Arsip Tag: sains

Pengalaman Ruqyah di BRH Centre, Yogyakarta

pengalaman ruqyah BRH Centre Yogyakarta

Beberapa tahun yang lalu, saya ingat sekali, metode penyembuhan dengan cara ruqyah atau di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut dengan rukiah, menjadi metode penyembuhan yang cukup populer. 

Begitu populernya metode ini sehingga stasiun televisi swasta banyak yang menayangkan proses penyembuhan lewat terapi ruqyah sebagai program rutin mingguan yang peminatnya terus meningkat. Biasanya, ruqyah untuk tayangan program televisi ini dilakukan secara masal di dalam satu ruangan dengan banyak orang sekaligus. Terdapat beberapa ustaz dan ustazah yang membantu mengawasi jalannya ruqyah, sekaligus menenangkan para pasien yang di-ruqyah.

Lalu, kesan pertama apa yang nyantol di kepala saya saat itu?

Yup … kesan pertama adalah, ruqyah hanya diperuntukkan bagi penyakit-penyakit nonmedis saja, seperti gangguan jin, guna-guna, dan gangguan tak kasat mata lainnya yang berhubungan dengan sesuatu yang gaib.

Kedua, proses penyembuhan yang terjadi saat pasien di-ruqyah cukup bikin saya gemetar dan merinding. Kalau enggak teriak-teriak, guling-guling, mual, muntah, sampai kepada proses yang menurut saya cukup ekstrem, yaitu tak sadarkan diri.

Sampai di sini, itu dua kesan pertama yang saya rasakan gara-gara dulu sering melihat program ruqyah di televisi. Benarkah faktanya memang demikian? Apakah proses penyembuhan pasien ruqyah harus selalu ekstrem seperti itu? Yuk, baca cerita saya selanjutnya!

Manfaat Ayat Al-Qur’an

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian. ”

(QS. Al-Isra’: 82)

Sekitar tahun 2012, saya pernah mengantar Ibu ke salah satu klinik pengobatan thibbun nabawi atau metode pengobatan Islam yang disunahkan Rasulullah saw., yaitu melalui ruqyah dan bekam (al hijamah). Jika ruqyah adalah pengobatan hati dan psikis melalui pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, bekam adalah metode pengobatan secara fisik dengan cara menyedot darah kotor dari dalam tubuh agar penyumbatan darah tidak terjadi. Istilah kerennya, bekam adalah proses detoksifikasi yang sangat baik untuk mencegah berbagai penyakit dalam tubuh kita.

Saat itu, ibu saya mengalami batuk berkelanjutan yang akhirnya membuat napas beliau menjadi sesak dan cepat lelah. Efek lainnya, batuknya sudah mulai bercampur darah. Ini cukup mengkhawatirkan. Selain melakukan pengobatan ke dokter, atas saran keluarga, Ibu juga berobat ke salah satu klinik ruqyah dan bekam sebagai pengobatan alternatif selain pengobatan medis. Inilah pertama kalinya saya punya pengalaman mengantar Ibu melakukan penyembuhan dengan cara ruqyah.

Metodenya sama dengan yang saya saksikan di program tayangan televisi beberapa tahun sebelumnya, dengan cara pembacaan ayat Al-Qur’an oleh Ustaz yang menerapi Ibu. Bedanya, ruqyah dilakukan di dalam ruangan tersendiri, seperti ruang klinik di rumah sakit modern.

Saya yang ikut masuk ke dalam ruangan klinik mendadak terdiam dan menunggu dengan deg-degan saat Ustaz yang menerapi melantunkan ayat suci dengan bacaan yang sangat indah. Apakah Ibu juga akan mengalami mual, muntah, atau efek lain seperti yang saya lihat di televisi? Alhamdulillah, ternyata tidak, Gaesss …. Ibu terlihat khusyuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an sampai selesai. Setelahnya, Ustaz bertanya, apa yang Ibu rasakan? Kata Ibu, dia merasakan aliran hangat di bagian punggung atas.

Terapi ruqyah terhadap Ibu ini dilakukan beberapa kali dalam waktu 2 atau 3 bulan bersamaan dengan terapi bekam sekaligus, sampai akhirnya kondisi Ibu membaik dan pernapasannya kembali lega. Masya Allah.

Dari pengalaman ini, kesan saya bahwa terapi ruqyah hanya diperuntukkan bagi mereka yang terkena penyakit nonmedis menjadi sirna seketika. Ternyata kekuatan ayat Al-Qur’an memang luar biasa sebagai penyembuh bagi segala macam penyakit.

Oya, teman-teman pernah membaca artikel tentang hasil penelitian ilmuwan Jepang, Dr. Masaru Emoto belum? Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Masaru Emoto melakukan penelitian adanya hubungan antara kekuatan doa dan perubahan bentuk molekul air. Molekul air yang dibacakan kalimat doa memiliki bentuk yang indah dan teratur, sementara air yang diberi kata hujatan atau kebencian memiliki bentuk molekul tak teratur, pecah, dan berantakan.

terapi penyembuhan ruqyah
Foto molekul air sesuai kalimat yang diucapkan. (Image: Pinterest.com/beforeitsnews)

Kalau air yang benda mati saja mampu berubah strukturnya menjadi lebih baik setelah dibacakan doa, apalagi kita yang dikaruniai miliaran sel otak sebagai makhluk hidup terbaik ciptaan-Nya.

Dari hasil penelitian ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa air yang telah dibacakan ayat Al-Qur’an dapat digunakan sebagai sarana terapi bagi siapa pun yang sedang sakit. Bukankah 75β„… tubuh kita terdiri atas cairan?

Ini bukanlah hal yang berbau syirik atau terlarang, asal tidak dicampur dengan metode lainnya, seperti mantra, pengobatan menggunakan hewan, memindahkan penyakit ke makhluk hidup lain, dan perbuatan sejenis yang dilarang agama.

Pengalaman kedua berhubungan dengan ruqyah kembali saya alami saat mengantar anak saya yang saat itu berusia 3 tahun untuk melakukan ruqyah. Wah, kok dari dulu tugas saya cuma mengantar aja, ya? Kapan nyobain ruqyah sekalian? Ya mau gimana lagi, wong yang sakit bukan saya, kok. Alhamdulillah, saya merasa sehat-sehat aja secara lahir dan batin. Malah saya baru tahu saat itu bahwa anak saya ternyata memang agak “sensitif” dengan hal-hal yang enggak kelihatan. Jadilah, salah satu terapi yang harus dilakukan adalah dengan cara ruqyah.

Pengalaman Pertama Ruqyah secara Syar’i

Siapa sangka … tahun 2021 ini ternyata Allah mengizinkan saya untuk melakukan ruqyah, meski di klinik yang berbeda dengan klinik terdahulu. Sebenarnya keinginan ruqyah ini sudah tebersit sejak tahun 2018 lalu. Entah kenapa, rasanya pengen aja membersihkan diri. Namun, keinginan ini tidak pernah terwujud. Saya selalu merasa ragu-ragu. Apa boleh kalau orang yang enggak sakit minta di-ruqyah? Berdosa enggak? Berbagai macam pikiran berkecamuk di benak saya.

Saya pernah membaca status di media sosial tentang pengalaman seorang pebisnis perempuan dan internet marketer yang melakukan terapi ruqyah karena ingin mencoba sekaligus membersihkan dirinya. Saat di-ruqyah, dia merasa tenang dan khusyuk mendengar ayat-ayat yang dibacakan. Tidak ada masalah apa pun dalam dirinya. Namun tetap saja, setelah membaca postingan tersebut, saya masih tetap ragu, apakah diperbolehkan melakukan ruqyah tanpa ada penyakit apa pun?

Sebenarnya tahun 2018 lalu, ada seorang sahabat yang bilang ke saya, “Mbak, kok aku merasa antara aku dan kamu tuh kayak dipisahkan ‘tembok’, ya? Aku enggak bisa merasakan apa yang kamu pikirkan.” Waktu itu, saya dan dia memang sedang duduk bersisian. Saya cuma bengong. Apa maksudnya? Teman saya juga cuma diam. Tampaknya, dia masih menerka perasaannya.

Saya enggak kaget dengan sahabat satu ini. Dia memang punya indra yang “sensitif”. Dia ingin sekali menghilangkan indranya ini dengan berbagai cara karena sering merasa tersiksa–katanya. Namun, qadarallah, kemampuannya ini belum hilang juga, malah tambah peka seiring usia.

Saya sebagai sahabatnya kadang kasihan juga, tetapi hanya bisa mendoakan, semoga Allah Swt. selalu memberikan kesabaran dan perlindungan terbaik kepadanya. Saya bilang, kalau memang sudah sering ruqyah, tetapi kemampuannya belum hilang juga, terima saja. Yang penting tidak merembet menjadi hal yang dilarang sebagai seorang muslim, seperti jadi peramal kayak Roy Kiyoshi, misalnya. πŸ˜€

Singkat cerita, teman saya bilang, dia seperti melihat ada “tembok” yang memisahkan antara dia dan saya. Waktu saya tanya lebih detail, dia enggak tahu itu tembok apaan. Baiklah, saya pun akhirnya mengabaikannya. Sebenarnya sudah ada dorongan untuk ruqyah, tetapi saya ragu karena teman saya juga tidak menyarankan apa-apa.

Setelah 3 tahun berlalu, qadarallah, Allah memberi jalan dan solusi lewat seorang tetangga yang bertamu ke rumah saya. Tetangga ini berkunjung sambil membawa cucunya yang masih kelas 5 SD. Sepulang dari rumah kami, esoknya si Nenek bercerita bahwa cucunya yang punya indra sensitif itu ternyata melihat ada pagar tak kasat mata yang mengelilingi saya. Yaa Robb … kok bisa sama ya dengan apa yang dilihat sahabat saya tahun 2018 lalu? Saya yang enggak paham soal aneh-aneh begini cuma bisa istigfar, sekaligus bersyukur.

Alhamdulillah, ada banyak sekali orang baik yang ditunjuk Allah untuk selalu membantu dan menyayangi saya. Ya, meskipun yang enggak suka juga pasti ada, tetapi tidak perlulah kita fokus ke hal tersebut, ya. Bukankah tugas kita sebagai manusia adalah berbuat kebaikan semaksimal mungkin dan selalu memohon tetap istikamah di jalan-Nya? Menjadi sempurna tentulah tak mungkin. Pasti sesekali ada khilaf yang kita lakukan sebagai manusia.

Akhirnya, saya disarankan ruqyah oleh si anak kecil yang masih kelas 5 SD itu untuk membersihkan halangan-halangan yang tak terlihat. Jadilah, saya kemudian googling tempat ruqyah di Yogyakarta. Dari banyak klinik ruqyah yang ada di Yogyakarta, akhirnya pilihan jatuh pada Baitul Ruqyah wal Hijamah (BRH) Centre yang ada di Jl. Nyi Pembayun No. 14, Kotagede, Yogyakarta. Jaraknya sekitar 14 kilometer dari rumah. Lumayan jauh, sih, tetapi saya mantap memilih klinik itu.

klinik bekam ruqyah BRH Centre Yogyakarta
Klinik Ruqyah BRH Centre, Yogyakarta. (dok. pribadi)

Saat saya tiba di BRH Centre, klinik dengan bangunan sederhana ini tampak sepi, tidak ada antrean seperti testimoni yang saya baca di Google Maps. Mungkin karena masih masa pandemi juga, ya. Saya bersyukur langsung dilayani oleh seorang Ukhti di bagian pendaftaran dan disuruh menunggu sebentar karena ustaznya sedang keluar. Saat saya mengantre, datang lagi pasien baru hendak mendaftar. Seorang ibu muda yang tampak enerjik ingin mendaftarkan anaknya yang autis untuk di-ruqyah. Masya Allah, terbukti, ternyata ayat-ayat Allah memang penyembuh dari berbagai macam penyakit, batin saya.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, Pak Ustaz akhirnya datang. Saya diminta berwudu terlebih dahulu oleh Ukhti yang melayani pendaftaran, kemudian mengenakan mukena, dan diminta masuk ke ruangan kecil untuk ruqyah. Ruangan ini terbuka dan bisa dilihat dari luar. Pak Ustaz meminta saya duduk menghadap kiblat. Entah kenapa, hati saya mulai dag dig dug duerrrrr …. Haduh, apa yang akan terjadi dengan saya selanjutnya? Bagaimana kalau nanti saya mual, jatuh, atau pingsan? Lebay deh pokoknya kalau ingat waktu itu.

Saat Ustaz mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, bibir saya juga komat-kamit mengikuti bacaan tersebut tanpa bersuara. Meski bibir ikut mengaji, tetapi tak dapat dibohongi, hati saya masih deg-degan. Saya berusaha menenangkan diri dan meyakinkan bahwa saya sadar secara penuh dan baik-baik saja.

Pandangan saya mulai fokus pada satu kotak tisu dan ember kecil yang diberi kantung plastik bersih di depan saya. Kalau seumpama mual, berarti saya harus langsung mengambil ember itu, pikir saya. Tentu saja, masih dengan pikiran yang tidak karuan.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya saya mulai tenang dan enggak mikir aneh-aneh lagi. Kenapa sih saya harus takut dengan prosesnya? Bukankah ini untuk kebaikan? Mual, muntah, dan sejenisnya yang saya lihat di televisi mungkin tergantung kekuatan tubuh masing-masing orang. Ibu dan anak saya saja dulu waktu di-ruqyah baik-baik saja, enggak sampai ekstrem seperti itu. Lagian, bukankah efek itu menandakan adanya proses detoksifikasi dan pembersihan tubuh? Saya berusaha meyakinkan diri sendiri.

Sekitar 20 menit mungkin proses ruqyah dilakukan. Sampai akhir ayat dibacakan, saya masih duduk diam dan dalam keadaan sadar, tanpa ada ketakutan seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya ingat, Ustaz sempat memegang ubun-ubun dan menepuk-nepuk punggung saya ketika membaca ayat Al-Qur’an tadi. Hati saya pun menjadi lega. Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah, saya sudah berhasil melawan ketakutan saya sendiri.

Oiya, saat memegang kepala dan menepuk punggung saya, Ustaz menggunakan sarung tangan berbahan kulit tebal sehingga kita tak perlu merasa khawatir bersentuhan dengan yang bukan mahram. Prosesnya syar’i, insya Allah.

Setelah selesai, saya diberi minum segelas ramuan herbal seperti jamu. Beliau kemudian menanyakan, apa yang saya rasakan, dan sudah berapa lama merasa badan enggak beres. Saya pun menceritakan semua yang saya alami dengan penuh kepolosan. Iya, saya polos banget kalau soal yang aneh-aneh begini. πŸ™‚

Beliau bilang, memang ada sedikit gangguan, tetapi tidak perlu dibahas gangguan itu asalnya dari mana. Ustaz juga bertanya, apakah saya sering mimpi buruk? Karena adanya gangguan juga bisa ditandai dari mimpi buruk.

Pokoknya, kalau ada rasa enggak nyaman di tubuh kita, segera cari obat dan solusinya, itu lebih baik, pesan beliau. Tidak perlu memikirkan masalahnya dari mana, yang penting fokus ke solusinya. Masya Allah, adem sekali hati saya mendengar nasihat Ustaz yang sudah paruh baya dengan jenggot putih di bawah dagu.

Sepulang dari sana, Ustaz membawakan sebotol air putih yang sudah dibacakan doa. Beliau juga berpesan agar kita sering melakukan ruqyah mandiri di rumah dengan segelas atau sebotol air yang dibacakan ayat Kursi, surah An Naas, dan Al Ikhlas sehabis salat Magrib.

Apa yang Dirasakan Setelah Ruqyah?

Sesampai di rumah, saya kembali googling tentang Klinik Ruqyah BRH Centre. Kalau besok ada saudara atau teman di Yogyakarta yang sakit, pasti saya akan merekomendasikan klinik ruqyah ini karena penyembuhannya sesuai dengan syariat. Memangnya ada, ya, ruqyah yang tidak syar’i? Berdasarkan referensi yang saya baca, kalau metode penyembuhan ruqyah-nya dicampur dengan metode lain yang tidak ada panduannya, seperti tenaga dalam, atau menggunakan penerawangan, dan semacamnya, dianggap tidak sejalan dengan syariat. (Hidayatullah.com, 16/4/2014)

Saya juga baru tahu kalau BRH Centre merupakan klinik ruqyah pertama yang ada di Yogyakarta sejak tahun 2009. Pemiliknya Ustaz Fadhlan Adham Hasyim, Lc. , yang merupakan perintis sekaligus Ketua ARSYI (Asosiasi Ruqyah Syar’iyyah Indonesia). Masya Allah, bersyukurnya saya bisa diterapi oleh beliau.

Lalu, apa yang saya rasakan setelah di-ruqyah?

Yang pertama, lega. Alhamdulillah.

Yang kedua, seperti merasa lahir kembali. Bingung enggak, lahir kembali itu rasanya kayak apa? πŸ˜€ Hmmm … gimana jelasinnya, ya?

Yang ketiga, sampai satu minggu setelah selesai ruqyah, badan terasa ringan, melayang-layang. Ini seperti kalau kamu habis pijat, badannya jadi enak dan lemas.

Yang keempat ini agak susah kalau kamu lagi banyak kerjaan. πŸ˜€ Iya, karena badan terasa enak, jadinya malah ngantuk terus. Akhirnya saya menggunakan kesempatan itu untuk lebih banyak beristirahat. Kerja online tetap, tetapi saya kurangi porsinya. Lebih mengikuti maunya tubuh aja gimana.

Jika ingat pengalaman ruqyah beberapa minggu lalu, tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah Swt. Betapa Dia Yang Mahakuasa sudah begitu baik kepada saya yang fakir ilmu dan banyak dosa ini. πŸ₯Ί Tak terhitung lagi betapa banyak limpahan rahmat dan karunia-Nya. Hikss … jadi terharu ….

Teman-teman yang membaca tulisan ini, apakah ada yang pernah punya pengalaman ruqyah juga? Kalau iya, apa yang teman-teman rasakan setelahnya? πŸ™‚

Baca Juga

pengalaman ruqyah yogyakarta

Kenali 17 Tabel Emosi pada Skala Hawkins, Kamu Berada di Level Mana?

Tabel emosi pada Skala Hawkins? Apakah itu? Bagi sebagian orang, hal ini bukanlah sesuatu yang menarik, tetapi untuk saya yang suka dengan topik yang berhubungan dengan sains, otak, pikiran, dan emosi, selalu ada keinginan untuk lebih jauh lagi belajar tentang hal seperti ini.

Ceritanya, beberapa hari lalu saya menemukan artikel dan video dari seorang ulama kita, yaitu K.H. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym yang menyampaikan pesannya saat masih dalam masa penyembuhan virus Corona yang memapar beliau.

Aa Gym menyebutkan, dari buku yang beliau baca, virus semacam Corona memiliki frekuensi 5,5 Hz. Agar tubuh kita tidak terpapar virus, atau tidak bertambah buruk kondisinya jika sudah telanjur kena virus, usahakan kondisi tubuh berada pada frekuensi lebih tinggi daripada frekuensi virus. Semakin tinggi getaran tubuh kita, semakin mudah tubuh melakukan penyembuhan alami terhadap suatu penyakit. 

Nah, buku yang beliau baca itu berjudul Power vs Force karya David R. Hawkins. Meskipun nama David R. Hawkins, M.D., Ph.D. sudah pernah saya dengar sebelumnya sebagai seorang ahli di bidang psikologi–lebih tepatnya lagi beliau adalah seorang psikiater, dokter, sekaligus peneliti dan dosen, tetapi saya belum pernah mencari referensi secara langsung terkait bukunya yang populer ini, Power vs Force: An Anatomy of Consciousness, The Hidden Determinants of Human Behavior. Ternyata, buku best seller ini merupakan hasil riset Hawkins selama 20 tahun tentang level atau tingkat kesadaran diri manusia yang berhubungan dengan emosi yang dihasikan.

Bingung enggak sih baca kalimat saya? Heheheee…. semoga enggak, ya. Ngomongin hal yang bersifat kejiwaan gini kadang harus pakai bahasa yang enak agar mudah dimengerti. Setuju, enggak? πŸ˜€

Apa Pentingnya Memahami Tingkatan Emosi Sendiri?

Menurut KBBI, emosi adalah keadaan dan reaksi psikologis (berhubungan dengan kejiwaan) dan fisiologis (berhubungan dengan organ, jaringan, atau sel makhluk hidup). Emosi juga dapat diartikan sebagai luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. 

Apa pentingnya mengetahui tingkat emosi dalam diri kita sendiri?

1. Sebagai fondasi agar diri sendiri tetap stabil menghadapi hal-hal tak terduga dalam hidup

Bukan berarti sebagai manusia kita enggak boleh sedih, lo, ya. Sedih dan terluka atau kecewa itu manusiawi, tetapi dengan memiliki kecerdasan emosi yang baik, sedih dan kecewanya itu ada batasannya, enggak perlu merembet ke mana-mana, apalagi sampai pada tahap kehilangan kemampuan mengontrol diri. Kita mampu memberi batas waktu, “Tiga bulan setelah ini, aku harus mulai tersenyum.” Atau, “Cukup 6 bulan pertama aja sedihnya. Setelah itu, move on!”

2. Memiliki lingkungan pergaulan yang sama frekuensinya

Teman-teman pasti pernah mendengar ungkapan “Berteman dengan penjual parfum, kita ikut tepercik wanginya. Bergaul dengan pandai besi, kita terkena percikan apinya”. Ini memang berlaku dalam pergaulan sesungguhnya. Bahkan Rasulullah saw. bersabda,

“Roh itu seperti pasukan yang berkelompok. Yang saling kenal akan menjadi akrab, adapun yang tidak saling mengenal akan berselisih.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Dengan menjaga diri agar selalu berada dalam kontrol emosi dan kesadaran yang baik, artinya kita sedang mengundang segala hal yang baik untuk mendekat kepada kita. Otomatis, seperti hadis tadi, semua yang tidak selevel akan terpisah dengan sendirinya. Inilah hukum alam yang sesungguhnya karena saya pun sering mengalaminya. Alhamdulillah, Allah begitu baik mempertemukan saya dengan orang-orang yang selalu menjadi wasilah (jalan kebaikan) agar saya selalu memperbaiki diri. *curhatttt πŸ˜€

Yuk, lanjut lagi!

Tabel Emosi pada Manusia Berdasarkan Skala Hawkins  

Ada 17 tingkatan alias tabel emosi yang ada pada Skala Hawkins, lengkap dengan nilainya masing-masing. Semakin besar nilainya, semakin tinggi pula tingkat kesadaran emosi yang dimiliki individu tersebut.

Oya, tabel emosi pada Skala Hawkins ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu force (getaran negatif) dan power (getaran positif).

Force => berada pada angka rendah, mulai 20 hingga 175.

Power => berada di level 200 sampai 1000.

Kamu enggak sabar dan pengen tahu apa aja sih 17 tabel emosi itu? Yuk, cekidot!

tabel emosi skala hawkins
Sumber gambar: Pinterest/Google.co.uk

Force (Skala 20 sampai 175)

  • Rasa Malu (nilai 1-20) =>  rendah diri, kurangnya penghargaan terhadap diri. 
  • Bersalah (nilai 30) =>  suka menyalahkan lingkungan, tidak bisa memaafkan diri sendiri.
  • Apatis (nilai 50) =>  putus asa, tak berdaya.
  • Kesedihan (nilai 75) =>  sering menyesali peristiwa yang terjadi, merasa kehilangan.
  • Takut (nilai 100) => selalu merasa cemas dan dihantui perasaan tidak tenang.
  • Keinginan (nilai 125) =>  memiliki hasrat berlebih dan terobsesi terlalu kuat. Dapat menimbulkan depresi jika mengalami kekecewaan.
  • Marah (nilai 150) =>  emosi ini bisa menimbulkan dendam dan kebencian.
  • Bangga (nilai 175) =>  sombong dan terlalu bangga dengan apa yang dimiliki.

Power (Skala 200 sampai 1000)

Pada skala nilai 200 ke atas ini, getaran negatif (force) mulai berangsur membaik ke tingkat yang positif (power). 

  • Berani (nilai 200) =>  memiliki kekuatan untuk melawan ketidakberdayaan.
  • Netral (nilai 250) =>  merasa rileks, santai, dan lebih percaya diri . 
  • Kemauan (nilai 310) =>  mulai muncul keinginan menjadi lebih baik dan berkomitmen.
  • Penerimaan (nilai 350) =>  menerima kondisi, bersyukur, dan menyadari kebahagiaan berasal dari diri sendiri. 
  • Memiliki Akal/Berpikir (nilai 400) =>  mampu berpikir rasional dan memahami kondisi.
  • Cinta (nilai 500) =>  punya rasa empati, kasih sayang, dan welas asih tanpa batas.
  • Suka Cita (nilai 540) =>  dimaknai dengan ketenangan yang luar biasa pada seorang individu. 
  • Kedamaian (nilai 600) =>  memiliki kebahagiaan yang luar biasa.
  • Pencerahan (700-1000) =>  tingkat emosi tertinggi yang hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul. Mereka yang berada pada level ini memiliki kemampuan untuk memengaruhi dan membantu individu di tingkat emosi lebih rendah agar dapat memperbaiki diri dengan kelebihan (mukjizat) yang mereka terima dari Zat tertinggi.

Teman-teman yang muslim sendiri dapat berkaca dari perilaku lemah lembut Rasulullah saw. yang dikisahkan dalam suatu riwayat, begitu sabar dan telaten menyuapi seorang Yahudi tua dan buta yang kerap kali menghina Rasulullah. Sifat welas asih ini dilakukan Rasulullah saw. hingga akhir kehidupan beliau dan si Yahudi buta baru menyadari bahwa orang yang ia benci ternyata selalu menyuapinya setiap pagi. Masya Allah.

Kisah ini menjadi pengingat bagi saya untuk selalu memperbaiki diri di tingkat energi power,Β meskipun kadang, energi force juga muncul sesekali mencari kesempatan dalam kesempitan. Sampai saat ini, saya masih berada di level penerimaan. Adakalanya pada saat tertentu turun ke level yang lebih rendah. Setidaknya, dengan mengetahui berada di tingkatan mana, kita dapat melakukan pengendalian diri agar tidak jatuh ke skala energi force.

Lalu, bagaimana caranya meningkatkan getaran positif di dalam tubuh kita?

Cara Meningkatkan Energi Positif dalam Diri

Apaaa? Pakai susuk dan pelet? Enggaklahhh yawww … πŸ˜€ Jauh-jauh deh dari hal begituan. Hikss …. Sama-sama berdoa saja ya agar Allah selalu rida dengan diri kita. Ridanya Allah adalah jalan bagi kita untuk mencapai ketenangan dan keberkahan di dalam hidup.

Berdasarkan pada pengalaman pribadi dan teori yang saya pelajari, ada beberapa tips yang saya lakukan agar kondisi emosi menjadi stabil dan pikiran lebih rileks sehingga energi positif dapat mengalir lebih banyak lagi.

1. Bagi muslim/muslimat seperti saya, bacalah Al-Qur’an dengan mengeluarkan suara agar getarannya menaikkan frekuensi ruangan di sekeliling kita. Hidup pada ruangan dan lingkungan yang energinya baik itu sangat penting karena berpengaruh pada hidup kita sehari-hari.

2. Menulis tangan di buku atau kertas secara rutin tentang hal-hal baik yang kita inginkan terjadi di dalam kehidupan. Buatlah daftar apa saja yang ingin diwujudkan dan tulislah secara berulang setiap hari agar masuk ke pikiran bawah sadar. Percayalah, pikiran kita akan bekerja mencari jalan untuk mewujudkan hal baik tersebut.

3. Mulai melakukan decluttering alias membereskan barang-barang di rumah yang sudah tidak terpakai lagi. Entah disumbangkan kepada yang membutuhkan, dibuang, atau dijual lagi, yang penting sediakan ruang baru agar sesuatu yang baru juga dapat masuk ke dalam rumah kita. Kalau soal ini jadi PR banget buat saya karena termasuk penyayang barang-barang lama, apalagi kalau ada nilai historisnya. *tepok jidat

Oya, decluttering ini bukan hanya untuk barang di rumah aja, ya, tetapi juga berlaku pada pikiran. Artinya, semua hal yang menumpuk di pikiran kita juga sebaiknya sedikit demi sedikit mulai dibersihkan dan dinetralkan. Pikirlah sesuatu yang perlu dan penting saja agar otak juga memiliki banyak kapasitas untuk menampung tugas berikutnya. πŸ™‚

4. Olahraga juga dapat meningkatkan energi positif dan menghasilkan hormon endorfin. Tahu ‘kan hormon endorfin? Hormon ini adalah hormon bahagia yang mampu menghilangkan stres dan mengurangi rasa sakit. Males olahraga yang berat-berat? Samaaa … saya cuma jalan kaki aja, kok. Naik sepeda kadang-kadang , tapi kalau jalannya menanjak itu males banget, wkwkwk ….

5. Kalau mau, kamu bisa mulai belajar meditasi yang sederhana seperti yang saya lakukan 3 bulan terakhir ini. Enggak usah yang berat, cukup tafakur (berdiam diri) sejenak sekitar 10-15 menit sambil fokus kepada keluar-masuknya napas dari hidung. Boleh sambil istigfar, zikir, atau mengucapkan kalimat afirmasi positif di dalam hati. Meditasi ini manfaatnya sangat banyak untuk pengobatan berbagai macam penyakit dan menghasilkan hormon endorfin juga seperti aktivitas olahraga. Setelah berdiam diri sejenak, biasanya pikiran menjadi lebih rileks dan lebih tenang.

Itu dia beberapa hal yang saya lakukan untuk meningkatkan getaran positif di dalam tubuh sebagai imunitas alami agar selalu sehat, baik di masa pandemi maupun di waktu-waktu mendatang.

Mungkin pada awalnya terasa sulit, tetapi bukankah sesuatu yang baik memang butuh pembiasaan agar menjadi terbiasa?

Bagaimana dengan teman-teman? Setelah membaca tabel emosi pada Skala Hawkins di atas, berada di level manakah tingkat kesadaran emosimu? 

Baca Juga

tabel emosi skala hawkins

Ini yang Akan Terjadi Apabila Bumi Benar-benar Datar

Perbedaan pendapat bahwa Bumi tempat tinggal kita adalah datar, bukan bulat, kerap melahirkan teori-teori baru dari mereka yang menganut paham Bumi datar, termasuk dari Flat Earth Society (Komunitas Bumi Datar). Padahal sejak dahulu kala telah banyak ilmuwan yang berhasil membuktikan keberadaan bentuk Bumi yang bulat.

sains bumi datar
Benarkah bumi datar? (Sumber gambar: Pexels.com)

Eratosthenes, ahli matematika asal Yunani, pada tahun 276 SM membandingkan bayangan pada dua kota berbeda di Mesir, yaitu Aswan dan Alexandria. Hasilnya, saat petang, tidak ada bayangan di Aswan, namun terdapat bayangan di Alexandria.Jika Bumi berbentuk datar, maka tidak mungkin ada perbedaan antara keberadaan 2 bayangan tersebut karena posisi Matahari akan dianggap sama bagi tiap titik di Bumi, seperti dilansirΒ ancientcode.comΒ (retrieved, 31/1/2018)

Terlepas dari bukti bahwa Bumi memang bulat tersebut, sebuah blog dari Observatorium Bumi Lamont-Doherty di Universitas Colombia (ldeo.colombia.eduΒ 28/1/2018) mencoba menjelaskan secara logika apa yang akan terjadi jika planet kita dianggap sebagai planet berbentuk datar :

1. Tidak ada gravitasi

Teori “Bumi datar” memunculkan suatu pertanyaan, bagaimana dengan masalah gravitasi? Tidak jelas bagaimana gravitasi akan bekerja apabila bumi ini datar, padahal telah terbukti bahwa buah apel yang jatuh dari pohon adalah akibat adanya gaya gravitasi. Demikian pula adanya gravitasi memungkinkan bulan mengorbit Bumi dan semua planet mengorbit mengelilingi matahari.

Bayangkan apabila Bumi ini datar, maka semua gaya tarik akan berpusat di tengah Bumi. Air akan tersedot ke pusat Bumi, pepohonan pun akan tumbuh secara diagonal, karena mereka berkembang ke arah yang berlawanan dengan tarikan gravitasi.

sains bumi datar gravitasi
Gravitasi pada teori bumi datar. (Sumber: shutterstock.com

2. Matahari kemungkinan akan jatuh ke bumi karena tidak adanya gaya momentum linier & tegak lurus

Dalam teori tata surya kita yang didukung bukti ilmiah, Bumi berputar mengelilingi matahari, namun tidak jatuh ke bawah karena sedang melakukan perjalanan di orbitnya. Dengan kata lain, gravitasi matahari tidak bekerja sendiri. Ada momentum linier dan gravitasi matahari yang bergabung, sehingga menghasilkan orbit melingkar mengelilingi matahari.

Sementara dalam teori Bumi datar, Bumi dianggap sebagai pusat alam semesta, namun tidak dikatakan bahwa matahari mengorbit Bumi. Ini artinya matahari memancarkan cahaya dan kehangatan ke bawah seperti lampu meja memancarkan sinarnya. Tanpa adanya gaya momentum linier dan tegak lurus, mustahil matahari dan bulan mampu melayang di atas Bumi, apalagi ukuran matahari adalah 100x lebih besar dari ukuran Bumi.

3. Tidak akan ada satelit & GPS

Apabila Bumi datar, kemungkinan tidak akan ada satelit, karena satelit bekerja dengan cara mengorbit pada benda lain.. Tidak ada satelit artinya juga tidak akan ada GPS. Dengan tidak ada GPS artinya sistem navigasi juga akan mengalami kekacauan.

Satelit sedang mengorbit bumi. (Sumber : pixabay.com)

4. Tidak akan ada musim, gerhana & fenomena lainnya

Jika matahari dan bulan berputar mengelilingi satu sisi Bumi yang datar, kemungkinan masih dapat terjadi proses siang dan malam. Tapi itu tidak akan menjelaskan bagaimana munculnya musim, gerhana dan banyak fenomena lainnya dapat terjadi apabila Bumi dianggap datar.

5. Tidak ada medan magnet

Jauh di bawah pusat Bumi terdapat suatu medan magnet. Dikutip dariΒ infoastronomy.org (15/5/2016), medan magnet Bumi akan melindungi kita dari badai matahari dan radiasi kosmik. Kekurangan medan magnet berarti menyebabkan lebih banyak radiasi dapat menembus atmosfer Bumi.

Apabila Bumi dianggap datar, maka medan magnet harus diganti dengan yang lain. Mungkin dengan logam cair. Namun teori ini pun tampak tidak masuk akal bagi para ilmuwan dan ahli sains terkemuka.

Foto Bumi bulat. (Sumber : nasa.gov)

Menurut seorang sejarawan, Jeffrey Burton Russell, belum ada ilmuwan dalam era peradaban barat yang percaya bahwa bumi berbentuk datar.

Bahkan Pythagoras yang diikuti oleh Aristoteles, Euclid, dan Aristarkhus, mengamati bahwa bumi adalah sebuah bola sejak abad ke-6 SM.

Nah, bagaimana menurutmu? Masih tetap percaya bahwa Bumi itu datar?

*Artikel ini pernah dimuat dalam platform UC News

Mengejutkan! Mantan Ilmuwan NASA Ini Menjadi Orang Pertama yang Memodifikasi DNA-nya

Seorang mantan ilmuwan NASA, Dr. Josiah Zayner, menjadi orang pertama yang memodifikasi dirinya secara genetis. Dilansir dari blog pribadinya ifyoudontknownowyaknow.com (13/10/2017), Zayner menulis bahwa ia ingin membantu manusia memodifikasi diri untuk menciptakan kelas spesies baru.

Dalam proyek ini, Dr. Zayner memberi kekuatan pada ototnya dengan mengeluarkan protein yang menghambat pertumbuhan otot di lengan kirinya menggunakan teknik CRISPR.

Dikutip dari gakkin-idn.co.id (25/1/2017), CRISPR atau Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats merupakan sebuah metode modifikasi gen yang telah banyak digunakan pada beberapa sistem model, termasuk zigot hewan dan sel manusia.

nasa sains gen dna

Siapakah sebenarnya Dr. Josiah Zayner?

Zayner memperoleh gelar doktor Ph.D. dari Departemen Biokimia dan Biofisika Molekuler di Universitas Chicago pada tahun 2013. Salah satu karir terbesarnya adalah sebagai ilmuwan riset NASA dan terlibat dalam Program Biologi Sintetis di planet Mars pada tahun 2016.

Saat ini Zayner merupakan pendiri dan CEO The Odin, perusahaan yang berbasis teknologi genetik. Ia menjalankan aktivitas sebagai Biohacker, bahkan menjual peralatan teknik genetik dasar secara online, meskipun badan resmi pangan dan obat-obatan Amerika Serikat (FDA) telah menjelaskan bahwa penjualan produk terapi gen tanpa persetujuan resmi pemerintah termasuk dalam tindakan ilegal.

nasa sains gen dna
Zayner dengan latar belakang peralatan modifikasi genetikanya (Foto : ifyoudontknownowyaknow.com

Pada tahun 2017, Dr. Zayner berhasil meraup keuntungan sebesar $ 200.000 dari bisnis penjualan peralatan modifikasi gen miliknya.

Tujuan dari eksperimen yang ia lakukan, menurut Zayner, sebenarnya bukan semata-mata untuk mengubah kekuatan super ototnya, melainkan karena ia menganggap manusia memiliki hak asasi untuk menentukan gennya sendiri. Ini dapat terjadi karena alasan medis, ilmu pengetahuan, atau hanya karena manusia menginginkan sesuatu yang baru dan ingin berbeda dari biasanya. Mantan ilmuwan NASA ini yakin manusia pada akhirnya akan berkembang menjadi generasi baru manusia super-kuat berkat rekayasa genetika yang luas.

nasa sains gen dna
Teknik modifikasi gen CRISPR (Foto : ancient-code.com)

Hmmm… bagaimana pendapatmu mengenai hal ini? Apakah kamu sependapat dengan Dr. Zayner?

*Tulisan ini pernah dimuat dalam platform berita UC News

My Life, My Journey