Momentum #AyoHijrah bersama Bank Muamalat, Ketika Komitmen Menjauhi Riba Allah Buktikan dengan Nyata

.
Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata “Hijrah”?

Kata ini sering sekali kita dengar dan baca akhir-akhir ini. Alhamdulillah, begitu banyak mereka yang mulai sadar dan perlahan mendekatkan dirinya kepada Sang Khalik, meninggalkan hiruk pikuk kehidupan dunia yang semakin lama makin tak jelas dan abu-abu batasnya.

Dilihat dari arti katanya, hijrah berarti melakukan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Meninggalkan kondisi sebelumnya yang kurang nyaman dan dikhawatirkan dapat memengaruhi keadaan menjadi lebih buruk. Pada zaman Rasulullah Saw dahulu kala, makna hijrah ditandai saat Rasulullah memutuskan meninggalkan kota Mekkah menuju Madinah untuk menghindari tekanan dari kaum kafir Quraisy.

Untuk saya pribadi, makna kata hijrah mulai terasa selama kurun waktu 3 tahun terakhir. Alhamdulillah, begitu banyak momentum hijrah yang Allah ajarkan kepada saya.

Dahulu, saya sering tidak percaya setiap mendengar cerita dan  nasihat seorang ustaz di televisi yang terkenal dengan metode sedekah dan shalawat-nya untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Ketidakyakinan yang dipicu oleh kurangnya ilmu agama dan masih tertutupnya diri ini dari hidayah-Nya.

Saat mendengar testimoni dari sang ustaz mengenai terkabulnya banyak hajat (keinginan) dalam hidupnya, termasuk keinginan putri beliau untuk memiliki laptop dengan perantaraan shalawat dan sedekah, hati kecil saya masih bertanya-tanya, “Apa iya bisa begitu caranya?”

Hemmm… sungguh, terasa di luar logika. Saya bahkan lupa bahwa tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berketetapan akan terjadinya sesuatu.

Keyakinan saya akan kekuatan sedekah mulai berangsur menjadi 100% setelah membaca banyak testimoni, salah satunya di grup Facebook milik Saptuari Sugiharto, seorang pengusaha muslim asal Yogyakarta dan Dewa Eka Prayoga, pengusaha muda asal Bandung.

Allah kemudian membuka mata saya lebih lebar lagi lewat seorang teman yang meminjamkan sebuah buku motivasi berjudul “Moslem Millionaire”, karya motivator nasional Ippho Santosa.  Tak berapa lama setelah itu, keajaiban pun mulai terjadi. Allah izinkan saya bertemu dengan Ippho Santosa dengan mudahnya, lewat salah satu seminar beliau yang diadakan di Yogyakarta. Seminar singkat itu sungguh membawa banyak perubahan dalam cara pandang saya tentang arti sedekah dan cara mewujudkan impian.

Seminar “100 Juta Pertama” Ippho Santosa, bulan Maret 2017 di Jogja Expo Centre

.
Seiring perjalanan saya mencari ilmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik,  ternyata bukan hanya ilmu tentang sedekah saja yang saya dapat.  Allah menunjukkan saya ilmu lainnya yang tak kalah pentingnya, yaitu tentang anjuran menghindari riba.  Masya Allah.

Riba, secara kaidah bahasa dapat diartikan sebagai “tumbuh dan membesar”. Secara umum, dalam hal jual beli dan utang piutang, riba adalah keharusan untuk memberi kelebihan pengembalian saat kita membayar pinjaman kepada si pemberi utang. Adapun apabila kelebihan itu kita berikan atas keinginan kita sendiri, tanpa paksaan dari si peminjam, maka itu bukan riba, dan diperbolehkan.

Misalnya, saya meminjam uang sebesar Rp900.000,- dari seorang sahabat. Kemudian saat pengembalian, saya melebihkan uangnya menjadi Rp1.000.000,- dengan alasan, sisa Rp100.000,- nya biarlah digunakan untuk membeli boneka bagi anak sahabat saya tadi. Maka ini bukan riba dan hukumnya diperbolehkan.

Yang dilarang adalah, apabila sahabat saya berkata saat saya meminjam uangnya, “Besok saat pengembalian pinjaman, kamu harus mengembalikan uangnya menjadi Rp1.000.000,- ya, bukan hanya Rp900.000,-” Ini dalam agama Islam termasuk riba, dan tentu saja hukumnya haram.

Imam Muslim rahimahullah pernah meriwayatkan suatu hadis Rasulullah dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba, yang memberi riba, penulisnya, dan dua saksinya,” dan beliau bersabda, “mereka semua sama.”

Dalam praktiknya, jujur saja, jangankan menerapkan praktik riba dalam kehidupan sehari-hari. Untuk masalah utang piutang, saya termasuk orang yang sangat takut mencicil barang atau meminjam uang kepada orang lain. 

Kalau membeli barang yang saya inginkan harus dengan mencicil atau berutang, sebisa mungkin saya hindari hal itu dan jauhi keinginan hati untuk memiliki barang tersebut 🙂 Intinya, saya takut dan tak cukup bernyali besar dengan masalah cicilan dan pinjam-meminjam ini. 

Ada satu kisah yang ingin saya bagikan ke teman-teman. Kisah nyata ini sudah pernah saya ceritakan ke beberapa orang teman, tapi belum pernah saya tulis di blog. Bukan sebagai ajang untuk eksis, tapi insya Allah bisa digunakan sebagai motivasi dan bukti  bahwa kecintaan serta ke-istiqomah-an kita di jalan Allah suatu saat pasti akan berbuah manis pada akhirnya.

Pada bulan Januari 2017, saya ingat, waktu itu ibu saya ingin membeli sebuah sepeda motor baru dengan cara mencicil. Saat itu kondisi sepeda motor yang biasa kami gunakan memang sedang butuh banyak perbaikan. Maklum, itu adalah kendaraan lama, keluaran tahun 1997. Meskipun mesinnya masih halus dan enak dipakai, sepeda motor itu mulai sering macet, apalagi dalam kondisi hujan lebat.

Ibu merencanakan membeli lewat salah satu dealer motor yang sering menyebarkan flyer promosinya di halaman rumah kami.

 Apa yang ada di benak saya saat itu?

Mendadak saya ingat satu hadis yang pernah saya baca, yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dan Al Baihaqi:

“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya…”

Na’udzubilahiminzalik…. 

Buru-buru saya melarang ibu meneruskan niatnya. Saya yakinkan beliau, jika kita tidak sanggup membeli secara tunai dan harus mencicil secara kredit yang ada tambahan bunga dalam pembayarannya, lebih baik tinggalkan. Tetap bertahanlah dengan sepeda motor yang lama, sambil terus berdoa dan giat sedekah, terutama membagikan nasi bungkus pada hari Jumat dengan motor lama tersebut, meskipun mungkin penampilan kami tak sekeren pengguna jalan lainnya.  Dan akhirnya, ibu pun pasrah dan menurut pada anjuran saya.

Teman-teman tahu apa yang kemudian terjadi? Masya Allah, Allahu Akbar!!
.

Sepeda motor gratis, Masya Allah!

.
Tak perlu menunggu waktu lama. Di bulan Mei 2017, Allah buktikan semuanya. 

Saat itu instansi tempat almarhum bapak dulu bekerja menyelenggarakan perayaan ulang tahunnya. Seperti biasa, seluruh pensiunan instansi tersebut dan keluarga/ahli waris yang masih hidup diundang untuk menghadiri dan meramaikan perayaan tersebut. Dan seperti biasanya pula, banyak doorprize disediakan saat acara berlangsung. Salah satu hadiah utama saat itu berupa sepeda motor matic terbaru keluaran sebuah brand ternama. 

Qadarallah, seperti sudah tertulis dalam skenario-Nya, nomor doorprize milik ibu menjadi pemenang hadiah utama itu. Saya yang tak ikut hadir dalam acara tersebut hanya mampu termangu tak percaya saat ibu bercerita di rumah, betapa ia gemetarrrr mendengar nomornya dipanggil sebagai penerima hadiah sepeda motor itu.

Begitulah, Allah Swt sungguh menunjukkan kuasa-Nya. Sepeda motor yang kami impikan dan inginkan beberapa bulan terakhir ternyata hadir dengan sendirinya, tanpa kami harus mengeluarkan biaya sepeser pun, Masya Allah. Hingga saat ini, setiap kali mengingat hal itu, kami semakin yakin dan percaya bahwa janji Allah itu PASTI.

Hingga saat ini, sepeda motor hadiah tersebut masih tetap kami gunakan untuk membagikan sedekah nasi bungkus setiap hari Jumat, menggantikan motor lama yang masih terawat baik di rumah. Bahkan, lambat laun, banyak teman-teman lain yang juga ikut menitipkan rezekinya untuk kami salurkan kepada para tukang becak dan pemulung yang ada di Yogyakarta dalam bentuk sedekah nasi bungkus ini . Masya Allah. Terima kasih teman-teman semua.
.

Alhamdulillah, ibu yang berusia 70 tahun tetap bugar & selalu diberi kesehatan mendampingi saya membagikan nasi bungkus Jumat 🙂

 

Terima kasih ya titipan rezekinya, teman-teman. Semoga Allah balas dengan rezeki berlimpah dan barokah. Aamiin.

.
Mudah-mudahan sedikit cerita di atas dapat meyakinkan diri kita untuk terus istiqomah di jalan-Nya. Tidak penting orang percaya atau tidak akan pengalaman dan keajaiban hidup yang kamu alami, yang penting kamu sendiri harus bertambah yakin dan percaya bahwa ada kekuatan besar yang mengatur kehidupanmu di dunia ini. 

Mencari jalan kebaikan menuju perubahan itu memang tak semulus kulit wajah yang kinclong bersinar hasil menggunakan krim instan, sehingga lalat pun terpeleset dibuatnya 🙂 Mencari jalan hijrah itu butuh keberanian dan selalu diawali dengan banyaknya kerikil tajam, serta jalanan yang berliku, penuh tebing curam dan menakutkan. Tapi ketika kamu berhasil mencapai puncak dan menaklukkannya, kamu dapat tersenyum sesudahnya.

Momentum #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia

Teman-teman, kisah nyata perbaikan diri yang penuh kekurangan ini menuju kehidupan yang lebih baik dan berkah ternyata senada dengan program #AyoHijrah yang diluncurkan oleh Bank Muamalat Indonesia.

Sebagai bank syariah pertama yang ada di Indonesia sejak 1 November 1991, PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk mendapat dukungan penuh dari pemerintah karena digagas oleh para pengusaha muslim, termasuk MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

Berbagai inovasi produk telah diluncurkan sejak tanggal 1 Mei 1992, seperti:
– Asuransi Syariah (Asuransi Takaful)
– Dana Pensiun Lembaga Keuangan Muamalat (DPLK Muamalat)
–  Multifinance syariah (Al-Ijarah Indonesia Finance) yang seluruhnya menjadi terobosan di Indonesia. 

Bahkan produk Shar-e Gold Debit Visa yang diluncurkan pada tahun 2011 berhasil mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “Kartu Debit Syariah dengan teknologi chip pertama di Indonesia”. Alhamdulillah, mantap nian perjalanan Bank Muamalat Indonesia ini, ya.

Nah, sejak bulan Oktober 2018 lalu, Bank Muamalat Indonesia kian gencar mengajak masyarakat untuk berhijrah, khususnya dalam hal layanan perbankan. 

Peluncuran program #AyoHijrah Bank Muamalat Indonesia (Foto: Bankmuamalat.co.id)

.
Chief Executive Officer
(CEO) Bank Muamalat Indonesia, Achmad K. Permana mengatakan, konsep berhijrah sendiri meliputi 3 hal penting, yakni:
– memulai
– melengkapi, dan
– menyempurnakan (kaffah)

Ketiganya sebenarnya  dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, lho. Tidak hanya berhijrah untuk tujuan ibadah saja, melainkan juga dalam penggunaan layanan keuangan yang sesuai dengan syariat Islam.

Untuk mendukung program #AyoHijrah ini, Bank Muamalat Indonesia juga telah menyelenggarakan serangkaian kegiatan, antara lain:
– Seminar / edukasi tentang perbankan syariah 
– Pembukaan booth/stand di pusat kegiatan masyarakat
– Kajian Islami dengan narasumber dari kalangan ulama
– Pemberdayaan masjid sebagai salah satu agen perbankan syariah

Produk tabungan Bank Muamalat Indonesia pun turut diberikan nama baru dengan kata “Hijrah”, sebagai bentuk ikhtiar agar layanan kepada nasabah semakin berkah, seperti: 

  • Tabungan iB Hijrah
  • Tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah, dan masih banyak lagi produk unggulan lainnya

Kenapa Kamu Harus Memilih Bank Muamalat Indonesia?

Selain karena adanya program #AyoHijrah tadi, ada banyak alasan kenapa kamu sebaiknya menjadikan Bank Muamalat sebagai sarana yang barokah dan terpercaya dalam layanan finansialmu.

  • Bank Muamalat adalah bank pertama murni syariah di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1992.
  • Bank Muamalat tidak menginduk dari bank lain, sehingga terjaga kemurnian syariahnya.
  • Pengelolaan dana di Bank Muamalat didasarkan pada prinsip-prinsip ekonomi syariah yang dikawal dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.
  • Bank Muamalat memilki produk dan layanan keuangan lengkap yang ditunjang dengan berbagai fasilitas, seperti Mobile Banking, Internet Banking, jaringan ATM, serta Kantor Cabang hingga ke luar negeri.

Nah, dengan strategi bisnis yang terarah ini, Bank Muamalat Indonesia diharapkan akan terus melaju mewujudkan visinya menjadi The Best Islamic Bank and Top 10 Bank in Indonesia with Strong Regional Presence” (Bank syariah terbaik dan termasuk dalam 10 besar bank di Indonesia dengan eksistensi yang diakui di tingkat regional).

Kamu sendiri, kapan momentum hijrah terbesar dalam hidupmu? Yuk, segerakan momen #AyoHijrah-mu bersama Bank Muamalat Indonesia, ya!

Segera datangi Kantor Cabang Bank Muamalat terdekat di kotamu, atau ikuti akun media sosialnya di bawah ini:

Facebook : Bank Muamalat
Instagram : @BankMuamalat
Twitter : @BankMuamalat
Website : www.bankmuamalat.co.id

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Bank Muamalat Indonesia bertema “#AyoHijrah Berani Lebih Baik”.

5 Tips Jitu Mencapai Impian, Praktikkan, yuk!

Masjid Sultan Ahmed (Blue Mosque), Istanbul

20 April 2018, satu tahun yang lalu, adalah tanggal keramat dalam kehidupan saya. Wewww… apaan sih pakai keramat-keramatan segala 😀 Hehhee… maksudnya, tanggal yang enggak bakalan terlupa seumur hidup, insya Allah.

Hari itu adalah momen di saat Allah mengabulkan impian dan cita-cita yang terpendam sejak SD dulu. Apaan tuh? He em, saya pengennn banget bisa menginjak tanah lain selain tanah air tercinta Indonesia. Sebegitu pengennya, dulu waktu SMA sempat pengen daftar pertukaran pelajar dan beasiswa ke luar negeri, tapi qadarallah selalu ketinggalan info, jadi enggak pernah terwujud terus hingga dewasa *hiksss…

Setelah bekerja, keinginan ke luar negeri mulai beralih bukan sekadar untuk jalan-jalan semata, tapi mulai terfokus ingin sekali bisa melihat Ka’bah dan mengunjungi Rumah-Nya. Entah bagaimana caranya, saya enggak tahu. Kalau dihitung-hitung, duit enggak pernah bisa terkumpul sejumlah biaya yang dibutuhkan. Sedih, ya 🙁 Pernah dapat kiriman surat undian berhadiah 60 juta juga. Waktu itu udah ngerasa seneng dan happy aja, rencana buat naik haji. Eeehhh… ternyata penipuan. Hiksss….

Terus, apakah saya ngambek dan enggak pengen ke luar negeri lagi? Alhamdulillah Guys, saya bukan tipe ngambekan gitu. Sebaliknya, saya sangat baik hati dan tidak sombong kwkwk… *nggak nyambung

Selain pengen ke Baitullah, keinginan ke luar negeri berlanjut pengen ke Jepang. Waktu itu sampai bela-belain kursus bahasa Jepang segala demiiii cita-cita yang sudah ada sejak SD ini.

Setelah cita-cita ke Jepang belum terwujud juga, mendadak ada kesempatan nonton bareng film “99 Cahaya di Langit Eropa” bersama penulis novelnya, Hanum Rais. Nah, dari situ deh fokus saya mulai mengembara ke Eropa, terutama Turki dan Spanyol, negara tempat sejarah peradaban Islam banyak terukir. Coba kamu perhatikan, betapa saya begitu banyak maunya, ya 🙂 Jadi ingat lagu Doraemon, “Aku ingn begini, aku ingin begitu….”

Bersamaan dengan keinginan ke Eropa, di televisi mulai sering ditayangkan serial Turki. Pemain-pemainnya tahu sendirilah ya, cakep-cakep semua, terlihat begitu sempurna. Saat melihat aliran sungai-sungai di kota Istanbul dalam serial televisi itulah, keinginan ke sana muncul kembali lebih kuat, meskipun saya enggak tahu gimana caranya.

Pemahaman tentang cara mewujudkan mimpi mulai saya dapatkan setelah mengikuti seminar motivasi dari si mas motivator Ippho Santosa pada bulan Maret 2017 dan mengikuti kelas online dari seorang coach bernama Mutya Dita di bulan Juli 2017. Waktu itu saya ikuti saja semua yang diajarkan, tanpa banyak komentar. Soal terwujud atau tidak, wallahu a’lam, kita hanya manusia biasa. Ada Allah Yang Maha Pengatur di atas segalanya.

Kamu penasaran bagaimana metode dan caranya? Sebenarnya sederhana aja kok, saya yakin, teman-teman juga sudah melakukan beberapa hal di bawah ini, bukan?

1. Berdoa

Aktivitas satu ini merupakan kewajiban kita setiap hari. Ada ataupun tak ada impian yang ingin diwujudkan, berdoa dan beribadah adalah bentuk rasa syukur kita terhadap kuasa-Nya yang masih memberikan nafas untuk hidup sampai hari ini. Bahkan Allah pun pernah berkata di dalam Alquran,

“Berdoalah, niscaya akan Aku kabulkan….”

Dari kalimat ini saja sebenarnya kita harus YAKIN dengan janji Allah. Kalau pengen sesuatu, bilang ke Dia, mohon dan menangislah seperti seorang bayi yang menangis merengek-rengek minta makanan kepada orang tuanya.

2. Tulis Impianmu Secara Berulang (Repetisi)

Dari dulu saya sering baca cara satu ini, tapi enggak pernah percaya 😀 jadi ya gitu deh, enggak pernah dilakukan. Mulai nurut dipraktikkan setelah ikut kelas online.

Ternyata, menulis apa yang kita inginkan erat sekali hubungannya dengan penyimpanan memori di pikiran bawah sadar. Tapi menulisnya harus di kertas lho, ya, secara manual, bukan di hp atau laptop, karena setiap coretan tangan kita merupakan guratan dari otak dan isi pikiran kita. Itu sebabnya kenapa ada ilmu Grafologi (membaca karakter seseorang dari tulisan tangannya) 🙂

Di kertas, kamu boleh sepuasnya menulis impianmu secara detil mumpung enggak ada yang baca. Lebih baik lagi kalau nulisnya saat pikiran terasa rileks, misalnya menjelang tidur malam, atau sesaat setelah bangun tidur.

Lakukan penulisan impian ini berulang-ulang setiap hari. Untuk kamu yang baru pertama kali melakukan, sebaiknya menulislah minimal 21 hari tanpa terputus. Terus, kalau belum 21 hari udah terputus gimana? Lupa enggak nulis sehari misalnya. Ya terpaksa hitungannya diulang lagi dari hari ke-1 lagi sampai hari ke-21 tanpa terputus 😀

Ampunnn, ribet amat ya, mungkin kamu akan berpikir begitu hihii.. Udah deh, just do it, ya, enggak pakai protes kwkwk…

3. Feel It

Feel your dreams… aliasss rasakan impianmu. Dapetin feel-nya.

Kamu pengen ke Baitullah? Bayangin kamu lagi berdoa sambil sesenggukan di depan Ka’bah. Atau bikin paspor dulu, seolah-olah kamu sudah siap berangkat ke sana.

Kamu pengen beli mobil Honda BRV? Tempel gambarnya. Kalau perlu datangi tempat persewaan mobil. Sewa mobil itu beberapa jam biar kamu bisa tahu kayak apa duduk di dalamnya, seperti apa joknya, dashboard-nya, rem, dan gasnya.

Eitss…. tapi ini enggak berlaku kalau kamu cari pasangan halal ya. Jangan sampai deh ada sewa-menyewa begitu sebelum waktunya *hikss… Kalau belum halal jangan dekat-dekat, apalagi disentuh 🙂 Cukup kamu kagumi aja dari jauh. Datangi rumahnya hanya jika kamu sudah mantap ingin meminangnya 😀

4. Memantaskan Diri

Kata-kata ini sering ditulis Ippho Santosa dalam tulisan-tulisannya. Kalau ingin impianmu tercapai, pantaskan diri kita terlebih dahulu. Ingin menjadi seorang ibu, sudah siapkah diri kita menerima amanah berupa seorang anak? Ingin menjadi seorang suami, sudah siapkah kita menjadi seorang imam dan ayah yang baik? Hampir mirip dengan poin nomor 3 tadi ya, rasakan energinya dan tanyakan apakah kamu pantas untuk menerima impian itu.

5. Bersedekah

Sedekah adalah penolak bala dan penarik rezeki. Untuk bersedekah tak perlu menunggu kaya dan banyak duit. Justru setelah kita bersedekah, Allah akan menambah dan memperbanyak rezeki kita.

Bolehlah kamu tak percaya, karena saya pun dulu pernah berada di posisi tak percaya tentang keajaiban sedekah. Ternyata ketidakpercayaan itu Allah balas dengan berbagai bukti nyata yang membuat saya merasa malu dan insyaf. Semoga enggak ada lagi di antara teman-teman yang mengalami ketidakpercayaan dahsyatnya sedekah seperti saya ini, ya…. 🙁

Satu ilmu yang saya dapat dari Ippho Santosa adalah, jika kamu punya IMPIAN BESAR, sedekahnya juga harus BESAR, di luar kebiasaan. Beliau mengibaratkan, jika ada seorang pria ingin dapat jodoh wanita yang cantik, putih, dan salihah, tak cukup hanya sedekah 10ribu saja. Boneka Barbie di toko aja harganya ratusan ribu, apalagi pengen dapetin manusia asli, sedekahnya jangan main-main, begitu…. 😀

Memang, tak semua orang suka bermimpi. Bahkan ada saja yang menertawakan impian kita. Tapi tak mengapa, karena sebenarnya kita hanya butuh Dia untuk mendampingi, bukan siapa-siapa.

Petinju legendaris Muhammad Ali pernah berkata,

“…The men who has no imagination has no wings…”

Orang yang tidak memiliki imajinasi ibarat orang yang tidak memiliki sayap. Mereka tak bisa terbang ke mana-mana. Padahal sejatinya, manusia sering diibaratkan sebagai seorang musafir, alias orang yang terus melakukan perjalanan tiada henti.

Artinya, hidup haruslah terus kita isi dengan pembelajaran baru yang hanya akan berakhir saat kita telah menutup mata, kembali kepada-Nya.

Barakallahu fiikum…

Baca juga

#SETIP_Day13
#SemingguTigaPostingan
#EstrilookCommunity



5 Kuliner Khas Lombok Favorit Saya

Salah satu hal yang paling berkesan dan bikin betah kalau lagi di Lombok buat saya adalah makanan khasnya. Yup, mungkin karena saya lahir dan besar di sana, jadi lidah dan otot syaraf indera pengecap di dalam mulut sudah terlalu biasa dengan rasa pedas dari kuliner khas pulau ini.

Selain menggunakan terasi sebagai bumbu wajibnya, kuliner Lombok identik dengan sambal yang dibuat dari sebiye bideng (cabe merah keriting yang dijemur sampai kering dan kehitaman). Bahan khas ini yang bikin rasa pedasnya berbeda dengan daerah lain.

Kamu penasaran enggak apa saja kuliner khas Lombok yang menjadi favorit saya dan bikin pengen nambah terus meskipun makannya sambil kepedasan? 5 di antaranya ada di bawah ini, Guys! Eitsss… tapi bacanya jangan sambil nelen ludah, yak…. 😀

1. Pelecing Kangkung

Image : Senggigitour.com

Pelecing kangkung. Kuliner Lombok yang satu ini seolah menjadi ikon kuliner pulau seribu masjid ini. Bahan dasarnya adalah kangkung asli Lombok yang direbus dan disajikan dalam keadaan dingin. Untuk campurannya, ada sambal terasi, parutan bumbu kelapa yang dibakar, taoge, kacang goreng, dan kucuran jeruk limau yang menjadi ciri khas kuliner masyarakat Sasak, penduduk asli pulau Lombok.

Oiya, kangkung asli Lombok ini batangnya besar-besar dan segar, berbeda dengan kangkung dari daerah lain yang mudah layu saat direbus. Ini yang membuat sensasi kangkung Lombok lebih renyah saat digigit. Di beberapa daerah, seperti Yogyakarta tempat domisili saya sekarang, kangkung Lombok kadang dijual di supermarket atau swalayan besar. Tapi tentu saja harganya sedikit lebih tinggi daripada kangkung biasa.

 2. Ayam Taliwang

Image : Cookpad.com

Kuliner ayam taliwang ini biasanya disajikan bersama dengan pelecing kangkung. Ayam taliwang adalah ayam bakar khas Lombok, berbahan dasar ayam kampung yang masih muda. Sebelum dibakar, ayam taliwang dibumbui dulu dengan cabe merah kering yang dijemur (sebiye bideng), terasi, bawang putih, bawang merah, kencur, gula merah, santan, dan jeruk limau. Untuk kamu yang enggak suka pedas, tak perlu khawatir. Ada, kok, rumah makan ayam taliwang yang menyajikan ayam taliwang dengan menu ayam madu.


3. Sate Pusut

Image : Cookpad.com

Kalau kamu suka makan olahan sate, cobain, deh, sate yang satu ini. Bahan utamanya adalah kelapa parut yang dibumbui pedas dengan cabai, bawang merah, bawang putih, dan tentu saja terasi tak pernah ketinggalan. Setelah semua bahan tercampur, baru dibakar. Untuk variasi, kamu juga bisa menambahkan bahan daging atau ikan pada campuran kelapa parut. Rasa satenya akan lebih padat dan lebih tinggi protein.

4. Beberuq

Image : cookpad.com

Beberuq ini bikinnya simpel banget, karena merupakan olahan sambal yang berbahan dasar terong ungu bulat segar dan masih muda. Jika tak ada terong ungu, kamu bisa ganti dengan terong hijau. Tapi, di Lombok, terong yang dipakai umumnya memang terong ungu. Seperti biasa, bahan utama sambal di Lombok adalah terasi Lombok yang sangat khas, tomat, cabe merah, bawang merah, dan jeruk limau.Potong terong berbentuk dadu kecil-kecil, campur dengan sambal terasi, lalu kucuri dengan minyak panas. Hmm … aromanya dijamin bikin kamu ngiler dan langsung mengambil sepiring nasi hangat.

 5. Nasi Balap

Image : Senggigitour.com

Nah, kalau ini kuliner khusus buat kamu yang suka makan nasi sambil balapan. What?? Hehe …

Nasi balap terkenal juga dengan sebutan nasi puyung, karena berasal dari desa Puyung, sebuah desa di kawasan Lombok Tengah. Lauknya sebenarnya sangat sederhana, cuma irisan daging ayam berbumbu pedas khas Lombok (ayam pelalah), kering kentang, kedelai goreng, dan kadang disertai irisan telur dadar. Nyam … nyam … meskipun sederhana, tapi lezatnya jangan ditanya. Sensari gurih dan pedas dari nasi balap yang nendang bikin jantungmu berdetak lebih kencang karena kepedasan, dan kamu bakal ketagihan untuk nambah dan nambah lagi. Wah, tambah kurus dong saya.. ^^

Untungnya, di Yogyakarta sekarang banyak yang membuka usaha kuliner dengan menu khas Lombok ini. Ada yang memang pemiliknya orang Lombok asli, tapi ada juga yang pemiliknya warga Yogya dan dahulu pernah tinggal lama di pulau Lombok. Terutama untuk menu Nasi Balap, di beberapa bagian daerah kampus banyak tersebar penjual nasi ini dengan harga yang relatif terjangkau, sekitar Rp8.000,- sampai Rp10.000,- per bungkus.

Jadi, kamu pilih yang mana dari 5 makanan di atas? Kalau ngerasa takut berat badan nambah, sepertinya kamu lebih baik pilih aja pelecing kangkung, ya, jangan yang lain… *pissss 😀

Baca juga

#SETIP_Day12 #SemingguTigaPostingan #EstrilookCommunity

Bakso Tiga Roda Yogyakarta, Rajanya Bakso Urat untuk Kamu yang Hobi Mengerat

Bakso urat Tiga Roda

.

Siapa yang tidak kenal kuliner satu ini? Yup! Bakso, merupakan kuliner populer yang hampir dapat ditemui di setiap daerah di Indonesia. Gumpalan daging halus berbentuk bola yang dicampur dengan bumbu dan dikucuri kuah kaldu, disertai mi putih atau mi kuning, plus taburan daun bawang dan bawang goreng….. hemmm…. yummy…. sungguh menggugah selera.

Yogyakarta merupakan salah satu kota yang kuliner baksonya mengalami perkembangan sangat pesat. Di kota ini kamu dapat memilih aneka varian bakso dengan nama yang unik, seperti bakso bola tenis, bakso raksasa, bakso Jepang, bakso granat, bakso kerikil, dan masih banyak lagi. Harga semangkuk bakso di kota ini pun beragam, mulai dari Rp5.000 untuk bakso kerikil dengan 20-an biji bakso yang imut bak kelereng, sampai di harga Rp30.000-an untuk bakso raksasa yang dapat kamu santap beramai-ramai.

Banyaknya pedagang bakso, terutama di sekitar rumah, membuat saya dan keluarga termasuk salah satu orang yang kerap menikmati sajian satu ini. Apalagi menu bakso biasanya selalu bersanding dengan mi ayam. Enggak heran kalau little princess Lubna yang kurang suka makan daging itu lebih memilih makan mi ayam daripada bakso. Jadi, kami kalau makan bisa saling berbagi. Lubna makan mi-nya aja karena enggak suka daging, sementara saya makan dagingnya aja, karena mi-nya biasanya sudah dimakan Lubna qiqiqiqi….

Meski di sekitar rumah sudah banyak pedagang bakso, rupanya tidak menyurutkan keinginan pedagang bakso lainnya untuk juga membuka usaha bakso di sekitar kami. Mungkin karena lokasinya yang strategis, merupakan jalan raya penghubung berbagai kelurahan di Kecamatan Kalasan, sehingga berbagai usaha retail dan kuliner sangat berkembang di sepanjang jalan penghubung ini. Bakso Urat Tiga Roda merupakan salah satu usaha bakso yang membuka cabangnya di seberang rumah (tepatnya di depan rumah) sejak Desember 2018 lalu. Warung bakso ini adalah cabang dari warung bakso Tiga Roda di lokasi lain yang berjarak sekitar 5 kilometer dari sini dan sudah lebih dulu beroperasi, kurang lebih sekitar 5 tahun.

Awalnya saya berpikir, apa sih yang menarik dari bakso ini dibanding bakso lainnya? Adakah ciri khas yang membedakannya? Kamu juga penasaran, kan? Ayo, kita bedah bareng-bareng!

Abang Tukang Baksonya Berseragam

.

Owner bakso Tiga Roda (kiri) dan karyawannya

.

Nah, ini yang jarang saya lihat di Yogyakarta. Untuk warung bakso yang sudah besar dan berada di kota, melihat para pelayannya berseragam mungkin sudah biasa. Tetapi untuk warung bakso biasa yang berada di ruko kecil dan berlokasi di wilayah yang masih termasuk pedesaan juga (bukan kota), penampilan 2 orang pemuda yang mirip anak kuliahan ini cukup menarik perhatian. Meski berpakaian casual (tshirt dan celana jeans), namun penampilan mereka rapi dan warna kaosnya seragam. Enak aja dilihat. Kadang hijau, ungu, merah, hitam. Rata-rata pedagang bakso di sekitar rumah belum ada yang memerhatikan detil soal penampilan seperti ini. Padahal kalau kamu punya usaha kuliner, penampilan yang rapi dan bersih itu penting, lho, Guys! Pembeli akan nyaman dibuatnya.

Tempatnya Bersih dan Rapi

.

Tempatnya bersih dan rapi

.

Warung bakso Tiga Roda ini berlokasi di sebuah ruko yang tidak terlalu luas. Ada tempat salat dan kursi duduk untuk kamu yang suka duduk di atas, plus lesehan untuk kamu yang suka duduk di bawah. Pelayanannya dimulai pukul 10.00 pagi hingga pukul 20.00 malam, setiap hari. 

Baksonya Buatan Sendiri

Apa yang membedakan citarasa bakso Tiga Roda ini dengan bakso lainnya? Secara sekilas mungkin sama saja ya penampilannya, tidak ada yang beda jauh. Tapi setelah dicicipi, menurut saya, ada khasnya. Mi ayamnya enak, tidak membuat eneg. Kalau kuahnya dipisah dari mi-nya, kuahnya tampak bening dan tidak keruh. Bahkan teman-teman Lubna yang sering main ke rumah kalau disuguhi mi ayam Tiga Roda ini suka banget minum kuahnya. Kata mereka gurih seperti kuah sup 😀

Mi ayamnya gurih dan enggak eneg

.

Untuk pentol baksonya, dari hasil obrolan dengan si juragan bakso, dia bercerita bahwa Ayahnya sendiri yang meracik pentol bakso dan bumbunya. Ada 2 pilihan untuk menu bakso, yaitu bakso urat dan bakso halus. Untuk kamu yang hobi mengerat urat, tulang, dan segala yang teksturnya kasar, cocok banget makan bakso uratnya. Sementara kamu yang doyan daging halus seperti saya, pilihan terbaik adalah bakso halus.

Untuk harga, semangkuk bakso di sini bisa kamu santap dengan harga Rp10.000,- dan semangkuk mi ayam yang gurih dan lezat cukup kamu nikmati dengan merogok kocek Rp7.000,- saja. Sajian minuman teh dan jeruk harganya juga standar, sekitar Rp3.000,- an sudah dapat mengobati dahagamu.

Dari hasil perbincangan santai beberapa kali dengan si pemuda berusia sekitar 25 tahunan yang merupakan owner bakso Tiga Roda ini, dia banyak bercerita tentang proses usaha baksonya. Cabang bakso yang baru 4 bulan berjalan  ini dikelola olehnya dan seorang karyawan yang juga masih muda, sebaya dengannya. Sementara warung bakso Tiga Roda pusat yang dikelola Ayahnya sudah berjalan 5 tahun dan memiliki beberapa orang karyawan. 

Usaha bakso Tiga Roda ini merupakan usaha bakso keluarga yang berawal dari daerah Bekasi, Jawa Barat. Ada pamannya yang sejak tahun 2000 membuka warung bakso Tiga Roda di Bekasi dan saat ini telah memiliki 5 cabang di daerah Bekasi dan sekitarnya. Kemudian sejak 5 tahun lalu, Ayahnya pindah ke Yogyakarta dan membuka bakso Tiga Roda untuk wilayah Yogyakarta. Kemudian akhir tahun 2018 lalu diputuskan untuk membuka cabang baru yang berlokasi di depan rumah ini.

“Di keluarga kami enggak ada yang cari kerja. Semuanya wiraswasta dan buka usaha,” kata si owner.

 Oya, saya juga pernah bertanya, kenapa dia tidak menggunakan jasa Go Food dalam usaha baksonya? Padahal hampir semua usaha kuliner di sekitar rumah sudah memasang logo Go Food dalam usaha makanannya. Begini jawabannya,

“Saya enggak tega kalau harus menaikkan harga lagi. Kasihan para langganan. Kalau saya pakai Go Food, harga harus naik lagi sekitar Rp2.500,- dari harga normal…”

Saya pun manggut-manggut mendengar penjelasannya. Apa pun keputusannya, semua kembali kepada kebijakan masing-masing. Yang jelas, yang namanya berbisnis dan menjalankan usaha itu memang tidak bisa dilihat hasilnya hanya dalam 1-2 tahun. Butuh 5-10 tahun berjalan dulu baru terlihat efeknya.

Jadi gimana, nih? Kamu mau ikutan buka usaha juga? Atau mau datang ke Yogya dan ikutan makan bakso Tiga Roda? 😀

Baca juga

#SETIP_Day11
#SemingguTigaPostingan
#EstrilookCommunity