Stay at Home Membosankan untuk Anak? Kata Siapa?

Duhhh … maafkeun yaa, jangan kesel dong baca judul di atas, kwkwkwk …. Stay at home membosankan untuk anak? Kata siapa? *eeeaaaaa, kayak nantangin orang aja 🤭

Okeee … kalau dihitung-hitung, sudah sekitar empat bulan ini masa pandemi menghantui kehidupan kita. Dimulai sejak awal Maret 2020 lalu, hingga kini semuanya belum bisa dikatakan berjalan normal. Bolehlah pemerintah melakukan launching new normal, tapi faktanya, semua belum bisa dikatakan demikan.

Di Yogyakarta sendiri, pasien Corona terus bertambah menjadi 331 orang. Jumlahnya memang lumayan rendah dibanding kota dan provinsi lain di Indonesia, tapi hampir setiap hari selalu saja ada penambahan.

Tanggal 5 Juli 2020 saja, tercatat ada penambahan 5 kasus positif COVID-19 di provinsi ini dengan rata-rata riwayat pasien terinfeksi setelah melakukan perjalanan ke luar daerah, seperti dilansir portal berita Harian Jogja, 05/07/2020. Jadi wajar dong ya, kalau sampai detik ini saya belum merasa aman ke luar rumah untuk piknik dan jalan-jalan, apalagi sambil membawa anak untuk makan di luar. Duh, enggak dulu, deh!

Sekadar belanja ke toko dekat rumah, atau jalan pagi di sawah sekitar rumah masih oke, sih. Tapi itu pun biasanya saya lakukan sendiri, tanpa membawa anggota keluarga. Terlalu parno? Enggak juga sebenarnya. Cuma waspada aja …. 🙂

Keluhan pertama dari warga +62 sejak pandemi ini merebak mungkin sama, ya, yaitu bosan, boring, gabut, galau, stres, dan kata-kata sejenis yang memang enggak enak banget disebutin qiqiqiiii. Apalagi dengan adanya school from home, aduhhhh … kerjaan emak bertambah. Orang tua yang selama ini happy aja melepas anaknya sekolah sampai sore, termasuk saya, apalah daya, harus mendampingi anak belajar di rumah setiap hari.

Tapi bersyukurnya, anak saya nyaman aja melakukan pembelajaran dari rumah dan kewajiban stay at home ini. Kadang saya sempat khawatir juga dengan info di media sosial yang mengatakan banyak anak merasa stres dan tertekan dengan situasi ini. Saking khawatirnya, saya pernah bertanya kepada Lubna, apakah dia merasa enggak nyaman stay at home terus? Jawabannya, alhamdulillah, dia oke-oke aja. Kangen teman-teman iya, tapi kalau sampai stres alhamdulillah enggak.

Apa sih yang kami lakukan di rumah sehingga meminimalisir kebosanan anak melakukan aktivitasnya setiap hari? Lima aktivitas Lubna di rumah ini mungkin bisa membantu. Tentu saja, harus disesuaikan dengan minat dan bakat buah hati kita masing-masing, ya. 🙂

Menonton Televisi

Untuk sebagian orang, aktivitas ini mungkin tidak dianjurkan dilakukan. Tapi untuk Lubna yang saat ini mulai naik ke kelas 5, aktivitas ini menjadi salah satu kebutuhannya. Bukan salah dia, karena sejak kecil memang sudah terlanjur sering melihat kartun di televisi. Kalau mau menyalahkan, salahkan orang tuanya ya, hahahaaaa …. Apalagi dia anak yang sangat visual dan imajinatif banget. Tertarik dengan gambar, info dan aneka bentuk yang menarik. Jangan heran jika dia sangat tahu perkembangan berita terkini tentang pemerintahan, sampai kepada gosip artis. Bahkan lebih paham info-info ngehits daripada ibunya, kwkwkwk.

Menggambari Buku Tulis

Aneh? Iya, saya juga geleng-geleng kepala melihat fenomena ini. Semua buku tulisnya selama stay at home ini habis digambari, sampai-sampai ketika ada tugas dari sekolah secara online yang mengharuskan ditulis di buku, dia bingung harus menulis di mana karena buku tulis simpanannya ternyata habis semua. Duhhhh, Nakkk ….

Membaca Komik

Alhamdulillah, membaca menjadi salah satu hobinya, terutama sejak kelas 3 SD. Hal ini membuat saya mulai sering mengajaknya ke perpustakaan daerah Grhatama Pustaka untuk membaca buku-buku anak dan mengurangi aktivitas ke mal. Sejak pandemi, aktivitas ke perpustakaan ini belum bisa dilakukan lagi. Sebagai gantinya, kadang-kadang saya mengizinkannya membeli komik di toko online, atau sekali waktu browsing tentang anime di internet. Tentu saja, tetap dalam pengawasan karena Lubna adalah tipikal anak yang kepoan, heheeee ….

Menulis Blog

Nah, di masa pandemi, aktivitas Lubna menulis blog mengalami peningkatan. Bahkan ngalah-ngalahin ibunya, kwkwkwk …. Blog Lubnahasqi.blogspot.com ini dibuat satu tahun lalu, tapi jarang diisi. Setelah stay at home, hampir beberapa hari sekali blog itu selalu diisi Lubna. Enggak sampai di situ, dia mulai kepo bagaimana cara agar blognya bisa dimonetisasi oleh Google AdSense, tapi saya belum mengizinkannya qiqiqiiii. Pokoknya kalau nurutin Lubna, maunya jadi seleb aja deh, Dia seneng banget kalau ada yang baca atau komen di blognya. 😀

Menulis Buku Antologi

Buku pertama Lubna, My Mom ❤

Alhamdulillah, di akhir bulan Juni kemarin, terwujud juga keinginan Lubna menulis buku, meskipun masih berupa buku antologi bersama 13 anak lainnya. Awalnya, dia menolak ketika ibunya ini menawarkan untuk ikut menulis buku antologi berjudul My Mom. Jiwa idealismenya berontak. “Aku maunya nulis cerita komik, bukan buku biasa …” 😀 Lalu, saya nasihati bahwa semua itu pasti butuh proses, enggak bisa instan. Bikin buku satu dulu, deh, untuk batu loncatan. Setelah itu kalau mau coba bikin komik dan kirim ke penerbit mayor boleh aja. Akhirnya, setelah dimotivasi, taraaaa …. terbit juga buku pertamanya.

Setelah itu, saya pikir Lubna udah enggak mau bikin buku lagi, ehhh ternyataaaa saya salah. Dia ketagihan pengen bikin buku antologi yang ke-2, insya Allah di bulan Agustus …. 🙂 Bismillah, selama ada kesempatan ikuti aja jalannya ya, Nak!

Belajar Ilmu Dubbing (Mengisi Suara)

Ada satu keinginan Lubna yang sejak dulu sering diucapkan kepada saya. “Bu, aku pengennnn banget jadi pengisi suara kartun….” Saya sempat berpikir, kok sama ya dengan keinginan ibunya dulu? Saya pernah punya cita-cita pengen jadi dubber alias pengisi suara, tapi enggak tahu gimana cara mewujudkannya *hiksss. Zaman kuliah dulu yang saya ingat, saya pernah beberapa kali menjadi pengisi narasi (voice over) saat membuat video dokumenter bersama teman-teman untuk kepentingan mata kuliah di jurusan Komunikasi. Tapi setelah itu, enggak tahu bagaimana cara mengembangkannya. Terlebih setelah sadar bahwa suara saya ini cempreng dan enggak enak didengar 😅

Alhamdulillah, enggak nyangka, keinginan Lubna belajar menjadi seorang dubber ini Allah beri kemudahan juga. Insya Allah, pertengahan bulan Juli dia akan mengikuti pembelajaran dubbing untuk anak secara online di bawah bimbingan seorang mentor, yang sekaligus adalah seorang penyiar radio di Yogyakarta. Mohon doanya ya, Om, Tante dan kakak-kakak yang baca tulisan ini. Semoga semua proses pembelajarannya lancar-lancar aja. Aamiin.

Main Game dan Bikin Video

Jujur, sebenarnya saya termasuk tipe orang tua yang sangat membatasi penggunaan gadget untuk anak. Dibanding orang tua lain di sekolahnya, saya termasuk ketat soal ini karena sangat paham dengan pemikiran Lubna yang selalu ingin tahu dengan banyak hal di sekitarnya, termasuk di dunia maya. Kalau ada keluhan dari Lubna, “Kok aku enggak seperti teman-teman lain yang dibebaskan menggunakan gadget?” saya maklum sekali. Tapi saya percaya, setiap orang tua pasti tahu bagaimana karakter anak dan cara menghadapinya.

Saya mengizinkannya berinteraksi dengan dunia online, bikin aneka video, upload ke YouTube, dll, tapi tetap dalam pengawasan. Ketakutan saya sangat berdasar, apalagi kalau melihat video anak-anak zaman now di beberapa aplikasi hiburan yang kurang nyaman dan banyak menonjolkan konten dewasa yang tidak sopan untuk anak seusia Lubna. Kalau dilarang semua tentu tidak mungkin karena teman seusianya menggunakan aplikasi tersebut. Akhirnya saya mengizinkan, tapi dengan mengaktifkan kontrol orang tua yang disediakan. Apakah dia protes? Tentu saja…. 😀 Tapi selalu ada pilihan dari ibunya, ingin tetap memiliki akun tapi dengan pengontrolan orang tua, atau tidak memiliki akun sama sekali. Saya ibu yang berlebihan? Mungkin iya untuk ukuran ibu zaman now, ya. 🙂

Nah …. itu tadi 5 aktivitas yang biasa dilakukan Lubna selama stay at home di masa pandemi ini. Alhamdulillah, dia enggak pernah ribut ngajak jalan-jalan ke mal atau toko karena pengen belanja baju atau barang kesukaannya, misalnya. Dia sudah paham dan terbiasa dengan perilaku serba online, termasuk jika harus membeli buku atau barang, dia lebih suka buka-buka marketplace dan membandingkan harga yang tercantum di sana. Bisa tahu ‘kan mana harga terbaik yang lebih hemat, kwkwkw ….

Kayak gini nih hasil berburunya di marketplace 😄

Menurut saya, stay at home ini sebenarnya menjadi semacam ajang pengoptimalan kemampuan diri sesuai minat dan bakat masing-masing. Bukan cuma untuk anak, untuk kita yang dewasa pun masa pandemi ini bisa menjadi sesuatu yang positif, Banyak ibu-ibu hebat yang muncul potensi bisnisnya secara dadakan, seperti bisnis makanan, fesyen, dll. Intinya, semua ada di tangan kita ‘kan, ya? Mau menjadikan stay at home sebagai sesuatu yang bernilai, atau sebaliknya. 🙂

Baca Juga