Yuk, Perhatikan 7+ Cara Penulisan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar Ini meski Kamu Bukan Seorang Penulis Profesional

bahasa indonesia

Keterampilan berbahasa, terutama bahasa Indonesia, merupakan satu hal yang sangat dibutuhkan saat ini. Apalagi di masa pandemi, ketika hampir semua bidang kehidupan beralih menggunakan internet sebagai alat komunikasi utama.

Situs Literasi Nusantara (14/5/2020) melansir, di antara empat keterampilan berbahasa yang ada, yaitu membaca, menulis, menyimak, dan berbicara, menulis merupakan keterampilan yang sangat dibutuhkan saat ini.

Kamu pasti setuju dengan saya bahwa hampir 24 jam waktu kita dihabiskan setiap harinya untuk membuka internet dan membaca aneka informasi di media sosial. Bahkan, menurut survei dari APJII (Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia), sepanjang tahun 2019 hingga 2020 pengguna internet di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 64,8 persen dari tahun 2018, atau naik sekitar 25,5 juta.

Hampir semua yang kita lihat di internet selalu berhubungan dengan tulisan. Media sosial Facebook, Instagram, Twitter, dan aplikasi lainnya menjadikan tulisan sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Untuk menulis caption atau takarir sederhana di media sosial pun sebenarnya kita membutuhkan keterampilan menulis dengan kalimat sederhana yang mudah dipahami dan dimengerti. Ini artinya, keterampilan menulis sederhana wajib kamu miliki agar teman-teman di dunia maya mengerti apa yang kamu tulis.

Dari kebiasaan menulis di media sosial secara teratur, bukan tidak mungkin kesempatan menjadi seorang profesional di bidang tulis-menulis semakin terbuka lebar, baik sebagai penulis artikel, penulis buku, penulis blog (bloger), wartawan media cetak dan media elektronik, influencer, atau naik ke level yang lebih tinggi lagi, yaitu sebagai seorang editor.

Dari apa yang saya amati dan ilmu yang saya pelajari selama ini, ternyata ada beberapa hal yang sebaiknya kita perhatikan dalam menulis agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya rangkum aja ya secara ringkas menjadi tujuh poin singkat supaya enggak enek bacanya, kwkwkwk. *pusing pala Barbie kalau kebanyakan, eeuyy 😀

Apa saja tujuh cara penulisan yang harus diperhatikan tersebut? Cek di bawah ini, ya!

bahasa indonsia
Sumber gambar: Pexels.com/JessicaLewis

Penulisan Kata Majemuk

Kata majemuk sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai gabungan kata. Salah satu kata majemuk yang akhir-akhir ini banyak sekali mengalami perubahan penulisan adalah kata terima kasih. 🙂 Penulisan terima kasih yang seharusnya dipisah, entah kenapa sekarang malah sering disatukan menjadi terimakasih. Mungkin karena mereka lama berjauhan dan jaga jarak di masa pandemi, ya, jadi ada keinginan untuk mendekat, meski sebenarnya sudah ditakdirkan untuk saling berjauhan. *kwkwkwk …. 😀

Berikut beberapa contoh kata majemuk yang sering mengalami kesalahan dalam penulisan:

Terimakasih (SALAH) => Terima kasih (BENAR)

Orangtua (SALAH) => Orang tua (BENAR)

Olah raga (SALAH) => Olahraga (BENAR)

Seringkali (SALAH) => Sering kali (BENAR)

Ada kalanya (SALAH) => Adakalanya (BENAR)

Penulisan di sebagai Kata Depan dan di– sebagai Awalan

Poin nomor dua ini masih banyak yang mengabaikan. Mungkin karena mereka memang belum paham, ya, bukan karena disengaja. Untuk kamu yang belum tahu, kata di bisa berfungsi sebagai awalan, dan bisa juga berfungsi sebagai kata depan.

1. Di- sebagai awalan

Sebagai sebuah awalan, kata di- harus disambung dengan kata sesudahnya. Biasanya kata sesudahnya ini adalah kata kerja bentuk dasar.

Contoh:

Dikejar => kejar adalah kata kerja.

Dicari => cari adalah kata kerja.

Ditulis => tulis adalah kata kerja bentuk dasar dari menulis.

2. Di sebagai kata depan

Fungsi di sebagai kata depan ini penulisannya harus dipisah dengan kata yang mengikutinya. Biasanya kata yang mengikuti di sebagai kata depan adalah keterangan tempat.

Contoh:

Di sana => sana adalah penunjuk tempat.

Di rumah => rumah adalah tempat (kata benda).

Di luar => luar adalah keterangan tempat.

Untuk teman-teman yang belum terbiasa menulis, mungkin masih bingung dengan poin nomor dua ini, ya. Namun, tak mengapa. Setidaknya kamu sudah mulai belajar bagaimana cara membedakan kedua fungsi kata di ini.

Penulisan Namun dan Tetapi

Untuk poin nomor tiga, jujur deh, awalnya saya juga belum paham. Dulu, saya anggap tak ada bedanya antara penggunaan dua kata ini di dalam suatu kalimat. Faktanya, kata namun hanya boleh digunakan di awal kalimat, dan kata tetapi harus berada di tengah kalimat setelah didahului dengan tanda koma. Setelah mengetahui hal ini, saya jadi lebih berhati-hati saat memakai dua kata ini.

Contoh:

Aku ingin sekali tertawa, tetapi tak bisa.

Berbuat kesalahan itu hal yang wajar, bukan? Namun, bukan berarti kita tak perlu belajar dan hanya mengharapkan pemakluman.

Jelas ‘kan ya, bedanya?

Penulisan Jam dan Pukul

Nah, penulisan kata jam dan pukul ini juga mirip dengan penulisan namun dan tetapi. Terlihat serupa, tetapi tak sama. Faktanya, jam dan pukul digunakan untuk hal yang berbeda.

Jam => digunakan sebagai satuan waktu.

Contoh:

Penerbangan Jakarta-Istanbul memiliki waktu tempuh sekitar 12 jam.

Huh, 1 jam mana cukup? Butuh waktu lama membahas masalah pelik ini!

Pukul => digunakan untuk menyatakan waktu.

Contoh:

Oke, tunggu aku pukul lima sore, ya!

Waktu menunjukkan pukul dua dini hari saat aku terbangun mendengar suara aneh itu.

Kata yang Tidak Boleh Diletakkan di Awal Kalimat

Memangnya ada ya kata khusus yang enggak boleh diletakkan di awal kalimat? Ternyata ada, Milea! Catat ya, ada tujuh kata:

Dan, atau, tetapi, serta, padahal, sedangkan, melainkan.

Tujuh kata di atas harus berada di tengah kalimat. Ya … memang enggak gampang sih praktiknya. Pintar-pintarnya kita aja bagaimana caranya supaya tujuh kata itu enggak ada di awal kalimat.

Penulisan Bentuk Terikat

Bentuk terikat itu apa, sih, Esmeralda? Gini lo, Fernando. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), bentuk terikat itu maksudnya unsur bahasa yang harus digabung dengan unsur lain agar menghasilkan makna atau arti yang jelas. Dengan kata lain, bentuk terikat tidak dapat berdiri sendiri dan harus disambung dengan kata setelahnya. Ada beberapa kata yang termasuk dalam bentuk terikat ini.

Contoh:

Antar- => Antarkota, antarprovinsi, antarkabupaten.

Multi- => Multilevel, multitalenta.

Pasca- => Pascasarjana, pascareformasi.

Anti- => Antioksidan, antibodi.

Swa- => Swadaya, swafoto.

Penulisan Kata Ganti Ku- dan Partikel pun

Penulisan ku- dan pun ini juga sering menimbulkan kebingungan. Ada yang menulis terpisah dengan kata sebelum dan setelahnya, dan ada juga yang menuliskan dengan disambung seperti bentuk terikat. Mana yang benar, sih?

Ayo deh, kita belajar bareng!

1. Penulisan ku-

Ku- adalah singkatan dari aku yang merupakan bentuk terikat. Jadi, penulisannya harus disambung dengan kata berikutnya.

Contoh:

Banyak yang ingin kuceritakan padamu, wahai belahan jiwa.

Ingin rasanya kupecahkan gelas minum itu.

2. Penulisan pun

Penulisan pun ini sedikit unik. Ada yang dipisah dengan kata sebelumnya, ada juga yang harus disambung.

Penulisan pun yang disambung bisa kamu lihat di bawah ini, ya. Ada 12 kata. Kalau perlu, kamu hafalin deh semua. 😀

*Adapun; andaipun; ataupun; bagaimanapun; biarpun; kalaupun. kendatipun; maupun; meskipun; *sekalipun; sungguhpun, walaupun.

Selain dari 12 kata tersebut, penulisan partikel pun harus dipisah dengan kata sebelumnya.

Contoh: Siapa pun, apa pun, aku pun, ke mana pun.

*Pengecualian

Untuk kata *adapun dan *sekalipun bisa dipisah penulisannya kalau makna pun di situ bisa diartikan sebagai juga.

Contoh:

Dia ada pun, aku belum tentu mau menemuinya. (pun di sini bisa diartikan sebagai juga)

Belum pernah sekali pun aku bertemu dengannya.
(pun di sini bisa diartikan sebagai juga)

Nah, tujuh poin cara penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar sudah saya rangkum secara singkat. Gimana, tambah puyeng ya? Enggak apa-apa kok, namanya juga belajar. Bukankah keterampilan berbahasa, khususnya menulis, bukan sesuatu yang pasti? Karena ia akan terus berubah menyesuaikan diri dengan kondisi.

Oiya, mumpung saya lagi baik dan semangat nulis, boleh tambah satu poin lagi, ya? Hahahahaaa …. Jadi, ada 7+1 rangkuman hari ini biar saya juga enggak lupa, dong, dan bisa nyontek di sini sewaktu-waktu diperlukan.

Yuk … ini poin terakhir deh, janji! 😀

Penulisan Kata Baku

Teman-teman, kata baku dapat diartikan sebagai kata yang dijadikan sebagai standar atau acuan dalam berbahasa. Untuk bahasa Indonesia, kata baku terbaru dapat dilihat di KBBI daring dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kamu bisa gunakan link ini untuk pengecekan kata baku terbaru, ya => KBBI Daring Kemdikbud.

Beberapa bahasa gaul kekinian sudah banyak, lo, yang masuk dalam kata baku bahasa Indonesia, seperti kepo, alay, pengin, enggak, lu, gue, baper.

Begitu juga dengan kata serapan asing, seperti gadget, kover, bloger, fesyen, mekap (bahasa Inggris = makeup), reviu, netizen, gim (bahasa Inggris = game), istigfar, dan banyak lagi.

Tentunya, ini semakin memudahkan kita menulis dengan bahasa yang baik dan benar, tanpa harus kehilangan ciri khas alias gaya menulis masing-masing. Pemerhati bahasa Indonesia, Ivan Lanin, pernah menulis dalam bukunya yang berjudul Recehan Bahasa bahwa “Bahasa yang baku tak mesti selalu kaku.”

Teman-teman bloger yang tulisannya banyak dibaca secara terbuka di blog ataupun media sosial bisa banget menjadi perantara pengenalan bahasa Indonesia yang baik dan benar ini kepada netizen, terutama generasi muda kita.

Yup, belajar bahasa memang tak bisa dilakukan sekaligus, seperti juga keterampilan menulis yang membutuhkan latihan berulang-ulang agar menjadi kebiasaan. Ia akan terus berkembang seiring dengan waktu dan banyaknya jam terbang.

Kamu setuju?

Baca Juga

bahasa indonesia

Referensi

kbbi.kemdikbud.go.id

ivanlanin.wordpress.com/2012/02/26/terima-kasih/

ivanlanin.wordpress.com/2020/01/18/namun-tetapi-dan-tapi/

literasinusantara.com/4-keterampilan-berbahasa/

Ini 9 Alasan Kenapa Kamu Harus Menggunakan Aplikasi Telegram daripada WhatsApp

Akhir-akhir ini saya sering mendapat notifikasi beberapa daftar kontak pribadi di HP mendadak punya akun di aplikasi Telegram. Ada apakah gerangan? Agak kaget juga awalnya kenapa aplikasi yang jarang digunakan orang-orang di sekitar saya ini mendadak mulai naik popularitasnya, padahal banyak teman selama ini malas menginstal Telegram dengan alasan sepi dan jarang yang pakai. 😀

telegram
Aplikasi Telegram di Play Store.

Saya sendiri sebenarnya sudah menjadi penggemar setia aplikasi Telegram sejak tahun 2016. Saking sukanya dengan aplikasi ini, saya sampai menuliskan detail tentang Telegram di blog. Kamu bisa baca di postingan Aplikasi Telegram for Android. Apa saja fitur dan keunggulan yang dimiliki Telegram sudah saya tuliskan di sana, meskipun ada beberapa fitur pembaruan yang belum saya tambahkan.

Kecintaan dengan Telegram semakin bertambah ketika saya menemukan banyak channel alias saluran informatif di aplikasi tersebut, seperti aneka kajian dari para ustaz dan ulama besar di tanah air, sampai kepada channel para motivator nasional, plus banyak grup pembelajaran online juga saya temukan di aplikasi ini.

Beberapa tahun terakhir, saya bahkan menggunakan aplikasi Telegram sebagai sarana menyimpan foto, video, dan aneka dokumen pekerjaan dalam berbagai format. Dengan cara ini, saya bisa menghapus file-file lama yang tersimpan di HP agar penyimpanan di perangkat berkurang dan HP tidak menjadi lemot.

Pada tahun 2017, popularitas Telegram sempat mencuat ketika Kementerian Komunikasi dan Informatika RI memutuskan memblokir Telegram versi web karena dianggap sering digunakan pihak teroris untuk berkomunikasi sebelum melancarkan aksinya. Syukurlah, setelah pendiri Telegram -Pavel Durov- datang ke Indonesia dan berdialog dengan Kemkominfo, pemblokiran pun dibuka kembali.

Bulan Januari 2021 ini mendadak popularitas Telegram kembali mencuat setelah pihak WhatsApp mengeluarkan peraturan baru terkait kebijakan privasi dan aturan layanan. Dikutip dari Kompas.com (7/1/2021), salah satu aturan baru ini menyebutkan, pihak WhatsApp akan membagikan data pengguna kepada Facebook yang masih satu perusahaan dengan WhatsApp terkait data nomor telepon pengguna, interaksi pengguna dengan orang lain, data transaksi, dan lain-lain. Pengguna WhatsApp bebas memilih untuk menerima kebijakan ini, atau sebaliknya, menolak kebijakan dengan risiko akun WhatsApp akan dihapus.

Setelah kabar ini muncul, banyak rekan dan sahabat mulai membuat akun di aplikasi Telegram. Saya sendiri sebetulnya lebih suka kalau grup chat menggunakan Telegram, dengan alasan, penyimpanan chat dan file di Telegram berbasis cloud alias penyimpanan di awan. Jadi, enggak membuat perangkat HP lemot dan ruang penyimpanan pun lebih lega.

Perbedaan Aplikasi Telegram dengan WhatsApp

Pavel Durov sebagai pendiri aplikasi Telegram cukup sering membandingkan keunggulan produk miliknya dengan aplikasi WhatsApp dalam channel pribadinya, Durov’s Channel, meski tak dapat dimungkiri, setiap aplikasi pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kelebihan WhatsApp sendiri terletak pada kemudahan penggunaan oleh berbagai rentang usia, mulai remaja hingga lanjut usia, ditambah fitur story 24 jam yang dimilikinya seperti fitur di Facebook dan Instagram. Yah, Facebook dan Instagram memang satu perusahaan juga kan dengan WhatsApp? 🙂

Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa sebelum Pavel Durov mendirikan Telegram dengan kakaknya, Nikolai Durov, ia juga sempat membuat aplikasi media sosial semacam Facebook yang sangat populer di negaranya, bernama VKontakte. Media sosial VK ini diklaim mengungguli kepopuleran Facebook di kalangan anak muda Rusia sehingga Durov berhasil menjadi miliarder di usianya yang masih muda.

Sayangnya, masalah politik di Rusia memaksa Durov harus keluar dari negaranya dan menjual saham VK kepada pemerintah Rusia. Perjalanan Pavel Durov dalam membangun idealismenya ini juga pernah saya tulis di blog dengan judul Pavel Durov dan Telegram Indonesia.

Terus, apa dong perbedaan lain antara Telegram dengan WhatsApp selain fitur story-nya? Baiklah, ini sembilan alasan kenapa kamu harus menggunakan aplikasi Telegram daripada WhatsApp (versi saya):

1. Ringan dan cepat

Aplikasi Telegram itu memiliki kapasitas yang lebih kecil daripada aplikasi WhatsApp. Kapasitas kecil ini membuat Telegram lebih ringan sehingga memiliki akses lebih cepat daripada WhatsApp.

2. Aman

Sejak awal dibuat, pendiri Telegram sudah berjanji tidak akan pernah memberikan data pengguna Telegram kepada pihak ketiga. Dengan kata lain, Telegram sangat aman digunakan.

Lo, memangnya WhatsApp enggak aman dibanding Telegram? Yup, kemudahan dalam penggunaan WA justru membuat seringnya aplikasi ini diretas atau di-hack oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Beberapa bulan terakhir, banyak teman saya yang mengalami peretasan nomor WA. Tiba-tiba nomor WA-nya tidak berfungsi, dan ternyata nomornya dibajak.

Ketidakamanan lainnya dari WhatsApp terletak pada foto dan video di story yang kita upload. Story itu akan tersimpan di dalam penyimpanan internal HP milik orang lain. Kok bisa? Coba deh kamu buka menu File Manager di HP, lalu cari folder WhatsApp. Di sana banyak foto/video milik orang lain yang berasal dari story yang mereka upload dan kita bebas mengunduhnya tanpa sepengetahuan mereka.

3. File tersimpan di cloud

Yang saya suka, semua file chat Telegram disimpan secara cloud (penyimpanan awan), bukan penyimpanan internal di perangkat HP. Jadi, enggak ada istilah Telegram eror karena memori penuh seperti kejadian berulang yang saya alami di WhatsApp karena kelupaan membersihkan chat. Akibat chat WA eror, sering banget beberapa riwayat chat penting ikut menghilang dan tidak dapat dikembalikan lagi. Berasa kehilangan harta karun berharga ‘kan kalau ada chat yang sudah dibintangi tetapi akhirnya hilang?

4. Bisa mengirim aneka jenis file dalam ukuran besar

Telegram memiliki kemampuan mengirim berbagai bentuk file, baik doc, pdf, zip, dll sampai kapasitas 1,5 GB setiap file-nya, sedangkan WhatsApp hanya dapat mengirim file maksimal 16 MB. Saya sendiri sejak tahun 2020 memiliki kantor virtual di Telegram dan menjalankan aktivitas sebagai editor buku secara online melalui aplikasi Telegram. Alhamdulillah, semua pengiriman file selalu lancar dan tidak pernah mengalami kendala lewat aplikasi ini.

5. Satu grup bisa berisi lebih dari 5000 orang

Ini kelebihan lain Telegram dibandingkan WhatsApp. Banyak channel di Telegram yang anggotanya bahkan lebih dari 500.000 orang. Oya, di Telegram, kita bisa membuat channel (satu arah) dan juga bisa membuat grup (dua arah). Apabila ingin menggunakan kedua fitur ini untuk kelas pembelajaran online misalnya, materi pembelajaran biasanya dikirimkan satu arah lewat channel, kemudian diskusi antarpeserta dilakukan di grup secara dua arah. Kedua fitur ini dapat dihubungkan satu sama lain agar saling terintegrasi.

6. Tempat menyimpan dokumentasi foto

Nah, kalau ini fasilitas yang saya temukan sendiri wkwkwkwk… Berawal dari kebingungan mau disimpan di mana berbagai foto dan video karena dulu sempat punya HP yang memorinya kecil banget, akhirnya ketemu deh solusinya. Semua file dokumen, foto dan video penting saya simpan di aplikasi Telegram dengan cara membuat channel pribadi terlebih dahulu. Sewaktu-waktu dibutuhkan, semuanya bisa diunduh kembali.

7. Telegram bisa disinkronisasi lewat berbagai perangkat

Berbeda dengan WhatsApp Web di PC/laptop yang hanya dapat dibuka apabila WhatsApp di HP dalam kondisi aktif, aplikasi Telegram bisa digunakan secara langsung, lo, di PC atau laptop tanpa membutuhkan HP. Telegram di PC/laptop bisa dibuka lewat browser, atau bisa juga dengan cara menginstalnya di perangkat PC/laptop.

8. Telegram memiliki fitur polling di channel/grup diskusi

Saat melakukan interaksi di channel/grup diskusi, pengguna Telegram dapat mengirimkan polling untuk meminta anggota grup memilih suatu hal yang ingin diputuskan. Asyik ‘kan? Ehm… jadi, mau makan apa hari ini? *ehh

telegram
Fitur polling di aplikasi Telegram.

9. Nomor HP bisa disembunyikan

Berbeda dengan WhatsApp, nomor pengguna Telegram bisa dirahasiakan. Kita bisa memilih agar yang tampil di akun Telegram hanya nama pengguna yang kita gunakan untuk mendaftar, seperti halnya di media sosial Facebook atau Instagram. Ini salah satu hal yang saya suka juga karena nomor HP tidak tersebar sembarangan ke pihak lain yang tidak diinginkan.

Nah, itu dia sembilan alasan versi saya kenapa kamu harus menggunakan aplikasi Telegram daripada WhatsApp. Meskipun pihak WhatsApp mengklaim penggunanya mencapai angka 2 miliar pada tahun 2020, tetapi adanya kebijakan baru di awal tahun 2021 membuat banyak pengguna WhatsApp beralih ke Telegram. Aplikasi Telegram pun menjadi semakin populer, bahkan di awal Januari ini mencapai kenaikan angka pengguna aktif sebesar 500 juta.

Kamu sendiri sudah punya aplikasi Telegram belum?

telegram daripada whatsapp

Kenali 17 Tabel Emosi pada Skala Hawkins, Kamu Berada di Level Mana?

Tabel emosi pada Skala Hawkins? Apakah itu? Bagi sebagian orang, hal ini bukanlah sesuatu yang menarik, tetapi untuk saya yang suka dengan topik yang berhubungan dengan sains, otak, pikiran, dan emosi, selalu ada keinginan untuk lebih jauh lagi belajar tentang hal seperti ini.

Ceritanya, beberapa hari lalu saya menemukan artikel dan video dari seorang ulama kita, yaitu K.H. Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym yang menyampaikan pesannya saat masih dalam masa penyembuhan virus Corona yang memapar beliau.

Aa Gym menyebutkan, dari buku yang beliau baca, virus semacam Corona memiliki frekuensi 5,5 Hz. Agar tubuh kita tidak terpapar virus, atau tidak bertambah buruk kondisinya jika sudah telanjur kena virus, usahakan kondisi tubuh berada pada frekuensi lebih tinggi daripada frekuensi virus. Semakin tinggi getaran tubuh kita, semakin mudah tubuh melakukan penyembuhan alami terhadap suatu penyakit. 

Nah, buku yang beliau baca itu berjudul Power vs Force karya David R. Hawkins. Meskipun nama David R. Hawkins, M.D., Ph.D. sudah pernah saya dengar sebelumnya sebagai seorang ahli di bidang psikologi–lebih tepatnya lagi beliau adalah seorang psikiater, dokter, sekaligus peneliti dan dosen, tetapi saya belum pernah mencari referensi secara langsung terkait bukunya yang populer ini, Power vs Force: An Anatomy of Consciousness, The Hidden Determinants of Human Behavior. Ternyata, buku best seller ini merupakan hasil riset Hawkins selama 20 tahun tentang level atau tingkat kesadaran diri manusia yang berhubungan dengan emosi yang dihasikan.

Bingung enggak sih baca kalimat saya? Heheheee…. semoga enggak, ya. Ngomongin hal yang bersifat kejiwaan gini kadang harus pakai bahasa yang enak agar mudah dimengerti. Setuju, enggak? 😀

Apa Pentingnya Memahami Tingkatan Emosi Sendiri?

Menurut KBBI, emosi adalah keadaan dan reaksi psikologis (berhubungan dengan kejiwaan) dan fisiologis (berhubungan dengan organ, jaringan, atau sel makhluk hidup). Emosi juga dapat diartikan sebagai luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. 

Apa pentingnya mengetahui tingkat emosi dalam diri kita sendiri?

1. Sebagai fondasi agar diri sendiri tetap stabil menghadapi hal-hal tak terduga dalam hidup

Bukan berarti sebagai manusia kita enggak boleh sedih, lo, ya. Sedih dan terluka atau kecewa itu manusiawi, tetapi dengan memiliki kecerdasan emosi yang baik, sedih dan kecewanya itu ada batasannya, enggak perlu merembet ke mana-mana, apalagi sampai pada tahap kehilangan kemampuan mengontrol diri. Kita mampu memberi batas waktu, “Tiga bulan setelah ini, aku harus mulai tersenyum.” Atau, “Cukup 6 bulan pertama aja sedihnya. Setelah itu, move on!”

2. Memiliki lingkungan pergaulan yang sama frekuensinya

Teman-teman pasti pernah mendengar ungkapan “Berteman dengan penjual parfum, kita ikut tepercik wanginya. Bergaul dengan pandai besi, kita terkena percikan apinya”. Ini memang berlaku dalam pergaulan sesungguhnya. Bahkan Rasulullah saw. bersabda,

“Roh itu seperti pasukan yang berkelompok. Yang saling kenal akan menjadi akrab, adapun yang tidak saling mengenal akan berselisih.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Dengan menjaga diri agar selalu berada dalam kontrol emosi dan kesadaran yang baik, artinya kita sedang mengundang segala hal yang baik untuk mendekat kepada kita. Otomatis, seperti hadis tadi, semua yang tidak selevel akan terpisah dengan sendirinya. Inilah hukum alam yang sesungguhnya karena saya pun sering mengalaminya. Alhamdulillah, Allah begitu baik mempertemukan saya dengan orang-orang yang selalu menjadi wasilah (jalan kebaikan) agar saya selalu memperbaiki diri. *curhatttt 😀

Yuk, lanjut lagi!

Tabel Emosi pada Manusia Berdasarkan Skala Hawkins  

Ada 17 tingkatan alias tabel emosi yang ada pada Skala Hawkins, lengkap dengan nilainya masing-masing. Semakin besar nilainya, semakin tinggi pula tingkat kesadaran emosi yang dimiliki individu tersebut.

Oya, tabel emosi pada Skala Hawkins ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu force (getaran negatif) dan power (getaran positif).

Force => berada pada angka rendah, mulai 20 hingga 175.

Power => berada di level 200 sampai 1000.

Kamu enggak sabar dan pengen tahu apa aja sih 17 tabel emosi itu? Yuk, cekidot!

tabel emosi skala hawkins
Sumber gambar: Pinterest/Google.co.uk

Force (Skala 20 sampai 175)

  • Rasa Malu (nilai 1-20) =>  rendah diri, kurangnya penghargaan terhadap diri. 
  • Bersalah (nilai 30) =>  suka menyalahkan lingkungan, tidak bisa memaafkan diri sendiri.
  • Apatis (nilai 50) =>  putus asa, tak berdaya.
  • Kesedihan (nilai 75) =>  sering menyesali peristiwa yang terjadi, merasa kehilangan.
  • Takut (nilai 100) => selalu merasa cemas dan dihantui perasaan tidak tenang.
  • Keinginan (nilai 125) =>  memiliki hasrat berlebih dan terobsesi terlalu kuat. Dapat menimbulkan depresi jika mengalami kekecewaan.
  • Marah (nilai 150) =>  emosi ini bisa menimbulkan dendam dan kebencian.
  • Bangga (nilai 175) =>  sombong dan terlalu bangga dengan apa yang dimiliki.

Power (Skala 200 sampai 1000)

Pada skala nilai 200 ke atas ini, getaran negatif (force) mulai berangsur membaik ke tingkat yang positif (power). 

  • Berani (nilai 200) =>  memiliki kekuatan untuk melawan ketidakberdayaan.
  • Netral (nilai 250) =>  merasa rileks, santai, dan lebih percaya diri . 
  • Kemauan (nilai 310) =>  mulai muncul keinginan menjadi lebih baik dan berkomitmen.
  • Penerimaan (nilai 350) =>  menerima kondisi, bersyukur, dan menyadari kebahagiaan berasal dari diri sendiri. 
  • Memiliki Akal/Berpikir (nilai 400) =>  mampu berpikir rasional dan memahami kondisi.
  • Cinta (nilai 500) =>  punya rasa empati, kasih sayang, dan welas asih tanpa batas.
  • Suka Cita (nilai 540) =>  dimaknai dengan ketenangan yang luar biasa pada seorang individu. 
  • Kedamaian (nilai 600) =>  memiliki kebahagiaan yang luar biasa.
  • Pencerahan (700-1000) =>  tingkat emosi tertinggi yang hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul. Mereka yang berada pada level ini memiliki kemampuan untuk memengaruhi dan membantu individu di tingkat emosi lebih rendah agar dapat memperbaiki diri dengan kelebihan (mukjizat) yang mereka terima dari Zat tertinggi.

Teman-teman yang muslim sendiri dapat berkaca dari perilaku lemah lembut Rasulullah saw. yang dikisahkan dalam suatu riwayat, begitu sabar dan telaten menyuapi seorang Yahudi tua dan buta yang kerap kali menghina Rasulullah. Sifat welas asih ini dilakukan Rasulullah saw. hingga akhir kehidupan beliau dan si Yahudi buta baru menyadari bahwa orang yang ia benci ternyata selalu menyuapinya setiap pagi. Masya Allah.

Kisah ini menjadi pengingat bagi saya untuk selalu memperbaiki diri di tingkat energi power, meskipun kadang, energi force juga muncul sesekali mencari kesempatan dalam kesempitan. Sampai saat ini, saya masih berada di level penerimaan. Adakalanya pada saat tertentu turun ke level yang lebih rendah. Setidaknya, dengan mengetahui berada di tingkatan mana, kita dapat melakukan pengendalian diri agar tidak jatuh ke skala energi force.

Lalu, bagaimana caranya meningkatkan getaran positif di dalam tubuh kita?

Cara Meningkatkan Energi Positif dalam Diri

Apaaa? Pakai susuk dan pelet? Enggaklahhh yawww … 😀 Jauh-jauh deh dari hal begituan. Hikss …. Sama-sama berdoa saja ya agar Allah selalu rida dengan diri kita. Ridanya Allah adalah jalan bagi kita untuk mencapai ketenangan dan keberkahan di dalam hidup.

Berdasarkan pada pengalaman pribadi dan teori yang saya pelajari, ada beberapa tips yang saya lakukan agar kondisi emosi menjadi stabil dan pikiran lebih rileks sehingga energi positif dapat mengalir lebih banyak lagi.

1. Bagi muslim/muslimat seperti saya, bacalah Al-Qur’an dengan mengeluarkan suara agar getarannya menaikkan frekuensi ruangan di sekeliling kita. Hidup pada ruangan dan lingkungan yang energinya baik itu sangat penting karena berpengaruh pada hidup kita sehari-hari.

2. Menulis tangan di buku atau kertas secara rutin tentang hal-hal baik yang kita inginkan terjadi di dalam kehidupan. Buatlah daftar apa saja yang ingin diwujudkan dan tulislah secara berulang setiap hari agar masuk ke pikiran bawah sadar. Percayalah, pikiran kita akan bekerja mencari jalan untuk mewujudkan hal baik tersebut.

3. Mulai melakukan decluttering alias membereskan barang-barang di rumah yang sudah tidak terpakai lagi. Entah disumbangkan kepada yang membutuhkan, dibuang, atau dijual lagi, yang penting sediakan ruang baru agar sesuatu yang baru juga dapat masuk ke dalam rumah kita. Kalau soal ini jadi PR banget buat saya karena termasuk penyayang barang-barang lama, apalagi kalau ada nilai historisnya. *tepok jidat

Oya, decluttering ini bukan hanya untuk barang di rumah aja, ya, tetapi juga berlaku pada pikiran. Artinya, semua hal yang menumpuk di pikiran kita juga sebaiknya sedikit demi sedikit mulai dibersihkan dan dinetralkan. Pikirlah sesuatu yang perlu dan penting saja agar otak juga memiliki banyak kapasitas untuk menampung tugas berikutnya. 🙂

4. Olahraga juga dapat meningkatkan energi positif dan menghasilkan hormon endorfin. Tahu ‘kan hormon endorfin? Hormon ini adalah hormon bahagia yang mampu menghilangkan stres dan mengurangi rasa sakit. Males olahraga yang berat-berat? Samaaa … saya cuma jalan kaki aja, kok. Naik sepeda kadang-kadang , tapi kalau jalannya menanjak itu males banget, wkwkwk ….

5. Kalau mau, kamu bisa mulai belajar meditasi yang sederhana seperti yang saya lakukan 3 bulan terakhir ini. Enggak usah yang berat, cukup tafakur (berdiam diri) sejenak sekitar 10-15 menit sambil fokus kepada keluar-masuknya napas dari hidung. Boleh sambil istigfar, zikir, atau mengucapkan kalimat afirmasi positif di dalam hati. Meditasi ini manfaatnya sangat banyak untuk pengobatan berbagai macam penyakit dan menghasilkan hormon endorfin juga seperti aktivitas olahraga. Setelah berdiam diri sejenak, biasanya pikiran menjadi lebih rileks dan lebih tenang.

Itu dia beberapa hal yang saya lakukan untuk meningkatkan getaran positif di dalam tubuh sebagai imunitas alami agar selalu sehat, baik di masa pandemi maupun di waktu-waktu mendatang.

Mungkin pada awalnya terasa sulit, tetapi bukankah sesuatu yang baik memang butuh pembiasaan agar menjadi terbiasa?

Bagaimana dengan teman-teman? Setelah membaca tabel emosi pada Skala Hawkins di atas, berada di level manakah tingkat kesadaran emosimu? 

Baca Juga

tabel emosi skala hawkins