Jogja Airport Resto, Uniknya Wisata Kuliner di Dalam Kabin Pesawat

Unik dan megah. Itu kesan pertama yang saya tangkap ketika menginjakkan kaki di halaman Jogja Airport Resto. Tempat makan unik seluas kurang lebih 2 hektare yang di tengahnya terdapat 2 badan pesawat asli ini tampak begitu mencolok di tengah area persawahan yang terletak di jalan Kadirojo I, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Letaknya pun cukup dekat dengan Candi Sambisari dan Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Jika kamu sedang berada di pusat kota Malioboro atau Tugu Yogya, perjalanan menuju Jogja Airport Resto ini dapat kamu tempuh dengan jarak kurang lebih 10 kilometer ke arah timur kota Yogyakarta, menuju Jl. Raya Yogya – Solo.

Interior Jogja Airport Resto

Begitu memasuki area parkir di halaman restoran ini, kamu akan langsung melihat badan pesawat asli yang dilukis dengan gambar berwarna-warni sehingga menarik mata pengunjung yang datang, terutama anak-anak. Ada 2 badan pesawat asli di halaman resto ini, yaitu di sebelah selatan dekat pintu masuk menuju parkiran dan di sebelah utara dekat Selokan Mataram.

By the way, Selokan Mataram adalah saluran berupa selokan yang berada di bagian utara Yogyakarta, memanjang dari arah barat ke timur.  Selokan ini dibangun pada masa penjajahan Jepang untuk membantu pengairan ratusan hektare sawah pada masa itu. Nah, Jogja Airport Resto ini terletak di pinggir selokan yang merupakan daerah strategis dan banyak dilalui oleh kendaraan bermotor.

Sebelum naik ke dalam restoran di kabin pesawat, layaknya penumpang di bandara yang sesungguhnya, kamu harus melalui pintu X-Ray terlebih dahulu dan melakukan pemesanan menu di meja Kasir yang dibuat sedemikian rupa seperti meja check in di bandara. Setelah melakukan pemesanan menu, pengunjung dapat langsung menaiki tangga yang telah disediakan untuk menuju lorong panjang (garbarata) yang seolah-olah menghubungkan gedung bandara dan kabin pesawat. Kamu boleh memilih ingin menaiki pesawat di sisi sebelah utara garbarata, atau pesawat satunya lagi yang terletak di sebelah selatan garbarata.

Pintu masuk menuju ruangan pemesanan menu. Mirip dengan pintu masuk bandara kan? Ada pintu pemeriksaan X-Ray segala (dok. pribadi)
Meja check in yang berfungsi sebagai meja pemesanan menu & meja kasir (dok. pribadi)
Lorong garbarata yang menghubungkan ruang pemesanan menu dengan kabin pesawat (dok. pribadi)

.

Seluruh area restoran ini jika diperhatikan tampak begitu sempurna dengan konsep lengkap seperti bandara yang sesungguhnya. Saat memasuki pintu pesawat, kamu akan disambut oleh staf pramugari dan dipersilakan masuk ke pesawat untuk memilih kursi yang kamu inginkan. Deretan kursi di sisi sebelah kiri dan kanan kabin tampak rapi dan mewah, dilengkapi dengan meja makan di tengah kursi yang saling berhadapan. Wow… angan-angan saya pun melayang, seperti sedang melakukan penerbangan beneran 😀

Berasa ada di pesawat jet pribadi ya heheee…. (dok. pribadi)

.

Selamat datang di kabin pesawat pribadi 🙂 (dok. pribadi)

Menu Makanan

Ini nih yang ditunggu-tunggu 😀 Apa saja menu makanan yang ada di resto ini?

Ternyata menunya cukup lengkap, lo, Guys, mulai dari menu lokal semacam tahu/tempe bacem, urap, sambal goreng,  sampai menu western berupa aneka pasta, kentang goreng, steak, dan sejenisnya. Agar lebih hemat, kamu dapat memesan makanan berupa paket untuk 4 orang terlebih dahulu seharga Rp 170.000,00 (sudah termasuk nasi, lauk, sayur, minuman) dan dapat dilanjutkan dengan menu ala carte (menu satuan) sesuai pilihan masing-masing. Harga makanan dan minuman ala carte dibandrol mulai harga Rp 20.000,00 ke atas dengan berbagai pilihan sajian, seperti Chicken Crispy Steak, Sup Gurameh, Sup Tomyam, dll. Untuk masalah cita rasa, tak perlu khawatir, karena makanan di sini rasanya endessss semua….

Paket makanan untuk 4 orang, sudah termasuk minuman. Kamu tinggal tambah pesanan satuan klo yang ini masih dirasa kurang (dok. pribadi)

.

Endessss….. (dok. pribadi)

Oya… pada saat makan pun kamu akan merasakan suasana seperti sedang naik pesawat beneran. Beberapa pelayan yang menggunakan seragam pramugari/pramugara sekali waktu akan berjalan di sepanjang koridor kabin pesawat. Efek audio berupa suara mesin pesawat tak lupa juga diperdengarkan agar pengunjung restoran merasa sedang terbang di antara awan dan bintang-bintang 😀 Pada saat tertentu, tak lupa dimunculkan pula suara mbak pramugari melalui speakerphone bahwa pesawat akan segera mendarat dan penumpang diminta mengenakan sabuk pengaman 🙂

Untuk kamu yang belum pernah naik pesawat, terutama anak-anak, tempat makan ini recommended sekali sebagai sarana latihan agar akrab dengan semua peralatan yang ada di kabin pesawat. Kamu dapat belajar menggunakan sabuk pengaman, mengecilkan/mematikan AC di atas kepala, mengetahui letak pintu darurat saat pesawat sedang bermasalah, dan belajar mengetahui bagian-bagian pesawat lainnya.

Pintu darurat. Anak-anak bisa belajar banyak hal di restoran ini (dok. pribadi)

Setelah selesai menyantap hidangan di kabin, pengunjung dipersilakan turun dari pintu bagian depan pesawat yang langsung terhubung dengan halaman dan taman di area Jogja Airport Resto ini. Jangan lupa ya, saat menuruni tangga, kamu dapat berswafoto sejenak di tangga turun pesawat sambil membayangkan pesawat itu adalah pesawat pribadimu. Hemmm…. sungguh pengalaman wisata kuliner yang unik dan menyenangkan.

Tangga turun pesawat (dok. pribadi)

Jadi, Kapan Kamu ke Jogja, Guys?

Jogja Airport Resto hanya salah satu bagian kecil dari banyaknya objek wisata yang dimilki kota Yogyakarta. Ragam keramahan dan kecantikan budayanya, masyarakatnya, kulinernya, wisata belanjanya, dan liburan murah meriahnya merupakan satu paket istimewa yang tak dapat dipisahkan dari kota ini. Sebagai destinasi tujuan wisata utama selain Bali, Yogyakarta terus berbenah diri dengan semakin banyaknya masyarakat pendatang dari luar kota. Baik dengan tujuan sekadar berwisata, atau tujuan mulia untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, semuanya ada di kota ini.

Untuk kamu yang menginginkan akses mudah dan murah pemesanan tiket pesawat ke Yogyakarta, Pegipegi adalah tempatnya. Sejak 7 Mei 2012, Pegipegi berkomitmen menjadi sahabat yang menyenangkan bagi para traveler. Dengan koneksi lebih dari 25.000 rute penerbangan, hotel, serta lebih dari 2800 jadwal perjalanan kereta api, kamu dapat mengaksesnya dengan mudah lewat web Pegipegi.com, atau langsung dari aplikasi yang tersedia di smartphone.

Caranya simpel banget. Kamu tinggal klik link tiket pesawat ke Yogyakarta ini, lalu pilih kota asal dan kota tujuan keberangkatan. Masukkan tanggal keberangkatan (dan tanggal pulang sekaligus apabila kamu berniat memesan tiket PP). Terakhir, masukkan jumlah penumpang, lalu klik tulisan “Cari Tiket”. Daftar rute penerbangan, jam keberangkatan dan harga tiket akan muncul untuk kamu sesuaikan dengan jam keberangkatan dan budget yang dimiliki. Sangat mudah, bukan?

Masih bingung dan belum yakin memilih tanggal keberangkatan? Tak perlu khawatir, karena Pegipegi menyediakan layanan Customer Service 24 jam yang dapat membantu mengatasi kesulitanmu. Tunggu apalagi? Kuyyy lah main dan liburan ke Jogja, Guys!

Candi Sambisari, Cagar Budaya Indonesia di Tengah Ramahnya Kearifan Lokal Yogyakarta

Sejak kecil dahulu sebelum tinggal dan menetap di Yogyakarta, saya hanya mengenal 2 atau 3 nama candi yang ada di Indonesia, khususnya di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Candi Mendut adalah sedikit nama candi yang sempat saya hapal dan menetap di kepala hingga usia dewasa.

Siapa sangka, ketika akhirnya ditakdirkan menetap di Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, ternyata kota kecamatan Kalasan ini identik sebagai wilayah yang memiliki banyak sekali cagar budaya Indonesia berupa bangunan candi. Di beberapa dusun kecil yang tersebar di 4 kelurahan (Purwomartani, Selomartani, Tirtomartani, dan Tamanmartani) ditemukan beberapa candi yang namanya mengikuti dusun tempat situs bersejarah tersebut ditemukan. Salah satu di antaranya adalah Candi Sambisari yang berada di tengah perkampungan penduduk di Dusun Sambisari, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, atau sekitar 12 kilometer ke arah timur dari pusat kota Yogyakarta.

Candi Sambisari ini setiap hari selalu saya lewati saat sedang mengantar atau menjemput anak, karena lokasi sekolah anak yang tidak terlalu jauh dari lokasi adanya candi. Uniknya, tidak seperti candi lain pada umumnya, candi ini berada di tengah-tengah perkampungan penduduk yang juga berbaur dengan lingkungan perumahan dan masih ada beberapa petak sawah tersisa di lingkungan candi, sehingga kesan pedesaan masih cukup terasa.

Berada di Bawah Tanah

Selain karena letaknya yang berada di tengah perkampungan penduduk, Candi Sambisari menjadi spesial karena posisi bangunannya yang berada lebih rendah daripada tanah yang kita pijak. Untuk mencapai lokasi candi, pengunjung harus menuruni beberapa anak tangga yang cukup curam terlebih dahulu dan sebaliknya, menaiki anak tangga itu kembali ketika telah selesai berkunjung.

Candi Sambisari terletak sekitar 6,5 meter di bawah permukaan tanah (dok. pribadi)

Berdasarkan sejarahnya, candi Hindu ini dulunya dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dengan rajanya yang bernama Rakai Garung di abad ke-9. Letusan dahsyat gunung Merapi pada tahun 1006 kemudian mengakibatkan tertimbunnya candi ini oleh lahar abu vulkanik beserta beberapa prasasti dan peninggalan lainnya sedalam 6,5 meter di bawah permukaan tanah (Sumber: TribunJogja.com 13/7/2017).

Seorang petani bernama Karyowinangun kemudian secara tak sengaja menemukan candi ini pada bulan Juli tahun 1966 saat sedang mencangkul tanah. Selama kurang lebih 20 tahun sejak ditemukannya candi ini, beberapa arkeolog terus mengadakan penelitian dan penggalian hingga proses pemugaran selesai di tahun 1986.

Dikelilingi oleh Taman yang Asri dan Fasilitas Memadai

Taman yang asri dan terawat di lingkungan candi (dok. pribadi)

Meskipun berada di tengah perkampungan penduduk, pengunjung tak perlu khawatir lokasinya sempit atau kurang nyaman. Pihak pengelola telah membuat taman mungil yang asri di sekitar candi dan memberi pengaman pagar kawat di sekelilingnya untuk menjaga kenyamanan pengunjung. Kamu dapat bebas berjalan-jalan menghirup udara segar, mengambil foto, atau sekadar duduk-duduk saja di gazebo yang disediakan di halaman candi. Jika azan berkumandang, tak perlu pula khawatir, karena di area taman terdapat fasilitas toilet dan musala kecil yang bersih untuk pengunjung melakukan ibadah salat wajib.

Papan petunjuk lengkap bagi pengunjung (dok. pribadi)

Di komplek candi juga terdapat Ruang Informasi yang berfungsi layaknya museum mini. Di ruangan ini terdapat banyak informasi seputar candi dan beberapa foto zaman dahulu saat bangunan candi ini ditemukan. Sayangnya karena hari sudah menginjak sore dan menjelang senja, ruangan ini belum sempat saya kunjungi.

Deskripsi Candi Sambisari

Keindahan Candi Sambisari di sore hari (dok. pribadi)

Area di sekeliling bangunan candi dibagi menjadi 4 penjuru oleh pihak pengelola, yaitu sisi utara, sisi selatan, sisi timur dan sisi barat, di mana pada masing-masing sisi dilengkapi anak tangga curam yang akan mengantarkan kita ke bawah menuju bangunan utama candi.

Candi Sambisari sendiri terdiri dari 1 bangunan induk dan 3 candi pendamping yang dibangun tanpa memiliki atap. Setelah menaiki tangga candi induk, kamu akan menemukan pahatan arca pada 3 bagian sisinya, yaitu arca Dewi Durga Mahisasuramardini di sisi utara, arca Ganesha di sisi timur, dan arca Agastya di sisi bagian selatan. Rasanya tidak terlalu banyak pahatan arca yang dapat kamu temukan di candi ini jika dibandingkan dengan candi-candi lainnya. Tapi yang sungguh membuat berkesan adalah suasana sekitar candi yang nyaman dan dikelilingi oleh banyak tumbuhan dan pepohonan.

Arca Dewi Durga Mahisasuramardini di sisi utara candi (dok. pribadi)

Oya, jika ingin mendapatkan hasil foto yang cantik, ada baiknya kamu berkunjung ke Candi Sambisari pada musim penghujan di mana rumput mulai tumbuh hijau dan lebat. Jika kamu berkunjung pada awal musim hujan dan akhir musim kemarau seperti saat ini, rumput di area candi belum tumbuh lebat dan masih tampak kering berwarna kekuningan, tidak begitu tampak saat difoto.

Kearifan Lokal di Sekitar Candi yang Mendukung Pelestarian Cagar Budaya Ini

Candi Sambisari nan asri ini dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Untuk masuk ke lokasi ini, kamu harus membayar tiket masuk yang harganya sangat terjangkau, yaitu Rp 5.000,00 untuk wisatawan lokal dan Rp 10.000,00 untuk wisatawan asing.

Indahnya senja di Candi Sambisari…. (dok. pribadi)

Jika kamu adalah penduduk lokal sekitar Kecamatan Kalasan seperti saya, petugas akan mengizinkanmu masuk secara gratis alias cuma-cuma tanpa harus membayar tiketnya. Benarlah apa yang dikatakan oleh Lubna, gadis kecil saya. Lubna bercerita bahwa ada saat tertentu di mana sekolah dasar tempatnya belajar yang lokasinya hanya sekitar 1 kilometer dari Candi Sambisari kerap mengajak murid-muridnya ke candi ini untuk melakukan prosesi pengenalan alam sekitar, sekaligus mengenalkan sejarah cagar budaya ini kepada mereka. Tujuannya tentu saja agar generasi penerus dapat menghargai sekaligus menjaga warisan budaya hasil peradaban nenek moyangnya.

Beruntung sekali area di sekeliling Candi Sambisari sangat terawat dan diperhatikan. Di beberapa bagian candi saya temukan adanya himbauan untuk menjaga kelangsungan cagar budaya, seperti larangan memanjat pagar candi dan larangan memotret dengan menggunakan drone.

Papan larangan memanjat tembok candi (dok. pribadi)
Larangan menggunakan drone untuk mengambil foto (dok. pribadi)

Keberadaan Candi Sambisari dan pesonanya bukan hanya mendatangkan pemasukan devisa bagi negara kita saja. Penduduk di sekitar candi juga mendapatkan peluang untuk memperbaiki kehidupan ekonomi mereka dengan membuka berbagai usaha di sekitar wilayah taman Candi Sambisari, mulai dari usaha kuliner, jasa parkir, maupun jasa homestay, laundry, dan usaha menguntungkan lainnya.

Masyarakat di sekitar Candi Sambisari memiliki peluang untuk meningkatkan perekonomian mereka dengan membuka aneka usaha (dok. pribadi)

Candi Sambisari ini juga sering digunakan sebagai tempat melakukan kegiatan rutin oleh penduduk sekitar, seperti misalnya, aktivitas olahraga senam masal setiap hari Minggu pagi di taman candi dan dilanjutkan adanya pasar tiban serta bazar makanan di hari yang sama.

Rasanya nilai-nilai kearifan lokal seperti ini patut dibudayakan dan dilestarikan. Melalui cara sedeerhana namun mengena ini diharapkan muncul rasa memiliki dari penduduk sekitar untuk turut serta menjaga dan bertanggung jawab terhadap keberadaan cagar budaya Candi Sambisari ini. Mereka dapat saling bersinergi dan merasa sama-sama membutuhkan.

Masyarakat membutuhkan objek wisata cagar budaya untuk membantu peningkatan perekonomian, sementara pihak pengelola cagar budaya juga merasa terbantu dengan adanya kesadaran masyarakat sekitar untuk turut melestarikan dan merawat peninggalan sejarah nenek moyang kita.

Nah, ternyata bukan hanya masyarakat di Dusun Sambisari yang dapat berkontribusi pada pelestarian dan perawatan cagar budaya Indonesia. Kamu juga bisa, lo, berkontribusi dalam pelestarian peninggalan sejarah banga kita. Salah satunya dengan mengikuti Kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah  ini. Yuk, baca ketentuannya dan segera berikan kontribusi terbaikmu, ya!

Benarkah Investasi Apartemen Menguntungkan?

Salah satu ruangan di dalam apartemen (image: Pixabay.com)

Bukan rahasia lagi jika kebutuhan akan hunian semakin lama semakin meningkat, terutama di kota-kota besar. Masyarakat tidak lagi hanya sekadar memikirkan kesenangan sejenak, seperti makan enak dan jalan-jalan saja, tetapi sudah waktunya memikirkan perlunya memiliki hunian yang nyaman sebagai tempat berpulang, setelah seharian bekerja keras.

Hunian vertikal dengan bentuk bangunan yang naik ke atas dan tidak banyak menghabiskan lahan, seperti bentuk apartemen, tampaknya dapat menjadi pilihan, terutama untuk kamu yang tinggal dan bekerja di wilayah perkotaan. Banyaknya fasilitas umum yang terdapat di sekitar hunian vertikal ini merupakan daya tarik dan nilai tersendiri untuk calon pembeli apartemen dalam menjatuhkan pilihannya.

Di Jakarta Pusat, misalnya. Sebagai wilayah yang memiliki banyak pusat perkantoran, masyarakat cenderung memilih untuk membeli hunian kedua sebagai tempat transit agar mereka lebih dekat dengan lokasi pekerjaan dan juga fasilitas hiburan, seperti pusat perbelanjaan, olahraga, dan sarana rekreasi lainnya. Pasangan muda dan generasi milenial menjadi sasaran utama para pengembang untuk menjual apartemen di Jakarta Pusat, mulai kisaran harga ratusan juta, hingga apartemen mewah bernilai miliaran rupiah.

Demikian pula di wilayah Jakarta Selatan. Tanpa mengesampingkan nilai sektor properti lain, seperti rumah, tanah, dan sejenisnya, membeli apartemen dapat menjadi passive income bagi pemiliknya karena harga jualnya yang terus naik dari waktu ke waktu. Selain harga jual, menyewakan apartemen untuk jangka pendek harian atau bulanan juga dapat menjadi pilihan bagi para pemilik apartemen. Pihak pengembang yang menjual apartemen di Jakarta Selatan optimis permintaan akan apartemen terus meningkat karena adanya harga yang bervariasi dan bantuan pembiayaan secara kredit dari perbankan ataupun pengembang (Kompas.com, 13/4/2017).

Namun sebelum memutuskan membeli apartemen, ada beberapa hal yang sebaiknya kamu perhatikan, antara lain:

1. Lokasi

Pemilihan lokasi yang strategis cukup penting saat kamu memutuskan membeli apartemen. Ini dapat berpengaruh pada kenaikan harga di masa depan. Akses transportasi, akses fasilitas umum dan kemudahan menuju area apartemen adalah salah satu hal yang harus kamu perhatikan.

2. Lahan

Pastikan apartemen yang kamu beli memang berada di lahan milik pengembang, bukan lahan milik pemerintah atau pihak lainnya. Jangan sampai investasi berharga yang sudah kamu beli ini ternyata bermasalah dan masih menjadi sengketa oleh pihak ketiga.

3. Fasilitas Apartemen

Jangan lupa, perhatikan pula fasilitas yang ada di apartemen sebelum kamu memutuskan membelinya. Mulai akses keamanan, fasilitas olahraga, rekreasi, dan keuntungan lain yang dapat diperoleh pemilik apartemen. Semakin banyak fasilitas yang disediakan, semakin strategis lokasinya, maka semakin tinggi pula harga jual kepemilikan apartemen tersebut.

Bagaimana, kamu tertarik memilih apartemen sebagai salah satu bentuk investasi masa depan? Jika ya, jangan tunda lagi dan jangan lupa kenali terlebih dahulu 3 hal yang sebaiknya kamu perhatikan di atas sebelum memutuskan membeli salah satu apartemen yang memikat hatimu.

Baca Juga

Perjalanan Inspiratif ke Lombok bersama BTPN Syariah

Suasana pantai Senggigi dari halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Memori masa kecil tentang Lombok tak akan pernah hilang dari ingatan. Pulau ini adalah tanah kelahiran yang banyak merekam jejak historis masa kecil dan pra remaja seorang Hastin Pratiwi. Meski darah yang mengalir di tubuh saya adalah darah asli Ngayogyokarto Hadiningrat, tapi jangan heran jika beberapa bagian diri, termasuk indera pengecap dan aksen bicara masih sering bercampur baur dengan segala sesuatu yang berbau suku Sasak di Lombok 🙂 Makanan masih suka yang asin dan pedas, logat bicara pun sama sekali tak mencerminkan layaknya seorang putri Kraton yang lemah lembut dan gemulai 😀

By the way, pulau Lombok ini terakhir saya kunjungi sekitar 3 tahun yang lalu, pada pertengahan tahun 2016, saat gempa dahsyat belum sempat mengguncang. Maka ketika 4 hari yang lalu saya mendapat tugas mendadak dari BTPN Syariah untuk berkunjung ke pulau ini, speechless sekali rasanya. Ini seperti impian dan passion yang terwujud, bisa ke Lombok lagi untuk sesuatu yang inspiratif, setelah adanya musibah gempa tahun 2018 lalu. Terus, bagaimana kisah seru (atau syahdu?) perjalanan berharga yang hanya satu hari ini? Yukk… baca terus, deh… Insya Allah kamu enggak bakalan bosan, apalagi bete, karena banyak pembelajaran yang akan kita dapatkan.

Ada Apa dengan BTPN Syariah dan Gempa Lombok 2018?

Mungkin belum banyak teman-teman yang tahu tentang visi dan misi PT. Bank Tabungan Pensiunan Negara Syariah, Tbk alias BTPN Syariah. Saya pun awalnya mengira bank ini sama saja dengan bank lainnya, terutama dalam hal pembiayaan bagi nasabahnya. Tapi ternyata tidak demikian. Perjalanan inspiratif ini membuat saya tersadar, “Oooohh…. ada juga ya bank yang seperti ini…

Jadi, BTPN Syariah ini sejak tahun 2010 ternyata menjadi satu-satunya bank di Indonesia yang fokus menggalang dana dari keluarga sejahtera untuk disalurkan kepada keluarga prasejahtera produktif, khususnya dengan tujuan pemberdayaan kaum perempuan.

Kenapa harus perempuan yang diberdayakan oleh BTPN Syariah? Iyappp… karena perempuan dianggap sebagai individu yang sangat berpengaruh dalam sebuah keluarga, terutama dalam hal pendidikan anak dan pengelolaan keuangan keluarga.

Nah, pentingnya pendidikan anak melalui pembangunan sekolah yang berbasis pendidikan akhlak dan karakter inilah yang dibidik oleh BTPN Syariah agar angka probabilitas kesejahteraan keluarga juga ikut meningkat. Salah satu perwujudannya adalah dengan melakukan renovasi gedung sekolah TK dan SD Aisyiah yang terletak di kota kecamatan Ampenan dan mengalami kerusakan parah akibat musibah gempa tahun lalu. Masya Allah, flashback banget jadinya, karena kota pelabuhan tua ini adalah kota kelahiran saya.

Menurut Kepala Sekolah SD Aisyiah 2 ibu Sri Rahmatiah, gedung SD Aisyiah ini sebelumnya kondisinya sangat memprihatinkan karena tak terjamah bantuan dari luar. Atapnya hanya ditutupi jerami dan sekat dindingnya hanya menggunakan triplek. Terkadang, bahkan ada ayam yang masuk ke dalam ruangan kelas untuk ikut “belajar” *hiksss…

Pihak BTPN Syariah kemudian memilih sekolah ini dari beberapa sekolah lainnya untuk dilakukan renovasi dan pembangunan aula baru dari hasil pengumpulan dana bantuan gempa para #BankirPemberdaya, yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 12 November 2019 ini.

Gedung sekolah baru SD Aisyiah 2 Ampenan, Kota Mataram

 

Gedung aula baru hasil donasi gempa karyawan BTPN Syariah

 

Ruang kelas baru di SD Aisyiah 2

Diungkapkan oleh Ainul Yaqin selaku Communication Head BTPN Syariah, untuk ke depannya BTPN Syariah akan terus mengembangkan visinya. Bukan hanya sekadar melakukan pembangunan infrastruktur saja, tetapi terdapat tujuan lain yang berkelanjutan dari renovasi gedung sekolah dan pembangunan aula ini. Bukan hanya para siswa yang bertumbuh, tapi juga guru serta masyarakat sekitarnya juga harus dapat berkembang. Salah satu caranya adalah memanfaatkan aula sekolah untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti penyuluhan kesehatan, tips pola hidup yang baik, pengasuhan anak, dan lain sebagainya. Intinya, ada niat baik yang ingin diwujudkan bagi kebaikan sesama.

Kunjungan ke Tempat Nasabah Inspiratif

Kunjungan saya ke pulau pedas ini memang cuma satu hari saja, tapi Alhamdulillah, banyak sekali ilmu dan pengalaman baru yang saya dapatkan. 

Hari Kamis tanggal 7 November saya berangkat dari Yogyakarta dengan pesawat jam 06.00 pagi. Transit dahulu di Surabaya selama 2 jam, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke  Bandara Internasional Lombok yang waktu tempuhnya sekitar 1 jam dari Surabaya. Sekitar jam 12.00 siang pesawat landing di Bandara Lombok dan saya sudah dijemput oleh driver dari tim BTPN Syariah.  Kemudian kami langsung menuju lokasi sekolah bantuan gempa di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Sampai di sekolah tersebut saya bertemu dengan banyak teman-teman media lainnya, baik dari wilayah NTB maupun dari Jakarta. Sebagian besar mereka adalah wartawan khusus bidang Ekonomi yang ditugaskan mewakili medianya masing-masing.

Usai acara liputan di TK dan SD Aisyiah Ampenan, kami makan siang sejenak di sebuah resto dengan arsitektur rumah Belanda kuno. Namanya “Roemah Langko“. Ini kali kedua saya mengunjungi resto ini, karena 3 tahun yang lalu juga pernah datang ke sini. Jadi tugas ke Lombok ini benar-benar seperti flashback 3 tahun yang lalu… 🙂

Selesai acara makan siang, perjalanan liputan dilanjutkan ke Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Ada seorang nasabah BTPN Syariah yang sangat inspiratif di kecamatan ini, namanya ibu Rehani. Beliau adalah seorang pengepul rajungan yang berhasil menjadi perempuan pemberdaya di desanya.

Ibu Rehani, perempuan pengepul rajungan di Kec. Lembar, Lombok Barat

Berawal dari modal pinjaman ke BTPN Syariah sebesar Rp 3 juta saja, ibu Rehani yang telah ditinggal wafat suaminya dan hidup bersama 2 orang anaknya, dalam waktu 4 tahun terakhir berhasil memfasilitasi para nelayan di daerahnya dengan membelikan alat bubu (jaring) agar para nelayan dapat menangkap rajungan dan menyetorkan hasilnya kepada ibu Rehani. Bukan itu saja. Ibu Rehani juga berhasil memberdayakan para istri nelayan untuk bekerja membantu pengolahan daging rajungan di rumahnya.

Rajungan yang sudah dimasak dan diletakkan di dalam es agar tetap segar. Penyimpanan menggunakan es lebih awet daripada cooler.

 

Rajungan yang sudah diambil dagingnya

Setiap hari ia membeli 1 kuintal rajungan dan melakukan pengiriman rajungan ke beberapa pemasok besar di Surabaya, untuk kemudian diekspor ke luar negeri. Siapa sangka, dengan wajah dan tutur kata beliau yang polos dan penuturan bahasa Indonesia yang agak tercampur dengan bahasa Sasak, beliau sudah sering berhubungan bisnis dengan para pemasok dan distributor besar. Dalam 1 bulan ibu Rehani biasa melakukan 6x pengiriman, di mana setiap 1x pengiriman rajungan keuntungannya sekitar Rp 3juta. Jadi silakan hitung saja sendiri ya, berapa omsetnya dalam 1 bulan. Luarrrr byasakkk, bukan? Lucunya, ibu Rehani ini aslinya buta huruf dan tidak dapat membaca, lo. Beliau justru menjadi paham tulis-menulis setelah menekuni bisnis rajungan ini. 

Bertemu dengan Community Officer Inspiratif

Waktu menunjukkan hampir pukul 17.00 WITA saat kami ke luar dari rumah ibu Rehani. Rencananya perjalanan akan langsung dilanjutkan menuju “Menega“, sebuah tempat makan di pinggir pantai untuk menyaksikan indahnya view matahari terbenam di area pantai Senggigi. Ada 2 mobil yang terpisah saat itu. Saya bersama mas Sofyan (seorang teman wartawan dari Bima) dan bapak Ainul Yaqin, (Communication Head BTPN Syariah) di mobil yang lebih kecil. Sementara rombongan wartawan lain berada di mobil yang lebih besar. Mobil yang lebih kecil memutuskan check in ke hotel terlebih dahulu, sementara mobil satunya langsung menuju ke Menega. 

Halaman belakang Sheraton Senggigi Beach Resort

Syukurlah, kesempatan singgah di hotel ini saya gunakan untuk memercikkan air ke badan dulu sejenak, berhubung badan sudah terasa lengket karena sejak berangkat dari Yogyakarta jam 4 pagi tadi belum bersih-bersih lagi. Kami semua diberi kehormatan oleh BTPN Syariah menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort, salah satu hotel berbentuk resort bintang 5 di kawasan Senggigi, Lombok Barat. Sebenarnya begitu masuk kamar dan melihat tempat tidur putih bersih rasanya sih pengen langsung ndlosoran kwkwkwk….. tapi apa daya acara berikutnya sudah menunggu. Saya hanya sempat mengambil dokumentasi video senja hari di halaman belakang hotel sejenak, kemudian mandi. Setelah itu berusaha menyemangati mata yang mulai berat… “Ayoooo…. kalau cuma mau tidur ngapain jauh-jauh ke Lombok?” heheheee….

Jam 19.30 WITA kami menuju Menega dan bertemu dengan teman-teman lain yang sudah menunggu di sana. Satu meja panjang di tepi pantai sudah digelar. Ada sekitar 10-12 orang saat itu. Di sekelilingnya banyak pedagang suvenir menggelar dagangan mereka, dari mulai aksesoris khas mutiara, kaos, kain, dan barang-barang tradisional lainnya.  Harganya pun ternyata lebih murah, lo, dibandingkan membeli di pusat kerajinannya langsung.  Sayangnya, saya lupa untuk mengabadikan momen indah di Menega ini. Entahlah apa yang merasukiku sehingga melupakanmu… *tsahhh

Nah, di Menega ini, kami diberikan kesempatan bertemu dengan seorang Community Officer (C.O) BTPN Syariah. CO ini bahasa bisnisnya kalau di dunia pemasaran adalah seorang Account Officer (marketer) yang merupakan lini terdepan bank untuk bertemu dengan para nasabah.  Uniknya, tim CO BTPN Syariah ini dinamakan Melati Putih Bangsa. Mereka adalah para lulusan SMA/SMK yang dididik untuk dapat memotivasi dan memberikan ilmu kepada nasabah prasejahtera, baik tentang kesehatan, manajemen keuangan, kedisipinan, dll.

Di sinilah letak perbedaan antara #BankirPemberdaya BTPN Syariah dengan bankir dari institusi perbankan yang lain. #BankirPemberdaya BTPNS diharapkan dapat menjadi teladan bagi para nasabah prasejahtera mereka dalam hal kedisiplinan, motivasi, percaya diri, dan berbagai hal positif lainnya. Bukan hanya saya yang salut dengan cara kerja bisnis pembiayaan dari BTPN Syariah ini, teman-teman wartawan lain pun merasa kagum dan baru kali ini menemui hal seperti ini. 

Tim CO inspiratif yang bertemu dengan kami malam itu adalah seorang gadis manis bernama Nining (Ni Wayan Suryaningsih). Gadis asli Bali yang telah 4 tahun menjadi CO ini menjelaskan perjuangannya menjalani profesi yang dicintainya. Meskipun bukan seorang muslimah, tidak menjadi penghalang baginya untuk bekerja di bank yang menggunakan sistem syariah. Bahkan ada beberapa nasabahnya yang juga bukan seorang muslim. Dan mereka juga tidak masalah dengan adanya sistem syariah yang digunakan oleh BTPNS.

Dari mbak Nining ini saya belajar banyak tentang BTPN Syariah. Betapa bank ini sangat memerhatikan karyawannya, mulai dari lini terbawah sekalipun. Para CO yang seluruhnya perempuan ini disediakan wisma khusus di daerah yang dekat dengan lokasi nasabah prasejahtera mereka. Kendaraan pun khusus kendaraan manual, tidak boleh menggunakan kendaraan matic, karena medan yang dihadapi cukup berat, harus masuk ke berbagai pelosok desa.

Community Officer bertemu dengan nasabah prasejahtera (Foto: BTPNSyariah.com)

Ketika ditanya, apa yang membuat para nasabah prasejahtera tertarik menabung dan melakukan pinjaman di BTPN Syariah? Dijawab oleh mbak Nining, karena para CO fokus kepada pelayanan terbaik bagi nasabah prasejahteranya. Bukan hanya menarik uang sja, tetapi lebih dari itu, para nasabah juga diberikan tips khusus, seperti tips cara mengatur keuangan, tips kesehatan, bahkan ada yang meminta diberitahu tips tentang rambut beruban 🙂 Intinya, para CO ini seperti tempat curhat dan menjadi seorang guru/leader bagi para nasabahnya.

Nining juga bercerita, dari 4 tahun menjalani profesi CO ini ia sudah berhasil mencicil rumah untuk kedua orang tuanya dan membiayai kuliah adiknya. Saat ini ia sedang dalam masa promosi untuk menjadi seorang SCO (Senior Community Officer), jabatan yang lebih tinggi lagi di atas CO. Kita doakan bersama ya, mbak Nining dapat terus berprestasi dalam profesinya ini.

Malam itu saya kembali ke hotel dengan membawa banyak memori berharga. Hanya dalam waktu kurang dari 24 jam saya sudah bertemu dengan aneka karakter manusia dan profesi mereka masing-masing. Dan semuanya sungguh inspiratif sekali. Dari mereka semua saya banyak belajar bahwa perjuangan hidup saya belumlah seberapa dan tak ada apa-apanya dibanding mereka.

Saya (no. 2 dari kiri) bersama teman media dan tim BTPN Syariah. Terima kasih BTPNS… (Foto; dok. Rony/Harian Nusa)

Terima kasih BTPN Syariah atas kesempatan yang diberikan. Saya belajar banyak hal tentang sisi lain perbankan syariah dari institusi ini. Bukan sekadar berfokus pada pembangunan yang bersifat materi saja, tapi jauh di balik itu ada tanggung jawab moral mengubah mental dan karakter para nasabah prasejahtera dan keluarganya menjadi lebih berdaya guna.  Luar biasa….

Baca Juga