Peluang Penghasilan dari Blog, Bukan Sekadar Isapan Jempol Belaka

Penghasilan dari blog

Mendapat penghasilan dari blog? Jujur, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Beberapa kali pernah saya tulis di sini bahwa blog ini saya buat tahun 2013 dalam keadaan gaptek dan belum memiliki komputer. Mau bikin dari smatrphone? Ehm, lupakan! Waktu itu saya belum punya smartphone android. Untuk mengunggah foto ke media sosial pun harus saya lakukan dari warnet, Lalu, apakah saya menyerah dan enggak jadi bikin blog? Alhamdulillah, tidak. Saya tetap nekat pergi ke warung internet dan rela menghabiskan waktu berjam-jam demi membuat blog berbasis WordPress ini.

Beberapa teman yang sudah terlebih dahulu berkecimpung dalam dunia blogging menyarankan untuk membuat blog dari platform Blogspot yang kabarnya lebih mudah daripada WordPress. Namun, entah kenapa, saya justru merasa tertantang untuk langsung membuat blog berbasis WordPress.

Waktu itu, tujuan bikin blog sebenarnya hanya untuk memaksimalkan bisnis online yang saya jalani. Sama sekali tidak pernah terpikir untuk mendapatkan penghasilan dari blog seperti seorang bloger profesional. Yup, saya masih terlalu lugu saat itu. 🙂 Perlahan tapi pasti, jalan rezeki menggiring saya menemukan komunitas pertemanan yang membuat ilmu saya tentang optimasi blog bertambah.

Lalu, apa saja yang saya lakukan sehingga blog ini akhirnya bisa menghasikan, meskipun belum seberapa?

Yang Harus Dilakukan agar Mendapat Penghasilan dari Blog ala Saya

Dari survei pada tahun 2017, ada peningkatan jumlah bloger di negara kita. Sekitar 3,8% atau 3 juta orang dari total pengguna internet aktif di Indonesia adalah bloger. Jumlah ini ternyata terus meningkat dibanding tahun 2015 yang cenderung menurun, hanya sekitar 3,5% dari jumlah keseluruhan pengguna internet. (Sumber: Tirto.id)

Nah, dari sini sebenarnya bisa kita lihat, meskipun saat ini mayoritas netizen mungkin lebih suka menjadi kreator konten secara visual daripada menulis di blog, ternyata keberadaan bloger tetap dibutuhkan, terutama dalam hal memasarkan dan mempromosikan produk baru di tengah masyarakat.

Memang, bukan rahasia lagi kalau minat baca di Indonesia masih rendah. Menurut data dari UNESCO pada tahun 2016 saja, minat  baca masyarakat Indonesia masih sekitar 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma satu orang yang rajin membaca! Padahal, dari segi infrastuktur, peringkat Indonesia bisa dikatakan berada di atas negara-negara Eropa.

Untuk menyiasati ketidaksukaan membaca tulisan yang terlalu panjang, penyampaian informasi di blog sebenarnya bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti misalnya, dalam bentuk infografis atau penyisipan video di antara tulisan. Mereka yang imajinasinya cenderung visual tentu lebih tertarik dengan sisipan beraneka bentuk informasi berupa gambar, tanpa harus kehilangan esensinya. Sampai di sini, peluang penghasilan dari blog tentunya masih sangat tinggi, bukan?

Saya akhirnya memutuskan mulai serius mengisi blog di tahun 2018, lima tahun setelah blog ini saya buat. Beberapa hal awal yang saya lakukan antara lain:

1. Membeli domain dan hosting

Untuk WordPress sendiri, proses membuat blog menjadi ber-TLD (top level domain) memang membutuhkan dana yang lumayan ya daripada Blogspot, hehehee… Kalau Blogspot cukup melakukan pembelian domain sudah bisa menjadi TLD, maka WordPress membutuhkan domain dan hosting sekaligus. Saya yang gaptek, alhamdulillah, memberanikan diri melakukan satu langkah maju dengan mengubah blog ini menjadi TLD agar lebih profesional dan mudah diingat. Pasti akan selalu ada pilihan sekaligus jalan kalau kita ingin maju dan memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

2. Melakukan monetisasi AdSense

Setelah kelar proses TLD blog, langkah selanjutnya adalah mendaftarkan blog ke Google AdSense untuk monetisasi. Jujur, saya tidak berpikir materi dulu sampai di sini. Intinya, saya hanya melakukan proses ATM (amati, tiru, dan modifikasi) semua langkah yang dilakukan oleh para bloger senior.  Saya percaya, hasil pasti mengikuti.

3. Bergabung dengan komunitas penulis dan bloger (meskipun hanya terbatas secara online dulu)

Untuk karakter saya yang cenderung introver dan tidak suka berkumpul, bergabung dengan komunitas secara online adalah suatu keberuntungan. Saya tetap nyaman dan bisa mengoptimalkan diri meski hanya dari rumah. Memiliki teman dari berbagai daerah, rutin melakukan blogwalking (saling kunjung dan berkomentar) pada blog teman-teman, diskusi dan saling mengasah ilmu blogging meski secara online sangat membantu pertumbuhan rasa percaya diri saya sebagai seorang bloger pemula. Komunitas IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis) adalah komunitas menulis pertama yang sangat berperan dalam totalitas kehadiran saya di dunia penulisan artikel, buku, dan kemudian merambah ke dunia blogging.

4. Memberanikan diri mendaftar lowongan pekerjaan untuk bloger 

Setelah rasa percaya diri meningkat, langkah selanjutnya adalah mendaftarkan diri di berbagai komunitas yang menyediakan info pekerjaan untuk bloger. Seiring berjalannya waktu, tawaran pekerjaan dari klien tidak hanya didapatkan dari info komunitas saja. Justru banyak klien yang menemukan blog saya dari Google dan kemudian menghubungi sendiri lewat e-mail untuk memberikan berbagai bentuk penawaran kerja sama. Sudah lumayan bisa bernapas lega sampai di sini karena tandanya apa yang kita lakukan mulai ada hasilnya.

5. Mengikuti lomba blog

Hanya sampai di situ? Kembali kepada niat dan tujuan awal masing-masing, untuk apa memiliki blog? Untuk saya sendiri, menulis di blog merupakan sarana meng-upgrade diri  menjadi lebih baik, sekaligus berbagi. Apabila memang ada lomba yang memungkinkan untuk saya ikuti, saya pasti akan ikuti.  Pengalaman adalah guru yang terbaik. Jadi, percayalah, akan selalu ada yang kedua, ketiga, dan seterusnya setelah tahapan pertama berhasil kamu lalui.

Penghasilan dari blog
Langkah awal yang dilakukan untuk mendapat peluang penghasilan dari blog

Mempelajari Ilmu Blogging

Apakah untuk mendapat penghasilan dari blog hanya cukup menulis dan blogwalking saja? Ternyata tidak semudah itu. Meski mengaku gagap teknologi, mau tidak mau saya harus tetap belajar tentang hal-hal teknis, seperti apa itu DA/PA (domain authority dan page authority),  spam score, Alexa Rank, dll.

Meski demikian, sebaiknya jangan hanya terfokus mengejar DA, apalagi sampai patah hati ramai-ramai kalau ada kasus DA turun massal seperti pernah terjadi beberapa waktu lampau. Banyak teman-teman yang ketika DA-nya turun kemudian jadi hilang semangat dan kecewa.

Saya percaya, kalau memang konten yang kita buat berkualitas dan tidak asal-asalan, Google juga bisa membaca, kok. Dari hasil statistik blog bisa terbaca bahwa pengunjung blog ini rata-rata berasal dari mesin pencari Google. Jadi, penting sekali untuk kita menulis konten di blog dengan baik, bukan sekadar memenuhi permintaan klien semata dan langsung terima pembayaran. Untuk saya pribadi, semua ini adalah bentuk dari tanggung jawab pekerjaan kita. Klien melihat dan klien mencatat.

Peluang Penghasilan dari Blog

Kalau kita sudah melakukan semua langkah dasar yang umumnya dilakukan para bloger, peluang penghasilan dari blog mulai terbuka dengan sendirinya.

Kemudian dari sini muncul pertanyaan berikutnya. Berapa sih penghasilan seorang bloger sebenarnya? Untuk hal satu ini, semua tergantung kepada kemampuan bloger yang bersangkutan. Hal ini juga saya alami. Ada banyak peluang penghasilan yang dapat dimaksimalkan lewat blog, antara lain:

1. Melalui penawaran sponsored post

Biasanya, klien memberikan penawaran dalam bentuk penulisan produk mereka di blog kita disertai pemberian backlink yang mengarah kepada website klien.

Lebih dari itu juga memungkinkan, seperti yang pernah saya alami. Ada salah satu institusi perbankan nasional meminta saya meliput kegiatan sosial mereka dalam bentuk pemberian bantuan di beberapa sekolah dan masyarakat terdampak gempa di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat selama 2 hari. Semua transportasi dan akomodasi ke Lombok dari kota domisili saya, Yogyakarta, seperti tiket pesawat, hotel bintang lima, dan sopir yang antar jemput setiba di sana tentu saja sudah disiapkan dengan sangat baik oleh klien.

Betapa beruntungnya saya saat itu dapat bertemu dengan teman-teman wartawan lokal maupun nasional, dapat melihat dan berdialog langsung dengan masyarakat menengah ke bawah yang mampu bangkit lebih berdaya setelah terkena bencana. Tugas saya setelah itu adalah menulis beberapa laporan hasil kegiatan tersebut untuk internal perusahaan mereka, sekaligus diminta menulis laporan perjalanan untuk ditayangkan di blog pribadi dan media sosial saya.

Penghasilan dari blog
Bertemu dengan perempuan inspiratif pengepul rajungan dari Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat (Dok. pribadi)
2. Penawaran review produk dan endorsement

Bentuk kerjasama lainnya adalah mengulas atau memberikan review suatu produk sesuai keinginan klien. Untuk review produk ini biasanya bloger mendapat kompensasi produk gratis, dan ada pula yang kemudian diikutsertakan ke dalam lomba blog berhadiah uang tunai maupun produk klien yang bersangkutan. Dari sini juga ada beberapa yang meminta saya melakukan endorsement di media sosial seperti Instagram, Facebook, atau status WhatsApp.

Beberapa produk yang pernah saya review dari klien antara lain produk perawatan tubuh, produk kesehatan, dan review buku. Kisaran harga produknya mulai hanya puluhan ribu, sampai ada juga yang mengirim paket produk lengkap dengan harga di atas 1 juta rupiah.

Penghasilan dari blog
Review dan endorsement produk dari klien (Dok. pribadi)
3. Monetisasi Google Adsense

Untuk mendapat penghasilan dari Google AdSense ini tidak semua bloger dapat meraihnya dengan mudah. Selain harus memiliki lalu lintas (traffic) kunjungan blog yang tinggi, minimnya perhitungan klik dari iklan Google juga membuat kita tidak perlu terlalu banyak berharap. Let it go saja, sambil menyelam minum air, dan teruslah berkarya memaksimalkan kualitas konten.

4. Jasa pembuatan website dan template blog

Membuka jasa pembuatan website dan desain template blog merupakan sumber penghasilan dari blog yang cukup menjanjikan. Ada beberapa bloger seperti saya misalnya, yang tidak mau terlalu berkutat dengan hal teknis karena memang tidak terlalu paham. Jadi, jasa dari mereka yang berkompeten dalam masalah ini sangat dibutuhkan.

5. Membuka kelas blog dan penulisan

Tidak kalah menariknya, menjadi seorang mentor di kelas pembuatan blog dan penulisan konten juga sangat direkomendasikan kalau kamu merasa memiliki kemampuan menulis yang baik. Jika memang tak paham hal teknis pembuatan blog, tak ada salahnya berkolaborasi dengan sahabat bloger lainnya yang memang ahli di bidang blogging. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui karena peserta pelatihan bisa mendapat dua manfaat sekaligus.

Kelas berbayar semacam ini biasanya akan berlanjut, bukan hanya sekali. Jika batch 1 dinilai berhasil dan banyak peserta yang puas, peserta dengan sendirinya akan merekomendasikan kepada teman-temannya dan kita bisa membuka kembali pelatihan batch 2, 3, dan seterusnya.

penghasilan dari blog
Salah satu peluang pelatihan yang bisa diadakan oleh seorang bloger, tidak terbatas hanya penulisan blog saja, tetapi juga pelatihan menulis konten artikel dan self editing (Dok. pribadi)
6. Tawaran membuat naskah buku

Peluang ini mungkin masih jarang, ya, tetapi alhamdulillah, saya pernah mengalaminya. Waktu itu, seorang editor dari salah satu penerbit tertarik dengan profil dan tulisan-tulisan saya di blog yang ia temukan melalui pencarian di Google. Tawaran pun ia kirimkan melalui e-mail, mengajak saya menulis naskah buku pengayaan untuk anak usia sekolah. Nah, sampai di sini, cukup banyak kan penghasilan dari blog yang dapat dimaksimalkan?

7. Mengikuti lomba blog

Last but not least, seperti apa yang saat ini saya lakukan, yaitu mengikuti lomba blog. Dengan mengikuti lomba blog, sebenarnya kita sedang berupaya mengasah kemampuan diri untuk menulis sesuai tema yang diminta oleh pihak penyelenggara lomba, bukan sekadar mengejar hadiahnya. Yang perlu kita pahami adalah poin-poin lomba blog yang kita ikuti sudah masuk di dalam isi konten yang ditulis.

Penghasilan dari blog
Peluang penghasilan dari blog yang bisa kita optimalkan

Pentingnya Provider Internet yang Stabil

Bekerja di dunia online takkan memiliki nyawa jika tidak didukung oleh jaringan internet yang stabil. Sebagai pelanggan setia IM3 Ooredoo sejak launching perdananya di tahun 2001 hingga saat ini (wow, sudah 19 tahun tidak terasa, ya) kesetiaan saya pada IM3 Ooredoo tetap terjaga.  Bahkan, nomor kartu perdana sejak pertama kali menggunakan IM3 di tahun 2001 tetap tidak pernah berganti. Nomor kartu dengan 11 digit angka yang sampai saat ini tetap saya gunakan.

Ternyata, IM3 kini semakin dewasa justru semakin menjadi. Berbagai produk layanan yang diluncurkan pun makin banyak diminati. Salah satu produk terbaru IM3 adalah paket IM Preneur yang memungkinkan pengguna membagi kuota bisnis dalam jumlah besar kepada 25 orang sekaligus di dalam satu tim. Dengan budget mulai 50 ribu sampai 1 juta rupiah per bulan, pemilik bisnis dapat mengatur kebutuhan komunikasinya dengan berbagai lini dan divisi bisnisnya melalui pembagian kuota hingga maksimal 320 GB. Pembagian kuota tim ini dapat digunakan untuk pelanggan prabayar maupun pascabayar, asalkan nomor yang bersangkutan sudah terdaftar dalam grup/tim yang akan diberikan kuota.

Penghasilan dari blog
Keuntungan paket IM Preneur (Foto dalam grafis diambil dari web resmi Indosatooredoo.com)

Webinar IM3 Ooredoo X IIDN

Untuk memaksimalkan peluang penghasilan dari blog, Komunitas IIDN bersama IM3 Ooredoo mengadakan webinar 25 episode yang berlangsung sejak tanggal 29 Agustus hingga 3 Oktober 2020.

Dari semua webinar yang saya ikuti, ada satu yang paling berkesan, yaitu webinar tentang optimasi Twitter yang menghadirkan pembicara Kartika Putri Mentari dari HIIP Influencer pada tanggal 25 September.  Bukan saja karena temanya yang menarik, tetapi karena dalam webinar tersebut saya juga terpilih menjadi salah satu peserta terbaik ketika diberi tugas oleh narasumber membuat postingan di Twitter sesuai kriteria pembahasan.

penghasilan dari blog
Webinar IM3 Ooredoo X IIDN tentang peluang penghasilan dari blog

Dalam webinar episode 18 tersebut, narasumber membahas tentang cara optimasi media sosial Twitter untuk mendukung blog. Salah satu tipsnya adalah dengan menuliskan caption yang menarik agar pembaca tertarik membaca link blog yang dibagikan. Jangan lupa, sertakan pula gambar yang sesuai dengan caption.

Penghasilan dari blog
Screen capture status Twitter yang terpilih dalam webinar episode 18

Terima kasih IM3 Ooredoo dan IIDN. Saya berjanji, semua ilmu yang didapatkan dari webinar pasti segera saya praktikkan karena peluang penghasilan dari blog sebenarnya tidak hanya berupa materi, tetapi juga pada bertambahnya pengalaman dan mengayakan relasi.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog IM3 Ooredoo X IIDN – Mengoptimalkan Peluang Dunia Blog.

Penghasilan dari blog

Baca juga

Referensi

https://tirto.id/perkembangan-blogger-indonesia-menuju-hari-blogger-nasional-ke-12-eiLl

https://ekbis.sindonews.com/berita/1444945/33/tingkat-baca-indonesia-masih-rendah-sri-mulyani-gencarkan-literasi

www.indoworx.com/rata-rata-penghasilan-blogger/

https://www.kompasiana.com/nando13/5dc5cad3d541df53f91f6873/tentang-domain-authority-dan-page-authority?page=all

https://moz.com/help/link-explorer/link-building/spam-score

https://indosatooredoo.com/id/personal/produk/impreneur

Pien Tze Huang Bisa Menyembuhkan Berbagai Macam Penyakit? Benarkah?

Kamu pasti tahu ‘kan bahwa obat Cina sangat manjur dan terkenal mantap khasiatnya. Selain karena bahan pembuatannya yang berasal dari alam, juga karena obat Cina diwariskan secara turun-temurun dari generasi terdahulu dan masih tetap bertahan hingga sekarang. Nah, Pien Tze Huang merupakan salah satu ramuan asal Cina yang sudah ada sejak lama di pasaran obat Indonesia.

Sebagai salah satu obat berbahan alami dengan bermacam khasiat yang luar biasa, menjadikan Pien Tze Huang dipercaya oleh banyak konsumen dan pasien yang merasa sangat terbantu dengan kinerja obat ini. 

Asal kamu tahu, obat ini bisa digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, lo, seperti lever, tifus dan juga luka yang timbul pasca-operasi. Beberapa khasiatnya antara lain:

  • Memelihara fungsi hati
  • Mengobati hepatitis, baik akut maupun virus
  • Mempercepat penyembuhan luka pasca-operasi, akibat senjata tajam, dan luka lainnya.
  • Melancarkan peredaran darah
  • Menyembuhkan radang tengorokan dan sariawan
  • Melawan infeksi yang diakibatkan oleh bakteri, dll.

Apakah obat ini benar-benar manjur dan efektif untuk menyembuhkan penyakit kronis seperti lever atau hepatitis? Sebenarnya enggak ada yang tahu persis gimana reaksi obat saat digunakan menyembuhkan beberapa penyakit kronis di atas. Tapi banyak, kok, respons positif dari mereka yang sudah pernah menggunakan ramuan ini dan terbukti bisa sembuh dari penyakit tadi.

Pien Tze Huang sendiri merupakan obat tradisional asli Cina yang telah melegenda lebih dari 500 tahun lalu. Waktu telah membuktikan bahwa keampuhan dan khasiatnya tetap terjaga sampai hari ini. Banyak masyarakat Cina yang berhasil sembuh dari berbagai macam penyakit setelah mengonsumsinya. Tetapi kalau kamu masih ragu, ada baiknya langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis yang biasa menangani penyakitmu, apakah boleh menggunakan Pien Tze Huang ini atau tidak.

By the way … kamu bisa mendapatkan obat ini di toko-toko resmi obat Cina, ya! Jangan sampai asal membeli di toko obat biasa karena ada kemungkinan mendapatkan Pien Tze Huang palsu yang harganya lebih murah atau di bawah harga standar.

Terus, ada satu hal lagi yang penting dan perlu menjadi perhatian. Obat Pien Tze Huang yang asli sudah memiliki izin edar resmi dari BPOM Indonesia dengan No. POM TI 164 250 351. Untuk lebih mudahnya, kamu bisa membelinya secara langsung di PT Saras Subur Abadi yang merupakan agen resmi dari obat berkhasiat ini.

Tetap jaga kesehatan, jaga pikiran dan jaga kewarasan, ya, terutama di masa pandemi COVID-19 ini . Salam sehat selalu! 🙂

Baca Juga

Stay at Home Membosankan untuk Anak? Kata Siapa?

Duhhh … maafkeun yaa, jangan kesel dong baca judul di atas, kwkwkwk …. Stay at home membosankan untuk anak? Kata siapa? *eeeaaaaa, kayak nantangin orang aja 🤭

Okeee … kalau dihitung-hitung, sudah sekitar empat bulan ini masa pandemi menghantui kehidupan kita. Dimulai sejak awal Maret 2020 lalu, hingga kini semuanya belum bisa dikatakan berjalan normal. Bolehlah pemerintah melakukan launching new normal, tapi faktanya, semua belum bisa dikatakan demikan.

Di Yogyakarta sendiri, pasien Corona terus bertambah menjadi 331 orang. Jumlahnya memang lumayan rendah dibanding kota dan provinsi lain di Indonesia, tapi hampir setiap hari selalu saja ada penambahan.

Tanggal 5 Juli 2020 saja, tercatat ada penambahan 5 kasus positif COVID-19 di provinsi ini dengan rata-rata riwayat pasien terinfeksi setelah melakukan perjalanan ke luar daerah, seperti dilansir portal berita Harian Jogja, 05/07/2020. Jadi wajar dong ya, kalau sampai detik ini saya belum merasa aman ke luar rumah untuk piknik dan jalan-jalan, apalagi sambil membawa anak untuk makan di luar. Duh, enggak dulu, deh!

Sekadar belanja ke toko dekat rumah, atau jalan pagi di sawah sekitar rumah masih oke, sih. Tapi itu pun biasanya saya lakukan sendiri, tanpa membawa anggota keluarga. Terlalu parno? Enggak juga sebenarnya. Cuma waspada aja …. 🙂

Keluhan pertama dari warga +62 sejak pandemi ini merebak mungkin sama, ya, yaitu bosan, boring, gabut, galau, stres, dan kata-kata sejenis yang memang enggak enak banget disebutin qiqiqiiii. Apalagi dengan adanya school from home, aduhhhh … kerjaan emak bertambah. Orang tua yang selama ini happy aja melepas anaknya sekolah sampai sore, termasuk saya, apalah daya, harus mendampingi anak belajar di rumah setiap hari.

Tapi bersyukurnya, anak saya nyaman aja melakukan pembelajaran dari rumah dan kewajiban stay at home ini. Kadang saya sempat khawatir juga dengan info di media sosial yang mengatakan banyak anak merasa stres dan tertekan dengan situasi ini. Saking khawatirnya, saya pernah bertanya kepada Lubna, apakah dia merasa enggak nyaman stay at home terus? Jawabannya, alhamdulillah, dia oke-oke aja. Kangen teman-teman iya, tapi kalau sampai stres alhamdulillah enggak.

Apa sih yang kami lakukan di rumah sehingga meminimalisir kebosanan anak melakukan aktivitasnya setiap hari? Lima aktivitas Lubna di rumah ini mungkin bisa membantu. Tentu saja, harus disesuaikan dengan minat dan bakat buah hati kita masing-masing, ya. 🙂

Menonton Televisi

Untuk sebagian orang, aktivitas ini mungkin tidak dianjurkan dilakukan. Tapi untuk Lubna yang saat ini mulai naik ke kelas 5, aktivitas ini menjadi salah satu kebutuhannya. Bukan salah dia, karena sejak kecil memang sudah terlanjur sering melihat kartun di televisi. Kalau mau menyalahkan, salahkan orang tuanya ya, hahahaaaa …. Apalagi dia anak yang sangat visual dan imajinatif banget. Tertarik dengan gambar, info dan aneka bentuk yang menarik. Jangan heran jika dia sangat tahu perkembangan berita terkini tentang pemerintahan, sampai kepada gosip artis. Bahkan lebih paham info-info ngehits daripada ibunya, kwkwkwk.

Menggambari Buku Tulis

Aneh? Iya, saya juga geleng-geleng kepala melihat fenomena ini. Semua buku tulisnya selama stay at home ini habis digambari, sampai-sampai ketika ada tugas dari sekolah secara online yang mengharuskan ditulis di buku, dia bingung harus menulis di mana karena buku tulis simpanannya ternyata habis semua. Duhhhh, Nakkk ….

Membaca Komik

Alhamdulillah, membaca menjadi salah satu hobinya, terutama sejak kelas 3 SD. Hal ini membuat saya mulai sering mengajaknya ke perpustakaan daerah Grhatama Pustaka untuk membaca buku-buku anak dan mengurangi aktivitas ke mal. Sejak pandemi, aktivitas ke perpustakaan ini belum bisa dilakukan lagi. Sebagai gantinya, kadang-kadang saya mengizinkannya membeli komik di toko online, atau sekali waktu browsing tentang anime di internet. Tentu saja, tetap dalam pengawasan karena Lubna adalah tipikal anak yang kepoan, heheeee ….

Menulis Blog

Nah, di masa pandemi, aktivitas Lubna menulis blog mengalami peningkatan. Bahkan ngalah-ngalahin ibunya, kwkwkwk …. Blog Lubnahasqi.blogspot.com ini dibuat satu tahun lalu, tapi jarang diisi. Setelah stay at home, hampir beberapa hari sekali blog itu selalu diisi Lubna. Enggak sampai di situ, dia mulai kepo bagaimana cara agar blognya bisa dimonetisasi oleh Google AdSense, tapi saya belum mengizinkannya qiqiqiiii. Pokoknya kalau nurutin Lubna, maunya jadi seleb aja deh, Dia seneng banget kalau ada yang baca atau komen di blognya. 😀

Menulis Buku Antologi

Buku pertama Lubna, My Mom ❤

Alhamdulillah, di akhir bulan Juni kemarin, terwujud juga keinginan Lubna menulis buku, meskipun masih berupa buku antologi bersama 13 anak lainnya. Awalnya, dia menolak ketika ibunya ini menawarkan untuk ikut menulis buku antologi berjudul My Mom. Jiwa idealismenya berontak. “Aku maunya nulis cerita komik, bukan buku biasa …” 😀 Lalu, saya nasihati bahwa semua itu pasti butuh proses, enggak bisa instan. Bikin buku satu dulu, deh, untuk batu loncatan. Setelah itu kalau mau coba bikin komik dan kirim ke penerbit mayor boleh aja. Akhirnya, setelah dimotivasi, taraaaa …. terbit juga buku pertamanya.

Setelah itu, saya pikir Lubna udah enggak mau bikin buku lagi, ehhh ternyataaaa saya salah. Dia ketagihan pengen bikin buku antologi yang ke-2, insya Allah di bulan Agustus …. 🙂 Bismillah, selama ada kesempatan ikuti aja jalannya ya, Nak!

Belajar Ilmu Dubbing (Mengisi Suara)

Ada satu keinginan Lubna yang sejak dulu sering diucapkan kepada saya. “Bu, aku pengennnn banget jadi pengisi suara kartun….” Saya sempat berpikir, kok sama ya dengan keinginan ibunya dulu? Saya pernah punya cita-cita pengen jadi dubber alias pengisi suara, tapi enggak tahu gimana cara mewujudkannya *hiksss. Zaman kuliah dulu yang saya ingat, saya pernah beberapa kali menjadi pengisi narasi (voice over) saat membuat video dokumenter bersama teman-teman untuk kepentingan mata kuliah di jurusan Komunikasi. Tapi setelah itu, enggak tahu bagaimana cara mengembangkannya. Terlebih setelah sadar bahwa suara saya ini cempreng dan enggak enak didengar 😅

Alhamdulillah, enggak nyangka, keinginan Lubna belajar menjadi seorang dubber ini Allah beri kemudahan juga. Insya Allah, pertengahan bulan Juli dia akan mengikuti pembelajaran dubbing untuk anak secara online di bawah bimbingan seorang mentor, yang sekaligus adalah seorang penyiar radio di Yogyakarta. Mohon doanya ya, Om, Tante dan kakak-kakak yang baca tulisan ini. Semoga semua proses pembelajarannya lancar-lancar aja. Aamiin.

Main Game dan Bikin Video

Jujur, sebenarnya saya termasuk tipe orang tua yang sangat membatasi penggunaan gadget untuk anak. Dibanding orang tua lain di sekolahnya, saya termasuk ketat soal ini karena sangat paham dengan pemikiran Lubna yang selalu ingin tahu dengan banyak hal di sekitarnya, termasuk di dunia maya. Kalau ada keluhan dari Lubna, “Kok aku enggak seperti teman-teman lain yang dibebaskan menggunakan gadget?” saya maklum sekali. Tapi saya percaya, setiap orang tua pasti tahu bagaimana karakter anak dan cara menghadapinya.

Saya mengizinkannya berinteraksi dengan dunia online, bikin aneka video, upload ke YouTube, dll, tapi tetap dalam pengawasan. Ketakutan saya sangat berdasar, apalagi kalau melihat video anak-anak zaman now di beberapa aplikasi hiburan yang kurang nyaman dan banyak menonjolkan konten dewasa yang tidak sopan untuk anak seusia Lubna. Kalau dilarang semua tentu tidak mungkin karena teman seusianya menggunakan aplikasi tersebut. Akhirnya saya mengizinkan, tapi dengan mengaktifkan kontrol orang tua yang disediakan. Apakah dia protes? Tentu saja…. 😀 Tapi selalu ada pilihan dari ibunya, ingin tetap memiliki akun tapi dengan pengontrolan orang tua, atau tidak memiliki akun sama sekali. Saya ibu yang berlebihan? Mungkin iya untuk ukuran ibu zaman now, ya. 🙂

Nah …. itu tadi 5 aktivitas yang biasa dilakukan Lubna selama stay at home di masa pandemi ini. Alhamdulillah, dia enggak pernah ribut ngajak jalan-jalan ke mal atau toko karena pengen belanja baju atau barang kesukaannya, misalnya. Dia sudah paham dan terbiasa dengan perilaku serba online, termasuk jika harus membeli buku atau barang, dia lebih suka buka-buka marketplace dan membandingkan harga yang tercantum di sana. Bisa tahu ‘kan mana harga terbaik yang lebih hemat, kwkwkw ….

Kayak gini nih hasil berburunya di marketplace 😄

Menurut saya, stay at home ini sebenarnya menjadi semacam ajang pengoptimalan kemampuan diri sesuai minat dan bakat masing-masing. Bukan cuma untuk anak, untuk kita yang dewasa pun masa pandemi ini bisa menjadi sesuatu yang positif, Banyak ibu-ibu hebat yang muncul potensi bisnisnya secara dadakan, seperti bisnis makanan, fesyen, dll. Intinya, semua ada di tangan kita ‘kan, ya? Mau menjadikan stay at home sebagai sesuatu yang bernilai, atau sebaliknya. 🙂

Baca Juga

Bisnis Kue di Rumah Setelah Lebaran, Siapa Takut?

Suasana Lebaran mungkin sudah berlalu, tapi masa pandemi COVID-19 tetap masih berlaku. Sedih? Emmm … jangan, yaa! 🙂 Meskipun kemarin banyak di antara kita yang enggak bisa mudik, bukan berarti semuanya tak berarti. Iyaa … bulan Ramadan dan Lebaran tahun ini memang terasa banget perbedaannya. Selain karena sedih enggak bisa kumpul keluarga untuk kamu yang terpisah jauh dari sanak-saudara, suasana pandemi ini juga sangat berpengaruh dalam bisnis penjualan, terutama bisnis kue dan fesyen.

Source: Pexels.com

Biasanya bisnis kue mengalami lonjakan penjualan yang signifikan saat Ramadan hingga menjelang Lebaran. Ini bukan rahasia lagi, karena silaturahmi menjadi hal utama saat Lebaran tiba, di mana suguhan kue dan makanan adalah sesuatu yang mau enggak mau harus diperhatikan. Kamu setuju ‘kannn kalau silaturahmi enggak akan lengkap tanpa kue-kue dan sajian yang enakkk? Hehheeeeheee ….

Terus, apa kabar bisnis kue dan makanan ini setelah Lebaran usai? Apakah ikut mati suri juga gara-gara si COVID-19? Ohhh … ternyata tidak, Esmeralda!

Tahukah kamu bahwa saat ini hampir semua orang beralih ke bisnis pembuatan dan penjualan kue. Beberapa teman yang selama ini cuma jualan produk fesyen, atau hanya diam di rumah dan fokus sebagai ibu rumah tangga, ternyata banyak, lo, yang mulai mencoba bisnis kue ini.

Ada yang langsung memproduksi sendiri sambil mengembangkan hobi barunya di masa pandemi ini, tapi banyak juga yang mulai mengawali sebagai reseller dahulu. Apa pun itu, tak masalah, karena kamu sudah berani selangkah lebih maju dengan memulai sebuah bisnis baru. Ya, ‘kan? 🙂

Jangan khawatir, kamu tak perlu takut kehabisan ide, karena banyak sekali resep-resep kekinian yang bisa dicari di internet dengan bahan yang mudah dan tidak membutuhkan waktu lama dalam proses produksinya. Tentunya, kreatifitas sangat dibutuhkan ya dalam bisnis kue ini.

Setup roti tawar

Contoh dessert kekinian yang saya suka banget saat ini adalah setup roti tawar. Bahannya yang simpel dari roti tawar yang dituangi semacam saus kental dari campuran susu, santan dan tepung maizena, plus aneka variasi dan topping di atasnya, membuat lambung terasa aman dan nyaman 😀

Oya, selain kreatifitas dan ide baru dalam pembuatannya, bahan yang berkualitas juga tak boleh diabaikan dalam bisnis kue ini. Tapi ‘kan takut juga, ya, belanja bahan kue di keramaian berhubung ada imbauan #dirumahaja?

Don’t worry, be happy! Toko Wahab adalah toko online bahan kue yang memudahkan kamu berbelanja aneka bahan berkualitas pembuatan kue, tanpa harus takut berdesak-desakan dan menghadapi kerumunan.

Salah satu bahan kue berkualitas yang dijual di toko online ini adalah coklat bubuk, selain bahan lainnya, seperti keju, susu, cokelat blok, butter, dan masih banyak lagi.

Terus, cuma itu aja keuntungannya? Enggak, dong, masih ada nih keuntungan lainnya:

  1. Dari dulu, pasti semua tahu kalau belanja online selalu menawarkan banyak jaminan kemudahan. Cuma berbekal perangkat gadget aja semua bisa kamu beli. Enggak usah repot ke luar rumah karena barang pasti langsung dikirim sampai depan rumah.
  2. Pilihannya juga dijamin banyak, mulai dari keju berbagai merk, mentega dan butter, salah satunya mentega Wisman, kemudian ada juga meses, mayones, susu full cream berbagai merk, semuanya tersedia di toko online ini. Kamu juga akan lebih mudah membandingkan harga satu produk dengan produk lainnya.
  3. Harga dijamin murah. Bahkan, tak jarang, banyak penawaran diskon yang memungkinkan kamu menjual kembali produk tersebut jika ada teman atau saudara yang membutuhkan. Jadi selain berbisnis kue, kamu juga bisa lo sekalian membuka usaha penjualan bahan kue. Sambil menyelam minum air, kata pepatah.

Masih bingung? Langsung aja kunjungi website resmi Toko Wahab dan cari produk yang kamu inginkan, ya. Kamu juga bisa berkonsultasi dengan Customer Service Toko Wahab secara langsung untuk bertanya tentang bisnis kue lewat chat box yang disediakan.

Bisnis kue setelah Lebaran dan di masa pandemi? Siapa takutttt?!

Baca Juga

Liebster Award dan 7 Fakta tentang Saya

Alhamdulillah, enggak terasa sudah masuk bulan Syawal, ya. Mohon maaf lahir dan batin sebelumnya untuk semua teman-teman yang membaca tulisan ini. Di sela hari-hari pasca-Lebaran, saya jadi ingat, ada satu janji hati yang belum terpenuhi *tsahhh, hahahaaa …. Jadi giniceritanya, beberapa waktu lalu ada seorang sahabat yang memberikan penghargaan Liebster Award kepada saya sebagai bentuk rasa sayang sebagai sesama blogger.

Sahabat yang sering saya panggil dengan nama Mbak Inna atau Kak Inna ini adalah teman lama yang sudah saya anggap sebagai sahabat sekaligus ‘guru’ alias mentor, terutama dalam hal dunia internet marketing dan segala hal yang berhubungan dengan teknologi informasi. Kami bertemu sewaktu bersama-sama menjalankan bisnis online Oriflame di tahun 2013.

Setelah terpisah sekian lama, akhirnya secara tak sengaja kami bertemu lagi di dunia online, tetapi saat ini sebagai sesama blogger. Selain sebagai blogger, sahabat saya ini adalah seorang content creator, dubber, mantan penyiar radio, dan sekarang suara renyahnya semakin eksis terdengar sebagai seorang podcaster. Tulisan-tulisan menarik tentang dirinya yang sejak dulu memang hobi narsis dan eksis bisa kamu baca di blognya, www.innaistantina.com.

By the way busway, untuk kamu ketahui, Liebster Award ini konon kabarnya berasal dari bahasa Jerman, yang artinya ‘tersayang’. Jadi penghargaan ini diberikan sebagai bentuk rangkaian silaturahmi antar-blogger secara berantai. Tapiiii … enggak cukup begitu aja, karena ada tantangan yang dikasih oleh si pemberi penghargaan ini, yaitu menjawab pertanyaan yang dia berikan. Nah, pertanyaannya apa? Suka-suka yang memberi aja, kita enggak boleh protes, hehehee ….

Sebelum mulai, saya share aturan mainnya, ya! Mana tahu ‘kan, kamu juga berniat memberikan penghargaan ini untuk teman blogger tersayang? Eits, tapi sebelumnya kamu harus tanya dulu ya kepada yang bersangkutan, apakah dia siap diberi tantangan berupa pertanyaan dan bersedia menerima Liebster Award ini. Yuk, ah, cekidot!

1. Memasang logo Liebster Award di blog.
2. Mengucapkan terima kasih kepada si pemberi award.
3. Menyematkan link blog dari si pemberi award.
4. Menuliskan 7 tantangan (fakta) tentang diri sendiri.
5. Menjawab 7 pertanyaan dari pemberi award.
6. Menuliskan nama blogger selanjutnya yang ingin diberikan Liebster Award.
7. Menyematkan link blog si penerima award berikutnya.
8. Memberi 7 pertanyaan sebagai tantangan kepada penerima award berikutnya.
9. Menuliskan aturan main Liebster Award.

7 Fakta tentang Saya

1. Introver

Kehabisan energi kalau terlalu lama di keramaian, itulah saya. Mereka yang introver membutuhkan waktu untuk menyendiri agar energinya pulih kembali. Ada kalanya saya bisa menjadi orang yang cerewet atau ramai, tapi bukan di lingkungan yang terlalu banyak orang. Di lingkungan yang besar, bisa jadi orang melihat kami, si introver, sebagai sosok yang pendiam dan tidak terlalu menonjol.

2. Jujur

Saya percaya, karakter jujur ini dapat mengantarkan kita pada kebahagiaan dan keberuntungan, meski kadang kejujuran itu begitu pahit akibatnya *tsahhh 😀 Jika keberuntungan belum datang saat ini tak mengapa, tapi kamu harus tetap percaya bahwa dengan menjadi jujur di masa kini berarti kita telah mencicil kebahagiaan untuk anak-cucu di masa depan kelak.

3. Terlihat Kalem, tapi ….

Hihiiiiiiyess, wajah saya termasuk kalemmmm. Tapiii … kamu pasti tak percaya kalau saya ini agak tomboi, kwkwk . Dulu, saya jarangggg sekali, bahkan enggak pernah pakai rok, apalagi daster, enggak banget 😀 Setelah menjadi seorang ibu dan banyak membaca dan melihat kajian online tentang pakaian muslimah yang benar, barulah mulai ikhlas menggunakan gamis dan rok kalau ke luar rumah. Kalau ke luar rumah artinya di dalam rumah masih jarang pakai rok, ya 🙂 Terus, saya juga enggak suka dandan seperti kebanyakan perempuan pada umumnya. Tapi, enggak suka dandan bukan berarti enggak ngerti tentang skin care dan produk perawatan kulit, secara saya juga pernah menekuni bidang konsultan kecantikan ini dan menjadi ‘tukang’ makeup sebelum akhirnya fokus di dunia penulisan.

4. Keras Kepala

Enggak tahu ini penyakit keturunan apa bukan, hahaaahaa …. Iya, saya termasuk ngeyel alias suka membantah orang tua. Tapi setelah dewasa, kata Bapak-Ibu, opini saya memang masuk akal, bukan sekadar membantah. Hal ini akhirnya membuat orang tua, terutama Ibu, menjadi luluh dan sering meminta pendapat saya sebelum memutuskan sesuatu.

5. Perfeksionis

Sifat serba ingin sempurna ini bak dua sisi mata uang. Di satu sisi baik, tapi di sisi lain juga bisa bikin repot dan melelahkan diri sendiri, terutama dalam hal pekerjaan. Pada akhirnya saya belajar untuk bisa menerima semua kekurangan diri dan orang lain sehingga menjadi orang yang lebih fleksibel.

6. Bosenan

Dari hasil analisis tulisan tangan dan sidik jari, saya termasuk orang yang bisa melakukan pekerjaan rutin yang terjadwal dengan baik, tapi harus ada variasi, alias bosenanheheheee…. Enggak suka selalu duduk di belakang meja, tapi juga bosan kalau harus terus-menerus di lapangan. Itu sudah terbukti nyata selama ini dan bukan hoaks 😀

7. Enggak Tegaan

Ini juga sudah terbukti. Saya suka enggak tegaan sama orang dan mudah luluh. Kadang niatnya menolong dan memberi nasihat, tapi sering tidak sadar kalau justru dimanfaatkan. Tapi saya tetap yakin, kok, selalu ada pahala untuk orang yang ikhlas, Hanya saja, seiring bertambahnya pengalaman dan untuk menjaga kewarasan diri serta pikiran, saya mulai dapat mengontrol dan lebih waspada memilah serta memilih siapa yang harus saya tegain dan siapa yang harus dibaikin. Wallahu a’lam, namanya juga usaha perbaikan diri 🙂

Nah, itu tadi 7 fakta tentang saya. Masih merasa kurang? Lah, kepo amat sihhh kamu, kwkwkwk…. Bercanda, euy 😀 Tanya langsung ke saya aja, ya, gimana karakter lainnya.

7 Jawaban Pertanyaan dari si Pemberi Award

Ini adalah jawaban dari 7 pertanyaan yang diberikan Mbak Inna kepada saya. Gampang-gampang susah, ya, pertanyaannya.

1. Apa definisi rasa syukur?

 Bagi saya, syukur adalah rasa yang muncul manakala kita mampu menerima suatu keadaan dengan ikhlas dan bahagia, apa pun dan bagaimanapun kondisinya. Bukan pada banyak sedikitnya materi atau sehatnya jasmani, karena dalam kondisi sakit dan kekurangan pun sejatinya rasa syukur tetap dapat dimunculkan.

2. Hal apa yang terjadi dalam hidup dan patut disyukuri?

Banyak sekali peristiwa dalam hidup saya yang naik turun secara drastis bak angka grafik yang cenderung fluktuatif. Gelombang kehidupan ini baru saya alami ketika usia mulai memasuki 20 tahun, atau saat masa-masa kuliah. Sebelumnya, kehidupan saya cenderung flat, rapi dan teratur. Mungkin, Allah melihat saya cukup kuat untuk menghadapi ujian dari-Nya ketika memasuki usia kepala 2. Dari banyaknya ujian tersebut, ada beberapa hal yang patut disyukuri, antara lain, saya yang tadinya pemalu, kuper dan selalu menutup diri, tumbuh menjadi sosok perempuan yang mandiri, tegar dan mulai percaya diri. Di antara banyaknya momen yang terjadi, terwujudnya impian ke Baitullah adalah momen terbaik yang tak pernah lupa saya syukuri hingga saat ini. 

3. Siapa yang paling berjasa dalam hidupmu?

Kalau ini sudah pasti, jawabannya adalah orang tua. Bapak rahimahullah dan Ibu adalah sosok orang-orang kuat yang ada di belakang saya. Sebenarnya saya lebih dekat dengan Bapak, namun setelah Bapak meninggal saat usia saya menjelang 27 tahun, Ibu adalah orang terdekat yang merasa sangat membutuhkan saya di sisinya. Karena itulah, kami akhirnya sering saling menguatkan satu sama lain dalam menghadapi banyak ujian yang Allah beri sepeninggal Bapak. Alhamdulillah, kami mampu melampaui ujian demi ujian itu. Masya Allah.

4. Hal apa yang ingin kau berikan pada orang yang sudah berjasa dalam hidupmu, tapi hingga saat ini belum kesampaian?

Waduww … ini pertanyaan paling sulit deh kayaknya, hiksss …. Apa ya, yang belum saya berikan untuk orang tua, terutama Ibu? Banyak sekali pastinya hal yang belum bisa dan tak akan terbalas oleh apa pun juga, meski saya tahu, beliau sudah tidak membutuhkan balasan apa pun, apalagi yang bersifat materi. Tapi saya jadi ingat, ada satu doa dari Ibu yang sampai saat ini belum kesampaian saya wujudkan. Anggap aja lagi otw nih, jadi saya keep dulu deh, enggak usah ditulis di sini ya, kwkwk …. Yang ngasih pertanyaan ini udah tahu jawabannya kok 😀

5. Apa cita-cita terbesarmu saat ini?

Hemmmmm ... cita-cita atau impian terbesar saat ini banyak sekali, sih, sebetulnya, karena saya ini adalah seorang pemimpi 🙂 Tapi yang utama saat ini, pengen banget bisa jadi ibu yang baik untuk Lubna, anak perempuan saya, sekaligus menginspirasi dan berbagi lewat apa yang saya tekuni sekarang. Insya Allah, tujuannya semata-mata untuk mencari bekal di akhirat kelak. Kalau pun ada rezeki yang Allah beri dari sini, ini saya yakini sebagai amanah yang harus dijaga dan digunakan di jalan-Nya. Doakan saya istikamah, ya, manteman 🙂

6. Pernahkah orang lain meremehkanmu? Apa yang kamu lakukan untuk menghadapi hal tersebut?

Pastinya, saya juga pernah diremehkan. Dalam hal apa? Salah satunya dalam hal berbisnis dan berinteraksi dengan orang lain. Tahu sendiri ‘kan bahwa saya ini cenderung pendiam dan introver. Lebih banyak menikmati suasana sendiri daripada kumpul dengan orang banyak, sementara bisnis yang saya jalankan waktu itu harus banyak berinteraksi dengan bermacam karakter, meskipun dijalankan secara online. Karena dikerjakan dari rumah, anggapan orang, kita tidak punya penghasilan karena tidak bekerja kantoran dan hanya diam di rumah. Nah, ketika masa pandemi COVID-19 ini mulai diberlakukan work from home dan hampir semuanya dikerjakan secara online, Alhamdulillah, saya sudah terbiasa dan enggak kaget lagi menjalaninya karena memang sudah bekerja dari rumah sejak tahun 2013.

Btw, apa yang saya lakukan untuk menghadapi orang yang meremehkan saya? Buktikan aja dengan hasil dan prestasi, tidak perlu banyak bicara dan basa-basi 😉

7. Bagaimana caramu mengendalikan semangat yang turun?

Lagi bosan dan enggak bersemangat? Off dulu dari rutinitas, carilah me time yang kamu sukai. Saya biasanya memilih tidur dan mematikan gadget untuk recharge energi. Kadang main game, atau nyobain resep kudapan yang simpel dan enggak ribet. Tidak lupa, membiasakan diri untuk selalu bersyukur setiap hari. Tujuannya, agar saya enggak banyak mengeluh karena masih banyak orang lain yang lebih menderita daripada saya.

Penerima Liebster Award Berikutnya

Okeee… tiba waktunya saya memilih seseorang untuk diberikan Liebster Award berikutnya. Siapakah diaaaa??!!

Jeng… jenggggg….

And… the Liebster Award goes to…. my mentor and my dear friend, Muyassaroh. Kamu yang suka menulis dan membaca buku pasti sudah enggak asing dengan namanya. Beliau yang masih muda tapi sudah punya segudang pengalaman, terutama dalam dunia literasi ini adalah salah satu ‘guru’ terbaik saya yang membimbing dalam dunia kepenulisan. Mbak Muyassaroh bisa dibilang merupakan orang yang Allah kirim untuk melancarkan perjalanan saya di dunia tulis-menulis dan editing. Semoga Allah membalas semua kebaikannya. Oya, kamu bisa baca tulisan-tulisan renyahnya di blog Muyass.com, ya! Banyak tips dan resep menarik di situ. Cewek banget, deh, blognya 🙂

Lalu, apa 7 pertanyaan dari saya untuk Mbak Muyas? Ini dia!

  1. Apa arti kesuksesan untukmu?
  2. Apakah kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang? Kalau iya, apa yang membuatmu bahagia? Kalau tidak, mengapa?
  3. Hal terbesar apa yang memotivasimu untuk selalu menjadi lebih baik?
  4. Apa tujuan hidupmu?
  5. Kata-kata motivasi apa yang menjadi prinsip hidupmu?
  6. Adakah hal yang kamu sesali dalam hidup ini? Jika ada, apakah itu?
  7. Apa keinginan yang belum tercapai?

Gampang, kannnnn? Hihiiii…..

Alhamdulillah, kelar juga nulisnya. Perasaan enggak habis-habis deh nulis ini. Panjanggggg karena semuanya serba angka 7 😀

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkenan membaca. Boleh kasih komen juga, ya, yang merasa tahu fakta lain tentang saya. 🙂

Matur nuwun…. Arigato gozaimasu….

7 Syarat Penting sebagai Editor, Profesi Menyenangkan untuk Kamu yang Suka Bekerja di Belakang Layar

Holaa… enggak terasa ya, sudah berada di bulan April, dan ini adalah postingan pertama saya, setelah bulan Maret kemarin cuma sempat menulis satu postingan aja di blog. Kenapa pula judulnya jadi serius banget, ‘Syarat menjadi editor’, bukan ”Bagaimana cara menjaga rutinitas menulis yang konsisten’?

Jujur,,. mungkin saya tidak seperti perempuan lainnya yang memiliki kemampuan multitasking, alias bisa melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Saya adalah tipikal orang yang sering hilang fokus kalau mengerjakan banyak hal sekaligus. Jadi yang paling baik adalah memilih satu aktivitas yang paling mampu dan nyaman dikerjakan terlebih dahulu. Tentunya memutuskan untuk fokus pada satu hal ini butuh keikhlasan dan hati yang lapang *tsahhh hahahaaa.

Source: Pixabay.com

Bulan Maret ini, qadarullah, saya mendapat job sebagai editor di sebuah penerbit yang berlokasi di kota Bandung. Jauh amat, ya. Enggak salah, nih, saya ‘kan tinggal di Jogja? Alhamdulillah, sekarang ‘kan semuanya serba online sehingga bekerja jarak jauh pun tak ada masalah.

Meski sebelumnya pernah mencicipi profesi editor ini di platform wanita online, Estrilook.com, tapi menjadi editor di sebuah penerbitan buku tentunya merupakan hal baru bagi saya. Tugasnya secara umum memang sama, yaitu menyunting tulisan atau naskah yang masuk. Tetapi menjadi editor buku tentunya lebih rempong dan butuh waktu lebih lama, mulai dari proses menyunting naskah yang berlembar-lembar banyaknya, hingga mengecek layout buku, melakukan revisi demi revisi, sebelum akhirnya berlanjut ke proses naik cetak. Btw… bulan ini saya sukses dikejar-kejar deadline menyunting 5 naskah buku, jadi pasti kamu maklum ‘kan kenapa blog ini enggak sempat saya isi? *hiksss

Beberapa pekerjaan lain di luar editing mau enggak mau harus saya tunda dulu. Naskah buku sendiri juga saya pending. Tawaran ngebuzzer juga off dulu. Intinya, saya harus memilih yang paling mampu dan nyaman saya lakukan. Itu kalau saya, ya, Gaesss! Mungkin kamu punya pilihan lain, enggak masalah karena setiap orang berhak menentukan pilihannya masing-masing,

Kenapa Tertarik Menjadi Editor?

Kata ‘editor’ sering saya baca dan dengar sejak zaman kuliah dulu, sewaktu masih magang sebagai jurnalis di sebuah stasiun televisi milik pemerintah di Jakarta. ‘Editor in Chief’ (EIC) di divisi pemberitaan adalah pimpinan yang bertugas menyeleksi dan meng-acc naskah berita yang dibuat oleh para reporter di stasiun teve tersebut, apakah layak ditayangkan atau tidak dalam suatu program berita. Jika naskah beritanya mengandung kontroversi atau berbau politik dan SARA, otomatis akan ditolak oleh EIC, dan si reporter diminta merombak ulang naskah beritanya. Secara umum, tugas EIC ini hampir sama dengan tugas editor pada umumnya, yang bertugas menyeleksi tulisan atau naskah yang ada, apakah layak ditayangkan/dibukukan atau tidak.

Selama ini saya tidak pernah berpikir sama sekali untuk menjadi seorang editor. Jangankan menjadi editor, menjadi penulis atau blogger pun sama sekali tidak tebersit dalam pikiran. Tetapi memang, sejak SMA, nilai pelajaran bahasa Indonesia saya cenderung sangat baik dibandingkan mata pelajaran lain, seperti Matematika atau Kimia. Enggak banget deh kalau yang ini, kwkwkwk….

Bahkan saya ingat, pernah mendapat nilai sempurna (100) ketika diminta menulis surat ucapan terima kasih kepada guru bahasa Indonesia sewaktu masih duduk di kelas 1 SMA. Guru bahasa Indonesia saya saat itu sampai menjelaskan di depan kelas poin-poin apa saja yang membuat beliau memberikan saya nilai sempurna itu kepada teman-teman sekelas. Sayangnya, saya kok enggak kepikiran ya waktu itu untuk menerima job jasa penulisan surat cinta *ehhhh, kacaw heheheee….

Selain alasan di atas, saya juga kerap merasa heran, kenapa setiap kali membaca tulisan atau cerita orang lain yang tata bahasanya kurang pas atau enggak teratur, hati ini sering tergelitik dan merasa kesal sendiri. Ingin rasanya mengubah atau memperbaiki tulisan yang saya baca itu biar lebih nyaman dan mudah dipahami. Nah, kalau kamu memiliki perasaan yang sama, bisa jadi kamu juga memiliki keinginan untuk menjadi seorang editor seperti saya.

Terus… Apa Aja, sih, Syarat Menjadi Seorang Editor?

Dari beberapa referensi yang saya baca, ada beberapa syarat dan poin penting yang bisa kamu latih sebagai dasar untuk menjadi seorang editor. Tidak perlu harus langsung menjadi expert, karena profesi ini sama dengan profesi lainnya yang butuh belajar dan selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan ragam bahasa.

  • Memahami kaidah ejaan yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia

Pernah melihat tulisan yang mengalirrrrrr terus tanpa ada titik komanya atau tanda bacanya sama sekali? Nah, bisa jadi penulisnya belum paham ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Poin ini bisa banget kita pelajari, asal sering-sering mengulik tentang penggunaan berbagai tanda baca dan melihat bermacam-macam bentuk kalimat beserta tanda baca yang mengikutinya.

  • Mengerti perbedaan kata baku dan tidak baku

Di zaman teknologi informasi ini, penggunaan beberapa istilah yang biasa digunakan sehari-hari, seperti gadget, baper, kepo, mulai dimasukkan menjadi kata baku bahasa Indonesia. Sementara beberapa kata lain yang biasa kita sebut, seperti ‘antri’, ternyata memiliki kata baku antre. ‘Respon’ ternyata kata bakunya respons (ada penambahan huruf s di belakangnya). Hal semacam ini wajib dipelajari oleh seorang editor dengan sering-sering mengeceknya di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang sedang berlaku pada saat itu.

  • Memiliki wawasan luas

Syarat ini sebenarnya diperlukan bukan hanya untuk editor saja. Profesi lain, termasuk penulis, juga membutuhkan poin ini. Apa pun profesimu, kalau kamu punya wawasan luas, suka membaca, menonton berita, dan paham berita-berita dunia, ini poin penting yang membuat banyak orang akan nyaman bergaul dan berkomunikasi denganmu. Setuju?

  • Memiliki kepekaan bahasa

Kepekaan bahasa ini juga bisa dilatih. Contohnya, saya terkadang bisa mengerti bagaimana karakter seorang penulis hanya dari membaca kalimat-kalimat dan gaya bahasa yang ia gunakan dalam tulisan-tulisannya. Apakah ini berarti saya seorang peramal? kwkwkwk…. Tentu tidak, Esmeralda! Kepekaan ini bisa muncul dengan sendirinya kalau sering kamu latih step by step. Termasuk, kamu akan merasa tidak nyaman apabila menemukan tulisan yang berbau SARA, pornografi, kekerasan, dan tulisan sejenis yang menggelitik relung hati terdalam *ehmmm….

  • Sabar dan tidak emosian

Hahhhh??? Sampai segininya? 😀 Lahh… emang kamu pikir lihat naskah atau tulisan dengan kalimat acak-acakan itu menyenangkan? Enggak banget, Milea!! Apalagi kalau kamu sudah punya kepekaan terhadap tulisan, kalau enggak sabar-sabar, tensimu bisa langsung naik lihat tulisan dengan struktur kalimat yang susunannya terbalik-balik. Nah, dalam situasi seperti ini, kesabaran dan kestabilan emosi kita sangat diperlukan. Tarik napas panjang dan senyumin aja. Ini memang sudah tugasmu, ya, enggak usah ngeluh, deh 🙂

  • Ikhlas kalau namamu enggak terkenal 😀

Kalau ini mah versi saya, hehehehee….

Tapi bener, loh! Tugas seorang editor itu bisa diibaratkan seperti seorang ART yang diserahin tugas membersihkan dan merapikan rumah dalam kondisi acak-acakan. Tugas ART ini sebenarnya penting banget, meskipun enggak terlihat dan cuma dari belakang layar. Nanti kalau rumahnya sudah rapi dan bersih, orang tahunya dan kenalnya sama yang punya rumah, bukan sama ART-nya.

Ini mirip dengan editor. Kalau sebuah buku atau tulisan disukai pembaca dan best seller, yang dikenal ‘kan penulisnya, bukan editornya. Di sini, kamu enggak boleh protes atau iri karena profesi editor itu memang di belakang layar, Tapi untuk para penulis, enggak ada salahnya juga sih kalau kamu mengucapkan terima kasih dan tidak melupakan jasa editor yang telah membantu memuluskan jalanmu dalam penerbitan buku atau artikel 🙂

  • Memiliki kemampuan menulis yang baik

Meskipun tidak harus menghasilkan karya, tetapi ada baiknya jika seorang editor juga memiliki kemampuan menulis yang baik. Apalagi editor dalam penerbitan, adakalanya harus membuat blurb atau rangkuman tulisan di sampul belakang buku yang menarik dan menggugah minat pembaca agar membeli buku tersebut.

Sampai di sini, menurut kamu, apakah profesi editor ini cukup sulit untuk digeluti?

Secara umum mungkin enggak, ya. Tapi kalau dibilang mudah juga tidak, karena memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran yang enggak semua orang nyaman berkecimpung di dalamnya.

Yang jelas, syarat untuk menjadi seorang editor bisa banget dipelajari. Terutama untuk kamu yang enggak suka narsis atau muncul di permukaan dan sukanya kerja behind the scene, profesi ini pantas kamu perjuangkan. Setidaknya, profesi editor ini memaksa kita untuk banyak membaca, terutama untuk orang-orang yang suka malas baca buku seperti saya, karena mau enggak mau, suka enggak suka, saya tetap harus membaca naskah, bukan?

Kamu punya syarat lainnya berkaitan dengan editor ini? Yuk, ah… boleh banget kasih pendapat di kolom komentar, ya….

Baca Juga

Virus Corona Masuk ke Indonesia, Sudah Tahu Mitos dan Faktanya?

Image: Pexels.com

Kamu merasa enggak sih, beberapa bulan terakhir ini di negara kita banyak sekali ujian dan kejadian yang membuat masyarakat panik dan seolah tak mampu berkutik? Sejak kejadian banjir di awal tahun 2020 lalu, berbagai peristiwa memprihatinkan mulai muncul satu demi satu. Belum usai topik tentang datangnya banjir kembali di Jakarta dan sekitarnya (meskipun tak separah di awal Januari), beberapa hari lalu 2 orang perempuan Indonesia diketahui positif mengidap infeksi Covid-19 atau lebih dikenal dengan virus Corona.

Berita ini sungguh mengagetkan, sehingga begitu banyak masyarakat yang merasa dunia seakan nyaris kiamat. Menimbun masker dan hand sanitizer kemudian menjadi pelampiasannya. Tak ketinggalan, bahan kebutuhan pokok seperti beras dan mi instan pun menjadi ikut diborong karena warga masyarakat diimbau untuk tidak terlalu sering ke luar rumah dan menjauhi keramaian.

Benarkah sebegitu berbahayanya virus Corona ini bagi tubuh manusia? Bahkan negara Arab Saudi sampai mengeluarkan larangan masuk bagi jamaah umroh yang berasal dari beberapa negara, termasuk Indonesia, jauh-jauh hari sebelum negara kita diketahui positif terkena infeksinya. Pemerintah Italia pun resmi menunda pertandingan sepakbola Liga Italia demi keselamatan masyarakat dan para atletnya. Sungguh luar biasa dampak yang ditimbulkan virus yang telah menginfeksi 90.000 orang di berbagai belahan dunia ini.

Corona, Virus Baru

Dari berbagai sumber yang saya baca, virus Corona yang menyerang saluran pernapasan ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir tahun 2019. Sudah tahu ‘kan ya betapa wabah ini begitu cepat menyebar sehingga beberapa negara seperti Korea Selatan dan Singapura begitu sigap mengantisipasi penyebaran virus ini di negara mereka. Korea Selatan bahkan melakukan jemput bola pemeriksaan dari rumah ke rumah dan menyediakan fasilitas pemeriksaan drive-thru untuk mengantisipasi bertambahnya penderita.

Awalnya, virus ini ditemukan pada hewan dan menulari hewan lain, seperti kelelawar, kera, burung, hingga ular. Di kemudian hari ternyata infeksi Covid-19 mulai menular ke manusia dan dikatakan dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut hingga gagal ginjal. Beberapa gejala awal yang dirasakan mirip saat kita terserang flu, seperti:

  • tenggorokan kering
  • demam
  • lemah, letih, lesu
  • batuk-batuk

Jika saat ini kamu sedang mengalami salah satu gejala di atas dan tak kunjung sembuh selama beberapa hari, terutama dalam hal demam tinggi berkepanjangan, segera periksakan diri ke dokter, ya, agar penanganan terbaik secepatnya didapatkan.

Mitos dan Fakta Virus Corona

Di tengah situasi yang cukup memprihatinkan dan membuat was-was, kemudian muncul pertanyaan, apakah ada penderita infeksi Covid-19 yang dapat sembuh seperti sedia kala? Jawabannya ternyata, ADA!

Yup! Washington Post (2/3/2020) melansir, salah satu warga Korea Selatan bernama Kim Seung-hwan (47 tahun) telah dinyatakan sembuh total dari infeksi ini. Kim mendapat perawatan intensif di ruang isolasi rumah sakit selama 8 hari, sebelum akhirnya diperbolehkan pulang dan berkumpul bersama keluarga setelah kondisi paru-parunya normal kembali dan demamnya berangsur menurun.

Nah, sebelum kamu dan saya ikut-ikutan panik seperti warga +62 lainnya yang hobi menimbun masker dan aneka kebutuhan pokok 🙁 , yuk, cari tahu dulu apa sebenarnya mitos dan fakta tentang virus Corona ini.

Mitos

  • Virus Corona ditularkan melalui udara terbuka
  • Buah impor dari negara epidemi menyebabkan penularan
  • Masker adalah penangkal utama agar dapat terhindar dari wabah ini
  • Hindari kiriman barang apa pun dari Cina dan negara epidemi lainnya
  • Virus dapat menular melalui sinyal telepon
  • Virus dapat menular lewat tatapan mata (*hemmm … virus cinta mah iya kalau ini 😀 )
  • Penderita infeksi Covid-19 dipastikan meninggal dunia

Fakta

  • Virus Corona menular melalui tetesan/percikan dahak, batuk atau bersin dari si penderita yang menempel pada permukaan tubuh atau barang-barang kita, bukan melalui udara terbuka
  • Hindari bepergian ke negara-negara yang mengalami epidemi Covid-19 ini
  • Hindari berdekatan dan melakukan kontak langsung dengan penderita
  • Mencuci tangan dengan sabun/hand sanitizer sesering mungkin adalah pencegahan utama yang paling mudah
  • Infeksi Covid-19 dapat menyerang semua umur, dari bayi hingga lanjut usia
  • Daya tahan tubuh yang baik dapat mencegah infeksi menyerang
  • Masaklah daging hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi
  • Penderita infeksi ini dapat sembuh secara total
  • Tidak semua penderita meninggal dunia. Hanya yang sudah lanjut usia dan memiliki komplikasi beberapa penyakit lain sebelumnya, seperti jantung, diabetes, yang mengalami kondisi ini (sekitar 2,3% dari mereka yang terinfeksi)

Setelah membaca sekilas tulisan di atas semoga kepanikan berjamaah kita dapat sedikit berkurang, ya, teman-teman. Minimal kita bisa membantu menenangkan keluarga sendiri dan orang-orang terdekat lebih dulu, sebelum kemudian menenangkan orang lain. Mengedukasi diri sendiri memang perlu agar kita tidak menjadi sasaran para penyebar hoaks yang akhirnya juga berdampak pada kekhawatiran berlebihan pada diri sendiri

Siapa sih yang ingin terinfeksi wabah penyakit menular? Pasti semua ingin sehat, kuat, bahagia dan bisa jalan-jalan ke mana-mana. Ternyata kuncinya memang ada pada diri sendiri. Senantiasa menjaga kebersihan — terutama area tangan — dan meningkatkan daya tahan tubuh melalui pola hidup serta pola makan yang baik dapat menjadi cara terbaik mencegah virus Corona ini mendekati kita. Kamu punya tips lainnya?

Baca Juga

Menulis Blog, Sekadar Menaikkan DA/PA-kah?

Image: Unsplash.com

Menulis blog sekadar untuk menaikkan DA/PA-kah? Pertanyaan ini sebenarnya ditujukan untuk saya sendiri, bukan untuk siapa-siapa 🙂 Buat teman-teman pembaca yang belum tahu apa itu DA/PA, nanti kita bahas sedikit, ya.

Saya ingat, tahun 2013 adalah awal dan pertama kalinya saya belajar membuat blog . Saya yang gaptek dan enggak punya komputer ini rela menghabiskan waktu 6 jam di warnet demi membuat sebuah blog yang saat ini teman-teman baca. Apakah saat itu terpikir untuk menjadi seorang blogger dan mendapat penghasilan dari blog? Boro-boro!! Wong nulis di blog aja jarang, kok 🙁

Menulis di blog secara serius mulai saya lakukan di tahun 2018 ketika sudah menekuni rutinitas menjadi penulis artikel di beberapa media online. Setelah tulisan saya muncul di media milik orang lain, barulah saya mulai percaya diri mengisi blog pribadi lagi dengan tulisan yang mulai terarah dan fokus, enggak lebay seperti awal menulis blog di tahun 2013-2017 kwkwkwk… Kalau enggak percaya, cek aja deh gimana lebaynya kalimat yang saya gunakan waktu masa-masa awal ngeblog itu 😀

Nah, seiring seriusnya saya mengisi blog, ternyata banyak sekali hal-hal teknis sebagai seorang blogger yang harus saya pelajari. Bisa bayangkan dong bagaimana saya yang tahun 2018 itu masih belum punya laptop ini harus belajar tentang hal teknis dan ngutak-atik blog hanya melalui smartphone aja.

Ngeluh? Heheheeee…. Alhamdulillah enggak. Jangankan cuma nulis di blog, nulis naskah buku untuk diterbitkan yang jumlahnya berlembar-lembar aja sanggup saya lakukan hanya dari smartphone. Intinya, terima saja dulu kondisi yang ada. Mereka yang saat ini berhasil di berbagai bidang yang ditekuni banyak yang memulainya dengan tetesan keringat kesedihan, kekurangan dan berbagai -an lainnya 😀 Justru itu yang semakin memacu kita untuk melaju, bukan? Kamu pasti setuju 🙂

DA/PA Blog

Setelah mengikuti beberapa komunitas menulis (enggak banyak kok, saya cuma ngikutin 2-3 aja. Takut bingung soalnya heheheee…), saya banyak mendapatkan ilmu gratis. Salah satunya berkenalan dengan banyak blogger yang sering berdiskusi bersama tentang perkembangan blog mereka. Dari sinilah saya baru tahu bahwa menjadi seorang blogger itu ternyata enggak cuma nulissss dan nulissss aja 😀

Iya sih, menulis dan mengisi blog menjadi hal yang utama. Tapi, mau enggak mau kita juga harus belajar bagaimana caranya agar blog atau rumah yang kita miliki selalu bersih, terawat, sehingga dapat terbaca di mesin pencari Google. Kalau blog kita sudah terbaca oleh Google, otomatis banyak pengunjung yang membaca tulisan kita. Selain menaikkan nilai DA (Domain Authority) blog, banyaknya pembaca yang berkunjung ke blog juga dapat membawa keuntungan lain, misalnya, penawaran kerja sama dari perusahaan tertentu yang memasang link perusahaan mereka di blog kita, beserta artikel tentang bisnisnya. Tentu saja, dengan pembayaran kompensasi yang telah disepakati bersama.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority)?

Salah satu cara mengecek DA/PA (image: NezzSEO.com)

Domain Authority (DA) adalah tolok ukur kekuatan sebuah domain (nama blog/situs) di mesin pencari internet (Google, Yahoo atau Bing). Angka relevansinya mulai dari 1-100. Semakin tinggi angka DA, berarti nilai keseluruhan blog/situs tersebut semakin baik.

Sedangkan Page Authority (PA) adalah tolok ukur kekuatan satu halaman saja dari blog/situs kita yang sering muncul di mesin pencari.

Kalau diibaratkan, DA adalah rumahnya, sementara PA adalah kamarnya. Bisa jadi nilai DA rendah, tapi nilai PA tinggi. Biasanya yang dijadikan tolok ukur utama untuk mendapatkan penawaran kerjasama adalah DA, yang merupakan nilai keseluruhan blog/situs tersebut. Semakin tinggi nilai DA, maka nilai bayarannya pun menjadi semakin tinggi.

Cara Meningkatkan DA

Owww…. terus bagaimana cara meningkatkan nilai DA supaya bisa dapat bayaran tinggi? *ehhh qiqiqiiii…. Ini saya rangkum singkat aja ya, berdasarkan pengalaman dan informasi yang saya baca. Kalau teman-teman mau menambahkan di kolom komentar, silakan. Bisa jadi tambahan ilmu juga buat saya.

1.  Perbanyak tulisan di blog

Kalau ini memang sudah seharusnya dilakukan. Ibaratnya, kalau ingin naik level atau naik jabatan dalam suatu pekerjaan, ya mau enggak mau harus berusaha kerja yang bener kan, ya? Dalam hal ini dengan memperbanyak konten artikel di blog, terutama artikel organik, bukan hanya berbayar. Semakin banyak artikel bermanfaat yang kita tulis, semakin banyak pembaca yang mencarinya dan semakin sering artikel tersebut muncul di mesin pencari. Poin nomor 1 ini sekaligus merupakan keplakan bagi saya yang masih sesuka hati dan belum rutin menulis konten di blog sendiri *uhhuk 😀

2. Perbanyak baclink dan internal link berkualitas pada blog

Backlink adalah alamat situs (link/URL) dari situs luar yang diletakkan di blog kita. Backlink dari situs luar ini juga dapat menaikkan nilai DA blog, dengan catatan, link tersebut berasal dari situs web yang baik kredibilitasnya atau populer di mesin pencari Google.

Selain backlink, jangan lupa untuk menautkan internal link atau link artikel blog kita sendiri di dalam setiap tulisan yang kita terbitkan. Dengan cara ini, artikel sebelumnya yang mungkin belum terbaca oleh pengunjung blog mendapatkan kesempatan untuk dikunjungi.

3. Usia domain juga memengaruhi

Usia domain? Iya. Jadi seperti blog saya ini, domain berbayar dengan nama Hastinpratiwi.com baru saya beli pada bulan Desember 2018. Jadi jika dicek, usia domain berbayarnya sampai tulisan ini diketik baru 1 tahun 42 hari. Sebelumnya, blog saya masih menggunakan domain gratisan dengan nama Hastinpratiwi.wordpress.com (puanjangg, ya…).

Ketika saya mengganti domain dari gratisan menjadi berbayar, maka nilai DA blog saat masih gratisan sudah tidak dianggap lagi. Penghitungan DA-nya dimulai lagi dari angka 0 sejak saya membeli domain berbayar. Agak nyesek sih karena harus memulai DA dari awal lagi. Tapi begitulah yang namanya dunia, selalu harus ada usaha, bukan? Alhamdulillah, sekarang DA blog mulai naik secara perlahan, meskipun masih recehan 😀

Apa Tujuan Menulis Blog?

Pertanyaan ini sejatinya harus dikembalikan kepada diri masing-masing. Apa tujuan menulis blog tidak dapat disamaratakan satu dengan yang lain. Saya sendiri menulis blog belum terlalu konsisten. Selain untuk memberi informasi kepada pembaca, tak dapat dimungkiri, apabila ada penawaran kerja sama dari pihak luar dan mendapat bayaran, tentu saja hati menjadi senang. Ada tujuan komersialnya juga, meskipun itu bukanlah hal yang utama.

Beda lagi pastinya dengan para blogger profesional yang memang membuat blog dengan tujuan komersial. Mereka biasanya memiliki bisnis peternakan blog. Hahh?? Hihihiii…. iyaa… blognya banyak, bukan cuma satu saja. Dengan punya banyak blog yang aktif, mereka dapat mengumpulkan pundi-pundi penghasilan hingga jutaan rupiah setiap bulannya.

Kamu mau pilih yang mana? Sebagai peternak blog, atau sekadar mengisi blog sesekali seperti saya? Sekali lagi, itu semua adalah pilihan. Tidak ada yang salah. Yang salah adalah kalau kita ingin mendapat penghasilan, tapi enggak pernah ngapa-ngapain. Diemmm aja…. Bener enggak?

Mendapat Tawaran Menulis Naskah dari Penerbit

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat e-mail dari seorang editor penerbitan. Isinya, jujur, hampir bikin saya pingsan… hahahaaa…. Beliau mengaku telah membaca tulisan-tulisan saya di blog ini dan sangat tertarik mengajak bekerja sama dalam penulisan buku pengayaan untuk dibaca oleh anak usia sekolah.

Masya Allah… selama ini sama sekali tidak ada niat dalam hati saya untuk menulis naskah cerita atau buku yang ditujukan untuk segmen anak, meskipun banyak teman sesama penulis yang melakukan hal itu. Saya terlalu fokus pada segmen dewasa, terutama yang berhubungan dengan tema inspirasi, motivasi, gaya hidup, termasuk traveling.

Awalnya saya sempat bingung, terima atau tidak? Tetapi setelah melihat respon dari mas editor yang sangat terbuka dan bersedia membimbing apabila saya menemui kesulitan dalam penulisan naskah tersebut, luluhlah hati ini. Mungkin ini waktunya ke luar dari zona nyaman. Betapa saya harus bersyukur, di saat banyak penulis harus melamar ke penerbit agar naskahnya diterima, saya justru dilamar oleh penerbit begitu saja.

Pengalaman ini semakin menguatkan saya bahwa menulis blog itu bukan sekadar untuk mengejar kenaikan DA dan PA saja. Naiknya DA anggap saja sebagai bonus dari kekonsistenan kita. Tapi seandainya turun pun seperti kejadian massal penurunan DA beberapa waktu lalu yang membuat para blogger mendadak sesak napas :D, rasanya tak ada yang perlu disesali.

Teruslah menulis di blogmu. Bukan hanya untuk menaikkan angka DA/PA saja. Lebih dari itu, niatkan berbagi inspirasi, memotivasi, sekaligus memberi informasi. Percaya saja, jalan rezeki tak mungkin pergi….

Baca Juga

Sheraton Senggigi Beach Resort, Liburan dan Berbisnis di Lombok Jadi Nyaman dan Menyenangkan

Hai… ini tulisan pertama di tahun 2020. Alhamdulillah 🙂 Bagaimana hari-harimu sepanjang tahun 2019 lalu? Menyenangkan, menyedihkan, ataukah membingungkan? heheheee…. Apa pun yang kamu rasakan, tak ada satu pun kehidupan yang isinya cuma ujiaannnn melulu. Atau sebaliknya, ketawaaaa terus. Nope! Setelah bahagia, pasti ada bapernya. After baper, pasti ada happy-nya. Percaya aja dan terus nikmati alurnya, agar kita bisa lebih tenang dan siap menghadapi risiko terberat sekalipun.

Tapi kali ini saya enggak sedang menulis tentang tema inspirasi. Lebih pengen rileks aja menulis hal yang berbau traveling. Karena masih di awal tahun dan suasana liburan masih terasa, saya pengen cerita tentang pengalaman 2 bulan lalu saat mendapat tugas liputan ke Lombok dari salah satu institusi perbankan syariah dan diberi kesempatan menginap di salah satu hotel bintang 5, yaitu Sheraton Senggigi Beach Resort.

Terletak di tepi Pantai Senggigi (image: Pegipegi.com)

Sheraton Senggigi Beach Resort bukan hotel baru di Lombok. Di antara banyaknya hotel di area Senggigi, penginapan berbentuk resor ini merupakan salah satu tempat menginap favorit para wisatawan, khususnya turis mancanegara. Saat diresmikan pada bulan Desember tahun 1991, Sheraton Senggigi Beach Resort menjadi hotel internasional bintang 5 pertama yang ada di pulau Lombok. Beberapa penghargaan pernah diraih hotel ini, salah satunya sebagai Hotel Bintang Lima Terfavorit pada tahun 2010 dari Indonesia Tourism Award.

Terletak di Jantung Pantai Senggigi

Waktu menunjukkan hampir pukul 18.00 WITA saat saya pertama kali check in di hotel ini. Sheraton Senggigi Beach Resort terletak di jantung pantai Senggigi, tepatnya di Jalan Raya Senggigi Km. 8, Lombok Barat.

Setelah memasuki lobi hotel, seorang staf pria menyambut dengan ramah sambil memberikan segelas welcome drink dingin. Begitu saya seruput, nyessss….. suegerrrrr banget karena ternyata isinya adalah air asam. Sejenak, pikiran dan tubuh yang sudah letih karena seharian harus melakukan liputan di beberapa lokasi di Lombok, seketika menjadi segar kembali.

Seorang petugas wanita di meja resepsionis kemudian memberikan kunci kamar kepada staf OB pria yang menawarkan diri untuk mengantar saya dan 2 rekan lainnya ke kamar kami masing-masing.

Saya berjalan beberapa belokan di antara asrinya hamparan taman dan harus menuruni beberapa anak tangga dari kayu sebelum akhirnya sampai ke dalam kamar. Begitu kamar dibuka, 2 tempat tidur dengan bed cover berwarna putih bersih seolah memanggil-manggil diri ini untuk segera merebahkan diri. Tapi sayang sekali, masih ada acara berikutnya sampai jam 21.00 malam nanti. Saya pun bergegas melihat-lihat situasi kamar dan membuka pintu kaca yang terhubung ke balkon dan teras taman. Suasana senja dan angin pantai berhembus sedikit kencang, diiringi syahdunya lampu taman yang temaram dan baru mulai dinyalakan. Duhhh, romansyaa… *ehh romantis gituhh. Bikin baper jadinyah…

Romantis enggak sih? hehehee….

Hembusan angin yang lumayan kencang di antara rimbunnya dedaunan taman yang berpadu dengan alunan suara deburan ombak di Pantai Senggigi ini membuat saya sempat lupa harus segera membersihkan diri dan bersiap mengikuti acara dinner.

Duhai alam, betapa hadirmu yang begitu memesona terkadang sering berbalut keajaiban yang berbalik 360 derajat….

Bayangan tentang gempa dan tsunami yang sempat terjadi pada bulan Agustus 2018 lalu di tanah kelahiran saya yang akrab dengan sebutan “Pulau Seribu Masjid” ini membuat hati sedikit bergetar. Entah,… bagaimana jadinya kondisi para tamu hotel di kawasan pantai ini saat kejadian gempa berlangsung. Ingatan menyedihkan ini akhirnya berhasil memaksa saya untuk kemudian kembali ke dalam kamar dan menutup pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan teras dan taman nan asri di tepian pantai.

Kamar dan Fasilitas yang Tersedia

Jenis kamar double twin dengan 2 tempat tidur (image: Pegipegi.com)

Sebelum menuju kamar mandi, saya mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan. Tampak penyejuk ruangan di dinding bagian atas dekat pintu kamar. Sebuah televisi layar datar dan meja besar dengan cermin yang lumayan lebar berada di bagian tengah kamar. Di sudut meja lebar tersebut terdapat 2 botol air mineral, 2 gelas kosong, aneka sachet kecil minuman (teh, kopi, daun mint, krimer, dll), dan tidak lupa teko penghangat yang berada di dekat colokan listrik.

Di tepi ruangan terdapat lemari berisi 2 helai handuk kimono yang tergantung rapi dan sandal tipis sebagai alas kaki. Sebuah pesawat telepon diletakkan di meja kayu kecil, memisahkan 2 buah bed yang ada di dalam kamar. Sayangnya, saya enggak terpikir untuk memotret suasana kamar. Cuma sempat ambil beberapa foto di luar ruangan aja.

Rekan sekamar saya, seorang wartawan media cetak lokal yang baru saya kenal siang tadi, ternyata belum tiba di hotel. Jadilah saya menikmati kesendirian dahulu di kamar double twin itu. Oya, semua kamar di Sheraton Senggigi Beach Resort ini dilengkapi dengan teras/balkon yang langsung menghadap ke area taman atau kolam renang yang berada di tepian Pantai Senggigi. Kamu dapat memilih kamar dengan pemandangan terbaik yang diinginkan.

Cari Suvenir? Enggak Usah Jauh-Jauh ke Kota, di Sini juga Ada, kok!

Secara keseluruhan, hotel ini memiliki luas tanah sekitar 4 hektar dan terdiri dari 154 kamar. Nuansa interior dan desain bangunannya memang sengaja dibuat setradisional mungkin, didominasi oleh ornamen kayu berwarna coklat gelap. Di beberapa bagian halaman belakang yang berbatasan langsung dengan Pantai Senggigi, terdapat berugaq (gazebo) beratapkan rumbia khas Lombok untuk duduk-duduk sembari menikmati suasana pantai.

Dari gazebo ini kamu bisa bebas menikmati deburan ombak dan lalu lalang kapal nelayan yang lewat. Eksotis, bukan? (image: dok. pribadi)

Di sekitar gazebo dan taman nan asri ini terdapat beberapa kolam renang dan arena bermain anak. Kamu juga tak perlu jauh-jauh jika ingin membeli suvenir dan oleh-oleh khas Lombok, seperti kaos, perhiasan mutiara, kain tenun, dll karena di pinggir pantai terdapat beberapa penjual yang bisa kamu tawar harganya. Menurut saya sih harganya lebih murah di sini daripada di toko-toko suvenir di kota.

Saya sempat mengobrol sejenak dengan 2 orang pria penjual suvenir yang saya tawar. Yang satu masih muda, satunya lagi sudah lebih kebapakan tampaknya. Saya bilang, saya dulu lahir di Lombok tapi sekarang tinggal di Yogya, jadi kalau ngasih harga jangan mahal-mahal, kwkwkwk… To the point, yak! Alhamdulillah, langsung dikasih harga murah, Gaess. Malah ada teman di Jakarta yang mendadak titip mutiara karena tahu saya sedang berada di Lombok. Jadilah teman itu dapat harga murah juga, heheheee… Padahal si penjual cerita, kalau sama turis Jakarta atau manca, harganya biasa dia naikkan berkali lipat dari yang diberi ke saya. So far, para wisatawan juga enggak pernah komplain karena tahu bahwa kualitas barangnya memang beneran bagus.

Jadi cara ini bisa kamu jadikan tips juga, sih, sebenarnya agar dapat harga murah. Bilang aja punya keluarga di sana, atau bilang sering bolak-balik ke sana. Ajak ngobrol santai para penjualnya agar mereka juga nyaman sama kita. Kalau penjual sudah merasa nyaman dan percaya dengan pembeli, biasanya mereka akan kasih potongan harga lumayan. *berdasarkan pengalaman saya, nih… 😀

Mutiara Lombok ini terkenal bagus kualitasnya, lo…

Di hotel ini juga ada free wifi yang bisa bebas kamu akses sambil duduk di tepian pantai, selonjoran atau tiduran menikmati sunrise atau sunset. Ahh… surga dunia banget mah ini. Apalagi pantainya private beach banget, enggak banyak yang berenang dan jalan-jalan. Paling 1-2 orang aja. Para penjual suvenir tadi juga berkesempatan dapat akses wifi gratis, lo, sambil menunggu jualan mereka menggunakan meja panjang di tepian pantai. Konsep bisnis yang memberdayakan masyarakat sekitar seperti ini tampaknya mampu membuat bisnis apa pun menjadi bertahan di tengah kentalnya tradisi masyarakat lokal.

Devi, teman sekamar saya yang juga wartawan Radar Lombok sempat bercerita, dulu setelah kejadian gempa di bulan Agustus 2018, hotel ini nyaris tutup karena tak ada lagi tamu yang berani berkunjung dan menginap di sini. Banyak karyawan yang kemudian terpaksa di-PHK. Tapi untunglah pihak perusahaan segera merombak dan membenahi manajemen hotel, sehingga mulai 1 Desember 2018, Sheraton Senggigi Beach Resort kembali beroperasi dengan konsep yang lebih baru dan terus bertahan kembali hingga saat ini, menjadi salah satu hotel pilihan di pulau Lombok.

Lapar, Guys? Tenang, Ada 3 Pilihan Gerai Kuliner di Sini

Seluruh tamu yang menginap di Sheraton Senggigi Beach Resort mendapat fasilitas sarapan pagi gratis all you can eat hingga pukul 10.00 pagi. Kamu dapat memilih aneka menu, mulai dari menu Indonesia, Eropa, sampai oriental. Ada omelet, aneka roti dan cake, nasi goreng, rawon, bakmi, dll, termasuk juga aneka dessert segerrrr yang bikin pengen nambah terus karena enggak bakalan bikin gemuk, hehheee… (yogurt, aneka jus, salad dan buah segar). Kalau kapasitas perutmu banyak, silakan saja menyantap semuanya dengan bahagia. Tapi sayangnya, kapasitas perut saya kecil saja. Jadi semangkuk soto dan segelas yogurt, plus secangkir lemon tea sudah cukup buat saya.

By the way busway, salah satu menu Indonesia yang tersedia adalah soto ayam, lengkap beserta lontongnya. Yup, kamu sebaiknya tahu kalau di Lombok itu makan soto atau bakso memang dicampur pakai lontong, ya, bukan pakai nasi 😀 Rasanya gimana makan soto atau bakso pakai lontong? Ya enaklah, justru enggak bikin eneg.

What is Indonesian Rice Cake? (dok. pribadi)

Waktu itu mata saya sekilas menangkap satu wadah makanan yang nama menunya tertulis Indonesian Rice Cake. Kepo dong ya pastinya? Ternyata oh ternyata, setelah dibuka tutup wadahnya, beberapa biji lontong khas Lombok sedang bobok manis di dalam wadah…. ^_^

Oalahhh…. tenyata lontong, Gaess! (dok. pribadi)

Sheraton Senggigi Beach Resort sendiri memiliki 3 gerai kuliner yang dapat kamu pilih sesuai waktu makan. Selain restoran Kebun Anggrek untuk tempat sarapan di pagi hari, ada juga restoran Bawang Putih yang terletak di tepian kolam dan siap menyajikan hidangan makan siang dan makan malam berupa aneka menu panggang (bebakaran) bagi para tamu hotel. Ada juga Senja Lounge & Dine yang menyajikan menu-menu ringan semacam cocktail, dll sambil menikmati senja dan indahnya matahari terbenam.

Menikmati indahnya senja di Sheraton Senggigi Beach Resort (image: Pegipegi.com)

Cuma itu saja fasilitas di sini? Enggak, dong! Masih banyak yang lain, termasuk sarana kebugaran dan kecantikan yang tentunya kamu butuhkan untuk membuat pikiran dan tubuhmu lebih segar dan sehat meskipun sedang dalam perjalanan ke luar kota. Sheraton Senggigi Beach Resort, sedang liburan atau berbisnis, semuanya sama-sama nyaman.

Sheraton Senggigi Beach Resort
Jl. Raya Senggigi Km. 8, Senggigi, Lombok Barat – NTB
Telepon: (0370) 693333

Baca Juga

Ibu, Fondasi Peradaban Generasi

Kamu mungkin pernah mendengar ungkapan, “Wanita adalah tiang negara. Apabila baik kaum wanitanya maka baik pula negaranya. Sebaliknya, apabila rusak kaum wanita, maka rusak pula suatu negara…” Ungkapan ini seolah ingin menegaskan, betapa pentingnya keberadaan wanita sebagai fondasi peradaban generasi suatu bangsa.

Banyak di antara kita yang lupa, ketika memulai proses pertama sebagai orang tua, sesungguhnya saat itu juga kita telah menjadi guru sekaligus teladan bagi buah hati yang kita lahirkan. Ayah sebagai Kepala Sekolahnya, sementara Ibu sebagai guru pelaksana kebijakannya. Sebagai seorang guru, mau tidak mau kita harus selalu belajar dan memperbarui ilmu yang kita miliki. Meski tentu saja, teori tak semudah praktiknya.

Wanita zaman now memiliki tantangan dan godaan yang tidak sedikit. Nilai-nilai modernisasi seorang wanita tak dapat dilepaskan begitu saja dari kewajibannya sebagai seorang ibu. Menjadi update terhadap perkembangan zaman adalah suatu keharusan, tapi jangan lupa juga, menjaga nilai moral dan mentalitas anak tidak boleh kita lupakan. Contoh kecilnya, ibu mana sih yang tak ingin anaknya mendapat nilai baik di sekolah? Tapi ini bukan sekadar masalah kebanggaan saja. Prestasi yang baik juga harus diperoleh dengan cara yang baik. Jangan sampai keinginan dan niat yang baik diperoleh dengan cara yang tidak jujur dan menyalahi aturan. Dalam contoh kecil ini saja, secara tidak langsung kita telah mengajarkan arti sebuah proses dan nilai kejujuran kepada generasi saat ini.

Image: Pixabay.com

Berkaca dari pengalaman pribadi dan beberapa sumber yang saya pelajari, nilai-nilai penting berikut ini sebaiknya dimiliki seorang ibu agar dapat menjadi fondasi peradaban yang baik bagi generasi selanjutnya.

Menjaga Kebaikan Akhlak

Sebegitu berharganya seorang ibu, sehingga dalam suatu hadis, Abu Hurairah menyebutkan, ada seorang sahabat yang menghadap Rasulullah Saw dan bertanya,

“Ya Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?”Jawabnya, “Ibumu…” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu” ~ (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah)

Keutamaan seorang ibu disebutkan memiliki 3x hak yang lebih besar dari seorang ayah karena kerepotan yang mereka alami selama hamil, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya. Tanggung jawab ibu menjadi lebih besar, terutama dalam menjaga kebaikan akhlak pribadinya agar dapat menularkan karakter terbaik dan sifat-sifat positif kepada buah hatinya.

Menumbuhkan Sifat Penyayang, Pendidik dan Pengatur

Wanita adalah makhluk unik yang diciptakan dengan karunia hati yang lembut dan lebih perasa daripada pria. Ini bukan tanpa tujuan. Bukankah wanita kelak akan menjadi seorang ibu yang sangat membutuhkan sifat tersebut dalam menjalankan perannya? Meski dikaruniai hati yang lembut, kemampuan otak wanita yang mampu menyerap informasi 5x lebih banyak dari pria menjadikan mereka lebih cerdas. Dasar ini yang menjadikan wanita dapat menjadi seorang pendidik yang baik bagi anak-anaknya. Kemampuan menangani banyak masalah dalam satu waktu juga membuktikan bahwa wanita sebenarnya memiliki jiwa pengatur ulung dibandingkan lawan jenisnya. Keren kan, Bu? 🙂

Memperbarui Ilmu

Imam Al Ghazali pernah berkata, “Menuntut ilmu adalah takwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad…”

Ibarat seorang guru bagi muridnya, ibu harus selalu melakukan upgrade diri dan update ilmu yang dimiliki agar dapat memberikan asupan nutrisi pengetahuan terbaik bagi buah hatinya. Bukan hal yang mudah pastinya, karena waktu 24 jam seolah tak cukup bagi ibu untuk menyelesaikan kewajiban yang harus diembannya. Tapi kembali lagi, anak adalah amanah dari Sang Pemilik yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepemilikannya. Ayo, Bu! Kamu pasti bisa. Yakin bisa. Dan harus bisa….

Menjadi bagian utama dari fondasi peradaban bagi generasi masa depan adalah kebanggaan tak terkira bagi seorang wanita. Jangan pernah engkau sia-siakan kesempatan berlipat pahala di akhirat ini. Karena kelak ketika kita telah tiada, hanyalah tersisa 3 hal yang tiada akan terputus, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh dan salihah. Insya Allah.

*Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Baca Juga

My Life, My Journey