3 Alasan Kenapa Kamu Harus Tinggal di Yogyakarta

Kadang, saya suka bingung sendiri… 

Saya sudah tinggal di kota pelajar Yogyakarta ini kalau nggak salah ingat sejak pertengahan tahun 1993. Waww… udah lama juga, ya? Hampir 16 ehhh 26 tahun ternyataaa 😱 ckckckck… kenapa baru sadar sekarang Ya Allah… 🙈 

Sebelum tinggal di Yogya, saya tinggal nomaden alias berpindah-pindah tempat di beberapa kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat. Setiap 2 sampai 5 tahun sekali biasanya orang tua selalu mendapat surat tugas dari instansinya untuk pindah ke kabupaten lain, meskipun masih di seputaran NTB. Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Kotamadya Mataram, sampai ke pelosok Kabupaten Bima yang panas dan kering kerontang di Pulau Sumbawa pernah saya rasakan. Mungkinnn ini yang menyebabkan saya agak nggak PD kalau ngaku sebagai “wanita Jawa”. Padahal, sudah jelas dan terbukti bahwa Ibu dan Almarhum Bapak adalah orang Yogya tulen. Aselikkk… 😅

Kembali ke laptop..!!

Meskipun hampir 26 tahun tinggal di kota Gudeg ini, jangan harap mendengarkan saya bicara bahasa Jawa melipis dan alusss bak Puteri Kraton. Seringnya, orang Yogya yang ketemu saya pasti tanya, “ Mbak aslinya orang mana, sih?” Nah, ketauan kannn, kalau saya bukan penduduk asli Yogya. Dari logat dan cara bicaranya aja beda 😁 Saya bisanya cuma bahasa Jawa ngoko, alias bahasa sehari-hari macam “Piye kabare, mbakyu?” (Gimana kabarnya, kak?), “Jenengmu sopo?” (Namamu siapa?). Bahasa ngoko ini untuk teman/saudara yang seumuran. 

Ada lagi bahasa yang levelnya lebih tinggi, yaitu bahasa kromo alus (bahasa untuk orang yang lebih tua atau baru kenal), macam “Asmane panjenengan sinten?” (Nama Anda siapa?), “Pripun kabare panjenengan, sae tho?” (Bagaimana kabar Anda, baik kan?)

Nah, kalau bahasa kromo ini saya agak kesulitan menjawab. Apalagi kalau yang bertanya adalah orang yang umurnya lebih tua. Daripada salah jawab dan takut tercampur dengan bahasa sehari-hari (ngoko), lebih baik pakai bahasa Indonesia saja jawabnya. Itulah sebabnya, saya jadi malu ngaku-ngaku jadi orang Yogya, wong bahasa Jawanya aja belepotan macam es krim gitu.

Tapi, meski saya malu dan nggak PD ngaku sebagai orang Yogya, aslinya saya mah cintaaa banget sama kota ini. Iyaa, kota ini banyak mengajarkan saya tentang sopan santun dan etika bergaul terhadap sesama. Tahulah ya, namanya tinggal di luar Jawa sejak lahir dan sering pindah tempat, saya nggak terlalu paham budaya setempat. Mulai ngerti belajar tata krama yang sesungguhnya, ya, di Yogya ini. Sampai kebiasaan memanggil orang dengan sebutan “Mas dan Mbak” untuk menghormati mereka yang baru kita kenal dan belum tahu namanya, semua ada etikanya.

Nah, sekarang saya mau nularin kecintaan terhadap Yogyakarta ini untuk kamu yang baca tulisan ini. Ada 3 alasan yang bakal saya jabarkan, kenapa sebaiknya kamu harus tinggal di kota Gudeg ini. Doakan, yess,  tulisan ini nggak bikin saya diprotes sama orang sekota Gudeg karena ngerasa sebel kota mereka bakal lebih penuhhh dan macet kalau ketambahan penduduk baru lagi…. 🤣

Biaya Hidup Murah

Yuhuuu… udah bukan rahasia lagi, mah, ini! Yogya memiliki standar biaya hidup yang lebih murah daripada kota wisata lainnya di Indonesia. Es jeruk di sini masih ada yang Rp3.000 perak, Guys! Gorengan di pasar desa deket rumah masih ada yang Rp500, dhab! Kagak boleh ngiri deh ya yang nggak tinggal di sini, kalau mau ngirit, yuk, tinggal di Yogya aja! 😅

Sayur Rp3.000 udah bisa buat makan sehari, bukk! Dan ini yang bikin saya makin maless masak. Lhaa,… beli sayur segitu aja sehari belum tentu habis dimakan. Udah ngirit gas, irit bumbu, bawang putih, bawang merah, cabe. Kita tinggal goreng lauk tahu, tempe, telur, perkedel. Apalagi yang mau dipermasalahkan? Toh, makanan kalau udah lewat dari leher nggak kerasa lagi kan enaknya? Output-nya jadi sama aja #upsss 🙈 Maaff maaff… ini adalah salah satu isi ceramah dalam kajian seorang ustadz, bahwa makanan mahal itu sebenarnya tak berharga, karena setelah lewat dari leher dia akan menjadi sama bentuknya dengan makanan yang murah. Bener, kan?

Masyarakatnya Ramah dan Sederhana

Ini yang di awal tadi saya tulis, bahwa Yogya adalah kota yang memiliki peradaban, sopan santun dan etika. Terlepas saat ini semakin banyak percampuran budaya ada di kota ini, akibat banyaknya pendatang baru yang selalu meningkat setiap tahunnya, tapi sopan santun, terutama di pedesaan, masih cukup kuat. 

Di kota ini, jangan pernah melihat seseorang dari penampilannya. Mahasiswa naik sepeda, itu sudah biasa. Kepandaian dan kualitas seseorang di kota ini tak dapat kita nilai dari penampilannya. Di desa, mungkin kamu akan melihat sepertinya masyarakatnya hidup apa adanya, cuma dari bertanam padi atau cabe. Padahal kalau kita cari tahu lagi, ada di antara mereka yang dalam satu keluarga memiliki ternak sapi 3-4 ekor. Kalau 1 ekor sapi yang kecil saja laku dijual 17-20juta, berarti silakan total berapa sebenarnya kekayaan mereka. Belum lagi jika panen cabe sedang tepat masa naiknya, sekali panen bisa dapat 1 sepeda motor matic, lho! Tapi itulah, mereka tetap biasa saja. Punya tidak punya ya tetap humble, rendah hati, merasa bukan siapa-siapa. Inilah NILAI MAHAL yang saya pelajari dari mereka.

Banyak Tempat Wisata Cantik dan Kuliner Nusantara Lengkap

Ini juga bukan rahasia lagi. Saat ini makin banyak tempat wisata instagramable yang tentu saja cantik, kekinian, plus murah meriah untuk memuaskan naluri dan nafsu berfotomu *ampunn bahasanya 😆

Tempat kulineran juga nggak mau kalah. Sajian khas dari Sabang sampai Merauke ada di sini. Mi Aceh, pempek Palembang, soto Banjar, teh tarik Melayu, sate Padang, nasi goreng Medan, es pisang ijo, palu butung, coto Makassar, martabak Bandung, ketoprak Jakarta, nasi rawon Madiun.. hemmm… hati-hati, kolesterol naik kalau tinggal di sini 🤣

Nggak heran, ada beberapa teman wanita yang tetap tinggal di Yogya bersama anak-anaknya, sementara suami mereka bekerja di luar kota Gudeg ini. Ada yang hanya berbeda pulau saja, tapi banyak juga yang LDR-an berbeda negara alias si suami bekerja di luar negeri. Ada beberapa alasan kenapa mereka memilih LDR-an. Selain kondisi Yogyakarta yang dianggap lebih kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan pendidikan anak-anak mereka, hematnya biaya hidup di kota ini juga menjadi salah satu alasan lainnya.

Nah, udah cukup yak, 3 alasan tadi sudah sangat mewakili kenapa kamu harus tinggal di Yogyakarta. Tolong jangan lempari saya pakai bakpia Incess Syahrini, atau cake Jogja Scrummy-nya Dude Harlino, atau kue Mamah ke Jogja-nya Zaskia Mecca, dan juga cake Chussy Cheese-nya Ria Richis, plisss, karena telah mengompori para imigran untuk pindah ke kota ini 😁

Mungkin ada di antara kamu yang mau menambahkan alasan lagi, kenapa harus tinggal di Jogja Istimewa ini? 💕
.

💜💙💚

Spread the love

40 thoughts on “3 Alasan Kenapa Kamu Harus Tinggal di Yogyakarta”

  1. duh makanan murah itu yang bikin aku mupeng heu. Tapi enggak jadilah nanti aku makan terus, abis itu jadi gendut, huhu. Tinggal di jakarta aja yang serba mahal biar bisa diet *tapi semua itu wacana tetep wkwkwkkw.

  2. Mba Hastinnnnn, kamu tuh mau nulis tentang Yogya atau ngendorse kue artis, sehhh?
    Btw, ulasanmu malah bikin saya takut tinggal di Yogya. Kulinernya mah, gak kuat. Bisa-bisa saya jadi sebesar gajah kalau tiap hari disuguhi kuliner enak dan murah meriah……..

  3. Jogja selalu istimewa di hatiku, meski tidak lahir di Jogja, tapi sejak SMP hingga kuliah dan bekerja aku tinggal di Jogja.
    Dan dapat suami orang Jogja pula. Jadi, mudik ke Jogja selalu jadi hal yang special bagi kami sekeluarga…
    Meski banyak kuliner murah dan yummy, tapi heran kok saya gak bisa gemuk tinggal di Jogja ya mbak? hehehe…

  4. Pernah setaon di Jogja, tepatnya di Sleman. Karena saya orang Jatim jadi keliatan jelas bukan orang sana, ngomongnya ‘kasar’. Ahaaa. Yaa saya suka makanannya murah2 dan cocok di lidah saya. Paling suka sego kucing di angkringan. Enyaaaak

  5. Setuju 3 pointnya. Aku hampir sering banget ke jogja mba.. udah 6x kalo tidak salah. Dan gak pernah bosen. Sampe-sampe dulu tiap kali ngelamar kerja ak selalu centang Yogya sebagi kota kedua penempatan sesudah Bandung. Untukku Yogya selalu kurindukan..

  6. 3 alasannya bikin mupeng mbak😅 tapi karena saya belum pernah injak Jogja jadi bisa jalan-jalan ke Jogja aja udah bersyukur banget. Yah, semoga bisa ke sana suatu hari nanti 🙂

  7. wah kebalikan ya Mbak, kalau saya lahir dan besar di Klaten, sebelahe Jogja, sekarang tinggal di Sumatera. Memang ya disana itu makanan murah meriah, kadang tuh iri dengan gaji PNS vertikal disana yang sama dengan disini padahal biaya hidup bisa dua kali lipat.
    Btw artikel ini bikin saya kangen rumah, mau pulang harga tiket gonjang ganjing hiks *malah curhat

  8. Kalau saya mah nggak berniat tinggal di Yogya, Mbak. He… Cuma, kalau kegiatan dinas, meski destinasinya ke kota ini. Aneh juga sih, tahun kemarin dua kali menapakkan kaki di Yogya. Mungkin, alasannya krn kuliner dan wisatanya yang cihuy banget, sehingga berduyun-duyun kami mendatangi Yogya.

  9. saya salah satu orang yang memiliki keinginan untuk bisa hidup di Jogja Mbak Hastin. Mungkin hanya mimpi, tapi aku yakin suatu saat nanti saya akan menginjakkan kaki di Jogja. selama ini belum pernah ke Jogja. heheheh

  10. Buat saya … Yogya memang ngangenin. Selain karena 3 alasan di atas, di kota pendidikan ini saya punya cerita kenangan tersendiri 😊😊. Ohya..saya juga sangat menyukai wisata sejarah yang banyak terdapat di Yogya.

Tinggalkan Balasan ke Dewi hepy Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.