Arsip Tag: Cinta

Senandung Sakinah, Buku Ke-2 dari Geng Salihah Menulis untuk Para Single Lillah Agar Istiqomah di Jalan Allah

Geng Salihah Menulis?? Siapa sih mereka? Adakah teman-teman pernah mendengarnya? πŸ™‚

Yup, Geng Salihah Menulis, atau lebih sering kami sebut dengan akronim GSM, adalah sekumpulan penulis muslimah muda belia yang berbakat (hahhh…. muda belia? Enggak salah?) hehheheeee…. Enggak muda-muda banget siiihhh, bahkan ada yang ketuaan macam saya hahhaa… 🀐

Jadi… kita kenalan dulu ya, para hadirin. GSM ini terdiri dari 9 orang penulis, termasuk saya, yang domisilinya berpencar dari Sabang sampai Merauke, bahkan ada yang di luar sono. Ada yang tinggal di Jakarta, Bandung, Bogor, Yogya, Kaltim, dan Malaysia. Lucunya, saya sama sekali belum pernah bertemu, lho, dengan mereka. Kami hanya berkomunikasi secara online lewat WA grup dan saya pun belum pernah sekalipun menelepon mereka. Whattt?? ^^

Anehnya, meski belum pernah bertemu, hati kami terasa sungguh dekat. Geng yang sudah seperti adik kakak ini mulai terbentuk tanggal 22 Desember 2017. Saat itu saya baru 2 bulan menekuni dunia kepenulisan artikel. Nah, gegara sama-sama nyemplung dalam satu grup WA penulis artikel UC News, akhirnya saya diajak untuk membuat satu buku antologi bersama 8 penulis lainnya. Ini merupakan ide dari ibu Ketua GSM yang juga founder platform Estrilook, bernama Milea.. *ehh… bukan, Dears, salah ternyataaa… Namanya Muyassaroh 🀣

Mbak Muyass yang masih muda dan imut inilah yang sering menjadi inspirasi saya dalam menulis, karena tenaganya seolah tak pernah ada habisnya. Nulis bisa, pintar masak, jago gambar, hobi nyuci dan seterika, pintar jadi bos untuk karyawan dan komunitasnya di Estrilook, semua dibabatnya 😁 Udahh, ahhh, enggak usah cerita terlalu banyak tentang dia ya, ntar dia kesenengan.. πŸ™„

Buku Pertama GSM

.

Perempuan Pemetik Cahaya (PPC) merupakan buku antologi pertama kami. Buku ini terbit pada bulan Agustus 2018 dengan mengambil tema non fiksi. Isinya tentang 9 orang perempuan muslimah inspiratif dari dalam dan luar negeri yang berkarya dengan passion mereka masing-masing.

Ada kisah tentang Hakim Agung wanita di New York, peraih Nobel Perdamaian Termuda, perancang busana muslim Swedia, dan beberapa tokoh muslimah inspiratif dalam negeri. Buku ini ingin memberikan semacam suntikan semangat, khususnya bagi kaum wanita, bahwa perempuan itu selalu dapat menginspirasi di manapun berada, meski dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.

Buku Kedua GSM

.

Setelah PPC, buku antologi berikutnya Alhamdulillah terbit pada bulan November 2018. Judulnya, Senandung Sakinah (Perjuangan Cinta Single Lillah Menggapai Jodoh)

Sedikit berbeda dari PPC, buku ke-2 ini mengusung kisah semi fiksi. Buku SS berisi 9 cerita pendek tentang penantian jodoh secara syar’i, beserta aneka tips dan motivasi untuk kamu yang sedang sendiri. Hampir semua ceritanya berdasarkan kisah nyata, jadi recommended banget untuk kamu yang masih sendiri, ataupun untuk kado pernikahan, karena ceritanya dikemas sederhana dan apa adanya.

.

Alhamdulillah, banyak pembaca yang merespon positif kisah dalam buku tersebut. Pemesan datang dari berbagai pulau, seperti Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Lombok. Masya Allah, semoga bukunya bermanfaat, ya πŸ™‚

Terusss, buku ke-3 dan ke-4 ada tak?

Jangan khawatir man-teman, insya Allah buku ke-3 dan ke-4 juga sudah jadi, lho, naskahnya. Tinggal masuk ke penerbit. Waahhh, pasti pada mikir, kok produktif banget, sih, GSM?? Iyesss…. karena kita kan masih muda belia, banyak ide dan kreativitas menggelora #uhhukkkk wkwk πŸ˜‚

Eh, enggak terasa udah dini hari aja, nih, kebanyakan cerita 😍 Udahan dulu, ya, besok kita sambung lagi. Doakan saja kami ber-9 senantiasa sehat, bahagia, dan selalu akurrrrr terus, enggak berantem dari anak sulung sampai anak bungsu hehheee πŸ˜…

Aamiin… πŸ’•

πŸ’œπŸ’™πŸ’š

#ODOP #EstrilookCommunity #Day8

Tragedi Lion Air JT-610, Antara Cinta, Cita dan Keprihatinan

Satu minggu terakhir….
.
Pemberitaan media begitu sarat dengan tragedi kecelakaan si burung besi Lion Air JT 610 tujuan Jakarta – Pangkal Pinang, yang jatuh di perairan Karawang pada tanggal 29 Oktober 2018 lalu.
.
Pemberitaan ini bahkan mengalahkan berita utama di negeri ini, tentang musibah besar gempa dan tsunami Palu dan Donggala, yang lagi-lagi menjadi musibah ke sekian setelah peristiwa gempa Lombok sekitar 3 bulan yang lalu.
.
Ah, negeriku…
Ada apa dengan dirimu??
.
Bahkan seribu satu pro dan kontra di sosial media takkan mampu mencari tahu apa sebenarnya yang Dia rencanakan di balik semua kejadian ini.
.
.
20181105_011458_0001~01~01~01
.
Kembali pada tragedi jatuhnya pesawat Lion Air…
.
Ingatanku seolah melayang pada masa puluhan tahun silam…
Pada masa kecil dimana naik pesawat masih menjadi sesuatu yang eksklusif, dan beruntungnya, aku telah diberi kenikmatan untuk merasakannya.
.
Bouraq, Merpati, dan tentu saja sang pelopor penerbangan Garuda Indonesia,Β  adalah sederet nama maskapai yang sangat berjaya pada masa itu.
.
Tiga maskapai tersebut memberikan pelayanan yang istimewa dan sungguh memuaskan. Pilihan makanan dan minuman tersaji lengkap beserta kemasannya yang tampil ekslusif bak suvenir pernikahan. Ah, kenapa tak ada satu pun yang sempat aku dokumentasikan, ya? Betapa sesal kemudian serasa tak berguna.
.
Harga tiket pesawat pada era 80-90an itu mungkin tak ada yang diobral seperti zaman now. Tak ada istilah tiket promo, atau rebutan kursi promo.
.
Bahkan aku ingat, saat berusia 6 tahun, almarhum Bapak pernah mengatakan usiaku masih 5 tahun kepada petugas saat membeli tiket di loket. Tidak lain tidak bukan agar aku boleh duduk di pangkuan Bapak, tanpa harus membeli kursi sendiri. Lumayan bisa menghemat satu orang kan? ^^ Hemm…. ide yang cerdas…
.
Di masa itu jarang sekali ku dengar ada kecelakaan pesawat. Maka ketika tiket pesawat di masa kini semakin banyak diobral, seiring munculnya begitu banyak maskapai baru, dan impian naik pesawat telah menjadi kisah nyata milik semua orang, kenapa justru begitu banyak tragedi kecelakaan mengiringinya?
Bukankah seharusnya segalanya menjadi lebih baik?
.
Alat, sistem, fasilitas, kinerja, dan SDM seharusnya menjadi lebih rapi dan teratur seiring berkembangnya segala kemudahan yang ada.
.
Ahh…. teori dan asal bicara memang terlalu mudah diucapkan, yaΒ Dears 😁
Siapa lah aku yang hanya seorang penumpang, yang saat ini hanya mampu menekan keypad di smartphoneΒ untuk sekadar menuliskan sepenggal opini berbasis masa lalu ini.
.
Kalau diizinkan bicara, aku hanya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya aku mencintai langit, pesawat, dan segala hal berbau angkasa.
.
Cita-citaku dulu ingin menjadi seorang Pramugari dan Astronot. Entah apakah aku cukup cantik atau tidak saat itu heehhee…. tapi terlalu sering melihat mbak-mbak cantik itu di pesawat membuatku ingin menjadi seperti mereka. Sedangkan pilihan menjadi Astonot terpatri di dalam hati, lantaran saat itu sedang booming pemberitaan tentang calon Astronot pertama Indonesia bernama Dr. Pratiwi Sudharmono.
.
Bukankah nama kami sama-sama Pratiwi? Siapa tahu keberuntungan juga memihakku? πŸ˜…
.
.
Namun, ketika akhirnya masa remaja tiba dan tinggi badan tak memadai dalam persyaratan menjadi seorang Pramugari, cita-citaku seketika berubah ingin menjadi seorang Diplomat dan Penyiar Televisi. *cukup pilih salah satu, Diplomat atau Penyiar ya, jangan kau duakan cintamu #eeaaa #upss
.
Selanjutnya, aku sudah cukup puas melihat mbak-mbak Pramugari cantik itu setiap kali naik pesawat dan memperhatikan seragam mereka. Sesungguhnya ada sebersit rasa syukur di dalam hati, karena salah satu persyaratan tes menjadi Pramugari yang pernah kubaca adalah harus mengenakan rok di atas lutut. Ah, bukan aku banget itu. Aku terlalu sopan dan pemalu melakukan itu ☺ Tampaknya Dia Yang Maha Mengetahui sudah sangat pas mengatur segalanya, dengan tidak mengizinkanku menjadi seorang cabin crew.
.
Kini ku tahu, tak selamanya sesuatu yang terlihat menyenangkan dan wah selalu indah seperti yang kubayangkan.
Apalagi setelah beberapa hari lalu menyaksikan tayangan di sebuah televisi swasta, tentang wawancara bersama seorang Pramugari yang menjadi salah satu korban dalam kecelakaan maskapai singa terbang ini beberapa tahun yang lalu. Ia bercerita harus menjalani berkali-kali operasi untuk memperbaiki anggota tubuh dan tekstur wajahnya akibat kecelakaan itu, tanpa ada bantuan dari pihak perusahaan. Ia pun menuturkan ketidakjelasan sistem kontrak yang diterapkan, karena ia dan rekan sejawatnya masih terlalu muda saat itu. Bisa diterima sebagai Pramugari dan berkeliling Indonesia dengan pesawat saja sudah merupakan suatu kebanggaan baginya dan teman-teman, tanpa terpikir hal lain terkait perjanjian kerja dan sejenisnya.
.
Miris memang, sekaligus prihatin mendengarnya.
Tapi sekali lagi…
Siapalah aku?
Yang hanya mampu menautkan beberapa rangkai kalimat dalam kenangan akan cita-cita masa lalu.
.
Tapi tak perlu khawatir, aku masih tetap penggemarmu yang dulu.
.
Masih tetap cinta langit, pesawat, dan segala hal yang berbau angkasa… πŸ’•
πŸ’œπŸ’›πŸ’š

Cinta Tidak Harus Memiliki, Yakinnn??

“Cinta tidak harus memiliki…”
.
Ungkapan ini begitu familiar saat masa remaja dulu. Menghiasi hari-hari penuh warna warni di usia yang terbilang menengah, alias masa transisi. Anak kecil bukan, terlalu dewasa pun belum.
.
Kini, ketika diri telah memasuki gerbang yang bahkan sudah “terlalu” dewasa *tapi masih teteupp imoet, kok πŸ™ˆπŸ€‘, ungkapan itu terkesan sangat lebay.
.
.
20181025_114527_0001
.
.
Ketahuilah, wahai engkau yang sedang jatuh cinta…
.
Rasa cinta yang sejati bisa tumbuh manakala kita telah terbiasa berdekatan dan berusaha untuk memahami seseorang. Sedikit berbeda dengan cinta lahiriah, yang biasanya terjadi pada pandangan pertama (love at the first sight).
.
Cinta pada pandangan pertama biasanya akan berakhir manakala kita tak mampu menerima dan memahami karakter seseorang yang awalnya kita kagumi tadi. Tapi bukan berarti mereka yang jatuh cinta pada pandangan pertama tak akan mampu menjadi cinta sejati lho, ya. Banyak juga cinta sejati yang berawal at the first sight, asallll ya itu tadi, mampu menerima dan setia seutuhnya pada dia yang dikagumi sejak awal bertemu.
.
.
Nah, dari gambaran diatas ketemu deh titik terangnya. Bahwa mampu memahami dan menerima kekurangan menjadi KEKUATAN untuk melanjutkan sebuah hubungan. Kalau tak ada kesamaan pemahaman untuk saling menerima kekurangan pasangan jangan harap, deh, hubungan akan berlanjut.
.
Hubungan yang berjalan dalam satu frekuensi saja hambatannya banyak, apalagi jika kamu jelas-jelas memiliki frekuensi yang berbeda. Bakalan sulit ketemunya… 😎
.
Lalu sampai disini, balik lagi, adakah untungnya menyetujui ungkapan “Cinta tak harus memiliki..?”
Duhh, nelangsa banget dong, ya, rasanya…
.
Dears, pahamilah, bahwa cinta itu harus memiliki.
.
Jika tidak dimiliki, artinya dia bukanlah orang yang pantas untukmu. Karena jika dia PANTAS bagimu, dia pun akan memperjuangkanmu #eeaaa πŸ˜…
Jika hanya kamu yang berjuang mendekatinya, sementara dia melarikan diri menjauh darimu, oh nooo!!! masih ada pangeran Turki, kok, yang siap menunggumu 😍
.
So… pantaskan dirimu menjadi yang terbaik di hadapan-Nya. Di hadapan-Nya, lho ya, bukan di hadapannya (manusia).
.
Jika kamu memantaskan diri hanya demi manusia, maka sia-sia belaka seluruhnya, andai dia tak sedikit pun menoleh padamu. Tapi ketika engkau memantaskan diri hanya untuk-Nya Sang Penguasa Alam Semesta, Dia yang akan mendatangkan orang terbaik bagi dirimu. Orang yang patut kau kagumi, cintai, dan tentu saja, kau miliki πŸ’•
.
Yup, karena cinta sejati itu memang HARUS kau MILIKI..
Jika tak bisa kamu miliki, TINGGALKAN!!!
Lebih baik mencari cinta sejati milik-Nya, agar Ia kirimkan yang lebih baik bagi dirimu.
.
No galaw anymore buat kamu di sana dan siapa pun yang sedang mengalami kegalauan akan hal ini… πŸ’–
.
.
πŸ’œπŸ’›πŸ’š