Arsip Tag: Tempat wisata

Jogja Airport Resto, Uniknya Wisata Kuliner di Dalam Kabin Pesawat

Unik dan megah. Itu kesan pertama yang saya tangkap ketika menginjakkan kaki di halaman Jogja Airport Resto. Tempat makan unik seluas kurang lebih 2 hektare yang di tengahnya terdapat 2 badan pesawat asli ini tampak begitu mencolok di tengah area persawahan yang terletak di jalan Kadirojo I, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Letaknya pun cukup dekat dengan Candi Sambisari dan Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Jika kamu sedang berada di pusat kota Malioboro atau Tugu Yogya, perjalanan menuju Jogja Airport Resto ini dapat kamu tempuh dengan jarak kurang lebih 10 kilometer ke arah timur kota Yogyakarta, menuju Jl. Raya Yogya – Solo.

Interior Jogja Airport Resto

Begitu memasuki area parkir di halaman restoran ini, kamu akan langsung melihat badan pesawat asli yang dilukis dengan gambar berwarna-warni sehingga menarik mata pengunjung yang datang, terutama anak-anak. Ada 2 badan pesawat asli di halaman resto ini, yaitu di sebelah selatan dekat pintu masuk menuju parkiran dan di sebelah utara dekat Selokan Mataram.

By the way, Selokan Mataram adalah saluran berupa selokan yang berada di bagian utara Yogyakarta, memanjang dari arah barat ke timur.Β  Selokan ini dibangun pada masa penjajahan Jepang untuk membantu pengairan ratusan hektare sawah pada masa itu. Nah, Jogja Airport Resto ini terletak di pinggir selokan yang merupakan daerah strategis dan banyak dilalui oleh kendaraan bermotor.

Sebelum naik ke dalam restoran di kabin pesawat, layaknya penumpang di bandara yang sesungguhnya, kamu harus melalui pintu X-Ray terlebih dahulu dan melakukan pemesanan menu di meja Kasir yang dibuat sedemikian rupa seperti meja check in di bandara. Setelah melakukan pemesanan menu, pengunjung dapat langsung menaiki tangga yang telah disediakan untuk menuju lorong panjang (garbarata) yang seolah-olah menghubungkan gedung bandara dan kabin pesawat. Kamu boleh memilih ingin menaiki pesawat di sisi sebelah utara garbarata, atau pesawat satunya lagi yang terletak di sebelah selatan garbarata.

Pintu masuk menuju ruangan pemesanan menu. Mirip dengan pintu masuk bandara kan? Ada pintu pemeriksaan X-Ray segala (dok. pribadi)
Meja check in yang berfungsi sebagai meja pemesanan menu & meja kasir (dok. pribadi)
Lorong garbarata yang menghubungkan ruang pemesanan menu dengan kabin pesawat (dok. pribadi)

.

Seluruh area restoran ini jika diperhatikan tampak begitu sempurna dengan konsep lengkap seperti bandara yang sesungguhnya. Saat memasuki pintu pesawat, kamu akan disambut oleh staf pramugari dan dipersilakan masuk ke pesawat untuk memilih kursi yang kamu inginkan. Deretan kursi di sisi sebelah kiri dan kanan kabin tampak rapi dan mewah, dilengkapi dengan meja makan di tengah kursi yang saling berhadapan. Wow… angan-angan saya pun melayang, seperti sedang melakukan penerbangan beneran πŸ˜€

Berasa ada di pesawat jet pribadi ya heheee…. (dok. pribadi)

.

Selamat datang di kabin pesawat pribadi πŸ™‚ (dok. pribadi)

Menu Makanan

Ini nih yang ditunggu-tunggu πŸ˜€ Apa saja menu makanan yang ada di resto ini?

Ternyata menunya cukup lengkap, lo, Guys, mulai dari menu lokal semacam tahu/tempe bacem, urap, sambal goreng,Β  sampai menu western berupa aneka pasta, kentang goreng, steak, dan sejenisnya. Agar lebih hemat, kamu dapat memesan makanan berupa paket untuk 4 orang terlebih dahulu seharga Rp 170.000,00 (sudah termasuk nasi, lauk, sayur, minuman) dan dapat dilanjutkan dengan menu ala carte (menu satuan) sesuai pilihan masing-masing. Harga makanan dan minuman ala carte dibandrol mulai harga Rp 20.000,00 ke atas dengan berbagai pilihan sajian, seperti Chicken Crispy Steak, Sup Gurameh, Sup Tomyam, dll. Untuk masalah cita rasa, tak perlu khawatir, karena makanan di sini rasanya endessss semua….

Paket makanan untuk 4 orang, sudah termasuk minuman. Kamu tinggal tambah pesanan satuan klo yang ini masih dirasa kurang (dok. pribadi)

.

Endessss….. (dok. pribadi)

Oya… pada saat makan pun kamu akan merasakan suasana seperti sedang naik pesawat beneran. Beberapa pelayan yang menggunakan seragam pramugari/pramugara sekali waktu akan berjalan di sepanjang koridor kabin pesawat. Efek audio berupa suara mesin pesawat tak lupa juga diperdengarkan agar pengunjung restoran merasa sedang terbang di antara awan dan bintang-bintang πŸ˜€ Pada saat tertentu, tak lupa dimunculkan pula suara mbak pramugari melalui speakerphone bahwa pesawat akan segera mendarat dan penumpang diminta mengenakan sabuk pengaman πŸ™‚

Untuk kamu yang belum pernah naik pesawat, terutama anak-anak, tempat makan ini recommended sekali sebagai sarana latihan agar akrab dengan semua peralatan yang ada di kabin pesawat. Kamu dapat belajar menggunakan sabuk pengaman, mengecilkan/mematikan AC di atas kepala, mengetahui letak pintu darurat saat pesawat sedang bermasalah, dan belajar mengetahui bagian-bagian pesawat lainnya.

Pintu darurat. Anak-anak bisa belajar banyak hal di restoran ini (dok. pribadi)

Setelah selesai menyantap hidangan di kabin, pengunjung dipersilakan turun dari pintu bagian depan pesawat yang langsung terhubung dengan halaman dan taman di area Jogja Airport Resto ini. Jangan lupa ya, saat menuruni tangga, kamu dapat berswafoto sejenak di tangga turun pesawat sambil membayangkan pesawat itu adalah pesawat pribadimu. Hemmm…. sungguh pengalaman wisata kuliner yang unik dan menyenangkan.

Tangga turun pesawat (dok. pribadi)

Jadi, Kapan Kamu ke Jogja, Guys?

Jogja Airport Resto hanya salah satu bagian kecil dari banyaknya objek wisata yang dimilki kota Yogyakarta. Ragam keramahan dan kecantikan budayanya, masyarakatnya, kulinernya, wisata belanjanya, dan liburan murah meriahnya merupakan satu paket istimewa yang tak dapat dipisahkan dari kota ini. Sebagai destinasi tujuan wisata utama selain Bali, Yogyakarta terus berbenah diri dengan semakin banyaknya masyarakat pendatang dari luar kota. Baik dengan tujuan sekadar berwisata, atau tujuan mulia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, semuanya ada di kota ini.

Untuk kamu yang menginginkan akses mudah dan murah pemesanan tiket pesawat ke Yogyakarta, Pegipegi adalah tempatnya. Sejak 7 Mei 2012, Pegipegi berkomitmen menjadi sahabat yang menyenangkan bagi para traveler.Β Dengan koneksi lebih dari 25.000 rute penerbangan, hotel, serta lebih dari 2800 jadwal perjalanan kereta api, kamu dapat mengaksesnya dengan mudah lewat web Pegipegi.com, atau langsung dari aplikasi yang tersedia di smartphone.

Caranya simpel banget. Kamu tinggal klik link tiket pesawat ke Yogyakarta ini, lalu pilih kota asal dan kota tujuan keberangkatan. Masukkan tanggal keberangkatan (dan tanggal pulang sekaligus apabila kamu berniat memesan tiket PP). Terakhir, masukkan jumlah penumpang, lalu klik tulisan “Cari Tiket”. Daftar rute penerbangan, jam keberangkatan dan harga tiket akan muncul untuk kamu sesuaikan dengan jam keberangkatan dan budget yang dimiliki. Sangat mudah, bukan?

Masih bingung dan belum yakin memilih tanggal keberangkatan? Tak perlu khawatir, karena Pegipegi menyediakan layanan Customer Service 24 jam yang dapat membantu mengatasi kesulitanmu. Tunggu apalagi? Kuyyy lahΒ main dan liburan ke Jogja, Guys!

3 Alasan Kenapa Kamu Harus Tinggal di Yogyakarta

Kadang, saya suka bingung sendiri…Β 

Saya sudah tinggal di kota pelajar Yogyakarta ini kalau nggak salah ingat sejak pertengahan tahun 1993. Waww… udah lama juga, ya? Hampir 16 ehhh 26 tahun ternyataaa 😱 ckckckck… kenapa baru sadar sekarang Ya Allah… πŸ™ˆ 

Sebelum tinggal di Yogya, saya tinggal nomaden alias berpindah-pindah tempat di beberapa kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat. Setiap 2 sampai 5 tahun sekali biasanya orang tua selalu mendapat surat tugas dari instansinya untuk pindah ke kabupaten lain, meskipun masih di seputaran NTB. Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Kotamadya Mataram, sampai ke pelosok Kabupaten Bima yang panas dan kering kerontang di Pulau Sumbawa pernah saya rasakan. Mungkinnn ini yang menyebabkan saya agak nggak PD kalau ngaku sebagai “wanita Jawa”. Padahal, sudah jelas dan terbukti bahwa Ibu dan Almarhum Bapak adalah orang Yogya tulen. Aselikkk… πŸ˜…

Kembali ke laptop..!!

Meskipun hampir 26 tahun tinggal di kota Gudeg ini, jangan harap mendengarkan saya bicara bahasa Jawa melipis dan alusss bak Puteri Kraton. Seringnya, orang Yogya yang ketemu saya pasti tanya, “ Mbak aslinya orang mana, sih?” Nah, ketauan kannn, kalau saya bukan penduduk asli Yogya. Dari logat dan cara bicaranya aja beda 😁 Saya bisanya cuma bahasa Jawa ngoko, alias bahasa sehari-hari macam “Piye kabare, mbakyu?” (Gimana kabarnya, kak?), “Jenengmu sopo?” (Namamu siapa?). Bahasa ngoko ini untuk teman/saudara yang seumuran. 

Ada lagi bahasa yang levelnya lebih tinggi, yaitu bahasa kromo alus (bahasa untuk orang yang lebih tua atau baru kenal), macam “Asmane panjenengan sinten?” (Nama Anda siapa?), “Pripun kabare panjenengan, sae tho?” (Bagaimana kabar Anda, baik kan?)

Nah, kalau bahasa kromo ini saya agak kesulitan menjawab. Apalagi kalau yang bertanya adalah orang yang umurnya lebih tua. Daripada salah jawab dan takut tercampur dengan bahasa sehari-hari (ngoko), lebih baik pakai bahasa Indonesia saja jawabnya. Itulah sebabnya, saya jadi malu ngaku-ngaku jadi orang Yogya,Β wongΒ bahasa Jawanya aja belepotan macam es krim gitu.

Tapi, meski saya malu dan nggak PD ngaku sebagai orang Yogya, aslinya saya mah cintaaa banget sama kota ini. Iyaa, kota ini banyak mengajarkan saya tentang sopan santun dan etika bergaul terhadap sesama. Tahulah ya, namanya tinggal di luar Jawa sejak lahir dan sering pindah tempat, saya nggak terlalu paham budaya setempat. Mulai ngerti belajar tata krama yang sesungguhnya, ya, di Yogya ini. Sampai kebiasaan memanggil orang dengan sebutan “Mas dan Mbak” untuk menghormati mereka yang baru kita kenal dan belum tahu namanya, semua ada etikanya.

Nah, sekarang saya mau nularin kecintaan terhadap Yogyakarta ini untuk kamu yang baca tulisan ini. Ada 3 alasan yang bakal saya jabarkan, kenapa sebaiknya kamu harus tinggal di kota Gudeg ini. Doakan, yess,Β  tulisan ini nggak bikin saya diprotes sama orang sekota Gudeg karena ngerasa sebel kota mereka bakal lebih penuhhh dan macet kalau ketambahan penduduk baru lagi…. 🀣

Biaya Hidup Murah

Yuhuuu… udah bukan rahasia lagi, mah, ini! Yogya memiliki standar biaya hidup yang lebih murah daripada kota wisata lainnya di Indonesia. Es jeruk di sini masih ada yang Rp3.000 perak, Guys! Gorengan di pasar desa deket rumah masih ada yang Rp500, dhab! Kagak boleh ngiri deh ya yang nggak tinggal di sini, kalau mau ngirit, yuk, tinggal di Yogya aja! πŸ˜…

Sayur Rp3.000 udah bisa buat makan sehari, bukk! Dan ini yang bikin saya makin maless masak. Lhaa,… beli sayur segitu aja sehari belum tentu habis dimakan. Udah ngirit gas, irit bumbu, bawang putih, bawang merah, cabe. Kita tinggal goreng lauk tahu, tempe, telur, perkedel. Apalagi yang mau dipermasalahkan? Toh, makanan kalau udah lewat dari leher nggak kerasa lagi kan enaknya? Output-nya jadi sama aja #upsss πŸ™ˆ Maaff maaff… ini adalah salah satu isi ceramah dalam kajian seorang ustadz, bahwa makanan mahal itu sebenarnya tak berharga, karena setelah lewat dari leher dia akan menjadi sama bentuknya dengan makanan yang murah. Bener, kan?

Masyarakatnya Ramah dan Sederhana

Ini yang di awal tadi saya tulis, bahwa Yogya adalah kota yang memiliki peradaban, sopan santun dan etika. Terlepas saat ini semakin banyak percampuran budaya ada di kota ini, akibat banyaknya pendatang baru yang selalu meningkat setiap tahunnya, tapi sopan santun, terutama di pedesaan, masih cukup kuat. 

Di kota ini, jangan pernah melihat seseorang dari penampilannya. Mahasiswa naik sepeda, itu sudah biasa. Kepandaian dan kualitas seseorang di kota ini tak dapat kita nilai dari penampilannya. Di desa, mungkin kamu akan melihat sepertinya masyarakatnya hidup apa adanya, cuma dari bertanam padi atau cabe. Padahal kalau kita cari tahu lagi, ada di antara mereka yang dalam satu keluarga memiliki ternak sapi 3-4 ekor. Kalau 1 ekor sapi yang kecil saja laku dijual 17-20juta, berarti silakan total berapa sebenarnya kekayaan mereka. Belum lagi jika panen cabe sedang tepat masa naiknya, sekali panen bisa dapat 1 sepeda motor matic, lho! Tapi itulah, mereka tetap biasa saja. Punya tidak punya ya tetap humble, rendah hati, merasa bukan siapa-siapa. Inilah NILAI MAHAL yang saya pelajari dari mereka.

Banyak Tempat Wisata Cantik dan Kuliner Nusantara Lengkap

Ini juga bukan rahasia lagi. Saat ini makin banyak tempat wisata instagramable yang tentu saja cantik, kekinian, plus murah meriah untuk memuaskan naluri dan nafsu berfotomu *ampunn bahasanya πŸ˜†

Tempat kulineran juga nggak mau kalah. Sajian khas dari Sabang sampai Merauke ada di sini. Mi Aceh, pempek Palembang, soto Banjar, teh tarik Melayu, sate Padang, nasi goreng Medan, es pisang ijo, palu butung, coto Makassar, martabak Bandung, ketoprak Jakarta, nasi rawon Madiun.. hemmm… hati-hati, kolesterol naik kalau tinggal di sini 🀣

Nggak heran, ada beberapa teman wanita yang tetap tinggal di Yogya bersama anak-anaknya, sementara suami mereka bekerja di luar kota Gudeg ini. Ada yang hanya berbeda pulau saja, tapi banyak juga yang LDR-an berbeda negara alias si suami bekerja di luar negeri. Ada beberapa alasan kenapa mereka memilih LDR-an. Selain kondisi Yogyakarta yang dianggap lebih kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan pendidikan anak-anak mereka, hematnya biaya hidup di kota ini juga menjadi salah satu alasan lainnya.

Nah, udah cukup yak, 3 alasan tadi sudah sangat mewakili kenapa kamu harus tinggal di Yogyakarta. Tolong jangan lempari saya pakai bakpia Incess Syahrini, atau cake Jogja Scrummy-nya Dude Harlino, atau kue Mamah ke Jogja-nya Zaskia Mecca, dan juga cake Chussy Cheese-nya Ria Richis, plisss, karena telah mengompori para imigran untuk pindah ke kota ini 😁

Mungkin ada di antara kamu yang mau menambahkan alasan lagi, kenapa harus tinggal di Jogja Istimewa ini? πŸ’•
.

πŸ’œπŸ’™πŸ’š