“Perubahan besar untuk mengatasi sampah dan mewujudkan ekonomi sirkular Indonesia membutuhkan kolaborasi, inovasi, dan kreativitas yang konsisten, tidak sekadar menunggu regulasi dan sistem yang bekerja.”
— Junarosano, Aktivis Lingkungan

Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling taman. Ah … nostalgia zaman kuliah makin membuncah di kepala. Taman ini terasa sangat berbeda, setelah hampir 30 tahun tak pernah saya kunjungi.
Dulu, lokasi ini disebut Lembah UGM karena merupakan kawasan konservasi hijau dengan puluhan pohon rindang yang dialiri oleh sungai. Sejalan bergulirnya waktu, lokasi ini berkembang menjadi taman rekreasi keluarga dan olahraga yang fasilitasnya cukup lengkap, mulai dari wisata pepohonan, danau buatan, keran air minum dari sumber alami, kawasan kulineran, dan arena olahraga luar ruangan yang dilengkapi jogging track dan alat-alat kebugaran. Namanya pun diubah menjadi Wisdom Park alias Taman Kearifan.
Pentingnya konsep lingkungan hijau dan ekonomi sirkular Indonesia membuat Wisdom Park UGM dikelola dengan bijaksana. Saya yakin, di daerah lain juga makin banyak taman terbuka hijau yang nyaman seperti ini. Benarlah yang dikatakan aktivis lingkungan Junarosano: “Kita tidak bisa hanya menunggu dan berharap kepada sistem atau pemerintah. Semuanya bisa dimulai dari lingkungan terkecil dan berkembang menjadi kolaborasi yang konsisten.”
Konsep Ekonomi Sirkular
Tahukah kamu? Selama bertahun-tahun, pola konsumsi masyarakat masih didominasi oleh konsep ekonomi linear, yaitu “ambil, gunakan, dan buang”. Kelihatannya sederhana, tetapi dampak negatifnya bagi lingkungan justru luar biasa. Volume sampah terus meningkat, sementara kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) makin terbatas.
Berawal dari sinilah konsep ekonomi mulai beralih kepada ekonomi sirkular. Berbeda dengan ekonomi linear, ekonomi sirkular menempatkan limbah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi. Melalui proses pengurangan (reduce), penggunaan kembali (reuse), perbaikan (recovery), hingga daur ulang (recycle), material dapat terus dimanfaatkan sehingga jumlah sampah di TPA makin berkurang.
Nah, keberhasilan ekonomi sirkular sangat bergantung pada sistem pengelolaan sampah yang baik. Sampah yang sudah dipilih dan dipisah oleh masyarakat di masing-masing rumah jadi lebih mudah didaur ulang untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk baru.
Contoh paling mudah adalah pemilahan sampah organik dan anorganik yang dilakukan di rumah. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau pakan maggot, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, logam, dan kaca dimanfaatkan untuk rantai industri daur ulang.
Kalau pengelolaannya konsisten, percaya deh … sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bahan baku yang dapat menghasilkan nilai ekonomi baru.
Peran Bank Sampah Induk Bersinar dalam Ekonomi Sirkular Indonesia
Salah satu organisasi yang berkontribusi dalam pengembangan ekonomi sirkular adalah Yayasan Solusi Bersinar Indonesia melalui wadahnya, Bank Sampah Induk Bersinar (BSIB) yang didirikan oleh Fifie Rahardja di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sejak 2014.
Yayasan Solusi Bersinar Indonesia tidak hanya mengajak masyarakat memilah sampah, tetapi juga membangun sistem yang memungkinkan sampah memiliki nilai jual. Masyarakat dapat menyetorkan sampah anorganik yang dipilah, kemudian Bank Sampah Induk Bersinar akan menimbang dan mencatatnya sebagai tabungan. Program ini berhasil mendorong masyarakat menyadari pentingnya mengelola sampah dan memperoleh manfaat ekonomi secara langsung melalui sampah yang disetorkan.

Nggak cukup sampai di sini saja, Man-Teman. Menurut Ketua Yayasan SBI, Indari Mastuti, Bank Sampah Induk Bersinar juga dikembangkan menjadi sarana edukasi dan pemberdayaan warga. Masyarakat diajarkan tentang pentingnya mengurangi sampah melalui beberapa kebiasaan baik, seperti membawa wadah makan dan minum sendiri yang dapat dipakai berulang kali, atau membawa tas belanja saat bepergian untuk mengurangi sampah plastik sehingga pengelolaan sampah dibiasakan mulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah.
Ke depannya, Yayasan SBI menargetkan pengelolaan 1.000 Bank Sampah Unit sebagai bagian dari jaringan Bank Sampah Induk Bersinar, memperluas edukasi mengenai sampah ke berbagai sekolah, dan melakukan pembangunan kawasan Oxbow sebagai laboratorium hidup (living laboratory) ekonomi sirkular Indonesia.
Ada tiga poin penting yang direncanakan dalam master plan pembangunan kawasan Oxbow, yaitu:
- Bank Sampah Induk Bersinar: Digunakan sebagai pusat pemilahan dan pengelolaan sampah.
- Local Education: Digunakan sebagai wadah pelatihan bagi masyarakat, termasuk edukasi mengenai lingkungan hidup, seni-budaya, dan pengembangan jaringan komunitas.
- Lumbung Mandiri: Area pengembangan lahan pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan sebagai wadah pemanfaatan sampah organik.
Pentahelix Indonesia Bersinar: Kolaborasi Menuju Ekonomi Sirkular Indonesia
By the way … Indonesia sebenarnya berpeluang, lo, menjadi salah satu negara dengan penerapan ekonomi sirkular yang kuat. Tahu sendiri ‘kan, jumlah penduduk kita yang banyak membuat sampah kian menumpuk di mana-mana? Namun, sebenarnya di sisi lain juga terdapat potensi sumber daya yang bisa dimanfaatkan kembali kalau dikelola dengan tepat.
Nah, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, akademisi, dan komunitas menjadi faktor penting untuk mempercepat transformasi tersebut. Untuk itulah, Yayasan Solusi Bersinar Indonesia juga merencanakan gerakan kolaboratif Pentahelix Indonesia Bersinar karena kita tidak mungkin berjalan sendiri tanpa bantuan dari pihak lain yang memiliki persamaan visi.
Program-program berbasis masyarakat yang dijalankan ini menunjukkan satu hal: perubahan ke arah yang lebih baik sejatinya dimulai dari lingkup kecil terlebih dahulu, sebelum akhirnya berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Sampai di sini, topik mengenai ekonomi sirkular Indonesia dan Bank Sampah Induk Bersinar sejatinya bukan hanya tentang pengelolaan sampah. Ini adalah edukasi “hijau” agar sumber daya yang kita gunakan nggak habis hanya sekali pakai saja, tetapi bisa dimanfaatkan kembali melalui inovasi dan kolaborasi dalam pemeliharaan lingkungan. Kamu setuju?
Baca Juga
- Ibu, Fondasi Peradaban Generasi
- Tetap Cerdas dan Produktif dari Rumah, Wanita Harus Lakukan Ini
- Tips Mencapai Impian

Woooww, ini sudah keempat kalinya aku membaca artikel tentang bank sampah, dan setiap artikel punya ilmu baru yang bisa kupelajari. Senang rasanya melihat masyarakat semakin banyak yang peduli sampah ^^
Benar, sampah itu harus dikelola dengan baik, karena masih bisa dimanfaatkan dan bernilai. Salah satu yang aku lihat adalah pengolahan sampah plastik kayak tray plastik bekas hokben dan sejenisnya, bisa menjadi bensin. Btw lihat foto taman terbuka UMG bagus banget kayak di luar negeri.
Sudah saatnya gerakan bank sampah ini dibiasakan di seluruh Indonesia, kalau perlu ada aturan dari pemerintah. Setidaknya ini sebagai langkah-langkah kecil mengatasi masalah sampah di Indonesia.
Aku tuh kadang masih suka merasa memilah sampah di rumah itu hal kecil yang dampaknya nggak terlalu kelihatan. Tapi setelah baca tentang konsep ekonomi sirkular dan Bank Sampah Induk Bersinar ini, ternyata kebiasaan sederhana seperti memisahkan sampah organik dan anorganik memang bisa menjadi bagian dari rantai yang jauh lebih besar. Aku juga suka konsep sampah yang bukan lagi dianggap sebagai barang buangan, tetapi masih punya nilai dan bisa dimanfaatkan kembali.
Semoga bank sampah seperti ini semakin banyak dan makin mudah ditemukan di lingkungan tempat tinggal kita, karena di beberapa tempat ini bank sampah agaknya sulit ditemukan dan kalaupun ada biasanya jauhhhh.. 🙁
setuju sekali, mengolah sampah bisa dimulai dari rumah dulu. Sampah bisa dipilah untuk direcyle menjadi bahan atau barang yang lebih berguna
Setuju banget. 😊 Perubahan besar memang sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten di lingkungan terdekat. Memilah sampah dari rumah, mengurangi barang sekali pakai, atau ikut bank sampah mungkin terlihat sederhana, tetapi kalau dilakukan bersama tentu dampaknya bisa jauh lebih besar. Saya juga suka dengan konsep ekonomi sirkular karena mengajarkan kita untuk tidak buru-buru menganggap sesuatu sebagai “sampah”, tetapi melihat kembali apakah masih punya nilai dan bisa dimanfaatkan. Semoga gerakan seperti ini semakin banyak tumbuh dari masyarakat dan menjadi kebiasaan bersama.
Depan rumah ada sungai kecil. Masyarakat buang sampah ke sana
Batu saja kepala desa dan jajarannya datang ngangkut sampah sampah itu pakai truk. Kedepannya semoga ada kinerja praktek ekonomi sirkular di sana … Seperti ada bank sampah yang nyata itu banyak membantu masyarakat
Selama ini aku juga masih sering menganggap sampah ya sekadar sesuatu yang harus dibuang, padahal setelah membaca bagian tentang Bank Sampah Induk Bersinar jadi kepikiran bahwa sampah yang dipilah ternyata masih bisa punya nilai ekonomi. Menariknya, masyarakat nggak cuma diajak menjaga lingkungan, tapi juga bisa mendapatkan manfaat dari sampah yang mereka kumpulkan. Rasanya konsep seperti ini memang lebih mudah diterapkan kalau dimulai dari rumah dan dilakukan bersama-sama
Konsep ekonomi sirkular sangat menarik yaaa daan jika bisa terlaksana di seluruh lapisan masyarakat terbayang deh berapa juta ton sampah bisa terkurangi dan tidak menumpuk di TPA. Bank sampah Bersinar keren banget memiliki program edukasi di masyarakat, sekaligus memiliki projek daur ulang sampah. Semoga makin banyak tersebar di seluruh Indonesia agar lingkungan semakin sehat dan bersih.
Konsep Lumbung Mandiri yang menggabungkan pertanian, peternakan, sampai perikanan dari hasil pemanfaatan sampah organik itu ambisius tapi masuk akal kalau dijalankan bertahap. Semoga segera bisa terealisasi dengan optimal
Pengelolaan sampah yang baik emang mutlak di
Lakukan supaya lingkungan tetap terjaga salah satu caranya adalah Bank Sampah
Bener banget, ngandelin kebiasaan kecil dari rumah buat dukung ekonomi sirkular ternyata punya dampak gede banget kalau dilakuin bareng-bareng. Artikelnya ngena banget buat nyadarin kita supaya lebih bijak ngelola sampah plastik dan barang rumah tangga.
keren banget nih program bank sampah induk bersinar dalam upaya mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Semoga nanti ada semakin banyak bank sampah yang bisa menggerakkan ekonomi sirkular sekaligun membantu menjaga lingkungan ya, mbak
Waah ternyata Bank Sampah ini ada di kabupaten Bandung ya, saya sendiri selaku orang kabupaten tahunya malah dari artikel ini ya. Btw ketua yayasannya kaya familiar ya….