Arsip Tag: Turki

5 Tips Jitu Mencapai Impian, Praktikkan, yuk!

Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), Istanbul

20 April 2018, satu tahun yang lalu, adalah tanggal keramat dalam kehidupan saya. Wewww… apaan sih pakai keramat-keramatan segala πŸ˜€ Hehhee… maksudnya, tanggal yang enggak bakalan terlupa seumur hidup, insya Allah.

Hari itu adalah momen di saat Allah mengabulkan impian dan cita-cita yang terpendam sejak SD dulu. Apaan tuh? He em, saya pengennn banget bisa menginjak tanah lain selain tanah air tercinta Indonesia. Sebegitu pengennya, dulu waktu SMA sempat pengen daftar pertukaran pelajar dan beasiswa ke luar negeri, tapi qadarallah selalu ketinggalan info, jadi enggak pernah terwujud terus hingga dewasa *hiksss…

Setelah bekerja, keinginan ke luar negeri mulai beralih bukan sekadar untuk jalan-jalan semata, tapi mulai terfokus ingin sekali bisa melihat Ka’bah dan mengunjungi Rumah-Nya. Entah bagaimana caranya, saya enggak tahu. Kalau dihitung-hitung, duit enggak pernah bisa terkumpul sejumlah biaya yang dibutuhkan. Sedih, ya πŸ™ Pernah dapat kiriman surat undian berhadiah 60 juta juga. Waktu itu udah ngerasa seneng dan happy aja, rencana buat naik haji. Eeehhh… ternyata penipuan. Hiksss….

Terus, apakah saya ngambek dan enggak pengen ke luar negeri lagi? Alhamdulillah Guys, saya bukan tipe ngambekan gitu. Sebaliknya, saya sangat baik hati dan tidak sombong kwkwk… *nggak nyambung

Selain pengen ke Baitullah, keinginan ke luar negeri berlanjut pengen ke Jepang. Waktu itu sampai bela-belain kursus bahasa Jepang segala demiiii cita-cita yang sudah ada sejak SD ini.

Setelah cita-cita ke Jepang belum terwujud juga, mendadak ada kesempatan nonton bareng film “99 Cahaya di Langit Eropa” bersama penulis novelnya, Hanum Rais. Nah, dari situ deh fokus saya mulai mengembara ke Eropa, terutama Turki dan Spanyol, negara tempat sejarah peradaban Islam banyak terukir. Coba kamu perhatikan, betapa saya begitu banyak maunya, ya πŸ™‚ Jadi ingat lagu Doraemon, “Aku ingn begini, aku ingin begitu….”

Bersamaan dengan keinginan ke Eropa, di televisi mulai sering ditayangkan serial Turki. Pemain-pemainnya tahu sendirilah ya, cakep-cakep semua, terlihat begitu sempurna. Saat melihat aliran sungai-sungai di kota Istanbul dalam serial televisi itulah, keinginan ke sana muncul kembali lebih kuat, meskipun saya enggak tahu gimana caranya.

Pemahaman tentang cara mewujudkan mimpi mulai saya dapatkan setelah mengikuti seminar motivasi dari si mas motivator Ippho Santosa pada bulan Maret 2017 dan mengikuti kelas online dari seorang coach bernama Mutya Dita di bulan Juli 2017. Waktu itu saya ikuti saja semua yang diajarkan, tanpa banyak komentar. Soal terwujud atau tidak, wallahu a’lam, kita hanya manusia biasa. Ada Allah Yang Maha Pengatur di atas segalanya.

Kamu penasaran bagaimana metode dan caranya? Sebenarnya sederhana aja kok, saya yakin, teman-teman juga sudah melakukan beberapa hal di bawah ini, bukan?

1. Berdoa

Aktivitas satu ini merupakan kewajiban kita setiap hari. Ada ataupun tak ada impian yang ingin diwujudkan, berdoa dan beribadah adalah bentuk rasa syukur kita terhadap kuasa-Nya yang masih memberikan nafas untuk hidup sampai hari ini. Bahkan Allah pun pernah berkata di dalam Alquran,

“Berdoalah, niscaya akan Aku kabulkan….”

Dari kalimat ini saja sebenarnya kita harus YAKIN dengan janji Allah. Kalau pengen sesuatu, bilang ke Dia, mohon dan menangislah seperti seorang bayi yang menangis merengek-rengek minta makanan kepada orang tuanya.

2. Tulis Impianmu Secara Berulang (Repetisi)

Dari dulu saya sering baca cara satu ini, tapi enggak pernah percaya πŸ˜€ jadi ya gitu deh, enggak pernah dilakukan. Mulai nurut dipraktikkan setelah ikut kelas online.

Ternyata, menulis apa yang kita inginkan erat sekali hubungannya dengan penyimpanan memori di pikiran bawah sadar. Tapi menulisnya harus di kertas lho, ya, secara manual, bukan di hp atau laptop, karena setiap coretan tangan kita merupakan guratan dari otak dan isi pikiran kita. Itu sebabnya kenapa ada ilmu Grafologi (membaca karakter seseorang dari tulisan tangannya) πŸ™‚

Di kertas, kamu boleh sepuasnya menulis impianmu secara detil mumpung enggak ada yang baca. Lebih baik lagi kalau nulisnya saat pikiran terasa rileks, misalnya menjelang tidur malam, atau sesaat setelah bangun tidur.

Lakukan penulisan impian ini berulang-ulang setiap hari. Untuk kamu yang baru pertama kali melakukan, sebaiknya menulislah minimal 21 hari tanpa terputus. Terus, kalau belum 21 hari udah terputus gimana? Lupa enggak nulis sehari misalnya. Ya terpaksa hitungannya diulang lagi dari hari ke-1 lagi sampai hari ke-21 tanpa terputus πŸ˜€

Ampunnn, ribet amat ya, mungkin kamu akan berpikir begitu hihii.. Udah deh, just do it, ya, enggak pakai protes kwkwk…

3. Feel It

Feel your dreams… aliasss rasakan impianmu. Dapetin feel-nya.

Kamu pengen ke Baitullah? Bayangin kamu lagi berdoa sambil sesenggukan di depan Ka’bah. Atau bikin paspor dulu, seolah-olah kamu sudah siap berangkat ke sana.

Kamu pengen beli mobil Honda BRV? Tempel gambarnya. Kalau perlu datangi tempat persewaan mobil. Sewa mobil itu beberapa jam biar kamu bisa tahu kayak apa duduk di dalamnya, seperti apa joknya, dashboard-nya, rem, dan gasnya.

Eitss…. tapi ini enggak berlaku kalau kamu cari pasangan halal ya. Jangan sampai deh ada sewa-menyewa begitu sebelum waktunya *hikss… Kalau belum halal jangan dekat-dekat, apalagi disentuh πŸ™‚ Cukup kamu kagumi aja dari jauh. Datangi rumahnya hanya jika kamu sudah mantap ingin meminangnya πŸ˜€

4. Memantaskan Diri

Kata-kata ini sering ditulis Ippho Santosa dalam tulisan-tulisannya. Kalau ingin impianmu tercapai, pantaskan diri kita terlebih dahulu. Ingin menjadi seorang ibu, sudah siapkah diri kita menerima amanah berupa seorang anak? Ingin menjadi seorang suami, sudah siapkah kita menjadi seorang imam dan ayah yang baik? Hampir mirip dengan poin nomor 3 tadi ya, rasakan energinya dan tanyakan apakah kamu pantas untuk menerima impian itu.

5. Bersedekah

Sedekah adalah penolak bala dan penarik rezeki. Untuk bersedekah tak perlu menunggu kaya dan banyak duit. Justru setelah kita bersedekah, Allah akan menambah dan memperbanyak rezeki kita.

Bolehlah kamu tak percaya, karena saya pun dulu pernah berada di posisi tak percaya tentang keajaiban sedekah. Ternyata ketidakpercayaan itu Allah balas dengan berbagai bukti nyata yang membuat saya merasa malu dan insyaf. Semoga enggak ada lagi di antara teman-teman yang mengalami ketidakpercayaan dahsyatnya sedekah seperti saya ini, ya…. πŸ™

Satu ilmu yang saya dapat dari Ippho Santosa adalah, jika kamu punya IMPIAN BESAR, sedekahnya juga harus BESAR, di luar kebiasaan. Beliau mengibaratkan, jika ada seorang pria ingin dapat jodoh wanita yang cantik, putih, dan salihah, tak cukup hanya sedekah 10ribu saja. Boneka Barbie di toko aja harganya ratusan ribu, apalagi pengen dapetin manusia asli, sedekahnya jangan main-main, begitu…. πŸ˜€

Memang, tak semua orang suka bermimpi. Bahkan ada saja yang menertawakan impian kita. Tapi tak mengapa, karena sebenarnya kita hanya butuh Dia untuk mendampingi, bukan siapa-siapa.

Petinju legendaris Muhammad Ali pernah berkata,

“…The men who has no imagination has no wings…”

Orang yang tidak memiliki imajinasi ibarat orang yang tidak memiliki sayap. Mereka tak bisa terbang ke mana-mana. Padahal sejatinya, manusia sering diibaratkan sebagai seorang musafir, alias orang yang terus melakukan perjalanan tiada henti.

Artinya, hidup haruslah terus kita isi dengan pembelajaran baru yang hanya akan berakhir saat kita telah menutup mata, kembali kepada-Nya.

Barakallahu fiikum…

Baca juga

#SETIP_Day13
#SemingguTigaPostingan
#EstrilookCommunity



3 Cita Rasa Kuliner yang Berpadu Menjadi Satu di GH Corner Yogyakarta

Ada satu makanan khas Timur Tengah yang masih menimbulkan rasa penasaran di hati saya sejak Allah mengizinkan saya bertamu ke Rumah-Nya beberapa bulan yang lalu.

Saat di Mekkah, di sebelah hotel tempat menginap ada penjual aneka kuliner khas Arab, seperti Roti Maryam, Kebab, Nasi Briyani, dan makanan khas lainnya. Setiap lewat di depannya, aroma sedap rempah-rempah langsung tercium harum semerbak, bikin perut kami yang sedang berjalan kaki menuju Masjidil Haram mendadak berbunyi nyaring minta diperhatikan isinya hehhehee…

Saat itu, entah kenapa, yang menarik hati saya untuk dibeli hanyalah kuliner Kebab dengan berbagai variasinya. Saya belum tertarik untuk mencoba Nasi Briyani, meskipun mulai kepo dengan olahan nasi yang tekstur berasnya panjang-panjang dan besar, persis seperti tekstur nasi yang ada di Turki dan sempat saya cicipi sebelum menuju Madinah. Bedanya, saat makan di Turki selera makan saya hilang sama sekali, karena kulinernya terasa hambar dan kurang gurih. Serasa makan tanpa garam πŸ˜€ Tapi kalau makanan Arab, qodarulloh, lidahnya langsung nyambung, Guys! Tahu enggak, kenapa? Pastinya karena kita orang Indonesia ini terbiasa dengan segala masakan berbumbu dan kaya dengan rempah-rempah. Jadi begitu bertemu makanan yang cita rasanya senada, perut pun langsung mengamini πŸ™‚

Nah, kekepoan saya terhadap Nasi Briyani ternyata terbawa hingga Indonesia kwkwkwk… Entahlah, sampai 10 bulan setelahnya ternyata masih ada rasa kangen ingin sekali mencobanya.

GH Corner Yogyakarta, resto dengan 3 cita rasa kuliner yang unik

Bukan kebetulan pula rasanya, mungkin Allah sudah atur, ya. 2 hari lalu enggak sengaja lewat di sekitar daerah Babarsari, Yogyakarta, sepulang dari mengantar Lubna ke Grhatama Pustaka (Perpustakaan Daerah) untuk pinjam novel anak kesukaannya. Padahal lewat daerah Babarsari ini juga cukup sering, meskipun enggak sering banget. Tapi selama ini sama sekali enggak tahu kalau di daerah situ ternyata ada tempat makan yang menyediakan menu Timur Tengah. Awalnya agak ragu masuk ke dalamnya, karena di parkiran yang ada mobil semua, sementara saya kan jadi tukang ojek karena bawa motor hahhaaha πŸ˜€ Ini tempat makan jangan-jangan harganya ekslusif nih, pikir saya. Sayang duitnya kannn kalau makan ratusan ribu cuma buat perut *hadehhh pikiran emak-emak hemat ya begini ini. Tapi yo wes, ra popo, dicoba aja, enggak tiap hari ini. Akhirnya hati saya memenangkan pertarungan pikiran ini πŸ˜€

Saya pun memarkir motor di depan resto tersebut. Nama restonya catet ya, GH CORNER.

Begitu masuk ke dalamnya, wow, enggak salah kalau dibilang resto, secara tempatnya cozy dan nyaman banget. Yang makan ada, tapi enggak banyak, cuma ada sekitar 4-5 orang di salah satu sudut ruangan. Penataan meja juga cantik, karena ada vas bunganya. Jadi ingat suasana makan di rumah sendiri. Terdapat tulisan besar di salah satu sudutnya, “Ingat Makan, Ingat Tuhan”. Hemmm… saya pikir bagus juga ini tagline. Bukankah kita kalau lagi makan dan sudah menyangkut urusan perut biasanya suka lupa dengan Sang Maha Pemberi? πŸ™‚

Bersamaan dengan kami duduk di meja, datanglah seorang pria mengantarkan menu makanan kepada kami. Yang pertama saya lihat apa, sudah tahu, kannn? Yup, tentu saja harganya! Enggak usah gengsi. Kalau kamu mau makan kudu tahu pasti dong, ya, kisaran harga makanannya berapa. Middle atau high price. Standar atau termasuk resto eksklusif. Kamu penasaran harga makanannya berapaan? Nih, lihat di foto bawah ini, ya πŸ™‚

Aneka menu Timur Tengah
Aneka menu Melayu

Gimana, udah lihat harganya, kan? Mahal enggak? Hehheee… Alhamdulillah, Guys, ternyata harganya termasuk standar untuk resto sekelas GH Corner yang tempatnya nyaman ini. Setelah membolak balik daftar menu sejenak, ternyata pilihan saya tetap jatuh kepada Nasi Briyani. Ala makkk, saya belum bisa pindah ke lain hati ternyata *uhhuk ihhir. Kalau Lubna enggak di mana-mana makannya, tetepppp aja pilihannya Chicken Katsu. Ibunya jadi geli sendiri, ini anak cinta mati sama menu satu ini.

Oya, yang bikin saya agak surprise, ternyata GH Corner ini menyajikan 3 cita rasa kuliner dalam menu restonya. Selain kuliner Timur Tengah, ada juga kuliner Melayu dan Western. Jadi lengkap banget kalau kita makan bersama keluarga atau teman, dan ada salah satu yang enggak suka masakan Timur Tengah misalnya, mereka dapat memesan masakan dengan cita rasa berbeda. One stop eating place ya kalau mau diistilahkan dalam bahasa Jawanya qiqiqiii…

Aneka menu Western
Lengkap menu dessertnya

Enggak pakai lama, hidangan yang saya tunggu-tunggu selama 10 bulan ini – *setia banget sikk saya sama kamu, Nasi Briyani, – akhirnya muncul juga di depan saya. Aroma Nasi Briyani langsung semerbak, bikin Lubna jadi kepo.

“Kok aromanya enak, sih, Bu? Aku jadi pengen nyoba..”

“Ya udah, cobain aja,” jawab saya.

Nasi Briyani yang udah ditunggu 10 bulan lamanya hehhee…

Setelah dicoba, ternyata dia kurang doyan, karena ada aroma kunyit pada nasinya. Justru Lubna suka dengan bumbu karinya yang gurih dan cenderung asin. Jadi Nasi Briyani ini disajikan dengan taburan bawang goreng, bersama dengan bumbu kari dalam mangkuk kecil. Kemudian ada daging ayam yang sudah dibumbu kari juga. Aroma rempahnya kental, seperti masakan padang. Kalau kamu kurang suka dengan bau rempah mungkin akan sedikit terganggu saat memakannya. Saya sendiri karena memang sudah lama ngidam Nasi Briyani dan dalam kondisi lafarrr habis jadi tukang ojek oke-oke aja dengan rasanya. Mirip dengan nasi kuning sebenarnya, tapi ini ada tambahan bumbu rempah lainnya selain kunyit.

Chicken Katsu favorit Lubna

Bagaimana dengan Chicken Katsunya? Alhamdulillah, enak, kata Lubna sambil senyum-senyum. Dengan harga Rp25.000 untuk satu piring Chicken Katsu + free secangkir teh manis, recommended banget untuk harga para mahasiswa. Letak resto ini memang tak jauh dari komplek beberapa perguruan tinggi dan sekolah di sekitarnya. Universitas Atma Jaya, Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Universitas Proklamasi, STIE YKPN, SMAN 2 Babarsari, ada di daerah sekitar GH Corner ini. Dekat pula dengan Rumah Sakit Bersalin “Semar” dan instansi pemerintah. Strategis deh lokasinya.

Kalau kamu sedang menyantap hidangan dan terdengar suara adzan, jangan khawatir, di lantai 2 ada mushola. Kata Lubna ada area memanah juga di lantai 2, tapi saya enggak naik ke atas, cuma Lubna yang jalan-jalan ke lantai 2 πŸ™‚

Di meja depan kasir tersedia beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang. Ada roti beraneka rasa, ada botol kecil yang saya enggak baca apa isinya, tapi bentuknya seperti botol kecap, dan ada pula cemilan Cistick alias kue bawang. Dan itu semua kata mbak Kasirnya adalah produksi sendiri di bawah label Ikhwan Bakery. Mantap ya, pembeli tentu lebih terdorong untuk mencoba kalau itu adalah produksi sendiri karena sudah tahu kualitas makanannya. Lubna minta dibelikan Cistick yang dikemas cukup eksklusif dan dibandrol seharga Rp. 13.000 per bungkus.

Sampai di rumah, saya coba cicipin Cisticknya. Wah, ternyata enak juga kue bawangnya. Enggak terlalu gurih, kok, sedang aja asinnya. Tapi di gigitan terakhir sangat terasa kalau ada cita rasa menteganya. Unik jika dibandingkan dengan kue bawang lain yang biasa saya makan.

Ssttt… Lubna kelihatannya happy banget habis saya ajak ke sana. Di rumah cerita terus sama Eyangnya tentang resto ini πŸ™‚ Dia mah memang selalu antusias dan bahagia setiap diajak ke tempat baru yang belum pernah kita datangi sebelumnya. Next time jadi pengen ajak Eyangnya Lubna ke sini ah, dan ajak teman lain juga buat ngerumpi positif di tempat ini. Secara tempatnya nyaman banget. Kamu yang lagi liburan ke Yogya kalau cari kuliner Timur Tengah datang aja ke sini. Harganya standar, tempatnya nyaman, dan pastinya HALAL..

#SETIP_Day5 #SemingguTigaPostingan #Estrilook