Tak Perlu Menjadi Ibu yang Sempurna, Jadilah Ibu yang Bahagia

Sejak dulu sebelum menjadi seorang ibu, saya sering mendengar kalimat ini, “Ibu hamil dan menyusui harus hati-hati sekali menjaga pikiran. Kalau ibunya sedih dan gak tenang, bayinya juga pasti rewel dan gak bisa diam…”

Seiring berjalannya waktu, akhirnya saya sangat menyadari bahwa kalimat ini bukan hanya ditujukan untuk ibu hamil dan menyusui saja. Setiap wanita, khususnya yang telah memiliki buah hati, berapa pun usianya, seyogyanya memang harus menjaga pikiran dan hatinya agar dalam kondisi yang stabil dan bahagia.

Mudahkah? Ohh… tentu tidak, Ferguso!! Ini butuh perjuangan…. Apalagi metabolisme tubuh wanita juga dipengaruhi oleh berbagai hormon yang mau tak mau kerap membuat emosi menjadi labil dan bergejolak. Tapi di sinilah uniknya kaum kami. Saya percaya, Allah menciptakan wanita dengan segala keunikannya, pasti ada maksudnya πŸ™‚

Image: Pexels.com

Dikutip dari laman Republika.co.id, Departemen Psikologi Universitas Cambridge di Inggris pernah melakukan penelitian terkait hubungan yang terjadi antara otak seorang ibu dengan otak bayinya. Hasilnya, ditemukan pola yang bervariasi tergantung pada tingkat emosional ibunya. Dalam keadaan emosi yang positif, ternyata ditemukan adanya hubungan yang lebih kuat antara otak ibu dengan bayinya. Hubungan yang kuat ini sangat baik untuk perkembangan otak si bayi dan kecerdasan emosi selanjutnya.

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, perlu juga digarisbawahi bahwa ini bukan hanya berlangsung pada masa golden age alias usia keemasan anak di lima tahun pertama kehidupannya saja. Untuk masa seterusnya setelah usia 5 tahun, terutama di masa remaja, hubungan keselarasan antara orang tua (ibu) dan anak tetap harus dijaga. Permasalahan yang dihadapi tentunya akan lebih komplek pada usia remaja. Tetapi percayalah, ketika kita sudah memberikan dasar pendidikan karakter yang positif kepada anak sejak dini, insya Allah anak juga lebih mampu menangkal pengaruh negatif dari lingkungannya.

Hilangkan Impian Ingin Menjadi Ibu yang Sempurna

Dulu saya pun pernah memiliki keinginan seperti umumnya kaum ibu yang lain. Ingin menjadi sosok ibu yang sempurna dan memiliki buah hati yang juga sempurna dan berprestasi dalam segala hal. Hingga seiring berjalannya waktu, saya pun meyadari bahwa keinginan menjadi sosok yang sempurna justru membuat saya tidak dapat rileks dan menikmati peran sebagai seorang ibu.

Heiii… sadarlah, bu, kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun πŸ™‚ Seorang ibu juga manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan, punya segala keterbatasan dan tak selalu bisa tersenyum, tersenyum dan tersenyum setiap waktu. Jadilah manusia sewajarnya. Meskipun teori parenting sudah saya lahap di luar kepala, tapi saya bukan tipe ibu yang saklek dan harus selalu berpedoman pada teori. Jika saatnya saya harus marah kepada anak yang telah melakukan kesalahan, maka saya akan tetap marah kepadanya. Hanya saja, setelah anak menyadari kesalahannya, saya sebagai ibu akan minta maaf kepadanya dan memberi pengertian bahwa marahnya saya adalah bentuk nasihat serta rasa sayang untuk dirinya.

Munculkan Rasa Bahagia

Lepas dari keinginan menjadi ibu yang sempurna, lambat laun saya semakin mengerti bahwa menjadi waras dan bahagia adalah kunci agar seorang ibu dapat memancarkan energi positif kepada buah hatinya. Mulailah saya belajar tentang bagaimana memunculkan dan memelihara rasa bahagia. Ternyata rasa bahagia memang tak perlu dicari. Ia ada di dasar hati πŸ™‚ Tapi memang untuk sebagian orang, rasa bahagia itu mungkin ada yang masih tertimbun jauhhhh di dalam lubang gelap, sehingga untuk memunculkannya butuh waktu tak sebentar.

Yang paling mudah menurut saya adalah dengan bersyukur terlebih dahulu, apa pun keadaannya. Rasa syukur dapat membuka keikhlasan dan mencairkan kebekuan hati, untuk selanjutnya menemukan jalan keluar atas setiap permasalahan yang dihadapi.

Ibu Bahagia, Anak Pun Cerdas dan Bahagia

Sadar atau tidak, kamu harus tahu dan yakin bahwa ibu yang bahagia juga akan menularkan virus bahagia kepada keluarga dan putra-putrinya. Kecerdasan emosi anak berawal dari kecerdasan emosi orang tua, terutama ibunya. Stabilnya emosi anak juga dipengaruhi oleh stabilnya emosi ibu. Nah, stabilnya emosi ibu sangat dipengaruhi oleh stabilnya emosi bapak heheheeee…. πŸ˜€ *beneran mah ini, saya enggak bohong ^^ Makanya, hati-hati jadi suami, ya, pak! Baik-baik deh sama istri. Kalau istri bahagia, suasana rumah pasti jadi nyaman. Istri yang bahagia juga akan melahirkan generasi yang cerdas dan bahagia. Jadi rantai bahagianya insya Allah muterrrr terus, tidak terputus dan saling memengaruhi satu sama lain. Sebaliknya, kalau istri sedih dan tertekan, suasana rumah pasti jadi runyam. Akibatnya, buah hati pun bisa jadi kena sasaran πŸ™

Cuaca boleh panas, sungai boleh mengering, daun pohon boleh berguguran, tapi hati seorang ibu tak boleh gersang. Yuk, mulailah menjadi poros bahagia bagi orang-orang terdekat kita, terutama untuk buah hati tercinta. Mungkin kita bukanlah ibu yang sempurna, tapi pastikan kita adalah ibu yang bahagia. Karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita….

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.