Me & My Story

Belajar itu bisa dari mana saja 🙂
Seperti kata pepatah, “Experience is The Best Teacher”..

Hal ini amat sangat saya percaya, karena kedewasaan & kematangan berpikir yang tumbuh dalam diri saya sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang menurut saya tidak mudah, tapi Alhamdulillah bisa saya & keluarga lalui 🙂

Saya tumbuh dalam keluarga yang Alhamdulillah berkecukupan, meski tidak sangat berlebihan.

Menurut cerita ibu, kehidupan keluarga mulai membaik setelah saya mulai lahir.
Sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara (kakak saya laki-laki), masa kecil adalah masa yang menyenangkan karena anak bungsu selalu disayang *katanyaaa* 😀 meski tidak sepenuhnya benar..
Buktinya, kalo nakal tetep aja saya dimarahin hehehe 😉

Saya tumbuh sebagai anak yang sedikit pemalu, karena masa kecil saya selalu berpindah-pindah mengikuti tugas Almarhum ayah yang kebetulan selalu dipindahkan ke beberapa kota kabupaten kecil di propinsi NTB.
Kabupaten Bima, Lombok Tengah, Lombok Barat adalah wilayah yang pernah menjadi nostalgia masa kecil saya 🙂

Selain pemalu, saya juga tumbuh menjadi anak yang keras kepala dan Alhamdulillah, menjadi sangat tegar menjalani sisi pahit kehidupan ini 🙂

Saat ayah sakit stroke di masa-masa akhir kuliah saya, dan sempat membuat Laporan Magang sebagai syarat kelulusan saya terbengkalai, akhirnya bisa saya lewati.

Saat cita-cita menjadi seorang Jurnalis di media elektronik ibukota yang sudah sangat matang direncanakan harus saya kubur dalam-dalam karena sakit ayah saya tsb, akhirnya juga bisa saya maklumi.

Dan saat akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja untuk merawat ayah saya di rumah dalam kelumpuhannya di 3 tahun terakhir penyakitnya, Alhamdulillah, saya sendiri yang memutuskannya..

Dan ketika akhirnya beliau harus dipanggil menghadap Sang Khalik di tahun ke-6 masa sakitnya, tak ada penyesalan tersisa, karena saya tau saya sudah memutuskan yg terbaik untuk diri saya & juga untuk kebahagiaan ayah tercinta.

So.. tak kan pernah ada yg sia2 selama kita mampu menjalani sesuatu yg kita yakini 😉

Me & My Story

Belajar itu bisa dari mana saja 🙂
Seperti kata pepatah, “Experience is The Best Teacher”..

Hal ini amat sangat saya percaya, karena kedewasaan & kematangan berpikir yang tumbuh dalam diri saya sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup yang menurut saya tidak mudah, tapi Alhamdulillah bisa saya & keluarga lalui 🙂

Saya tumbuh dalam keluarga yang Alhamdulillah berkecukupan, meski tidak sangat berlebihan.

Menurut cerita ibu, kehidupan keluarga mulai membaik setelah saya mulai lahir.
Sebagai anak bungsu dari 2 bersaudara (kakak saya laki-laki), masa kecil adalah masa yang menyenangkan karena anak bungsu selalu disayang *katanyaaa* 😀 meski tidak sepenuhnya benar..
Buktinya, kalo nakal tetep aja saya dimarahin hehehe 😉

Saya tumbuh sebagai anak yang sedikit pemalu, karena masa kecil saya selalu berpindah-pindah mengikuti tugas Almarhum ayah yang kebetulan selalu dipindahkan ke beberapa kota kabupaten kecil di propinsi NTB.
Kabupaten Bima, Lombok Tengah, Lombok Barat adalah wilayah yang pernah menjadi nostalgia masa kecil saya 🙂

Selain pemalu, saya juga tumbuh menjadi anak yang keras kepala dan Alhamdulillah, menjadi sangat tegar menjalani sisi pahit kehidupan ini 🙂

Saat ayah sakit stroke di masa-masa akhir kuliah saya, dan sempat membuat Laporan Magang sebagai syarat kelulusan saya terbengkalai, akhirnya bisa saya lewati.

Saat cita-cita menjadi seorang Jurnalis di media elektronik ibukota yang sudah sangat matang direncanakan harus saya kubur dalam-dalam karena sakit ayah saya tsb, akhirnya juga bisa saya maklumi.

Dan saat akhirnya saya memutuskan berhenti bekerja untuk merawat ayah saya di rumah dalam kelumpuhannya di 3 tahun terakhir penyakitnya, Alhamdulillah, saya sendiri yang memutuskannya..

Dan ketika akhirnya beliau harus dipanggil menghadap Sang Khalik di tahun ke-6 masa sakitnya, tak ada penyesalan tersisa, karena saya tau saya sudah memutuskan yg terbaik untuk diri saya & juga untuk kebahagiaan ayah tercinta.

So.. tak kan pernah ada yg sia2 selama kita mampu menjalani sesuatu yg kita yakini 😉

Kisah Perpanjangan SIM A & C :)

Ceritanya, tanggal 25 Juli 2014 ini SIM A & C saya akan memasuki masa pensiun 🙂
Setelah ditimbang-timbang, ada baiknya saya mengurus perpanjangan sebelum tanggal 25 Juli itu. Hmmm… kenapa?? Yess!! Berhubung tanggal 28 Juli ini adalah Hari Raya Idul Fitri, jadi bisa dibayangkan betapa sibuknya kegiatan menjelang Hari Raya tersebut. Takutnya soal SIM tidak lagi saya ingat menjelang tanggal tersebut 😀

Akhirnya diputuskan untuk melakukan perpanjangan seminggu sebelumnya, kalo bukan tanggal 14 Juli, ya tanggal 15 Juli.

Beberapa hari sebelumnya saya sudah sibuk tuh browsing di internet mengenai tarif resmi perpanjangan SIM A & C di internet. Alhamdulillah dapet tarif resmi dari akun Divisi Humas Mabes Polri, yaitu :
– Perpanjangan SIM A : Rp. 80.000,-
– Perpanjangan SIM C : Rp. 75.000,-

Penting untuk saya mengetahui taif resmi ini karena sekarang banyak banget tarif-tarif yang tidak sesuai dengan aslinya. Biasanya beda kota beda tarif. Padahal tarif resmi itu kan berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia kan?? Alangkah kasihan saudara-saudara kita di daerah yang beberapa tulisanmereka di blog pernah saya baca dan dikenai biaya lebih besar dari tarif aslinya.

Saya udah rencana mau perpanjangan di SIM Corner Ambarrukmo Plaza yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah, dibandingkan harus ke Polres Sleman, Yogyakarta, yang ampuuun deh jaraknya, sekitar 15 km ada deh kalo diitung-itung..

Nah, pas tanggal 15 Juli 2014 langsung deh dengan PD dan penuh keyakinan saya melaju ke Ambarrukmo Plaza 🙂
Kebetulan ada Satpam di pintu masuk, saya tanya sambil basa-basi sebentar, dilantai mana pelayanan SIM Corner. Daaaann.. waduuh.. jantung saya serasa berhenti berdetak!!
Ternyata eehh.. ternyata.. pelayanan SIM Corner udah ga ada lagi sejak bulan Juli ini huhuhu 🙁 Saya dianjurkan utk ke SIM Corner di Ramai Mall.
Huhuhu… pusing kepala saya, karena Ramai Mall itu ada di kawasan Malioboro yang jaraknya cukup jauh dari Ambarrukmo Plaza.

Sebelumnya saya juga sempet browsing kalo ada mobil SIM Keliling di Gembiraloka yang tidak terlalu jauh dari Ambarukmo Plaza.
Akhirnya cobalah saya kesana sebelum ke Ramai Mall, siapa tau berjodoh dengan SIM Keliling .. Ternyataaa ditolak jugaa.., karena SIM Keliling itu cuma utk penduduk Kodya, bukan utk penduduk Sleman seperti saya #uhhuk..

Kadung udah keluar rumah, meski sudah tengah hari lanjut deh perjalanan ke Ramai Mall Malioboro. Lha daripada saya balik pulang kerumah & kembali lagi besok, tentunya akan menghabiskan waktu lagi kan??
Hmmmm.. ternyata sampai disana tetep antri meskipun bulan Ramadhan 🙂 & loket baru baru buka lagi jam 13.30 setelah istirahat 1,5 jam..

Baiklah, akhirnya, hidup itu memang butuh perjuangan 😀
Yg diperlukan adalah sabar, tabah & tetep ikhtiar..
Akhirnya.. jadi juga 2 SIM itu menjelang jam 3 sore.. 🙂
Alhamdulillah, meski harus keliling kota seharian di bulan Ramadhan plus kena guyuran hujan berkali-kali,  anggap saja itu adalah perjuangan 😉 Dan mudah-mudahan Allah Swt. menerima amal ibadah puasa kita, amiinnnn..