Arsip Tag: Tips Parenting

Stay at Home Membosankan untuk Anak? Kata Siapa?

Duhhh … maafkeun yaa, jangan kesel dong baca judul di atas, kwkwkwk …. Stay at home membosankan untuk anak? Kata siapa? *eeeaaaaa, kayak nantangin orang aja 🀭

Okeee … kalau dihitung-hitung, sudah sekitar empat bulan ini masa pandemi menghantui kehidupan kita. Dimulai sejak awal Maret 2020 lalu, hingga kini semuanya belum bisa dikatakan berjalan normal. Bolehlah pemerintah melakukan launching new normal, tapi faktanya, semua belum bisa dikatakan demikan.

Di Yogyakarta sendiri, pasien Corona terus bertambah menjadi 331 orang. Jumlahnya memang lumayan rendah dibanding kota dan provinsi lain di Indonesia, tapi hampir setiap hari selalu saja ada penambahan.

Tanggal 5 Juli 2020 saja, tercatat ada penambahan 5 kasus positif COVID-19 di provinsi ini dengan rata-rata riwayat pasien terinfeksi setelah melakukan perjalanan ke luar daerah, seperti dilansir portal berita Harian Jogja, 05/07/2020. Jadi wajar dong ya, kalau sampai detik ini saya belum merasa aman ke luar rumah untuk piknik dan jalan-jalan, apalagi sambil membawa anak untuk makan di luar. Duh, enggak dulu, deh!

Sekadar belanja ke toko dekat rumah, atau jalan pagi di sawah sekitar rumah masih oke, sih. Tapi itu pun biasanya saya lakukan sendiri, tanpa membawa anggota keluarga. Terlalu parno? Enggak juga sebenarnya. Cuma waspada aja …. πŸ™‚

Keluhan pertama dari warga +62 sejak pandemi ini merebak mungkin sama, ya, yaitu bosan, boring, gabut, galau, stres, dan kata-kata sejenis yang memang enggak enak banget disebutin qiqiqiiii. Apalagi dengan adanya school from home, aduhhhh … kerjaan emak bertambah. Orang tua yang selama ini happy aja melepas anaknya sekolah sampai sore, termasuk saya, apalah daya, harus mendampingi anak belajar di rumah setiap hari.

Tapi bersyukurnya, anak saya nyaman aja melakukan pembelajaran dari rumah dan kewajiban stay at home ini. Kadang saya sempat khawatir juga dengan info di media sosial yang mengatakan banyak anak merasa stres dan tertekan dengan situasi ini. Saking khawatirnya, saya pernah bertanya kepada Lubna, apakah dia merasa enggak nyaman stay at home terus? Jawabannya, alhamdulillah, dia oke-oke aja. Kangen teman-teman iya, tapi kalau sampai stres alhamdulillah enggak.

Apa sih yang kami lakukan di rumah sehingga meminimalisir kebosanan anak melakukan aktivitasnya setiap hari? Lima aktivitas Lubna di rumah ini mungkin bisa membantu. Tentu saja, harus disesuaikan dengan minat dan bakat buah hati kita masing-masing, ya. πŸ™‚

Menonton Televisi

Untuk sebagian orang, aktivitas ini mungkin tidak dianjurkan dilakukan. Tapi untuk Lubna yang saat ini mulai naik ke kelas 5, aktivitas ini menjadi salah satu kebutuhannya. Bukan salah dia, karena sejak kecil memang sudah terlanjur sering melihat kartun di televisi. Kalau mau menyalahkan, salahkan orang tuanya ya, hahahaaaa …. Apalagi dia anak yang sangat visual dan imajinatif banget. Tertarik dengan gambar, info dan aneka bentuk yang menarik. Jangan heran jika dia sangat tahu perkembangan berita terkini tentang pemerintahan, sampai kepada gosip artis. Bahkan lebih paham info-info ngehits daripada ibunya, kwkwkwk.

Menggambari Buku Tulis

Aneh? Iya, saya juga geleng-geleng kepala melihat fenomena ini. Semua buku tulisnya selama stay at home ini habis digambari, sampai-sampai ketika ada tugas dari sekolah secara online yang mengharuskan ditulis di buku, dia bingung harus menulis di mana karena buku tulis simpanannya ternyata habis semua. Duhhhh, Nakkk ….

Membaca Komik

Alhamdulillah, membaca menjadi salah satu hobinya, terutama sejak kelas 3 SD. Hal ini membuat saya mulai sering mengajaknya ke perpustakaan daerah Grhatama Pustaka untuk membaca buku-buku anak dan mengurangi aktivitas ke mal. Sejak pandemi, aktivitas ke perpustakaan ini belum bisa dilakukan lagi. Sebagai gantinya, kadang-kadang saya mengizinkannya membeli komik di toko online, atau sekali waktu browsing tentang anime di internet. Tentu saja, tetap dalam pengawasan karena Lubna adalah tipikal anak yang kepoan, heheeee ….

Menulis Blog

Nah, di masa pandemi, aktivitas Lubna menulis blog mengalami peningkatan. Bahkan ngalah-ngalahin ibunya, kwkwkwk …. Blog Lubnahasqi.blogspot.com ini dibuat satu tahun lalu, tapi jarang diisi. Setelah stay at home, hampir beberapa hari sekali blog itu selalu diisi Lubna. Enggak sampai di situ, dia mulai kepo bagaimana cara agar blognya bisa dimonetisasi oleh Google AdSense, tapi saya belum mengizinkannya qiqiqiiii. Pokoknya kalau nurutin Lubna, maunya jadi seleb aja deh, Dia seneng banget kalau ada yang baca atau komen di blognya. πŸ˜€

Menulis Buku Antologi

Buku pertama Lubna, My Mom ❀

Alhamdulillah, di akhir bulan Juni kemarin, terwujud juga keinginan Lubna menulis buku, meskipun masih berupa buku antologi bersama 13 anak lainnya. Awalnya, dia menolak ketika ibunya ini menawarkan untuk ikut menulis buku antologi berjudul My Mom. Jiwa idealismenya berontak. “Aku maunya nulis cerita komik, bukan buku biasa …” πŸ˜€ Lalu, saya nasihati bahwa semua itu pasti butuh proses, enggak bisa instan. Bikin buku satu dulu, deh, untuk batu loncatan. Setelah itu kalau mau coba bikin komik dan kirim ke penerbit mayor boleh aja. Akhirnya, setelah dimotivasi, taraaaa …. terbit juga buku pertamanya.

Setelah itu, saya pikir Lubna udah enggak mau bikin buku lagi, ehhh ternyataaaa saya salah. Dia ketagihan pengen bikin buku antologi yang ke-2, insya Allah di bulan Agustus …. πŸ™‚ Bismillah, selama ada kesempatan ikuti aja jalannya ya, Nak!

Belajar Ilmu Dubbing (Mengisi Suara)

Ada satu keinginan Lubna yang sejak dulu sering diucapkan kepada saya. “Bu, aku pengennnn banget jadi pengisi suara kartun….” Saya sempat berpikir, kok sama ya dengan keinginan ibunya dulu? Saya pernah punya cita-cita pengen jadi dubber alias pengisi suara, tapi enggak tahu gimana cara mewujudkannya *hiksss. Zaman kuliah dulu yang saya ingat, saya pernah beberapa kali menjadi pengisi narasi (voice over) saat membuat video dokumenter bersama teman-teman untuk kepentingan mata kuliah di jurusan Komunikasi. Tapi setelah itu, enggak tahu bagaimana cara mengembangkannya. Terlebih setelah sadar bahwa suara saya ini cempreng dan enggak enak didengar πŸ˜…

Alhamdulillah, enggak nyangka, keinginan Lubna belajar menjadi seorang dubber ini Allah beri kemudahan juga. Insya Allah, pertengahan bulan Juli dia akan mengikuti pembelajaran dubbing untuk anak secara online di bawah bimbingan seorang mentor, yang sekaligus adalah seorang penyiar radio di Yogyakarta. Mohon doanya ya, Om, Tante dan kakak-kakak yang baca tulisan ini. Semoga semua proses pembelajarannya lancar-lancar aja. Aamiin.

Main Game dan Bikin Video

Jujur, sebenarnya saya termasuk tipe orang tua yang sangat membatasi penggunaan gadget untuk anak. Dibanding orang tua lain di sekolahnya, saya termasuk ketat soal ini karena sangat paham dengan pemikiran Lubna yang selalu ingin tahu dengan banyak hal di sekitarnya, termasuk di dunia maya. Kalau ada keluhan dari Lubna, “Kok aku enggak seperti teman-teman lain yang dibebaskan menggunakan gadget?” saya maklum sekali. Tapi saya percaya, setiap orang tua pasti tahu bagaimana karakter anak dan cara menghadapinya.

Saya mengizinkannya berinteraksi dengan dunia online, bikin aneka video, upload ke YouTube, dll, tapi tetap dalam pengawasan. Ketakutan saya sangat berdasar, apalagi kalau melihat video anak-anak zaman now di beberapa aplikasi hiburan yang kurang nyaman dan banyak menonjolkan konten dewasa yang tidak sopan untuk anak seusia Lubna. Kalau dilarang semua tentu tidak mungkin karena teman seusianya menggunakan aplikasi tersebut. Akhirnya saya mengizinkan, tapi dengan mengaktifkan kontrol orang tua yang disediakan. Apakah dia protes? Tentu saja…. πŸ˜€ Tapi selalu ada pilihan dari ibunya, ingin tetap memiliki akun tapi dengan pengontrolan orang tua, atau tidak memiliki akun sama sekali. Saya ibu yang berlebihan? Mungkin iya untuk ukuran ibu zaman now,Β ya. πŸ™‚

Nah …. itu tadi 5 aktivitas yang biasa dilakukan Lubna selama stay at home di masa pandemi ini. Alhamdulillah, dia enggak pernah ribut ngajak jalan-jalan ke mal atau toko karena pengen belanja baju atau barang kesukaannya, misalnya. Dia sudah paham dan terbiasa dengan perilaku serba online, termasuk jika harus membeli buku atau barang, dia lebih suka buka-buka marketplace dan membandingkan harga yang tercantum di sana. Bisa tahu ‘kan mana harga terbaik yang lebih hemat, kwkwkw ….

Kayak gini nih hasil berburunya di marketplace πŸ˜„

Menurut saya, stay at home ini sebenarnya menjadi semacam ajang pengoptimalan kemampuan diri sesuai minat dan bakat masing-masing. Bukan cuma untuk anak, untuk kita yang dewasa pun masa pandemi ini bisa menjadi sesuatu yang positif, Banyak ibu-ibu hebat yang muncul potensi bisnisnya secara dadakan, seperti bisnis makanan, fesyen, dll. Intinya, semua ada di tangan kita ‘kan, ya? Mau menjadikan stay at home sebagai sesuatu yang bernilai, atau sebaliknya. πŸ™‚

Baca Juga

Tak Perlu Menjadi Ibu yang Sempurna, Jadilah Ibu yang Bahagia

Sejak dulu sebelum menjadi seorang ibu, saya sering mendengar kalimat ini, “Ibu hamil dan menyusui harus hati-hati sekali menjaga pikiran. Kalau ibunya sedih dan gak tenang, bayinya juga pasti rewel dan gak bisa diam…”

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya sangat menyadari bahwa kalimat ini bukan hanya ditujukan untuk ibu hamil dan menyusui saja. Setiap wanita, khususnya yang telah memiliki buah hati, berapa pun usianya, seyogyanya memang harus menjaga pikiran dan hatinya agar dalam kondisi yang stabil dan bahagia.

Mudahkah? Ohh… tentu tidak, Ferguso!! Ini butuh perjuangan…. Apalagi metabolisme tubuh wanita juga dipengaruhi oleh berbagai hormon yang mau tak mau kerap membuat emosi menjadi labil dan bergejolak. Tapi di sinilah uniknya kaum kami. Saya percaya, Allah menciptakan wanita dengan segala keunikannya, pasti ada maksudnya πŸ™‚

Image: Pexels.com

Dikutip dari laman Republika.co.id, Departemen Psikologi Universitas Cambridge di Inggris pernah melakukan penelitian terkait hubungan yang terjadi antara otak seorang ibu dengan otak bayinya. Hasilnya, ditemukan pola yang bervariasi tergantung pada tingkat emosional ibunya. Dalam keadaan emosi yang positif, ternyata ditemukan adanya hubungan yang lebih kuat antara otak ibu dengan bayinya. Hubungan yang kuat ini sangat baik untuk perkembangan otak si bayi dan kecerdasan emosi selanjutnya.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, perlu juga digarisbawahi bahwa ini bukan hanya berlangsung pada masa golden age alias usia keemasan anak di lima tahun pertama kehidupannya saja. Untuk masa seterusnya setelah usia 5 tahun, terutama di masa remaja, hubungan keselarasan antara orang tua (ibu) dan anak tetap harus dijaga. Permasalahan yang dihadapi tentunya akan lebih komplek pada usia remaja. Tetapi percayalah, ketika kita sudah memberikan dasar pendidikan karakter yang positif kepada anak sejak dini, insya Allah anak juga lebih mampu menangkal pengaruh negatif dari lingkungannya.

Hilangkan Impian Ingin Menjadi Ibu yang Sempurna

Dulu saya pun pernah memiliki keinginan seperti umumnya kaum ibu yang lain. Ingin menjadi sosok ibu yang sempurna dan memiliki buah hati yang juga sempurna dan berprestasi dalam segala hal. Hingga seiring berjalannya waktu, saya pun meyadari bahwa keinginan menjadi sosok yang sempurna justru membuat saya tidak dapat rileks dan menikmati peran sebagai seorang ibu.

Heiii… sadarlah, bu, kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun πŸ™‚ Seorang ibu juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan, punya segala keterbatasan dan tak selalu bisa tersenyum, tersenyum dan tersenyum setiap waktu. Jadilah manusia sewajarnya. Meskipun teori parenting sudah saya lahap di luar kepala, tapi saya bukan tipe ibu yang saklek dan harus selalu berpedoman pada teori. Jika saatnya saya harus marah kepada anak yang telah melakukan kesalahan, maka saya akan tetap marah kepadanya. Hanya saja, setelah anak menyadari kesalahannya, saya sebagai ibu akan minta maaf kepadanya dan memberi pengertian bahwa marahnya saya adalah bentuk nasihat serta rasa sayang untuk dirinya.

Munculkan Rasa Bahagia

Lepas dari keinginan menjadi ibu yang sempurna, lambat laun saya semakin mengerti bahwa menjadi waras dan bahagia adalah kunci agar seorang ibu dapat memancarkan energi positif kepada buah hatinya. Mulailah saya belajar tentang bagaimana memunculkan dan memelihara rasa bahagia. Ternyata rasa bahagia memang tak perlu dicari. Ia ada di dasar hati πŸ™‚ Tapi memang untuk sebagian orang, rasa bahagia itu mungkin ada yang masih tertimbun jauhhhh di dalam lubang gelap, sehingga untuk memunculkannya butuh waktu tak sebentar.

Yang paling mudah menurut saya adalah dengan bersyukur terlebih dahulu, apa pun keadaannya. Rasa syukur dapat membuka keikhlasan dan mencairkan kebekuan hati, untuk selanjutnya menemukan jalan keluar atas setiap permasalahan yang dihadapi.

Ibu Bahagia, Anak Pun Cerdas dan Bahagia

Sadar atau tidak, kamu harus tahu dan yakin bahwa ibu yang bahagia juga akan menularkan virus bahagia kepada keluarga dan putra-putrinya. Kecerdasan emosi anak berawal dari kecerdasan emosi orang tua, terutama ibunya. Stabilnya emosi anak juga dipengaruhi oleh stabilnya emosi ibu. Nah, stabilnya emosi ibu sangat dipengaruhi oleh stabilnya emosi bapak heheheeee…. πŸ˜€ *beneran mah ini, saya enggak bohong ^^ Makanya, hati-hati jadi suami, ya, pak! Baik-baik deh sama istri. Kalau istri bahagia, suasana rumah pasti jadi nyaman. Istri yang bahagia juga akan melahirkan generasi yang cerdas dan bahagia. Jadi rantai bahagianya insya Allah muterrrr terus, tidak terputus dan saling memengaruhi satu sama lain. Sebaliknya, kalau istri sedih dan tertekan, suasana rumah pasti jadi runyam. Akibatnya, buah hati pun bisa jadi kena sasaran πŸ™

Cuaca boleh panas, sungai boleh mengering, daun pohon boleh berguguran, tapi hati seorang ibu tak boleh gersang. Yuk, mulailah menjadi poros bahagia bagi orang-orang terdekat kita, terutama untuk buah hati tercinta. Mungkin kita bukanlah ibu yang sempurna, tapi pastikan kita adalah ibu yang bahagia. Karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita….

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

Grhatama Pustaka Yogyakarta, Sarana Melihat Jendela Dunia

Little princess Lubna, girl wanna be…

“Buku adalah jendela dunia…”

Ungkapan ini saya baca pertama kali sejak masih duduk di bangku SD. Melalui buku, kamu dapat berpetualang keliling dunia tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak dan memikirkan urusan transportasi, akomodasi, dan ittinerary, alias jadwal perjalanan plus anggarannya… πŸ™‚

Saya masih ingat jelas, punya cita-cita dan impian pengen ke Jepang, setelah membaca sebuah buku tentang budaya dan kebiasaan masyarakat di negeri Sakura itu saat duduk di kelas 6 SD. Keinginan itu sempat muncul kembali setelah selesai kuliah, yang kemudian mendorong saya untuk belajar bahasa Jepang demi cita-cita bekerja di sana. Nah, loh… sampai segitunya, ya πŸ˜€

Sekarang sudah tercapaikah impian ke Jepangnya? Jawabannya, belommm… *ihhiksss…

Sekarang, impian ke Jepang sudah bergeser dan tertutup oleh keinginan berkunjung ke negeri asal muasal bunga Tulip, alias Turki, demiiiiii…. Demi apa coba? Demikian hehheee… Apalagi kalau bukan demi meihat indahnya sejarah Islam di Eropa, melalui kokohnya arsitektur Hagia Sophia dan syahdunya penampakan Blue Mosque tercinta. Lagi-lagi, keinginan kuat ke Turki ini juga muncul setelah melihat film dan membaca novel populer 99 Cahaya di Langit Eropa-nya Hanum Rais.

Tanpa saya sadari, kebiasaan masa kecil membaca buku tentang indahnya dunia, mulai menurun kepada Lubna, little princess yang mulai beranjak ABG. Hobi membacanya mulai muncul sejak satu tahun yang lalu, saat Lubna duduk di kelas 2 SD. Kesukaannya membaca ini mengalami perkembangan yang cukup dahsyat menurut ibunya, karena di kelas 3 SD ini dia sudah PD bilang bahwa membaca adalah “makanan” baginya. Dengan kata lain, kalau enggak baca artinya sama aja dengan enggak makan. Badan jadi lemes dan uring-uringan πŸ˜€

Alhamdulillah, sekarang Lubna sudah jarang banget ke mall. Setiap akhir minggu sudah ada tempat favorit dan asyik untuk dia refreshing, namanya Ghratama Pustaka. Dari namanya sudah bisa ditebak bahwa tempat ini berhubungan dengan buku, ye, kan?

Yup, enggak salah. Ghratama Pustaka ini dulu nama lainnya adalah Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Zaman saya masih kuliah, perpusda ini terletak di area dekat Malioboro. Sesekali dulu saya sempat juga meminjam buku di sana.

Sejak 21 Desember 2015, perpusda Yogyakarta menempati gedung baru yang megah dan berpindah lokasi ke Jalan Janti, Banguntapan, Bantul. Lokasinya bersebelahan persis dengan gedung ekspo terbesar di Yogya, yaitu JEC alias Jogja Expo Centre. Sri Sultan Hamengkubuwono X yang meresmikan perpusda ini kemudian memberi nama baru, Ghratama Pustaka. Ghratama berarti rumah, Pustaka berarti buku.

Gedung yang megah dengan 4 menara yang memiliki filosofi tersendiri.
(Image : twitter.com/infojogja)

Perpustakaan megah, nyaman, dan mirip arena bermain ini dibangun di atas lahan seluas 2,4 hektar. Fasilitas yang disediakan sangat lengkap, lho. Ada ruang bioskop 6D, ruang anak-anak, ruang musik, ruang bermain, berbagai akses untuk koleksi digital, dan pastinya free hotspot.

Kamu tahu pembangunan gedung baru ini menghabiskan biaya berapa? Enggak tanggung-tanggung, Guys, anggarannya mencapai Rp 72,5 miliar. Hemmmm….. pantesss nyaman banget πŸ™‚

Kalau ke Ghratama, Lubna paling suka ke ruang baca anak dan nonton bioskop 6D. Oya, kalau mau pinjam buku, kamu harus membuat Kartu Anggota dulu ya. Biayanya berapa? Gratissss, kok, untuk semua usia. Syarat bikinnya cukup menunjukkan KTP (untuk umum) dan Kartu Pelajar atau Kartu Keluarga (untuk anak-anak). Setelah mengisi data diri, kamu akan dipersilakan ke ruang foto untuk langsung difoto seperti kalau kita membuat KTP.

Ruang Baca Anak

.

Interior ruang baca anak yang menarik, penuh warna

Ruang baca ini berada di lantai 1. Selain Ruang Baca Anak, ada juga beberapa ruang untuk anak di lantai ini, seperti Ruang Musik, Ruang Bermain, Ruang Mendongeng, dan Ruang Bioskop 6D. 

Interiornya nyaman, penuh warna, dan, disediakan kursi-kursi kecil warna-warni plus meja bundar besar untuk tempat anak-anak membaca. Terdapat beberapa sofa santai juga di dalam ruangan. Pokoknya cozy banget, deh. Apalagi buat orang tua, bisa istirahat sekaligus wifi-an di sini hihiii…

Senangnya melihat anak-anak kita mencintai buku sejak kecil

Koleksi buku anaknya cukup lengkap, mulai dari buku pengetahuan, novel, komik, sampai buku untuk anak-anak balita semua ada di Ruang Baca Anak ini. Recommended banget untuk sarana melatih anak cinta buku.

Ruang Biokop 6D

.

Tiket nonton sinema 6D-nya murah, kan? πŸ™‚

Kalau kamu lelah membaca, jangan lupa melipir alias ngungsi ke Ruang Bioskop 6D ini ya. Cukup dengan tiket seharga Rp10.000 saja per orang, kita akan dimanjakan dengan keseruan melihat tayangan sinema 6 dimensi sambil berteriak-teriak histeris sepuasnya.

Banyak genre film yang bisa dipilih, mulai dari petualangan, sampai tema horor

Sensasinya bak naik roller coaster, karena kursi sinemanya bisa bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti alur pergerakan di film. Ada kacamata khusus yang harus kamu gunakan agar apa yang tampil di layar seolah nyata kita alami πŸ™‚ Seru deh, pokoknya. Bukan cuma untuk anak, lho, ya. Yang dewasa juga boleh banget, karena tema filmya bermacam-macam.

Jadwal Buka Perpustakaan

Banyak yang mengira Grhatama Pustaka tutup.pada hari Minggu. Padahal sebenarnya tetap buka. Jadwalnya di bawah ini ya:

Senin s/d Jumat : pukul 08.00 – 22.00 WIB.
Sabtu & Minggu : pukul 08.00 – 16.00 WIB.

Fasilitas Lainnya

Gedung megah Grhatama Pustaka terdiri atas 3 lantai.
Kalau tadi di Lantai 1 khusus untuk koleksi anak, di Lantai 2 merupakan ruang layanan untuk Koleksi Umum, Koleksi Braille, Ruang Pameran, dan ada Auditorium. Kemudian di Lantai 3 ada ruang layanan Koleksi Digital, layanan Majalah dan Surat Kabar, layanan Skripsi, Peraturan Perundangan, dan ada pula Ruang Audio Visual.

Oya, di halaman depan Grhatama yang sejuk dan hijau ini juga ada pendopo luas untuk duduk-duduk atau diskusi bareng teman-temanmu. Bisa juga menjadi ajang foto karena rumputnya yang begitu asri dan tertata rapi. Ruang tunggu pengunjung di teras perpustakaan ini juga sangat nyaman dan bersih. Yang jelas, gedung ini bisa menjadi alternatif refreshing kamu dan keluarga, selain ke mall atau kebun binatang.

Jangan lupa mampir ke sini kalau pas liburan ke Yogya, ya! πŸ™‚

#SETIP_Day7
#SemingguTigaPostingan
#Estrilook

Tes Sidik Jari (Fingerprint Analysis), Akuratkah?

Wah, ternyata sudah lamaaaa banget enggak nulis tentang parenting di blog ini. Biasanya saya lebih suka cerita di media sosial untuk topik semacam ini, jarang banget pindahin curhatnya ke blog πŸ™‚

Teman-teman tercinta, semua pasti sepakat bahwa buah hati adalah anugerah bagi orang tua, sekaligus amanah yang harus kita jaga.
Saking sayangnya dengan anak, kita bahkan terkadang lupa bahwa sebenarnya orang tua hanya dititipi, tapi tidak berhak memaksa mereka memilih apa yang kita mau.

Tugas orang tua adalah mengarahkan, membimbing, memberikan batasan-batasan sesuai norma agama dan masyarakat yang berlaku. Sisanya, terus berdoa dan berharap mereka selalu berada di jalan yang benar.

Sebegitu pentingnya peran kita sebagai orang tua dalam membimbing mereka, membuat saya selalu kepo dan bersemangat setiap kali mempelajari segala hal yang berhubungan dengan potensi dan bakat anak. Bukan apa-apa, saya hanya takut jika terlalu egois memaksa anak mengikuti arus yang saya mau. Menuntut Lubna untuk begini, begitu, dan begono, tanpa paham apa sebenarnya keinginannya dan seberapa besar kemampuannya. Apalagi lingkungan di sekitar kita saat ini cenderung memberi keleluasaan ke arah situ πŸ™‚

Zaman sekarang, banyak orang yang bekerja hanya berdasarkan tujuan mencari penghasilan semata. Mengejar materi, tanpa mampu menikmati rutinitas yang mereka lakukan setiap hari. Akibatnya, banyak yang merasa bosan dan tidak puas dengan diri dan lingkungannya.Β  Benar, bahwa dalam melakukan suatu pekerjaan mungkin tidak terlalu dibutuhkan yang namanya bakat. Yang penting ada kemauan dan usaha. Tapi lambat laun, jika pekerjaan itu dilakukan atas dasar rasa terpaksa, pasti akan menimbulkan kelelahan psikis dan fisik yang tidak terkira. Akibatnya, rawan terjadi stres, rasa tertekan, emosi yang terpendam, dsb.

Tentunya berbeda jika kita melakukan sesuatu atas dasar bakat dan minat yang disukai,Β  hasilnya lebih maksimal, karena ada rasa SUKA dan CINTA di dalamnya. Tidak ada rasa terpaksa.

Sama juga dengan bakat dan potensi pada anak. Jika bakat dan minat anak dapat kita temukan sedini mungkin, pastinya akan lebih baik. Kelak untuk ke depannya, orang tua tinggal menyelaraskan antara bakat yang sudah terdeteksi dengan minat dan keinginan yang buah hati kita sukai.

Tes bakat pertama yang dilakukan Lubna adalah tes sidik jari pada tahun 2016 lalu, saat menjelang lulus dari TKIT tempatnya belajar. Dilakukan kolektif di sekolah, tes ini belum terlalu lengkap. Hanya sekilas memberi gambaran bagian otak mana yang memiliki kecenderungan dalam diri seorang anak, kiri atau kanan. Plus sedikit informasi mengenai kecenderungannya belajar, apakah audio (pendengaran), kinestetik (bergerak, sentuhan), atau visual (gambar, penglihatan).

Hasil tes sidik jari saat TK

Sewaktu masih TK, bakatnya belum terlalu tampak. Suka mewarnai seperti pada umumnya anak seumurnya, tapi itu pun enggak rapi banget. Kemampuan membaca juga masih sedang, belum terlalu lancar. Saya sendiri tidak terpikir sama sekali untuk memasukkan dia ke tempat les atau penunjang bakat anak pada umumnya, karena sekolahnya sudah full day. Biarlah dia istirahat di rumah setelah seharian eksplorasi di sekolah.

Perkembangannya mulai mengerucut dan makin terlihat setelah duduk di bangku SD. Mulai suka menggambar, tapi sudah tidak hobi mewarnai lagi. Gambarnya cenderung animasi dan polos, tanpa warna.

Kelas 2 SD, seiring perjalanan ibunya yang mulai menekuni dunia menulis di akhir tahun 2017, minat bacanya pun mulai tumbuh. Tergila-gila pada komik dan semua majalah/buku bergambar. Dari yang tadinya suka bermain game di smartphone, Alhamdulillah mulai berkurang dan beralih ke buku bacaan dan corat-corat. Tak terhitung borosnya kertas, buku tulis, dan bolpoin yang sudah habis dia gunakan. Ibunya kadang tak habis pikir dan sempat ngomel berkali-kali melihat keajaiban pemborosan kertas, buku tulis dan bolpoin ini *maklummm emak-emak πŸ˜€

Aku tak bisa hidup tanpa menggambar, bu…” kata Lubna πŸ™‚

Tak bisa hidup tanpa menggambar, begitulah motto Lubna.

Tapi sejujurnya, ada satu kebingungan saya saat itu. Dia hobi menggambar dan cenderung berimajinasi tinggi secara visual, suka menulis dan bikin cerita. Bukankah itu otak kanan? Lalu mengapa saat tes sidik jari waktu TK terdeteksinya justru cenderung otak kiri? Apakah ada kesalahan?

Nah, pertanyaan ini saya simpan dulu.

Selanjutnya di hari-hari berikutnya, saya mulai intens ikut kelas online tentang parenting, mindsetΒ dan self development,Β baik berbayar maupun free di tahun 2017. Saya bahkan tertarik mempelajari ilmu tentang analisa tulisan tangan (Grafologi) juga untuk menganalisa diri sendiri dan bakat anak, meskipun masih tahap basic banget. Dan akhirnya memutuskan enggak lanjut ke tahap berikutnya karena ilmu ini membutuhkan ketelitian dan ketekunan yang sangat luarrr byasakkkkkk πŸ˜€

Pernah suatu kali sehabis diminta mendeteksi tulisan beberapa orang teman, kepala saya langsung cenut-cenut karena memang butuh energi untuk memeriksanya. Rasanya lelahh banget menganalisa tulisan demi tulian. Mungkin karena saya belum terbiasa, ya, atau ilmunya belum tinggi hihihiii… Tapi memang benar bahwa metode analisa tulisan tangan alias Grafologi ini sangat akurat untuk mengetahui kondisi dan kepribadian seseorang. Bukan hanya dari segi fisik dan potensi yang terbaca. Bahkan dalam hal kondisi psikis, apakah sedang bahagia atau ada masalah kejiwaan yang membuat tertekan, dan penyakit apa yang sedang diderita, semua akan terlihat melalui tulisan tangan kita.

Balik lagi ya ke topik tes sidik jari….

Beberapa hari yang lalu, ada penawaran dari bimbingan belajar tempat Lubna les (by the way busway,Β akhirnya Lubna mau juga ikut les karena dia kurang paham dengan pelajaran matematika di sekolah. Kalau di tempat les katanya jadi paham karena mentor-nya enak kwkwkwk… makanya dia minta dileskan πŸ˜€ ).

Bimbel tersebut menawarkan tes sidik jari (fingerprint analysis) bagi siswa yang berminat mengetahui potensi, jurusan, dan bidang kerja yang setidaknya tepat dengan bakatnya. Duh, lagi-lagi,… saya mulai kepo dan ingin membandingkan hasil tes saat Lubna TK dulu dengan hasil tes setelah Lubna duduk di kelas 3 SD ini. Apakah sama, atau ada perbedaan? Ya udah, dengan mantap, Lubna tes sidik jari lagi untuk kedua kalinya dengan pemaparan yang lebih detil dari sebelumnya. Hasilnya?

Hasil tes kelas 3 SD

Alhamdulillah, terjawab sudah semuanya. Sejauh ini hasilnya 90% akurat dengan fakta yang tersirat *uhhuk

Yup, ternyata Lubna memang dominan di hampir semua kecerdasan majemuk. Bukan hanya logika matematika dan bahasanya yang menonjol, tapi dalam hal imajinasi dan visual juga ternyata sangat menonjol. Ada keseimbangan antara otak kanan dan kiri di situ. Saat TK dulu, yang terbaca otak kirinya. Dalam perkembangannya, otak kanan juga menonjol, saling bersinergis membentuk potensi yang cukup unik. Logika dan idealismenya yang tinggi membuatnya hobi ngeyel, kepo dan berdebat dengan orang tuanya. Dan ini sudah jadi makanan sehari-hari saya sebagai ibunya πŸ™‚ Hemmm… jadi geli sendiri setelah membaca hasilnya. Keinginannya memang keukeuh, kuat dan sangat butuh dihormati *halahhh, ndukkk….

Saya ingat ketika dia lulus TK dan akan masuk SD, Lubna ngotot memilih sendiri ingin sekolah di SDIT pilihannya. Enggak mau ke sekolah lainnya πŸ™‚ Akhirnya dituruti, dengan janji, dia harus semangat dan konsekuen dengan pilihannya. Entah dia paham atau tidak saat itu karena usianya baru 7 tahun, yang jelas, Alhamdulillah, hingga saat ini dia tetap ceria dan bahagia bersekolah. Masya Allah tabarakallah ya, nak…

Lanjutkan membaca Tes Sidik Jari (Fingerprint Analysis), Akuratkah?

Tips Mendampingi Anak Indigo

Faktakah.com

 

Semua orang tua di dunia ini pasti berharap memiliki buah hati yang lahir normal, sama seperti anak-anak pada umumnya. Tetapi ada kalanya Tuhan memberikan karunia yang luar biasa kepada beberapa orang tua untuk menjadi orang tua pilihan atas amanah yang diembannya.

Memiliki seorang anak yang dianugerahkan kelebihan indra setingkat lebih tinggi dari anak lainnya, atau kerap disebut sebagai anak indigo, bukanlah hal yang mudah dalam perjalanannya.

Berikut adalah beberapa tips parenting bagi orang tua dari anak indigo agar nyaman dan seiring sejalan dalam mengiringi proses tumbuh kembangnya :

1. Latih diri Anda untuk terbiasa dengan indra keenam mereka

Tahupedia.com

 

Seperti halnya orang lain yang memiliki rasa takut akan hal-hal bersifat ghaib, Anda pun sebagai orang tua normal wajar apabila memiliki perasaan takut ini. Namun usahakan untuk melawan rasa takut tersebut dan membiasakan diri berhadapan dengan hal seperti ini.

Jangan kaget jika suatu saat Anda sedang duduk di ruang tamu misalnya, tiba-tiba anak Anda mengatakan ada orang lain di tempat itu selain dia dan Anda. Peristiwa semacam ini akan sering Anda alami. Jadi beranikan diri Anda menghadapi situasi tak terduga semacam ini.

2. Tambahkan batas kesabaran Anda

Anak indigo memiliki energi yang sangat luar biasa. Dilansir dari mindopenerz.com, hal ini disebabkan karena dia mampu menyerap vibrasi energi di sekelilingnya. Tidak perlu heran jika setelah asyik bermain dan tertawa riang, mendadak si anak berubah drastis menjadi emosional hanya karena hal-hal kecil yang dianggapnya tidak sesuai dengan harapannya.

Bramardyanto.com

 

Dalam kondisi seperti ini, memarahi anak sepertinya tiada berguna. Yang dapat kita lakukan hanyalah menenangkannya, memeluknya, dan mengontrol emosi agar tidak terpancing oleh kemarahannya. Jika takut tidak dapat mengontrol emosi kita, tinggalkan ia sejenak seorang diri sampai si anak tenang kembali.

3. Tanamkan nilai agama sejak kecil

Anak indigo memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Pertanyaan yang dilontarkan terkadang jauh menembus batas anak seusianya.

Pxhere.com

 

“Seperti apakah bentuk Tuhan? Ada di langit bagian manakah Tuhan berada? Kenapa manusia ada yang jahat dan ada yang baik?” Adalah beberapa bentuk pertanyaan yang sering membuat orang tua kebingungan untuk menjawab. Maka mengenalkan prinsip keagamaan dan kekuasaan Tuhan sejak kecil sesuai keyakinan masing-masing akan sangat membantu si indigo untuk menemukan nilai-nilai positif tempatnya bersandar.

4. Posisikan diri Anda sebagai teman

Terlihat lebih tua dari pemikiran anak lain seusianya, itulah salah satu ciri anak indigo. Mereka tidak ingin dikalahkan oleh pemikiran-pemikiran orang yang lebih tua. Memposisikan diri kita sebagai sahabat daripada sebagai orang tuanya adalah jalan terbaik untuk menghindari adanya crash boom bang dalam kehidupan sehari-hari.

Nova.grid.id

 

5. Eksplor bakat anak sesuai potensinya

Sangat kreatif dan aktif, membuat beberapa anak indigo cenderung memberontak terhadap situasi yang tidak membuatnya nyaman. Misalnya : situasi sekolah, guru yang mengajar, teman-temannya. Ada baiknya orang tua lebih jeli melihat potensi unik yang ada pada diri anak, karena tipikal mereka adalah ekspresif dan kurang suka melakukan sesuatu yang monoton.

Nova.grid.id

 

Demikianlah beberapa tips untuk Anda yang memiliki anak istimewa ini. Bersyukurlah Tuhan mempercayai Anda menjadi orang tua mereka, meskipun sangat tidak mudah untuk menjalaninya.

Semoga bermanfaat ya..

Ditunggu komen dan sharingnya jika ada yang memiliki pengalaman serupa ☺

*)Tulisan ini pernah dimuat di platform berita UC News