Pertama Kali ke Luar Negeri? Ini 5 Tips saat Nyasar di Negeri Orang ala Saya

Ini adalah pengalaman nyasar alias salah jalan paling mendebarkan seumur hidup yang belum pernah saya ceritakan kepada siapa pun. Satu-satunya orang yang pernah saya ajak cerita adalah ibu saya. Itu pun setelah satu tahun peristiwa ini terjadi, dan seperti dugaan saya, beliau tetap saja merasa kaget, berkali-kali mengucap syukur karena anak perempuannya ini bisa kembali ke rumah dengan selamat dan tak lupa menahan gejolak jantungnya yang serasa mau copot saat mendengar kisah ini. Was-was dan khawatir itu pasti, meskipun sudah berlalu satu tahun yang lalu πŸ˜€

Peristiwa ini terjadi pada bulan April 2018 saat perjalanan dari Jakarta menuju Madinah via Istanbul. Waktu itu pesawat Turkish Air yang saya tumpangi transit di Bandara Ataturk, Istanbul selama 12 jam. Saat akan melanjutkan penerbangan ke Madinah itulah saya terpisah dari anggota rombongan lainnya.

Bandara Ataturk, Istanbul saat Subuh tiba. Masih lengang.

Kondisi badan saya saat itu memang sedang kurang fit, sedikit menggigil dan kedinginan. Mungkin karena lebih dari 24 jam terpapar AC terus-menerus, mulai penerbangan dari Yogya – Jakarta – Istanbul, lalu saat keliling kota seharian naik bis, ditambah kondisi temperatur musim semi di kota Istanbul yang sedang berada di kisaran 15 derajat celsius. Apalagi saya termasuk orang yang alergi dengan hawa dingin, terutama kalau terlalu lama berada di ruangan ber-AC.

Sebenarnya saya tidak terpisah sendiri. Ada 2 orang ibu-ibu anggota rombongan lainnya yang sudah sepuh (lanjut usia) juga berjalan bersama saya. Salah saya juga sebenarnya karena waktu itu minta tolong kepada Ibu Yanti (salah satu dari mereka) untuk memerhatikan anggota rombongan lainnya yang berada di depan, agar jangan sampai terpisah dari yang lainnya. Nah, qadarallah, ibu Yanti ini salah melihat jalan.

Ketika ada persimpangan di ruang tunggu bandara, ibu Yanti memilih tetap berjalan lurus, sementara anggota rombongan lainnya ternyata berbelok ke arah kanan. Karena saya hanya mengikuti instruksi ibu Yanti, akhirnya saya pun juga memilih jalan lurus bersamanya dan ada satu ibu lagi, sebut saja ibu Ana, yang juga sudah lanjut usia, sebaya dengan ibu Yanti.

Setelah berjalan menyusuri koridor ruang tunggu Bandara Ataturk hampir 10 menit dan tak menemukan satu pun anggota rombongan lainnya, sadarlah saya bahwa kami bertiga telah tersesat dan nyasar, alias salah jalan. Heeuuu… enggak usah dibayangin seperti apa rasanya. Kepala langsung cenut-cenut, jantung berdetak kencang seperti lagi balapan naik motor 100 km/jam, ketambahan badan juga lagi enggak karuan. Tapi saya enggak boleh begini terus. Pikiran sadar saya mulai bekerja.Β  Buru-buru cek nomor pintu keberangkatan di tiket yang saya bawa. Qadarallah, pintu keberangkatan belum tertulis di sana. Tambah lemaslah badan saya, huhuhuuu…. Mau telepon dan kirim kabar ke grup WA juga enggak bisa karena paket kartu provider saya hanya bisa digunakan di Saudi Arabia, bukan di Turki. Sebenarnya di bandara ada free wifi, tapi payahnya, pikiran saya sama sekali enggak mikir ke situ, sudah terlanjur panik duluan.

Opsi selanjutnya, akhirnya saya perhatikan layar monitor keberangkatan yang terpampang di ruang tunggu, di mana tertulis nama pesawat, negara tujuan, dan nomor pintu keberangkatan. Sayangnya, ada ratusan informasi penerbangan yang berubah begitu cepat. Mata saya tak sanggup mengikutinya. Paris-Milan-Amsterdam-Berlin-London-Moskow, dan beberapa nama kota di benua Eropa sebenarnya cukup membuat hati saya terpekik bahagia. “Allahhhhh….. aku sudah sampai di Eropaaaa…. terima kasihhh!!!!”Β  pekik girang dan lebay sebagian hati saya, sementara separuh hati saya yang lainnya sedang berguncang hebat dan gemetar karena sadar sedang dalam masalah besar.

Saya ingat, waktu itu sempat melirik arloji di tangan. Sudah hampir pukul 20.30 waktu Istanbul, padahal di tiket yang saya bawa tertulis, pesawat dijadwalkan take off ke Madinah pada pukul 21.00. Yaa Robb, bibir saya komat-kamit berdoa, “Hanya Engkau yang mampu menolong hamba. Kalau sampai tertinggal di sini hamba tak bisa pulang….” pinta hati saya pasrah.

Beberapa kali saya mencoba bertanya kepada petugas yang lalu lalang, tapi tak pernah digubris sama sekali karena mereka juga sedang sibuk. Yup, di Turki semua orang bergerak serba cepat. Jalan aja mereka gesit banget. Memang sih mereka cakep-cakep, enggak ada deh yang jelek, persis seperti terlihat di serial Turki televisi πŸ˜€ Tapi secara karakter, ternyata orang Turki itu keras dan kaku πŸ™ Sempat melintas seorang petugas wanita di depan saya. Saya pun mencoba bertanya kepadanya dengan sopan. Sayangnya, ia membentak karena saat yang bersamaan telepon genggamnya juga berbunyi, “Heiiii kamu enggak lihat telepon saya sedang bunyi??!!” semburnya. Beuhhh…. jutek amat sikk, pekik saya dalam hati. Iya, cuma dalam hati, karena orang bingung kan itu dilarang ngeluh ya, apalagi ngedumel. Bolehnya cuma berdoa πŸ˜€

Setelah lelah menyusuri koridor ruang tunggu sampai keringat dingin keluar semua dan napas yang sudah tak karuan, saya lalu berhenti di depan layar monitor informasi keberangkatan. Kali ini saya coba tenangkan diri dan berdamai dengan diri sendiri. Satu demi satu tulisan yang bergerak cepat itu saya perhatikan. Setelah beberapa menit terpaku pasrah di depan layar monitor, Alhamdulillah, muncul juga informasi keberangkatan pesawat Turkish Air yang saya tumpangi beserta nomor pintu keberangkatannya. Benarlah bahwa pertolongan Allah datangnya justru pada saat kita sudah dalam kondisi pasrah, sepasrah-pasrahnya. Allah ternyata ingin melihat sejauh mana ikhtiar kita mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapi.

Setelah dapat nomor pintu keberangkatan, saya bergegas mengajak dua orang ibu-ibu yang hanya mampu mengikuti saya sedari tadi menuju pintu keberangkatan yang dimaksud. Apakah langsung ketemu? Enggak juga, kan pintu keberangkatannya juga ada puluhan (atau mungkin ratusan? Entahlah, mana sempet ngitung… ) Tapi untungnya, di pertengahan jalan kami bertemu dengan putra ibu Ana yang ternyata juga sedang mencari-cari ibunya. Nah, di sini saya jadi heran. Kok bisa sih anak ibu Ana membiarkan ibunya terpisah dari dirinya? Kalau saya bawa orang tua pergi, apalagi ke luar negeri, enggak bakalan deh saya jauh-jauh dari orang tua. Pokoknya orang tua harus selalu di dekat saya. Gitu kan ya seharusnya?

Dari kejadian di atas, saya simpulkan, ada beberapa tips ala saya yang sebaiknya dilakukan pada saat kita sedang dalam kondisi nyasar dan terpisah dari rombongan, sehingga tak tahu apa yang harus dilakukan.

1. Be Calm

Tenang. Kata ini mungkin enggak populer pada saat kita sedang panik. Tapi sebenarnya ini bisa jadi jalan keluar pertama agar akal kita bekerja pada jalur yang sebenarnya. Pada saat kita sedang panik atau kemrungsung (bahasa Turki ehh Jawa πŸ™‚ ), saat itulah semua jalan seolah tertutup. Kepala panas, jantung berdebar kencang, di atas mata terasa cenut-cenut tak karuan. Kalau sudah begini, coba deh tarik napas panjang, tahan 7 hitungan, lalu hembuskan perlahan-lahan. Dulu saya belum tahu cara ini, asal menenangkan diri aja. Setelah beberapa kali kamu lakukan tarikan napas itu, mulailah berpikir dengan akal sehat apa solusi pertama yang harus dilakukan.

2. Berdoa

Apalah daya kita tanpa tuntunan dan kekuatan dari-Nya. Doa itu sesuatu yang rasanya abstrak, tak berbentuk. Tapi uniknya, keajaiban justru berasal dari situ.

3. Berpikir Positif

Mungkin ini terdengar sungguh klise, ya. Mana sempat sih lagi cemas dan ketakutan kok disuruh mikir positif. Tapi ini bener, lo! Panik itu boleh, enggak ada yang larang. Cuma enggak perlu lama-lama. Waktu itu saya sempat berpikir, bagaimana seandainya ketinggalan pesawat dan enggak bisa lanjut penerbangan ke Madinah? Artinya saya harus tinggal di Turki, padahal uang saku enggak cukup buat beli tiket pulang ke Indonesia. Tapi buru-buru pikiran buruk itu saya usir. Kalau kita kelamaan berandai-andai, kapan ketemu solusinya? Ye kan?

4. Lakukan Semua Solusi yang Ada di Pikiranmu, Tapi secara Step by Step

Apa pun solusi yang terbersit di pikiranmu, lakukan saja! Just do it! Kalau masih bisa menghubungi keluarga atau teman seperjalanan, segera hubungi secepatnya. Tapi pada kasus saya di atas, di mana tidak ada jaringan seluler, maka satu-satunya cara adalah bertanya pada orang yang ada di sekeliling kita. Jika satu orang tak memberi jawaban memuaskan, cari orang lainnya. Kalau perlu, hubungi polisi atau petugas resmi yang terpercaya. Apalagi untuk traveller baru seperti saya yang rawan terkena kasus penipuan, sebaiknya bertanya kepada orang yang dapat dipercaya. Lakukan saja semua solusi yang terbersit di pikiran saat itu, tapi satu per satu, step by step. Kita tak pernah tahu mana dari berbagai cara itu yang akan menghasilkan jalan keluar terbaik. Tapi, percayalah, pasti ada solusinya.

5. Mandiri

Satu kesalahan saya adalah, terlalu menggantungkan diri pada orang lain. Seharusnya dalam keadaan tak enak badan pun saya harus mandiri, tidak sekadar mengikuti orang lain yang juga sama tidak pahamnya tentang situasi dan kondisi yang ada seperti saya. Seandainya ingin minta bantuan, saya seharusnya meminta bantuan kepada koordinator rombongan. Sikap mandiri dalam melakukan perjalanan ini mutlak diperlukan, meskipun kita sedang bepergian bersama pasangan, keluarga, ataupun teman-teman, karena segala sesuatu bisa terjadi. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di dalam perjalanan nanti. Bisa saja terpisah, tertinggal, kehilangan jejak, miskomunikasi, dll.

Akhirnya… Alhamdulillah, bisa juga saya melanjutkan perjalanan ke Madinah malam itu dengan tubuh dan pikiran yang sudah luluh lantak tak karuan. Ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga buat saya. Tapi di satu sisi, peristiwa nyasar dan terpisah dari rombongan ini juga menumbuhkan keberanian untuk saya, bahwa yang namanya perjalanan pasti akan membawa banyak hal dan pengalaman berharga. Tak perlu ada yang ditakutkan di dunia ini selama ada Allah di hatimu. Jangan pernah takut atau trauma bepergian lagi, asal pastikan kamu selalu dalam kondisi yang aman.

Untuk kamu yang muslimah, sebenarnya ada larangan agar tidak bepergian tanpa didampingi oleh mahrom. Tetapi beberapa pendapat lagi membolehkan, asal bersama rombongan dan terjamin keamanannya, bukan pergi seorang diri.

Baca juga

#ODOP #EstrilookCommunity #Day1

Spread the love

33 thoughts on “Pertama Kali ke Luar Negeri? Ini 5 Tips saat Nyasar di Negeri Orang ala Saya”

      1. Hahahaha. Waduh serem banget sih. Kalau gitu saya juga harus cepat bertindak Bun. Secara harga tiket mahal ciin. Kirain enggak mepet waktu boarding xixixi.

        Terima kasih tipsnya Bun πŸ’žπŸ’ž

  1. Baca cerita inipun udah ikut deg deg an duluan, gimana ngerasain langsung ya? Hahhaha.
    Benar sih Mba, di manapun, kalau nyasar itu bikin ngga enak ya, pikiran udah kemana mana duluan. Tenang dan tetap berpikir positif adalah salah satu hal yang paling penting digarisbawahi dalam kondisi seperti itu.

  2. Jadi ingat mamaku juga nyasar waktu umroh tahun lalu. Adikku sampai habis ta’ omelin. Tapi susah juga sih, karena adikku laki-laki jadi gak bisa ngekorin mama terus. Alhamdulillah, mama ketemu, rupanya beliau lebih dulu sampai di hote ketimbang rombongan. Oalah, Mamaku…

  3. Iya tetap tenang dan jangan keliatan panik atau bingung karena malah bisa memancing orang lain untuk me manfaat kan situasi ya mbak.. Makasih ide idenya mbak smga nggak perlu di aplikasi kan, biar ga usah pake kesasar segala di negeri orang hihi

  4. Seru kisahnya, hehe. Pasti tak terlupakan ya, Bun. Sampai jadi tulisan begini. Jadi tahu juga kalau orang Turki jutek2, hiks. Mungkin karena mereka berpacu dg waktu juga, sih.
    Saya setuju untuk poin muslimah sebaiknya bepergian dengan mahram. Sip.

  5. Pernah kejadian seperti itu di bandara Thailand. Jadi sudah pernah merasakan yang dirasakan oleh mbak Hastin. Saya waktu itu menelpon tour leader pake kartu kredit di telpon umum tapi terkendala bahasa. Karena melihat kita main telpon umum akhirnya ada petugas yang menghampiri dan membantu untuk bicara. Dan akhirnya kita dijemput tetapi ya itu, dimarahi sama orang-orang karena nyasar. Menyebalkan πŸ˜‚

    1. Waduhhhh… kenapa juga harus dimarahin?? Padahal kita sendiri masih panik dan deg-degan ya mbak πŸ™
      Kalau dipikir, siapa juga orangnya yang pengen nyasar, ya. Semua terjadi kan karena tidak sengaja.

  6. Duh, saya jadi pengen berkunjung ke Turki. Memang kalau di negeri orang nyasar itu pasti bikin bingung. Memang iya, yang pertama adalah don’t be panic. Aslinya saya panikan malah. Hehe … G kebayang kalau saya yang nyasar. Hihi

  7. Saya juga pernah kesasar Bun, dua kali malah. Tapi bukan luar negeri, saya nyasar di gunung sama di kebun orang deket rumah.
    Panik iya bingung banget kebangetan malah, tapi Alhamdulillah bisa pulang πŸ™‚

    1. Aku bayangin kalau nyasar di gunung ngeriiiii… Lebih baik nyasar di kota.
      Di kebun juga kan nggak ada orang ya, takutnya ketemu orang jahat yang nggak bener. Tapi Alhamdulillah mba Alia bisa pulang lagi.

  8. Alhamdulillah ketemu gatenya ya Mbak…memang bingung kalau di bandara di LN, rameee poll

    Dulu saya lebih sering pergi bertiga anak-anak, apalagi dulu suami kerja di luar kota/negara, jadi yang memeng harus diberani-beraniin

    Semangat bepergian (sendiri), semoga lain kali enggak nyasar ;agi

Tinggalkan Balasan ke Anggi Putri Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.