Arsip Tag: Sekolah Ibu

Kenapa Perempuan Harus Bahagia??

Beberapa hari terakhir ini, begitu viral di media sosial topik tentang Sekolah Ibu bagi perempuan. Dengan tujuan untuk menghindari terjadinya perpisahan dalam rumah tangga, topik ini menjadi menarik dibahas di era kesetaraan gender saat ini. Banyak pro dan kontra muncul dari tulisan sang pejabat yang dulunya adalah seorang artis sinetron tersebut di akun Instagramnya.

Tapi, saya tak hendak berkomentar tentang hal itu. Dalam setiap perencanaan kebijakan, pasti akan ada yang namanya pro dan kontra. Dan kamu pasti tahu, masyarakat kita juaranya kalau soal adu argumentasi seperti itu.
Karena saya adalah seorang perempuan, maka saya ingin menyoroti dari kacamata sebagai seorang perempuan pula.

Semua orang tahu bahwa kehadiran seorang perempuan atau ibu dalam sebuah rumah tangga, bak lentera dalam kegelapan. Begitu kelam dan sunyi rasanya apabila rumah tangga kehilangan sentuhan kaum hawa. 

Coba ingat-ingat lagi, bagaimana rasanya jika ibu yang sangat kita sayangi sedang dalam kondisi sakit? Rumah yang biasanya ramai oleh rentetan suara tawa dan omelan ibu, mendadak sepi. Bisa jadi berantakan pula, karena tak ada tangan lembut namun kokoh yang biasanya menata dan membersihkannya. Dunia serasa kehilangan mataharinya.

Dari kondisi di atas, dapat diambil kesimpulan, bahwa keberadaan seorang perempuan dalam rumah tangga amat sangat penting sekali (luberrrr banget nih, kalimatnya hehhee…).

Bukan berarti keberadaan laki-laki nggak penting, lho, ya. Justru, laki-laki sebagai kepala keluarga adalah tonggak dan tiangnya sebuah rumah tangga. Maka, sebagai seorang nakhoda dari kapal yang sedang berlayar, ia harus sangat berhati-hati membawa kapal dan penumpangnya mengarungi lautan lepas. Agar apa? Agar saat muncul badai di lautan, kapalnya tidak menjadi karam.

Caranya bagaimana? Bekerjasamalah dengan pasangan hidupmu mencari jalan dan solusi terbaik agar kapal itu tidak karam di lautan. Seorang nakhoda tetap butuh saran dan nasihat, sementara penumpang juga butuh orang yang pintar untuk mengendalikan kapalnya.

Sebenarnya, perempuan itu mudah, lho, diambil hatinya. Buatlah ia BAHAGIA secara hati atau batin terlebih dahulu. Kalau perempuan sudah tersentuh hatinya, apapun yang diminta laki-laki pasti ia ikhlaskan. Jangankan cuma hatinya, harta dan dirinya pun akan ia ikhlaskan untuk pria yang dicintainya. 

Masih ingat kisah Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu anha? Betapa beliau yang adalah seorang wanita kaya dan terpandang Quraisy rela menikah dan menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah, karena jatuh cinta dengan seorang pemuda bernama Muhammad.

Apa sesungguhnya yang membuat Ummul Mukminin Khadijah r.a menolak lamaran para pemuka masyarakat Arab saat itu, dan justru menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh pemuda yatim piatu yang diriwayatkan lebih muda 15 tahun dari dirinya tersebut? Tidak lain dan tidak bukan karena KELUHURAN AKHLAK Muhammad. Betapa luhur dan baiknya akhlak seorang suami terhadap istrinya merupakan salah satu cara agar perempuan sampai pada level BAHAGIA dalam menjalani kehidupannya.

Kalau hati perempuan atau seorang ibu sudah ada pada level BAHAGIA tadi, dijamin, insya Allah, kehidupan rumah tangga dan anak-anakmu juga bahagia.

“…Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku…” (Hadits Riwayat At-Thirmidzi)

Nah, sekarang kita bikin list, yuk, kenapa seorang perempuan itu harus dan wajib BAHAGIA?

Perempuan adalah Seorang Istri

Keceriaan dalam rumah tangga ada pada bahagianya seorang istri. Istri yang bahagia akan membuat hati suaminya bahagia, rezeki suami barokah, dan hati suami pun menjadi tenang.

Perempuan adalah Seorang Ibu

Kebahagiaan seorang perempuan akan menular pada anak-anaknya. Perempuan yang bahagia akan mampu mendidik dan mendampingi tumbuh kembang anaknya secara bahagia pula. Jangan lupa bahwa naluri ibu dan anak itu sering terhubung. Apabila ibunya stres, uring-uringan, tertekan, dan dalam kondisi yang tidak bahagia, anak pun dapat tertular kondisi demikian.

Jadi sebagai kepala keluarga, sangat penting bagi seorang suami untuk menjaga perasaan istrinya, karena itu juga berarti menjaga kebahagiaan anak-anaknya.

Perempuan adalah Makhluk Perasa, Diciptakan dari Tulang Rusuk yang Bengkok

Tipikal perempuan sebenarnya mudah memaafkan. Walaupun terlihat lebih emosional dibandingkan laki-laki, tapi setelah kondisi mereda biasanya hati mereka pun cepat luluh kembali. Dan ini memang sudah diatur dari sananya.

Betapa kita tak pernah tahu maksud dari Allah Swt menciptakan perempuan dengan segala keunikan karakternya. Kaum pria harus ekstra hati-hati meluruskan tulang rusuk yang bengkok ini, karena kalau salah cara, tulangnya jadi patah, gelasnya pun jadi pecah. Gawat, deh… ☺

Keunikan lainnya, meski sekilas tampak rapuh, bukan rahasia lagi jika sebenarnya ketahanan perempuan justru lebih besar berkali-kali lipat daripada laki-laki. Itulah kenapa, lebih banyak kasus perselingkuhan dilakukan oleh pria daripada wanita, karena wanita sebenarnya lebih tahan banting kala menghadapi banyak tekanan dalam kehidupannya.

Meski demikian, tak ada satupun pembenaran, ya, bahwa adanya konflik dalam rumah tangga kemudian menjadikan bolehnya menjual kesetiaan. Ohh… tidakkk!! Kau tak boleh melakukan itu…!! *kata Sponge Bob

Bukan bermaksud untuk subyektif beropini karena saya adalah perempuan. Tapi memang suatu fakta bahwa perempuan yang BAHAGIA adalah kunci dari bersinarnya rumah tangga. Rasanya tak perlu jauh-jauh mengikuti Sekolah Ibu untuk mengurangi konflik dalam rumah tangga bagi perempuan, jika saja seorang kepala keluarga mampu menjadi guru dan pemimpin terbaik bagi istrinya.

Intinya, dalam suatu rumah tangga harus ada keinginan untuk sama-sama terus belajar dan saling memperbaiki diri dari keduanya, bukan hanya salah satu pihak saja ☺ Wallahu a’lam… 💕

💙💚💜

#ODOP #EstrilookCommunity #Day2