Waspada Baby Blues, Sindrom Usai melahirkan yang Menguras Pikiran dan Sisi Emosional Wanita

Image: Pixabay.com

Siapa pun tahu bahwa menjadi seorang ibu adalah impian setiap wanita. Tak mengherankan ketika gelar sebagai pengantin baru masih terasa, banyak pasangan yang langsung berencana memiliki momongan tanpa perlu ditunda lagi. Tapi tahukah kamu, untuk menjadi seorang ibu, banyak sekali hal yang harus dipersiapkan. Bukan sekadar kesiapan fisik selama masa kehamilan saja, kesiapan mental dan pengetahuan usai melahirkan ternyata lebih membutuhkan energi dan fokus bagi seorang wanita, termasuk pengetahuan tentang sindrom yang dikenal dengan istilah baby blues.

Hemmm…. ingatan saya langsung melayang pada kenangan masa kehamilan 10 tahun yang lalu. Tak dimungkiri, saya pun sempat merasakan sindrom ini setelah melahirkan Lubna. Waktu itu pengetahuan saya tentang berbagai hal usai melahirkan memang sangat kurang sekali.

Selama masa kehamilan, yang saya pelajari lebih banyak berkisar tentang persiapan kelahiran, bagaimana cara menyusui yang baik dan benar, tentang pengasuhan bayi, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan diri si bayi. Nah, saking fokusnya hanya pada bayi, saya pun melupakan perhatian pada diri sendiri, termasuk soal baby blues ini. Lalu, seperti apa, sih, sebenarnya gejala sindrom ini?

Gejala Baby Blues

Agar tak kaget saat mengalami hal ini, kamu dan pasangan harus mengenali beberapa gejala tak biasa yang muncul pascamelahirkan. Kenapa pasangan juga harus tahu? Yup, apalagi kalau bukan untuk membantu memulihkan kondisi kejiwaan sang istri saat sindrom ini menghampiri.

1. Mudah stres, letih dan lesu

Kebahagiaan usai melahirkan buah hati, terutama bagi ibu baru, bisa saja berubah menjadi perasaan lelah, bosan dan tak bergairah lagi menjalani rutinitas harian sebagai seorang ibu. Hal ini dapat disebabkan adanya faktor perubahan hormon, dari hormon kehamilan menjadi hormon menyusui. Tak hanya itu, faktor lingkungan juga ternyata sangat memengaruhi terjadinya baby blues ini. Berbagai komentar dari keluarga dan orang-orang terdekat tentang kondisi bayi yang baru saja lahir bisa saja mengakibatkan sensitivitas tertentu pada diri si ibu . Apabila tak segera disadari, perasaan baper ini dapat berkembang menjadi perasaan bosan, stres, mudah lelah, dan memunculkan penyakit baru, yaitu depresi yang berbahaya bagi kondisi kejiwaannya.

2. Ingin marah dan kerap emosi

Tidak hanya perasaan stres dan lelah yang akan menghampiri penderita baby blues. Emosi yang kadang tak terkontrol, mudah menangis, dan sebaliknya juga mudah marah, menjadi hal yang sangat membingungkan apabila orang-orang terdekat tidak memahaminya, terutama pasangan hidupnya. Dibutuhkan komunikasi yang baik antara pasangan suami isteri saat momen tak nyaman ini berlangsung. Apalagi jika masih tinggal satu rumah dengan orang tua atau mertua, peran serta keluarga besar sangat berarti untuk mengembalikan stabilnya kondisi emosi seorang ibu.

3. Merasa tertekan dan tak percaya diri

Perasaan ragu apakah dapat menjadi ibu yang baik bagi bayinya juga dapat menjadi pemicu munculnya perasaan tertekan dan tak percaya diri. Kondisi ini tak boleh dibiarkan karena berakibat si ibu tidak memiliki motivasi lagi untuk merawat bayi yang baru dilahirkan. Sering melamun, memikirkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak begitu penting dan justru akan menambah beban pikiran sebisa mungkin harus dihindari. Suami dan orang-orang terdekat memiliki tanggung jawab untuk ikut menemani dan menghibur agar rasa percaya diri kembali muncul dan ibu makin bersemangat menjalani hari-harinya.

Cara Mengatasi Baby Blues

Tugas dan tanggung jawab seorang wanita memang semakin berlipat dan bertambah dengan kelahiran si buah hati. Ada kalanya kesibukan mengurus bayi dan rutinitas sehari-hari membuat seorang ibu begitu lelah dan lupa melakukan me time yang menyenangkan bagi dirinya sendiri. Baby blues perlu diwaspadai agar tak mengarah pada kondisi kejiwaan yang semakin berat, seperti depresi, misalnya.

Karena tumbuh kembang bayi sangat dipengaruhi oleh kondisi ibunya, menjadi tanggung jawab bersama bagi suami dan seluruh keluarga untuk selalu mendukung dan menciptakan suasana yang nyaman bagi ibu dan si bayi.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah saling menguatkan pola komunikasi antar pasangan, sehingga istri tak segan berterus terang kepada suami tentang hal terburuk sekalipun yang ia rasakan. Suami juga sebaiknya lebih aktif memperhatikan perasaan dan perubahan sikap istri. Jika ada yang terasa janggal, tanyakan secara baik-baik apa yang istri rasakan. Nyamankah ia?

Selain dukungan suami, jangan lupa bahwa dukungan keluarga lain seperti orang tua dan mertua juga sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan baby blues ini. Beri pengertian kepada keluarga bahwa seorang wanita yang baru saja melahirkan akan mengalami perubahan hormon yang mungkin dapat sedikit mengubah karakter atau sisi emosionalnya. Mohon pengertian dari orang-orang terdekatnya apabila ada yang tak seperti biasanya. Dengan semangat dan dorongan dari lingkungan sekitar, insya Allah ibu akan menjadi bahagia dan sedikit berkurang beban emosionalnya. Percayalah, ibu yang bahagia juga akan melahirkan generasi yang bahagia 🙂

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’.

Baca Juga

Spread the love

34 thoughts on “Waspada Baby Blues, Sindrom Usai melahirkan yang Menguras Pikiran dan Sisi Emosional Wanita”

  1. Di lingkungan saya (kerjaan, atau rumah) belum pernah ada yang mengalami baby blues. Tapi rekan perempuan di kantor pernah membahas soal efek besar membiarkan seorang ibu mengalami baby blues; mereka bisa sampai membunuh bayinya. Astaghfirullah. Betapa pentingnya peran suami dan orang terdekat untuk menemani si ibu yang mengalami baby blues.

  2. Baby Blues mudah diatasi kalau lingkungannya support terutama suami, sebagai ayah si bayi, krn masa2 baby blues berat buat si ibu, sebuah pelukan saja bisa ngebantu emosi si ibu baru menjadi lbh baik ditambah kata2 penyemangat dan kesabaran suami ngadepin tinggkah istrinya, saya pernah mengalami dan Alhamdulilah ada support suami, masa2 baby blues jd mudah dilewati

  3. Betul banget bahwa dukungan dari pasangan dan keluarga sangat penting. Di sekitar kita itu banyak banget mulut-mulut yang begitu mudah mengeluarkan pendapat mereka tentang kita seenak udelnya. Payah jadi ibu, bayinya kurus banget, ibunya nggak doyan makan, haduh … memberikan dukungan lebih baik daripada sekedar nyinyir, ya.

    Semangat ya, ibu-ibu yang baru melahirkan …

  4. Baby blues emang ngga bisa disepelekan.. Sayangnya harus ada korban dl, sehingga gejala ini akhirnya menjadi perhatian publik. Semoga dengan banyaknya info tentang baby blues makin banyak yg paham, khususnya para suami. Karena support system dari orang terdekatlah ( dlm hal ini tentunya suami) yg mampu mendukung istri dalam melewati syndrom baby blues.

    Thanks for sharing mba..

  5. Saya pernah baca di Novel tentang seorang ibu yg terkena sindrom ini dan keliatannya menyiksa banget baik bagi sang ibu, suami sama anaknya. Jadi ngeri-ngeri gimana gitu. Tapi, makasih untuk tipsnya mba

  6. Mbaak, peran suami penting banget ya pasca melahirkan. Suka sedih pasangan dan keluarga kadang gak ngerti kalau pasca melahirkan, wanita kerap mengalami baby blues yang efeknya domino. Alhamdulillah, saya dapat melewati semuanya.

  7. Menjadi seorang ibu memang membutuhkan perjuangan yang luar biasa. Tidak ada wanita yang ingin mengalami sindrom baby blues, karena kondisi ini datang tak terduga. Karenanya perhatian dari suami dan kelurgalah yang sangat dibutuhkan. Perlu suami siaga nih.

    1. Duhhh mom shaming ini juga ngaruh banget memang ya. Jangankan dalam keadaan tertekan saat baby blues, dalam keadaan normal saja mom shaming ini sangat mengganggu dan menguras pikiran klo kita nggak pinter mengabaikannya…

  8. Dukungan dari suami dan keluarga memang sangat penting untuk mengatasi baby blues bagi ibu yang baru melahirkan.
    Stres, lelah dan tentunya akan menguras banyak emosi. Seorang ibu tetaplah manusia biasa yang butuh dukungan dari orang-orang terdekat.

  9. Baby blues ini masih masuk kategori ringan ya tapi belum banyak yang sadar dan peduli. Jadilah banyak yang salah sikap yang berujung menyalahkan si ibu baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.