. Bahkan ada saja yang menertawakan impian kita. Tapi tak mengapa, karena sebenarnya kita hanya butuh Dia untuk mendampingi, bukan siapa-siapa.

Petinju legendaris Muhammad Ali pernah berkata,

“โ€ฆThe men who has no imagination has no wingsโ€ฆโ€

Orang yang tidak memiliki imajinasi ibarat orang yang tidak memiliki sayap. Mereka tak bisa terbang ke mana-mana. Padahal sejatinya, manusia sering diibaratkan sebagai seorang musafir, alias orang yang terus melakukan perjalanan tiada henti.

Artinya, hidup haruslah terus kita isi dengan pembelajaran baru yang hanya akan berakhir saat kita telah menutup mata, kembali kepada-Nya.

Barakallahu fiikum…

Baca juga

#SETIP_Day13
#SemingguTigaPostingan
#EstrilookCommunity



Tes Sidik Jari (Fingerprint Analysis), Akuratkah?

Wah, ternyata sudah lamaaaa banget enggak nulis tentang parenting di blog ini. Biasanya saya lebih suka cerita di media sosial untuk topik semacam ini, jarang banget pindahin curhatnya ke blog ๐Ÿ™‚

Teman-teman tercinta, semua pasti sepakat bahwa buah hati adalah anugerah bagi orang tua, sekaligus amanah yang harus kita jaga.
Saking sayangnya dengan anak, kita bahkan terkadang lupa bahwa sebenarnya orang tua hanya dititipi, tapi tidak berhak memaksa mereka memilih apa yang kita mau.

Tugas orang tua adalah mengarahkan, membimbing, memberikan batasan-batasan sesuai norma agama dan masyarakat yang berlaku. Sisanya, terus berdoa dan berharap mereka selalu berada di jalan yang benar.

Sebegitu pentingnya peran kita sebagai orang tua dalam membimbing mereka, membuat saya selalu kepo dan bersemangat setiap kali mempelajari segala hal yang berhubungan dengan potensi dan bakat anak. Bukan apa-apa, saya hanya takut jika terlalu egois memaksa anak mengikuti arus yang saya mau. Menuntut Lubna untuk begini, begitu, dan begono, tanpa paham apa sebenarnya keinginannya dan seberapa besar kemampuannya. Apalagi lingkungan di sekitar kita saat ini cenderung memberi keleluasaan ke arah situ ๐Ÿ™‚

Zaman sekarang, banyak orang yang bekerja hanya berdasarkan tujuan mencari penghasilan semata. Mengejar materi, tanpa mampu menikmati rutinitas yang mereka lakukan setiap hari. Akibatnya, banyak yang merasa bosan dan tidak puas dengan diri dan lingkungannya.ย  Benar, bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan mungkin tidak terlalu dibutuhkan yang namanya bakat. Yang penting ada kemauan dan usaha. Tapi lambat laun, jika pekerjaan itu dilakukan atas dasar rasa terpaksa, pasti akan menimbulkan kelelahan psikis dan fisik yang tidak terkira. Akibatnya, rawan terjadi stres, rasa tertekan, emosi yang terpendam, dsb.

Tentunya berbeda jika kita melakukan sesuatu atas dasar bakat dan minat yang disukai,ย  hasilnya lebih maksimal, karena ada rasa SUKA dan CINTA di dalamnya. Tidak ada rasa terpaksa.

Sama juga dengan bakat dan potensi pada anak. Jika bakat dan minat anak dapat kita temukan sedini mungkin, pastinya akan lebih baik. Kelak untuk ke depannya, orang tua tinggal menyelaraskan antara bakat yang sudah terdeteksi dengan minat dan keinginan yang buah hati kita sukai.

Tes bakat pertama yang dilakukan Lubna adalah tes sidik jari pada tahun 2016 lalu, saat menjelang lulus dari TKIT tempatnya belajar. Dilakukan kolektif di sekolah, tes ini belum terlalu lengkap. Hanya sekilas memberi gambaran bagian otak mana yang memiliki kecenderungan dalam diri seorang anak, kiri atau kanan. Plus sedikit informasi mengenai kecenderungannya belajar, apakah audio (pendengaran), kinestetik (bergerak, sentuhan), atau visual (gambar, penglihatan).

Hasil tes sidik jari saat TK

Sewaktu masih TK, bakatnya belum terlalu tampak. Suka mewarnai seperti pada umumnya anak seumurnya, tapi itu pun enggak rapi banget. Kemampuan membaca juga masih sedang, belum terlalu lancar. Saya sendiri tidak terpikir sama sekali untuk memasukkan dia ke tempat les atau penunjang bakat anak pada umumnya, karena sekolahnya sudah full day. Biarlah dia istirahat di rumah setelah seharian eksplorasi di sekolah.

Perkembangannya mulai mengerucut dan makin terlihat setelah duduk di bangku SD. Mulai suka menggambar, tapi sudah tidak hobi mewarnai lagi. Gambarnya cenderung animasi dan polos, tanpa warna.

Kelas 2 SD, seiring perjalanan ibunya yang mulai menekuni dunia menulis di akhir tahun 2017, minat bacanya pun mulai tumbuh. Tergila-gila pada komik dan semua majalah/buku bergambar. Dari yang tadinya suka bermain game di smartphone, Alhamdulillah mulai berkurang dan beralih ke buku bacaan dan corat-corat. Tak terhitung borosnya kertas, buku tulis, dan bolpoin yang sudah habis dia gunakan. Ibunya kadang tak habis pikir dan sempat ngomel berkali-kali melihat keajaiban pemborosan kertas, buku tulis dan bolpoin ini *maklummm emak-emak ๐Ÿ˜€

Aku tak bisa hidup tanpa menggambar, bu…” kata Lubna ๐Ÿ™‚

Tak bisa hidup tanpa menggambar, begitulah motto Lubna.

Tapi sejujurnya, ada satu kebingungan saya saat itu. Dia hobi menggambar dan cenderung berimajinasi tinggi secara visual, suka menulis dan bikin cerita. Bukankah itu otak kanan? Lalu mengapa saat tes sidik jari waktu TK terdeteksinya justru cenderung otak kiri? Apakah ada kesalahan?

Nah, pertanyaan ini saya simpan dulu.

Selanjutnya di hari-hari berikutnya, saya mulai intens ikut kelas online tentang parenting, mindsetย dan self development,ย baik berbayar maupun free di tahun 2017. Saya bahkan tertarik mempelajari ilmu tentang analisa tulisan tangan (Grafologi) juga untuk menganalisa diri sendiri dan bakat anak, meskipun masih tahap basic banget. Dan akhirnya memutuskan enggak lanjut ke tahap berikutnya karena ilmu ini membutuhkan ketelitian dan ketekunan yang sangat luarrr byasakkkkkk ๐Ÿ˜€

Pernah suatu kali sehabis diminta mendeteksi tulisan beberapa orang teman, kepala saya langsung cenut-cenut karena memang butuh energi untuk memeriksanya. Rasanya lelahh banget menganalisa tulisan demi tulian. Mungkin karena saya belum terbiasa, ya, atau ilmunya belum tinggi hihihiii… Tapi memang benar bahwa metode analisa tulisan tangan alias Grafologi ini sangat akurat untuk mengetahui kondisi dan kepribadian seseorang. Bukan hanya dari segi fisik dan potensi yang terbaca. Bahkan dalam hal kondisi psikis, apakah sedang bahagia atau ada masalah kejiwaan yang membuat tertekan, dan penyakit apa yang sedang diderita, semua akan terlihat melalui tulisan tangan kita.

Balik lagi ya ke topik tes sidik jari….

Beberapa hari yang lalu, ada penawaran dari bimbingan belajar tempat Lubna les (by the way busway,ย akhirnya Lubna mau juga ikut les karena dia kurang paham dengan pelajaran matematika di sekolah. Kalau di tempat les katanya jadi paham karena mentor-nya enak kwkwkwk… makanya dia minta dileskan ๐Ÿ˜€ ).

Bimbel tersebut menawarkan tes sidik jari (fingerprint analysis) bagi siswa yang berminat mengetahui potensi, jurusan, dan bidang kerja yang setidaknya tepat dengan bakatnya. Duh, lagi-lagi,… saya mulai kepo dan ingin membandingkan hasil tes saat Lubna TK dulu dengan hasil tes setelah Lubna duduk di kelas 3 SD ini. Apakah sama, atau ada perbedaan? Ya udah, dengan mantap, Lubna tes sidik jari lagi untuk kedua kalinya dengan pemaparan yang lebih detil dari sebelumnya. Hasilnya?

Hasil tes kelas 3 SD

Alhamdulillah, terjawab sudah semuanya. Sejauh ini hasilnya 90% akurat dengan fakta yang tersirat *uhhuk

Yup, ternyata Lubna memang dominan di hampir semua kecerdasan majemuk. Bukan hanya logika matematika dan bahasanya yang menonjol, tapi dalam hal imajinasi dan visual juga ternyata sangat menonjol. Ada keseimbangan antara otak kanan dan kiri di situ. Saat TK dulu, yang terbaca otak kirinya. Dalam perkembangannya, otak kanan juga menonjol, saling bersinergis membentuk potensi yang cukup unik. Logika dan idealismenya yang tinggi membuatnya hobi ngeyel, kepo dan berdebat dengan orang tuanya. Dan ini sudah jadi makanan sehari-hari saya sebagai ibunya ๐Ÿ™‚ Hemmm… jadi geli sendiri setelah membaca hasilnya. Keinginannya memang keukeuh, kuat dan sangat butuh dihormati *halahhh, ndukkk….

Saya ingat ketika dia lulus TK dan akan masuk SD, Lubna ngotot memilih sendiri ingin sekolah di SDIT pilihannya. Enggak mau ke sekolah lainnya ๐Ÿ™‚ Akhirnya dituruti, dengan janji, dia harus semangat dan konsekuen dengan pilihannya. Entah dia paham atau tidak saat itu karena usianya baru 7 tahun, yang jelas, Alhamdulillah, hingga saat ini dia tetap ceria dan bahagia bersekolah. Masya Allah tabarakallah ya, nak…

Lanjutkan membaca Tes Sidik Jari (Fingerprint Analysis), Akuratkah?

Tragedi Lion Air JT-610, Antara Cinta, Cita dan Keprihatinan

Satu minggu terakhir….
.
Pemberitaan media begitu sarat dengan tragedi kecelakaan si burung besi Lion Air JT 610 tujuan Jakarta – Pangkal Pinang, yang jatuh di perairan Karawang pada tanggal 29 Oktober 2018 lalu.
.
Pemberitaan ini bahkan mengalahkan berita utama di negeri ini, tentang musibah besar gempa dan tsunami Palu dan Donggala, yang lagi-lagi menjadi musibah ke sekian setelah peristiwa gempa Lombok sekitar 3 bulan yang lalu.
.
Ah, negeriku…
Ada apa dengan dirimu??
.
Bahkan seribu satu pro dan kontra di sosial media takkan mampu mencari tahu apa sebenarnya yang Dia rencanakan di balik semua kejadian ini.
.
.
20181105_011458_0001~01~01~01
.
Kembali pada tragedi jatuhnya pesawat Lion Air…
.
Ingatanku seolah melayang pada masa puluhan tahun silam…
Pada masa kecil dimana naik pesawat masih menjadi sesuatu yang eksklusif, dan beruntungnya, aku telah diberi kenikmatan untuk merasakannya.
.
Bouraq, Merpati, dan tentu saja sang pelopor penerbangan Garuda Indonesia,ย  adalah sederet nama maskapai yang sangat berjaya pada masa itu.
.
Tiga maskapai tersebut memberikan pelayanan yang istimewa dan sungguh memuaskan. Pilihan makanan dan minuman tersaji lengkap beserta kemasannya yang tampil ekslusif bak suvenir pernikahan. Ah, kenapa tak ada satu pun yang sempat aku dokumentasikan, ya? Betapa sesal kemudian serasa tak berguna.
.
Harga tiket pesawat pada era 80-90an itu mungkin tak ada yang diobral seperti zaman now. Tak ada istilah tiket promo, atau rebutan kursi promo.
.
Bahkan aku ingat, saat berusia 6 tahun, almarhum Bapak pernah mengatakan usiaku masih 5 tahun kepada petugas saat membeli tiket di loket. Tidak lain tidak bukan agar aku boleh duduk di pangkuan Bapak, tanpa harus membeli kursi sendiri. Lumayan bisa menghemat satu orang kan? ^^ Hemm…. ide yang cerdas…
.
Di masa itu jarang sekali ku dengar ada kecelakaan pesawat. Maka ketika tiket pesawat di masa kini semakin banyak diobral, seiring munculnya begitu banyak maskapai baru, dan impian naik pesawat telah menjadi kisah nyata milik semua orang, kenapa justru begitu banyak tragedi kecelakaan mengiringinya?
Bukankah seharusnya segalanya menjadi lebih baik?
.
Alat, sistem, fasilitas, kinerja, dan SDM seharusnya menjadi lebih rapi dan teratur seiring berkembangnya segala kemudahan yang ada.
.
Ahh…. teori dan asal bicara memang terlalu mudah diucapkan, yaย Dearsย ๐Ÿ˜
Siapa lah aku yang hanya seorang penumpang, yang saat ini hanya mampu menekan keypad di smartphoneย untuk sekadar menuliskan sepenggal opini berbasis masa lalu ini.
.
Kalau diizinkan bicara, aku hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya aku mencintai langit, pesawat, dan segala hal berbau angkasa.
.
Cita-citaku dulu ingin menjadi seorang Pramugari dan Astronot. Entah apakah aku cukup cantik atau tidak saat itu heehhee…. tapi terlalu sering melihat mbak-mbak cantik itu di pesawat membuatku ingin menjadi seperti mereka. Sedangkan pilihan menjadi Astonot terpatri di dalam hati, lantaran saat itu sedang booming pemberitaan tentang calon Astronot pertama Indonesia bernama Dr. Pratiwi Sudharmono.
.
Bukankah nama kami sama-sama Pratiwi? Siapa tahu keberuntungan juga memihakku? ๐Ÿ˜…
.
.
Namun, ketika akhirnya masa remaja tiba dan tinggi badan tak memadai dalam persyaratan menjadi seorang Pramugari, cita-citaku seketika berubah ingin menjadi seorang Diplomat dan Penyiar Televisi. *cukup pilih salah satu, Diplomat atau Penyiar ya, jangan kau duakan cintamu #eeaaa #upss
.
Selanjutnya, aku sudah cukup puas melihat mbak-mbak Pramugari cantik itu setiap kali naik pesawat dan memperhatikan seragam mereka. Sesungguhnya ada sebersit rasa syukur di dalam hati, karena salah satu persyaratan tes menjadi Pramugari yang pernah kubaca adalah harus mengenakan rok di atas lutut. Ah, bukan aku banget itu. Aku terlalu sopan dan pemalu melakukan itu โ˜บย Tampaknya Dia Yang Maha Mengetahui sudah sangat pas mengatur segalanya, dengan tidak mengizinkanku menjadi seorang cabin crew.
.
Kini ku tahu, tak selamanya sesuatu yang terlihat menyenangkan dan wah selalu indah seperti yang kubayangkan.
Apalagi setelah beberapa hari lalu menyaksikan tayangan di sebuah televisi swasta, tentang wawancara bersama seorang Pramugari yang menjadi salah satu korban dalam kecelakaan maskapai singa terbang ini beberapa tahun yang lalu. Ia bercerita harus menjalani berkali-kali operasi untuk memperbaiki anggota tubuh dan tekstur wajahnya akibat kecelakaan itu, tanpa ada bantuan dari pihak perusahaan. Ia pun menuturkan ketidakjelasan sistem kontrak yang diterapkan, karena ia dan rekan sejawatnya masih terlalu muda saat itu. Bisa diterima sebagai Pramugari dan berkeliling Indonesia dengan pesawat saja sudah merupakan suatu kebanggaan baginya dan teman-teman, tanpa terpikir hal lain terkait perjanjian kerja dan sejenisnya.
.
Miris memang, sekaligus prihatin mendengarnya.
Tapi sekali lagi…
Siapalah aku?
Yang hanya mampu menautkan beberapa rangkai kalimat dalam kenangan akan cita-cita masa lalu.
.
Tapi tak perlu khawatir, aku masih tetap penggemarmu yang dulu.
.
Masih tetap cinta langit, pesawat, dan segala hal yang berbau angkasa… ๐Ÿ’•
๐Ÿ’œ๐Ÿ’›๐Ÿ’š