Arsip Tag: Turki

Pertama Kali ke Luar Negeri? Ini 5 Tips saat Nyasar di Negeri Orang ala Saya

Ini adalah pengalaman nyasar alias salah jalan paling mendebarkan seumur hidup yang belum pernah saya ceritakan kepada siapa pun. Satu-satunya orang yang pernah saya ajak cerita adalah ibu saya. Itu pun setelah satu tahun peristiwa ini terjadi, dan seperti dugaan saya, beliau tetap saja merasa kaget, berkali-kali mengucap syukur karena anak perempuannya ini bisa kembali ke rumah dengan selamat dan tak lupa menahan gejolak jantungnya yang serasa mau copot saat mendengar kisah ini. Was-was dan khawatir itu pasti, meskipun sudah berlalu satu tahun yang lalu πŸ˜€

Peristiwa ini terjadi pada bulan April 2018 saat perjalanan dari Jakarta menuju Madinah via Istanbul. Waktu itu pesawat Turkish Air yang saya tumpangi transit di Bandara Ataturk, Istanbul selama 12 jam. Saat akan melanjutkan penerbangan ke Madinah itulah saya terpisah dari anggota rombongan lainnya.

Bandara Ataturk, Istanbul saat Subuh tiba. Masih lengang.

Kondisi badan saya saat itu memang sedang kurang fit, sedikit menggigil dan kedinginan. Mungkin karena lebih dari 24 jam terpapar AC terus-menerus, mulai penerbangan dari Yogya – Jakarta – Istanbul, lalu saat keliling kota seharian naik bis, ditambah kondisi temperatur musim semi di kota Istanbul yang sedang berada di kisaran 15 derajat celsius. Apalagi saya termasuk orang yang alergi dengan hawa dingin, terutama kalau terlalu lama berada di ruangan ber-AC.

Sebenarnya saya tidak terpisah sendiri. Ada 2 orang ibu-ibu anggota rombongan lainnya yang sudah sepuh (lanjut usia) juga berjalan bersama saya. Salah saya juga sebenarnya karena waktu itu minta tolong kepada Ibu Yanti (salah satu dari mereka) untuk memerhatikan anggota rombongan lainnya yang berada di depan, agar jangan sampai terpisah dari yang lainnya. Nah, qadarallah, ibu Yanti ini salah melihat jalan.

Ketika ada persimpangan di ruang tunggu bandara, ibu Yanti memilih tetap berjalan lurus, sementara anggota rombongan lainnya ternyata berbelok ke arah kanan. Karena saya hanya mengikuti instruksi ibu Yanti, akhirnya saya pun juga memilih jalan lurus bersamanya dan ada satu ibu lagi, sebut saja ibu Ana, yang juga sudah lanjut usia, sebaya dengan ibu Yanti.

Setelah berjalan menyusuri koridor ruang tunggu Bandara Ataturk hampir 10 menit dan tak menemukan satu pun anggota rombongan lainnya, sadarlah saya bahwa kami bertiga telah tersesat dan nyasar, alias salah jalan. Heeuuu… enggak usah dibayangin seperti apa rasanya. Kepala langsung cenut-cenut, jantung berdetak kencang seperti lagi balapan naik motor 100 km/jam, ketambahan badan juga lagi enggak karuan. Tapi saya enggak boleh begini terus. Pikiran sadar saya mulai bekerja.Β  Buru-buru cek nomor pintu keberangkatan di tiket yang saya bawa. Qadarallah, pintu keberangkatan belum tertulis di sana. Tambah lemaslah badan saya, huhuhuuu…. Mau telepon dan kirim kabar ke grup WA juga enggak bisa karena paket kartu provider saya hanya bisa digunakan di Saudi Arabia, bukan di Turki. Sebenarnya di bandara ada free wifi, tapi payahnya, pikiran saya sama sekali enggak mikir ke situ, sudah terlanjur panik duluan.

Opsi selanjutnya, akhirnya saya perhatikan layar monitor keberangkatan yang terpampang di ruang tunggu, di mana tertulis nama pesawat, negara tujuan, dan nomor pintu keberangkatan. Sayangnya, ada ratusan informasi penerbangan yang berubah begitu cepat. Mata saya tak sanggup mengikutinya. Paris-Milan-Amsterdam-Berlin-London-Moskow, dan beberapa nama kota di benua Eropa sebenarnya cukup membuat hati saya terpekik bahagia. “Allahhhhh….. aku sudah sampai di Eropaaaa…. terima kasihhh!!!!”Β  pekik girang dan lebay sebagian hati saya, sementara separuh hati saya yang lainnya sedang berguncang hebat dan gemetar karena sadar sedang dalam masalah besar.

Saya ingat, waktu itu sempat melirik arloji di tangan. Sudah hampir pukul 20.30 waktu Istanbul, padahal di tiket yang saya bawa tertulis, pesawat dijadwalkan take off ke Madinah pada pukul 21.00. Yaa Robb, bibir saya komat-kamit berdoa, “Hanya Engkau yang mampu menolong hamba. Kalau sampai tertinggal di sini hamba tak bisa pulang….” pinta hati saya pasrah.

Beberapa kali saya mencoba bertanya kepada petugas yang lalu lalang, tapi tak pernah digubris sama sekali karena mereka juga sedang sibuk. Yup, di Turki semua orang bergerak serba cepat. Jalan aja mereka gesit banget. Memang sih mereka cakep-cakep, enggak ada deh yang jelek, persis seperti terlihat di serial Turki televisi πŸ˜€ Tapi secara karakter, ternyata orang Turki itu keras dan kaku πŸ™ Sempat melintas seorang petugas wanita di depan saya. Saya pun mencoba bertanya kepadanya dengan sopan. Sayangnya, ia membentak karena saat yang bersamaan telepon genggamnya juga berbunyi, “Heiiii kamu enggak lihat telepon saya sedang bunyi??!!” semburnya. Beuhhh…. jutek amat sikk, pekik saya dalam hati. Iya, cuma dalam hati, karena orang bingung kan itu dilarang ngeluh ya, apalagi ngedumel. Bolehnya cuma berdoa πŸ˜€

Setelah lelah menyusuri koridor ruang tunggu sampai keringat dingin keluar semua dan napas yang sudah tak karuan, saya lalu berhenti di depan layar monitor informasi keberangkatan. Kali ini saya coba tenangkan diri dan berdamai dengan diri sendiri. Satu demi satu tulisan yang bergerak cepat itu saya perhatikan. Setelah beberapa menit terpaku pasrah di depan layar monitor, Alhamdulillah, muncul juga informasi keberangkatan pesawat Turkish Air yang saya tumpangi beserta nomor pintu keberangkatannya. Benarlah bahwa pertolongan Allah datangnya justru pada saat kita sudah dalam kondisi pasrah, sepasrah-pasrahnya. Allah ternyata ingin melihat sejauh mana ikhtiar kita mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapi.

Setelah dapat nomor pintu keberangkatan, saya bergegas mengajak dua orang ibu-ibu yang hanya mampu mengikuti saya sedari tadi menuju pintu keberangkatan yang dimaksud. Apakah langsung ketemu? Enggak juga, kan pintu keberangkatannya juga ada puluhan (atau mungkin ratusan? Entahlah, mana sempet ngitung… ) Tapi untungnya, di pertengahan jalan kami bertemu dengan putra ibu Ana yang ternyata juga sedang mencari-cari ibunya. Nah, di sini saya jadi heran. Kok bisa sih anak ibu Ana membiarkan ibunya terpisah dari dirinya? Kalau saya bawa orang tua pergi, apalagi ke luar negeri, enggak bakalan deh saya jauh-jauh dari orang tua. Pokoknya orang tua harus selalu di dekat saya. Gitu kan ya seharusnya?

Dari kejadian di atas, saya simpulkan, ada beberapa tips ala saya yang sebaiknya dilakukan pada saat kita sedang dalam kondisi nyasar dan terpisah dari rombongan, sehingga tak tahu apa yang harus dilakukan.

1. Be Calm

Tenang. Kata ini mungkin enggak populer pada saat kita sedang panik. Tapi sebenarnya ini bisa jadi jalan keluar pertama agar akal kita bekerja pada jalur yang sebenarnya. Pada saat kita sedang panik atau kemrungsung (bahasa Turki ehh Jawa πŸ™‚ ), saat itulah semua jalan seolah tertutup. Kepala panas, jantung berdebar kencang, di atas mata terasa cenut-cenut tak karuan. Kalau sudah begini, coba deh tarik napas panjang, tahan 7 hitungan, lalu hembuskan perlahan-lahan. Dulu saya belum tahu cara ini, asal menenangkan diri aja. Setelah beberapa kali kamu lakukan tarikan napas itu, mulailah berpikir dengan akal sehat apa solusi pertama yang harus dilakukan.

2. Berdoa

Apalah daya kita tanpa tuntunan dan kekuatan dari-Nya. Doa itu sesuatu yang rasanya abstrak, tak berbentuk. Tapi uniknya, keajaiban justru berasal dari situ.

3. Berpikir Positif

Mungkin ini terdengar sungguh klise, ya. Mana sempat sih lagi cemas dan ketakutan kok disuruh mikir positif. Tapi ini bener, lo! Panik itu boleh, enggak ada yang larang. Cuma enggak perlu lama-lama. Waktu itu saya sempat berpikir, bagaimana seandainya ketinggalan pesawat dan enggak bisa lanjut penerbangan ke Madinah? Artinya saya harus tinggal di Turki, padahal uang saku enggak cukup buat beli tiket pulang ke Indonesia. Tapi buru-buru pikiran buruk itu saya usir. Kalau kita kelamaan berandai-andai, kapan ketemu solusinya? Ye kan?

4. Lakukan Semua Solusi yang Ada di Pikiranmu, Tapi secara Step by Step

Apa pun solusi yang terbersit di pikiranmu, lakukan saja! Just do it! Kalau masih bisa menghubungi keluarga atau teman seperjalanan, segera hubungi secepatnya. Tapi pada kasus saya di atas, di mana tidak ada jaringan seluler, maka satu-satunya cara adalah bertanya pada orang yang ada di sekeliling kita. Jika satu orang tak memberi jawaban memuaskan, cari orang lainnya. Kalau perlu, hubungi polisi atau petugas resmi yang terpercaya. Apalagi untuk traveller baru seperti saya yang rawan terkena kasus penipuan, sebaiknya bertanya kepada orang yang dapat dipercaya. Lakukan saja semua solusi yang terbersit di pikiran saat itu, tapi satu per satu, step by step. Kita tak pernah tahu mana dari berbagai cara itu yang akan menghasilkan jalan keluar terbaik. Tapi, percayalah, pasti ada solusinya.

5. Mandiri

Satu kesalahan saya adalah, terlalu menggantungkan diri pada orang lain. Seharusnya dalam keadaan tak enak badan pun saya harus mandiri, tidak sekadar mengikuti orang lain yang juga sama tidak pahamnya tentang situasi dan kondisi yang ada seperti saya. Seandainya ingin minta bantuan, saya seharusnya meminta bantuan kepada koordinator rombongan. Sikap mandiri dalam melakukan perjalanan ini mutlak diperlukan, meskipun kita sedang bepergian bersama pasangan, keluarga, ataupun teman-teman, karena segala sesuatu bisa terjadi. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di dalam perjalanan nanti. Bisa saja terpisah, tertinggal, kehilangan jejak, miskomunikasi, dll.

Akhirnya… Alhamdulillah, bisa juga saya melanjutkan perjalanan ke Madinah malam itu dengan tubuh dan pikiran yang sudah luluh lantak tak karuan. Ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga buat saya. Tapi di satu sisi, peristiwa nyasar dan terpisah dari rombongan ini juga menumbuhkan keberanian untuk saya, bahwa yang namanya perjalanan pasti akan membawa banyak hal dan pengalaman berharga. Tak perlu ada yang ditakutkan di dunia ini selama ada Allah di hatimu. Jangan pernah takut atau trauma bepergian lagi, asal pastikan kamu selalu dalam kondisi yang aman.

Untuk kamu yang muslimah, sebenarnya ada larangan agar tidak bepergian tanpa didampingi oleh mahrom. Tetapi beberapa pendapat lagi membolehkan, asal bersama rombongan dan terjamin keamanannya, bukan pergi seorang diri.

Baca juga

#ODOP #EstrilookCommunity #Day1

5 Tips Jitu Mencapai Impian, Praktikkan, yuk!

Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), Istanbul

20 April 2018, satu tahun yang lalu, adalah tanggal keramat dalam kehidupan saya. Wewww… apaan sih pakai keramat-keramatan segala πŸ˜€ Hehhee… maksudnya, tanggal yang enggak bakalan terlupa seumur hidup, insya Allah.

Hari itu adalah momen di saat Allah mengabulkan impian dan cita-cita yang terpendam sejak SD dulu. Apaan tuh? He em, saya pengennn banget bisa menginjak tanah lain selain tanah air tercinta Indonesia. Sebegitu pengennya, dulu waktu SMA sempat pengen daftar pertukaran pelajar dan beasiswa ke luar negeri, tapi qadarallah selalu ketinggalan info, jadi enggak pernah terwujud terus hingga dewasa *hiksss…

Setelah bekerja, keinginan ke luar negeri mulai beralih bukan sekadar untuk jalan-jalan semata, tapi mulai terfokus ingin sekali bisa melihat Ka’bah dan mengunjungi Rumah-Nya. Entah bagaimana caranya, saya enggak tahu. Kalau dihitung-hitung, duit enggak pernah bisa terkumpul sejumlah biaya yang dibutuhkan. Sedih, ya πŸ™ Pernah dapat kiriman surat undian berhadiah 60 juta juga. Waktu itu udah ngerasa seneng dan happy aja, rencana buat naik haji. Eeehhh… ternyata penipuan. Hiksss….

Terus, apakah saya ngambek dan enggak pengen ke luar negeri lagi? Alhamdulillah Guys, saya bukan tipe ngambekan gitu. Sebaliknya, saya sangat baik hati dan tidak sombong kwkwk… *nggak nyambung

Selain pengen ke Baitullah, keinginan ke luar negeri berlanjut pengen ke Jepang. Waktu itu sampai bela-belain kursus bahasa Jepang segala demiiii cita-cita yang sudah ada sejak SD ini.

Setelah cita-cita ke Jepang belum terwujud juga, mendadak ada kesempatan nonton bareng film “99 Cahaya di Langit Eropa” bersama penulis novelnya, Hanum Rais. Nah, dari situ deh fokus saya mulai mengembara ke Eropa, terutama Turki dan Spanyol, negara tempat sejarah peradaban Islam banyak terukir. Coba kamu perhatikan, betapa saya begitu banyak maunya, ya πŸ™‚ Jadi ingat lagu Doraemon, “Aku ingn begini, aku ingin begitu….”

Bersamaan dengan keinginan ke Eropa, di televisi mulai sering ditayangkan serial Turki. Pemain-pemainnya tahu sendirilah ya, cakep-cakep semua, terlihat begitu sempurna. Saat melihat aliran sungai-sungai di kota Istanbul dalam serial televisi itulah, keinginan ke sana muncul kembali lebih kuat, meskipun saya enggak tahu gimana caranya.

Pemahaman tentang cara mewujudkan mimpi mulai saya dapatkan setelah mengikuti seminar motivasi dari si mas motivator Ippho Santosa pada bulan Maret 2017 dan mengikuti kelas online dari seorang coach bernama Mutya Dita di bulan Juli 2017. Waktu itu saya ikuti saja semua yang diajarkan, tanpa banyak komentar. Soal terwujud atau tidak, wallahu a’lam, kita hanya manusia biasa. Ada Allah Yang Maha Pengatur di atas segalanya.

Kamu penasaran bagaimana metode dan caranya? Sebenarnya sederhana aja kok, saya yakin, teman-teman juga sudah melakukan beberapa hal di bawah ini, bukan?

1. Berdoa

Aktivitas satu ini merupakan kewajiban kita setiap hari. Ada ataupun tak ada impian yang ingin diwujudkan, berdoa dan beribadah adalah bentuk rasa syukur kita terhadap kuasa-Nya yang masih memberikan nafas untuk hidup sampai hari ini. Bahkan Allah pun pernah berkata di dalam Alquran,

“Berdoalah, niscaya akan Aku kabulkan….”

Dari kalimat ini saja sebenarnya kita harus YAKIN dengan janji Allah. Kalau pengen sesuatu, bilang ke Dia, mohon dan menangislah seperti seorang bayi yang menangis merengek-rengek minta makanan kepada orang tuanya.

2. Tulis Impianmu Secara Berulang (Repetisi)

Dari dulu saya sering baca cara satu ini, tapi enggak pernah percaya πŸ˜€ jadi ya gitu deh, enggak pernah dilakukan. Mulai nurut dipraktikkan setelah ikut kelas online.

Ternyata, menulis apa yang kita inginkan erat sekali hubungannya dengan penyimpanan memori di pikiran bawah sadar. Tapi menulisnya harus di kertas lho, ya, secara manual, bukan di hp atau laptop, karena setiap coretan tangan kita merupakan guratan dari otak dan isi pikiran kita. Itu sebabnya kenapa ada ilmu Grafologi (membaca karakter seseorang dari tulisan tangannya) πŸ™‚

Di kertas, kamu boleh sepuasnya menulis impianmu secara detil mumpung enggak ada yang baca. Lebih baik lagi kalau nulisnya saat pikiran terasa rileks, misalnya menjelang tidur malam, atau sesaat setelah bangun tidur.

Lakukan penulisan impian ini berulang-ulang setiap hari. Untuk kamu yang baru pertama kali melakukan, sebaiknya menulislah minimal 21 hari tanpa terputus. Terus, kalau belum 21 hari udah terputus gimana? Lupa enggak nulis sehari misalnya. Ya terpaksa hitungannya diulang lagi dari hari ke-1 lagi sampai hari ke-21 tanpa terputus πŸ˜€

Ampunnn, ribet amat ya, mungkin kamu akan berpikir begitu hihii.. Udah deh, just do it, ya, enggak pakai protes kwkwk…

3. Feel It

Feel your dreams… aliasss rasakan impianmu. Dapetin feel-nya.

Kamu pengen ke Baitullah? Bayangin kamu lagi berdoa sambil sesenggukan di depan Ka’bah. Atau bikin paspor dulu, seolah-olah kamu sudah siap berangkat ke sana.

Kamu pengen beli mobil Honda BRV? Tempel gambarnya. Kalau perlu datangi tempat persewaan mobil. Sewa mobil itu beberapa jam biar kamu bisa tahu kayak apa duduk di dalamnya, seperti apa joknya, dashboard-nya, rem, dan gasnya.

Eitss…. tapi ini enggak berlaku kalau kamu cari pasangan halal ya. Jangan sampai deh ada sewa-menyewa begitu sebelum waktunya *hikss… Kalau belum halal jangan dekat-dekat, apalagi disentuh πŸ™‚ Cukup kamu kagumi aja dari jauh. Datangi rumahnya hanya jika kamu sudah mantap ingin meminangnya πŸ˜€

4. Memantaskan Diri

Kata-kata ini sering ditulis Ippho Santosa dalam tulisan-tulisannya. Kalau ingin impianmu tercapai, pantaskan diri kita terlebih dahulu. Ingin menjadi seorang ibu, sudah siapkah diri kita menerima amanah berupa seorang anak? Ingin menjadi seorang suami, sudah siapkah kita menjadi seorang imam dan ayah yang baik? Hampir mirip dengan poin nomor 3 tadi ya, rasakan energinya dan tanyakan apakah kamu pantas untuk menerima impian itu.

5. Bersedekah

Sedekah adalah penolak bala dan penarik rezeki. Untuk bersedekah tak perlu menunggu kaya dan banyak duit. Justru setelah kita bersedekah, Allah akan menambah dan memperbanyak rezeki kita.

Bolehlah kamu tak percaya, karena saya pun dulu pernah berada di posisi tak percaya tentang keajaiban sedekah. Ternyata ketidakpercayaan itu Allah balas dengan berbagai bukti nyata yang membuat saya merasa malu dan insyaf. Semoga enggak ada lagi di antara teman-teman yang mengalami ketidakpercayaan dahsyatnya sedekah seperti saya ini, ya…. πŸ™

Satu ilmu yang saya dapat dari Ippho Santosa adalah, jika kamu punya IMPIAN BESAR, sedekahnya juga harus BESAR, di luar kebiasaan. Beliau mengibaratkan, jika ada seorang pria ingin dapat jodoh wanita yang cantik, putih, dan salihah, tak cukup hanya sedekah 10ribu saja. Boneka Barbie di toko aja harganya ratusan ribu, apalagi pengen dapetin manusia asli, sedekahnya jangan main-main, begitu…. πŸ˜€

Memang, tak semua orang suka bermimpi. Bahkan ada saja yang menertawakan impian kita. Tapi tak mengapa, karena sebenarnya kita hanya butuh Dia untuk mendampingi, bukan siapa-siapa.

Petinju legendaris Muhammad Ali pernah berkata,

“…The men who has no imagination has no wings…”

Orang yang tidak memiliki imajinasi ibarat orang yang tidak memiliki sayap. Mereka tak bisa terbang ke mana-mana. Padahal sejatinya, manusia sering diibaratkan sebagai seorang musafir, alias orang yang terus melakukan perjalanan tiada henti.

Artinya, hidup haruslah terus kita isi dengan pembelajaran baru yang hanya akan berakhir saat kita telah menutup mata, kembali kepada-Nya.

Barakallahu fiikum…

Baca juga

#SETIP_Day13
#SemingguTigaPostingan
#EstrilookCommunity



3 Cita Rasa Kuliner yang Berpadu Menjadi Satu di GH Corner Yogyakarta

Ada satu makanan khas Timur Tengah yang masih menimbulkan rasa penasaran di hati saya sejak Allah mengizinkan saya bertamu ke Rumah-Nya beberapa bulan yang lalu.

Saat di Mekkah, di sebelah hotel tempat menginap ada penjual aneka kuliner khas Arab, seperti Roti Maryam, Kebab, Nasi Briyani, dan makanan khas lainnya. Setiap lewat di depannya, aroma sedap rempah-rempah langsung tercium harum semerbak, bikin perut kami yang sedang berjalan kaki menuju Masjidil Haram mendadak berbunyi nyaring minta diperhatikan isinya hehhehee…

Saat itu, entah kenapa, yang menarik hati saya untuk dibeli hanyalah kuliner Kebab dengan berbagai variasinya. Saya belum tertarik untuk mencoba Nasi Briyani, meskipun mulai kepo dengan olahan nasi yang tekstur berasnya panjang-panjang dan besar, persis seperti tekstur nasi yang ada di Turki dan sempat saya cicipi sebelum menuju Madinah. Bedanya, saat makan di Turki selera makan saya hilang sama sekali, karena kulinernya terasa hambar dan kurang gurih. Serasa makan tanpa garam πŸ˜€ Tapi kalau makanan Arab, qodarulloh, lidahnya langsung nyambung, Guys! Tahu enggak, kenapa? Pastinya karena kita orang Indonesia ini terbiasa dengan segala masakan berbumbu dan kaya dengan rempah-rempah. Jadi begitu bertemu makanan yang cita rasanya senada, perut pun langsung mengamini πŸ™‚

Nah, kekepoan saya terhadap Nasi Briyani ternyata terbawa hingga Indonesia kwkwkwk… Entahlah, sampai 10 bulan setelahnya ternyata masih ada rasa kangen ingin sekali mencobanya.

GH Corner Yogyakarta, resto dengan 3 cita rasa kuliner yang unik

Bukan kebetulan pula rasanya, mungkin Allah sudah atur, ya. 2 hari lalu enggak sengaja lewat di sekitar daerah Babarsari, Yogyakarta, sepulang dari mengantar Lubna ke Grhatama Pustaka (Perpustakaan Daerah) untuk pinjam novel anak kesukaannya. Padahal lewat daerah Babarsari ini juga cukup sering, meskipun enggak sering banget. Tapi selama ini sama sekali enggak tahu kalau di daerah situ ternyata ada tempat makan yang menyediakan menu Timur Tengah. Awalnya agak ragu masuk ke dalamnya, karena di parkiran yang ada mobil semua, sementara saya kan jadi tukang ojek karena bawa motor hahhaaha πŸ˜€ Ini tempat makan jangan-jangan harganya ekslusif nih, pikir saya. Sayang duitnya kannn kalau makan ratusan ribu cuma buat perut *hadehhh pikiran emak-emak hemat ya begini ini. Tapi yo wes, ra popo, dicoba aja, enggak tiap hari ini. Akhirnya hati saya memenangkan pertarungan pikiran ini πŸ˜€

Saya pun memarkir motor di depan resto tersebut. Nama restonya catet ya, GH CORNER.

Begitu masuk ke dalamnya, wow, enggak salah kalau dibilang resto, secara tempatnya cozy dan nyaman banget. Yang makan ada, tapi enggak banyak, cuma ada sekitar 4-5 orang di salah satu sudut ruangan. Penataan meja juga cantik, karena ada vas bunganya. Jadi ingat suasana makan di rumah sendiri. Terdapat tulisan besar di salah satu sudutnya, “Ingat Makan, Ingat Tuhan”. Hemmm… saya pikir bagus juga ini tagline. Bukankah kita kalau lagi makan dan sudah menyangkut urusan perut biasanya suka lupa dengan Sang Maha Pemberi? πŸ™‚

Bersamaan dengan kami duduk di meja, datanglah seorang pria mengantarkan menu makanan kepada kami. Yang pertama saya lihat apa, sudah tahu, kannn? Yup, tentu saja harganya! Enggak usah gengsi. Kalau kamu mau makan kudu tahu pasti dong, ya, kisaran harga makanannya berapa. Middle atau high price. Standar atau termasuk resto eksklusif. Kamu penasaran harga makanannya berapaan? Nih, lihat di foto bawah ini, ya πŸ™‚

Aneka menu Timur Tengah
Aneka menu Melayu

Gimana, udah lihat harganya, kan? Mahal enggak? Hehheee… Alhamdulillah, Guys, ternyata harganya termasuk standar untuk resto sekelas GH Corner yang tempatnya nyaman ini. Setelah membolak balik daftar menu sejenak, ternyata pilihan saya tetap jatuh kepada Nasi Briyani. Ala makkk, saya belum bisa pindah ke lain hati ternyata *uhhuk ihhir. Kalau Lubna enggak di mana-mana makannya, tetepppp aja pilihannya Chicken Katsu. Ibunya jadi geli sendiri, ini anak cinta mati sama menu satu ini.

Oya, yang bikin saya agak surprise, ternyata GH Corner ini menyajikan 3 cita rasa kuliner dalam menu restonya. Selain kuliner Timur Tengah, ada juga kuliner Melayu dan Western. Jadi lengkap banget kalau kita makan bersama keluarga atau teman, dan ada salah satu yang enggak suka masakan Timur Tengah misalnya, mereka dapat memesan masakan dengan cita rasa berbeda. One stop eating place ya kalau mau diistilahkan dalam bahasa Jawanya qiqiqiii…

Aneka menu Western
Lengkap menu dessertnya

Enggak pakai lama, hidangan yang saya tunggu-tunggu selama 10 bulan ini – *setia banget sikk saya sama kamu, Nasi Briyani, – akhirnya muncul juga di depan saya. Aroma Nasi Briyani langsung semerbak, bikin Lubna jadi kepo.

“Kok aromanya enak, sih, Bu? Aku jadi pengen nyoba..”

“Ya udah, cobain aja,” jawab saya.

Nasi Briyani yang udah ditunggu 10 bulan lamanya hehhee…

Setelah dicoba, ternyata dia kurang doyan, karena ada aroma kunyit pada nasinya. Justru Lubna suka dengan bumbu karinya yang gurih dan cenderung asin. Jadi Nasi Briyani ini disajikan dengan taburan bawang goreng, bersama dengan bumbu kari dalam mangkuk kecil. Kemudian ada daging ayam yang sudah dibumbu kari juga. Aroma rempahnya kental, seperti masakan padang. Kalau kamu kurang suka dengan bau rempah mungkin akan sedikit terganggu saat memakannya. Saya sendiri karena memang sudah lama ngidam Nasi Briyani dan dalam kondisi lafarrr habis jadi tukang ojek oke-oke aja dengan rasanya. Mirip dengan nasi kuning sebenarnya, tapi ini ada tambahan bumbu rempah lainnya selain kunyit.

Chicken Katsu favorit Lubna

Bagaimana dengan Chicken Katsunya? Alhamdulillah, enak, kata Lubna sambil senyum-senyum. Dengan harga Rp25.000 untuk satu piring Chicken Katsu + free secangkir teh manis, recommended banget untuk harga para mahasiswa. Letak resto ini memang tak jauh dari komplek beberapa perguruan tinggi dan sekolah di sekitarnya. Universitas Atma Jaya, Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Universitas Proklamasi, STIE YKPN, SMAN 2 Babarsari, ada di daerah sekitar GH Corner ini. Dekat pula dengan Rumah Sakit Bersalin “Semar” dan instansi pemerintah. Strategis deh lokasinya.

Kalau kamu sedang menyantap hidangan dan terdengar suara adzan, jangan khawatir, di lantai 2 ada mushola. Kata Lubna ada area memanah juga di lantai 2, tapi saya enggak naik ke atas, cuma Lubna yang jalan-jalan ke lantai 2 πŸ™‚

Di meja depan kasir tersedia beberapa oleh-oleh untuk dibawa pulang. Ada roti beraneka rasa, ada botol kecil yang saya enggak baca apa isinya, tapi bentuknya seperti botol kecap, dan ada pula cemilan Cistick alias kue bawang. Dan itu semua kata mbak Kasirnya adalah produksi sendiri di bawah label Ikhwan Bakery. Mantap ya, pembeli tentu lebih terdorong untuk mencoba kalau itu adalah produksi sendiri karena sudah tahu kualitas makanannya. Lubna minta dibelikan Cistick yang dikemas cukup eksklusif dan dibandrol seharga Rp. 13.000 per bungkus.

Sampai di rumah, saya coba cicipin Cisticknya. Wah, ternyata enak juga kue bawangnya. Enggak terlalu gurih, kok, sedang aja asinnya. Tapi di gigitan terakhir sangat terasa kalau ada cita rasa menteganya. Unik jika dibandingkan dengan kue bawang lain yang biasa saya makan.

Ssttt… Lubna kelihatannya happy banget habis saya ajak ke sana. Di rumah cerita terus sama Eyangnya tentang resto ini πŸ™‚ Dia mah memang selalu antusias dan bahagia setiap diajak ke tempat baru yang belum pernah kita datangi sebelumnya. Next time jadi pengen ajak Eyangnya Lubna ke sini ah, dan ajak teman lain juga buat ngerumpi positif di tempat ini. Secara tempatnya nyaman banget. Kamu yang lagi liburan ke Yogya kalau cari kuliner Timur Tengah datang aja ke sini. Harganya standar, tempatnya nyaman, dan pastinya HALAL..

#SETIP_Day5 #SemingguTigaPostingan #Estrilook