Arsip Tag: Umroh

Pertama Kali ke Luar Negeri? Ini 5 Tips saat Nyasar di Negeri Orang ala Saya

Ini adalah pengalaman nyasar alias salah jalan paling mendebarkan seumur hidup yang belum pernah saya ceritakan kepada siapa pun. Satu-satunya orang yang pernah saya ajak cerita adalah ibu saya. Itu pun setelah satu tahun peristiwa ini terjadi, dan seperti dugaan saya, beliau tetap saja merasa kaget, berkali-kali mengucap syukur karena anak perempuannya ini bisa kembali ke rumah dengan selamat dan tak lupa menahan gejolak jantungnya yang serasa mau copot saat mendengar kisah ini. Was-was dan khawatir itu pasti, meskipun sudah berlalu satu tahun yang lalu ๐Ÿ˜€

Peristiwa ini terjadi pada bulan April 2018 saat perjalanan dari Jakarta menuju Madinah via Istanbul. Waktu itu pesawat Turkish Air yang saya tumpangi transit di Bandara Ataturk, Istanbul selama 12 jam. Saat akan melanjutkan penerbangan ke Madinah itulah saya terpisah dari anggota rombongan lainnya.

Bandara Ataturk, Istanbul saat Subuh tiba. Masih lengang.

Kondisi badan saya saat itu memang sedang kurang fit, sedikit menggigil dan kedinginan. Mungkin karena lebih dari 24 jam terpapar AC terus-menerus, mulai penerbangan dari Yogya – Jakarta – Istanbul, lalu saat keliling kota seharian naik bis, ditambah kondisi temperatur musim semi di kota Istanbul yang sedang berada di kisaran 15 derajat celsius. Apalagi saya termasuk orang yang alergi dengan hawa dingin, terutama kalau terlalu lama berada di ruangan ber-AC.

Sebenarnya saya tidak terpisah sendiri. Ada 2 orang ibu-ibu anggota rombongan lainnya yang sudah sepuh (lanjut usia) juga berjalan bersama saya. Salah saya juga sebenarnya karena waktu itu minta tolong kepada Ibu Yanti (salah satu dari mereka) untuk memerhatikan anggota rombongan lainnya yang berada di depan, agar jangan sampai terpisah dari yang lainnya. Nah, qadarallah, ibu Yanti ini salah melihat jalan.

Ketika ada persimpangan di ruang tunggu bandara, ibu Yanti memilih tetap berjalan lurus, sementara anggota rombongan lainnya ternyata berbelok ke arah kanan. Karena saya hanya mengikuti instruksi ibu Yanti, akhirnya saya pun juga memilih jalan lurus bersamanya dan ada satu ibu lagi, sebut saja ibu Ana, yang juga sudah lanjut usia, sebaya dengan ibu Yanti.

Setelah berjalan menyusuri koridor ruang tunggu Bandara Ataturk hampir 10 menit dan tak menemukan satu pun anggota rombongan lainnya, sadarlah saya bahwa kami bertiga telah tersesat dan nyasar, alias salah jalan. Heeuuu… enggak usah dibayangin seperti apa rasanya. Kepala langsung cenut-cenut, jantung berdetak kencang seperti lagi balapan naik motor 100 km/jam, ketambahan badan juga lagi enggak karuan. Tapi saya enggak boleh begini terus. Pikiran sadar saya mulai bekerja.ย  Buru-buru cek nomor pintu keberangkatan di tiket yang saya bawa. Qadarallah, pintu keberangkatan belum tertulis di sana. Tambah lemaslah badan saya, huhuhuuu…. Mau telepon dan kirim kabar ke grup WA juga enggak bisa karena paket kartu provider saya hanya bisa digunakan di Saudi Arabia, bukan di Turki. Sebenarnya di bandara ada free wifi, tapi payahnya, pikiran saya sama sekali enggak mikir ke situ, sudah terlanjur panik duluan.

Opsi selanjutnya, akhirnya saya perhatikan layar monitor keberangkatan yang terpampang di ruang tunggu, di mana tertulis nama pesawat, negara tujuan, dan nomor pintu keberangkatan. Sayangnya, ada ratusan informasi penerbangan yang berubah begitu cepat. Mata saya tak sanggup mengikutinya. Paris-Milan-Amsterdam-Berlin-London-Moskow, dan beberapa nama kota di benua Eropa sebenarnya cukup membuat hati saya terpekik bahagia. “Allahhhhh….. aku sudah sampai di Eropaaaa…. terima kasihhh!!!!”ย  pekik girang dan lebay sebagian hati saya, sementara separuh hati saya yang lainnya sedang berguncang hebat dan gemetar karena sadar sedang dalam masalah besar.

Saya ingat, waktu itu sempat melirik arloji di tangan. Sudah hampir pukul 20.30 waktu Istanbul, padahal di tiket yang saya bawa tertulis, pesawat dijadwalkan take off ke Madinah pada pukul 21.00. Yaa Robb, bibir saya komat-kamit berdoa, “Hanya Engkau yang mampu menolong hamba. Kalau sampai tertinggal di sini hamba tak bisa pulang….” pinta hati saya pasrah.

Beberapa kali saya mencoba bertanya kepada petugas yang lalu lalang, tapi tak pernah digubris sama sekali karena mereka juga sedang sibuk. Yup, di Turki semua orang bergerak serba cepat. Jalan aja mereka gesit banget. Memang sih mereka cakep-cakep, enggak ada deh yang jelek, persis seperti terlihat di serial Turki televisi ๐Ÿ˜€ Tapi secara karakter, ternyata orang Turki itu keras dan kaku ๐Ÿ™ Sempat melintas seorang petugas wanita di depan saya. Saya pun mencoba bertanya kepadanya dengan sopan. Sayangnya, ia membentak karena saat yang bersamaan telepon genggamnya juga berbunyi, “Heiiii kamu enggak lihat telepon saya sedang bunyi??!!” semburnya. Beuhhh…. jutek amat sikk, pekik saya dalam hati. Iya, cuma dalam hati, karena orang bingung kan itu dilarang ngeluh ya, apalagi ngedumel. Bolehnya cuma berdoa ๐Ÿ˜€

Setelah lelah menyusuri koridor ruang tunggu sampai keringat dingin keluar semua dan napas yang sudah tak karuan, saya lalu berhenti di depan layar monitor informasi keberangkatan. Kali ini saya coba tenangkan diri dan berdamai dengan diri sendiri. Satu demi satu tulisan yang bergerak cepat itu saya perhatikan. Setelah beberapa menit terpaku pasrah di depan layar monitor, Alhamdulillah, muncul juga informasi keberangkatan pesawat Turkish Air yang saya tumpangi beserta nomor pintu keberangkatannya. Benarlah bahwa pertolongan Allah datangnya justru pada saat kita sudah dalam kondisi pasrah, sepasrah-pasrahnya. Allah ternyata ingin melihat sejauh mana ikhtiar kita mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapi.

Setelah dapat nomor pintu keberangkatan, saya bergegas mengajak dua orang ibu-ibu yang hanya mampu mengikuti saya sedari tadi menuju pintu keberangkatan yang dimaksud. Apakah langsung ketemu? Enggak juga, kan pintu keberangkatannya juga ada puluhan (atau mungkin ratusan? Entahlah, mana sempet ngitung… ) Tapi untungnya, di pertengahan jalan kami bertemu dengan putra ibu Ana yang ternyata juga sedang mencari-cari ibunya. Nah, di sini saya jadi heran. Kok bisa sih anak ibu Ana membiarkan ibunya terpisah dari dirinya? Kalau saya bawa orang tua pergi, apalagi ke luar negeri, enggak bakalan deh saya jauh-jauh dari orang tua. Pokoknya orang tua harus selalu di dekat saya. Gitu kan ya seharusnya?

Dari kejadian di atas, saya simpulkan, ada beberapa tips ala saya yang sebaiknya dilakukan pada saat kita sedang dalam kondisi nyasar dan terpisah dari rombongan, sehingga tak tahu apa yang harus dilakukan.

1. Be Calm

Tenang. Kata ini mungkin enggak populer pada saat kita sedang panik. Tapi sebenarnya ini bisa jadi jalan keluar pertama agar akal kita bekerja pada jalur yang sebenarnya. Pada saat kita sedang panik atau kemrungsung (bahasa Turki ehh Jawa ๐Ÿ™‚ ), saat itulah semua jalan seolah tertutup. Kepala panas, jantung berdebar kencang, di atas mata terasa cenut-cenut tak karuan. Kalau sudah begini, coba deh tarik napas panjang, tahan 7 hitungan, lalu hembuskan perlahan-lahan. Dulu saya belum tahu cara ini, asal menenangkan diri aja. Setelah beberapa kali kamu lakukan tarikan napas itu, mulailah berpikir dengan akal sehat apa solusi pertama yang harus dilakukan.

2. Berdoa

Apalah daya kita tanpa tuntunan dan kekuatan dari-Nya. Doa itu sesuatu yang rasanya abstrak, tak berbentuk. Tapi uniknya, keajaiban justru berasal dari situ.

3. Berpikir Positif

Mungkin ini terdengar sungguh klise, ya. Mana sempat sih lagi cemas dan ketakutan kok disuruh mikir positif. Tapi ini bener, lo! Panik itu boleh, enggak ada yang larang. Cuma enggak perlu lama-lama. Waktu itu saya sempat berpikir, bagaimana seandainya ketinggalan pesawat dan enggak bisa lanjut penerbangan ke Madinah? Artinya saya harus tinggal di Turki, padahal uang saku enggak cukup buat beli tiket pulang ke Indonesia. Tapi buru-buru pikiran buruk itu saya usir. Kalau kita kelamaan berandai-andai, kapan ketemu solusinya? Ye kan?

4. Lakukan Semua Solusi yang Ada di Pikiranmu, Tapi secara Step by Step

Apa pun solusi yang terbersit di pikiranmu, lakukan saja! Just do it! Kalau masih bisa menghubungi keluarga atau teman seperjalanan, segera hubungi secepatnya. Tapi pada kasus saya di atas, di mana tidak ada jaringan seluler, maka satu-satunya cara adalah bertanya pada orang yang ada di sekeliling kita. Jika satu orang tak memberi jawaban memuaskan, cari orang lainnya. Kalau perlu, hubungi polisi atau petugas resmi yang terpercaya. Apalagi untuk traveller baru seperti saya yang rawan terkena kasus penipuan, sebaiknya bertanya kepada orang yang dapat dipercaya. Lakukan saja semua solusi yang terbersit di pikiran saat itu, tapi satu per satu, step by step. Kita tak pernah tahu mana dari berbagai cara itu yang akan menghasilkan jalan keluar terbaik. Tapi, percayalah, pasti ada solusinya.

5. Mandiri

Satu kesalahan saya adalah, terlalu menggantungkan diri pada orang lain. Seharusnya dalam keadaan tak enak badan pun saya harus mandiri, tidak sekadar mengikuti orang lain yang juga sama tidak pahamnya tentang situasi dan kondisi yang ada seperti saya. Seandainya ingin minta bantuan, saya seharusnya meminta bantuan kepada koordinator rombongan. Sikap mandiri dalam melakukan perjalanan ini mutlak diperlukan, meskipun kita sedang bepergian bersama pasangan, keluarga, ataupun teman-teman, karena segala sesuatu bisa terjadi. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di dalam perjalanan nanti. Bisa saja terpisah, tertinggal, kehilangan jejak, miskomunikasi, dll.

Akhirnya… Alhamdulillah, bisa juga saya melanjutkan perjalanan ke Madinah malam itu dengan tubuh dan pikiran yang sudah luluh lantak tak karuan. Ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga buat saya. Tapi di satu sisi, peristiwa nyasar dan terpisah dari rombongan ini juga menumbuhkan keberanian untuk saya, bahwa yang namanya perjalanan pasti akan membawa banyak hal dan pengalaman berharga. Tak perlu ada yang ditakutkan di dunia ini selama ada Allah di hatimu. Jangan pernah takut atau trauma bepergian lagi, asal pastikan kamu selalu dalam kondisi yang aman.

Untuk kamu yang muslimah, sebenarnya ada larangan agar tidak bepergian tanpa didampingi oleh mahrom. Tetapi beberapa pendapat lagi membolehkan, asal bersama rombongan dan terjamin keamanannya, bukan pergi seorang diri.

Baca juga

#ODOP #EstrilookCommunity #Day1

3 Cita Rasa Kuliner yang Berpadu Menjadi Satu di GH Corner Yogyakarta

Ada satu makanan khas Timur Tengah yang masih menimbulkan rasa penasaran di hati saya sejak Allah mengizinkan saya bertamu ke Rumah-Nya beberapa bulan yang lalu.

Saat di Mekkah, di sebelah hotel tempat menginap ada penjual aneka kuliner khas Arab, seperti Roti Maryam, Kebab, Nasi Briyani, dan makanan khas lainnya. Setiap lewat di depannya, aroma sedap rempah-rempah langsung tercium harum semerbak, bikin perut kami yang sedang berjalan kaki menuju Masjidil Haram mendadak berbunyi nyaring minta diperhatikan isinya hehhehee…

Saat itu, entah kenapa, yang menarik hati saya untuk dibeli hanyalah kuliner Kebab dengan berbagai variasinya. Saya belum tertarik untuk mencoba Nasi Briyani, meskipun mulai kepo dengan olahan nasi yang tekstur berasnya panjang-panjang dan besar, persis seperti tekstur nasi yang ada di Turki dan sempat saya cicipi sebelum menuju Madinah. Bedanya, saat makan di Turki selera makan saya hilang sama sekali, karena kulinernya terasa hambar dan kurang gurih. Serasa makan tanpa garam ๐Ÿ˜€ Tapi kalau makanan Arab, qodarulloh, lidahnya langsung nyambung, Guys! Tahu enggak, kenapa? Pastinya karena kita orang Indonesia ini terbiasa dengan segala masakan berbumbu dan kaya dengan rempah-rempah. Jadi begitu bertemu makanan yang cita rasanya senada, perut pun langsung mengamini ๐Ÿ™‚

Nah, kekepoan saya terhadap Nasi Briyani ternyata terbawa hingga Indonesia kwkwkwk… Entahlah, sampai 10 bulan setelahnya ternyata masih ada rasa kangen ingin sekali mencobanya.

GH Corner Yogyakarta, resto dengan 3 cita rasa kuliner yang unik

Bukan kebetulan pula rasanya, mungkin Allah sudah atur, ya. 2 hari lalu enggak sengaja lewat di sekitar daerah Babarsari, Yogyakarta, sepulang dari mengantar Lubna ke Grhatama Pustaka (Perpustakaan Daerah) untuk pinjam novel anak kesukaannya. Padahal lewat daerah Babarsari ini juga cukup sering, meskipun enggak sering banget. Tapi selama ini sama sekali enggak tahu kalau di daerah situ ternyata ada tempat makan yang menyediakan menu Timur Tengah. Awalnya agak ragu masuk ke dalamnya, karena di parkiran yang ada mobil semua, sementara saya kan jadi tukang ojek karena bawa motor hahhaaha ๐Ÿ˜€ Ini tempat makan jangan-jangan harganya ekslusif nih, pikir saya. Sayang duitnya kannn kalau makan ratusan ribu cuma buat perut *hadehhh pikiran emak-emak hemat ya begini ini. Tapi yo wes, ra popo, dicoba aja, enggak tiap hari ini. Akhirnya hati saya memenangkan pertarungan pikiran ini ๐Ÿ˜€

Saya pun memarkir motor di depan resto tersebut. Nama restonya catet ya, GH CORNER.

Begitu masuk ke dalamnya, wow, enggak salah kalau dibilang resto, secara tempatnya cozy dan nyaman banget. Yang makan ada, tapi enggak banyak, cuma ada sekitar 4-5 orang di salah satu sudut ruangan. Penataan meja juga cantik, karena ada vas bunganya. Jadi ingat suasana makan di rumah sendiri. Terdapat tulisan besar di salah satu sudutnya, “Ingat Makan, Ingat Tuhan”. Hemmm… saya pikir bagus juga ini tagline. Bukankah kita kalau lagi makan dan sudah menyangkut urusan perut biasanya suka lupa dengan Sang Maha Pemberi? ๐Ÿ™‚

Bersamaan dengan kami duduk di meja, datanglah seorang pria mengantarkan menu makanan kepada kami. Yang pertama saya lihat apa, sudah tahu, kannn? Yup, tentu saja harganya! Enggak usah gengsi. Kalau kamu mau makan kudu tahu pasti dong, ya, kisaran harga makanannya berapa. Middle atau high price. Standar atau termasuk resto eksklusif. Kamu penasaran harga makanannya berapaan? Nih, lihat di foto bawah ini, ya ๐Ÿ™‚

Aneka menu Timur Tengah
Aneka menu Melayu

Gimana, udah lihat harganya, kan? Mahal enggak? Hehheee… Alhamdulillah, Guys, ternyata harganya termasuk standar untuk resto sekelas GH Corner yang tempatnya nyaman ini. Setelah membolak balik daftar menu sejenak, ternyata pilihan saya tetap jatuh kepada Nasi Briyani. Ala makkk, saya belum bisa pindah ke lain hati ternyata *uhhuk ihhir. Kalau Lubna enggak di mana-mana makannya, tetepppp aja pilihannya Chicken Katsu. Ibunya jadi geli sendiri, ini anak cinta mati sama menu satu ini.

Oya, yang bikin saya agak surprise, ternyata GH Corner ini menyajikan 3 cita rasa kuliner dalam menu restonya. Selain kuliner Timur Tengah, ada juga kuliner Melayu dan Western. Jadi lengkap banget kalau kita makan bersama keluarga atau teman, dan ada salah satu yang enggak suka masakan Timur Tengah misalnya, mereka dapat memesan masakan dengan cita rasa berbeda. One stop eating place ya kalau mau diistilahkan dalam bahasa Jawanya qiqiqiii…

Aneka menu Western
Lengkap menu dessertnya

Enggak pakai lama, hidangan yang saya tunggu-tunggu selama 10 bulan ini – *setia banget sikk saya sama kamu, Nasi Briyani, – akhirnya muncul juga di depan saya. Aroma Nasi Briyani langsung semerbak, bikin Lubna jadi kepo.

“Kok aromanya enak, sih, Bu? Aku jadi pengen nyoba..”

“Ya udah, cobain aja,” jawab saya.

Nasi Briyani yang udah ditunggu 10 bulan lamanya hehhee…

Setelah dicoba, ternyata dia kurang doyan, karena ada aroma kunyit pada nasinya. Justru Lubna suka dengan bumbu karinya yang gurih dan cenderung asin. Jadi Nasi Briyani ini disajikan dengan taburan bawang goreng, bersama dengan bumbu kari dalam mangkuk kecil. Kemudian ada daging ayam yang sudah dibumbu kari juga. Aroma rempahnya kental, seperti masakan padang. Kalau kamu kurang suka dengan bau rempah mungkin akan sedikit terganggu saat memakannya. Saya sendiri karena memang sudah lama ngidam Nasi Briyani dan dalam kondisi lafarrr habis jadi tukang ojek oke-oke aja dengan rasanya. Mirip dengan nasi kuning sebenarnya, tapi ini ada tambahan bumbu rempah lainnya selain kunyit.

Chicken Katsu favorit Lubna

Bagaimana dengan Chicken Katsunya? Alhamdulillah, enak, kata Lubna sambil senyum-senyum. Dengan harga Rp25.000 untuk satu piring Chicken Katsu + free secangkir teh manis, recommended banget untuk harga para mahasiswa. Letak resto ini memang tak jauh dari komplek beberapa perguruan tinggi dan sekolah di sekitarnya. Universitas Atma Jaya, Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Universitas Proklamasi, STIE YKPN, SMAN 2 Babarsari, ada di daerah sekitar GH Corner ini. Dekat pula dengan Rumah Sakit Bersalin “Semar” dan instansi pemerintah. Strategis deh lokasinya.

Kalau kamu sedang menyantap hidangan dan terdengar suara adzan, jangan khawatir, di lantai 2 ada mushola. Kata Lubna ada area memanah juga di lantai 2, tapi saya enggak naik ke atas, cuma Lubna yang jalan-jalan ke lantai 2 ๐Ÿ™‚

Di meja depan kasir tersedia beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang. Ada roti beraneka rasa, ada botol kecil yang saya enggak baca apa isinya, tapi bentuknya seperti botol kecap, dan ada pula cemilan Cistick alias kue bawang. Dan itu semua kata mbak Kasirnya adalah produksi sendiri di bawah label Ikhwan Bakery. Mantap ya, pembeli tentu lebih terdorong untuk mencoba kalau itu adalah produksi sendiri karena sudah tahu kualitas makanannya. Lubna minta dibelikan Cistick yang dikemas cukup eksklusif dan dibandrol seharga Rp. 13.000 per bungkus.

Sampai di rumah, saya coba cicipin Cisticknya. Wah, ternyata enak juga kue bawangnya. Enggak terlalu gurih, kok, sedang aja asinnya. Tapi di gigitan terakhir sangat terasa kalau ada cita rasa menteganya. Unik jika dibandingkan dengan kue bawang lain yang biasa saya makan.

Ssttt… Lubna kelihatannya happy banget habis saya ajak ke sana. Di rumah cerita terus sama Eyangnya tentang resto ini ๐Ÿ™‚ Dia mah memang selalu antusias dan bahagia setiap diajak ke tempat baru yang belum pernah kita datangi sebelumnya. Next time jadi pengen ajak Eyangnya Lubna ke sini ah, dan ajak teman lain juga buat ngerumpi positif di tempat ini. Secara tempatnya nyaman banget. Kamu yang lagi liburan ke Yogya kalau cari kuliner Timur Tengah datang aja ke sini. Harganya standar, tempatnya nyaman, dan pastinya HALAL..

#SETIP_Day5 #SemingguTigaPostingan #Estrilook

Pahami 5 Tata Cara Ibadah Umroh Ini Agar Umrohmu Mabrur

Dears, ibadah umroh merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dilakukan oleh umat muslim, selain ibadah haji yang merupakan ibadah wajib.
.
Karena padatnya waktu tunggu umat muslim yang ingin berhaji, bahkan mencapai belasan tahun, banyak yang akhirnya mendahulukan ibadah umroh demi melepas kerinduan untuk bertamu ke Rumah-Nya.
.
Jika kamu termasukย salah satu orang yang beruntung dipanggil oleh-Nya, jangan lupa untuk melakukan persiapan diri dan belajar tata cara ibadah umroh yang benar. Berikut ini rangkuman tata cara ibadah umroh yang sebaiknya kamu pahami sebelum berangkat ke tanah suci :
.
.
1. Persiapan
.
.
textgram_1541639978
.
  • Pakaian ihrom
.
Hal pertama yang disiapkan adalah pakaian ihrom untuk beribadah selama berada di Baitullah. Pakaian ihrom pria berupa kain putih tanpa jahitan, sedangkan wanita lebih bebas, asal tak bermotif dan menutupi seluruh bagian tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan.
.
  • Membersihkan diri
.
Jika pakaian sudah siap, hal selanjutnya adalah membersihkan diri dengan cara mandi besar (mandi dengan cara menyiram seluruh tubuh dari atas kepala sampai ujung kaki). Bagi kaum pria bisa ditambah dengan mencukur kumis. Sedangkan wanita sebaiknya mengikat rambut secara rapi agar tidak ada helaian rambut yang muncul dari sela-sela kerudung yang digunakan.
.
.
2. Ihrom
.
Pengertian ihrom adalah kondisi saat jamaah dalam keadaan sudah “berniat” untuk melakukan umroh.
.
Ada beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan saat berihrom :
.
Larangan bagi pria :
.
1. Memakai pakaian biasa (bukan pakaian ihrom)
2. Memakai sepatu yang menutup mata kaki
3. Memakai penutup kepala, seperti topi/peci, dan sejenisnya
.
Larangan bagi wanita :
.
1. Memakai sarung tangan
2. Memakai cadar
.
Larangan bagi pria dan wanita :
.
1. Memakai wewangian (kecuali yang telah digunakan sebelum ihrom)
2. Memotong kuku dan mencukur rambut
3. Berburu binatang
4. Menikah atau menikahkan, dan melamar wanita
5. Berhubungan suami isteri
6. Bertengkar
7. Memotong pohon di tanah harom
.
.
3. Thawaf
.
.
textgram_1541642629
.
.
Setelah berniat ihrom di tempat miqot (di masjid tertentu yang digunakan untuk berniat), yang dilakukan berikutnya adalah thawaf, yaitu mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran.
.
Thawaf termasuk dalam salah satu rukun umroh dan pelaksanaannya tidak boleh diwakilkan kepada siapa pun. Untuk jamaah yang tidak mampu mengelilingi ka’bah dengan berjalan kaki disediakan kursi roda dan petugas khusus untuk memudahkan pelaksanaan thawaf. Jadi kamu tidak perlu khawatir tidak dapat melakukan thawaf apabila sedang dalam kondisi tidak sehat, karena diperbolehkan menggunakan fasilitas penunjang yang memudahkan prosesi ini.
.
Yang perlu diperhatikan saat thawaf :
.
1. Suci dari hadats dan najis (bagi perempuan tidak sedang haid atau nifas)
2. Dilaksanakan di dalam wilayah Masjidil Haram
3. Posisi ka’bah berada di sebelah kiri
4. Dimulai dari arah sejajar dengan sudut Hajar Aswad dan diakhiri pula di rukun Hajar Aswad
.
Setelah selesai melakukan thawaf 7 putaran, kamu disunnahkan untuk melaksanakan sholat sunnah thawaf 2 rakaat di belakang Maqom Ibrahim, yang merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdoa.
.
.
4. Sa’i
.
.
textgram_1541641806
.
.
Selesai melakukan thawaf, ibadah berikutnya adalah sa’i, yaitu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali. Diawali dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwah.
Sama dengan prosesi thawaf, ibadah sa’i adalah salah satu rukun umroh yang tidak boleh ditinggalkan atau diwakilkan oleh orang lain.
.
.
5. Tahalul
.
.

images (13)
Image : antarafoto.com

.
.
Tahalul adalah tahapan terakhir dari rangkaian ibadah umroh, yaitu mencukur rambut minimal 3 helai. Setelah selesai tahalul maka selesai pula prosesi ibadah umroh. Ini artinya seluruh larangan saat ihrom sudah tidak berlaku lagi.
.
.
5 tata cara ibadah umroh ini sebaiknyaย kamu pelajari sebelum berangkat ke Baitullah, ya Dears,ย agar ibadahmu lancar. Teriring doa semoga ibadah umrohmu mabrur dan penuh keberkahan dari Allah Swt.
.
Untuk kamu yang belum mampu menjalankan ibadah ini tetaplah semangat berdoa, ikhtiar dan terus niatkan agar Allah Swt mampukan dan izinkan ke rumah-Nya.
.
Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin ๐Ÿ’•
.
.
Baca juga tulisan tentang kota Madinahย di sini
.
.
๐Ÿ’œ๐Ÿ’›๐Ÿ’š

Ketika Impian Menjadi Nyata (2) : Madinah

Alhamdulillah, kita lanjut lagi ya cerita umrohnya ๐Ÿ˜Š Maafkannn kelamaan lanjutannya dari cerita sebelumnya…

Yang mau baca kisah sebelumnya adaย disini

Jadi setelah 4 jam perjalanan Istanbul – Madinah, sampai juga di bandara Madinah sekitar pukul 00.30 dini hari. Waktu itu ada ratusan orang jamaah dari berbagai negara yangย landingย berbarengan rombongan kami. Jadi kebayang dong ya antrian imigrasinya seperti apa.
.
Nah, parahnyaaa…. petugas imigrasi di bandara Madinah santaiiiii banget kerjanya. Padahal semuanya pria. Dan rupanya mereka hobi ngobrol dan bicara dengan sesama rekan kerja. Duhhh itu antrian sampai lebih dari 2 jam.
.
Saya kasihan melihat beberapa jamaah yang sudah lanjut usia harus menunggu selama itu. Banyak diantara jamaah, termasuk saya, yang akhirnya duduk ngglesot alias ndelosor di bawah, karena sudah tidak tahan berdiri berjam-jam begitu lama. Bahkan sampai ada yang jatuh lho saking lamanya menunggu ๐Ÿ˜”
.
Hemmm.. bedaaa 360 derajat dengan petugas imigrasi di bandara Turki yang serba cepat, disiplin, dan tak banyak bicara.
.
Sekitar jam 03.00 pagi akhirnya selesai juga prosesnya. Kami telah dijemput oleh seorang Muthawwif (pembimbing umroh) yang ternyata telah menunggu kedatangan kami sejak jam 23.00. Mantap ya nunggu yang dijemput aja 4 jam lamanya di bandara. Kalau naik pesawat sudah sampai Istanbul itu ๐Ÿ˜
.
.
Dari bandara kami diantar menggunakan bis menuju hotel di dekat Masjid Nabawi. Alhamdulillah hotelnya terletak di belakang pasar. Jadi setiap akan ke masjid kami harus melewati pasar yang menjual aneka oleh-oleh, suvenir, dan berbagai keperluan untuk jamaah. Harga-harganya pun relatif murah.
.
Untuk satu jilbab segi 4 yang bahannya lumayan halus, kita bisa beli seharga 5 SR (Saudi Riyal).
Kurs 1 Riyal sekitar Rp. 3.850, –
Untuk peci bentuk bulat, kamu bisa beli dengan harga bervariasi. Ada yang 5 SR, ada pula yang hanya 2 SR.
.
Oh ya, saya sempat beli tas traveling jinjingย gede di pasar ini. Mau tahu harganya berapa? Only 15 SR aja, alias gak sampai Rp. 60ribu ๐Ÿ˜ ck… ck… Padahal tasnya lumayan besar dan kuat loh.
Ehhh ini kenapa kita malah keterusan bahas tentang harga oleh-oleh ya hehhee..
Oke, saya lanjut lagi cerita tentang masjid Nabawi.
.
.

IMG_20180714_004824_327
Kubah hijau di belakang saya adalah makam Rasululullah Saw.

.
.
Masjid Nabawi ini merupakan masjid kedua yang dibangun Rasulullah Saw setelah masjid Quba. Saat itu beliau dalam masa hijrah dari Mekkah ke kota Madinah Al Munawwaroh yang jaraknya sekitar 340 km dari kota suci Mekkah. Ciri khas masjid Nabawi ini ada pada atap di pelataran masjidnya yang dapat membuka dan menutup seperti payung.
Setelah sholat Subuh atap-atapnya mulai dibuka, dan setelah sholat Ashar atapnya ditutup, sehingga kita sholat Maghrib dan Isya’ langsung beratapkan langit. Masyaa Allah.
.

Exif_JPEG_420
Atap di pelataran masjid siang hari

.

Exif_JPEG_420
Saat magrib tiba

.
Di dalam masjid Nabawi terdapat makam Rasulullah yang ditandai dengan kubah berwarna hijau. Untuk masuk kesana dibatasi waktunya dan butuh banget perjuangan, karena harus berebut dengan ratusan jamaah dari negara lain. Biasanya ustadz pembimbing atau Muthawwif akan membimbing jamaahnya menuju tempat mustajab berdoa yang disebut Raudhah (Taman Surga). Raudhah ini letaknya diantara bekas mimbar Rasulullah dan makam beliau di dalam masjid.
.
.
Oya, Madinah ini kotanya tenang, nyaman, terdapat banyak pohon kurma, dan tidak seramai Mekkah. Enak deh untuk kamu yang suka jalan dan lihat-lihat suasana kota.
.
Sayangnya rombongan kami hanya stay 3 hari disini. Belum puas sebenarnya karena belum sempat keliling banyak. Ziarah hanya diajak ke Jabal Uhud dan kebun kurma. Padahal pengen banget lihat onta, tapi belum kesampaian. Doakan ya next time bisa kesana lagi dalam rangka ibadah haji yang wajib buat umat muslim. Aamiin… โ˜บ
.
.

Exif_JPEG_420
Jalan raya di pusat kota Madinah, sekitar Masjid Nabawi. Tenang & tidak terlalu ramai.

.
.
Rasulullah pernah berkata, bahwa sholat di Masjid Nabawi memiliki pahala 1000x lipat dibandingkan sholat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram. Dan sholat di Masjidil Haram memiliki keutamaan 100.000x lipat dibanding sholat di masjid lainnya.
Jadi kalau kamu punya rezeki, jangan tunda lagi untuk segera berkunjung ke rumah Allah dan Rasulnya, ya. Insya Allah Dia akan ganti seluruh biaya yang kamu keluarkan dalam bentuk rezeki yang lebih berlimpah dan barakah ๐Ÿ’–
Next kita sambung lagi kisah di Mekkah Al Mukarromah ya…

Cara Membuat Paspor dan Suntik MENINGITIS Tahun 2018

Assalamu’alaikum,

Haiii… Adakah teman-teman yang ingin berangkat umroh? Pasti sudah tahu kan ya bahwa salah satu syarat berangkat umroh adalah harus melakukan suntik Meningitis. Nah, saya ingin sharing sedikit pengalaman pertama cara membuat paspor dan suntik meningitis yang 2 minggu lalu saya lakukan.

Saya termasuk peserta umroh yang nekat mendaftar secara mendadak sekitar 3 minggu sebelum keberangkatan. Sama seperti rezeki dadakan yang Allah berikan secara tiba-tiba kepada saya.

Awalnya pesimis sih bisa berangkat dalam waktu kurang dari 3 minggu karena saya belum pernah keluar negeri sama sekali, yang artinya juga belum pernah punya paspor. Ketambahan lagi saya belum percaya bahwa saya bisa berangkat dalam waktu secepat itu ๐Ÿ˜‚ Tapi biro umroh tempat saya mendaftar meyakinkan, mereka akan membantu, asalkan syarat pas foto berwarna 4×6 berlatar belakang putih + KTP + KK sudah tersedia secepatnya.

Akhirnya pada tanggal 2 April 2018 jam 08.00 pagi saya meluncur terlebih dahulu ke Kantor Imigrasi Yogyakarta untuk melakukan interview dan foto pembuatan paspor. Karena sebelumnya telah mendaftar secara online dan datang tepat waktu sesuai jadwal, tidak sampai 30 menit semua proses Alhamdulillah kelar dilakukan. Saya langsung membayar biaya paspor Rp. 355.000, – di loket Mobil Pos yang tersedia di halaman Kantor Imigrasi. Paspornya sendiri baru dapat diambil 5 hari kerja setelah dilakukan pembayaran.

 

Sumber foto : sekolahumroh.com

 

Selesai dari Kantor Imigrasi, saat itu juga saya meluncur ke KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) untuk suntik Meningitis. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Kantor Imigrasi. Saya membawa pasfoto 4×6 + foto copy KK + KTP untuk jaga-jaga jika dibutuhkan.

Sampai disana ternyata sudah banyak peserta suntik yang antri (padahal masih jam 9) dan rata-rata mereka masih bingung bagaimana prosedurnya, termasuk saya ๐Ÿ™ˆ

Untungnya, ada beberapa petugas yang memang bertugas melayani berbagai pertanyaan soal prosedur suntik Meningitis, meskipun memang tidak banyak dan harus sabarrrrr banget nungguin mereka jelasin ke peserta lain.

Intinya begini prosedur suntiknya :

1. KKP tidak menyediakan formulir pendaftaran secara langsung. Jadi kita harus isi data terlebih dahulu di formulir online di web resmi berikut ini http://kespel.depkes.go.id. Mengisinya dari HP masing-masing ya, karena KKP tidak menyediakan fasilitas komputer untuk peserta melakukan pendaftaran online. Yang disediakan disana adalah wifi gratis โ˜บ

2. Selesai mengisi data diri dan mengupload KTP, jangan lupa download terlebih dahulu formulir yang telah diisi tadi, lalu kirimkan ke email resmi KKP. Nanti ada petugas khusus yang langsung mengeprint formulir yang kita kirimkan ke email tadi. Antri sih, tapi dinikmati aja deh ya, daripada harus ngeprint diluar kantor.

3. Selesai mencetak formulir pendaftaran, barulah kita boleh mengambil nomor antrian di loket. Petugas loket akan menanyakan paspor kita sebelum mengijinkan kita melakukan suntik Meningitis. Untuk kasus seperti saya yang belum jadi paspornya, diperbolehkan menunjukkan bukti pelunasan paspor saja.

4. Setelah menyerahkan formulir ke loket, saya dipersilahkan melakukan cek urine terlebih dahulu. Kemudian barulah dikumpulkan dalam satu ruangan yang isinya kurang lebih 10 orang untuk dijelaskan segala hal terkait dengan vaksinasi Meningitis.

Oya, ada kasus sedikit. Seperti halnya vaksinasi lainnya, Meningitis tidak boleh dilakukan apabila peserta dalam keadaan demam.
Payahnya, hari itu kondisi badan saya agak demam karena begadang sampai subuh nungguin anak yang lagi sakit. Petugas memeriksa suhu badan saya dan bertanya apakah saya sehat? Karena takut gagal suntik, buru-buru dengan penuh yakin saya jawab bahwa saya sehat wal’afiat. Suhu tubuh yang hangat disebabkan oleh kurang tidur, bukan karena bakteri atau virus tertentu.

5. Setelah itu peserta dipersilahkan membayar biaya Meningitis, kemudian masuk satu demi satu ke ruangan untuk melakukan suntik di lengan atas sebelah kiri. Saya lupa berapa persisnya biaya Meningitis kemarin. Yang jelas sekitar 300ribuan.

6. Selesai suntik, peserta akan diminta menunggu untuk dipanggil kembali mengambil buku Meningitis yang sudah jadi.

7. Tarraaaa….selesai deh dalam satu hari ๐Ÿ˜ Kalau tidak salah ingat masa berlaku buku suntik Meningitis sekitar 2 tahun dari masa pembuatan.

Oiya, jika ditotal biaya bikin pasport dan suntik Meningitis total keduanya hampir 700ribuan. Mungkin ada yang membutuhkan informasi biaya ini, silakan dibaca dulu ya dari atas biar gak bingung ๐Ÿ˜Š.