Pengalaman Ruqyah di BRH Centre, Yogyakarta

pengalaman ruqyah BRH Centre Yogyakarta

Beberapa tahun yang lalu, saya ingat sekali, metode penyembuhan dengan cara ruqyah atau di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut dengan rukiah, menjadi metode penyembuhan yang cukup populer. 

Begitu populernya metode ini sehingga stasiun televisi swasta banyak yang menayangkan proses penyembuhan lewat terapi ruqyah sebagai program rutin mingguan yang peminatnya terus meningkat. Biasanya, ruqyah untuk tayangan program televisi ini dilakukan secara masal di dalam satu ruangan dengan banyak orang sekaligus. Terdapat beberapa ustaz dan ustazah yang membantu mengawasi jalannya ruqyah, sekaligus menenangkan para pasien yang di-ruqyah.

Lalu, kesan pertama apa yang nyantol di kepala saya saat itu?

Yup … kesan pertama adalah, ruqyah hanya diperuntukkan bagi penyakit-penyakit nonmedis saja, seperti gangguan jin, guna-guna, dan gangguan tak kasat mata lainnya yang berhubungan dengan sesuatu yang gaib.

Kedua, proses penyembuhan yang terjadi saat pasien di-ruqyah cukup bikin saya gemetar dan merinding. Kalau enggak teriak-teriak, guling-guling, mual, muntah, sampai kepada proses yang menurut saya cukup ekstrem, yaitu tak sadarkan diri.

Sampai di sini, itu dua kesan pertama yang saya rasakan gara-gara dulu sering melihat program ruqyah di televisi. Benarkah faktanya memang demikian? Apakah proses penyembuhan pasien ruqyah harus selalu ekstrem seperti itu? Yuk, baca cerita saya selanjutnya!

Manfaat Ayat Al-Qur’an

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian. ”

(QS. Al-Isra’: 82)

Sekitar tahun 2012, saya pernah mengantar Ibu ke salah satu klinik pengobatan thibbun nabawi atau metode pengobatan Islam yang disunahkan Rasulullah saw., yaitu melalui ruqyah dan bekam (al hijamah). Jika ruqyah adalah pengobatan hati dan psikis melalui pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an, bekam adalah metode pengobatan secara fisik dengan cara menyedot darah kotor dari dalam tubuh agar penyumbatan darah tidak terjadi. Istilah kerennya, bekam adalah proses detoksifikasi yang sangat baik untuk mencegah berbagai penyakit dalam tubuh kita.

Saat itu, ibu saya mengalami batuk berkelanjutan yang akhirnya membuat napas beliau menjadi sesak dan cepat lelah. Efek lainnya, batuknya sudah mulai bercampur darah. Ini cukup mengkhawatirkan. Selain melakukan pengobatan ke dokter, atas saran keluarga, Ibu juga berobat ke salah satu klinik ruqyah dan bekam sebagai pengobatan alternatif selain pengobatan medis. Inilah pertama kalinya saya punya pengalaman mengantar Ibu melakukan penyembuhan dengan cara ruqyah.

Metodenya sama dengan yang saya saksikan di program tayangan televisi beberapa tahun sebelumnya, dengan cara pembacaan ayat Al-Qur’an oleh Ustaz yang menerapi Ibu. Bedanya, ruqyah dilakukan di dalam ruangan tersendiri, seperti ruang klinik di rumah sakit modern.

Saya yang ikut masuk ke dalam ruangan klinik mendadak terdiam dan menunggu dengan deg-degan saat Ustaz yang menerapi melantunkan ayat suci dengan bacaan yang sangat indah. Apakah Ibu juga akan mengalami mual, muntah, atau efek lain seperti yang saya lihat di televisi? Alhamdulillah, ternyata tidak, Gaesss …. Ibu terlihat khusyuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an sampai selesai. Setelahnya, Ustaz bertanya, apa yang Ibu rasakan? Kata Ibu, dia merasakan aliran hangat di bagian punggung atas.

Terapi ruqyah terhadap Ibu ini dilakukan beberapa kali dalam waktu 2 atau 3 bulan bersamaan dengan terapi bekam sekaligus, sampai akhirnya kondisi Ibu membaik dan pernapasannya kembali lega. Masya Allah.

Dari pengalaman ini, kesan saya bahwa terapi ruqyah hanya diperuntukkan bagi mereka yang terkena penyakit nonmedis menjadi sirna seketika. Ternyata kekuatan ayat Al-Qur’an memang luar biasa sebagai penyembuh bagi segala macam penyakit.

Oya, teman-teman pernah membaca artikel tentang hasil penelitian ilmuwan Jepang, Dr. Masaru Emoto belum? Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Masaru Emoto melakukan penelitian adanya hubungan antara kekuatan doa dan perubahan bentuk molekul air. Molekul air yang dibacakan kalimat doa memiliki bentuk yang indah dan teratur, sementara air yang diberi kata hujatan atau kebencian memiliki bentuk molekul tak teratur, pecah, dan berantakan.

terapi penyembuhan ruqyah
Foto molekul air sesuai kalimat yang diucapkan. (Image: Pinterest.com/beforeitsnews)

Kalau air yang benda mati saja mampu berubah strukturnya menjadi lebih baik setelah dibacakan doa, apalagi kita yang dikaruniai miliaran sel otak sebagai makhluk hidup terbaik ciptaan-Nya.

Dari hasil penelitian ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa air yang telah dibacakan ayat Al-Qur’an dapat digunakan sebagai sarana terapi bagi siapa pun yang sedang sakit. Bukankah 75℅ tubuh kita terdiri atas cairan?

Ini bukanlah hal yang berbau syirik atau terlarang, asal tidak dicampur dengan metode lainnya, seperti mantra, pengobatan menggunakan hewan, memindahkan penyakit ke makhluk hidup lain, dan perbuatan sejenis yang dilarang agama.

Pengalaman kedua berhubungan dengan ruqyah kembali saya alami saat mengantar anak saya yang saat itu berusia 3 tahun untuk melakukan ruqyah. Wah, kok dari dulu tugas saya cuma mengantar aja, ya? Kapan nyobain ruqyah sekalian? Ya mau gimana lagi, wong yang sakit bukan saya, kok. Alhamdulillah, saya merasa sehat-sehat aja secara lahir dan batin. Malah saya baru tahu saat itu bahwa anak saya ternyata memang agak “sensitif” dengan hal-hal yang enggak kelihatan. Jadilah, salah satu terapi yang harus dilakukan adalah dengan cara ruqyah.

Pengalaman Pertama Ruqyah secara Syar’i

Siapa sangka … tahun 2021 ini ternyata Allah mengizinkan saya untuk melakukan ruqyah, meski di klinik yang berbeda dengan klinik terdahulu. Sebenarnya keinginan ruqyah ini sudah tebersit sejak tahun 2018 lalu. Entah kenapa, rasanya pengen aja membersihkan diri. Namun, keinginan ini tidak pernah terwujud. Saya selalu merasa ragu-ragu. Apa boleh kalau orang yang enggak sakit minta di-ruqyah? Berdosa enggak? Berbagai macam pikiran berkecamuk di benak saya.

Saya pernah membaca status di media sosial tentang pengalaman seorang pebisnis perempuan dan internet marketer yang melakukan terapi ruqyah karena ingin mencoba sekaligus membersihkan dirinya. Saat di-ruqyah, dia merasa tenang dan khusyuk mendengar ayat-ayat yang dibacakan. Tidak ada masalah apa pun dalam dirinya. Namun tetap saja, setelah membaca postingan tersebut, saya masih tetap ragu, apakah diperbolehkan melakukan ruqyah tanpa ada penyakit apa pun?

Sebenarnya tahun 2018 lalu, ada seorang sahabat yang bilang ke saya, “Mbak, kok aku merasa antara aku dan kamu tuh kayak dipisahkan ‘tembok’, ya? Aku enggak bisa merasakan apa yang kamu pikirkan.” Waktu itu, saya dan dia memang sedang duduk bersisian. Saya cuma bengong. Apa maksudnya? Teman saya juga cuma diam. Tampaknya, dia masih menerka perasaannya.

Saya enggak kaget dengan sahabat satu ini. Dia memang punya indra yang “sensitif”. Dia ingin sekali menghilangkan indranya ini dengan berbagai cara karena sering merasa tersiksa–katanya. Namun, qadarallah, kemampuannya ini belum hilang juga, malah tambah peka seiring usia.

Saya sebagai sahabatnya kadang kasihan juga, tetapi hanya bisa mendoakan, semoga Allah Swt. selalu memberikan kesabaran dan perlindungan terbaik kepadanya. Saya bilang, kalau memang sudah sering ruqyah, tetapi kemampuannya belum hilang juga, terima saja. Yang penting tidak merembet menjadi hal yang dilarang sebagai seorang muslim, seperti jadi peramal kayak Roy Kiyoshi, misalnya. 😀

Singkat cerita, teman saya bilang, dia seperti melihat ada “tembok” yang memisahkan antara dia dan saya. Waktu saya tanya lebih detail, dia enggak tahu itu tembok apaan. Baiklah, saya pun akhirnya mengabaikannya. Sebenarnya sudah ada dorongan untuk ruqyah, tetapi saya ragu karena teman saya juga tidak menyarankan apa-apa.

Setelah 3 tahun berlalu, qadarallah, Allah memberi jalan dan solusi lewat seorang tetangga yang bertamu ke rumah saya. Tetangga ini berkunjung sambil membawa cucunya yang masih kelas 5 SD. Sepulang dari rumah kami, esoknya si Nenek bercerita bahwa cucunya yang punya indra sensitif itu ternyata melihat ada pagar tak kasat mata yang mengelilingi saya. Yaa Robb … kok bisa sama ya dengan apa yang dilihat sahabat saya tahun 2018 lalu? Saya yang enggak paham soal aneh-aneh begini cuma bisa istigfar, sekaligus bersyukur.

Alhamdulillah, ada banyak sekali orang baik yang ditunjuk Allah untuk selalu membantu dan menyayangi saya. Ya, meskipun yang enggak suka juga pasti ada, tetapi tidak perlulah kita fokus ke hal tersebut, ya. Bukankah tugas kita sebagai manusia adalah berbuat kebaikan semaksimal mungkin dan selalu memohon tetap istikamah di jalan-Nya? Menjadi sempurna tentulah tak mungkin. Pasti sesekali ada khilaf yang kita lakukan sebagai manusia.

Akhirnya, saya disarankan ruqyah oleh si anak kecil yang masih kelas 5 SD itu untuk membersihkan halangan-halangan yang tak terlihat. Jadilah, saya kemudian googling tempat ruqyah di Yogyakarta. Dari banyak klinik ruqyah yang ada di Yogyakarta, akhirnya pilihan jatuh pada Baitul Ruqyah wal Hijamah (BRH) Centre yang ada di Jl. Nyi Pembayun No. 14, Kotagede, Yogyakarta. Jaraknya sekitar 14 kilometer dari rumah. Lumayan jauh, sih, tetapi saya mantap memilih klinik itu.

klinik bekam ruqyah BRH Centre Yogyakarta
Klinik Ruqyah BRH Centre, Yogyakarta. (dok. pribadi)

Saat saya tiba di BRH Centre, klinik dengan bangunan sederhana ini tampak sepi, tidak ada antrean seperti testimoni yang saya baca di Google Maps. Mungkin karena masih masa pandemi juga, ya. Saya bersyukur langsung dilayani oleh seorang Ukhti di bagian pendaftaran dan disuruh menunggu sebentar karena ustaznya sedang keluar. Saat saya mengantre, datang lagi pasien baru hendak mendaftar. Seorang ibu muda yang tampak enerjik ingin mendaftarkan anaknya yang autis untuk di-ruqyah. Masya Allah, terbukti, ternyata ayat-ayat Allah memang penyembuh dari berbagai macam penyakit, batin saya.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, Pak Ustaz akhirnya datang. Saya diminta berwudu terlebih dahulu oleh Ukhti yang melayani pendaftaran, kemudian mengenakan mukena, dan diminta masuk ke ruangan kecil untuk ruqyah. Ruangan ini terbuka dan bisa dilihat dari luar. Pak Ustaz meminta saya duduk menghadap kiblat. Entah kenapa, hati saya mulai dag dig dug duerrrrr …. Haduh, apa yang akan terjadi dengan saya selanjutnya? Bagaimana kalau nanti saya mual, jatuh, atau pingsan? Lebay deh pokoknya kalau ingat waktu itu.

Saat Ustaz mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, bibir saya juga komat-kamit mengikuti bacaan tersebut tanpa bersuara. Meski bibir ikut mengaji, tetapi tak dapat dibohongi, hati saya masih deg-degan. Saya berusaha menenangkan diri dan meyakinkan bahwa saya sadar secara penuh dan baik-baik saja.

Pandangan saya mulai fokus pada satu kotak tisu dan ember kecil yang diberi kantung plastik bersih di depan saya. Kalau seumpama mual, berarti saya harus langsung mengambil ember itu, pikir saya. Tentu saja, masih dengan pikiran yang tidak karuan.

Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya saya mulai tenang dan enggak mikir aneh-aneh lagi. Kenapa sih saya harus takut dengan prosesnya? Bukankah ini untuk kebaikan? Mual, muntah, dan sejenisnya yang saya lihat di televisi mungkin tergantung kekuatan tubuh masing-masing orang. Ibu dan anak saya saja dulu waktu di-ruqyah baik-baik saja, enggak sampai ekstrem seperti itu. Lagian, bukankah efek itu menandakan adanya proses detoksifikasi dan pembersihan tubuh? Saya berusaha meyakinkan diri sendiri.

Sekitar 20 menit mungkin proses ruqyah dilakukan. Sampai akhir ayat dibacakan, saya masih duduk diam dan dalam keadaan sadar, tanpa ada ketakutan seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya ingat, Ustaz sempat memegang ubun-ubun dan menepuk-nepuk punggung saya ketika membaca ayat Al-Qur’an tadi. Hati saya pun menjadi lega. Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah, saya sudah berhasil melawan ketakutan saya sendiri.

Oiya, saat memegang kepala dan menepuk punggung saya, Ustaz menggunakan sarung tangan berbahan kulit tebal sehingga kita tak perlu merasa khawatir bersentuhan dengan yang bukan mahram. Prosesnya syar’i, insya Allah.

Setelah selesai, saya diberi minum segelas ramuan herbal seperti jamu. Beliau kemudian menanyakan, apa yang saya rasakan, dan sudah berapa lama merasa badan enggak beres. Saya pun menceritakan semua yang saya alami dengan penuh kepolosan. Iya, saya polos banget kalau soal yang aneh-aneh begini. 🙂

Beliau bilang, memang ada sedikit gangguan, tetapi tidak perlu dibahas gangguan itu asalnya dari mana. Ustaz juga bertanya, apakah saya sering mimpi buruk? Karena adanya gangguan juga bisa ditandai dari mimpi buruk.

Pokoknya, kalau ada rasa enggak nyaman di tubuh kita, segera cari obat dan solusinya, itu lebih baik, pesan beliau. Tidak perlu memikirkan masalahnya dari mana, yang penting fokus ke solusinya. Masya Allah, adem sekali hati saya mendengar nasihat Ustaz yang sudah paruh baya dengan jenggot putih di bawah dagu.

Sepulang dari sana, Ustaz membawakan sebotol air putih yang sudah dibacakan doa. Beliau juga berpesan agar kita sering melakukan ruqyah mandiri di rumah dengan segelas atau sebotol air yang dibacakan ayat Kursi, surah An Naas, dan Al Ikhlas sehabis salat Magrib.

Apa yang Dirasakan Setelah Ruqyah?

Sesampai di rumah, saya kembali googling tentang Klinik Ruqyah BRH Centre. Kalau besok ada saudara atau teman di Yogyakarta yang sakit, pasti saya akan merekomendasikan klinik ruqyah ini karena penyembuhannya sesuai dengan syariat. Memangnya ada, ya, ruqyah yang tidak syar’i? Berdasarkan referensi yang saya baca, kalau metode penyembuhan ruqyah-nya dicampur dengan metode lain yang tidak ada panduannya, seperti tenaga dalam, atau menggunakan penerawangan, dan semacamnya, dianggap tidak sejalan dengan syariat. (Hidayatullah.com, 16/4/2014)

Saya juga baru tahu kalau BRH Centre merupakan klinik ruqyah pertama yang ada di Yogyakarta sejak tahun 2009. Pemiliknya Ustaz Fadhlan Adham Hasyim, Lc. , yang merupakan perintis sekaligus Ketua ARSYI (Asosiasi Ruqyah Syar’iyyah Indonesia). Masya Allah, bersyukurnya saya bisa diterapi oleh beliau.

Lalu, apa yang saya rasakan setelah di-ruqyah?

Yang pertama, lega. Alhamdulillah.

Yang kedua, seperti merasa lahir kembali. Bingung enggak, lahir kembali itu rasanya kayak apa? 😀 Hmmm … gimana jelasinnya, ya?

Yang ketiga, sampai satu minggu setelah selesai ruqyah, badan terasa ringan, melayang-layang. Ini seperti kalau kamu habis pijat, badannya jadi enak dan lemas.

Yang keempat ini agak susah kalau kamu lagi banyak kerjaan. 😀 Iya, karena badan terasa enak, jadinya malah ngantuk terus. Akhirnya saya menggunakan kesempatan itu untuk lebih banyak beristirahat. Kerja online tetap, tetapi saya kurangi porsinya. Lebih mengikuti maunya tubuh aja gimana.

Jika ingat pengalaman ruqyah beberapa minggu lalu, tak henti-hentinya saya mengucap syukur kepada Allah Swt. Betapa Dia Yang Mahakuasa sudah begitu baik kepada saya yang fakir ilmu dan banyak dosa ini. 🥺 Tak terhitung lagi betapa banyak limpahan rahmat dan karunia-Nya. Hikss … jadi terharu ….

Teman-teman yang membaca tulisan ini, apakah ada yang pernah punya pengalaman ruqyah juga? Kalau iya, apa yang teman-teman rasakan setelahnya? 🙂

Baca Juga

pengalaman ruqyah yogyakarta